Q&A
ShelyNaru : salam kenal juga ^^ makasih ya :'D untuk guru silahkan lihat di A/N xD dan Shisui muncul kok, cuma ga banyak :)
Cyntia narukushi : ini sudah :)
Guest : makasih :D
Widi orihara : makasih :'D dan guru silahkan lihat A/N :D
Uzumaki Hyuuga18 : shisui muncul ^^ dan guru lihat A/N ya~
LadySaphireBlue : aih, makasih x) mungkin bakal battle, yang pasti Naru bakal bantuin Menma kok :) aih makasih \\\. Pasangan dobe teme sih :D ga kakak ga adek sama aja xD Madar pasti dong ^^ tapi yang meranin Tobi adalah... *piip* #plak nooo D: bakal bosenin kalau dijadiin bayi terus, ini bakal di timeskip kok :D untuk Menma jadi jahat uhm... Lihat aja nanti xD
Akaneko SeiYu : makasih ^^ secara langsung sih ga ada pairing, cuma slight2 aja kok :) untuk dua masalah itu silahkan ke A/N ^^;
Guest (2x) + AN Narra : sudah :D
Terminator : makasih :D
KyuubiNaru : i-iya ada typo miss #orz gpp kok, makasih sudah diberitahu ^^ mereka cuma perlu sedikit berlatih lagi karena chakra kapasitas dan pengendaliannya kok :D ga perlu dari awal bener.
Guest : oke :D
Uchiha Tachi'4'Sora : aneh ya ^^; jadi, Obito disini sebut aja pakai Gentei Tsukuyomi yang dipake dia buat ngirim SakuNaru ke dunia parallel di Road to Ninja tapi digabungin sama jutsu untuk ke masa lalu (anggap saja ada) dan jadilah mereka kekirim ke masa lalu di dunia yang lain :) maaf membuat anda bingung.
Myaw : maaf, itu typo u_u; maksudnya Menma.
Infaramona : waaa mirip ya :O bukan cuma itu sih xD makanya me coba buat bikin sedikit lain dengan Tim 7 kekirim semua + ada Menma.
Mendokusai144 : DxD? O_o me malah ga tau. Ini iseng aja kok nama nicknya xD mbakSIS :D saya cewe kok. Iya itu salah (dan sbenernya pas nulis juga sering ketuker Menma sama Kurama u_u;) insya allah ga discon xD #plak
HyuNami NaruNata : makasih, ini udah update ^^
MORPH : sudah :D salam kenal ^^
Shinnaru : sudah ^^
Abi . Putraramadhan : Shisui ya... Hm, sebenernya rahasia :) nanti liat aja xD
Bhiri : huhuhu... Saya bukan Almighty yang bisa tulis sampe 6000+ setiap chapter T^T
Natsuyakiko32 : yah fikiran mereka udah 16 tahun sih, tetep tengkar deh xD fufufu.. Yang itu rahasia xD
Nagato-san : oke :)
Bewinkk : makasih x)
Yuto : hehehe ^^ makasih :D dan itu masih rahasia~
Koga-san : lepas sih kadang, tapi ntar bisa dibantu Naru kok ^^
Guest : makasih :D
Guest : makasih x')
...
"Maaf-maaf, karena anak-anak paman Fugaku tidak ada yang cukup besar untuk menemaninya—pada akhirnya beliau meminta padaku," Obito tampak tertawa menggaruk kepala belakangnya. Saat ini ia menggunakan jaket Jounninnya dengan lambang yang menunjukkan kalau ia adalah salah satu bagian dari kepolisian Konoha yang tentu memang diisi oleh orang-orang Uchiha, "tidak menyangka sudah 2 bulan berlalu—apa yang terjadi selama itu?"
"Kushina-nee melahirkan anak laki-laki, benar-benar mirip Menma-kun dengan rambut dan mata yang sama dengan Minato-sensei—" Rin menjelaskan pada Obito yang hanya mengangguk-angguk saja. Sementara Kakashi masih diam dan menatap rekan satu timnya itu, "—Kakashi, ada apa?"
"Kenapa kau menatapku seolah aku adalah Hantu huh?" Obito tampak berkacak pinggang dan menatap mata Kakashi. Masih diam, matanya tampak membulat dan itu membuat Obito tampak sedikit cemas. Kakashi bisa melihat kalau mata kiri Obito tampak berbeda dari mata kanan Obito, "oi Kakashi, kau tidak apa-apa?"
"Ceritakan," mengerutkan alisnya, Obito menatap Kakashi, "ceritakan apa yang terjadi setelah misi Iwa itu..."
...
"Hah?"
.
We Present to You—
© CrimsonRedHair & Almighty X
"The Twisted Time"
Family/Friendship
MinaKushi, NaruHina, SasuSaku.
(—Ketika semuanya menyatu dalam satu dimensi, keanehan menjadi sebuah jendela untuk masa depan yang baru.)
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
Uncontrolled Sanbi
.
"Kepalanya terbentur ya?"
Obito menunjuk kearah Kakashi yang tidak bergeming karena ejekan Obito itu. Hei, fikirannya benar-benar kacau sekarang—kematian Rin dan juga Obito yang bukan menjadi penyerang malam itu. Jadi—ia mendapatkan petunjuk nihil tentang apa yang terjadi malam itu. Tetapi, kenapa ia masih memiliki hubungan dengan mata itu?
