Link of Us

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Halo semuanya!

Parah sekali update fic ini... entah mengapa inspirasi baru datang saat ujian

Dan sekali lagi, terimakasih kepada semua orang yang telah membaca dan men-review

Di fic ini saya usahakan agar karakter tidak OC, de el el..

Semoga fic ini mengalami kemajuan /yosh/

Silahkan membaca!


Chapter 3


"Apa kamu sudah menyiapkan barang-barang yang kuminta?" Tanya Gaara seraya sibuk merapihkan dokumen-dokumen yang masih bertebaran di atas mejanya.

"Y-ya, sudah kumasukkan seluruhnya ke dalam amplop ini." Jawab Hinata yang berdiri di hadapan Gaara dengan hanya dibatasi oleh meja panjang berwarna hitam itu.

Gaara yang sudah seminggu menginap di kantornya, membuat Hinata tidak tahan untuk tidak membantu suami yang sudah dinikahinya hampir sebulan itu. Posisi Hinata sebagai karyawan di perusahaan Gaara menguntungkan baginya, karena Hinata juga jadi mempelajari mengenai kondisi perusahaan besar suaminya itu. Tetapi, berbeda dengan Hinata, Gaara terlihat kurang menyukai adanya Hinata yang bekerja di tempat yang sama. Selain karena Hinata selalu menunggu Gaara tiap malam, Gaara juga dengan cepat mendengar kabar mengenai karyawan-karyawan yang mengincar wanita bermata indigo yang satu itu.

Hinata menolak dengan tegas permintaan Gaara untuk memintanya keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya alasan mengapa Hinata tidak mau keluar dari perusahaannya itu adalah Hinata masih tetap memberi tunjangan kepada sang ayah dan adik yang sekarang hidup berdua saja. Hinata tidak pernah mengatakannya pada Gaara mengenai kondisi keluarganya agar suaminya yang satu itu tidak perlu lagi menambah beban pikirannya.

"Ngomong-ngomong, tampaknya seluruh karyawan di sini belum tahu tentang hubungan kita, ya?" Tanya Hinata mengingat saat datang ke kantor tidak ada tanda-tanda bahwa seluruh pegawai disana mengetahui hubungannya dengan Gaara.

"Tentu saja. Pesta itu dijaga ketat dan hanya orang tertentu yang bisa masuk. Tidak dipungkiri jika bawahan mereka tidak mengetahui begitu pula orang-orang disini." Jelas Gaara tenang. Tidak peduli akan reputasinya di mata para tetinggi perusahaan dan media yang menilai dan mengenal Gaara sebagai pengusaha sukses yang masih lajang.

"A-apa perusahaan yang mengadakan aliansi denganmu memutuskannya? Maksudku.. Ehm.. Yang kau ceritakan sebelumnya."

"Hm? Oh, salah satu perusahaan yang anak perempuannya tertarik padaku itu?" Ingat Gaara. "Tidak ada kabar sama sekali mengenai itu."

"Oh, syukurlah. A-anu.. Gaara-san, se-sebenarnya aku mendapat cuti dua hari dari atasanku. Boleh aku pulang ke tempat Ayahku?" Tanya Hinata ragu-ragu melihat Gaara yang tetap berkutat dengan kerjaannya.

"Hm..pergilah."

"Benarkah?! Ma-maksudku.. Kau tidak apa sendirian 2 hari ini?" Tanya Hinata lagi membuat Gaara sedikit jengkel.

"Dengarkan aku. Ada atau tidaknya kau dirumah itu tidak mengubah diriku karena aku sudah terbiasa dengan itu." Gaara menatap Hinata ketus dan kembali menatap tumpukan dokumen di hadapannya. Tidak mengetahui betapa kecewanya hati Hinata saat mendengar kalimat yang Gaara ucapkan.

"Ba-baiklah." Hinata lalu menaruh dokumen yang sedari tadi ia genggam didepan dadanya ke atas meja Gaara. "Aku akan naik kereta malam ini, dan pulang malam ketiga. Sampai jumpa."

Gaara sedikit bereaksi saat melihat sosok Hinata keluar dari ruangan pribadinya. Ia menghela nafas panjang menyadari kesalahannya tadi.

"Bodoh. Sudah tahu dia mulai membuka hatinya kau malah jadi lebih dingin." Temari yang sedari tadi bersembunyi di balik sebuah tirai, keluar dan berdiri di sebelah Gaara.

"Jangan bilang begitu. Aku juga sedang pusing dengan tugasku." Gaara membela dirinya dan mulai membereskan dokumennya tadi.

"Yah, aku hanya mengingatkan saja. Ngomong-ngomong, Tuan Hiashi memberikan surat padaku, isinya adalah setumpuk surat permintaan untuk menikah dengan Hinata, istrimu." Temari mengeluarkan isi dari sebuah amplop besar berwarna coklat dan menjatuhkan isinya diatas meja Gaara. "Wah, banyak sekali. Semuanya dari putra para pengusaha terkenal." Temari tersenyum usil.

"Buang saja atau berikan pada Hinata. Aku tidak akan mau menyimpannya." Gaara berdiri dari kursinya. Terlihat sedikit kesal melihat betapa banyak surat yang keluar dari amplop itu.

"Gaara, ada satu amplop yang menarik." Seru Temari sedikit senang.

"Apa maksudmu?"

"Lihat, kau pasti kenal wajah ini, kan?" Temari menatap Gaara sembari menunjukkan salah satu surat tadi di depan muka Gaara.

"Temari, berhentilah bermain. Aku sudah muak melihat wajah itu. Kau sendiri mengerti, kan?" Gaara menghela nafasnya panjang dan segera mengambil mantelnya.

"Hoo.. Kau tidak marah?" Temari menggerutu kesal dan melempar kembali surat tadi ke atas meja. "Kukira kau akan langsung meneleponnya."

