This Is Not Cinderella Story (Chapter 3)
Dua hari sejak hari Sabtu itu, atau lebih tepatnya di pagi hari Senin yang cerah, Taeyong berlari tergopoh-gopoh menuju sebuah kelas. Ia yakin ia akan terlambat menemui dosennya dan benar memang ia terlambat. Kelas sudah dimulai dan sang dosen tengah memberikan kuliah.
Taeyong malu sekali karena datang terlambat ke kelas itu mengingat itu bukan kelasnya yang biasa. Ya, ia sudah janji pada dosennya untuk mengikuti ujian tengah semester susulan yang ia lewatkan tempo hari karena pingsan di toilet. Dan parahnya lagi dosennya itu meminta ia mengikuti ujian di dalam kelas angkatan di bawahnya.
"Lee Taeyong, akhirnya kau datang juga. Kukira kau akan batal ujian untuk yang kedua kalinya."
"Maaf, seonsaengnim, jalannya macet dan-"
"Ya, ya, tak apa, ambil saja kertasnya dan cari tempat yang kosong."
"Ne..."
Taeyong tak tahu kalau ada sepasang mata yang terus mengikutinya sejak pertama kali ia memasuki ruangan kelas. Semua mata memang tertuju padanya. Tapi hanya ada sepasang mata saja yang terus mengikutinya bahkan sampai ia mendapatkan tempat duduk kosong di dekat jendela dan mulai mengeluarkan alat tulisnya. Sepasang mata itu adalah milik Jung Jaehyun.
Taeyong mengerjakan ujiannya dengan tenang dan lancar. Ia bersyukur punya waktu belajar lebih banyak daripada teman-temannya yang lain. Taeyong memang bukan mahasiswa jenius, tapi nilai-nilainya cukup bagus. Setidaknya ia adalah orang yang lebih rajin membaca dibanding Yuta.
Entah hanya perasaannya atau apa, Taeyong merasa ada yang mengawasinya sejak tadi. Ia tak ambil pusing karena merasa dosennya memang mengawasinya yang sedang ujian 'kan? Tapi kalau diperhatikan baik-baik, dosennya itu tidak sekalipun melihat ke arahnya. Jadi, perasaan diawasi ini karena siapa?
"Jung Jaehyun, bisa kau ulangi penjelasanku barusan?"
"Ne? N-ne... Eoh... Maaf, seonsaengnim, tentang apa tadi?"
"Kau tidak memperhatikanku, ya? Apa jendela lebih menarik bagimu Jung Jaehyun?"
Berkat perkataan Kim-seonsaengnim barusan, semua pasang mata di kelas itu kini memandang ke arah jendela, termasuk objek yang sebenarnya dimaksud, siapa lagi kalau bukan Lee Taeyong. "Tak ada yang menarik di jendela," gumamnya.
"Maaf, seonsaengnim, hanya sedang tidak fokus. Aku akan mendengarkan dengan baik mulai sekarang."
"Baiklah, kita lanjutkan materinya… Lee Taeyong?"
"Ne?"
"Kerjakan dengan baik ujiannya."
"Ne..."
.
.
"Bagaimana ujiannya tadi?"
"Kurasa soalnya berbeda dengan yang kalian kerjakan."
"Tentu saja! Mana mungkin Kim-seonsaeng mengambil resiko memberikan soal yang sama karena kami bisa membocorkan soalnya padamu kapan saja."
"Yang pasti kau bisa mengerjakannya 'kan Taeyong-ah? Aku benar-benar tak bisa menjawab soal terakhir. Aku tak yakin bisa lulus kali ini."
"Yah, kurasa semuanya sudah kukerjakan, tak tahu jawabannya benar atau tidak. Hah... Bisa tidak kita tak bahas soal ujian, kepalaku mau meledak rasanya kalau memikirkan itu lagi."
"Doyoung yang mengungkitnya lebih dulu, salahkan dia."
"Ya! Nakamoto, kau benar-benar-"
"Permisi, apa ini punyamu?"
Sebuah suara yang tiba-tiba menyela mengalihkan atensi tiga orang sahabat yang tengah mengobrol itu. Jung Jaehyun, si pemilik suara berat yang baru saja bertanya itu, mengulurkan sebuah bolpoint bermotif karakter kartun spons berwarna kuning. Dari tatapannya yang hanya mengarah pada satu orang, jelas sekali ia tengah berbicara pada orang itu, Lee Taeyong.
"Eh, iya. Di mana kau mendapatkan ini?" Taeyong mengambil bolpoint yang diulurkan Jaehyun karena cukup yakin itu miliknya. Itu bolpoint Spongebob favoritnya!
"Tertinggal di kelasku. Ada yang menemukannya tergeletak di lantai."
"Ya ampun! Sifat cerobohmu belum hilang juga, Tae." Doyoung menepuk-nepuk pipi Taeyong pelan.
"Eh, tunggu, kok bisa ada di kelas...?" Yuta memandang Jaehyun tanpa menyebut namanya. Doyoung ikut memandangi Jaehyun karenanya.
"Aku ujian di kelasnya tadi, bakamoto!"
"Ya! Berhenti memanggilku begitu! Aish. Tetap saja aneh, bagaimana dia tahu itu milikmu? Bolpoint aneh begitu siapa yang mau pakai coba. Kalau aku yang menemukannya pasti sudah kukembalikan ke TK di sebelah kampus." Yuta hanya berceloteh asal tanpa menyadari kalimatnya itu membuat tiga orang terdiam dengan pikiran masing-masing. Ya, tiga. Jaehyun, Taeyong, dan Doyoung.
"Sial, bisa ketahuan kalau aku terus memperhatikannya di kelas tadi." –Jaehyun.
"Aduh, memalukan sekali. Pasti Jaehyun berpikir aku orang freak karena menyukai spongebob di usia begini." –Taeyong.
