Fanfiction.

Guardian Angel – HunHan (Oh Sehun x Xi Luhan)

Desclaimer : The characters aren't mine, but the story is completely mine.

Warning!Typo dimana mana. Lelet update gegara Author males.

Enjoy!


"Xiuuu, ayo ke kantin!" teriak Luhan dari arah pintu kelas Xiumin. Xiuminnya sendiri hanya tersenyum kecut sambil mengelus dadanya pelan, 'kalau itu bukan Luhan, aku akan pura pura tidak kenal...' pikirnya miris sambil merapikan buku bukunya ke dalam laci mejanya. Tidak mendengar jawaban dari sang teman, Luhan langsung berlari masuk ke dalam kelas dan menghampiri Xiumin yang masih merapikan bukunya.

"Xiuuu~ ayoo~" Xiumin mendongak kecil lalu mengangguk.

"um, ayo ke kantin!" ujarnya pelan sambil berdiri, merapikan seragamnya sebentar sebelum menggeret Luhan keluar kelas.

.

.

.

"Lu, lain kali jangan berteriak tidak tau malu begitu, oke?"

"HEY siapa yang tidak tau malu?!" respon Luhan sangar dari perkataan Xiumin. Xiumin hanya memandang Luhan prihatin sambil mengelus dadanya (lagi)

"Kau lebih tidak tau malu, mendobrak kamar mandi orang padahal aku sedang mandi disitu" lanjut Luhan sambil menendang udara kosong di hadapannya. Xiumin memutar bola matanya bosan. Dia sudah mengira jika Luhan akan mengungkit kejadian tadi pagi. well, Xiumin tidak bisa disalahkan juga. Mereka sudah hampir telat, dan Xiumin belum mandi sama sekali. Jika kalian tanya kenapa, jawabannya hanya satu. Luhan. Luhan mandi satu jam lebih dan ketika Xiumin menggedor pintu kamar mandi tersebut, Luhan hanya menjawab "Yaaa~~". dan detik itu juga, Xiumin emosi dan mendobrak kamar mandi yang masih ada Luhan di dalamnya, menariknya keluar dari bathtub, lalu menendangnya dengan (cukup) keras keluar kamar mandi, lalu mengunci dirinya sendiri di kamar mandi supaya bisa mandi (setidaknya dengan tenang).

"Kau mandi satu jam lebih, Lu"

"Kau tidur satu jam lebih, Xiu"

ARGH CUKUP.

beruntungnya, sebelum Xiumin sempat menerkam Luhan, seseorang menutup matanya dari belakang. "Tebak siapa~" suara yang familiar bagi Xiumin. dan detik itu juga, suara Xiumin yang sangar berubah menjadi sangat sangat lembut. "Chennie~" ujarnya imut sambil melepaskan tangan tersebut dari matanya. mata Xiumin berubah berbinar ketika melihat sosok jangkung itu berdiri di belakangnya sambil memasang cengiran khasnya. "Minnie~ mau makan bersama?"

"Boleh~ aku sendiri kok~"

"WHA- AAW"

Xiumin tersenyum sambil memberikan Luhan death glare terbaiknya, "Ada apa, Luhan?" Luhan hanya tersenyum miris dan menggelengkan kepalanya, lalu mengusap kakinya yang baru saja diinjak Xiumin dengan perlahan, "A-aku baik..."

"Bagus. Ayo Chennie~ sampai nanti, LUHAN" ujar Xiumin sambil mengangguk, meninggalkan Luhan yang meneguk ludahnya kasar. 'sejak kapan Xiumin menjadi sangat... menyeramkan."

.

.

Luhan dengan kesal menusukkan garpunya ke dalam sosis yang ada di dalam piringnya. Dia menyenderan punggungnya ke punggung kursi dan mengunyah sosis itu dengan perlahan, memandang langit langit putih kantin hingga suara tarikan kursi di sebelahnya membuatnya menolehkan kepalanya, Luhan mendongak sebentar melihat sang pelaku lalu mebelalakan matanya, sosok yang familiar untuk Luhan, "ASDFGHJK KAU!"