"Setelah penyerangan Iwa, aku memberikan mata sharinganku padamu—aku sempat menghilang selama beberapa tahun, dan—" memegangi kepalanya, tampak sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Seolah tidak bisa mengingat apa yang terjadi, "ah—aku tidak bisa mengingatnya..."
"Kau lupa Kakashi, Obito sempat hilang ingatan dengan apa yang terjadi setelah peristiwa Iwa. Saat misi penyelamatan Menma-kun, kita menemukan Obito yang tergeletak di salah satu hutan dalam keadaan pingsan—" Rin tampak ragu untuk melanjutkannya. Obito yang menyadari itu tampak tersenyum lebar pada Rin.
"Tidak apa Rin, aku sudah tidak mempermasalahkannya kok!"
"Ia kehilangan mata sharingan sebelah kirinya... Obito sudah tidak memiliki mata sharingan Kakashi," Kakashi membulatkan matanya, itulah sebabnya ia bisa berhubungan dengan mata itu—orang yang menyerang Minato dan Kushina tampaknya orang yang mengambil mata Obito. Dan yang ada di fikirannya pertama kali adalah—Zetsu dan juga Madara.
"Untung saja Tsunade-sama mengobatiku, memberikanku transplantasi mata padaku—" Obito menyilangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar.
Kakashi baru mengingatnya—alasan pertama yang membuat Obito menjadi jahat adalah kematian Rin. Dengan tidak adanya kematian Rin, itu membuatnya tidak berfikir untuk menghancurkan Konoha.
...
'Apakah kau mengetahui semua ini Obito? Saat mengirimkan kami kemari—' Kakashi tampak hanya menghela nafas dan tersenyum tipis dibalik topengnya, 'apa yang sebenarnya kau inginkan...?'
...
"Benar tidak apa-apa?" Minato tampak menatap Kakashi yang ada di depannya. Hari ini, Minato akan melakukan pertemuan dengan Sunagakure, dan Kushina sudah mulai melakukan misi. Minato membawa Menma karena Kushina yang tidak mau membiarkan Menma berada bersama dengan Naruto sendirian.
"Ya, aku akan menjaganya selama kalian pergi—" Kakashi tersenyum dan menggendong Naruto yang bermain dengan mainannya. Kakashi melihat kesempatan itu untuk berbicara dengan Naruto.
"Baiklah, dua hari lagi aku akan kembali—tenang saja Naruto bukan anak yang rewel."
'Tentu saja, dia adalah Shinobi berusia 16 tahun dan dianggap terkuat di dunia Shinobi ini,' Kakashi hanya mengangguk dan masih tersenyum.
"Menma, kau sudah siap?"
"Ya!" Menma yang menggunakan jubah putih yang menutupi kaus hitamnya tampak turun dengan malas. Jubah putih itu mengingatkannya pada jubah yang ia gunakan saat musim dingin hanya ukurannya saja yang berbeda, "kenapa aku harus ikut? Aku bisa menjaga Naruto..."
"Sepertinya ini adalah hukuman dari ibumu," Minato tertawa dan menepuk kepala Menma. Menma sendiri tampak mengecup dahi Naruto sebelum melambaikan tangannya. Naruto sendiri pada akhirnya hanya mengibaskan tangannya seolah membalas lambaian tangan Menma.
BLAM!
"Oke," menoleh kekiri dan kekanan, Kakashi mencoba untuk memastikan tidak ada sama sekali orang yang melihat baik ANBU atau siapapun. Akan mencurigakan kalau mereka terlihat sedang berbicara, "tidak ada seseorangpun disini—kita bisa berbicara bukan Naruto?"
...
"Buu..."
Krik... Krik... Krik...
"Jawab saja perkataanku Naruto," Kakashi tampak menatap Naruto sambil mengerutkan alisnya. Melihat Naruto yang menggelengkan kepalanya dan menunjuk kearah mulutnya seolah mengisyaratkan kalau ia tidak bisa berbicara, "ah... Mattaku—dan pantas saja kau dan Sasuke bertengkar eh?"
Dan Naruto hanya cemberut mendengarnya.
"Oke, kalau begitu dengar saja—aku tebak kau menyadari kalau kita bukan hanya terkirim ke masa lalu," Naruto menganggukkan kepalanya. Tentu, bagaimanapun ia tidak pernah memiliki kakak saat berada di tempatnya, "dan—bukan hanya kau yang mendapatkan kejutan dengan adanya kakakmu, dan juga Rin yang merupakan mantan anggotaku yang seharusnya masih hidup, tetapi—Obito ada disini."
Mata Naruto membulat.
"Obito dalam keadaan hidup, namun tanpa mata sharingan—" Naruto mencoba untuk mendengarkan lebih jelas. Obito, tanpa mata sharingan—lalu berkeliaran seperti shinobi umumnya, "kau ingat kalau—pada awalnya alasan Obito menjadi jahat adalah karena tewasnya Rin bukan? Kukira, ia masih hidup karena Rin tidak pernah mati..."
...
'Tunggu—kalau Rin tidak pernah menjadi jinchuuriki, siapa yang—' Naruto menatap Kakashi yang tampaknya mengerti apa yang difikirkan oleh Naruto.
"Yang menjadi Jinchuuriki Sanbi, sejak penculikan itu hingga sekarang adalah—"
"Kakashi-temeee!"