"Omo. Ada apa ini? Apakah mereka ada 'sesuatu'. Ya, kurasa ada. Bukankah Jaehyun terlalu sering terlibat dengan Taeyong akhir-akhir ini?" –Doyoung.
"Hei! Kalian semua kenapa?" Yuta, satu-satunya yang menyuarakan langsung pikirannya, memandang heran tiga orang yang tiba-tiba diam.
"Ng, tadi sudah kutanyakan pada teman-temanku, tapi tak ada yang mengaku itu miliknya. Jadi, yah… siapa lagi yang memilikinya?" Jaehyun berusaha memberi alasan yang logis. Taeyong mengangguk-angguk saja, begitu pun dengan Yuta, tapi tidak dengan Doyoung.
"Um, terima kasih sudah mengembalikannya padaku, Jaehyun-ssi."
"Bukan masalah. Kurasa bolpoint itu lucu, sayang kalau hilang 'kan?"
"E-eh, iya... Haha." Taeyong tertawa canggung karena menurutnya Jaehyun sedang bercanda.
"Ng, kalau begitu, sampai jumpa lain kali, Taeyong-sunbae, sunbaenimdeul juga. Annyeonghi gyeseyo…" dan Jaehyun pun pergi setelah mereka menjawab salamnya.
"Kalau ada lain kali." Lirih Taeyong begitu Jaehyun sudah berada di luar jangkauan suaranya.
"Tentu saja ada!" Doyoung menepuk pundak Taeyong agak keras. "Firasatku mengatakan kau akan memiliki sesuatu dengan Jaehyun. Kau bilang dia juga datang menjengukmu 'kan? Ya, ampun, jangan-jangan dia ada rasa padamu?"
Taeyong balas menepuk Doyoung lebih keras lagi. "Jangan terlalu banyak berkhayal Doyoung-ah! Sudah ya, aku duluan, Taeil-hyung sudah mengirimiku pesan untuk segera ke café. Oh ya Yuta, tadi Kim-seonsaeng bilang kau harus ke mejanya besok."
"Kenapa?" Yuta menatap Taeyong, cemas.
"Tak tahu. Datang saja besok, oke? Daah..."
"Oh tidak. Pertanda buruk!"
.
.
Taeyong bertugas sebagai kasir untuk shift malam ini, tapi bukan untuk pekerjaannya di café Taeil, melainkan di sebuah minimarket 24 jam. Taeyong mempunyai tiga pekerjaan sambilan. Kesehariannya dimulai dengan bangun pagi, jam 6 ia sudah harus pergi ke toko untuk bekerja mengantar susu, setelah itu pergi kuliah, bekerja di café Taeil seusai kuliah, bekerja sambilan di minimarket selepas jam 9 malam, kembali ke rumah jam 2 pagi, lalu tidur atau kalau sedang tidak beruntung, ia terpaksa begadang untuk mengerjakan tugas kuliahnya. 24 jam rasanya tidak akan cukup bagi Taeyong untuk melakukan semua yang harus dilakukannya. Tidak pernah ada kata libur bagi Taeyong. Di hari Sabtu atau Minggu Taeyong full bekerja di café Taeil. Tak heran kalau ia selalu tampak pucat, kurus, dan rapuh. Tentu saja, karena tubuh kecilnya itu ia paksa bekerja melebihi batasnya.
Mark, adik Taeyong, tak bisa tinggal diam. Ia sudah kelas tiga SMA, sudah sangat mengerti tentang sulitnya kehidupan mereka. Ia memang sedang sibuk-sibuknya belajar untuk nempersiapkan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas (yang ia masih ragu akan mengikutinya atau tidak). Tapi Mark ingin setidaknya mengurangi satu pekerjaan Taeyong agar hyungnya itu bisa tidur sedikit lebih lama di malam hari tanpa mengurangi pemasukan mereka setiap bulannya. Makanya Mark melakukan kerja sambilan juga, di sebuah kedai es krim milik ayah dari temannya, bukankah itu bagus? Ia tak pernah malu dan sungkan melakukan pekerjaan itu. Itu semua demi waktu istirahat Taeyong yang lebih panjang. Tapi Taeyong melarangnya. Taeyong bahkan menolak gaji pertama yang sudah didapatnya. Mark kecewa, bukan karena Taeyong tampaknya tak menghargai usahanya, melainkan karena ia merasa belum bisa meyakinkan Taeyong bahwa ia bisa. Ia bukan lagi Minhyung, adik kecil Taeyong yang harus selalu diurus. Ia ingin Taeyong 'menggunakan'nya sebagai adik seperti orang lain 'menggunakan' adiknya. Setiap harinya Mark dilingkupi rasa bersalah. Ia tak mengerti lagi harus bagaimana membujuk Taeyong agar mengizinkannya bekerja.
Kembali pada Taeyong yang masih sibuk men-scan barcode barang belanjaan para pelanggan minimarket, mereka seperti tak ada habisnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tampaknya orang-orang sedang malas memasak di malam yang dingin ini dan memilih membuat ramyeon instan yang hangat dan lezat, seperti seseorang yang baru saja meletakkan sekeranjang penuh snack, ramyeon dan softdrink di meja kasir.
"Aku tak tahu kau bekerja di sini." Orang ini mengajak Taeyong bicara seolah mereka sudah saling mengenal sebelumnya.
Taeyong memutar ingatannya tentang orang ini. Ia rasa ia ingat wajah ini dan namanya, karena namanya itu bukan nama kebanyakan orang korea. Ah ya, itu dia.
"Ya, Johnny-ssi, aku juga baru pertama kali melihatmu selama aku bekerja di sini." Taeyong masih melanjutkan tugasnya men-scan barcode snack yang dibeli Johnny, banyak sekali dan beraneka macam, jadi butuh agak lama untuk menghitung harganya.
"Oh ya? Padahal aku cukup sering belanja di sini. Searah dengan jalan pulang ke rumah dari kampus soalnya." Johnny tak punya kerjaan lain selain memperhartikan jari-jari lentik Taeyong bekerja.
