a/n: Author kembali~ Terima kasih yang sudah review^^ Yang fav dan follow juga terima kasihh! Maaf updatenya lama ya, karena author baru bisa on lagi^^. Lalu Author ingin minta maaf karena kali ini author tidak bisa membalas review T^T. Berhubung waktu libur dari sekolah author sudah habiss T^T, jadi waktu untuk mengedit dan membuat fic ini juga sedikit terpengaruh T^T. Curhat, author ingin libur satu minggu lagi TT_TT. Ada yang masih libur? Kalau begitu Anda beruntung T^T. Cukup sekian ya, maaf author tidak bisa berkata banyak-banyak karena sedang galau, liburnya sedikit T^T.
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Out On A Limb*~
[Kazune POV]
Riiiiing! Riiiiiing! Riiiiiiing!
Bel sekolah nyaring menandakan waktunya untuk pulang. Aku bergegas merapikan mejaku dan memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Bukan hal biasa untukku membereskan meja dengan lama dan rapi. Tapi hari ini pengecualian, karena moodku sedang bagus sekali!
"Kazune, aku tahu kau sedang senang, tapi bisakah kau tidak senyum-senyum sendiri seperti itu?" tanya Jin yang sudah selesai membereskan barang-barangnya sejak beberapa menit yang lalu. Dengan sekejap senyumanku hilang dan berganti dengan tatapan kesal yang aku berikan untuknya. Sudah tahu bila aku sedang senang, masih saja menggodaku.
"Kau ingin menghancurkan moodku yang sedang bagus ini?" tanyaku masih dengan memasang tatapan siletku. Tapi wajah seriusku ini malah mengundang tawa bagi mereka. Jin, Michi, dan Yuuki memalingkan wajah mereka sembari menutup mulut rapat-rapat karena takut tidak dapat menahan tawa mereka.
"Ck, terserah." Ujarku sembari berjalan keluar kelas dengan tas yang aku jinjing. Aku tidak peduli mereka mau mengikutiku atau tidak, yang penting hari ini aku merasakan puasnya setelah memberi pelajaran terhadap ketua pembully itu.
"Kazune!" namaku dipanggil oleh gadis yang sangat aku kenal dari arah depanku. Himeka berlari di koridor menghampiriku yang baru keluar kelas. Sepertinya ia sedang tergesa-gesa, bisa aku katakan dari keringat yang bercucuran dari pelipisnya itu.
"Himeka? Bukannya kau pulang bersama temanmu?" tanyaku heran. Jarang sekali aku melihat Himeka yang panik seperti itu.
"Haahh.. hahh.. A-Ada yang harus kau tahu!" seru Himeka tiba-tiba.
"Maksudmu?" tanyaku balik kepadanya. Himeka berhenti sejenak sebelum meneruskan kalimatnya, ia juga mengeluarkan sesuatu dari tasnya berupa selembaran kertas, dan ia memperlihatkannya kepadaku.
"Ini tugas kelompok dari Sensei! Dan kita harus berkelompok dengan kelas sebelah!" seru Himeka lagi-lagi dengan histeris. Aku memperhatikan kertas selembaran yang berisi tugasnya dan pasangan-pasangan kelas berkelompok itu. Tertera di atas kertas itu tulisan besar, "Birthday Party".
Aku terbengong melihat judul dari tugas kelompok itu. Apa aku tidak salah lihat? Birthday party?
"Jadi.. Tugas kita adalah..?" tanyaku meminta penjelasan dari Himeka. Himeka menunjuk kepada tulisan tugas pada kertas itu dan mendengus kesal.
"Ini Kazune. Kau lihat bukan tulisannya? 'Tugas'!" seru Himeka sedikit kesal. Aku terkekeh karena kepintaranku. Lantas aku kembali membaca kertas itu dan sekarang... aku malah menyesal telah membacanya.
"Membuat kue?! Yang benar saja! Aku tidak bisa membuat kue sama sekali!" seruku histeris. Himeka mengangguk membenarkan perkataanku itu dan setelah selesai memberitahu kabar buruk itu kepadaku, ia memasukkan kembali kertasnya ke dalam tas.
"Masalah kedua adalah para pembully ada di kelas sebe—"
BRUGH!
"O-Ouch!" suara tumbukan di belakangku mengalihkan perhatian kami berdua. Aku melirik apa yang terjadi di belakangku dan ternyata Jin bertabrakan dengan seorang gadis yang ciri-cirinya mirip dengan.. Karin Hanazono?!
"O-ow.. Maaf aku tidak melihat jalan—" sebelum Jin menyelesaikan kalimatnya. Sosok ketua pembully itu pun segera pergi berlari meninggalkan kami.
Drap drap drap drap drap!...
Dan ketua pembully itu tidak mengucapkan sepatah kata apapun setelah menabrak Jin yang tersungkur ke lantai. Meninggalkan kami yang terbengong menatap sosoknya dari belakang.
"..."
"..."
"... Itu.. Ketua pembully, bukan?"
.
.
.
