-(Coffee with Cream)-

[CREAM]

.

Park Sunyoung, April 2014.

[OF VARIOUS MUSE]

Disclaimer

All the characters are not mine, but the story and original character is completely mine. Therefore please do not copy all or part of the story.

Childlike!Sehun, not girly, ok?

Dedicate to

SilverPearl03; clovermoon. mr; elfs4482; Joana Cecil; InfinitelyLove; chitao; YoungChanBiased; LM90; sayakanoicinoe; xxx; jung yeojin; unknown88; Indaaaaaahhh; daddykaimommysehun; jung oh jung; Mr. Jongin Albino; Kaihun; byunpies; bbuingbbuingaegyo; ChoHunHan; SlytherSoul d'Malfoy; rainrhainyrianarhianie; sehunnoona; urikaihun; also everyone who read previous story before ^^ love ya!


Maaf beribu maaf atas beberapa typo dan kata-kata yang hilang di chapter kemarin. Terus ada yg ketinggalan juga di kolom persembahan, mian, sudah Sun perbaiki. Padahal udah diedit tapi pekerjaan yang terburu-buru memang menimbulkan banyak kecacatan. Sun pas baca ulang jadi malu sendiri dan entah gak ada yang nyadar atau memang kalian tidak mau menyinggung perasaan (terharu, hikseu) dengan tidak mengungkit masalah typo di review. Tapi Sun berharap kritik, saran, dan alert jika menemukan typo supaya kedepannya Sun bisa lebih baik lagi dan kita semua sama-sama belajar. Here is the last chapter. Hope ya love it like I'm.


Satu hal yang Sehun suka tentang cedera Luhan adalah bagaimana luka itu dapat memulihkan diri dengan cepat meski beberapa bulan ke depan Luhan harus absen total dari jadwal latihan rutin dan beberapa pertandingan.

Akan tetapi pengalaman mempelajari bahasa yang telah ia tekuni sampai ke perguruan tinggi membuat ia sadar bahwa suatu kata sifat selalu memiliki kontradiksi. Dalam konteks ini antonim dari kata suka adalah benci.

Satu hal yang Sehun benci tentang cedera Luhan adalah bagaimana luka itu dapat memulihkan diri dengan cepat hingga Luhan diperbolehkan untuk pulang ke tempat yang paling tidak ingin Sehun kunjungi karena ada Jongin di dalamnya.

Jongin dan Sehun itu independen.

Jelas-jelas tidak memiliki hubungan spesial apapun yang membuat mereka menjadi individu yang memiliki takdir dan jalannya masing-masing. Tapi entah kenapa selalu ada persimpangan yang mempertemukan Sehun dengan Jongin. Membuatnya merasa selama ini hanya berputar-putar dalam sirkuit yang garis finalnya adalah Jongin walaupun sebenarnya Sehun telah mencoba untuk mencari jalan lain yang bisa membuatnya menjauh dari pemuda itu.

Sehun ingin menyerah, sungguh. Pengharapannya sudah sampai nadir. Jadi tolong, dengan sangat, jangan buat Sehun semakin merasakan sakit yang teramat.

"Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu pemilik hotel ini adalah si brengsek itu. Jadi, maaf."

Di tiap perkataan Luhan semuanya mengandung kejujuran. Saksinya adalah Sehun sendiri. Luhan baru mengetahui saat si brengsek dan tunangannya membesuk ke rumah sakit bahwa Jongin menjadi sponsor utama timnya selama berada di Jepang. Itu artinya segala akomodasi, fasilitas sampai tempat menginap yang Luhan nikmati adalah properti milik Jongin.

Kabar buruknya ia baru mengingatnya sekarang. Lebih spesifiknya lagi saat di atrium hotel tempat ia dan timnya menginap, Luhan menemukan Sehun yang memandang kosong pada seseorang yang melintas tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Ah! Ralat, yang benar itu dua orang. Karena seperti biasanya Sein menempeli. Entahlah, wanita itu semacam seperangkat dengan Jongin. Tidak bisa dipisahkan bahkan sampai mengikuti segala sampai ke tempat kerja seperti ini.

"Hanya mengambil barang-barangku di kamar dan kita bisa mencari hotel lain, aku janji."

Sehun tersenyum manis semampunya. "Tidak apa-apa, ini sudah sore dan kita berdua sama-sama kelelahan. Nanti beredar rumor yang aneh-aneh jika pemain inti sepertimu justru berada jauh-jauh dari pelatih. Tidak usah mengkhawatirkanku."

Timnas Korea memang masih berada di Jepang. Seperti kata Luhan sebelumnya bahwa mereka akan mengadakan latihan bersama F.C Tokyo, kemarin merupakan pemanasan sebelum menghadapi pertandingan yang sebenarnya melawan timnas Jepang.

"Kamu yakin?"

"Iya." Ujarnya meyakinkan.