"Hm, aku hanya bekerja di sini mulai jam 9 malam sampai tengah malam, mungkin itu sebabnya." Taeyong mulai memasukkan belanjaan Johnny ke kantung plastik.
"Tengah malam?! Oh iya, ini toko 24 jam ya. Aku baru ingat pernah belanja di sini jam 3 pagi."
"Ini belanjaanmu, terima kasih. Semuanya 78ribu won." Taeyong mengabaikan perkataan Johnny dan menyerahkan dua kantung plastik besar belanjaan kepadanya.
"Sebentar, sebentar, aku mau tambah sesuatu." Johnny segera menghilang dari hadapan Taeyong, pergi ke bagian minuman dan kembali dengan sekaleng coklat hangat.
"Tolong hitungannya dimasukkan juga."
"Baiklah. Semuanya jadi pas 80ribu won." Taeyong baru saja mau memasukkan kaleng coklat hangat itu ke kantung plastik saat Johnny mencegahnya sambil memberikan empat lembar pecahan 20 ribu won.
Johnny mengambil dua kantung plastiknya dari meja kasir dan menerima bon pembayaran dari Taeyong. "Tak usah dimasukkan, tinggalkan di sini saja."
"Kau tak jadi membelinya?" Taeyong bertanya tak mengerti dengan tingkah Johnny.
"Bukan. Aku memberikannya padamu." Johnny menjawab gemas. Orang ini tidak peka sekali sih.
"Kenapa memberikannya padaku?" Taeyong masih tak mengerti.
"Ingin saja. Ya ampun, perlukah alasan?"
"Ya, karena ini aneh. Tidak pernah ada pelanggan yang memberikan kasir minuman dari minimarket yang dijaganya."
"Tentu saja ada dan itu aku. Apa itu sulit untuk menerima minuman dariku? Harganya tak seberapa dibandingkan biaya rumah sakit yang dibayarkan Jaehyun."
"Baiklah, terima kasih." Taeyong membalas cepat-cepat karena Johnny membahas soal itu lagi, membuat Taeyong tak nyaman.
Tak bisakah Johnny bersikap seperti pelanggan pada umumnya saja, datang, belanja, bayar, lalu pergi. Taeyong sebenarnya ingin mengusir Johnny, tapi ia tak mungkin mengusir pelanggan dan ia tak punya alasan bagus untuk mengakhiri pertemuan malam ini karena tak ada pelanggan lain yang mengantri di belakang Johnny.
"Bagus. Aku akan menceritakan pertemuan ini pada Jaehyun. Ia pasti iri mendengarnya." Kalimat terakhir Johnny sebelum melangkah keluar itu berhasil membuat Taeyong bingung sekaligus penasaran.
.
.
Taeyong sampai di apartemen kecilnya tepat saat jam menunjukkan pukul 02.25. Ia tak heran kalau apartemen itu terlihat sepi seperti tak ada penghuninya. Tapi yang membuatnya heran karena yang ia temukan justru sebaliknya. Masih ada orang yang berkutat dengan sesuatu di satu-satunya meja yang ada di apartemen itu.
"Minhyung-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa belum tidur?" Tanya Taeyong dengan nada menuduh.
"Aku menunggumu hyung."
Taeyong melepaskan tas gembloknya, tas yang berisi baju ganti dan buku-bukunya yang sudah ia bawa sejak pagi. Ia menghela napas lelah. Ia tahu maksud Mark menunggunya bukan hanya sekedar menunggu, pasti ada sesuatu. "Kalau ingin membicarakan sesuatu kenapa tidak nanti pagi saja?"
"Hyung biasanya sudah pergi saat aku bangun. Lagipula aku sudah tidur sebentar tadi dan sengaja bangun untuk menunggumu, hyung."
Taeyong menyerah. "Hm, baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?"
"Ini, hyung." Mark menyerahkan selembar kertas HVS dengan bekas lipatan di tengahnya. Sebuah surat edaran untuk wali murid. "Kuharap kau bisa menyempatkan waktumu untuk datang. Aku akan tampil, hyung."
Taeyong membaca suratnya. Surat itu sebenarnya diperuntukkan untuk ayah atau ibu siswa, tapi karena ayah dan ibu mereka sudah tiada, maka surat itu kini diperuntukkan untuknya. Isinya adalah undangan kepada wali murid untuk menghadiri pentas seni yang diadakan dalam rangka merayakan ulang tahun sekolah. Taeyong tak kaget karena ia pernah mengikuti pentas seni semacam itu. Ia juga alumni sekolah Mark.
"Acaranya dua hari lagi? Kenapa baru memberitahuku?"
"Ehm, itu... Aku lupa bilang padamu, hyung." Mark beralasan. Ia memang sengaja baru memberi tahu Taeyong walaupun surat itu sudah didapatnya seminggu lalu. Banyak yang telah terjadi, pertengkaran mereka, Taeyong yang sakit, masih ada pertengkaran lagi, dan Taeyong yang selalu sibuk. Dan ia sengaja memberitahunya mepet agar setidaknya Taeyong tak sempat menolak.
"Akan kuusahakan datang, tapi aku tak bisa janji Minhyung-ah." Taeyong mengatakannya dengan hati-hati agar Mark tak kecewa.
"Tak apa hyung kalau kau tak bisa datang..." Mark mengatakannya dengan nada biasa saja, tapi Taeyong tahu ada kekecewaan terselip dalam kalimatnya. Taeyong memang sudah berniat untuk izin kerja beberapa jam di hari itu pada Taeil, tapi itu untuk rencana lain. Permintaan Mark ini benar-benar diluar perhitungannya. Haruskah ia batalkan rencananya dan memenuhi permintaan Mark saja?
Taeyong berpura-pura membaca surat undangannya lagi. "Ah, acaranya hari Sabtu ya? Kurasa Taeil-hyung akan mengizinkanku untuk datang menontonmu sebentar. Aku pasti datang Minhyung-ah, aku janji."
"Hyung, jangan memaksa..."