[Karin POV]
Dengan sedikit menggusur kakiku yang terasa sedikit nyeri, aku memaksakan diri untuk bekerja. Setelah kejadian tadi siang, aku dituntun oleh Kazusa ke ruang UKS dan untung sekali saat itu tidak ada guru yang menjaga. Bila aku ketahuan terluka karena para berandal itu, pasti masalah akan panjang... Lalu sepulang sekolah aku langsung pergi dengan mengendap-endap dari UKS dan berlari agar tidak ada yang memperhatikan luka-lukaku. Hasilnya aku malah menabrak salah satu anggota berandal -_-.
Hah, cukup dengan masalah tadi siang. Kali ini aku sedang bekerja di toko bernama The Gift, tempat dimana orang-orang menemukan barang-barang yang akan dijadikan hadiah ataupun souvenir untuk dibawa pulang dari daerah bernama XQ ini. Aku bekerja sebagai pelayan yang melayani pengunjungnya, misal ingin membeli suatu barang aku akan menunjukkan tempatnya. Tetapi hari ini pengecualian, aku mendapat keringanan untuk bekerja di kasir. Sebenarnya tidak masalah bila aku melakukan pekerjaan biasaku, tetapi...
(Flashback)
Dengan gontai aku masuk ke toko bernama The Gift dan menarik perhatian manajer toko ini yang sedang membereskan sesuatu di kasir. Sebagai pekerja di toko ini aku datang lebih awal daripada yang lain karena aku tidak ingin terlambat dan.. aku tidak ingin bertemu dengan pekerja yang lain saat kondisiku babak belur seperti ini.
Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi, karena sang manajer yang sangat rajin datang pagi sekali itu langsung terkejut melihatku masuk dengan baju sedikit kotor dan luka-luka yang tampak di tangan maupun kakiku.
"K-Karin?! Kenapa kau terlihat sangat... kacau?!"
"A-Ano.. Aku terjatuh di sekolah, hehe," jawabku dengan diselipi tawa garing.
Sebelum aku pergi ke sini, aku menabrak salah satu anggota berandalan. Aku tidak berbohong, bukan?
"Jatuh? Tapi... Ah, yasudahlah. Lebih baik sekarang aku obati dahulu luka-lukamu itu." Ujar wanita cantik yang bernama Nia itu kepadaku. Aku merasa tidak enak karena memang aku tidak terlalu banyak bericara di tempat kerja ini dan aku tidak terlalu dekat dengan manajer yang mempunyai sifat.. sedikit unik ini.
"T-tidak perlu, manajer. Aku akan mengobatinya sendi—"
"Tidak, tidak. Aku akan mengobatimu dan hari ini kau juga akan menjaga kasir, mengerti?" tanya Nia dengan nada sedikit memaksa. Meskipun begitu, aku masih merasa tidak enak kepadanya karena bagian kasir merupakan pekerjaan bagian Nia.
"Tapi manajer—"
"Karin.. Kau mengerti perkataanku sebelumnya, bukan?"
"..."
Wajahnya seram!
"I-Iya manajer!"
(End of Flashback)
.
.
.
"Haa." Mengingat uniknya sifat memaksa milik Nia itu membuatku menghela napas. Tapi, aku senang karena ternyata masih ada yang perhatian denganku. Meskipun ia bukan orang yang dekat denganku, tetapi kebaikannya itu membuatku nyaman.
"Haaa..." eh, tunggu. Itu bukan helaan napasku. Suara itu berasal dari sampingku dan sosok seseorang yang baru saja aku pikirkan tadi.
"M-manajer? Ada apa?" tanyaku pada sang manajer yang memasang wajah lesu. Dengan menopang dagunya ia berdiri di sampingku dan menghela napas lagi.
"Sebenarnya hari ini aku harus mengambil pesananku di butik, tetapi karena jadwalku sangat padat aku tidak bisa mengambilnya. Haah, padahal aku ingin mencobanya pakaian yang aku pesan itu sebelum lusa dipakai..." ujar Nia dengan lemas. Sepertinya manajer cantik ini akan menghadiri suatu acara. Karena sejak beberapa hari yang lalu ia terus membicarakan tentang gaun, lalu aksesoris, dan hal lainnya tentang pakaian.
"Um, memang butik itu dimana?" tanyaku penasaran. Mungkin aku bisa membantu bila butik itu tidak terlalu jauh?
"Tidak jauh. Kau tahu lapangan yang dekat gedung tua? Di depan lapangan itu hanya ada satu butik dan butik itu langgananku." Nia memainkan tangannya dengan mengetuk-ngetukkan kuku panjangnya itu ke meja kasir. Terlihat sekali bahwa ia sedang murung. Tapi, sifatnya itu seperti anak kecil, membuatku ingin tertawa.
"Hihihi, kalau begitu aku bisa mengambilkannya untukmu. Lagi pula jam kerjaku sudah habis," celotehku membuat manajerku itu tersentak. Memang sekarang sudah pukul 7 malam dan jam kerjaku habis setengah jam yang lalu, tapi karena Nia belum bicara apa-apa tentang aku boleh pulang atau tidak, maka aku menunggu saja di sini.
"E-EH?! Kau mau?!" tanyanya setengah terkejut. Mungkin ia pikir aku hanya beranda?
"Iya. Aku akan kembali lagi ke sini sebelum pulang. Jadi, apa yang harus aku katakan saat aku sampai di sana?" tanyaku langsung agar Nia tidak terus bertanya apakah aku yakin ingin membantunya atau tidak.