Sehun memang paling pintar menyembunyikan emosi dalam benteng ekspresinya yang begitu dingin. Meski pada akhirnya Luhan akan dengan mudah mengetahui perasaan Sehun yang sebenarnya karena nalurinya sebagai seorang kakak begitu kuat. Tapi setidaknya lebih baik melihat Sehun yang dingin seperti ini daripada harus melihat Sehun yang sedih dan terus-terusan menangis.

.

Kemudian untuk sekali lagi sebuah persimpangan mempertemukan Sehun dan Jongin.

Jika saja Sehun bisa melihat ke dalam tabir masa depan mungkin ia lebih memilih berada dalam kamar saja dengan Luhan. Akan tetapi berada dekat-dekat dengan Luhan untuk saat ini bukanlah sesuatu yang baik terutama untuk Luhan karena kakaknya itu bisa saja naik pitam jika melihat tampang Sehun yang murung permanen.

Ia lebih baik menyepi sejenak. Meniru kebiasaan Luhan yang akan mengamati rasi bintang ketika ingin menyendiri meski pada akhirnya Sehun kembali lagi bahkan ketika baru beberapa detik sampai di atap hotel karena bintang mana yang mau memamerkan diri di malam bersalju seperti ini?

Sehun meski enggan kembali ke lantai dimana kamar Luhan berada. Sedikit kebingungan karena dilihat dari sudut mana pun semua pintu kamar identik satu sama lain. Terima kasih pada kegalauan Sehun yang membuatnya tidak mempedulikan hal-hal di sekitarnya bahkan pada nomor kamar yang tertera di pintu kamar Luhan.

Tentu saja di saat tersesat seperti ini yang ia butuhkan adalah orang untuk dimintai tanya. Meskipun begitu Sehun sama sekali tak merasa bersyukur dengan kehadiran seseorang di lorong hotel yang sepi ini. Terutama jika seseorang itu adalah wanita yang menjadi tunangan dari laki-laki yang selama dua tahun ini telah membuatnya berada dalam sebuah penantian yang sia-sia.

"Oh! Sehun oppa!"

Usaha untuk secepat kilat menghindar dan berpura-pura tidak melihat pada akhirnya gagal karena Sein telah terlebih dahulu menyadari kehadirannya. Sehun pada akhirnya menghampiri gadis itu hanya demi kesopansantunan belaka.

"Sein. Kau membuatku ketakutan karena selalu ada di tempat dimana aku berada, kau tahu?"

Sehun serius ingin menyindir Sein tapi entah gadis itu begitu picik atau memang benar-benar naif karena yang dilakukannya sekarang adalah tertawa sambil memainkan daun pintu dari kamar, yang sepertinya, miliknya.

"Mungkin ini terdengar seperti sasaeng tapi memang aku yang memaksa Jongin menempatkan kamar Luhan tepat di depan kamarku."

Telunjuk Sein yang kukunya dipoles dengan warna lime menunjuk pada pintu kamar sebelah kiri. Sehun dengan segala pemikiran jahatnya menuduh Sein buta arah karena gadis itu menunjuk tempat yang salah. Jika benar menurut Sein bahwa kamarnya dengan Luhan berhadapan maka yang harusnya ditunjuk adalah pintu kamar di belakang Sehun, bukannya yang di samping kiri (selisih satu kamar hingga posisinya tidak berhadapan dengan pintu kamar dimana tempat Sein berdiri saat ini).

Namun segala pemikiran buruknya tentang Sein terbantahkan saat Sehun mendengar suara seseorang yang tentu saja sangat ia kenal.

"Sein ah, tutup pintunya!"

Sein bukannya menurut tapi ia malah membukakan pintunya semakin lebar. Memberikan keleluasaan bagi Sehun untuk mengungkap rahasia di balik pintunya.

"Oppa! Ada Sehun di sini."

Kali ini Sehun tidak bisa mempertahankan ekspresi dinginnya lebih lama lagi saat melihat Jongin yang tidak pernah merubah kebiasaanya tentang bertelanjang dada jika berada di dalam kamar. Sehun mengetahui sejak lama maka sudah seharusnya ia terbiasa. Namun ini Jongin dan Sein yang berada dalam satu kamar yang sama makanya Sehun tidak bisa untuk bersikap biasa-biasa saja. Sehun cukup dewasa dan mengerti benar apa saja yang mungkin akan dilakukan lelaki dan perempuan terlebih yang telah direkatkan oleh sebuah ikatan pertunangan dalam kamar yang sama di cuaca dingin seperti ini.

Jongin sama seperti Sehun. Sama-sama terkejut akan kehadiran satu sama lain hingga tak sanggup berkata-kata.

"Hei! Kenapa jadi diam-diaman seperti ini? Kalian mengobrol saja, aku kembali ke kamarku dulu."

Sein memberikan flying kiss ke arah Jongin sambil mengucapkan selamat malam sebelum menghilang ke balik pintu di sebelah kiri mereka. Tepat seperti yang Sein bilang tadi, kamarnya dan Luhan memang benar-benar berhadapan.

Sepeninggal Sein akhirnya Jongin bisa mengendalikan diri. "Sehun, ini tidak seperti yang kaupikirkan."

