Bellato Union HQ, 09.59

,,

,,

Suara kicauan burung khas planet Novus memperindah susasana pagi menuju siang hari itu. Dari sebuah jendela terlihat seorang pemuda Bellato sedang sibuk akan sesuatu.

"Aduh tongkat gw! mana tongkat gw? Tadi malam abis gw bersihin, gw taro sini perasaan. ko bisa ilang sih? Yah… bakal abis dah kalo telat lagi."teriak Chraig

Di sebuah kamar, Chraig terlihat panik mencari sesuatu yang berharga baginya. Ya, tepat hari ini Chraig akan diterjunkan dalam misi latihan ke gerbang dungeon. Tentunya, ia tak ingin mengacaukan misinya kali ini. namun apa daya, hal-hal aneh selalu terjadi saat ia berniat untuk tidak datang terlambat. entah itu karena sesuatu yang 'mistis' atau karena memang orangnya aja yang teledor.

Sudah hampir setengah jam lebih, Sepasang mata merah menerawang setiap sudut kamar yang berantakan itu. Menelisik dan menyelidik seakan tengah berada di medan perang. Sudut kamar, samping lemari bahkan kamar mandi tidak luput dari pencarianya. Tibalah pandanganya terhenti, ketika melihat sesuatu yang 'nongol' dari bawah tempat tidurnya.

"nah, ini dia! Gw cariin dimana-mana, ternyata lu ngumpet disini ya! Eh tapi knapa bisa disini ya? Ah bodo yang penting gw ga mau kena oceh mulu!" celotehnya sendirian.

Seperti biasa, suara bantingan pintu mesh berkolaborasi dengan kicauan burung semakin memperindah Susana pagi itu. …

,,

,,

Battle Dungeon Gate, 10. 00 W.N.

,,

,,

Keadaan lima Gerbang dungeon pagi hari itu tidak seramai biasanya. Suara bising terdengar disana-sini, terlihat beberapa kumpulan patriot Bellato berperalatan lengkap tengah berkelompok membicarakan sesuatu. Mereka yang terdiri dari berbagai devisi dan kelas, tampak antusias dalam misi latihan gabungan. Hari ini untuk pertama kalinya para patriot Bellato yang baru saja naik ke tingkat elit, ditugaskan dalam misi latihan gabungan memasuki gerbang dungeon. Mereka disebar berdasarkan pembagian yang sudah ditentukan oleh instrukturnya masing-masing. Rata-rata dari mereka berjumlah tujuh orang dengan kelas campuran.

Beberapa dari instruktur terlihat berkumpul di sekitar area bank Bellato. Penampakan mereka tidak jauh berbeda dengan para patriot yang lain, mereka berpakaian armor perang lengkap dengan senjatanya. Yang berbeda hanyalah warna armor mereka yang seragam. Ya.. federasi sangat mengutamakan kesejahteraan patriotnya. Bahkan ada beberapa Red MAU yang sengaja di 'parkir' dekat bank, mungkin bertujuan untuk menambah kesan serius pada kesempatan itu. Ya… siapa yang tidak kenal MAU, senjata andalan bangsa kerdil ini dijuluki sebagai raksasa perang. Rancangan teknologi senjata bergerak bebas mutakhir yang di lapisi dengan armor baja, acap kali membuat bangsa pesaing ketar-ketir menghadapi senjata raksasa satu ini.

Di deretan paling belakang tampak kelompok 17 yang masih beranggota enam orang. Diantara mereka, seorang pria dan wanita berarmor tebal khas warrior Bellato terlihat sedang berbincang. Di sebelahnya ada seorang perempuan berarmor slim light yang di dominasi warna merah putih, sedang sibuk sendiri menguncir rambutnya sembari mengemut sebuah lollipop. Lalu ada juga seorang lelaki berkacamata dengan armor slim light, sedang mengatur panel inventory 4 dimensinya. Dan dua lain diantara mereka adalah Yuri dan Sans Greydra. Memang, anggota kelompok mereka belum bisa dikatakan lengkap, Chraigh yang seharusnya sudah berada diantara mereka sama sekali belum menunjukan batang hidungnya padahal beberapa saat lagi misi latihan gabungan akan dimulai.

"Heh… rambut biru tukang gombal… kemana temen lu yang satu itu? ini udah mau jam 10 tau..!?"Tanya Yuri dengan nada kesal. Sembari membesarkan matanya. Membuat wajah eloknya terlihat sangar.

"Ee.. Anu… mungkin lagi ke kamar kecil..hehe, Aduh… ini bocah kemana lagi yak… hoby banget datang terlambat..!" gerutu Sans sambil melirik jam tanganya.

"Pokoknya awas aja kalo misi kita kali ini kacau karena kalian berdua… Gw ga akan main-main buat perhitungan sama kalian..!". ancam gadis berdarah campuran tersebut., empat orang yang berada satu tim bersama mereka hanya memberi respon biasa melihatnya.

"waduuh… abis harga diri gw! sebagai seorang pria … masa gw di ancem sama cewe begini!?" nelangsa Sans dalem batin.

"Perhatian seluruh patriot…!" sebuah teriakan yang maskulin dan tegas berhasil memecahkan kebisingan yang sedari tadi terjadi. Tampak seorang berambut hitam dipangkas cepak berdiri di depan pusat bank federasi dengan posisi istirahat di tempat. Mata hitam di bawah alis goloknya, memandangi para peserta dengan tatapan datar namun memberi kesan tersendiri. Di belakangnya berdiri para instruktur dari setiap devisi ikut berbaris dengan posisi yang serupa. Suasana pun berubah canggung, semua peserta tampak menutup rapat bibir mereka. Setelah dirasa cukup kondusif, Lelaki itu pun sedikit tersenyum lalu menyambung kalimatnya.

" Terima kasih atas perhatianya patriot… sebelum saya memberikan pengarahan, perkenalkan saya adalah Conquest Rialgard Sade, sub class Berseker. Beberapa dari teman kalian yang berasal dari Devisi tempur jarak dekat pasti sudah kenal betul siapa saya dan bagaimana saya mendidik. Untuk selebihnya saya rasa tidak penting untuk dibahas di forum ini." Jelas Railgard lugas dengan pandangan memutari tatapan para peserta.