"Jangan harap." Gaara segera mengambil kunci di atas mejanya dan bergegas menuju pintu keluar. "Aku mau mengantar Hinata, jangan lupa bereskan dokumen itu."

Gaara segera melesat pergi saat mendengar jawaban Temari yang setuju dan langsung mengendarai mobilnya pelan.

Dijalankannya mobilnya perlahan. Tampak matanya mencari-cari diantara kerumunan orang yang berjalan di tempat pejalan kaki. Seperti sebuah keberuntungan, ditemukannya gadis yang sedari tadi ia cari dan langsung memberhentikkan mobil hitam miliknya.

"Hinata! Masuklah, aku yang akan mengantarmu." Seru Gaara dari dalam mobil. Hinata yang masih mematung karena kaget akan sosok suaminya yang tiba-tiba itu segera menyadarkan diri dan memasuki mobil.

"Ke-kenapa? Bukankah pekerjaanmu masih banyak?" Tanya Hinata tidak enak hati.

"Yah.."

Mendengar Gaara tampak tak ingin banyak bicara, Hinata ikut diam. Ia menyenderkan pundaknya ke arah jok bangku yang empuk itu. Matanya tetap melihat kedua jari yang ia mainkan sedari tadi.

"Se-sebenarnya... Ini hari ulang tahunku." Ucap Hinata gugup. Diliriknya Gaara melalui sudut matanya. Tampak tak terlihat kaget sedikitpun. Melihat itu, Hinata hanya bisa kembali menundukkan wajahnya.

"Aku tahu." Gaara mulai membuka suaranya. Membuat Hinata langsung menoleh ke arah wajah tampan Gaara yang masih memandang lurus kedepan. "Kau melingkari tanggalnya di kalender kamar, 'kan? Aku tidak sengaja melihat saat memasuki kamarmu."

"E-eh? Tapi kalendernya aku taruh di.."

"Ya, buku harianmu." Jawab Gaara datar tampak tak merasa berdosa sama sekali.

"Kenapa kau lihat!?" Seru Hinata. Perasaannya campur aduk. Antara malu, gugup, dan senang. Ketiganya bercampur aduk menjadi satu membuat wajahnya tampak memerah.

"Aku ingin tahu.." Gaara menatap Hinata disaat lampu merah mulai menyala di jalanan. "Bagaimana kabar istriku. 'Apa dia senang?' 'Apa dia bahagia?' 'Apa dia tidak kesusahan?'. Aku bertanya-tanya hingga aku melihat diarimu."

Mendengar pernyataan itu, wajah Hinata mulai memanas dan segera membalikkan tubuhnya ke arah jendela mobil menghindari tatapan Gaara. Entah sudah keberapa kali laki-laki dingin ini mengucapkan begitu banyak kata-kata manis yang membuat Hinata tidak tahan untuk tersenyum. Betapa Hinata merasa senang saat mendengarnya.

"Tapi tidak seharusnya kau melihat privasiku." Gerutu Hinata pelan.

"Kenapa tidak? Kita suami istri, bukan?" Jawab Gaara membuat Hinata tidak dapat berkata-kata lagi.

Setelah lampu hijau menyala, Gaara mulai menggeser gigi mobilnya dan kembali menancap gas. Beberapa menit kemudian, Gaara yang menyadari bahwa Hinata diam terlalu lama diam, segera menoleh ke arah Hinata. Ia mulai diam saat mengetahui bahwa wanita di sebelahnya sudah mulai terkantuk dan tertidur lelap.

Wajah Hinata yang memiliki kulit putih dan bersih itu tertutupi oleh untaian rambut panjangnya. Sejujurnya Gaara sedikit canggung dengan kondisi ini. Ini kali pertamanya Gaara mengendarai mobil dimana seorang wanita sedang tertidur di sampingnya. Entah apa yang Gaara rasakan. Tapi, ada satu kata yang bisa Gaara rasakan saat ini. Nyaman. Ya, tidak seperti kerisihan saat pertama kali bertemu dengan Hinata, Gaara merasa tenang dan nyaman merasakan hawa Hinata disebelahnya.

Saat sudah mendekati kediaman rumah Hinata, Gaara memberhentikkan mobilnya tepat didepan rumah mertuanya itu. Ia segera mematikan mobilnya dan keluar dari mobil. Dibukanya pintu dimana Hinata berada. Tampak Hinata masih tertidur lelap. Tak tega membangunkannya, Gaara segera mengangkat gadis itu dengan kedua tangannya perlahan. Untuk seorang gadis, Hinata cukup ringan. Membuat Gaara tidak sulit mengangkatnya.

Malam itu bulan terlihat menutupi cahayanya, membuat Gaara tidak begitu jelas melihat bagaimana wajah istrinya sekarang. Tidak dapat melihat bahwa gadis itu tersenyum tipis dalam tidurnya. Tanpa basa-basi, Gaara segera memasuki halaman rumah Hinata seraya tetap menjaga keseimbangan dirinya yang menggendong Hinata.

"Ah, Gaara-nii! Kau baru sampai?" Tanya gadis kecil bernama Hanabi yang sedang duduk di teras rumahnya.

"Ya, tolong bukakan pintunya. Kakakmu tampak kelelahan." Pinta Gaara pelan.

"Baiklah. Aku tunjukkan kamarnya. Tou-san sedang tidak dirumah sampai besok. Jadi, tidak perlu menunggunya." Ujar Hanabi seraya menuntun Gaara menuju kamar Hinata.

"Hm.. Aku mengerti."

Sesampainya di kamar Hinata, Gaara segera menaruh tubuh Hinata perlahan di atas kasur.

"Kau menginap?" Tanya Hanabi lagi.

"Tidak. Aku harus kembali ke kantor malam ini." Jelas Gaara kepada adik iparnya yang satu itu.

"Heee... Kalian habis merayakan ulang tahun Nee-chan?" Tanya Hanabi sedikit antusias.

