[Chapter 3] Jika kau ada masalah dengan seseorang, jika seseorang melakukan kesalahan padamu, cobalah untuk memaafkannya. | Kris, Kai, Jaejoong, Yunho, etc | Warning: Boys Love, Crack Pair, Cliche | DLDR!

Kris Wu | Kim Jongin | Kim Jaejoong | Jung Yunho

.

rappicasso

presents

An Alternate Universe Fanfiction

Step-Brother

.

WARNING:

BOYS LOVE, CRACK PAIR, CLICHE, SEMI-INCEST

.

previous chapter

.

"Kris, Ibu mengundangmu kesini untuk bertemu"

DEG!

Kris menoleh ke arah samping kanannya dan mendapat pria yang tak asing lagi baginya. Pria yang selama ini ia anggap telah tiada

"Hello, Son."

Jung Yunho.

.

Chapter 3

.

"K-kau?" Kris mengepalkan kedua tangannya dengan kuat di atas meja. Buku-buku jarinya memutih. Gigi-giginya terkatup rapat, sehingga menimbulkan suara gemertak pelan. Ubun-ubunnya terasa mendidih, bahkan mungkin ia bisa memanaskan telur di atas kepalanya.

Jaejoong membulatkan matanya dan nyaris memukul Kris karena mendengar putra semata wayangnya yang masih bersikap tidak sopan jika berkaitan dengan ayahnya. Namun, ia mengurungkan niat tersebut karena Yunho saja terlihat begitu santai menghadapi Kris.

"Miss me?" ucap Yunho santai.

"Berani-beraninya kau berkata seperti itu setelah apa yang telah kau lakukan pada aku dan Ibu?" tanya Kris sambil menggeram pelan.

Yunho tersenyum asimetris. "Apa kabarmu, Son?" balas Yunho, tanpa berniat menjawab pertanyaan Kris.

"Cih. Jangan bersikap sok akrab, Pria Asing," jawab Kris sengit.

"Jung Yifan!" Jaejoong memekik pelan―mengabaikan fakta bahwa mereka sedang berada di sebuah restoran yang cukup ramai dikunjungi.

Kris menghiraukan ibunya dan menatap Yunho dengan tajam.

Yunho sama sekali tidak mengubah posisi duduknya―masih terlihat santai. Satu-satunya yang terlihat berubah adalah salah satu sudut bibirnya semakin terangkat ke atas dan itu terlihat mengerikan. "Oh, maaf, maaf, Tuan Muda Kris," balas Yunho sambil mengibaskan tangannya. "Aku tidak menduga jika Tuan Muda tumbuh sebagai pria yang sensitif, eh?" sindirnya.

BRAK!

Kris menghantam meja dan membuatnya sedikit bergeser.

Kali ini, suaranya cukup untuk menimbulkan kegaduhan yang menarik perhatian sekelilingnya.

"Tutup mulutmu!" Kris bangkit dari duduknya. Jari telunjuknya mengarah tepat pada mata musang milik Yunho―kali ini, Kris benar-benar menarik perhatian seisi restoran, bahkan beberapa petugas keamanan bersiap untuk mengamankan Kris jika saja terjadi baku hantam di tempat. "Kau tak tahu apa-apa, Jung Yunho. Kau tak tahu, bagaimana ibuku mendidik dan membesarkanku susah payah tanpa seorang suami di sampingnya. Kau tak tahu, jika kami melewati masa-masa yang berat." Suara Kris melemah. Matanya terpejam dan sedetik kemudia saat mata elangnya terbuka, matanya sudah mulai berair. "Kau hanya tak mengetahuinya, Jung Yunho."

"Yifannie." Jaejoong menutup mulutnya dan menggumamkan nama kecil Kris dengan lirih. Mata doenya juga berkaca-kaca seperti milik Kris.

Yunho terdiam. Matanya masih menatap Kris lekat-lekat. Ia termenung. Selama ini, sesungguhnya ia begitu memperhatikan kehidupan Jaejoong dan Kris. Hanya saja, ia tak pernah mencoba menunjukkan perhatiannya itu pada putranya. Ia menyesalinya sekarang―apalagi setelah mengetahui jika hal itulah yang memupuk rasa dendam yang mendalam pada hati Kris.

"Aku pergi dulu, Bu." Kris pun melenggang pergi meninggalkan Yunho dan Jaejoong, meninggalkan restoran.

Bahu Yunho merosot. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku mengetahuinya Yifan―"

Jaejoong tersenyum kecil dan mengelus pundak mantan suaminya itu untuk memberi sedikit kekuatan.