"Saya yakin bahwa instruktur kalian telah memberi penjelasan yang detil tentang misi kita kali ini. yaitu, mengalahkan Boss dungeon yang akan kalian masuki… Saya tegaskan sekali lagi bahwasanya misi kali ini adalah sebuah latihan! Jadi jangan bertindak ceroboh ataupun gegabah! Kunci dari kesuksesan misi kali ini adalah kerjasama tim dan saya rasa waktu yang saya berikan barusan, cukup untuk kalian saling bertukar informasi. Selebihnya tergantung bagaimana kordinasi kalian di dalam Dungeon! Dan hal yang perlu kalian perhatikan…"

Ditengah-tengah arahan conquest Rialgard, Sans yang berada di kelompok paling akhir dikejutkan oleh suatu aura dingin pekat yang memecah konsentrasinya dari arah belakang. Seketika bulu kuduknya terasa berdiri semua.

"Aura ini? Aura pembunuh milik Royal Ain Nossaer? Tidak mungkin dia kan… berada di belakang Conquest Railgard..!" batin Sans penasaran, ia pun memberanikan diri menoleh.

Belum sempat ia memutar kepalanya 180 derajat ke belakang, sesosok lelaki berjubah putih bersama seorang wanita pirang telah berjalan melewati sela-sela barisan tepat di depan muka Sans. Dirinya hanya di buat terpaku melihat lambang federasi yang terpampang jelas di punggung lelaki itu. Sementara Aura dingin yang pekat tadi semakin kuat ia rasakan. Memang beberapa wizard mempunyai indra perasa yang sangat peka. Membuat mereka bisa mengetahui karakteristik sihir dari individu lain. Namun itu semua bisa terjadi jika salah seorang dari mereka memancarkan atmosfer yang sangat kuat.

" Lelaki itu… apa-apaan tekanan auranya ini..!"batin Sans menahan nafas.

Jubah putih itu terus berjalan melewati sela-sela patriot yang sedang 'khusyuk' mendengarkan arahan dari Conquest Railgard. Pandangannya lurus kedepan di ikuti wanita pirang di belakangnya, beberapa patriot lain yang sadar akan kehadiranya pun mulai berbisik satu sama lain. Kini ia sudah tidak berada di sela-sela barisan lagi, melainkan mulai menaiki tanjakan yang mengantarkanya ke tempat Conquest Railgard berdiri.

"… yang dibutuhkan oleh Federasi." Pandangan Railgard beralih kepada lelaki berjubah putih yang sedang berjalan kearahnya. Lelaki itupun membuka penutup kepalanya. Rambut ungu pekat gaya denim terlihat jelas karenanya. Beberapa saat Railgard terpaku.

" Seluruh patriot beri hormat … Grraak..!" teriak Railgard tiba-tiba, setelah mengenal siapa yang ada di hadapannya. Semua bellato yang berada di kesempatan itu langsung memberi hormat, Instruksi dadakan dari Conquest Railgard membuat beberapa patriot gelagapan karena kaget. Setelah sampai di tempat Railgard, lelaki itu mengamati barisan para instruktur, lalu membalikan badannya kearah para patriot dibelakangnya. Satu balasan hormat dari lelaki itu, semua patriot pun menurunkan tangan mereka. Kini Sans bisa melihat lelaki itu dengan jelas berdiri di depan barisan. Dengan satu senyuman dari laki-laki itu berhasil membuat Sans terkejut untuk kedua kalinya.

"Auranya..! mengapa tiba-tiba berubah jadi hangat seperti ini? gw yakin kalo Chraig ada di sini dia ga kalah kaget dari gw." gumam Sans. Beberapa saat terlihat lelaki itu membisikan sesuatu pada Conquest Railgard.

"Baiklah para patriot … di tengah kita telah hadir Wakil Archon 1 federasi. Beliau akan menyampaikan beberapa pesan dan arahan kepada kalian. Kepadanya dipersilakan…"

"Terima kasih Conquest…. Tidak perlu terlalu formal begitu, tujuan saya kemari untuk menunggu kedatngan seseorang serta ingin melihat para patriot ini tumbuh.." jawabnya.

Lelaki berjubah putih itu kini maju beberapa langkah di depan Royal Railgard. Seutas senyuman yang sedari tadi ia tampilkan tetap terpampang menghiasi wajahnya yang putih kemerahan. Paduan antara rambut ungu gaya denim, sedikit lesung pipi dan dagu yang agak meruncing membuat kesan tersendiri. sebuah karisma yang lumayan menarik bagi seorang penyihir. Ia pun mulai angkat suara.

"Selamat pagi para sahabat seperjuangan...!, tidak banyak hal yang akan saya sampaikan. Hari ini kalian akan diuji kelayakan dan kerjasama timnya. Jika kalian merasa terdesak silahkan gunakan Scroll darurat yang telah diberikan pada kalian. Apapun keadaan yang akan kalian hadapi di dalam sana saya ingin kalian berjanji, kembalilah dengan hidup…! Karena kalian lebih berharga melebihi apapun bagi federasi..! apakah yang saya instruksikan jelas!?."

"Siap! Jelas Maximus..!"jawab para peserta serentak.

" Bagus… dan ada sedikit hadiah kecil dari saya." lelaki itu pun berpaling kepada wanita pirang di belakangnya. Lalu berkata "Nona Lumire sudikah anda?" sembari merentangkan tangan kirinya kepada para peserta.

"Dengan senang hati Maximus." kini giliran perempuan pirang itu yang maju.

Ketika langkahnya terhenti, matanya langsung terpejam dan bibir mungilnya terlihat bergerak merapalkan beberapa mantra. Kedua tangannya pun ikut diangkat keatas untuk beberapa saat. Pendar-pendar cahaya warna-warni terkumpul dalam genggaman kosongnya di udara. Tepat beberapa detik kemudian, wanita itu menghujamkan kedua telapak tangannya ke arah peserta.

"Holy Force…! Soul Ballad.. Elemental Shield…!"