Mendengar hal itu Gaara segera menggeleng. "Aku hanya mengantarnya."

"Oh.. Kukira kau merayakannya. Nee-chan memang tidak begitu peduli akan perayaan ulang tahun semenjak perusahaan Hyuuga turun drastis." Hanabi mulai bercerita sambil berpangku tangan. "Tapi, setiap tahun Nee-chan selalu merayakannya sendiri dikamar. Aku dulu masih kecil dan tidak mengerti. Tapi..."

Gaara mulai mendengarkan dengan serius saat wajah Hanabi perlahan-lahan menjadi masam.

"Nee-chan selalu menangis di hari ulang tahunnya."

Gaara sedikit bergeming mendengarnya. Penuh tanda tanya akan hal itu dipikirannya. "Kenapa?"

"Karena Nee-chan merayakannya seorang diri. Dia tidak mempunyai teman saat sekolah, mata keluarga kami memang berbeda dari kebanyakan orang. Karena itu, Nee-chan dianggap aneh dan dijauhi." Hanabi kembali melanjutkan ceritanya seraya tersenyum tipis. "Makanya, kukira untuk tahun ini dia bisa merayakannya denganmu, Nii-san."

Gaara menatap Hinata yang masih tertidur lelap. Entah mengapa hati Gaara sedikit sakit mendengar kata kesendirian terjadi pada Istrinya itu.

Gaara lalu langsung kembali menuju kasur istrinya dan menggoyangkan pundak Hinata pelan.

"Ga-gaara-san?" Hinata mengerjapkan matanya melihat Gaara berada di sampingnya. Kepalanya masih terasa pusing tersadar secepat itu.

"Bangunlah. Kita pergi sekarang." Ujar Gaara melihat arloji ditangannya masih menunjukkan waktu 10 malam.

"Ke-kemana?" Tanya Hinata bingung seraya merapihkan rambutnya yang kusut.

"Ikut saja." Gaara lalu menarik lengan Hinata untuk segera beranjak dari tempat tidur. "Hanabi, maaf aku pergi sebentar."

Tampak mengerti, Hanabi tersenyum simpul dan mengangguk cepat. "Bersenang-senanglah!"

Dengan segera Gaara menarik Hinata menuju mobilnya dan segera memasukinya secepat mungkin.

"Apa kau lapar?" Tanya Hinata mengira-ngira saat Gaara mulai menjalankan mobilnya.

"Yah.." Jawab Gaara datar.

"Begitu? Maaf, aku tidak menyadarinya." Hinata langsung menunduk perlahan. Melihat itu Gaara langsung tidak enak hati. Bukannya dia yang meminta maaf, malah wanita yang tidak bersalah itu yang melakukannya.

Berdua dalam diam selama perjalanan tampaknya sudah menjadi kebiasaan pasangan yang satu itu. Buktinya, Hinata mulai merasa tidak peduli dalam kebisuan itu. Ia tampak menyerah membuka topik pada Gaara yang tampak sibuk dengan jalanan.

Setelah satu jam diperjalanan, Gaara memutar setirnya ke arah Restoran mewah di pinggir laut yang terkenal dengan makanan lautnya. Dengan cepat Gaara memberhentikkan mobilnya di depan resto tersebut.

"Ga-gaara-san.. Apa ini tidak terlalu mewah hanya untuk makan malam?" Tanya Hinata bimbang melihat mobil-mobil mewah kalangan atas terparkir berjejer didepan Restoran tersebut.

"Tidak jika itu untuk merayakan ulang tahunmu." Ucap Gaara seraya keluar dari mobil.

Mendengar hal itu, Hinata langsung keluar dari mobil dan mengikuti Gaara yang menunggunya di samping mobil hitam mewah milik suaminya itu.

"Tu-tunggu! Apa maksudmu?" Tanya Hinata mulai bingung sambil tetap mengikuti langkah Gaara yang semakin cepat.

"Aku tidak sempat memberimu hadiah,kan? Yah.. Kuharap ini cukup untuk itu." Jawab Gaara tenang.

"Tapi.."

Mendengar keluhan Hinata, Gaara segera berbalik dan menatap Hinata sinis. "Diam dan ikuti saja mauku. Kau istriku, harusnya kau mengikuti perkataanku." Jawab Gaara egois yang membuat Hinata segera membungkam mulutnya.

Saat memasuki restoran itu, Hinata terkesima dengan segala arsitekturnya. Pilar-pilar besar yang membuat restoran itu tampak indah serta desain ala barat menjadikan restoran itu terlihat mewah.

Gaara lalu memilih tempat duduk tepat di sudut ruangan yang langsung mengarah ke arah laut. Mungkin orang mengira bahwa Gaara romantis, tapi sayangnya tidak. Gaara memilih tempat itu hanya karena tempat itu paling sepi diantara bangku lainnya yang penuh dengan keramaian pengunjung mengingat bahwa Gaara kurang menyukai keramaian.

Setelah memesan makanan, Gaara lalu mengambil ponsel dari sakunya dan tampak menghubungi seseorang.

"Temari, aku akan ambil libur 2 hari. Sisa kerjaan kemarin, kuserahkan padamu." Ucap Gaara menelepon sang kakak sekaligus sekertaris pribadinya. Setelah lama berbincang dengan Temari, Gaara buru-buru mematikan telepon dan menyenderkan punggungnya kearah bangku.

"Ke-kenapa mengambil cuti?" Tanya Hinata ragu-ragu.

"Kau mau menginap, kan?" Tanya balik Gaara sambil berpangku tangan diatas meja.

"Maksudmu, Gaara-san juga ikut menginap?" Tanya Hinata sedikit senang. Melihat Hinata mengembangkan senyumnya, Gaara langsung tersenyum tipis seraya mengangguk pelan.

"Hari ini, maafkan aku." Ucap Gaara mulai terbuka.

"Kenapa?" Hinata mulai menautkan kedua alisnya bingung apa yang dikatakan oleh Gaara.