"Ngomong-ngomong tentangnya—" empat persimpangan tampak terlihat di atas kepalanya. Menggendong Naruto dan berjalan kearah pintu untuk membuka pintu dan menampakkan Obito yang menggendong Sasuke, "—kenapa kau tahu aku ada disini? Dan kenapa Sasuke ada padamu?"
"Kau memang selalu mengambil misi menjaga anak sensei, setiap kali ada kesempatan saja kau selalu menemani Menma," Obito menghela nafas dan menggelengkan kepalanya sambil tertawa sinis. Naruto tertawa mendengarnya sementara Kakashi tampak menundukkan kepalanya gemetar menahan amarah, "tetapi aneh, saat aku datang ke rumah Fugaku-jii tidak memberitahukan padaku dimana posisimu."
"Para suami takut istri..." Memutar bola matanya, sementara Obito tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Kakashi, "sudahlah—kau tahu tidak, Naruto dilarang bertemu dengan Sasuke karena mereka bertengkar."
"Heee! Aku tidak tahu, kalian berdua bertengkar? Dasar kekanak-kanakan," Obito menatap Sasuke dan Naruto yang memandanginya dengan tatapan 'apa-kau-bercanda?' Dan 'lihat-siapa-yang-berbicara', "sudahlah, kita hanya tinggal menjaga mereka berdua agar tidak bertengkar. Sebentar lagi Rin akan datang menyusul."
...
"Kau masih belum mengatakan apapun pada Rin?" Kalau saja saat itu Obito tampak meminum sesuatu, sudah dipastikan ia akan tersedak mendengarnya. Menatap Kakashi dengan tatapan 'kau-bercanda-bukan' sambil menatapnya dengan wajah memerah, "kuanggap itu jawaban ya. Dasar—"
"Hei memangnya apa urusanmu!"
"Kau—Dobe, lamban tidak bergerak cepat," Kakashi tampak menatap Obito dengan tatapan kesal. Ia tidak punya perasaan spesial pada Rin, hanya menganggapnya sebagai sahabat. Bukankah lebih baik kalau ia memasangkannya dengan Obito.
"Teme!"
'Kenapa semua jadi terasa dejavu ya,' Naruto dan Sasuke hanya bisa sweatdrop mendengarnya. Bukan hanya Menma dan Itachi pasangan teme dobe yang ada di Konoha bukan? Obito dan Kakashi juga seperti itu—entah siapa lagi. Ah, Jiraiya dan Orochimaru?
"Berhentilah kalian berdua!" Suara dari belakang tampak membuat keduanya yang tampak kepalanya dipukul menoleh menemukan Rin yang mengepalkan tangannya dan mengangkatnya sejajar bahu, "Kakashi, kau tahu kalau saat itu Sasuke dan Naruto bertengkar karena Menma dan Itachi bertengkar bukan? Kalian ingin mereka berdua bertengkar lagi karena kalian sibuk sendiri?"
"Maaf..."
'Rin benar-benar mirip dengan Sakura...' Lagi-lagi pemikiran yang sama antara Sasuke dan Naruto. Rin berjalan membungkuk saat berada di depan Naruto dan Sasuke.
"Baiklah, apakah kalian lapar? Mungkin aku bisa membuatkan—"
"Jangan!" Kakashi dan Obito segera menghentikan Rin. Sementara Naruto dan Sasuke tampak bingung saat baru saja digendong oleh Rin.
"Kau ingin meracuni anak sensei dan juga anak dari Fugaku-jii?!" Obito tampak panik dan mencoba untuk menghentikan Rin. Kakashi sendiri tampak mengangguk-angguk. Rin memang ninja medis yang hebat, namun dalam hal memasak—jangan suruh dia lakukan. Rasanya akan sama seperti racun ataupun obat-obatan.
"Apa maksud kalian berdua huh?"
...
Dengan Kakashi dan Obito yang mendapatkan bejol di kepala masing-masing, Naruto hanya bisa tertawa terbahak-bahak, sementara Sasuke mencoba untuk menahan tawanya walaupun masih sedikit terdengar meluncur dari bibirnya. Oh, ternyata Kunoichi itu sangat menyeramkan.
"Aku tidak separah itu sampai tidak bisa membuat susu untuk mereka—" Rin tampak mencoba membuat susu. Hei, yang benar saja—ia menjaga bayi-bayi di Rumah Sakit Konoha! Tidak mungkin ia sampai gagal membuat susu, "oke, ini untukmu Naruto-kun! Dan ini untukmu Sasuke-kun!"
"BLEH!" Kedua balita itu tampak menjulurkan lidah, menolak susu itu. Bukan takut tidak enak, mereka sudah bosan dengan minuman itu. Naruto ingin Ramen, dan Sasuke ingin apapun selain susu dan bubur bayi.
"HAHAHA! Hei Rin, bahkan Naruto dan Sasuke tahu kalau susumu akan terasa tidak enak!" Obito tampak tertawa hingga terjatuh dari tempatnya duduk. Kakashi sendiri hanya tertawa namun tidak hingga seperti Obito. Rin menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya kearah atas.
"Uh-oh..."
...4 Bulan kemudian...
"Ia belum bisa bicara?"
"Kukira perkembangannya bahkan lebih cepat daripada bayi lainnya."
"Jangan menekan dia Blondaime, Menma!"
Suara itu tampak membuat Naruto yang tertidur, membuka matanya menemukan Menma,dan Minato yang tampak menatapnya dari atas sementara Kushina yang tampak sudah siap memukul mereka—dan itulah yang terjadi.