Pendar cahaya yang sedari tadi terkumpul, sirna seketika dari telapak tanganya. Langsung saja, kubah-kubah cahaya putih kecil bermunculan di sekeliling tubuh para peserta, indah sekaligus menyilaukan. Sans sendiri pun bisa merasakan sesuatu seperti mengalir di dalam tubuhnya, sedikit demi sedikit namun pasti. Masuk mengalir dalam setiap rongga pernafasan dan peredaran darahnya.

"Ajiiib…. Anget bro… " ujar wizard berambut biru kehitaman itu. Sang warchon kembali menyambung kalimatnya.

"Elemental shield… adalah sebuah force yang akan meningkatkan kekebalan kalian terhadap gempuran elemen. Sedangkan Soul Ballad adalah sihir dasar yang berguna untuk meningkatkan regenerasi sel kalian." Jelas sang Warchon

"Sebagai bentuk antisispasi dan dukungan kami kepada kalian, Nona Lumire Erlecht telah merapalkan mantra pendukung, agar pertarungan kalian menjadi lebih efisien. Selamat bertugas dan semoga beruntung. Untuk kita… dan untuk federasi…!"ucap sang Warchon dengan mengepalkan tanganya ke atas membakar semangat para peserta yang ada di tempat itu.

"UUUUUWWWWOOOOO..!"Teriak peserta dengan semangat yang membara.

Sang warchon dan asistennya pun kembali menuju barisan para instrukstur diiringi sorakan para peserta. Setelah menjajarkan barisanya, tepat di sebelah kirinya Royal Ain Nossaer yang berdiri dalam posisi istirahat di tempat berbisik kepadanya.

"Pidato yang bagus untuk potongan seorang Warchon menurutku…"

"Ya.. cukup bagus untuk membakar semangat mereka, kau juga harus belajar bagaimana cara membuat bawahanmu merasa dihormati dan setia kepadamu." Respon sang Warchon.

"Tentu saja aku menghormati mereka! buktinya selama ini tak ada yang berani menentang instruksi dariku. Meraka bawahan yang setia." Tukas Royal Ain.

"Kesetiaan bukan hanya masalah berani menentang atau tidak…"lelaki itu menarik nafas panjang, menahanya sebentar lalu melepaskannya melalui rongga mulutnya. Lalu ia pun melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

" …namun kesetiaan berawal dari seberapa kuat ikatanmu dengan mereka, Seberapa besar kau rela berkorban untuk mereka, maka sebesar itu lah mereka akan berkorban untukmu."jawab lelaki itu sembari tetap melihat ke barisan peserta.

" Hhhmmmffff…. (ekspresi meremehkan), kau memang selalu bisa mematahkan kalimatku dengan segudang pesan bijakmu 'pak tua'..!"ejek Ain.

"Mungkin kalau kau yang lebih dulu ada di dunia ini… kau akan beruntung, karena aku pasti akan berdiri disitu dan mulai mencemooh pidatomu.."balas sang Warchon

"Bagaimanapun… kau tetap menjadi yang terbaik, seberapa besar aku mencoba, aku hanya akan menjadi tanaman yang tumbuh di bawah bayang-bayang pohonmu.."

"Kau tahu…, akan ada saatnya dimana tanaman yang selalu tumbuh di bawah bayang-bayang pohon itu, akan menjadi pohon yang menaungi tanaman baru lainnya. Namun sekarang, ini adalah tugas sang pohon untuk melindungi tanaman itu sampai saatnya ia mampu menaungi dan melindungi tanaman lain. Dan aku yakin pohon yang kau maksud itu, sangat menyayangi tanaman di bawahnya, bahkan ia tak mau membiarkan sinar matahari yang sangat terik merusak daun muda yang baru saja tumbuh…" jawab sang Warchon seraya sedikit menatap wanita di sampingnya.

Yang ditatap pun tersenyum dan berkata " Terimakasih untuk telah menjadi pohon itu bagiku, kakak…"

,,

,,

Setelah apel singkat barusan, para peserta dibagi menjadi empat kloter di empat Gerbang pemberangkatan yang berbeda. Bentuk gerbang dungeon sendiri berjumlah lima gerbang yang terdiri dari; Satu gerbang besar utama yang biasa mereka sebut Dark Hole Dungeon Gate dengan empat gerbang dungeon lain mengelilinginya di setiap sisinya yang di pisahkan oleh tangga kecil. Sebelum mereka di izinkan masuk mereka harus memiliki kunci gerbang tersebut yang bisa di dapatkan dari berburu. Jenis monster yang akan muncul di dalam dungeon bergantung kepada jenis kunci yang mereka pegang.

Kini semua kelompok sudah berdiri di depan gerbangnya masing-masing, kelompok 17 mendapat posisi di gerbang sebelah timur yang langsung menghadap kearah portal masuk markas dan manager guild. Kunci dungeon di pegang oleh salah seorang anggota kelompok, sedangkan di kelompk 17 Yuri lah yang bertindak sebagai pemegang kunci.

Suasana hening langsung tercipta, semua peserta tampak bersiap-siap menerjang kedalam dungeon. Beberapa detik kemudian kilatan listrik membentuk lingkaran kecil, semakin lama semakin membesar memperlihatkan imej seperti awan yang berputar. Semua peserta terperangah, bukan karena kagum atau takjub. Melainkan raut wajah yang memperlihatkan kekagetan. Benar saja, Gerbang yang terbuka bukan ke-empat gerbang kecil. Namun kilatan listrik itu berasal dari Dark Hole Dungeon Gate, samar-samar muncul bayangan sesuatu, semakinlama semakin jelas bentuk dari bayangan itu menyerupai tubuh bellato. 1.. 2.. 4 … 7..! tujuh tubuh bellato muncul dari gumpalan awan berputar itu.

Ke-tujuh bellato itu jelas terlihat memakai peralatan tempur yang lengkap. Dua diantaranya memegang perisai besar, dua lagi memegang tongkat sihir, satu pria dengan senjata api berukuran besar di pundaknya dan pria yang terakhir memegang sebuah kapak yang terlihat seperti di modifikasi, armornya tampak berbeda dari kebanyakan warrior lainnya. Bagian lengan kanannya seperti sengaja dibuang habis menunjukan otot-otot bisepnya yang kekar dan hanya menyisakan sarung tangannya saja. Keadaan mereka tidak bisa dibilang baik, beberapa armor mereka tergores, sobek, ada yang terbakar dan penuh dengan debu. Semua peserta dibuat diam melihatnya tak ada satupun yang angkat suara.