"Buku harian, ulang tahun, dan pekerjaanmu. Aku berbuat salah dengan ketiganya." Ujar Gaara mengingat segala kesalahannya akhir-akhir ini.

Hinata langsung menggeleng perlahan. "Aku.. Sebenarnya ingin bekerja di tempat yang sama denganmu karena dengan begitu aku jadi tahu masalah apa yang sedang kau hadapi." Hinata mulai membuka mulutnya dengan nada pelan. "Mungkin dengan begitu, aku jadi dapat membantumu."

Mendengar jawaban jujur Hinata, Gaara segera menatap mata indigo wanita itu langsung. "Ya. Terimakasih."

"Ngomong-ngomong.. Sebentar lagi Natal. Apa Gaara-san akan merayakannya?" Tanya Hinata yang sudah dari kecil sangat menyukai natal.

"Hm.. Aku belum pernah merayakannya. Mungkin." Ingat Gaara pada masa dulunya.

"Benarkah? Saat masih kecil? Atau..saat sekarang?" Tanya Hinata lagi. Antara kaget dan bingung mendengar jawaban Gaara.

"Yah.." Gaara menundukkan wajahnya. "Entahlah."

Hinata melihat raut wajah Gaara yang tampak tidak suka dengan topik ini. Ia lalu berdiri dan segera menuju ke samping Gaara yang masih duduk di atas bangkunya.

"Ada apa?" Tanya lelaki berambut marun itu bingung. Wajahnya sedikit mendongkak melihat wajah Hinata yang berdiri disampingnya.

"Tahun ini, kita rayakan natal, ya?" Hinata menunjukkan jari kelingkingnya di hadapan Gaara seraya tersenyum.

"A-apa maksudmu?" Gaara mulai bingung sambil menatap kelingking mungil dihadapan wajahnya itu.

"Janji, kau harus janji padaku!" Ucap Hinata malu-malu. Melihat itu, mau tak mau Gaara segera melingkari kelingkingnya di jari kelingking milik Hinata dan tersenyum pasrah.

"Ya.. Sesukamu."

Mendengar jawaban itu, Hinata segera kembali duduk di bangku yang bersebrangan dengan Gaara dan memainkan ponselnya sembari menunggu datangnya pesanan makanan mereka.

"Hinata, berhentilah menggunakan ponselmu saat bersamaku." Ucap Gaara tampak tidak menyukai pemandangan di hadapannya.

"Eh.. Maaf! Tapi, teman-teman kantor mengajakku untuk jalan dan aku belum membalasnya." Jawab Hinata sambil tetap memencet tombol-tombol di ponselnya.

Melihat itu, Gaara langsung menaikan sudut bibirnya. Bukan tersenyum tapi menyeringai. Jika di ekspresikan dalam suatu gambar mungkin terdapat 3 siku-siku dikepala lelaki berparas tampan itu.

"Aku tidak mengizinkannya." Ucap Gaara ketus.

"Eh?" Mendengar jawaban Gaara, Hinata segera menghentikkan tangannya yang sedari tadi sibuk bergerak. "Tapi.. Aku sudah janji."

"Batalkan." Suruh Gaara tanpa beban.

"A-aku tidak bisa! Aku sudah janji dengan mereka." Seru Hinata tak mau kalah.

"Hm..." Gaara menggumam panjang dan melihat mata Hinata penuh makna.

"Ke-kenapa?" Tanya Hinata menyadari bahwa Gaara melihatnya tampak mengetahui sesuatu.

"Tidak. Aku lupa kau adalah gadis 'single' di perusahaan dan menjadi idaman para karyawan saat ini." Gaara tersenyum penuh arti dan segera berdiri.

"Kau mau ke-kemana?" Tanya Hinata gugup.

"Merokok. Kau tidak tahan dengan asap, kan?" Jawab Gaara seraya berjalan keluar meninggalkan Hinata sendiri.

Merasa bersalah, Hinata langsung diam dan menundukkan wajahnya. Segera ia matikan ponselnya dan meminum teh yang sedari tadi berada di atas mejanya.

"Gaara? Sedang apa kau disini?" Panggil seorang lelaki berambut hitam legam. Ia tampak baru selesai makan dari restoran tersebut.

"Sasuke." Ucap Gaara pelan. "Tidak. Kau sendiri?"

"Aku baru mengadakan perjamuan dengan para karyawan di perusahaanku. Bagaimana perusahaan Sabaku?" Tanya Sasuke yang sudah menjalin hubungan antar perusahaan dengan Gaara dulu.

"Yah, seperti yang dilihat." Gaara kembali menghisap putung rokoknya dan kembali menatap Sasuke.

"Kau sendirian? Kudengar kau punya kekasih. Gosip gila apa itu?" Ujar Sasuke tampak ingin menahan tawa.

"Sayang sekali gosip gila itu lebih parah. Bukan kekasih, tapi Istri." Gaara memperjelas tanpa peduli pandangan Sasuke yang masih tidak dapat mempercayainya.

"Tu-tunggu.. Gaara, kau serius? Masalahnya, ini bukan pacar, tapi menikah? Ya tuhan.. Kau dirasuki apa?" Sasuke tertawa kecil dan menepuk pundak Gaara pelan.

"Yasudahlah, lagipula aku menikah bukan karena aku mau tapi kewajiban. Aku tidak sungguh-sungguh dan menganggap ini selayaknya peran yang harus ku mainkan sebagai 'suami'. Anggap saja suatu skenario." Jelas Gaara tidak peduli.

"Yah, itulah dirimu." Sasuke tersenyum simpul dan melepaskan tangannya dari pundak Gaara.

"A-anu.. Gaara-san, makanannya sudah datang."

Mendengar suara itu, Gaara segera menoleh dan mendapati Hinata berdiri di belakangnya seraya tersenyum tipis.