"Uwaa~! Kau itu baik hati sekali! Baiklah, saat kau sampai di sana katakan saja, kau ingin mengambil pesanan Nia, orang-orang di sana sudah tahu dengan namaku jadi tenang saja~" ujarnya sembari sedikit melompat ceria. Wajahnya yang tadi begitu lesu kini berubah drastis menjadi cerah dan berbintang-bintang.
"Haha, baiklah. Aku pergi sekarang ya!" dengan segera aku menuju ruang khusus pekerja. Setelah membereskan barang-barangku aku mengganti pakaianku dengan seragam sekolah dan memakai jaket yang aku bawa setiap waktu kerja. Jaket itu bukan karena dingin, tetapi karena aku memakai seragam sekolah dan shift kerjaku berakhir pada malam hari, jadi mana mungkin aku memakai seragam sekolah di malam hari, seorang diri, berjalan ke rumah? Aku yakin aku tidak akan pulang bila aku tidak membawa jaket, karena aku tidak yakin dengan keselamatanku sendiri -_-.
"Yosh.. Sekerang pergi." Aku keluar dari pintu belakang toko dan segera berjalan memasuki keramaian pejalan kaki yang berada di pinggir jalan raya, tidak lupa aku menutup kepalaku dengan hoodie jaketku.
Dengan pelan aku melangkahkan kaki-kakiku. Selain karena kakiku masih sakit, aku jarang memperhatikan jalanan yang penuh dengan cahaya lampu indah saat pulang, maka dari itu aku sedikit menikmati jalan kaki ini.
Dugh!
Klang!
Suara kaleng minuman jatuh terdengar setelah aku menabrak seseorang di hadapanku. Aku segera melihat orang yang aku tabrak itu dan berniat untuk meminta maaf, tetapi sebelum itu terjadi, jaketku ditarik dengan kasar oleh orang bertubuh besar dan bisa dibilang.. dia adalah berandalan kota.
"Apa kau tidak lihat jalan, hah?! Kau sudah menumpahkan minumanku!" sentaknya di mukaku. Lalu ia mendorongku kembali dengan keras dan melepaskan jaketku yang ia tarik. Tapi karena kakiku yang sedikit nyeri saat menahan dorongannya, keseimbanganku goyah dan aku hampir jatuh!
"K-Kya!"
Bump!
Keberuntungan berpihak kepadaku. Seseorang yang berada di belakangku menahan tubuhku yang hampir jatuh dan ia membantuku untuk berdiri kembali.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang menolongku itu. Sejenak aku berpikir, aku rasa pernah mendengar suara berat itu. Tapi dimana?
"Hey kau! Cepat gantikan minumanku!" seru berandalan yang berada di hadapanku itu dengan kasar. Aku kembali teringatkan dengannya dan segera mencari uang di saku jaketku.
"M-maaf, aku akan—"
"Biar aku yang menggantikannya. Kau hanya ingin minumanmu kembali bukan?" ujar pemuda yang menolongku itu dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada berandalan itu. Tetapi setelah beberapa detik berandalan itu menghitung jumlah uangnya, ia semakin geram dan siap untuk menyentak pemuda yang berdiri di depanku ini.
"KAU—"
Wush! Bugh!
"E-Eh!" aku terkejut saat pemuda itu tiba-tiba memukul berandalan seram itu. Lantas dengan santai pemuda itu mendekat kepada berandalan itu dan berbisik..
"Itu untuk balasan karena kau kasar pada gadis itu.."
Dengan satu kalimat itu, sang berandalan pergi tanpa berbuat ulah lagi, dan meninggalkan aku disini dengan pemuda yang menolongku. Aku benar-benar tertolong olehnya, mungkin bila pemuda ini tidak datang... aku akan babak belur seperti dibully oleh para pembully.
"Um, terima kasih sudah menolongku." Ujarku sembari sedikit membungkuk. Orang itu terkekeh dan melambaikan tangannya di depanku. Sesaat aku kembali melihat orang itu.. saat itu juga dunia seakan berhenti.
'T-Tunggu, berambut blonde pirang, mata safir biru, .. KAZUNE KUJYO?! Kenapa dia ada di sini?!'
"Tidak usah berterima kasih. Mereka memang pantas diberi hukuman. Kau sendiri tidak apa-apa?" tanyanya sembari melihat ke tanganku yang memang ada beberapa luka bekas tadi siang. Panik karena tahu bila yang berada di hadapanku ini adalah ketua berandal sekolah, aku langsung menyembunyikan tanganku ke belakang dan mengalihkan pandanganku kepada arah lain, berharap agar ia tidak mengenaliku.
"U-Uh, aku tidak apa-apa. K-Kalau begitu terima kasih lagi! Aku harus pergi!" ujarku sembari mulai berjalan meninggalkannya. Lagi-lagi baru saja beberapa langkah, tangan ketua berandal itu menarik tanganku dan membuat jantungku seakan lepas.
"Tunggu!" serunya. Aku terdiam tanpa melihat ke arahnya. Gawat! Apa mungkin ia mengenaliku?! Pikirku tidak karuan.
"I-Ini, aku kira kau membutuhkannya." Ujarnya membuatku bingung. Lantas aku melihat kepada sosok Kazune yang bersikap lembut itu dan ternyata ia menawarkan dua buah plester. Aku semakin bingung dengan kelakukannya itu.