Gerbang dungeon masih tak kunjung tertutup. Sekarang, giliran sebuah bayangan raksasa setinggi 3 meter lebih terlihat mendekat dari balik gerbang.

Jjjggguuiit…. Deeengg… Jjjggguuiit…. Deeenggg….

Langkah berat dentuman besi terdengar nyaring ditelinga. Perlahan muncul sesuatu seperti meriam, lalu disusul dengan bagian-bagian yang lainnya dari bayangan itu dan akhirnya muncul seutuhnya.

"Blue M.A.U…!" teriak salah seorang Bellato diikuti dengan suara berisik dari patriot yang lain.

Rangkaian baja biru itu berjalan menuruni tangga seakan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Tidak bisa di pungkiri, Blue M.A.U dan Green M.A.U merupakan seuatu yang langka bagi mereka. Senjata pamungkas dengan tingkat Upgrade tertinggi itu hanya diproduksi beberapa unit saja. Entah beberapa unit yang dikirim keluar markas untuk menjaga keamanaan tidak ada yang tau pasti. Bahkan ada desas-desus bahwa, para ilmuwan Bellato sekarang telah mengembangkan teknologi Gold M.A.U yang disenyalir sebagai bentuk evolusi terakhir dari M.A.U. Setelah rangkaian baja itu turun, Gerbang dungeon semakin lama semakin redup dan diakhiri dengan cahaya putih panjang sebelum tertutup.

"Selamat datang Maximus Elims Ibtasim, saya sudah menunggu kedatangan anda sedari tadi." sambut sang Warchon sembari berjalan menuruni tangga diikuti oleh Conquest Lumire Erlecht. Sebuah lipatan kain putih telah siap di tangan wanita itu, ia menjunjungnya setinggi perut seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.

"Terimakasih atas sambutannya Maximus Huam Nossaer, saya tidak menyangka bahwa akan seramai ini ketika sampai di markas." Salah Seorang lelaki berambut coklat dengan beberapa surai kuning menggunakan armor warrior tingkat 55 dengan bagian lengan kanan dibuang, berjalan menghampiri sambutan dari sang warchon. Penampakan matanya berbeda dari kebanyakan bellato, sebuah lensa berwarna kuning dengan pupil lancip seperti lembing menatap tajam ke depan. Sembari berjalan, kapak modifikasi yang ia pegang langsung dimasukanya kedalam inventori.

"Haha… ini hanya sebuah kebetulan, sepertinya anda menyelesaikanya lebih cepat dari pada waktu yang ditentukan."jawab Maximus Huam

Setelah mereka berdua saling mendekat, Maximus Huam Nossaer memberikan lipatan kain putih yang sedari tadi dipegang oleh Lumire kepada warrior Bellato di hadapannya. Tangan mereka bersambut, Sang warrior langsung mengibaskan lipatan kain tersebut lalu membungkus tubuhnya. Sebuah jubah putih dengan ukiran lambang federasi berwarna emas telah membungkus tubuh kekar itu. sebuah jubah yang sama persis dengan yang di kenakan oleh Maximus Huam bahkan lebih mewah.

"Lebih cepat ya..? Bukankah semua pertempuran memiliki sebuah kemungkinan?" jawab lelaki itu disertai senyuman.

"Seluruh patriot, beri hormat kepada Archon federasi..!" perintah Maximus Huam Nossaer sekaligus mengangkat tangan kananya kearah pelipis. Semua patriot yang ada di tempat itu ikut memberi hormat. Sang Archon hanya menganggukan kepala sebagai respon dari hormat mereka. Para Instruktur pun mulai mengarahkan para pesrta untuk kembali fokus terhadap gerbnag dungeon.

"Ada berita penting yang harus saya sampaikan kepada anda Maximus." Ujar Maximus Huam serius.

"Baiklah... temui saya setelah ini diruangan." Jawab sang Archon datar. Ia pun membalikan badannya menghadap kepada tujuh patriot yang ada di belakangnya.

"Terimakasih atas kerjasama kalian... kita berkumpul di Hall of Fame 2 jam dari sekarang ada hal penting yang akan kita bahas."

"Siap laksanakan." Jawaban dari mereka di tutup dengan sikap hormat, ketujuh patriot itupun langsung membubarkan barisan mereka, meninggalkan Maximus Elims dan Huam yang masih berdiri. Bahkan sang armor rider masih enggan turun dari kokpit blue M.A.U nya. Langsung saja ia tancap gas tanpa memberikan respon apapun.

"Anda tidak langsung kembali?" tanya Maximus Huam.

"Melihat para patriot muda yang antusias, selalu membuat semangat saya pulih kembali." Mata sang Archon kembali menatap kea rah para peserta. Dari sorot matanya yang berpupil lancip seperti mata binatang buas, terpancar percikan semangat walaupun penampakan di wajahnya sudah menyiratkan kelelahan.

Para peserta kembali bersiap di depan Gerbang dungeon.

"Gerbang akan terbuka dalam 1 menit…! Bersiaplah!." Teriak salah seorang instrusktur.

"Duh, ni bocah kemana lagi..!? bikin orang panik aja..!" teriak Sans frustasi sambil sedikit menjambak rambut biru kehitamannya. "Eh bro… kita tunggu sebentar lagi ya.. palingan ni anak bentar lagi dateng

"Udah.. tinggalin aja. Sampah kaya dia cuma menghalangi jalan!."sela Yuri dengan pose tangan terlipat di perutnya.

"Eh…!? apa lu bilang barusan?" Tanya Sans sembari menatap muka Yuri

"Owh… sekarang jadi tiba-tiba budeg ya? Gw bilang 'Sampah kaya dia Cuma bisa menghalangi jalan' jelas?" ulang Yuri dengan sedikit penekanan pada beberapa kata.

"heh… itu mulut pernah disekolahin kaga..!"Sans yang tidak terima langsung mengacungkan tongkat yang ia genggam sedari tadi ke wajah wizard berparas cantik itu.