"Sudah kukatakan untuk tidak menatapnya seperti itu! Naruto bisa merasa tidak nyaman!" Kushina tampak siap untuk menyerang duo Namikaze yang sudah mendapatkan pukulan telak di kepalanya. Dan Naruto, hanya tertawa melihat ayah dan kakaknya, "baiklah Naruto, sebaiknya kita sarapan dulu dan meninggalkan ayahmu dan kakakmu ini..."
...
"Kaa-chan hanya tidak ingin Naruto memanggil namaku saat ia pertama kali berbicara," dan langkah Kushina tampak terhenti karena itu. Menoleh pada anak sulungnya yang tampak menyilangkan tangannya di belakang kepala, meletakkan Naruto di atas karpet kamarnya, "aku yakin kalau Naruto akan memanggil nii-sannya nanti."
"Jangan yakin dulu anak muda, tentu saja yang akan dipanggil adalah tou-sanmu ini."
"Hei, apakah kalian lupa kalau kaa-san yang selalu menemaninya saat kalian semua sibuk dengan pekerjaan kalian masing-masing?!"
Dan ketiganya tampak berdebat—Naruto hanya sweatdrop mendengarnya. Siapa yang menyangka kalau rumah akan seramai ini. Yang ia ingat, sampai 16 tahun lamanya—rumah adalah tempat paling sepi yang pernah ia rasakan. Itulah mungkin ia tidak pernah merasa kehilangan saat apartmentnya hancur ketika invasi Pain.
Oh ngomong-ngomong, sebenarnya Naruto sudah bisa berbicara satu per satu kata-kata. Hanya saja, ia mencari siapa yang harus ia panggil terlebih dahulu. Nii-san, tou-chan atau mungkin kaa-chan. Hm—ia juga bingung dan sedikit gugup. Ia tidak pernah seperti ini, karena dulu—bahkan tidak ada yang perduli apa yang ia bicarakan.
Dan sekarang—ia punya keluarga, dan mereka benar-benar senang dan menunggu 1 kata sederhana dari mulutnya.
Berguling, mencoba untuk merangkak—dan oh, tidak sesulit yang ia duga. Dan ini pertama kalinya ia bisa bergerak walaupun hanya merangkak seperti ini. Hanya Minato yang berada di posisi yang bisa melihat Naruto yang menyadarinya. Berhenti di depan kaki kakaknya, dan menarik celana panjang yang dipakainya.
Menoleh, menyadari Naruto sudah berpindah dari tempatnya.
"Apakah tadi dia—"
"Aku melihat Naruto merangkak pertama kali," Minato tampak tersenyum lebar dan mengangkat tangannya. Kushina dan Menma menatap tajam Blondaime itu. Bukan salahnya sih sampai Minato bisa melihat langkah pertama Naruto.
"Aku dapat fotonya," suara itu membuat ketiga Namikaze itu menoleh dan melihat Kakashi dengan kameranya. Untung atau tidak, Kakashi yang baru saja akan menemui Minato melihat saat Naruto merangkak. Tahu bagaimana sikap dari Minato, Kushina, dan Menma—ia memfoto Naruto saat itu.
"Kuso, aku tidak bisa melihat langkah pertama Naruto—" menggendong Naruto yang ada di depannya, Menma menatap Naruto yang tidak berhenti tersenyum lebar dengan kedua matanya membulat besar dan tampak berbinar, "ugh, ada apa dengan tatapanmu itu Naruto?"
"N—nii?" Memeluk dan membenamkan kepalanya di dada Menma. Memeluknya dengan sangat-sangat erat, "nii!"
...
"Nah! Benar kan?! Naruto memanggil namaku kaa-chan, tou-chan!" Menma menatap kedua orang tuanya yang sudah tertunduk lemas karena kalah dari anak sulung mereka itu. Kakashi sendiri hanya sweatdrop melihat Minato dan juga Kushina. Ia tersenyum, Naruto—dua kali ia melihatnya merangkak untuk pertama kalinya, dan dua kali ia mendengar kata pertama Naruto. Masa ini, dan masa lalu—di dimensi yang berbeda.
Satu dilalui dengan kesendirian, dan lihatlah—sekarang ia dikelilingi orang yang mencintainya.
Naruto menggapai-gapai Minato dan Kushina, membuat kedua orang tua itu menggendong anak berusia 5 bulan itu.
"Kaa? Too!" Menunjuk Kushina lalu Minato, tidak ingin mengecewakan keduanya karena hanya memanggil Menma. Dan rasa kecewa kedua orang tuanya langsung menghilang saat itu. Ah, senyuman Naruto benar-benar membuat mereka tidak berhenti untuk tersenyum. Kakashipun juga begitu, entah bagaimana penduduk menahan diri untuk tidak memeluk anak selucu itu saat dulu.
"Ingin kucucikan foto yang kuambil sensei?"
...2 Tahun kemudian...
"Nii-chan!"
Cerita disingkat dengan jalan pertama yang dilihat oleh Minato, dan ramen pertama bersama dengan Kushina. Lihat, bukankah itu adil? Lagipula mereka semua akan senang walaupun pada awalnya kecewa karena bukan orang pertama yang melihat apa yang dilakukan oleh Naruto.