"―lebih dari yang kau tahu."

.

000

.

Dapur kelihatan sangat kacau dan berantakan, tepat saat Kris menginjak lantai dapur. Ia melongo dan melihat keadaan sekelilingnya. "Apa-apaan ini?" gumamnya pelan sambil mengambil langkah maju, namun yang terjadi justru―

BRUK!

"Ouch!" Kris memekik pelan saat pantatnya menyentuh lantai yang licin karena cairan yang tak ia ketahui.

"E-eh, Kris Hyung!" Jongin memekik dan berjalan cepat menuju Kris, namun yang terdengar adalah―

BRUK!

"Auw!"

―suara mengaduh lainnya. Jongin pun ikut terpeleset dan tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Kris yang masih terbaring di lantai.

Kris meringis pelan karena tubuhnya tertimpa berat badan Jongin. Meskipun tubuh Jongin terlihat ramping, namun saat mengingat jatah makan Jongin semalam, wajar saja jika tubuh pemuda ini terasa sedikit berat dari kelihatannya.

Jongin mendongakkan kepalanya dan membuka matanya yang sempat terpejam. Ia begitu terkejut ketika jarak wajahnya dengan wajah Kris hanya sekitar 1 inchi. "E-eh, maafkan aku, Hyung." Jongin segera menarik tubuhnya menjauh, namun Kris justru menahan punggungnya.

"Jangan bergerak. Kau bisa jatuh lagi." Suara Kris terdengar lebih dingin―atau setidaknya, begitulah yang Jongin dengar di telinganya.

Jongin menatap dalam mata Kris. Mata pria itu terlihat lebih gelap―bukan, bukan seperti yang dilihat Bella Swan pada mata Edward Cullen, hanya saja, seperti ada aura gelap di dalamnya. Sepertinya, sesuatu sedang terjadi pada diri Kris. Mungkinkah pria dewasa itu bertengkar dengan Ibunya?

Kris tetap menahan punggung Jongin dan mulai mendudukkan tubuhnya di atas lantai. Ia menggeser tubuhnya―bersama dengan tubuh Jongin tentunya―secara pelan-pelan mendekat ke arah dinding dapur. "Jadi, sebenarnya apa yang terjadi disini saat aku pergi, eoh?" gumamnya pelan.

Jongin menundukkan kepalanya. Ia sangat malu pada Kris karena telah menjadi tersangka utama dalam kekacauan di depan matanya saat ini. "Tadi, saat aku bangun, aku merasa sangat lapar dan haus. Jadi aku memutuskan untuk memasak sesuatu," jelasnya dengan suara lirih.

"Kau tak bisa memasak?"

Jongin menggeleng lemah.

Kris terkekeh pelan.

"Dan aku tidak bisa menemukan Kris Hyung dimana-mana," lanjutnya jengkel sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

Kali ini, tawa Kris pecah. Ia mengacak rambut Jongin. "Maafkan aku. Aku ada urusan mendadak pagi ini," jelasnya. "Kau sedang tidur sangat nyenyak, jadi aku tak berani membangunkanmu untuk sekedar berpamitan," lanjutnya.

"Kau bisa meninggalkan post-it-note untukku!" protes Jongin. "Setidaknya, itulah yang biasa dilakukan seseorang pada kekasihnya, jika ia harus meninggalkan kekasihnya yang sedang tertidur."

"Kekasih? Kita bahkan bukan sepasang kekasih, Jongin-ah."

"Kalau begitu, kita menjadi sepasang kekasih saja!"

"MWO?!"

"E-eh! Aku salah bicara!"

.

000

.

"Jadi kau ingin beli apa―"

Jongin menoleh ke arah Kris yang mulai membuka suara. Ia sudah akan menjawab pertanyaan Kris.

"―kekasihku yang cantik?"

"Kris Hyung!" Jongin memekik jengkel sambil menutup mulut Kris. Ia terpaksa berjinjit karena Kris yang memang lebih tinggi dari dirinya.

Kris tertawa dibalik tangan Jongin yang membungkam mulutnya. Ia menarik pelan tangan Jongin dan menggenggamnya. "Jangan galak padaku," bisik Kris dengan suara yang menggoda.

Jongin mendengus pelan, lalu mengerucutkan bibirnya.

Oh Tuhan. Jika saja, mereka tidak sedang berada di suatu keramaian, mungkin Kris akan langsug menyambar bibir kissable Jongin tersebut. Ah, tapi Kris masih cukup waras untuk mengingat bahwa ia tak ingin dianggap sebagai pria dewasa dengan kelainan pedophilia.