"Tidak, tidak, tadinya kukira tanggal ini bukan hari Sabtu. Aduh, kurasa aku mulai mengantuk sampai bingung tentang hari. Kalau hari Sabtu aku bisa datang."
"Benarkah?"
"Ya, kau mau menampilkan apa memangnya?"
Mark mulai tersenyum. "Rahasia. Hyung harus datang untuk tahu."
"Aish, menyebalkan!" Taeyong merutuk, Mark malah tertawa.
Taeyong lega, setidaknya Mark tidak menunjukkan wajah kecewanya lagi. Sudah terlalu sering ia membuat adiknya itu kecewa. Pilihannya kali ini sepertinya tidak buruk.
.
.
"Hari Sabtu nanti aku akan ke sekolah Minhyung. Aku tak bisa ikut kerja kelompok."
"Ada apa? Apa Minhyung membuat masalah di sekolah sampai kau harus datang?" Doyoung bertanya heran, setahunya Mark adalah anak yang baik.
"Tidak, tidak, ada pertunjukkan seni, yah semacam itu, dia akan tampil, aku harus menontonnya."
"Dia mau menampilkan apa?" kali ini Yuta yang bertanya.
"Tidak tahu, rahasia katanya."
"Doyoung-ah, bagaimana kalau kita ikut saja?"
"Ikut apa?"
"Menonton Minhyung tentu saja!"
"Hmm, boleh juga. Aku ingin tahu anak itu bisa melakukan apa."
Doyoung dan Yuta tampaknya lebih antusias dari Taeyong untuk menonton Mark. Mereka ini benar-benar kurang kerjaan sekali sepertinya.
"Ya! Bukannya lebih baik kalian kerjakan tugas berdua dulu, lalu sisakan bagianku, bagianku paling banyak juga tak apa."
"Ya! Memangnya kau saja yang mau bersenang-senang, eoh?"
Taeyong memutar bola matanya malas. "Aku tidak bersenang-senang. Aku juga hanya izin beberapa jam pada Taeil hyung, setelah itu aku kembali bekerja. Tadinya izin itu untuk kerja kelompok, tapi kurasa kerja kelompok bisa digeser atau kita kerjakan masing-masing baru digabung-"
"Ya sudah tuan-sibuk-sekali, kalau begitu kita fix ikut menonton Minhyung! Kerja kelompoknya nanti saja. Aku sudah muak belajar untuk pekan ujian kemarin."
"Benar kata Doyoung. Aku juga ingin mencari murid SMA yang manis-manis. Minhyung pasti mau mengenalkan salah satu temannya padaku."
.
.
"Halmeoni tersesat lagi?"
"Ya, Taeyong-ah, aku juga tak tahu kapan eomma keluar, tahu-tahu sudah dapat telepon dari kantor polisi saja. Untung yang menemukannya orang baik. Kau tak usah pergi mengantar susu hari ini. Tolong jemput eommaku, ya. Dia hanya ingat mukamu di antara pegawai yang lain."
"Ne, ahjussi."
Taeyong dan keluarga pemilik toko kelontong tempatnya bekerja memang sudah cukup dekat. Karena ahjussi pemiliki toko bernama Gong Namgil itu adalah teman lama ayahnya. Taeyong beruntung bertemu lagi dengan Gong ahjussi saat dirinya membutuhkan pekerjaan. Dan seperti perlakuan Taeil kepadanya, Gong Ahjussi juga memberikan banyak keringanan pada Taeyong, seperti ia boleh bekerja di pagi hari saja sebelum kuliah. Menurut ahjussi tak ada masalah dengan itu, karena Taeyong adalah anak yang baik dan pekerja keras. Tak ada alasan bagi Gong Ahjussi untuk tidak menyukainya. Ditambah lagi, wajah Taeyong yang rupawan membuatnya disenangi ahjumma-ahjumma yang berbelanja di toko kelontong itu. Gong ahjussi bahkan tak segan-segan mengakui Taeyong sebagai anak laki-lakinya. Taeyong merasa bersyukur dikelilingi orang-orang baik di tengah kesulitan hidupnya.
Taeyong mengayuh sepeda pengantar susu, tapi bukan untuk mengantar susu, melainkan menjemput Halmeoni, ibu dari Gong Ahjussi yang sudah pikun tapi senang berjalan-jalan sendirian. Seperti pagi ini, jam masih menunjukkan pukul 06.30 tapi Halmeoni sudah menghilang dari kamarnya. Sepertinya ia berniat jalan-jalan pagi sambil menikmati udara segar di taman sekitar, tapi berakhir tersesat di jalan besar dan ditemukan orang. Dan seperti kata Gong ahjussi, untung yang menemukannya adalah orang baik yang mau mengantarkan Halmeoni ke kantor polisi dan tidak berbuat macam-macam.
"Annyeong haseyo, aku ingin menjemput Park Dukhwa Halmeoni, aku keluarganya, tadi ada yang menelepon untuk menjemputnya di sini. Di mana Halmeoni, ya?" Taeyong bertanya pada petugas polisi terdekat yang ditemuinya.
"Ah, halmeoni yang tersesat, ya? Dia menunggu di sana, bersama pemuda yang menemukannya." Petugas polisi itu menunjuk sofa di pojok ruangan. "Untung kau cepat datang, pemuda yang menemukannya tadi sedang buru-buru katanya, tapi halmeoni menahannya sehingga dia tak bisa pergi."
"Aigoo... Gamsahamnida." Taeyong bergegas menghampiri Halmeoni mendengar penuturan petugas tadi. Ia harus segera berterima kasih dan meminta maaf pada orang yang menemukan Halmeoni.
Semakin dekat langkah Taeyong, semakin jelas ia lihat Halmeoni beserta pemuda baik hati yang... hatinya mencelos saat menyadari sesuatu, pemuda itu adalah- "Jaehyun-ssi?"