"Tanganmu terluka bukan?" tanyanya dengan senyum para idol bertebaran.
Blush!
Memang aku manusia biasa. Melihat wajahnya yang tampan seperti itu dan senyumannya membuatku sedikit meleleh. Lalu ia menempelkan satu plester itu di punggung tanganku dan menyerahkan yang satunya lagi kepadaku.
"Simpan ini, kau lebih membutuhkannya daripada aku." Ujarnya kembali dengan senyum dan setelah itu ia pergi meninggalkanku di keramaian jalan seorang diri, menatap sosoknya yang hilang di telan ratusan orang di depan sana.
.
.
.
Skip time
[Kazune POV]
Hari esok tiba dan sekarang sudah jam pulang sekolah lagi. Aku yang berada satu kelas dengan anggotaku bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat bersama Himeka. Katanya sepupuku itu ingin diantar untuk membeli hadiah ulangtahun wali kelas kami, kebetulan sekali wali kelas kami itu masih berkuliah dan dia seorang laki-laki. Maka dari itu Himeka ingin dibantu memilih hadiahnya oleh kami.
"Himeka~ Jadi kemana kita akan pergi sekarang~?" tanya Michi dengan penasaran. Aku pun mendengarkan baik-baik awal pembicaraan itu.
"Tempatnya agak jauh sih, tapi apa benar kalian mempunyai waktu untuk menemaniku?" tanya Himeka sedikit merasa tidak enak. Aku dengan cepat menjawabnya dengan sebuah senyuman.
"Tentu saja! Lagi pula moodku sejak kemarin sedang bagus! Haha!" aku terkikik kecil menahan tawa. Jin, Michi, dan Yuuki pun hanya tersenyum masam mendengarku berbicara seperti itu, sedangkan Himeka malah terdiam bingung. Hanya anggotakulah yang mengetahui apa maksud dari perkataanku itu. Himeka tidak aku beritahu sama sekali tentang kejadian kemarin di atap karena mungkin ia akan marah lagi kepadaku seperti saat aku menampar ketua pembully itu.
"Hmm, yasudah lah. Ayo, aku tidak ingin pulang terlalu sore karena harus mengerjakan tugas!" Seru Himeka tidak terlalu memikirkan tingkah anehku dan yang lainnya. Lantas Himeka pergi keluar kelas dengan aku, Yuuki, Jin, dan Michi yang mengikutinya.
Baru saja keluar kelas, aku merasakan aura yang berbeda dari kelas sebelah, kelas para pembully. Tepat di depan pintu kelas para pembully aku berhenti dahulu dan melihat keadaan kelas, tetapi aku tidak melihat tanda-tanda para pembully sama sekali, dan aku hanya melihat wajah cerah dari penghuni kelas sebelah ini.
"Wow, sepertinya keadaan kelas ini berubah total karena ulahmu, Kazune." Ujar Jin yang ikut menengok kelas tetangga kami ini. Aku mengangguk setuju dan tersenyum kemenangan. Aku benar-benar merasa lega karena telah berbuat sesuatu kepada sang ketua pembully itu.
"Yap, aku tidak menyesal karena telah membuat Hanazono Karin jera..."
.
.
.
[Himeka POV]
Langit mulai menampakkan awan mendung dan kami masih dalam perjalanan ke daerah XQ yang terkenal dengan kota serba ada. Aku memilih tempat itu karena salah satu temanku berkata bahwa di tempat itu banyak sekali barang yang bagus untuk dijadikan hadiah, tetapi baru-baru ini berandalan kota sedang menguasai wilayah itu. Dan karena itulah aku membawa mereka bersamaku.
"Haahh, aku mulai bosan menaiki kereta..." ujar Yuuki yang duduk di dekat jendela di seberang aku dan Kazune. Aku yang duduk di hadapannya bersama Kazune di sampingku hanya dapat menghela napas juga. Toh, aku mengerti bila mereka sering menggunakan motornya untuk pergi kesana kemari, tetapi sekali-kali 'kan mereka harus menghemat bahan bakar, dan menggunakan kereta.
"Sebentar lagi kita sampai, jadi bertahanlah," ujar Kazune membantuku menangani anggotanya yang memang senang malas-malasan. Sedangkan Michi masih asik dengan koran yang sedang berada di tangannya. Meskipun mereka berandalan ternyata masih mempunyai ketertarikan dengan koran ya?
Drrrt drrrt! Drrrt drrrrt!
Aku mendengar suara getaran dari sampingku dan ternyata itu adalah ponsel milik Kazune. Ia mengambil ponselnya lalu menekan sesuatu di layar sentuhnya itu. Awalnya ia melihat layar sentuh dari smartphone miliknya itu dengan biasa, tetapi pada saat tertentu aku melihat matanya sedikit terkejut, dan aku mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu dengan pesan yang ia dapat.
"Kazune?" aku panggil namanya dengan terselip nada kekhawatiran. Toh, tidak mungkin kan bila aku tidak khawatir saat melihat wajah dari ketua berandal sekolah yang menjadi pucat setelah melihat ponselnya?
"U-uhh, tidak ada apa-apa Himeka, hanya pesan dari operator." Jawabnya gugup dengan kebohongan tingkat anak SD. Operator? Yang benar saja? Mana mungkin pesan dari operator sampai membuat ketua berandal terkejut? Ck. Dasar, dia itu tidak pandai berbohong.