Namun belum sempat Jongin memberikan penjelasan, anak itu telah membanting pintu tepat di depan hidung Jongin. Semalaman itu Jongin tidur dengan bayangan akan wajah Sehun dengan biner matanya yang berkilauan oleh air mata.


.

Coffee With Cream

.


"Oppa! Cobalah yang ini."

Sein menyodorkan sepotong sushi ke hadapan Jongin namun pemuda itu dengan halus menolak.

"Baiklah, aku menyerah. Kau sudah dewasa jadi terserah saja mau sarapan atau tidak."

Gadis itu mengunyah potongan sushi berlapiskan daging tuna yang dicampakkan Jongin. Satu hal yang ia suka dari Jepang adalah sepanjang tahun dengan hidangan ikan-ikan segar hasil tangkapan para nelayan. Sein bisa saja terhanyut semakin dalam lagi jika saja di hadapannya tidak ada Jongin dengan aura gelap yang menyelubungi sekujur badannya.

"Kau bisa saja menceritakan semua masalahmu padaku agar hatimu lebih tenang."

Jongin sedikit tergiur oleh tawaran tunangannya tentang bagaimana hatinya akan lebih tenang jika menceritakan segala sesuatunya pada Sein.

"Sein, bagaimana perasaanmu padaku?"

Gadis itu meletakkan sumpitnya, topik yang akan dibahas Jongin kali ini kedengarannya lebih menarik dibandingkan potongan sushi di piringnya. "Sejak kecil aku tahu oppa berbeda. Kau begitu hangat, berbeda dari Kim lain yang, maaf, arogan. Tidak ada yang tidak akan menyukai oppa begitu pula aku."

Jongin sedikit tersenyum kering saat mendengar pendapat Sein tentang keluarga Kim yang memiliki citra yang arogan. Lucu sebenarnya mengingat Sein sendiri merupakan salah satu bagian keluarga Kim.

"Aku mengerti. Tapi maksudku mengenai perasaanmu adalah, apa kau menyukaiku, sebagai calon suami?"

"Hmmmm . . . bagaimana ya? Menurutmu bagaimana perasaan gadis yang dijodohkan oleh keluarganya pada laki-laki yang sama sekali tidak menaruh hati padanya?"

"Jika itu aku, mungkin aku akan melepaskannya dan membiarkan ia bahagia bersama orang yang dicintainya."

Sein tersenyum. "Ha! Picik sekali. Kau berniat mempengaruhiku? Kau tahu aku ini gadis pencemburu."

Jongin mengendikkan bahunya. "Entahlah, tapi kau boleh menganggapnya seperti itu."

Wajah Sein condong pada Jongin, membuat jarak mereka begitu dekat hingga Jongin bisa mendengar apa yang gadis itu bisikkan. "Orang yang kau sukai itu, Oh Sehun, kan?"

Sein tersenyum puas ketika Jongin hanya diam saja.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Oppa tahu, perasaan wanita itu begitu sensitif." Diteguknya gelas air putih di sampingnya sampai habis, mengambil jeda sebentar hingga membuat Jongin menjadi gugup. "Perasaanku padamu jujur saja aku tidak tahu. Kau lebih seperti oppa bagiku karena Junmyeon oppa, Kim yang benar-benar Kim, lebih memilih untuk menjadi ajudan kakekmu itu."

"Kakek bagiku itu berarti semacam . . . paman dari kedua orang tuamu. Kau tetap harus sopan padanya."

Sein menggeleng tidak setuju. "Paman? Sepertinya bukan. Entahlah, keluarga Kim itu termasuk keluarga yang kontra terhadap program KB (Keluarga Berencana) jadi saudaranya ada di mana-mana. Kita tidak sedekat itu hingga kedua orang tuaku juga kakekmu berani menjodohkan oppa dan aku."

Kim Sein dan kakak laki-lakinya, Kim Junmyeon sebenarnya masih satu marga dengan Jongin. Hanya saja mereka cukup jauh hingga memungkinkan terjadinya pernikahan meski kakek buyut mereka adalah saudara kandung. Bahkan Jongin dan Sein sendiri tidak tahu apakah mereka bisa dikatakan sepupu atau saudara jauh, haah . . barangkali. Segala sesuatu tentang chaebol itu memang rumit.

Sein tidak mau pusing-pusing lagi memikirkan silsilah keluarganya, yang harus ia pikirkan adalah dirinya sendiri dan masa depannya. "Semua orang akan mengatakan betapa beruntungnya aku memiliki calon suami sepertimu dan aku juga merasa seperti itu. Menikah denganmu itu artinya jaminan dan dukungan kuat untuk perusahan ayah dan ibu. Mungkin perasaan cinta akan timbul seiring dengan waktu, lagipula jatuh cinta pada laki-laki tampan dan hangat seperti oppa adalah perkara yang mudah. Tapi seperti dalam pernikahan bisnis lainnya, lebih banyak ketidakrelaan yang aku rasakan."