"Ah, Taeyong-ssi!" Perasaan Taeyong saja atau Jaehyun memang tampak senang. "Dunia sempit sekali, aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
"Aku mau menjemput nenekku." Taeyong melihat ke arah Halmeoni yang masih menggenggam erat tangan Jaehyun.
"Ah, jadi halmeoni ini nenekmu?"
"Ya, maaf telah merepotkanmu dan terima kasih sudah mengantar dan menjaga Halmeoni. Aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu."
"Ahaha, tidak apa-apa."
"Kudengar tadi kau terburu-buru, kalau kau mau pergi sekarang, silakan. Halmeoni... lepaskan tangan Jaehyun, ne? Dia harus pergi..." Taeyong beralih dari Jaehyun ke Halmeoni dan meminta dengan halus padanya untuk membiarkan Jaehyun pergi. Ia sengaja berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Halmeoni yang sedang duduk.
"Eoh, Taeyongi? Kukira siapa dari tadi, ya ampun. Ini di mana, ya?"
"Kita di kantor polisi Halmeoni, tadi kau tersesat dan ada Jaehyun-ssi yang membawamu ke sini."
"Ah, benar juga, aigoo, nenek tua ini memang sudah pikun. Ya, ya, aku ingat pemuda tampan yang menolongku ini, dia mengingatkanku pada suamiku waktu muda dulu. Bagaimana Taeyongi, apa menurutmu dia tampan?"
"Eh, i-iya..." Taeyong menatap canggung Jaehyun yang masih berdiri di situ, tersenyum dengan tampannya, ya memang harus Taeyong akui Jaehyun sangat tampan. Pantas saja ia populer seperti kata Doyoung.
"Kalau begitu Halmeoni, Taeyong-ssi aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus kukejar di pagi buta begini."
"Apa masih terkejar? Aku minta maaf karena aku datangnya lama, kepergianmu jadi tertunda."
"Tak apa, bukan salahmu, lagipula aku senang mengobrol dengan Halmeoni." Jaehyun ini entah sedang kesambet atau apa, tiba-tiba jadi sebaik malaikat. Yah, ia memang baik sih akhir-akhir ini, tapi 'kan sangat berbeda dengan saat pertemuan pertama mereka di toilet yang, ah Taeyong tak ingin mengingatnya lagi.
"Tapi... tetap saja aku merasa bersalah dan berterima kasih. Aku selalu merepotkanmu setiap kali kita bertemu, apa ada yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu?"
"Kurasa kita sudah pernah membahas soal balas budi ini. Tak usah dipikirkan, aku bukan orang yang mengharapkan balasan..." Jaehyun tampak menimbang-nimbang. "Tapi... kalau kau memaksa ingin membalas, kau bisa menraktirku makan siang. Di café tempatmu bekerja juga tak masalah. Siang ini aku kosong."
"Eh? Itu... Aku akan dengan senang hati melakukannya, tapi siang ini aku tak bisa. Aku sudah ada janji dengan orang lain."
Jaehyun sebenarnya ingin sekali bertanya "siapa?" tapi bukankah itu terdengar terlalu ikut campur? Semua hal tentang Taeyong kini membuatnya penasaran, tapi ia masih ingat batasan di mana ia harus menahan diri untuk mencari tahu.
"Bagaimana kalau besok siang?" Taeyong memberikan tawaran lain.
"Maaf, aku tak bisa kalau besok. Kalau begitu, lupakan saja, tak apa-apa. Aku pergi sekarang ya, aku sudah terlambat satu jam. Halmeoni, aku pergi dulu, senang mengobrol denganmu, annyeonghi gyeseyo..." Dan tanpa bisa Taeyong cegah Jaehyun sudah berjalan menjauh.
Entah kenapa Taeyong merasakan sesak dan kesedihan saat mendengar kalimat terakhir Jaehyun. Perasaan yang persis sama dengan saat ia mendengar kekecewaan yang terselip dalam kalimat Mark malam dua hari yang lalu. Kalimat Jaehyun yang terdengar biasa itu, terasa berbeda bagi Taeyong. Perasaan bersalah kembali menyergapnya seperti malam itu. Maka sebelum terlambat, cepat-cepat Taeyong menghampiri Jaehyun, secara refleks menarik pelan mantel coklat mudanya sehingga berhasil menghentikan langkah pemuda Jung itu.
"Aku akan menraktirmu lain kali, Jaehyun-ssi. Aku janji."
Lesung pipi itu kembali terlihat, memesona siapapun yang melihatnya. "Terima kasih."
.
.
"Taeyong mana, sih? Katanya bertemu di depan sekolah?" Doyoung dan Yuta sudah berdiri di depan sekolah Mark. Mereka memang sengaja datang bersama dan janji bertemu dengan Taeyong di depan sekolah saja. Doyoung melihat jamnya sekali lagi sementara Yuta mengeratkan jaketnya. Hari ini langit tidak secerah biasanya dan angin dingin banyak berhembus. Siapapun tak akan suka dibuat menunggu di udara sedingin ini di pertengahan musim gugur.
"Jangan bilang dia tak diberi izin oleh Taeil-hyung." Yuta mulai berlari-lari di tempat untuk mengurangi rasa dingin yang menyergap. Doyoung memeriksa handphonenya sekali lagi, masih tak ada kabar apapun dari Taeyong. "Huft… Paling juga dia naik bis tapi turunnya kelewatan lagi."
Persis seperti kata Doyoung, Taeyong yang tanpa sengaja tertidur saat di bis menuju sekolah Mark, terlewat beberapa halte dari yang seharusnya. Saat terbangun dan menyadari ia sudah terlewat, Taeyong berusaha tenang meski sebenarnya ia panik. Ia ingin mengabari Doyoung, Yuta atau Mark tapi handphone bututnya mati karena lupa ia charge semalam.
Taeyong bergegas menyebrang setelah turun dan menuju halte tempat menunggu bis yang bertujuan kembali ke sekolah Mark. Sepuluh menit menunggu, bis belum juga datang, sedangkan langit mulai mendung dan Taeyong punya firasat buruk hujan akan segera turun. Ia tak bisa berjalan kaki sebagai pilihan terakhir kalau hujan benar-benar turun.