Sehun hanya tersenyum maklum dan duduk di sebelah Luhan, tidak memeperdulikan Luhan yang dari tadi mengoceh menlontarkan pertanyaan seperti, "kenapa kau disini?" "kau murid disini?" "AYO JAWAB SEHOOOON"

"..." Sehun menghela napas lalu membuka kotak bekalnya, tidak ingin menggubris pertanyaan Luhan, toh sebentar lagi dia menjelaskannya. Ia tidak ingin menjawabnya sekarang karena... well, Luhan terlalu berisik. cerewet. astaga.

"KENAPA KAU DISINI? BUKANNYA KAU MALAIHMPPP-"

"GAAAAAH STOP"

satu pertanyaan itu cukup membuat Sehun kaget dan langsung mebungkam mulut Luhan dengan tangannya. Luhan menatapnya dan memberikan death glareandalannya pada Sehun, tapi Sehun malah menemukannya lucu dan manis. yah, wajah Luhan memang tidak bisa dibilang jelek, cantik malahan. cukup cantik untuk membuat Sehun tertarik untuk menjahilinya (dan menjaganya, tentu).

Sehun melepaskan tangannya dari mulut Luhan dan menghela napas panjang, "kau tau, kau tidak perlu secerewet itu"

"aku tidak akan cerewet kalau kau langsung menjawab semua pertanyaanku"

"..."

"Apa?"

"...Baiklah, kau ingat aku ini adalah... guardian angel-mu, kan?" Luhan mengangguk pelan lalu kembali menatap makanannya, lalu menatap makanan Sehun. mengerjap pelan lalu mendekatkan dirinya kepada makanan Sehun. Sehun tertawa pelan lalu mendorong bekalnya menuju Luhan. "kau boleh ambil" mata Luhan langsung membesar dan berbinar. dengan cepat, Luhan langsung menyantap makanan Sehun dengan nikmat. "ummmh~"

Cuteness Overload.

Sehun memandang Luhan miris sambil mengusap dadanya. Kenapa... terlalu... lucu...?

Membersihkan tenggorokannya, Sehun kambali berbicara "karena aku guard-mu, aku harus disini" Luhan yang sudah sibuk dengan makanan super-duper-enak-aku-mau-lagi Sehun, "kenapa kau disini? aku tidak butuh kau" ujar Luhan acuh sambil kembali memakan makanannya sendiri. Sehun memutar bola matanya lalu menyantap makanannya sendiri. tak jarang Luhan melirik makanan Sehun dan membuat Sehun memberikan semua makanannya ke Luhan. yah, setidaknya karena makanannya, Sehun dapat melihat mata Luhan yang berbinar ketika menghabiskan makanannya.

.

.

.

"Sehun, ayo kita pergi~ Xiu sedang bermain bersama Jongdae, jadi ya... aku sendiri"

5 menit setelah bel pulang berbunyi, Luhan menyembulkan kepalanya dari pintu kelas Sehun dan berjalan menuju Sehun. Sehun menatap Luhan sejenak sebelum terkekeh pelan. Memasukkan buku buku pelajaran ke dalam tasnya dan memakai satu strip ranselnya. Sehun bangun dari tempat duduknya dan menarik tangan Luhan untuk keluar dari kelasnya, "kau mau kemana, mall?"

Luhan tadinya ingin mengangguk, tetapi rentetan kejadian kemarin sore tiba tiba terulang di pikirannya. karena pikiran itu, Luhan langsung menggeleng pelan lalu menarik Sehun untuk pergi ke taman terdekat. "ayo kita pergi ke taman~" Sehun hanya mengangguk kecil dan membiarkan tangannya di tarik oleh Luhan.

.

.

.