Dan sekarang, anak berusia 2 tahun itu tampak berlari dan menabrak Menma dan memeluk kaki anak berusia 6 tahun itu. Oke, ia tahu kalau sikapnya sedikit kekanak-kanakan untuk shinobi berusia 16 tahun (atau jika dihitung sudah 18 tahun). Tetapi bahkan Kakashi tidak mempermasalahkannya. Keluarga adalah satu hal yang tidak ia miliki, jadi—ia seperti bayi yang baru lahir saat berhadapan dengan keluarga.
"Dapatkah kita bermain?"
"Boleh, tetapi kita pergi ke kantor Hokage untuk menemui tou-chan dulu oke?" Naruto hanya mengangguk. Mereka berjalan dan Naruto terus mencoba untuk mengalihkan perhatian kakaknya saat beberapa penduduk menatap tajam Menma. Ia masih tidak tahu apa yang terjadi hingga kakaknya dikatakan monster, tetapi ia tidak akan membiarkannya.
"Untuk apa kita pergi ke tempat tou-chan?"
"Memastikan kalau minggu depan nii-chan akan pergi ke akademi. Aku tidak ingin kalah dengan Itachi-teme seperti kau tidak mau kalah dengan Sasuke," Naruto harusnya mengerti, sekarang adalah saat dimana Itachi menjadi murid akademi. Dan sepertinya persaingan mereka berdua tidak pernah berhenti, "man, tetapi kalian berdua benar-benar tidak bisa berbaikan ya."
"Lihat siapa yang berbicara," Naruto tertawa dan tidak menghiraukan tatapan kesal kakaknya. Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu ruangan ayahnya, "ah, selamat pagi Rin-nee-chan!"
Rin yang tampak membawa beberapa laporan kearah ruangan Hokage tampak berhenti saat mendengar suara Naruto memanggilnya. Menoleh dan tersenyum sebelum Naruto berlari dan membuka pintu untuk membantu Rin.
"Aw, Naru-chan—terima kasih!" Naruto benar-benar tidak suka dengan nama panggilan itu dan hanya memperlihatkan wajah cemberutnya yang membuat Rin harus menahan diri untuk tidak memeluknya, "sensei, aku membawakan beberapa laporan baru dan juga beberapa misi baru yang masuk."
"Ugh, kukira laporan ini adalah yang terakhir—" membenturkan kepalanya di meja, tampak Minato yang benar-benar kelelahan. Bahkan tidak mendengar saat Rin memanggil nama anaknya dan baru sadar saat—
"Tou-chan!"
"Naruto, kenapa kau ada disini?" Minato menurunkan pulpennya untuk diberikan tatapan tajam oleh Rin. Yah, Rin lebih seperti sekertarisnya yang harus memastikan kalau Minato mengerjakan pekerjaannya.
"Menma-nii-chan ingin bertemu dengan tou-chan, setelah itu kami akan pergi ke rumah Sasuke-te—" Naruto menutup mulutnya saat senyuman ayahnya dibarengi dengan aura gelap disekelilingnya. Minato tidak pernah menyukai saat Naruto memanggil Sasuke atau siapapun dengan sebutan teme. Oke, ia menyadari kalau anaknya adalah anak yang cukup berbeda—memiliki kosa kata yang cukup banyak diusianya ke 2, "d—dan Itachi-nii!"
"Tou-san," Menma sudah berhenti memanggil Minato dengan sebutan tou-chan karena ia menganggap itu adalah panggilan yang kekanak-kanakan, "aku jadi masuk akademi ninja minggu depan bukan?"
"Sudah kesekian kalinya kau menanyakan itu. Tenang saja, tou-san tidak mungkin membatalkannya." Menghela nafas dan tertawa, Menma memang sudah tidak sabar untuk masuk ke akademi ninja, "tidak sabar untuk menjadi Hokage seperti tou-san?"
"Tidak, pekerjaan Hokage itu membosankan," menaikkan bahunya dan menggeleng, "hanya laporan-laporan, politik, pidato membosankan, dan semua yang membosankan. Lebih menyenangkan menjadi ANBU atau sannin seperti Jiraiya-ojii-san atau Tsunade baa-san."
"Cukup, itu bukan membosankan tetapi menyiksa Menma..." Menaruh tangannya di depan tubuhnya mengisyaratkan Menma untuk diam. Menma hanya tersenyum lebar dan menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala.
"Aku ingin menjadi hokage!" Mengangkat tangannya, Naruto menjadi perhatian ketiga orang disana, "aku akan menjadi Hokage yang lebih hebat dari tou-chan!"
"Naru-chan akan bisa menjadi Hokage yang lebih baik daripada tou-chan," Minato bericara dengan nada bercanda dan memeluk anak bungsunya itu. Menma tampak tertawa melihat adiknya itu. Naruto sendiri, tampak kesal karena itu. Oke, ia memang anak berusia 2 tahun, tetapi kemarin ia mencoba menggunakan Kagebunshin dan sukses membuat 2 buah.
...
'Itu bukan hal yang perlu dibanggakan Gaki,' seolah tahu apa yang difikirkan oleh Naruto, Kyuubi tampak mendengus pelan dan membuat wajah Naruto memerah, 'dua dari ribuan klon yang bisa kau buat saat di masamu? Hmph—'
'Hei, aku butuh waktu untuk pengendalian chakra furball, lagipula aku tebak Sasuke-teme belum bisa menggunakan Chidori—'
…
"Tentu saja dobe," Sasuke tampak menghela nafas dan menatap Naruto yang langsung menanyakan tentang Chidori. Entahlah, Chidori harusnya disetarakan dengan Rasengan, bukan Kagebunshin, "tetapi aku sudah bisa menggunakan sharinganku."