"Hinata.." Mata Gaara meneliti setiap raut wajah Hinata. Sejak kapan dia disana, apa yang ia dengar, seluruhnya menjadi pertanyaan Gaara sekarang.

Saat mata Gaara bertemu dengan mata Hinata, gadis itu segera memutar bola matanya agar tidak bertemu pandang dengan mata hijau milik Gaara.

Dia mendengarnya.

Ya, itulah yang Gaara perkirakan. Hinata pasti mendengar perkataannya tadi.

"Gaara, ini Istrimu?" Bisik Sasuke kaget melihat sosok Hinata yang tergolong kedalam wanita cantik di matanya.

"Sasuke, aku duluan. Aku akan bicara denganmu lagi."

Gaara lalu menarik lengan Hinata meninggalkan Sasuke dan kembali menuju arah meja makan mereka.

Supasana mulai canggung di antara mereka berdua saat saling menyantap makanan. Mereka berdua, entah mengapa merasa ada di posisi yang salah. Gaara akan perkataannya, dan Hinata yang mencuri dengar pembicaraan Gaara, dan keduanya bersikap saling pura-pura tidak mengetahuinya. Membuat malam itu bukan menjadi perayaan ulang tahun yang menyenangkan, melainkan kelabu bagi mereka berdua.


Pagi itu matahari masih belum terlihat sinar terangnya, masih sedikit cahaya yang menyelimuti pagi dingin itu. Memasuki musim dingin, entah karena suhu udara atau perasaan saja rasanya keadaan sekitar lambat laut semakin mencair lebih tenang. Berbeda saat musim panas kemarin.

Hinata yang sudah bangun semenit lalu, masih berada di atas kasur putih di kamarnya. Ia masih tetap duduk diatas ranjang seraya menatap ke arah luar melalui jendela kamar yang berada tepat disebelah kasurnya.

Sesekali matanya berputar kesudut kiri matanya. Dilihatnya lelaki berparas tampan masih tertidur lelap disampingnya. Membuat Hinata tidak berani bergerak sedikitpun dan terus melihat jendela.

Kejadian tadi malam masih terkuak di dalam pikiran Hinata. Bukan hanya pembicaraan yang Gaara dengar, tetapi keadaan setelahnya memperkeruh suasana diantara mereka berdua. Gaara sendiri yang awalnya ingin membuat Hinata memiliki kenangan perayaan ulang tahun jadi gagal total karenanya. Sebaliknya, Gaara dan Hinata langsung pulang setelah makan, dan beranjak tidur saat sampai di rumah Hinata.

Mengingat itu, Hinata hanya menghela nafasnya panjang dan kembali menatap lelaki yang dari semalam membuatnya susah tidur itu. Ia meneliti dengan cermat lekukan-lekukan wajah Gaara yang tergolong tampan dari pria kebanyakan pada umur Gaara. Hinata baru menyadari bulu mata Gaara ternyata cukup panjang dari yang dia lihat selama ini. Hidung Gaara yang mancung membuatnya semakin tampan dari sudut manapun. Tato di dahinya juga cukup membuat orang menoleh ke arah lelaki ini dua kali. Merasa wajah di sampingnya mulai terbangun, Hinata segera menolehkan kepalanya kembali ke arah jendela.

"Jam berapa sekarang?" Tanya Gaara saat membuka matanya yang masih tampak sayu.

"J-jam.. 5 kurang." Hinata melihat jam dinding yang berada di atas pintu kamar mengira-ngira.

Gaara hanya kembali menutup matanya dan kembali tertidur tanpa berkata apa-apa lagi. Melihat itu, Hinata langsung membuka ponselnya. Dilihatnya penuh pesan masuk dari Tenten dan Ino. Dibacanya dalam hati isi salah satu pesan dari mereka yang mengajak Hinata pergi pagi ini untuk berbelanja bersama. Merasa aman karena hanya berbelanja, Hinata segera membalasnya cepat untuk menyetujui ajakkan para wanita itu.

Dengan perlahan, Hinata turun dari kasur dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Selesai ganti pakaian, Hinata melirik kembali Gaara yang masih tertidur pulas.

"Pasti dia lelah sekali.." Pikir Hinata dalam hati selagi menggunakan bedak padat di wajahnya.

Semenjak menikah dengan Gaara, Hinata tidur terpisah dengan Gaara. Mereka tidur di kamar yang berbeda. Membuat Hinata tidak tahu jadwal tidur suami-nya sendiri, yang bahkan tidak ia sambut jika pulang di atas jam 10 malam, karena Hinata sendiri sudah tertidur di kamarnya.

Mengingat hal itu, Hinata segera menuju keluar kamar sambil mengendap berusaha tidak membangunkan Gaara.

"Nee-chan? Kau mau kemana?" Tanya Hanabi yang sedang sibuk sarapan pagi di meja makan.

"Aku ada janji dengan teman kantorku. Hanabi, kalau Gaara bertanya, tolong bilang padanya ya! Dia masih tertidur pulas." Hinata tersenyum melas didepan Hanabi yang hanya mengangguk-angguk malas.

"Ya. Tenang saja." Jawab Hanabi santai tanpa menoleh ke arah Hinata, sibuk dengan sepotong roti yang sedari tadi ia makan.

Sesampainya di depan pintu rumah, Hinata segera menuju ke arah stasiun dan tampak menacri-cari sosok kedua temannya itu.

"Hinataa!" Seru gadis berkuncir kuda dengan jepit hitam disamping rambutnya. Mendengar suara gadis yang ia kenal bernama Ino itu, Hinata dengan cepat segera menuju ke arah suara itu berasal.

"I-Ino-san, Tenten-san.. Maaf aku telat." Hinata tampak diburu oleh nafasnya yang tersenggal karena terlalu banyak berlari.

"Tidak, aku juga baru sampai." Tenten tersenyum senang sembari memberikan Hinata secarik tisu.