"Lho..!? nyatanya, kalian bisa lihat sendiri kan? Kalo dia punya niat, datang dong tepat waktu..! lagian dia cuma handal di satu element, ada ga ada dia sama aja… ga bakal ngerubah apapun..!"balas Yuri meremehkan.

"Asseem… kalo lu pikir bisa nyelesain misi ini sendiri, sana pergi ! semoga aja tu monster lagi pada berbaik hati ama lu !"Susana di kelompok 17 pun mulai memanas. Sans yang biasanya cenderung bersahaja di hadapan seorang wanita, mulai berubah raut wajahnya.

"Ya..! itu lebih baik dari pada pergi bersama kalian dan cuma jadi penghambat buat gw ..!" ucap Yuri lalu membalikan badanya menghadap ke arah gerbang.

"Ni cewe… harus di kasih pelajaran..!" langkah Sans di halangi oleh sebuah tameng besar yang melintang di hadapanya.

"hei… sudah… ga usah di perpanjang. Sekarang harusnya kita fokus kepada misi kita kali ini. Inget kata-kata Conquest Railgard? Ini bukan masalah kuat atau tidak, ini masalah kerjasama tim..!" Ujar salah seorang warrior di kelompok itu. Dilihat dari penampilannya sepertinya ia merupakan seorang shield miller.

"Benar kata Anad kita harus fokus terhadap kerja sama tim." warior wanita yang sedari tadi diam kini angkat suara.

"Uhm… bagaimana kalau langsung kita atur formasi? Sekiranya, masih ada beberapa menit sebelum giliran kita tiba."Ranger wanita berarmor putih-merah itu pun ikut masuk kedalam pembicaraan dengan ekspresinya.

"Ide yang bagus Nona… ehm.. siapa namamu tadi hehe..?"sambut Sans.

"Wiiiiikkkyyy… Wiky Scute… jangan lupa ya ^^…" jawab ranger wanita itu dengan mengedipkan sebelah mata. Mendengar jawaban polos dari ranger itu membuat muka Sans berubah merah.

"eh… eh.. iyaa Wiky, oke lain kali tidak akan." Jawab Sans gelagapan.

"Baiklah agar menghemat waktu… saya sebagai yang ditunjuk menjadi ketua party akan memberitahukan formasi kita. Renacananya seperti ini, untuk melawan monster dungeon yang bergerombol saya dan nona Lluve akan berada di garis depan dan membuka jalan untuk party kita. Wiky akan berada di tengah untuk mengondisikan beberapa musuh yang mengganggu dan kau Henri.., berhubung sub Classmu adalah Mental Smith kau akan ku taruh di garis belakang sebagai support dan mengamankan line belakang dengan guard tower…"

"sebantar boleh saya bicara?" Tanya sang Mental Smith.

"Silahkan."jawab Anad

"Guard Tower merupakan alat pendukung perang yang tidak bisa dipindah tempatkan jadi, guard tower memiliki jangkauan serang. Kalaupun di bongkar pasang akan memakan waktu yang lama."jelas Henri detil.

"Begitu ya… oke… kau bisa memasang guard towermu ketika kita menghadapi boss."

"Siap… anggap saja semuanya beres."

"dan kalian berdua… akan mengisi bagian sayap kanan dan kiri. Karena damage yang paling besar diantara kita adalah kalian para spiritualist, aku ingin kalian membantu Wiky membereskan para monster. Dan aku harap jangan bertengkar lagi.. ini misi!"

"Terserah apa katamu pria besar.." jawab Yuri sembari memalingkan mukanya. Anad hanya menggelenbgkan kepalanya melihat kelakuan Yuri. "Dan selalu ada rencana B jika kita terdesak.."sambung Anad.

"Rencana B?"Tanya Wiky bingung. Anad pun beradu pandang dengan Lluve lalu membersitkan sebuah seringai.

"Jika saatnya tepat kalian akan tahu.."

"Lalu bagaimana dengan Chraigh saya yakin dia sedang menuju kemari." Sela Sans. Sembari berusaha menghubungi Chraigh melalui Transmitternya

"Udah gw bilangkan!? Ga usah…"

"Yuri ..! jaga bicara anda."potong Anad dengan tatapan tegas ke arahnya.

"Hassssyyhhh…" desis Yuri sembari meghentakan kakinya. Anad pun melanjutkan.

"Untuk itu mohon maaf Sans, kita akan mengambil kemungkinan terbaik untuk misi kali ini. Saya akan beri waktu sampai tiba saat kita masuk. Jika dia berhasil tiba disini sebelum kita memasuki dungeon maka dia akan bersama kita. Dan jika tidak saya mohon maaf, kita harus melanjutkan misi ini tanpanya. Bisa anda mengerti?"

"mengerti.. terima kasih."

Satu persatu kelompok yang mereka sebut party telah memasuki gerbang dungeon dari arahnya masing-masing. Dan sekarang hanya tersisa satu kelompok yaitu kelompok 17 di gerbang sebelah timur.

"Kelompok 17 masuk..!" seru Conquest Railgard.

Anad D'Thorov sebagai ketua party memulai langkahnya masuk ke gerbang dungeon, diikuti yang lain. Sebelum menginjakan kakinya Sans masih sempat melihat kebelakang, arah darimana Chraigh selalu muncul tanpa diduga. Beberapa detik ia terpaku, sampai sebuah teriakan mengejutkannya.

"Sans ngapain bengong di situ..!?" tanya Henri dengan tubuh yang cuma muncul setengah.

"Yoi Hen… tunggu gw." jawab Sans

"Ayoo buruan…" tangan mereka pun bersambut, henri menarik Sans masuk ke gerbang dungeon.

"Sorry Chraigh… kali ini gw ga bisa nungguin lu.."gumam Sans dalam hati.

,,

,,

Inside the Dungeon Battle field

,,

Imej putih yang menyilaukan lambat laun berubah menjadi pemandangan yang aneh. Sebuah pulau kecil yang hanya terdiri dari bebatuan yang lancip tanpa tumbuhan sedikitpun, tengah mengapung diantara latar ungu yang tak terlihat cakrawalanya. Beberapa jembatan batu terlit sambung menyambung dari pulau ke pulau. Beberapa portal berbentuk lingakran kecil muncul di atas pulau tersebut. Kelompok 17 kini telah sampai di Dungeon Battle field.