Sehun menguap dan membaringkan tubuhnya di atas rerumputan hijau, asik memandangi Luhan yang tengah asik bermain dengan air danau dengan menggunakan tongkat dan batu kecil. Sehun menengokkan kepalanya ke kiri dan kanan, melihat apakan ada orang lain selain mereka. dan ternyata, hanya merekalah yang berada di taman bagian danau. Sehun tersenyum kecil lalu mencabut beberapa rumput dan melemparkannya ke udara kosong di atas kepalanya, dengan cepat tangan kanannya langsung memberikan sedikit angin dan tangan kirinya membuat angin dan rerumputannya stay di lingkup tangannya. Luhan yang baru saja ingin memanggil Sehun, langsung berlari untuk duduk di sebelah Sehun, melihat bola angin dengan rerumputan di dalamnya.

"oh... wow"

Sehun terkekeh geli dan mulai menggoyangkan tangannya, terlihat seperti bola kaca dengan rumput di dalamnya. itu indah, Luhan akui itu. Luhan terus memperhatikan rerumputan itu bergerak lincah di dalam bola angin yang melingkupinya. Sehun terus memperhatikan wajah Luhan hingga tanpa sadar, tangan kanannya mengelus pipi Luhan lembut, membuat Luhan tersentak kaget dan langsung mendongakkan kepalanya. dan Luhan baru sadar, wajahnya dengan wajah Sehun sangatlah dekat. Pipi Luhan langsung bersemu merah ketika Sehun mengangkat dagunya pelan, mendekatkan bibirnya pada bibir Sehun

.

.

.

"GAAAAAAAAH!"

Sehun langsung terjengkang kebelakang ketika Luhan mendorong Sehun kebelakang dengan (cukup) keras. Sehun langsung mengaduh kesakitan dan ya, bola angin itu langsung terhempas ke atas, dan rusak. Luhan panik seketika dan langsung mendekat kearah Sehun yang masih mengusap punggungnya yang sakit. Jujur saja, Luhan masih bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, pipi putihnya masih bersemu merah. Sehun yang tadinya mengaduh kesakitan menjadi tertawa kecil sambil menampilkan senyum manisnya, mengelus surai Luhan pelan. dan lagi lagi, cobaan untuk Luhan. usapan Sehun di rambutnya sama sekali tidak membantunya untuk menenangkan jantungnya, malah memperparah.

"Sudah sore. pulang?" ajak Sehun sambil berdiri, membersihkan celananya dari tanah dan rerumputan yang baru saja ia duduki. Ia mengulurkan tangannya di hadapan Luhan, untuk membatunya berdiri. Luhan tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil dan mengambil tangan Sehun. Luhan berdumel pelan ketika ia tidak bisa menolak ketika Sehun menggenggam tangannya. Akhirnya, mereka berjalan pulang dengan sunyi menyelimuti mereka. pikiran mereka sama,

Apa aku suka dia?

TBC


so... HELLO~ yep, saya sudah kasih di warning, kalo saya bakal leleeeeeeeet banget updatenya. inspirasi saya kadang2 stuck gitu. kalo lagi di tempat bagus, saya gadapet inspirasi. eh begitu tempatnya yang enggak begitu elit (contoh: kamar mandi) saya baru dapet inspirasi. dikarenakan itu, mohon maaf untuk keleletan saya dalam hal update meng-update.

Iya, emang Luhan itu tuh kayak malu tapi mau gitu sama Sehun-_- jangan! Luhan jangan disulap jadi rusa! entar dimakan sama wolf Kai, eh salah ya salah. makasih banget yang udah review fanfic nan absurd ini, saya gak nyangka akan dapet respon se-hangat itu. ME LAFF YAAAAH~ dan yah, ini aja bacotan saya. sekali lagi, makasih yang udah jadi silent readers, apalagi yang review.

RnR?

BIG HUGS FOR :

RirinSekarini ; ; ohristi95 ; ferinaref ; Milky Andromeda ;

ajib4ff ; hyemi nam ; asroyasrii ; Imeelia ; lisnana1 ;

Lee MingKyu ; URuRuBaek ; rinie hun ; 0312luLuEXOticS ; dian deer ;

choitaemin12 ; RZHH 261220

xx, B.