"HAH! Bagaimana—"
"Aku tidak bisa menggunakan Eternal Mangekyo Sharinganku, karena tubuh ini tidak pernah mendapatkan transplantasi dari mata Itachi-nii," Sasuke menghela nafas menutup matanya dan membukanya kembali. Menunjukkan sharingan Tomoe 1nya. Hah, ternyata masih sharingan awal. Sama saja dengan dua kagebunshin, "aku tahu apa yang kau fikirkan, dan sepertinya masalahmu sama denganku. Bagaimanapun chakra di tubuh kita adalah chakra anak berusia 2 tahun."
"Kurama bilang kalau aku menggunakan chakranya terlalu banyak sekaligus tanpa berlatih sebelumnya, maka aku akan merasa sakit dan tidak akan bisa menggunakan chakra selama beberapa hari," menggaruk kepala belakangnya. Sasuke cukup bingung, sifatnya saat bersama keluarganya sangat berbeda dengan sifatnya saat bersama dengannya. Tidak menyadari, kalau ia juga seperti itu, "aku hanya bisa menggunakan dua Bunshin."
"Bagaimana dengan pengendalian chakramu?"
"Huh?"
"Berjalan di batang pohon," Sasuke menunjuk sebuah pohon di rumahnya yang tampak disayat dengan kunai menandakan kalau Sasuke sudah memulai mempelajari pengendalian chakra itu.
...
"Ah, aku lupa."
...1 Bulan Kemudian...
"Nii-chan."
Menma menatap Naruto yang sedang menungguinya mengerjakan pekerjaan rumahnya. Menma tidak menyukai pelajaran sejarah (yang menurutnya membosankan), dan juga Genjutsu serta Ninjutsu. Ia suka dengan pertarungan menggunakan kunai dan juga tangan kosong—tetapi seperti Naruto, ia susah dalam pengendalian chakra.
"Ada apa Naruto?"
"Apakah tugasmu masih lama? Aku ingin melihatmu menggunakan kunai!" Naruto benar-benar kagum pada kakaknya yang sudah bisa menggunakan kunai dengan cukup baik pada usianya. Ia bahkan tidak bisa melemparkan satupun kunai tepat sasaran saat seusianya. Menma mengetuk-ngetuk penanya dan memikirkan kemungkinan dimarahi ibunya karena tidak mengerjakan pekerjaannya atau menemani adiknya bermain.
"Ayo, aku bosan mengerjakan ini! Bagaimana kalau kuajari menggunakan kunai?"
"Benarkah?!" 'Aku sudah tidak sabar mencoba untuk menggunakan kunai lagi!' Naruto benar-benar tidak sabar untuk menggunakannya. Yah meskipun kunai kayu tetapi ia tetap bisa menggunakannya dan berlatih lagi, "kalau begitu ayo!"
'Kau benar-benar berubah menjadi anak kecil...'
'Diamlah Kurama.'
...
Naruto duduk dan memperhatikan Menma yang tampak melemparkan beberapa kunai. Lima sasaran dan tiga mengenai tepat di tengah. Hah, ia ingat saat itu ia bahkan tidak bisa mengenai tengah sasaran. Ia tahu kalau Menma benar-benar kuat bahkan saat ia menggunakan sage mode ketika melawannya.
'Apakah ia akan menjadi Missing-Nin juga seperti saat itu?' Ia ingat saat Menma menghancurkan Konoha dan hampir membunuh Tsunade, 'tidak, aku tidak akan membiarkannya...'
"Hei Naruto, kau ingin mencobanya?"
"Aku boleh?"
Menma menoleh kekiri dan kekanan mencoba untuk melihat apakah ada ibunya atau ayahnya. Tidak ada, ia hanya mengangguk dan memberikan kunai kayu miliknya. Naruto tampak melihat kunai itu, sudah lama tidak merasakannya membuatnya sangat bersemangat.
"Eit!" melemparkannya, dan dengan segera mengenai bagian kanan dari titik tengah sasaran. Berdecak dalam hati, dua tahun tidak bergerak bebas membuat tubuhnya tidak bisa terlalu diajak berorganisasi, "bagaimana Menma-nii!?"
"Coba kau lakukan sekali lagi Naruto." Menma tampak sedikit terkejut melihatnya, bagaimanapun kuda-kuda dan juga aba-aba yang diberikan Naruto cukup bagus. Memberikan kunai kayu lainnya dan Naruto hanya mengangguk.
Kali ini ia mencoba untuk lebih berkonsentrasi, sebelum melemparkan kunai itu, dan kali ini tepat pada sasaran dan yang lebih penting jaraknya paling jauh dibandingkan dengan sasaran lainnya. Naruto tampak senang, dan menoleh menatap kakaknya.
"Sepertinya aku berhasil nii-chan!"
"Wow. Kau hebat Naruto—bagaimana kalau nii-chan ajarkan yang lainnya?!" Menma tampak melihat kearah Naruto yang tampak bersemangat juga, "bagaimana kalau kutunjukkan bagaimana Kawarimi dan juga yang lainnya? Yah, aku tidak begitu pandai menggunakan bunshin sih."