Langit sedang tak berpihak padanya. Hujan benar-benar turun tak lama kemudian. Taeyong berdecak kesal. Bukan pada siapa-siapa hanya pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa ketiduran di bis? Ceroboh sekali. Dan yang ia lebih kesal lagi adalah selama tidur singkatnya di bis itu ia malah memimpikan seseorang yang membuatnya merasa bersalah pagi ini.
'TIN...! TIN...!'
Terdengar bunyi klakson dari mobil Jeep yang berhenti tepat di depannya entah sejak kapan. Kaca penumpangnya diturunkan dan seseorang dari dalamnya setengah berteriak. "Butuh tumpangan?"
Taeyong tak bisa langsung menangkap siapa yang berteriak itu karena pandangan tertutup hujan deras dan suaranya jadi terdengar samar. Tapi rasanya belum lama ini ia dengar... "Hei, aku berbicara denganmu Lee Taeyong. Sudah melupakanku?"
Ah, benar, orang ini yang memberinya coklat hangat tempo hari, Johnny.
"Terima kasih, Johnny-ssi, tapi aku menunggu bis saja."
"Tak baik menolak kebaikan orang. Ayolah aku juga sedang tak ada kerjaan, kuantarkan kemana pun kau mau."
"Tidak usah. Aku tak mau-"
Suara petir menyambar diikuti suara guruh tak lama setelahnya. Taeyong urung melontarkan kalimat penolakkan dan memundurkan langkahnya, mencari perlindungan dari atap halte lebih dalam lagi.
"Bagaimana? Jadi ikut tidak?" Johnny bertanya sekali lagi.
"J-jadi!" Tanpa pikir panjang Taeyong segera membuka pintu di samping kursi penumpang. Instingnya mengatakan lebih baik berada di dalam mobil daripada di halte terbuka saat hujan dengan petir dan guruh menyambar. Johnny terkekeh melihat Taeyong yang cepat sekali berubah pikiran.
Taeyong masih menggosok-gosok kepala dan lengannya yang sedikit terkena hujan saat Johnny melontarkan pertanyaan iseng. "Takut petir, ya?"
"Iya. Kenapa? Tidak boleh?" Tanpa sadar Taeyong menjawab dengan ketus.
"Tidak. Lucu saja. Hahaha..."
Taeyong cemberut karena Johnny terus meledeknya sepanjang perjalanan. Taeyong terus memajukan bibirnya sehingga Johnny lagi-lagi menemukan bahan ledekan.
"Jangan manyun terus, kalau ada yang mencuri ciuman dari bibirmu bagaimana?"
Taeyong refleks menutup bibirnya dengan kedua tangan, menatap waspada pada Johnny dan sedikit menjauh. Tingkah Taeyong yang seperti itu malah terlihat imut sekali di mata Johnny. Johnny lagi-lagi tak bisa menahan kekehannya.
"Omong-omong jalannya benar ke sini 'kan?"
"Ya, ikuti jalan ini, lalu belok kiri saat ada pertigaan." Taeyong sudah mengatakan pada Johnny sebelumnya, tujuannya adalah sekolah adiknya. Tadinya Taeyong hanya mau diantar sampai halte dekat sekolah, tapi Johnny bersikeras ingin mengantar sampai ke dalam tepat di depan pintu gerbang sekolah karena hujan toh masih turun.
"Kau bolos kerja ya?" Tanya Johnny karena melihat Taeyong masih memakai seragam pelayan café di balik jaketnya.
"Ya." Taeyong hanya menjawab seadanya. Johnny ingin bertanya lagi, tapi ia tak punya pertanyaan yang bagus.
"Kau ini..." Johnny sampai bingung sendiri harus bicara apalagi karena tanggapan Taeyong sangat dingin. Ia kagum pada orang ini karena ia telah membuatnya kehabisan kata-kata. Sekedar informasi saja, Johnny tak pernah kehabisan bahan obrolan sebelumnya.
"Sudah sampai." Bersamaan dengan perkataan Taeyong itu, Johnny mengerem mobilnya.
"Sepi sekali. Jangan-jangan acaranya sudah bubar." Johnny menurunkan kaca mobilnya untuk melihat lebih jelas.
"Jangan konyol, acaranya di dalam dan siapa pun yang berada di luar ruangan saat hujan deras seperti ini adalah orang bodoh."
"Ya, seperti kau. Jangan turun di sini. Kubawa mobilnya masuk dulu baru kau turun. Mobil boleh masuk 'kan?"
Diam-diam Taeyong membenarkan perkataan Johnny. Ia tak mau jadi pusat perhatian karena masuk ke sekolah dalam keadaan basah kuyup. "Kurasa boleh karena banyak orang tua siswa yang datang."
Setelah melewati pos satpam, Johnny menghentikan mobilnya tepat di depan tangga menuju pintu utama gedung sekolah.
"Aku duluan, ya. Terima kasih atas tumpangannya. Aku akan menraktirmu sebagai balasannya. Bersama dengan Jaehyun-ssi tak apa 'kan?"
"Eh, apa urusannya dengan dia segala?"
"Tadi pagi dia sudah menolongku. Aku janji akan menraktirnya, tapi belum tahu kapan."
"Oh, kukira ada apa..." 'kukira kalian akan kencan' lanjut Johnny hanya dalam hati.
"Hm, katakan saja kalau kalian ada waktu luang, setiap sore sampai malam aku ada di café. Sampai jumpa, Johnny-ssi, sekali lagi terima kasih." Taeyong segera membuka pintu mobil, turun dan menutupnya cepat. Sambil menutupi kepalanya dengan tangan, ia melangkah cepat menaiki tangga, tetapi tetap berhati-hati karena licin.