"Terimakasih. Ino-san, sekarang kita mau pergi kemana?" Hinata melihat wajah Ino penuh tanya. Yang dilihat hanya tersenyum penuh makna.

"Sebenarnya, aku mau mengajakmu ke Gokon! Pesta jodoh! Bagaimana?" Ino tertawa kecil seraya memandang Hinata yang tampak tidak senang dengan jawaban Ino.

"Go-gokon? Tapi aku..." Hinata memainkan jemarinya gugup. Bagaimana mungkin Hinata mengikuti pesta jodoh dimana statusnya sudah menikah? Tidak mungkin seorang Hinata dengan senang melakukannya.

"Tapi apa? Kau belum dapat pasangan juga, kan? Ini saat yang tepat, Hinata!" Seru Ino lagi senang tanpa peduli keadaan sekitar di stasiun.

"Hm.. Aku sedang tidak mencari kekasih." Mata Hinata tampak memutar keatas. Berusaha menutupi kebohongannya.

"Hinata, ayolaah.." Pinta Ino lagi lebih kencang.

Beruntung tiba-tiba ponsel Hinata berbunyi. Membuat gadis itu bisa 'lolos' dari ajakan para wanita itu meski hanya sedetik. Dengan cepat Hinata segera berjalan beberapa langkah dari teman-temannya saat mengangkat telepon yang ia lihat dari 'Gaara' itu.

"Ha-halo." Hinata membuka mulutnya dengan ragu-ragu.

"Kemana kau?" Tanya Gaara langsung pada pokok utama.

"Eh.. Pergi bersama temanku untuk berbelanja." Hinata berbohong sedikit. Yah, toh pada akhirnya saat pulang Gokon mereka akan belanja, itulah wanita.

"Aku sudah bilang untuk membatalkannya, kan?" Nada bicara Gaara tampak meninggi di telepon. Sepertinya kepalanya masih tercampur aduk dilihat dari suaranya yang parau tanda bahwa ia baru bangun dari tidurnya.

"Tapi.."

"Aku ambil libur untuk menemanimu, dan kau malah asik keluar bersama temanmu?" Gaara mulai memegang kemenangan dengan ucapannya saat itu. Membuat Hinata langsung tidak enak hati karenanya.

"Ta-tapi.." Lagi-lagi Hinata terputus dari kata itu saat Ino memanggilnya.

"Hinataa! Ayolah, acaranya dimulai sebentar lagi!" Seru Ino lantang. Melihat itu, Hinata hanya tersenyum maklum.

"Baiklah, aku sudah dipanggil." Hinata tampak tersenyum ragu memikirkan bagaimana wajah Gaara sekarang.

"Terserahlah.."

TUUT..TUT

Gaara langsung memutuskan sambungan telepon mereka berdua membuat Hinata semakin tidak tenang.

"Hinata, keretanya datang." Ujar Tenten. Yang sudah berdiri di sebelah Hinata.

Hinata memutar bola matanya dan melihat lajur kereta yang tiba-tiba menghembuskan untaian rambutnya saat sebuah shinkansen melaju kencang di depan matanya. Perlahan Hinata menutup matanya menyadari angin berhembus kencang saat itu.

"Ayo, Hinata!" Seru Ino saat melihat sebuah shinkansen berhenti dijalurnya dan mulai membuka pintu.

"Maaf, aku harus pulang!"


Dengan mengendap-endap Hinata melangkahkan kakiknya diatas rumahnya sendiri. Dilihatnya Hanabi sudah pergi dari rumah menyadari sepatu adiknya sudah tidak ada di rak depan pintu. Yang artinya, hanya ada Gaara dirumah itu. Hanabi pergi dan Hiashi belum bisa pulang karena pekerjaan. Tak akan ada penengah bagi mereka berdua saat itu nanti.

"Sedang apa kau?"

Tiba-tiba suara Gaara dibelakang tubuh Hinata refleks membuat gadis itu berteriak kaget.

"Ma-maaf!"

Hinata menundukkan wajahnya dalam. Takut melihat bagaimana wajah suaminya sekarang.

"Bagaimana Gokon-nya? Menarik?" Gaara tersenyum penuh makna saat Hinata mulai menatap wajahnya perlahan.

"Ba-bagai.."

"Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja.. Aku suamimu." Gaara segera membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan ke arah kamar Hinata sebelum akhirnya Gaara kembali membuka mulutnya. "Siap-siap karena pukul 1 siang ini aku ada rapat."

"Bu-bukannya kau libur?" Tanya Hinata bingung.

"Semuanya kubatalkan. Satupun. Jadi, aku tidak punya waktu lagi." Gaara memasuki kamar Hinata dan segera keluar dengan tas milik Hinata ditangannya.

"K-kenapa?" Hinata menatap tas miliknya bingung.

"Aku harus pergi sekarang. Kau bisa ikut di mobilku atau naik kereta jika berangkat nanti." Gaara mengencangkan dasinya dan segera mengambil kunci mobil dikantungnya, bersiap-siap untuk segera keluar.

"A-aku ikut!"

Hinata segera bersiap-siap membereskan barangnya dan memasuki mobil milik Gaara sambil berlari cepat. Berusaha tidak membuat kesal lelaki disampingnya yang sudah dalam keadaan bad mood itu.

"Ga-Gaara-san, kau marah?" Takut melihat wajah Gaara, Hinata hanya menundukkan kepalanya saat mobil mulai melaju.

Kali ini Gaara yang biasanya selalu menjawab pertanyaan Hinata hanya diam. Tetap fokus pada jalan raya yang mulai padat pagi itu. Terlihat bahwa Ia pura-pura tidak mendengar suara Istrinya yang duduk tepat disebelahnya.

"Ano... Aku.. Turun di sini saja." Hinata tersenyum simpul melihat plang stasiun sudah hampir mendekat.

Gaara memutar bola matanya. Melihat wajah hinata sampingnya.

"Hm.."