"Wew… jadi ini dungeon battle field?" gumam Sans. Sementara ia kagum atas penampakan arena itu, rekanya yang lain bahkan sudah siap dengan peralatanya masing-masing.

"Ini bukan waktunya untuk kagum Sans." Tegur Lluve sambil memutar-mutar senjata Field Lancenya.

"Monster disini katanya menakutkan lho.. hihi.." ledek Wiky berusaha menakuti, namun bukanya ketakutan Sans justru senang melihat wajah polos wanita berambut merah itu.

"Kamu ga cocok buat nakutin orang ya Wiky? ekspresimu itu lho terlalu polos… eh jadinya malah imut-imut gimana gitu.. hehe.. jadi pengen nyubit."

" eh… iya kah?" Tanya Wiky bingung kini ekspresinya lebih menggemaskan, bibir mungilnya sedikit terbuka dengan efek alis terangkat.

"oh my God… ^^"batin Sans.

" Fire ball..!". sebuah bola api kecil meledak dekat sepatu Sans, membuatnya loncat karena terkejut.

"ehh… Busseet..!" bekas bakar jelas terlihat ditempat Sans berdiri tadi. Matanya mengikuti arah dari mana bola api itu datang dan…

"Aseem .. lu pengen ngebunuh gua beneran ya!?" teriak Sans pada Yuri.

"Sekali lagi godain cewe, tu bola api bakal mendarat di wajah 'tampan' lu.."

"Enak aja gw udah punya SIM tau..!" elak Sans.

"SIM..? apaan tu ?." Tanya Henri mengintrogasi.

"Ya… Surat Izin Menggombal muehehehe." Sekarang giliran lembing es kecil menancap tepat di antara kedua kakinya.

"Woi, cewe psikopat..! gw ga godain siapa-siapa."

"Tau… Cuma lagi pengen aja ngerjain lu." Ujar Yuri sembari menahan ta kecil dengan tangan kananya.

"Hadeh…" Hela Sans. "yah setidaknya walaupun sikapnya begitu, ternyata dia punya rasa humor sedikit."gumam Sans dalam hati.

"Baiklah… langsung bentuk formasi ..!" teriak Anad memberi instruksi.

Anad berdiri paling depan dengan Protection Shield dan Sickle Knife ditangan kanannya. Dibelakangnya ada Wiky dengan Intense Vulcan yang selalu menemaninya. Lalu Henri megeluarkan Rifle Gattling Gun miliknya, dan mengganti kacamatanya dengan sebuah google. Sedangkan Yuri dan Sans sudah dalam posisi siap memegang Sickle Staff. Mereka pun mulai bergerak, diantara dua jalan yang berbeda mereka memimlih jalan sebelah kiri.

"Let's Do it…!" teriak Anad sambil berlari kedepan diikuti yang lainya melewati jembatan bebatuan yang menghubungkan pulau satu dan yang lainya. Derap lari mereka terdengar bersemangat ketika melintasi jembatan itu. Ketika ketujuh Bellato itu sampai pada arena pertama. Segerombolan Grumble Hook langsung menghadang pergerakan mereka dan langsung maju guna melancarkan serangan. Tidak tinggal diam Anad dan Lluve melesat lebih dulu dari pada yang lainnya.

"Heeeaah… TAUNT..!" teriak Shield miller itu sambil mengadukan tameng dan Sickle Knifenya. Grumble hook yang tadinya brutal tidak beraturan. Kini hanya mengarah kepada Anad, ia langsung memantapkan kuda-kudanya. Dan menahan serbuan Grumble hook itu di pelebaran jalan.

" Lluve sekarang..!". tubuh ramping berisi milik berserker wanita itu melewati sisi kanan Anad dengan mulus. Dengan satu hentakan kaki ia layangkan tubuhnya kearah kumpulan grumble hook, lalu dengan putaran penuh ia mengacaukan formasi para grumble hook.

"Tornado..!" Lluve memutar tubuhnya berkali-kali menghasilkan daya dorong kuat dari field lance yang ia gunakan, membuat beberapa grumble hook terpental dan banyak yang langung terbelah. Formasi grumble hook kini mulai pecah. Terlihat sekitar 12 ekor grumble hook telah sadar. Sedangkan Lluve masih berlari seraya melancarkan tusukan dan tebasanya ke beberapa grumble hook. Tubuh wanita itu masuk kedalam barisan grumble hook dan meliku-liuk diatara kaki-kaki mereka membuat grumble hook kebingungan menentukan targetnya.

Di posisi lain Anad kembali memasang kuda-kuda. Dua grumble hook menuju kearahnya, ketika jarak mereka semakin menipis, Anad langsung menghantam kepala satu grumble hook dengan protection shilednya. Grumble itu kehilangan keseimbangan efek dari benturan keras tameng, dari sisi lain seekor grumble hook melancarkan serangan berupa gigitan tajam. Anad langsung membungkukan badanya dan melakukan manuver penuh pada pisaunya.

"Shining Cut.." empat tebasan cepat dari Anad memotong beberapa kaki grumble hook tersebut, Membuatnya oleng dan roboh. Shield miller itu langsung menghujamkan pisaunya tepat diatas kepala serangga tersebut dan mengakhiri hidupnya. Belum sempat mencabut pisaunya seekor grumble yang barusan ia hantam dengan tameng sudah sadar dan menerjang kearahnya.

"Water Blade..!" sebuah gelombang raksasa berbentuk sirip hiu bergerak dengan cepat dan menembus tubuh serangga raksasa itu, membuatnya terbelah dua.

"Serangan yang bagus Sans…"

"Tidak masalah,… lindungi yang lain! Aku akan melakukan serangan dari belakang!"

Anad mengambil kembali pisaunya lalu berlari menuju Lluve yang kelihatan kewalahan menghadapi beberapa grumble hook. Empat ekor grumble kembali menuju kearah Anad dan enam yang lainya masih bergulat denga Lluve. Wiky dan Henri yang berada tengah-tengah barisan langsung mengambil langkah depan guna membantu Lluve.