Johnny berusaha meneriakkan hati-hati pada Taeyong, tapi sepertinya Taeyong tidak dengar karena ia sama sekali tak menoleh. Beberapa menit berselang Johnny masih memarkir mobilnya di depan tangga, memikirkan apa yang selanjutnya akan ia lakukan. "Hmm..."
.
.
"Mark duduklah! Kau seperti orang yang punya bisul di pan-" Donghyuk urung melanjutkan kalimatnya karena mendapat tatapan tajam dari Mark.
Mark sudah seperti induk ayam yang kehilangan anaknya, tak bisa tenang dan duduk diam sejak sejam yang lalu. Makanya tak salah kalau Donghyuk mengatainya seperti punya bisul di pan-oke lupakan. Penyebabnya adalah satu dan hanya satu di dunia ini: Taeyong-hyungnya belum datang padahal waktu performnya tinggal sebentar lagi.
"Haechan dan Mark, stand by! Lima menit lagi kalian tampil!" Salah seorang sie acara meneriakkan nama panggung mereka.
"Nah, ayo! Giliran kita hampir tiba."
Mark tak bergeming.
"Ya! Ayolah… Aku yakin Taeyong hyung sudah datang. Dia pasti hanya terselip di antara penonton lain sampai tak terlihat. Tahu sendiri 'kan hyungmu mungilnya seperti apa."
Kadang Mark dibuat kagum oleh Donghyuk, anak itu, bisa-bisanya tetap bercanda di situasi yang seharusnya membuat gugup seperti ini. Walau kebanyakan tingkah Donghyuk itu membuat Mark sebal sih.
"Ayolah, sudah setengah jam sejak kita bertemu Doyoung hyung dan Yuta hyung. Tadi memang Taeyong hyung belum datang, tapi sekarang pasti sudah. Ayo! Fokus! Untuk penampilan kita!" Donghyuk menepuk kedua pipi Mark dan berbaik hati membetulkan posisi topi yang kini dipakai Mark. Yah, kadang Donghyuk memang bisa bertingkah manis.
"Yah, kau benar. Taeyong hyung datang atau tidak aku tetap harus tampil. Aku hanya berharap Taeyong hyung benar-benar sudah datang untuk melihat penampilanku, ng, penampilan kita." Mark tampaknya sudah mulai tenang, tapi tetap terlihat lesu. Donghyuk tak kehabisan akal.
"Hey, bro. Jangan sedih, eommaku pasti membuat fancam penampilan kita, tenang saja, nanti kubagi filenya. Kau bisa tunjukkan pada Taeyong hyung langsung kalau dia telat datang."
Mark akhirnya bisa tersenyum lagi. "Thanks, bro."
.
.
Taeyong masih ingat letak aula besar sekolahnya meskipun sudah tiga tahun sejak ia terakhir ke sana, ke aula maksudnya. Kalau ke sekolah sih sering, untuk mengambil rapot Mark atau saat rapat orang tua misalnya. Hanya perlu 2 menit baginya untuk mencapai aula dari pintu depan. Di koridor ia sempat bertemu beberapa guru yang masih mengenalnya. Yah, Taeyong cukup populer di kalangan guru dulu. Ia menyapa mereka sekilas sebelum kembali berjalan dengan cepat.
Napasnya sedikit terengah saat ia tiba di depan pintu aula besar. Sorak-sorai penonton terdengar dari balik pintu. Dengan perasaan takut sudah terlewat penampilan Mark, Taeyong membuka pintu.
"...untuk hyungku. Hyung yang telah menjadi eomma dan appa bagiku. Hyung yang memasak makanan yang enak seperti eomma dan hyung yang mencari nafkah untukku seperti appa... Aku sungguh berterima kasih padanya... Sebenarnya tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa berterima kasihnya aku, tapi... Biarlah lagu ini kupersembahkan untuknya..."
Taeyong terpaku di tempatnya, tak jadi melangkah lebih jauh. Hatinya mencelos tapi juga terasa lega luar biasa. Ia tak bisa memutuskan lebih senang karena mampu memenuhi janjinya pada Mark atau karena mendengar kalimat-kalimatnya barusan. Entahlah, yang pasti ia merasa sudah melakukan hal yang baik selama ini.
Yang barusan itu memang suara Mark. Adiknya yang memakai seragam sekolah berwarna kuning dan berdiri dengan percaya diri di panggung sana, bersama Donghyuk.
Taeyong merasa jantungnya berdebar saat musik akustik mulai mengalun dan tak lama kemudian suara manis Donghyuk terdengar. Tak salah kalau anak itu cerewet, suaranya memang bagus. Taeyong semakin tak bisa menahan perasaannya kala ia melihat Mark mulai mengangkat mic nya dan bait-bait lagu itu mengalir dengan cepat. Rap special dari Mark. Cepat tapi smooth, dan Taeyong bisa mendengar jelas semua kata yang dilontarkan Mark. Ia baru tahu adiknya seberbakat itu.
Taeyong tidak bisa tidak tersenyum. Tapi tiba-tiba saja rasa tercekat itu memenuhi tenggorokannya, hatinya terasa pedih, dan matanya mulai basah. Semua itu hanya karena sebuah ungkapan tulus seorang Mark melalui lirik rapnya.
Kisah keluarga mereka, saat dulu masih utuh. Bahagia, sederhana, namun sempurna. Lalu appa dan eomma mereka, satu per satu pergi meninggalkan mereka. Kini hanya tinggal mereka berdua di dunia ini, menghadapi kerasnya hidup. Berbagi suka maupun duka. Saat bersama, semuanya bisa mereka lalui tanpa penyesalan. Rasa terima kasih dan bangga yang tercurah karena telah menjadi kuat demi satu sama lain.