Tapi aku tidak akan menekannya agar ia memberitahuku isi pesan itu. Aku rasa, bila ia ingin mengatakannya pasti ia akan mengatakannya sendiri. Dan mungkin saja itu bukan hal penting?
"Wuhu! Sampai! Ayo Himeka!" seru Michi dan Yuuki yang benar-benar terlihat gembira. Aku tersadarkan dari lamunanku dan melihat ke luar jendela kereta, ramai sekali, pikirku. Kemudian kami keluar dari kereta memasuki keramaian yang tadi aku lihat dari jendela kereta dan aku memulai pencarian hadiah untuk wali kelasku itu dengan melihat-lihat toko ke sekitar stasiun dahulu, mungkin saja aku tidak perlu pergi jauh-jauh untuk mencari hadiahnya.
"Jadi, menurut kalian apa yang harus aku beli?" tanyaku pada sekelompok pemuda yang tengah menilik-nilik toko di sepanjang jalan yang sedang kami lewati.
"Um, bagaimana dengan toko yang itu? Nama tokonya saja 'The Gift', pasti banyak macam-macam hadiah di sana!" seru Yuuki menunjuk salah satu toko yang terlihat mempunyai banyak pengunjungnya. Aku setuju dan mengangguk mengiyakan. Lantas kami segera menghampiri toko tersebut dan masuk dengan disambut suara bel dari atas pintu toko itu.
Kling kling!
Waw, benar yang dikatakan Yuuki, berbagai macam hadiah sudah terlihat dari awal masuk toko ini, pikirku. Aku melangkahkan kakiku menuju beberapa barang souvenir untuk melihat-lihat, tapi...
"EHHH! Itu kan adik kelas yang kemarinn!"
Jeritan Yuuki membuatku mengalihkan pandanganku kepadanya yang sedang menunjuk ke kasir toko ini dan aku pun melihat sosok gadis dengan seragam sekolah kami sedang berbicara dengan penunggu kasir itu. Aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan, tapi sepertinya gadis itu kenalan mereka.
"Siapa itu? Kenalan kalian?" tanyaku bingung.
"Ya, bisa dibilang begitu. Sepertinya aku harus menyapanya, kau lihat-lihat saja dahulu, nanti aku menyusul," ujar Kazune. Aku mengangguk saja menurutinya dan kembali ke tujuan utamaku di toko ini.
.
.
[Kazune POV]
Adik kelas itu terlihat sedang berbincang-bincang dengan penunggu kasir di toko ini, aku pikir aku akan menyapanya juga bersama Yuuki, Michi, dan Jin, tetapi sekilas aku melihat penunggu kasir itu mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan Hanazono Karin, ketua pembully di sekolah.
"Hey," panggilku pada adik kelas itu yang langsung menengokkan kepalanya kepadaku. Ia tersentak dengan panggilanku dan matanya yang membulat besar itu tidak dapat membohongi kami bahwa ia tengah terkejut melihat kedatangan kami di sini.
"S-Senpai!" ia tergagap menjawabku dan yang membuatku heran, penunggu kasir itu bergegas pergi saat kami datang.
"Hai, kebetulan sekali bertemu denganmu di tempat ini," ujarku dengan bersahabat. Adik kelas itu masih terlihat canggung dan ia semakin gugup saat aku mulai mendekatinya.
"A-Ah, iya. A-Aku sedang mencari b-barang, b-bukan berbicara dengan orang lain, h-hahaha." Ia tertawa paksa dan juga tanpa menatap kami. Aku menyadari tingkahnya yang aneh itu. Tidak hanya aku, Jin, Michi, dan Yuuki pun melihat kejanggalan dalam sikapnya. Toh, kami tidak menanyakan sedang apa dirinya disini bukan?
"Hm, baiklah. Tapi kami tidak menanyakan sedang apa kau di sini. Kami hanya ingin menyapamu yang sedang berbincang-bincang dengan penunggu kasir tadi." Ujar Jin menekankan pada kalimat akhirnya. Adik kelas itu terlihat semakin terpojokkan. Ia semakin gugup dan ia mulai bertingkah aneh seperti melihat kesana kemari tanpa alasan.
"A-Ah b-bukan begitu, d-dia hanya kenalan saja," ujarnya dengan keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Wajahnya yang seperti sedang diinterogasi itu membuatku tidak dapat menahan tawa! Lucu sekali! AHAHAHA. Ups. Kami tidak bermaksud untuk menjahilinya, tetapi.. dia memang lucu! Hahahaha.
"Hahahaha! Tenang saja, kami hanya bercanda~" dengan nada yang.. ugh, aku tidak suka, Michi menggoda adik kelas itu.
Tapi saat ia mengetahui bahwa kami hanya bercanda, ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi lega dan ia menghela napasnya yang sepertinya sudah ia tahan dari beberapa menit yang lalu.
"Haah, Senpai, dia bukan siapa-siapa, aku hanya berteman dengannya," jawab adik kelas itu dengan lesu. Aku hanya terdiam menahan senyum jahilku sedangkan yang lainnya terus menggoda adik kelas itu.
Drrrt drrrtt! Drrrtt drrrtt!