"Death Blow..!" kembali Anad menggunakan skill. Dengan satu hantaman keras, tangan shield miller itu berhasil meremukan tanah dengan pisaunya. Retakan tanah berbentuk runcing dengan impact yang keras membuat para grumble hook susah bergerak. Anad melompat mundur, sedangkan Yuri tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

"Moveless Domain… Erensnare..!"

Akar dan sulur tanaman muncul dari dalam tanah menjalar serta melilit kaki-kaki grumble hook tersebut. Sekejap saja hampir setengah tubuh mereka terjalar oleh sulur buatan Yuri. Setelah berhasil mengikat para grumble hook, sebelum mantra pengikatnya habis. Yuri memutar tongkat dan menghantamkannya ke tanah.

"Killing Poison… Vetor!" rentetan duri beracun hijau langsung menembus bagi tubuh serangga-serangga tersebut membuat mereka tak berdaya.

"Bantu Lluve..!" teriak Anad.

Di sisi lain, melihat Lluve kewalahan mengahadapi jumlah musuh, Wiky dan Henri berusaha menarik perhatian. Langkah mereka berhenti, keduanya langsung mengambil ancang-ancang.

"Rapid Fire..!" masing-masing senjata mereka yang merupakan tipe gattling gun memuntahkan serial peluru beruntun mengarah kepada empat grumble hook sekaligus. Tembakan mereka berhasil mengenai tubuh para grumble dan sekarang berbalik mengejar mereka. Keduanya pun berpencar, wiky yang berlari menyamping terus menerus menghujani mereka dengan rentetan peluru. Sedangkan Henri terus berlari tanpa memberikan serangan kepada dua grumble yang mengejarnya.

Ruang untuk Lluve mulai terbuka. " Bagus…!" ujarnya. Berserker wanita itu pun meloncat mundur demi mengatur kuda-kuda di depan grumble hook. Ia menarik nafas, melawan enam ekor sekaligus cukup meguras energinya. Ujung tombaknya kini teracung kearah dua grumble di depanya. Sekejap dua kubu saling terdiam, setelah mengembalikan fokusnya Lluve kembali menerjang.

"Thrust..!" hujaman tombak berhasil mendarat tepat di daerah tengkuk seekor grumble, dilanjutkan dengan beberapa tebasan dan diakhiri tusukan tajam kearah kepala membuat satu ekor grumble roboh seketika. Seperti tidak memberi kesempatan untuk Lluve beristirahat grumble yang lain mengayunkan rahangnya karah Lluve. Lluve pun menggunakan tombaknya sebagai tumpuan untuk menghindar, sayang serangan grumble hook tersebut berhasil sedikit mengoyak armor wanita itu. Menghasilkan luka gores pada lenganya. Merasa mendapatkan celah yang bagus, Lluve langsung memegang tombaknya dengan kedua tangan dam memtutar tubuhnya menghasilkan tebasan 180 derajat.

"Power Cleave..!" tebasan panjang mendatar membelah badan Grumble hook itu. Alhasil cairan tubuhnya berceceran dimana-mana. Lluve pun selamat dari cengkramanya dan langsung berlari ke arah Henri.

Dua grumble berhasil Wiky bereskan dengan bantuan Yuri, sekarang giliran Henri yang masih main kucing-kucingan dengan dua ekor lainya. Henri masih tetap berlari sambil sesekali melihat kebelakang.

"Sial… gw belum dapet spot bagus buat nyerang.!"gumamnya. tanpa disadari Anad dan Lluve muncul secara tiba-tiba dari samping dan menebas kaki kedua grumble itu. Grumble pun kehilangan keseimbangan dan nterjatuh berhenti.

" Pergi dari situ..!" teriak Sans. " Frozen Rain…!" ujung tongkat Sans yang bersinar mengeluarkan lembing-lembing es kecil yang tak terhitung. Dengan satu ayunan seluruh lembing tajam tadi meluncur kearah targetnya. Grumble yang kesusahan untuk berdiri, bagaikan target empuk dari serangan Sans. Sedetik kemudian dua tubuh serangga itu sudah tidak bergerak lagi. Anggota kelompok 17 pun saling mendekat.

"Lluve lenganmu."ujar Wiky melihat cairan warna merak keluar dari sobekan arnornya.

"Tidak usah difikirkan … ini hanya luka ringan." Ujarnya.

"Bagus… kalau begitu ayo ratakan area selanjutnya."seru Anad. Mereka pun beranjak, sebelum beranjak Sans mencuri pandang sebentar kearah Yuri. Ada sesuatu yang menggangunya raut wajah Yuri terlihat sangat kelelahan. Pandanganya tertuju kebawah dengan tubuh yang agak membungkuk.

"Yuri… lu ga kenapa-kenapa?" ujar Sans seraya mendekati Yuri.

"Ha..ha…? ga… gw… gw ga papa… udah ga usah di fikirin masih ada 2 area lagi yang harus kitra lewati sebelum mengalahkan boss. Ayoo selesaikan dungeon ini secepatnya…!" Elak Yuri sembari mendorong pelan tubuh Sans agar berjalan mengikuti yang lain. Sans pun mengalah, ia pun berjalan kearah anggota lainya. Namun dari sudut matanya ia tetap memperhatikan Yuri.

"ada yang ga beres dari anak itu."fikirnya curiga.

Kelompok 17 berlari melanjutkan ekspedisi mereka melintasi jembatan kedua. Setelah berada di dekat pelebaran jalan, Anad mengankat tangan kananya berupa kepalan. Mereka pun berhenti.

"Brutal." Bisik Anad kepada yang laih. " Baiklah pertama-tama …" belum selesai ia mengakhiri kalimatnya Yuri berlari menerobos ke arah kumpulan brutal itu.

"Yuri…! Gadis itu mengapa terlalu gegabah..!" teriak Anad. "Ayoo maju ..!"

" hei.. hei.. bagaimana dengan rencananya.." sela Sans.

"Sekarang tinggal satu rencana kau lupa?, rencana B bersenang-senang dan hancurkan semuanya..!"