Naruto tampak melihat Menma dan hanya tersenyum lebar. Yah, bagaimanapun juga ia juga tidak bisa mengendalikan chakra dengan baik karena chakranya sangat besar akibat Kyuubi yang ada di tubuhnya.
'Tunggu, apakah pengendalian chakra Menma-nii ada hubungannya dengan panggilan monster untuknya dari para penduduk?'
"Kita mulai dari Kawarimi!"
'Nah tidak mungkin, Kuro Kyuubi tidak mungkin ada karena Obito tidak jahat bukan…'
…
"Kaa-chan pulang~"
Kushina yang baru saja menjalankan misi—bagaimanapun ia juga seorang Kunoichi dan seorang Jounnin bukan—membuka pintu rumahnya dan melihat keadaan rumah yang kosong. Sudah pukul 6 sore, tentu Minato belum pulang namun ia tahu kalau Menma sudah kembali dari sekolah.
"Dimana mereka berdua?"
"Kau benar-benar tidak apa-apa Menma-nii-chan?" sudah 3 jam lamanya ia berlatih dan 1 jam lamanya ia mencoba untuk membuat bunshin. Ia tidak mungkin menyuruh untuk membuat Kagebunshin karena akan mencurigakan kalau ia tahu tentang jutsu tingkat B seperti itu.
"Sedikit lagi aku bisa menggunakan bunshin biasa, hanya karena tidak bisa menggunakan bunshin dan aku sudah kalah dari Itachi," berdecak kesal, dan kembali mencoba untuk menggunakan segel tangan untuk membuat Bunshin.
"Kalian ada di halaman belakang?" Kushina menoleh kearah halaman belakang untuk menunjukkan Menma yang mencoba untuk menggunakan chakranya. Namun yang ia lihat adalah gelombang chakra berwarna biru yang menyelimuti tubuh Menma.
'GAKI!' Naruto tampak menyadarinya namun tidak bisa melakukan apapun. Ia bisa melihat dan mengenalinya—hampir sama saat Kyuubi mengendalikan tubuhnya, namun ia melihat mata Menma yang tambak berubah bentuk, seperti bentuk rinengan namun berwarna merah.
"NARUTO!" Kushina segera berlari dan mencoba memeluk Naruto dan melindunginya. Matanya tidak pernah menutup, ia bisa melihat sebuah chakra berbentuk ekor yang berduri keluar dari tubuh Menma.
'Sanbi?!' Naruto yang mendengar hal itu pada akhirnya menyadari, chakra berbentuk ekor itu dan juga warna serta bentuk mata Menma memang sangat mirip dengan Sanbi. Menma menatap kearah Kushina dan juga Naruto, tampak ekor itu terkibas dan akan mengenai mereka berdua.
Namun saat itu juga tampak cahaya kuning bergerak cepat dan membuat Naruto serta Kushina berpindah dengan cepat. Naruto bisa melihat ayahnya yang muncul begitu saja.
"Aku merasakan chakra Sanbi yang muncul tiba-tiba," dan Naruto tahu kalau apa yang ia fikirkan benar.
'Siapa yang bisa menjamin kalau monster itu tidak keluar dan menghancurkan desa?'
'Rin masih hidup karena ia tidak pernah menjadi Jinchuuriki Sanbi…'
'Yang menjadi Jinchuuriki Sanbi sejak saat itu hingga sekarang—'
'Menma-nii-chan adalah Jinchuuriki Sanbi?!' membulatkan matanya tampak sangat terkejut.
'Segelnya cukup lemah, dan jika kontrol chakranya terlepas sedikit saja Sanbi bisa mengontrol tubuhnya…' Naruto hanya meneguk ludah dan mencoba untuk meremas pakaian ayahnya. Bukan takut, ia hanya merasa tidak berguna dan tidak bisa menolong Menma.
"Kau tidak apa-apa Naruto? Jangan melihat kalau kau takut—" Minato mencoba untuk menenangkan Naruto yang tampak hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Minato menyadari kalau pipi Naruto sedikit tergores karena chakra itu. Mungkin Kushina sedikit terlambat untuk menyelamatkan Naruto tadi. Tetapi selain itu tidak apa-apa.
"Aku akan mencoba menahannya—beruntung tidak ada air didekat sini," Kushina mengulurkan tangannya dan rantai yang berujung runcing yang terbuat dari chakra tampak keluar dari telapak tangannya dan melilit kedua pergelangan tangan Menma.
Minato dengan segera bergerak dan mencoba untuk membuka pakaian Menma. Memunculkan sebuah segel yang mirip dengan segel milik Naruto, dengan chakra yang ada di kelima jarinya, ia mencoba untuk mengunci segel itu sekali lagi. Chakra biru itu segera menghilang perlahan, dan tubuh Menma begitu saja jatuh dan ditangkap oleh Minato.
"Tch—segel orang-orang Kirigakure itu hanya membuat Menma kewalahan… bahkan setelah kucoba untuk mengganti Fuin itu, membuat Fuin yang kubuat menjadi lemah," Minato hanya bisa menatap Menma yang tampak tidak sadarkan diri.
"Naruto, kau tidak apa-apa bukan?" Kushina khawatir dengan Naruto yang baru pertama kali melihat Menma kehilangan kontrol chakra. Naruto hanya bisa mengangguk dan tubuhnya masih gemetar. Ia hanya mengingat bagaimana tubuhnya saat Kyuubi mengontrol tubuhnya dulu.
'Kau benar-benar tidak apa-apa Gaki?'