Setelah berusaha menahan hasrat untuk mengecup bibir tebal Jongin itu, Kris pun mengacak rambut Jongin. "Ya sudah, jadi kau ingin beli apa?" tanya Kris.

Kali ini, Kris dan Jongin sudah berada di pusat perbelanjaan, setelah mereka membeli makanan sebagai sarapan mereka―mengingat bahwa Jongin sudah gagal membuat sarapan untuk dirinya sendiri dan turut mengacaukan dapur Kris. Kris merasa bahwa ia membutuhkan waktu untuk menyegarkan pikirannya, terutama setelah pertemuan menegangkannya dengan Jung Yunho―ingat, Kris masih belum menganggap pria itu sebagai ayah kandungnya seperti sebagaimana seharusnya.

Jongin mengedarkan pandangannya dan akhirnya pun terjatuh pada sebuah toko. "Hyung, ayo ke toko baju itu!" Jongin memekik senang ketika ia melihat baju yang dipasang pada sebuah manneuqin. Ia langsung menarik tangan Kris untuk berjalan menuju toko tersebut.

"T-tunggu!" Kris yang tidak siap pun berjalan dengan tubuh yang tak seimbang, bahkan nyaris terjatuh.

Jongin berhenti di depan manneuqin yang diinginkannya. "Hyung, baju ini bagus atau tidak, eum?" Jongin menatap baju itu dan Kris bergantian.

Kris memperhatikan baju itu, kemudian membayangkan Jongin mengenakannya. "Baju ini bagus, tapi kurang cocok jika kau yang memakainya," jelas Kris sambil mengusap dagunya.

"Ish, mengapa begitu?"

"Tubuhmu terlalu ramping, lebih mirip seorang wanita." Kris tertawa pelan.

Dan Jongin meninju pelan lengan Kris.

"Lebih baik, kita melihat-lihat ke dalam. Kajja!" Kris menarik tangan Jongin lembut.

Saat kulit kedua laki-laki berbeda usia itu bersentuhan, Jongin berdesir. Seperti ada sesuatu yang menyengat tubuhnya.

Namun Jongin tak tahu itu apa.

.

000

.

Jongin tidak cukup fasih berbahasa Inggris. Namun, ia cukup paham dengan apa yang dibicarakan Kris pada pelayan toko baju yang mereka kunjungi. Menurut pendengarannya, Kris meminta sang pelayan toko untuk mencarikan baju yang sesuai untuk dirinya.

"Kita tunggu dulu disini." Kris kembali menghadap Jongin. Sepasang mata elang milik Kris pun bertemu dengan mata Jongin.

Dada Jongin berdegup kencang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menetralisir degupan dadanya yang mendadak tak bisa dikontrol. Ia hanya khawatir jika Kris sampai mendengarnya. Jongin segera berusaha memalingkan wajahnya, karena ia tak ingin semakin gugup saat bertatapan dengan Kris.

Kris menyadari keanehan itu pada diri Jongin. Pemuda itu seolah menghindari kontak mata dengannya. Apa yang sebenernya terjadi? Apa Jongin mulai merasakan apa yang ia rasakan? Ah, jangan berpikiran konyol, Kris!

"Mungkin baju ini akan terlihat cocok untuk adik Anda, Tuan." Sang pelayan toko kembali muncul dan memecah keheningan yang terjadi diantara Kris dan Jongin.

"A-ah, terima kasih." Kris mengambil sebuah kaus berwarna cokelat tua dan cokelat muda yang dibawa oleh sang pelayan toko. "Bagaimana menurutmu, Jongin? Kaus ini terlihat cocok untukmu," ucap Kris sambil mensejajarkan kausnya dengan badan Jongin.

Jongin melirik ke sampingnya. "Eum, ya, ini kelihatan bagus," ucapnya lirih.

Kris berdeham pelan. "Bisakah kau mencarikan kaus lainnya dengan ukuran yang lebih besar dari ini?" tanya Kris pada sang pelayan toko.

"Dengan model dan warna yang sama?"

"Ya, aku akan membelinya untuk diriku sendiri," jelas Kris.

"Ah, tentu saja, Tuan. Kami masih memiliki stocknya," jawab sang pelayan toko. "Apakah ada yang ingin Anda beli lagi?"

Kris menoleh ke arah Jongin. "Kau ingin membeli kaus yang lainnya?" tawar Kris.

Jongin mendongak sekilas. "T-tidak." Dan kembali tertunduk.

"Baiklah, itu saja. Aku langsung ke kasir saja," jelas Kris.