"Ke-kenapa?" Hinata yang merasa pandangan menusuk Gaara mulai menghilang segera menatap wajah lelaki itu ragu-ragu.

"Tujuan kita sama, dan kau lebih memilih naik kereta? Apa kau mau aku dikira laki-laki kejam yang menurunkan Istrinya di tengah jalan?" Gaara mulai mencari masalah melihat Hinata tak sesuai dengan yang Gaara pikirkan.

Hinata hanya diam. Wajahnya mulai memerah karena menahan emosinya. Entah sudah keberapakali, Hinata merasa semua yang dilakukannya terasa salah di mata Gaara. Hinata hanya menggigit bagian bawah bibir mungilnya dan mencengkram roknya kencang.

"Seharusnya kau diam disini dan mengikuti perintahku sebagai istri. Tapi kau malah mengikuti temanmu untuk ke pesta jodoh. Apa kau memang suka menggoda laki-laki?" Gaara lagi-lagi membuka topik yang sedari tadi Hinata simpan dalam hati. Mendengar celotehan Gaara, Hinata mulai menahan air matanya.

"Besok aku ada kerjaan dan harus berangkat ke luar negeri untuk 2 minggu ini." Gaara menghentikkan mobilnya tepat didepan supermarket. "Aku harus membeli beberapa perlengkapan, terserah jika kau mau langsung pulang atau tidak."

Hinata masih tetap diam dengan tangannya yang semakin mencengkram roknya kencang. Ia lalu mulai bertambah kesal mengingat ciuman pertamanya direbut oleh lelaki egois disampingnya yang merasa kejadian itu tak berlaku dalam hidupnya. Dengan segera Hinata langsung melempar berkas dokumen yang tadi berada dipangkuannya ke arah Gaara yang masih sibuk duduk di bangku pengemudi melepas sabuk pengamannya. Membuat lembar demi lembar melayang di dalam mobil Gaara.

"Apa-apaan kau?" Gaara menatap Hinata tajam. Meski sedikit tapi lemparan dokumen tebal yang berisi kertas ukuran F4 dengan isi 200 lembar itu cukup menyakitkan mengenai dahi Gaara saat itu. Beruntung tidak terkena mata atau derah yang sensitive.

"Sudahlah. Cukup, aku benci padamu, Gaara."

Setelah mengatakan kata itu sambil tetap menahan tangisnya, Hinata buru-buru keluar dari mobil dan berlari kencang. Sementara itu, Gaara masih tetap diam. Berusaha mengevaluasi perbuatan kekanak-kanakannya tadi. Belum sempat Gaara membuka pintu untuk mengejar Hinata, tiba-tiba ponsel miliknya berdering dari arah kantongnya.

"Halo." Jawabnya dingin.

"Gaara-san, ini aku. Bisa kita bicara sebentar?" Ucap sang penelepon wanita dengan nada nyaring yang bersuara tinggi itu.

"Hm.. Boleh."


Hinata terus berlari tanpa peduli bahwa ia telah melewati stasiun. Pikirannya sudah kacau mengingat kejadian tadi. Wajahnya memerah karena berlari terlalu kencang. Entah sudah keberapakali Hinata terjatuh karena berlari tanpa melihat bawah jalanan.

"Menyebalkan." Keluhnya seraya memegangi kedua dengkulnya yang sudah terluka hingga membuat kulitnya terkelupas karena gesekan aspal.

"Kau baik-baik saja?" Suara berat disampingnya mengulurkan sebuah saputangan ditangannya. Dengan cepat Hinata yang sedang duduk langsung mengangkat wajahnya. Dilihatnya seorang lelaki berparas tampan yang sudah tampak familiar di matanya itu.

"Ah! Kau.. Istri Gaara, 'kan?" Laki-laki yang merupakan teman Gaara saat pesta semalam itu tersenyum tipis. Lelaki bernama Sasuke itu lalu ikut duduk disampingnya.

"Eh.." Hinata hanya membuang wajahnya berusaha tidak menoleh ke arah lelaki itu.

"Ini, kakimu terluka, kan? Ada apa?" Sasuke menyerahkan saputangan berwarna putih bersih ditangannya kepada Hinata.

" A-arigato..aku terjatuh."

"Ah, sama-sama. Mana Gaara? Kalian tidak bersama?" Tanya Sasuke penasaran dengan kondisi sahabatnya yang satu itu.

"D-dia akan berada di kantor hari ini." Hinata hanya tersenyum tipis sambil tetap menepuk-nepuk pelan dengkul kecilnya dengan saputangan milik Sasuke.

"O,ya? Jadi kau mau pulang sekarang?" Lagi-lagi Sasuke terus bertanya tanpa peduli keadaan Hinata.

"I-ya.. Begi.."

"Sasuke-san!?"

Tiba-tiba omongan Hinata terhenti saat suara nyaring disebelahnya berteriak dari jauh memanggil nama Sasuke kencang.

"Ha? Matsuri? Sedang apa kau?" Sasuke memandang Matsuri bingung.

Bukan hanya Sasuke, Hinata lebih kaget karena dibelakang gadis itu ada lelaki yang membuat Hinata kembali emosi, Gaara.

"Gaara? Sedang apa kau? Tidak kerja?" Sasuke mulai bingung dengan kondisi itu dan berdiri dari duduknya.

"Tidak." Jawab Gaara dingin. Ia yang berdiri di hadapan Hinata melirik gadis itu yang sedari tadi sibuk dengan kakinya. Dilihatnya dengkul wanita itu terluka dan cukup mengeluarkan banyak darah. "Apa-apaan itu?!"

"Eh?" Hinata memandang Gaara bingung. Laki-laki itu langsung mengangkat kedua tangan Hinata yang berusaha menutupi lukanya.

"Tenang dulu, Gaara. Dia terjatuh." Sasuke menjelaskannya dengan tenang.

"Hm? Siapa gadis ini?" Matsuri memandang Hinata bingung.