Lagi-lagi ponselku bergetar. Firasatku memberitahu bahwa pesan yang masuk itu pasti kelanjutan dari pesan yang sebelumnya aku dapat saat di kereta. Ya, pesan yang menggangguku.
Dengan segera aku mengambil ponselku dan melihat pesan dari nomor yang sama. Tidak salah lagi, pikirku.
Pip!
BILA KAU TIDAK DATANG DALAM 5 MENIT, TEMANMU INI AKAN MENDERITA DI TANGAN KAMI!
KH.
Genggamanku pada ponsel tidak bersalah ini semakin keras saat melihat akhir dari pesan itu. Gadis itu benar-benar menjengkelkan. Aku sudah menerima dua pesan dari KH, alias Karin Hanazono, yang isinya menyuruhku datang ke gedung tua di daerah XQ ini. Mereka sepertinya ingin membalas dendam kepadaku karena telah menyakitinya tadi siang. Tetapi lagi-lagi mereka mengancam dengan murid sekolah kami?!
"Ck! Jin, Michi, Yuuki, aku pergi sebentar! Jangan mengikutiku, kalian bersama Himeka saja!" Ujarku sembari bergegas keluar dari toko tanpa menghiraukan panggilan mereka dan wajah bingung mereka.
Dari toko ini aku tidak tahu harus pergi ke arah mana untuk menuju gedung tua yang ia maksud. Kalau tidak salah kemarin malam aku melewati gedung tua itu, tetapi aku lupa dimana tempatnya. Tapi aku rasa tempatnya tidak akan jauh, aku hanya harus pergi ke tempat yang agak luas untuk melihat bangunan yang tinggi dan sudah tua itu. Dan ternyata aku benar, aku bisa melihat gedung tua itu dari lapangan yang tidak jauh dari toko tempat Himeka dan yang lainnya berada.
"Baiklah. Saatnya aku memberi mereka pelajaran yang kedua!"
.
.
[Karin POV]
"Hufft hufft!" jantungku rasanya akan meledak setelah mengetahui para berandal sekolah memasuki toko tempat aku bekerja paruh waktu. Sekarang aku sudah kembali ke ruang pegawai lagi dan mengatur napasku yang tidak beraturan karena terkejut tadi.
Jadi, hari ini adalah hari ke-tidak-beruntunganku. Mulai dari Kazusa tidak henti-hentinya mengkhawatirkanku sebagai korban para pembully yang asli dan sampai ia pergi ke tempat aku bekerja untuk melihat keadaanku setelah babak belur karena gadis-gadis suruhan Kazune, dan sekarang orang-orang itu datang ke toko ini!
"Haah, aku bisa stres bila kejadian 'kebetulan' ini terus terjadi..." ujarku berbicara sendiri.
"Karin, bagaimana keadaanmu?" tanya seorang wanita anggun yang merupakan manajer toko ini. Aku tersenyum simpul padanya karena tidak ingin membuatnya khawatir lagi setelah melihatku datang ke toko dengan luka-luka kemarin.
"Aku baik-baik saja, terima kasih telah mengobati luka-lukaku," ujarku menjawabnya.
Setelah mendengar jawabanku, sejenak ia memperhatikanku dalam diam, lalu setelah itu ia menghela napasnya dan memegang kedua pundakku.
"Baiklah. Aku akan mengizinkanmu pulang cepat hari ini. Jadi beristirahatlah ya." Ujarnya memberiku senyum simpul yang membuatku ikut tersenyum. Kehangatan senyumannya menjalar ke seluruh tubuhku dan membuatku sedikit tenang. Lantas setelah itu manajer kembali ke dalam toko untuk melayani pelanggan yang mulai menumpuk.
Aku bersyukur mempunyai atasan yang begitu baik kepadaku. Untung saja aku melamar ke toko ini.
Drrt drrrt! Drrt drrt! Drrrt drrrt! Drrrtt drrttt!
Ponselku terus bergetar saat aku baru saja akan bergganti pakaian. Aku lihat ternyata ada yang menelponku dan nama yang keluar di layar ponselku itu membuat sekujur tubuhku membeku.
RIKA.
'R-Rika?!'
Tubuhku sedikit bergetar hanya dengan membayangkan apa yang akan terjadi saat aku mengangkat telpon itu, tetapi aku berusaha meyakinkan diriku untuk mengangkatnya sebelum aku dimarahi olehnya.
Pip
-Karin, cepat datang ke gedung tua. Aku mempunyai tugas baru untukmu.-
-Gedung tua?-
-Iya! Cepat datang sekarang juga!-
Piii piiii piii—
Sambungan terputus begitu saja dan aku langsung bergegas mengganti pakaianku dengan seragamku. Meskipun aku memakai pakaianku dengan acak-acakan, aku tidak mempedulikannya karena aku tidak ingin terlambat dan menerima pukulan-pukulan dari para berandalan kota lagi. Lalu setelah selesai merapikan barang-barangku di loker pegawai, aku pamit kepada manajerku untuk pulang dan dengan cepat aku keluar dari toko menuju gedung tua.
Baru saja lari beberapa meter dari toko, aku bisa merasakan staminaku menurun dan aku sedikit menggusur kaki-kakiku karena aku masih bisa merasakan nyeri yang ditimbulkan dari lebam-lebam maupun luka di tubuhku akibat kemarin. Tapi aku berusaha untuk tidak merasakannya agar aku bisa cepat sampai ke gedung tua, bila tidak, mereka akan menghukumku lagi.