Betul, yang mereka lakukan sekarang adalah tahap menuju pernikahan bisnis. Meski sama-sama Kim, tapi untuk saling membantu perusahaan masing-masing tidaklah gratis. Dalam kasus ini, kakek Jongin bersedia memberikan sokongan pada perusahaan keluarga Sein jika anak gadisnya telah menjadi istri Jongin.

"Gadis baik sepertimu tidak boleh menjadi boneka seperti ini, aku tidak rela."

"Kau berkata seperti itu seperti kau tidak saja." Sein tersenyum manis yang berkebalikan dengan kata-katanya yang menyindir. Tepat sasaran.

"Ya. Tidak bisa dipungkiri aku juga boneka. Setelah ayah dan ibu meninggal, aku keluar dari sekolah dan mengikuti home schooling, meninggalkan segala sesuatu yang kusukai, dance, anjing-anjingku, teman-temanku, Sehun . . . aku tidak mau kau juga merasakan hal yang sama sepertiku. Meski aku diam saja, meski aku memendamnya, namun lama kelamaan segala sesuatu yang kupendam menumpuk dan membesar hingga tidak bisa kukendalikan lagi. Rasanya beban yang selama ini mengendap sudah terlalu berat, aku membutuhkan sandaran. Sehun, mungkin. Anak itu, sejak pertama bertemu dengannya aku merasa menjadi diriku sendiri. Dia, sangat berarti bagiku."

Sein sedikit terpaku pada Jongin yang ada dihadapannya kini. Ia, meskipun umurnya masih tergolong muda, tapi aura kepemimpinannya begitu kuat. Jika tidak, tentu saja cabang perusahaan keluarganya di Jepang tidak akan maju sepesat ini. Namun jika menyangkut Sehun, Jongin itu tidak ada apa-apanya sama sekali.

"Wow! Kau seharusnya mengatakan ini semua pada Sehun, bukan aku."

"Nanti kukatakan."

Jongin mengacak rambut Sein, membuat gadis itu menggerutu namun pada akhirnya tersenyum. "Sepertinya tidak ada pilihan lain bagiku kecuali untuk mundur. Lagipula aku sedang menyukai laki-laki lain. Tapi oppa yang harus bertanggung jawab untuk menjelaskan ini semua pada keluarga kita."

"Oke."

"Satu lagi, oppa juga harus membantuku mendapatkan laki-laki yang kusukai."

Jongin mengacungkan jempolnya. "Haaaa~ gadis baik, sini oppa cium."

Sein menyodorkan pipinya yang dicium Jongin secepat kilat. Namun tidak terlalu cepat karena Sehun dan Luhan yang sama-sama sedang sarapan di restoran hotel yang sama bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas meski tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.

Sepertinya akan ada yang salah paham lagi.

"Aku ke kamar dulu."

Sehun meletakkan sumpitnya di sisi mangkok yang bahkan belum sempat ia sentuh. Oke! Luhan itu manusia dan sebagaimana manusia lainnya memiliki batas kesabaran juga. Ia meraih ponselnya, membuka kontak dan setelah menemukan nama Jongin, diketiknya sebuah pesan.

.

To: J for Jongin

Kita harus bertemu.


.

Coffee With Cream

.


Sehun mulai jemu dengan, yah . . . siapa lagi kalau bukan Sein. Ia sudah seperti bayangan di tanah. Gadis itu, seperti yang Sehun katakan sebelumnya, selalu ada di tempat dimana Sehun berada. Bahkan kini Sein datang ke teritorialnya, mengetuk pintu kamar Luhan dan Sehun dengan tidak sabaran hingga membuat Sehun tidak bisa lagi pura-pura untuk tidak mendengar.

"Kenapa?!"

Gadis itu dari raut wajahnya sedikit ketakutan melihat tampang Sehun yang murka. "Ma- maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Tapi, apa kau melihat Jongin?"

Kemurkaan Sehun kini pangkat kuadrat. Jongin itu sudah masuk ke dalam list nama yang keramat. Pantang diucapkan karena menyebutkan nama itu membuat Sehun merasakan apa yang dikatakan orang sebagai patah hati.

"Bukannya kau selalu menempelinya kemana pun Jongin pergi?" Sehun mendelik, tajam sekali.

"Aku tahu. Tapi, tadi pagi oppa bilang Luhan sshi mengajaknya bertemu. Tadinya aku memaksa untuk ikut tapi ia bilang ini hanya antara laki-laki. Jadi kupikir kamu tahu dimana mereka sekarang karena sekertarisnya memberitahukanku bahwa setelah makan siang ini akan ada rapat direksi yang sangat penting."

Sehun sedikitnya merasa cemas dan menyesal karena telah meninggalkan Luhan saat sarapan tadi pagi dan nyatanya memang ia belum melihat Luhan sampai saat ini. Luhan itu laki-laki terposesif yang pernah Sehun temui sejauh ini. Sangat protektif terhadap apa-apa yang diklaim sebagai miliknya dan Sehun termasuk ke dalam salah satunya. Sehun ingat pernah bercerita pada Luhan ketika ia dalam masa orientasi di perguruan tinggi. Sehun mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari kakak tingkatnya dan keesokan harinya senior yang telah membully Sehun datang meminta maaf padanya dengan wajah yang bahkan tidak bisa Sehun kenali lagi karena lebam di sekujur badannya.