Yuri yang sudah menerjang lebih dulu, berusaha mengacaukan barisan Brutal.

"Whirl Wind..!" sebuah tekanan angin kuat dengan Yuri sebagai pusatnya, berhasil menggeser beberapa brutal.

Anggota tim yang lain kini sudah menyusul, keadaannya menjadi kacau. semua orang sudah tidak berkoordinasi lagi, sekarang mereka fokus dengan musuhnya masing-masing. Terlihat Anad dan henri menghadapi beberapa brutal sekaligus, bahkan Wiky, Lluve dan Yuri menghadapi mereka sendirian.

Sejauh ini Yuri telah mengeluarkan mantra force area dan pasti sudah mengturas sebagian tenaganya. Kini ia di kelilingi oleh tiga brutal di dekat ujung jembatan yang lain. Tidak ada jalan keluar selain melawan.

"Whirl Wind ..!" sekali lagi ia rapalkan mantra yang sama. Namun karena tenaganya sudah lumayan terkuras tekanan dari sihirnya menurun, sehingga tidak berpengaruh apa-apa terhadap brutal. Setelah mengeluarkan force tadi tubuh Yuri bergetar sampai membuatnya berlutut.

"Uhuk..Uhuk…" muka wizard wanita itu terlihat pucat dan terbatuk batuk.

Tanpa disadari seekor Brutal yang berada di belakangnya tengah mengangkat tanganya yang berbentuk sabit untuk mengakhiri nyawa si wizard malang tersebut. Siapa yang tidak kenal dengan sabitan brutal yang mampu menebas sebatang pohon ketika dia berumur Ace. Yuri yang menyadari itu terlihat sangat terkejut, ia mencoba untuk bangkit namun kakinya tidak kuat untuk menopang, sehingga membuatnya terjerembab. Sans yang mengetahui kejadian itu berusaha berlari menghampirinya. Namun jarak mereka terlampau jauh. Brutal itupun mulai mengayunkan tanganya kearah Yuri. Yuri hanya bisa memejamkan matanya.

"YURI….!" Teriak Sans. Anggota tim yang lain tak kalah terkejut dan hanya bisa terpana melihatnya dikarenakan jarak mereka yang jauh. Sebelum jarak antara sabit dan Yuri semakin dekat Sans berusaha sekeras mungkin merapalkan mantra yang ada di kepalanya.

"Frozz… Arr…WAtte… haah… haaah… sial gw gabisa fokus" teriak Sans sambil berlari sekuat tenaga. "Yuri… menghindar!".

Sia-sia, tubuh Yuri yang gemetar sudah tidak mampu menerima rangsangan sensorik dari pusat kordinasinya. Brutal itu mulai mengayunkan tanganya untuk memberikan salam perpisahan kepada Yuri.

" Ti... TIIIIDAAAAK…YUUURRRIII…!" ucap Sans putus asa.

Tiba-tiba. "Anger of Inferno…!" sebuah ledakan api besar menyilaukan langsung menghanguskan ketiga brutal yang mengelilingi Yuri. Semua yang ada di area itu terdiam. Api terus berkobar di tempat Yuri terjatuh, entah apa yang terjadi pada gadis malang itu. Sans yang sudah kehabisan nafas jatuh berlutut memandangi kobaran api tersebut.

,,

Yuri merasakan sensasi panas di sekelilingnya. Iapun perlahan membuka matanya. "Gw masih hidup?"

Sedikit demi sedikit Yuri melihat sebuah bayangan terlihat dari balik api yang berkobar. Seorang bellato, ya seorang bellato tengah berdiri di balik api. Samar-samar mulai terlihat wajah dari bellato tersebut.

"K..Kau..mengapa bisa berada disini..!?" respon Yuri tidak percaya melihat siapa yang ada di depannya.

,,

,,

- #### -

Novus 10 Octobrum 71

Misi baru telah menunggu esok hari.

Pokonya gw ga boleh telat lagi hari ini... Entah musibah atau barakah gw satu tim sama cewe cantik dengan darah campuran dan satu lagi, Assseem gw satu tim lagi sama si kunyuk Sans...! tapi semoga gw ga mengacaukan misi kali ini...

(Charigh's Diary page 14)

A/N: well... well ... akhirnya setelah melalui saat-saat yang sulit chapter ke-tiga ini bisa ane selelasikan (ngangkat tangan sambil ngulet-ngulet dikit). ada beberapa hal, yang pertama POV. untuk sudut pandang pada chapter kali ini saya menggunakan sudut pandang orang ke-tiga. setelah melalui pertimbangan dan diskusi yang panjang dengan Chraigh sendiri akhirnya kami pai pada suatu Mufakat :v ...wkwkkwkwkwk.

Intinya, pada chapter kali ane coba nampilin kemampuan dalam penggambaran sudut pandang ke tiga, dan juga ane minta pendapat apakah ane lebih bagus di sudut pandang ke-tiga atau gimana? oke... jujur ane merasa terbantu dengan review yang lalu. so... beberapa kesalahan yang belum ane tau, mungkin dapet tercver di chapter ini. and.. jangan sungkan sungkan buat kritik ya..

Chaptrer ini juga ane dedikasikan buat teman-teman seperjuangan di guild Eternity_Chaos. Lumire, HuamHoam, Henri, Lluve,Wiky, Yuri dll. yang mungkin akan ane munculin di FF ini.. terimakasih atas kenangan yang pernah kalian buat walau kita belum bisa bersama lagi... (T-T). sukses buat kalian dimanapun berada.

,,

,,

Kalau judul FF barunya Cak Mie itu, "Thanks for being My Friends" Kesempatan ini ane akan katakan " Thanks for being My Family..!" matur thank you betapa senengnya sudah di terima menjadi anggota keluarga di forum ini. well... berarti ane dong yang paling muda wkwkwkwk... eh?.

mungkin sekian dari ane... tetap berkreasi dan see you next chapter...!

N/B: sedikit koreksi, Rambut Sans adalah biru kehitaman. dan di chapter selanjutnya saya akan menjelaskan sistem dungeon di fanfict ini, mungkin ada sedikit modifikasi dari yang kita biasa masuki di game..