'Y—ya, aku tidak apa-apa Kurama…' tampak mencoba untuk mengontrol nafasnya dan juga menghentikan tubuhnya yang gemetar, Naruto turun dari pelukan ibunya dan menghampiri ayahnya dan kakaknya.
"Tou-chan, apakah nii-chan tidak apa-apa?" Naruto memegang lengan pakaian ayahnya dan menatap Menma dari belakang punggung Minato. Itu sakit, sungguh—saat chakra Biju masuk kedalam tubuh mereka dan mengendalikan tubuh mereka tanpa bisa dikendalikan.
"Ya, ia hanya butuh istirahat saja. Bagaimana dengan lukamu?" Naruto hanya menggelengkan kepalanya dan masih menoleh kearah Menma. Shukaku dan Kyuubi hanya dua Biju yang ia kenal dengan baik bagaimana saat chakra itu lepas kendali. Bee sudah bisa mengontrol Hachibi sejak ia mengenalnya.
"Sebaiknya kita bawa Menma ke kamarnya…"
…
Yang dirasakan oleh Menma saat itu hanyalah matanya yang panas seolah terbakar, begitu juga dengan tubuhnya. Semuanya menjadi merah, dan ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Ia takut, tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Ugh…" membuka matanya, tidak merasakan lagi rasa sakit di mata dan juga tubuhnya. Satu hal yang ia lihat saat itu adalah Naruto yang tampak menatapnya dengan tatapan khawatir. Ah ada ayah dan juga ibunya yang juga menatapnya.
"Nii-chan, kau tidak apa-apa?!"
"Ugh, Naruto…" Menma mencoba untuk bangun dan memegang kepalanya yang terasa pusing. Minato mencoba untuk membantunya duduk, "apa yang terjadi?"
…
Menma tahu arti tatapan ayah dan ibunya saat itu. Ia sudah mengerti sejak pertama kali ia diculik oleh orang-orang Kirigakure itu saat usianya 3 tahun, kalau ada sesuatu yang ada di dalam tubuhnya.
"Lagi?" menoleh pada pipi Naruto yang masih memiliki bekas luka karena serangan Sanbi itu, walaupun sudah tertutup karena Kyuubi menyembuhkannya, "tidak…"
"Menma-nii, kau tidak apa-apa?" Naruto akan menyentuh Menma untuk melihat apakah ia tidak apa-apa.
PLAK!
Baik Naruto, Minato, ataupun Kushina tampak terkejut melihat Menma yang menepis tangan Naruto dan tampak membulatkan matanya. Tubuhnya tampak gemetar, mengepalkan tangannya dan tampak menggigit bibir bawahnya.
"Ke—keluar…"
"Eh?"
"A—aku bilang KELUAR!" Menma membenamkan tubuhnya didalam selimut dan mencoba untuk tidak melakukan kontak mata sama sekali dengan Naruto, Minato, ataupun Kushina. Naruto tampak cemas namun Minato hanya menghela nafas dan menggendong Naruto keluar dari kamar itu.
'Aku tidak tahu—apa yang akan kulakukan setelah ini? Aku bisa membunuh Naruto…'
…
"Kau mengerti bukan Menma. Aku tidak ingin mengatakan ini karena kau masih terlalu kecil—tetapi, aku harus melakukannya karena ini menyangkut semua orang di desa…"
Minato tampak menghela nafas dan sebenarnya tidak ingin mengatakan ini pada anak berusia 3 tahun saat itu. Menma hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apapun. Satu minggu sudah semenjak ia diculik oleh Kirigakure, ia tahu ada yang berbeda dari tubuhnya.
"Tou-chan akan mencoba untuk mencari cara agar segel yang dibuat oleh orang-orang Kirigakure itu menghilang dan tou-chan akan menggunakan Hakke Fuin untuk mengunci kembali Sanbi," ayahnya mengatakan kalau Sanbi terlepas dari tubuhnya itu akan membuatnya dalam bahaya dan ayahnya terpaksa menguncinya kembali, "apakah kau tidak apa-apa?"
Menma hanya mengangguk dan membenamkan kepalanya.
"Aku hanya tidak ingin—melukai orang lain, terutama tou-chan dan kaa-chan…"
…
'Aku tidak bisa melindunginya…' menutup matanya, masih membenamkan tubuhnya dibalik selimut, 'aku hanya akan membuatnya terluka…'
To be Continue
Hm, sedikit membosankan? No action :p
Kalau me fikir2 sifat Menma OOC ya :( tapi Menma jahat karena Tobi, jadi kalau Menma ga dikendaliin dia (mungkin) baik. Dan me ambil perubahan Sanbi adalah Chakra biru yang menyelimuti Menma (seperti chakra merah Kyuubi) dan mata Menma berubah jadi kaya Sanbi (lihat aja di google, mirip sama Rinengan kok xD)
Dan untuk guru Jounnin awalnya pengen Hizashi atau Kushina karena Hiashi kan ketua klan, Shikaku Jounnin Commander, dan Inoichi itu kalau ga salah ketua T&I kan?
Jadi... Eng ing eng :D me ambil Obito Uchiha xD
Dan BTW untuk tim ketiganya me juga bingung :( apa harus masukin OC?
Ah sudah segini aja deh xD mungkin me masukin OC selingan aja buat tim ketiganya x).
Oke minna Mind to Review? Review anda adalah semangat saya untuk menulis :D