Sein yang tadinya merasa takut kini sedikit terkejut saat Sehun masuk ke dalam kamar dan kembali lagi dengan mantel di tangannya.

"Ayo kita cari bersama-sama."

"O- oke."

.

Jongin berusaha santai. Membuang jauh-jauh segala pemikiran buruk meski saat melewati lorong gelap nan sepi membuat sirine tanda bahaya dalam kepala Jongin menyala. Rasanya ia ingin berbalik, seperti yang dilakukan pengecut. Akan tetapi idiologi yang mengalir dalam darahnya sebagai seorang Kim menguatkan hatinya. Langkahnya tetap percaya diri meski Jongin tidak tahu apa yang akan dihadapinya di ujung lorong ini.

Dekat, semakin mendekat.

Pantofelnya yang berwarna hitam menapak pada rumput yang hijau. Ujung lorong ini bermuara pada sebuah lapangan sepak bola, di tengah-tengahnya terdapat Luhan yang sepertinya sedang melakukan pemanasan.

"Aku tahu kau akan datang."

Suara Luhan begitu nyaring terdengar di stadion dengan kapasitas sampai limapuluh ribu orang. Jelas, karena hanya ada mereka berdua. Luhan dengan segala kerendahdirian telah meminta pelatih F.C Tokyo untuk meminjamkan stadionnya ini sampai sore. Supaya Luhan lebih leluasa, karena ia tidak akan segan-segan lagi pada Jongin. "Mau menemaniku berlatih?"

Jongin menjawab iya. Jasnya ia buka, dasinya ia lepas. Dihampirinya Luhan yang sedang berkacak pinggang dengan salah satu tangannya memegang bola. Tampilan Luhan nampak lebih siap dibanding Jongin. Luhan memakai sepatu futsal dan jearsey Manchester United yang mana merupakan klub bola favoritnya meski kakinya tetap bebalutkan celana berbahan denim.

"Aku bukan rival yang seimbang untuk menemanimu berlatih, mungkin jika kau mengajakku battle dance aku bisa melakukan yang lebih baik." Jongin mengucapkannya sambil menggulung kemejanya yang berwarna putih sampai ke atas siku.

"Santai saja. Hanya ada kau dan aku, tidak perlu merendahkan diri seperti itu." Luhan melemparkan bola yang ditangkap Jongin dengan canggung. "Kau duluan yang menyerang!"

Jongin meletakkan bola di tanah, menggiringnya dengan pelan ke sisi kiri Luhan. Lelaki itu hanya menyilangkan tangan di dada, tidak berniat sedikitpun untuk merebut bola dari giringan Jongin namun ketika pemuda itu berada dalam jangkauannya, kaki kirinya terjulur menyandung Jongin hingga ia terjatuh dengan dada yang terlebih dahulu mendarat di tanah.

"Wow! Kau sangat agresif untuk ukuran orang yang baru mendapat cedera."

Segera Jongin berdiri, menepuk-nepuk bajunya yang menjadi kotor karena ulah Luhan tadi. Sang pelaku hanya menyeringai, jika Jongin tidak salah lihat.

"Sekarang giliranku."

Berbeda dengan Jongin, setiap langkah yang dibuat Luhan penuh dengan teknik. Luhan terlalu serius pada Jongin yang jelas-jelas amatiran. Pemuda itu nampak kewalahan saat menghadang Luhan bahkan ketika kedua tangannya ikut menggapai-gapai kausnya agar Luhan tidak lepas dari jangkuan.

Luhan itu pejuang di lapangan, perlawan semacam itu jelas tak berpengaruh apa pun padanya.

Dengan kesengajaan yang teramat jelas, diinjaknya kaki Jongin dengan sepatunya yang meruncing pada alasnya. Membuat pemuda itu sedikit mengaduh dan ketika Jongin lengah kini giliran sikutnya yang menekan ulu hati Jongin.

"Aw!" Jongin berlutut sambil memegangi perutnya yang mana langsung dimanfaatkan Luhan untuk menggiring bola ke dekat gawang. Terlalu mudah, bolanya mendarat dengan mulus pada jaring gawang.

"Satu kosong. Hanya segitukah kemampuanmu?"

Jongin jelas tidak suka diremehkan. "Giliranku!"

Kejadian berikutnya seperti pola yang terus diulang-ulang. Tidak peduli siapa yang menyerang karena hasilnya tetap akan berakhir dengan Jongin yang terjatuh lagi dengan tangan yang memegangi perut atau kaki. Rasanya Jongin tidak sanggup lagi untuk berdiri, tulang keringnya berdenyut sakit dan kini hidungnya mengeluarkan darah karena Luhan menendang bola telak ke arah wajah Jongin.