"Baik, Tuan."

Kris pun menarik lengan Jongin yang sepertinya belum tersadar menuju ke kasir untuk membayar baju-baju mereka.

.

000

.

"Tunggu, tunggu, kenapa kaus ini terlihat besar sekali, Hyung?" protes Jongin saat melihat kaus yang diambilnya di dalam tas belanjaannya itu terlihat begitu besar―berbeda dengan yang ditunjukkan oleh Kris tadi.

Kris tertawa. "Itu kausku, Bodoh," celetuk Kris sambil mengambil kausnya dari tangan Jongin. Ia merogoh ke dalam tas belanjaan dan menunjukkan kaus milik Jongin. "Inilah kausmu."

Jongin mengambil kaus miliknya sambil berpikir. "J-jadi, kau membeli kaus yang sama denganku, Hyung?" tanya Jongin heran.

"Tentu saja." Kris mendongak menatap langit biru yang terlihat begitu cerah.

"T-tapi kenapa, Hyung?" Jongin masih saja heran.

Kris tersenyum kecil. "Yah, setidaknya baju ini akan menjadi kenangan tersendiri untukku saat kita berpisah nanti."

.

000

.

"Hyung sedang ada masalah, ya?" celetuk Jongin saat keduanya sudah berada di dalam mobil mewah milik Kris.

Kris terhenti untuk menyalakan mesin mobilnya dan menoleh ke arah Jongin. "Masalah? Kenapa kau bertanya begitu?"

"Aku hanya menebaknya," jawab Jongin asal. "Tadi, saat di apartemen, aura Kris Hyung terlihat begitu suram," jelas Jongin.

"Begitukah?"

Jongin mengangguk mantap. "Lalu, Kris Hyung mendadak mengajakku jalan-jalan. Jadi, kupikir Kris Hyung hanya mencari hiburan saja." Jongin mengakhir kalimatnya dengan cengiran.

Kris terkekeh. Bocah ini, meskipun masih muda, namun sebenarnya sangat cerdas dan peka. Ia mengacak rambut Jongin, entah untuk yang keberapa kalinya dalam hari ini. "Jadi, jika kau merasa aku sedang ada masalah, maka kau harus menghiburku," ucap Kris sambil mulai menyalakan mesin mobilnya.

"Menghibur bagaimana?"

"Temani aku jalan-jalan seharian ini."

Jongin tertawa canggung. "Hm, baiklah, Hyung," jawabnya. "Tapi Hyung―"

"Ya?" Kris sudah mulai menjalankan mobilnya.

"Jika kau ada masalah dengan seseorang, jika seseorang melakukan kesalahan padamu, cobalah untuk memaafkannya."

Kris tertegun.

Mencoba untuk memaafkan, ya?

Mainan disana-sini. Suara-suara musik saling bersahutan. Para pedagang yang ramai menjual dagangan mereka. Dan orang-orang yang berdesakan dimana-mana. Itulah khas di sebuah taman bermain.

Kris dan Jongin sedang berada di sebuah taman bermain yang cukup ramai. Dengan kaus dengan warna yang sama, mungkin mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Tentu saja, mereka tidak mungkin dianggap sebagai saudara kembar, mengingat wajah dan postur tubuh mereka cukup berbeda. Kris menggenggam erat tangan Jongin―apalagi saat ia teringat kasus bagaimana Jongin menghilang dari keluarganya.

"Kau ingin bermain sesuatu atau membeli camilan, eum?" tawar Kris pada Jongin.

Jongin memikirkannya sejenak. "Aku ingin membeli permen kapas," celetuk Jongin.

"Baiklah, ayo kesa―"

BRUK!

Tubuh Kris menabrak tubuh seseorang secara tak sengaja. "S-sorry."

Jongin memperhatikan keadaan Kris segera. Pria itu baik-baik saja.

"Jongin!"

Jongin pun mendongak saat mendengar namanya disebut. "Appa?"

"Yifan?"

"Ibu?"

.

TBC

.

Maaf atas keterlambatan update -_-v

Saya sibuk banget di sekolah. Semua tugas akhir harus buruan dikumpulin. Belum lagi, saya sempet galau gegara Kris, ultimate bias saya T^T (sebenernya, masih galau sampai sekarang sih). Saya nggak bisa bayangin, kalau Kris beneran keluar dari EXO. Nggak bakalan ada lagi TaoRis, KrisYeol, KrisBaek, KrisKai, KrisHo huwaaaa T^T

Oke, abaikan curhatan saya.

mind to leave your review?

love,

rappicasso