.
Saat aku sampai di gedung tua, para pembully sudah memasang wajah sinisnya kepadaku dan akhirnya aku mengetahui apa tugasku sekarang. Aku hanya disuruh untuk diam dan menunggu tamu mereka datang, lalu saat tamu itu datang aku harus memakai penyamaranku sebagai ketua pembully. Tetapi aku tidak disuruh untuk melakukan kekerasan apa pun kepada siapa pun itu.
Mungkin mereka ingin bernegosiasi dengan ketua berandalan lain dan butuh diriku sebagai 'ketua' mereka? Pikirku.
Tap.. tap.. tap.. tap..
Suara langkah kaki bergema di gedung tua ini, aku yakin itu adalah suara langkah kaki dari tamu yang mereka tunggu sedari tadi. Aku menunggu kedatangan tamu itu di ruangan yang luas, kosong, hanya ada beberapa barang bekas di dalamnya, dan cahaya dari jendela yang besar-besar di setiap dinding ruangan ini.
Saat itu juga, pintu besar yang berada di hadapanku pun terbuka dengan sedikit kasar, menandakan tamu itu datang dengan kesal.
"Akhirnya kau datang juga." Rika melangkah maju sedikit mendekati tamu itu. Cahaya yang begitu terang dari luar gedung tua ini membuatku kesilauan dan tidak bisa melihat siapa tamu itu. Tetapi saat tamu itu mengeluarkan suara, lagi-lagi jantungku seakan ingin meledak.
"Dimana dia?" tanya suara berat itu dengan nada dingin. Aku tahu suara khas itu, Kazune, orang yang tadi aku lihat di toko ternyata tamu yang dimaksud para pembully.
"Dia? Ahh, iya. Aku hampir lupa. Dia sedang diam di suatu tempat. Apa kau ingin melihatnya?" tanya Rika sembari mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya. Kazune sepertinya mulai kesal dengan nada bicara Rika. Lantas, saat itu aku diperintahkan untuk maju oleh gadis yang lainnya mendekati Rika. Aku menurut saja kepada mereka dan memasang penyamaranku menjadi 'ketua pembully'.
'Perlihatkan gambar ini padanya,' bisik Rika padaku. Lagi-lagi aku menuruti perkataannya dan mengambil ponsel Rika dari tangannya. Sekilas aku melihat foto yang akan diperlihatkan kepada Kazune itu, dan itu adalah fotoku saat sedang dibully oleh mereka, tetapi wajahku tidak terlihat dalam foto itu.
"Kau bisa lihat sendiri bukan? Itu dia temanmu, sedang diam," ujar Rika sedangkan aku memperlihatkan foto itu pada Kazune. Ia terlihat semakin geremat saat melihat seragam sekolah yang aku pakai saat itu penuh dengan bercak merah. Ah iya, foto itu diambil saat aku di bawa ke gedung tua ini setelah aku berusaha kabur dari para pembully.
"K-kalian! Sudah berapa korban yang kalian bully, hah?!" tanya Kazune dengan membentak. Rika dan yang lainnya tersenyum dan mereka tertawa kecil saat aku sadar bahwa di belakang Kazune sudah ada beberapa berandalan kota yang waktu itu dihabisi oleh Kazune dan kawan-kawan.
"Hey bocah! Kali ini aku tidak akan bisa mengalahkan kami! AHAHAHA!" seruan itu mengejutkan Kazune dan ia membalikkan tubuhnya melihat wajah yang tidak asing di ingatannya. Kazune tersenyum meremehkan kepada mereka dan mencibir.
"Hah, rupanya kalian lagi?" tanya Kazune dengan nada meremehkan. Para berandalan kota itu terlihat kesal dan mereka sudah siap untuk menghajar Kazune.
"K-KAU! JANGAN REMEHKAN KAMI!"
Tak! BUSHH!
Tiba-tiba saja asap muncul dari bola yang dilempar oleh salah satu berandalan kota itu dan yang lainnya kecuali aku dan Kazune mulai menutupi hidung mereka dengan sapu tangan atau pun kain. Aku pun sedikit terkejut dengan asap yang mulai menyebar itu.
"Kau tidak akan berhasil kabur dari asap beracun ini.." aku mendengar Rika berbisik dan saat itu aku tahu bahwa asap itu beracun.
'A-asap beracun?!' Aku langsung menutup hidungku dengan tanganku sebisaku sebelum asap itu mendekatiku. Tetapi Kazune sepertinya tidak tahu asap apa itu dan ia berkelahi dengan para berandal kota dengan menghirup asap itu.
'G-Gawat.. K-kazune tidak akan bisa mengalahkan mereka bila ia menghisap asap beracun itu!' pikirku panik.
"Rasakan ini! Hahaha!" seruan dari para beradalan kota itu membuatku semakin was-was. Kazune pun terlihat semakin tidak benar menangkis pukulan-pukulan dari mereka. Gerakannya melambat dan aku bisa melihat ia kesusahan melawa mereka.
"S-Sial! Awas kalian!" sentak Kazune masih berusaha menangkis pukulan-pukulan yang mengarahnya.
Bugh! Bugh! Bugh! BUGH!