My dear, don't worry about anything
Let's sing together
All of your painful memories
Bury them deep in your heart
The past is in the past
It has meaning like that
Sing to the ones who have left
Tell them you loved without regret
You went through so many hardships
Newness is lost to you
All of your struggles
Brush them all away
The past is in the past
It has meaning like that
Let's sing together
Tell them you dreamed without regret (*
Taeyong tidak sadar ia telah menangis tersedu-sedu sejak tadi. Mark dan Donghyuk di depan sana sudah hampir mengakhiri lagu mereka. Tidak ada yang memperhatikannya di barisan paling belakang para penonton dan ia bersyukur akan hal itu.
"HYUNG! SARANGHAE!"
Taeyong semakin tak bisa menghentikan tangisnya. Ia bahkan tak peduli kalau orang di depannya mendengarnya bersedu sedan. Ia ingin kali ini saja menumpahkan semua sedih dan haru yang membuncah di dada. Sudah terlalu lama ia menyimpan itu karena selalu ingin terlihat kuat di depan Mark.
Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menyentuh belakang kepala Taeyong. Mengusak pelan rambut hitamnya sambil berkata, "kau melakukannya dengan baik... Jangan menangis... Kau adalah kakak yang baik... Banggalah pada dirimu sendiri…"
Sangat nyaman. Taeyong tak ingin tangan itu berhenti mengusak kepalanya. Rasanya sama seperti yang sering dilakukan ayahnya dulu.
"Appa... Eomma... Uri Minhyungi... Sekarang sudah besar..." lirih Taeyong bangga, meskipun diselingi isakan dan parau suaranya.
Sementara itu di depan sana, Mark sebenarnya sudah menemukan Taeyong di dekat pintu masuk sejak pertengahan lagu. Tapi ia tahu kakaknya itu tak akan menyukai perhatian berlebih karena itulah ia diam saja. Tepat setelah ia mengembalikan mic-nya pada panitia, ia langsung berlari keluar dari belakang panggung, berlari di tengah lorong di antara barisan penonton dan menubruk Taeyong yang tengah mengusap air matanya. Sebuah pelukan erat ia berikan pada hyungnya itu.
"Hyung datang, apa kau melihatku sejak awal?" Mark tahu Taeyong mengangguk kecil di dalam pelukannya. "Uljjima... Aku tak ada niat membuat hyung menangis kok." Mark mengusap-ngusap punggung Taeyong karena Taeyong kembali terisak dalam pelukannya.
"Anak... nakal... kau harus... tanggung jawab... telah... membuatku... begini." ucap Taeyong terpotong-potong disela sesegukannya.
Yuta dan Doyoung menghampiri mereka karena melihat Mark berlari.
"Ya ampun, Taeyongi! Kau kemana saja? Kami semua khawatir kau tak jadi datang tahu! Aku tahu kau ini ceroboh, tapi tetap saja aku takut kau kenapa-kenapa. Minhyung bahkan sempat tak mau tampil kalau kau tak datang, untung Donghyuk berhasil membujuknya." Doyoung langsung saja nyerocos begitu. Tak lupa ia menghadiahi pukulan-pukulan kecil ke bahu Taeyong.
Yuta tampaknya tertarik pada sesuatu yang lain. "Hei, masa dari jauh tadi aku melihat ada Johnny di belakangmu, Taeyong-ah. Ini aku yang salah lihat atau bagaimana? Tapi tak mungkin salah lihat sih, orang itu kan tinggi sekali dan rambutnya yang seperti model iklan shampoo itu..."
Taeyong jadi menyadari sesuatu karena omongan Yuta. Tadi memang ada seseorang di belakangnya. Orang yang terus mengusak rambutnya dan menenangkannya dengan kata-kata lembut. Membuatnya sejenak merasa memiliki sandaran. Tapi Taeyong terlalu sibuk menangis untuk menyadari siapa orang itu dan ke mana dia sekarang?
Taeyong menoleh ke belakangnya, tak ada siapa pun. Hanya ada pintu aula yang sedikit terbuka. Seseorang sepertinya baru saja melewatinya. Apakah itu benar Johnny seperti yang dikatakan Yuta?
.
.
Sore itu, Taeyong tengah memperhatikan dosennya yang menjelaskan materi perkuliahan saat handphone di sakunya bergetar tanda sebuah pesan masuk.
"Hyung! Cepat pulang! Apartemen kita kebakaran!"
TBC
)* Terjemah Lirik lagu OST. My Annoying Brother (Hyung) – Don't Worry by Jo Jungsuk dan D.O EXO
AIGOOO… *insert suara aigoo team*. Agak ga pede sebenernya buat ngepost chapter ini. Kayak banyak banget kekurangannya gitu (kayak yang sebelumnya nggak aja..) Tapi bener deh, kayak kurang sreg, tapi bingung gimana mau benerinnya lagi, jadinya nekat post aja *curhat dikit*
Untuk chapter depan (kayaknya) bakal dipost dulu side story yang tak terceritakan di chapter ini #halah, karena chapter ini fokus di Taeyong terus, jadinya side story ini bakal fokus ke tokoh lain.
Oh ya terima kasih dulu buat yang review di chapter dua: jaeyong, ExileZee, mbafujo, JaeMinhyung, ReffaJaeshn, JLuna Yoolie99, 6194, tyngst, flawjae, suki-chan07, Iceu Doger, Park RinHyun-Uchiha, Yongyongieee, , peachpetals, livanna shin.
Review dari kalian kubaca dengan sebaik-baiknya, membuatku semangat + senyum-senyum sendiri. Apa daya kalau ku tak bisa memenuhi semua keinginan kalian, maafkan diriku yang hanyalah manusia biasa ini *dramatis* (Yg follow dan fav juga makasih!)
BTW cerita ini ga dimaksudkan untuk jadi humor, tapi kalau ada yang bilang lucu, Alhamdulillah, semoga bisa menghibur. Hehe.
Untuk konflik-konflik yang tajam belum muncul sampai saat ini, kalopun ada ga bakal tajem2 banget, kasian TY, idupnya udah cukup menderita di sini.
Untuk kelanjutan ceritanya silakan menebak-nebak (Udah ketebak sih keknya). Sampai jumpa di chapter side story (yg masih diketik). Annyeong~