Luhan mendecih, meremehkan Jongin yang tidak seperti tadi, yang akan bangkit lagi ketika terjatuh namun tidak untuk kali ini. Jongin masih berada dalam posisinya yang jongkok dengan kedua tangannya melingkari area perutnya yang tadi kena tendang lutut Luhan. "Payah! Belum setengah jam kita bermain tapi kau sudah kesakitan seperti itu. Lalu bagaimana dengan Sehun? dia selama dua tahun ini menahan sakit hingga sekarang dan sedikit pun aku tidak pernah mendengar keluhan dari bibirnya."

Jongin menatap Luhan yang menjulang di hadapannya. Kerah kemejanya ditarik Luhan dengan kasar. Ketika berhadapan seperti ini membuat Jongin sadar bahwa ujung kepala Luhan hanya sebatas matanya. Namun kenyataan bahwa Luhan sedang murka membuatnya yakin ia hanya memiliki sedikit kesempatan untuk membalas tinju yang dilayangkan Luhan sesaat lalu. "Argh!"

Sesuai dugaannya, Jongin tidak diberikan kesempatan untuk melawan karena sesaat setelah Jongin jatuh, Luhan dengan segera menduduki perut Jongin dan memukuli wajahnya dengan membabi buta.

"Ini untukmu karena meninggalkan Sehun dua tahun yang lalu."

Buagh!

"Ini untuk Sehun karena telah membuatnya menangis."

Buagh!

"Ini untukku karena kau telah menyulut kemarahanku dengan membuat Sehun sakit."

Buagh!

"Ini untukmu lagi karena telah mempermainkan Sehun."

"AKU TIDAK PERNAH MEMPERMAINKAN SEHUN!"

Tepat sebelum tinju Luhan menghantam wajahnya, tangan Jongin menahan kepalan tinju Luhan dan dengan kedua tangannya dibaliknya Luhan hingga kini ia yang balik menduduki perut Luhan. Jongin yang tadinya seakan berserah pada Luhan dengan tidak memberikan perlawanan akhirnya melayangkan satu tinju yang membuat sudut bibir Luhan robek. "Aku bersungguh-sungguh mencintai Sehun."

"Jika kau bersungguh-sungguh kenapa kau tidak melepaskan Sein? Yang kau lakukan selama ini hanya menarik ulur Sehun, kau pikir adikku itu mainan?"

Luhan memegangi rahangnya yang kena tinju. Tadinya dia berniat membanting Jongin balik namun niatannya tidak terlaksana saat melihat darah dari luka di wajah Jongin bercampur dengan air mata. Menetes mengenai wajah Luhan sendiri.

"Aku tahu aku memang pengecut, laki-laki yang tidak bisa mengatakan tidak ketika kakeknya merancang perjodohan untuknya bahkan tidak pantas untuk menampakkan diri di muka Sehun. Kau pikir disini hanya Sehun saja yang merasa dipermainkan? Aku juga memendam perasaan yang sama karena Sehun tidak pernah sekalipun mengatakan cinta. Aku juga sakit! Tapi tetap saja meski selama ini aku tidak mengetahui perasaan Sehun, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk menemui Sehun lagi dan itu membuatku sadar bahwa aku tidak bisa memberikan hatiku pada Sein karena Sehun telah mengambil semuanya."

Buagh!

Jongin kembali tersungkur setelah mendapat tinjuan dari Luhan. "Yang ini juga untukmu karena telah menjadi pengecut."

Luhan berdiri sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Memandang Jongin yang masih terbaring di rumput dengan sebelah lengannya di depan mata. Menyedihkan, untuk pertama kalinya ia bersimpati pada pria yang menangis setelah dihajar. "Kejar Sehun! sebelum aku berencana menyimpannya untuk diriku sendiri karena Sehun bilang, ia lebih menyukaiku dibandingkan kau."

Tepat setelah itu, seperti dalam skenario Sehun muncul dengan Sein yang langsung menjerit menghampiri Jongin.

Sehun sendiri terlihat gamang, bingung mau menghampiri kakaknya yang nampak sehat lahir batin atau Jongin yang babak belur. "Kak Luhan . ."

"Sana! Urus si brengsek itu." Ditariknya lengan Sein. "Kim Sein! Mau berkencan dengan oppa?"

Sein menahan nafas, tahu laah . . . fangirl. "Bolehkah?"

"Yeah! Tapi ingat! Usahakan tak ada skinship."

Gadis itu rasanya ingin pingsan di tempat. Ia bahkan telah lupa pada Jongin, yang ada dipikirannya saat ini adalah mengejar Luhan yang telah terlebih dahulu berjalan ke luar lapangan. "Tunggu aku, oppa!"

Setelah tidak ada siapa-siapa lagi, barulah Sehun menghampiri Jongin. Ia duduk di samping laki-laki itu, sekujur badan Jongin gemetar meski tidak ada isakkan yang terdengar oleh Sehun. "Jongin, kau tidak apa-apa?"

Jongin tidak menjawab, ia hanya menangis dalam diam. Tidak peduli jika Sehun akan memandangnya lemah karena dengan menagis, Jongin merasa semua beban yang ia tanggung selama ini tumpah ruah. Luruh bersama air matanya.