"Ugh!" erangan Kazune terdengar menusuk telingaku dan saat itu juga aku melihat bahwa para berandalan itu memukulnya menggunakan.. kayu?!
Mataku terbelalak saat mengetahui mereka memukulinya menggunakan senjata. Mereka tidak main-main. Mereka sudah keterlaluan!
"R-Rika! M-Mereka—!"
"Selamat menyaksikan pahlawanmu mati perlahan.. HAHAHAHA!" ujarnya sembari berjalan melewatiku dan pergi dari tempat ini tanpa memberhentikan suruhannya memukuli Kazune. Aku semakin terkejut saat ia mengatakan bahwa Kazune adalah pahlawanku. Apa mungkin.. para berandalan itu mengadu soal kejadian kemarin malam?!
"Hahaha! Ini pembalasan kami! Mati saja kau! HAHAHA!" suara para berandalan itu terus bergema di sekelilingku. Kini para pembully sudah pergi, berarti tidak akan ada yang bisa menghentikan para berandalan itu!
"K-Kazune.." tanpa sadar aku menyebutkan namanya. Aku benar-benar ingin menolongnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan?!
Dugh! Bugh! Bugh!
Dari tempat aku berpijak, aku hanya bisa melihat sekumpulan orang yang memukuli satu sosok yang sudah kewalahan. Terkadang aku bisa mendengar suara erangan Kazune, tetapi... semakin lama suaranya semakin hilang, dan aku tidak bisa melihat keadaannya karena tertutupi oleh orang-orang.
'B-Bagaimana ini?! Aku tidak bisa melihat keadaannya!'
Dengan segera aku berusaha memberanikan diriku untuk mendekati mereka dan melihat keadaan Kazune lebih dekat. Dan saat itu juga aku terdiam.. saat aku melihat Kazune tergeletak di lantai dan diam tidak melawan. Matanya tertutup dan bercak merah terlihat begitu banyak.
"T-tidak.. K-Kazune! Hentikan! Ini tidak adil!" aku berteriak kepada para berandalan itu agar mereka berhenti. Tetapi mereka berhenti hanya sekejap saat aku berteriak kepadanya saja, lalu selang beberapa detik mereka kembali memukuli Kazune dan salah satu dari mereka menghampiriku. Lebih tepatnya, berandalan yang menghampiriku adalah berandalan yang kemarin malam di usir oleh Kazune.
"Ck. Ternyata kau masih disini, huh? Sekarang kau lihat pahlawanmu itu? Dia sudah tidak berdaya! AHAHAHA!" sentaknya di wajahku. Aku memalingkan wajahku darinya dan bergegas mendekati kerumunan orang yang sedang memukuli Kazune itu. Aku tidak mempedulikan hal lain dan terus mencoba menerobos mendekati Kazune.
"H-hentikan! Aku mohon!" seruku sembari kesusahan untuk masuk di antara kerumunan orang itu. Lalu setelah beberapa lama aku berusaha, aku berhasil sampai pada Kazune dan mereka semua berhenti sesaat aku duduk di samping Kazune yang tidak berdaya itu.
"H-hey, kau bisa mendengarku? Kazune? Kazune?" panggilku mencari respon darinya. Tetapi sampai beberapa kali aku memanggil namanya, Kazune tidak bergeming sama sekali.
"K-kazune.." panggilku sekali lagi berharap ia menjawab. Lagi-lagi jawabannya tidak terdengar.
Bets!
"K-kyaa!" rambutku dijenggut tiba-tiba oleh salah satu dari berandalan itu dan menarikku berdiri.
"Kau sama saja dengan bocah itu. Dan kau juga akan sama-sama berakhir seperti dirinya!" berandalan itu mendorongku kembali sampai jatuh dekat Kazune dan mereka kembali mengarahkan tongkat kayu mereka kepadaku dan Kazune. Aku hanya bisa diam dan menatap horror tongkat-tongkat yang mengayun dengan cepat ke arahku itu.
Tetapi reflek tubuhku dengan cepat menutupi Kazune. Dan tongkat kayu itu mengenai tubuhku!
Bugh! BUGH!
Dengan dua pukulan yang bersamaan, aku merasakan nyeri di seluruh tubuhku dan yang paling parah adalah bagian perutku.
"Ukh! Uhuk!" aku jatuh ke samping Kazune setelah pukulan itu. Para berandalan hanya tertawa keras dan mereka akhirnya menghentikan pukulan mereka dengan pukulan terakhir itu.
Pria yang aku tabrak kemarin terlihat mendekatiku dan ia terkekeh saat ia sudah berada di sampingku dan Kazune.
"Hahaha.. Kau masih selamat karena kami tidak diperbolehkan untuk membunuh kalian! Tapi lain kali..
Kami tidak akan segan-segan!"
.
.
.
.
.
~To be Continue~
~Review?~
a/n: Bagaimana? Misstypo? Ceritanya kurang ngena ya? Author juga merasa begitu. Mungkin karena authornya lagi tidak semangat gara-gara liburnya dikit jadi idenya juga kurang menarik ya? T-T. Tapi di chapter selanjutnya akan lebih menarik ko! Di chapter ini tuh baru awal mula kejadian lainnya yang akan muncul di chapter 4 dan seterusnya^^. Mohon maaf bila updatenya nanti agak lama^^ Cukup sekian, terima kasih~