.

Kaki langit sudah berwarna jingga ketika Sehun kembali dengan sekantung kecil obat-obatan untuk luka. Jongin tidak bergeser barang seinchi pun dari tempatnya, duduk dengan lutut dalam pelukan.

"Biar kulihat." Ia menarik dagu Jongin. Sehun meringis ketika melihat wajah Jongin yang benar-benar parah bukan hanya dengan lebam dan bercak-bercak darah, namun juga karena tanah dan yang paling mengganggu Sehun adalah air matanya yang mengering.

Jongin sedikit mendesis dan menjauhkan wajahnya ketika Sehun membersihkan lukanya dengan alkohol.

"Maaf, pasti rasanya menyakitkan."

"Tidak apa-apa, ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kamu. Maaf telah membuatmu kesakitan selama ini."

Sehun kembali mengarahkan wajah Jongin yang menunduk agar menatapnya. "Aku tadi mendengar semuanya, ini semua salahku. Aku, dulu aku hanya terlalu bingung karena semuanya begitu cepat, tapi kini aku sadar harusnya kukatakan dari dulu bahwa aku . . . juga mencintaimu. Harusnya aku bilang dan bukannya diam, tapi sekarang, sudah terlambat, kan?" Ia melirik pada jari manis Jongin dan mendapati tidak ada cincin yang melingkar di sana. "Dimana cincinmu?"

"Tidak ada, kami sudah membatalkannya. Dia saudaraku, meski jauh, dan selamanya akan tetap begitu."

Telapak tangan Jongin meraih tengkuk Sehun yang nampak bingung mau bereaksi seperti apa. Terlalu banyak pertanyaan yang menghampiri benak Sehun mengenai perkataan Jongin tadi. Tapi semua itu tidak ia pikirkan saat sadar bahwa wajah Jongin begitu dekat.

Tangan Sehun meremat rumput hijau yang menjadi alas bagi mereka. Jongin hanya membuat bibir mereka bersentuhan, tapi Sehun justru menarik Jongin untuk melakukan yang lebih dalam. Bibir tipisnya menghisap milik Jongin bergantian. Jongin membalasnya pelan-pelan karena bibirnya sakit ketika digerakkan.

"A-aaw!" Jongin menarik diri ketika Sehun yang dengan polosnya malah menggigit bibir Jongin, kelepasan.

"A-ah! Maaf." Ujung jempol Sehun menyeka bibir Jongin yang berdarah namun pemuda itu malah tertawa.

"Tidak apa-apa, aku suka Sehun yang agresif seperti ini."

Sehun melotot. "Bukan itu maksudku! Aku hanya kelepasan, haish!" dipukulnya wajah Jongin hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan. "Aduh, maaf. Aku tidak sengaja."

Kali ini bukan hanya Jongin yang tertawa, Sehun juga. Setidaknya hubungannya dengan Sehun sudah jelas akan dibawa kemana.

"Aku mencintaimu, Jongin."

.

Luhan membiarkan Sehun tidur di kamar Jongin, pemuda itu selama ini memang tinggal disana karena menurutnya untuk apa mahal-mahal menyewa rumah jika kamu mempunyai hotel dengan kamar-kamar yang bisa kau tempati sesuka hati.

Malam itu baik Sehun dan Jongin dapat tidur dengan nyenyak tanpa bayang-bayang ketidakpastian yang selama ini menjadi mimpi buruk mereka. Jongin mengeratkan pelukannya pada Sehun dan ia tahu mulai dari sekarang ia tidak akan bisa lagi melepaskan Sehun. Ia akan ikut Sehun pulang ke Seoul, meski ia harus melawan kakeknya, meski ia harus melepaskan semua kerja kerasnya. Karena Sehun jauh lebih berharga daripada gunungan emas serta jabatannya.


.

Coffee With Cream

.


Epilog

"Yixing ge! Lihat! Itu Sehun pulang!"

"Mana? Mana?"

Yixing dengan semangat berlari menuju pintu, tanpa sadar bahwa Baekhyun hanya mengerjainya dan mengambil untung dengan menggelapkan beberapa lembar uang mainan ke balik pantatnya. Biasa, jika café sedang seperti ini mereka akan menggelar arena monopoli di panggung meski pada akhirnya akan berubah menjadi arena gulat ketika Baekhyun kedapatan mulai curang, rutinitas.

"Ya! Kau berbuat curang, kan?"

"Apa? Apa hah apa?" Baekhyun tidak melanjutkan kata-katanya ketika Yixing menindihnya dan mulai mencubitinya.

"Rasakan! Rasakan!"

"Arghhh! Xiumin hyuuung! Tolong!"

Seperti biasa, pertengkaran main-main mereka akan terhenti ketika Xiumin melerainya. Yixing melepaskan Baekhyun namun yang didapatinya adalah Jongin dengan senyum lebar di wajahnya yang masih terdapat lebam kebiruan bekas pukulan Luhan, ditambah dengan bekas tamparan baru di pipi sebelah kirinya, seremonial selamat datang ketika Jongin sampai di Seoul dari kakeknya.

"Kalian ini, masih saja seperti dulu."

"Waaaah! Jongin pulang!"

Yixing berteriak heboh hingga membuat karyawan yang lain ditambah Chanyeol, yang kebetulan mengunjungi Baekhyun, ikut mengerubungi Jongin. Dipeluknya satu-satu sambil menanyakan kabar masing-masing. Namun ketika sampai pada giliran Xiumin, Jongin memeluknya sedikit lebih lama daripada yang lainnya. Sedari dulu hyungnya yang satu ini memang menjadi favoritnya.

"Hyuuung, seluruh badanku sakit. Aku hampir mati dipukuli Luhan hyung."

Jongin bisa mendengar dengusan Luhan yang sudah mengambil tempat duduk tak jauh dari mereka. Suasana hati Luhan memang sedang buruk. Timnas Korea kalah telak oleh Jepang dan sepanjang perjalan di pesawat ia mengoceh tentang timnya yang bisa saja menang jika saja pelatih mengizinkan ia turun ke lapangan. Untung saja Sein tidak mengikuti mereka sampai ke sini, gadis itu setelah sampai di Seoul langsung menuju ke rumah kedua orang tuanya.

"Omo! Bagian mana yang sakit? Sini biar hyung yang obati."

Xiumin memegangi wajah Jongin, diperhatikannya dengan seksama hingga tak sadar jika banyak mata memperhatikan mereka.

"Yah! Hyung! Jangan memandangiku seperti itu, kau membuatku takut."

Chen dengan segala kecemburuannya menjawab. "Jauh-jauh dari kekasihku!"

Chanyeol menimpali, baik sekali. "Jongin! Lepaskan tanganmu dari Xiumin, tidak baik melakukan itu pada kekasih orang."

Jongin hanya tertawa, tidak merasa tersinggung karena ini memang kebiasaan mereka berdua. Saling membela jika hubungan dengan kekasih-kekasih mereka terusik. Jongin merangkul Sehun. "Tenang saja, aku sudah ada Sehunnie."

Sehun yang biasanya jutek kini tersenyum malu-malu, haisssh! Manisnya.

"Ada yang jomblo di sini, please."

Itu Yixing yang berbicara, membuat Luhan melambaikan tangannya memanggil Yixing. "Sini dekat-dekat denganku, mungkin saja kita bisa berkencan."

"Jongin, mau kubuatkan kopi?"

Jongin melirik pada Sehun, pengalaman terakhirnya meminum kopi buatan Sehun berakhir dengan satu tegukan karena selebihnya ia buang ke wastafel. Jujur saja ia ragu-ragu namun ketika melihat tatapan Sehun yang begitu . . ah! Kau tahu lah, Jongin tidak bisa untuk mengatakan tidak.

Sehun beranjak ke coffee table dengan Jongin yang mengekori. Memasukkan dua sendok bubuk kopi kemudian melarutkannya dengan susu cair, membuat racikan yang sederhana macam kopi susu karena Jongin yang menempelinya membuat Sehun tidak bisa mengingat bermacam-macam resep yang telah dipelajarinya. Lengan Jongin melingkari pinggul Sehun sementara hidungnya menggesek di kulit tengkuk Sehun.

"Sepertinya enak."

Jongin menerima cangkir kopi dari tangan Sehun yang menghadap padanya. Masih dengan sebelah tangan yang berada di sisi pinggul Sehun. Satu tegukan tertahan di mulut. Dahi mengernyit dan Sehun yang melihatnya menggigiti bibir, gugup.

"Tidak enak, ya?"

Jongin tersenyum lebar yang langsung menular pada Sehun. "Kopi terenak yang pernah kudapatkan."

Jongin yang tegas. Sehun yang manis.

Seperti kopi dengan susu, yang meskipun independen namun sifatnya komplementer. Perpaduan yang sempurna hingga siapa saja tidak tega jika harus memisahkan mereka, semoga kakek Jongin juga.

Kak luhan, terima kasih.


.

The End

.


berkaca-kaca dulu sebentar, ihikseu...

AAA gak tau napa jadi gimana gitu ke Kak Luhan setelah nulis chapter ini, pingin diadosi ama Kak Luhaaan, #tendangSehun

buagh! buagh nya sorry mengganggu, wkwkwk

gak tau lagi mau gambarinnya gimana soalnya, semoga gak mengecewakan


semangat untuk adek-adekku yang hari UN

fighting! do the best! unnie's support u always ^^


xxx : ini udah gak marah lagi kan ya sama Sein? wkwkwkwk, makasih buat reviewnya selama ini, love ya !

unknown88: ini udah bersatu sayang Kaihunnya, moga suka dan gak mengecewakan :)

jung oh jung: iya ini udah dilanjut, tapi gak tega masa bikin mereka berpisah jadinya kusatuin aja :D

Kaihun: iya, ini update udah cepet banget loh kalo buat ukuran Sun :D


see ya in da next fict

take care!