Belum sempat ada yang menjawab, Hinata segera menepis kedua tangan Gaara yang sedari tadi memegang tangannya dan kembali berdiri.

"Maaf, a-aku.. Ada urusan." Hinata tersenyum tipis.

"Urusan apa maksudmu?" Gaara kembali menatap Hinata tajam. Ia segera menarik lengan Hinata dan segera berjalan berdua meninggalkan Sasuke dan Matsuri.

"Siapa gadis itu?" Tanya Matsuri lagi belum puas.

"Hmmm.. menurutmu siapa?" Sasuke tersenyum tipis dan berjalan meninggalkan Matsuri.

"Tunggu dulu! Maksudmu apa?"

"Aku harus pergi, jangan ikuti aku."

"Sasuke! Tunggu!"


"Masih sakit?" Tanya Gaara saat sudah selesai membalut luka di kedua dengkul Hinata. Hinata hanya mengangguk merasa lukanya mulai tidak terasa saat di tutupi oleh kain kasa itu.

"Gaara..san, maaf." Hinata menatap Gaara penuh harap yang tampaknya berhasil. Gaara hanya menepuk kepala Hinata pelan dan kembali menarik lengan Hinata.

"Sudahlah. Ayo pulang."

"Kerjaanmu?"

"Kubatalkan tadi." Gaara tersenyum tipis dan membuka pintu mobilnya. "Masuklah."

"Apa saat aku masuk kita akan bertengkar lagi?" Tanya Hinata tanpa ada maksud apapun.

"Eh?" Gaara menatap mata Hinata yang tersirat kejujuran. Gaara mengerti Hinata berbeda dari gadis kebanyakan. Hinata polos dan masih bersih. Itulah hal yang terkadang membuat Gaara tak tahan mengkhawatirkan gadis didepannya ini.

"Apa kau akan memarahiku lagi?" Hinata menundukkan wajahnya lemas. Gaara yang melihat sisi kekanakkan dari Istrinya itu hanya menghela nafasnya dan kembali tersenyum.

"Tidak. Aku janji."

Gaara lalu kembali membuka pintu mobilnya lebih lebar "Masuklah."

"Terimakasih."


Natal akan dirayakan masih dua hari lagi dan Hinata sudah sibuk membeli barang-barang seperti lonceng, kain putih bludru, dan hiasan pohon natal. Tapi sayangnya, Hinata merahasiakan hal ini pada Gaara untuk kejutan. Berkat itulah uang gaji Hinata habis dalam sehari pada awal bulan kemarin untuk membeli segala pernak-pernik yang tidak terbilang murah itu.

Hinata membuka dompetnya dan segera menutupnya menlihat hanya beberapa lembar saja di dalam dompet cokelatnya itu. "Bagaimana ini.."

"Aku pulang."

"Waah!" Seru Hinata saat mendengar suara Gaara dari depan pintu yang tepat berada di hadapan ruang tamu, tempat dimana Hinata duduk sekarang.

"Ada apa? Aku mengejutkanmu?" Gaara menatap Hinata bingung seraya melepaskan dasi biru tuanya dari lehernya.

"Ti-tidak.. Selamat datang. Bagaimana perjalananmu?" Hinata buru-buru menyembunyikan dompetnya dibawah kolong meja dan segera berdiri ke sebelah Gaara yang baru pulang dari luar negeri untuk kerjaannya. "Kau lapar? Aku tidak masak apapun hari ini."

"Tidak. Aku sudah makan dengan Temari sebelum kesini. Ada apa?" Gaara menatap wajah Hinata yang berusaha agar Gaara tidak melihat tingkah lakunya yang aneh.

"Baguslah, kalau begitu aku tidur dulu." Hinata tersenyum tipis dan segera memasuki kamarnya.

"Ada apa dengannya?"

Hinata memegangi perutnya dari balik pintu. Rasa lapar yang tidak tertahankan ternyata cukup membuat nyeri bagian perut kecilnya itu. Bohong jika dibilang Hinata makan teratur. Sayangnya, Hinata tidak pernah meminta Gaara uang secara cuma-cuma sehingga Ia menggunakan uangnya sendiri untuk makan dan lainnya. Membuatnya kadang sengsara sesekali.

"Lusa natal. Aku harus segera membeli kue." Pikir Hinata lemas. Ia lalu segera menjatuhkan badannya diatas kasur memikirkan bahwa besok masih banyak hal yang harus dilakukan.


"Hi-na-ta! Selamat pagi!" Ino menyapa temannya itu kencang.

"Ah, selamat pagi.." Hinata yang sedang merapikan dokumen lalu segera berjalan ke arah koridor tengah menemani Ino.

"Hm? Kau kenapa? Wajahmu pucat." Ino menempelkan tangannya diatas kening Hinata dan segera melepaskannya spontan. "Ya ampun, Hinata! Kau panas sekali badannya. Cepat ke RS!"

"Tidak usah..." Hinata menjawabnya lemas. Suaranya tampak sumbang dengan mata sayu terlihat diwajahnya yang putih pucat saat itu. "Aku baik-baik sa-"

BRUK

Tanpa Ino sadari, tiba-tiba Hinata tersungkur jatuh diatas lantai koridor dengan sukses. Segera Ino langsung melihat keadaan sahabatnya yang satu itu. "Hinata! Ya tuhan, sudah kubilang kau demam! Hinata, bangunlah!"

"Ino? Ada apa dengan Hinata?" Tenten yang baru keluar dari kamar mandi segera mendatangi Ino dan membantu Ino membangunkan Hinata.

"Dia pingsan. Suhu tubuhnya terlalu tinggi." Jelas Ino saat mengecek lagi suhu tubuh Hinata dengan telapak tangannya.

"Ayo bawa ke RS sekarang. Aku akan membantumu Ino." Tenten lalu segera menopang tubuh Hinata bersama Ino dan Tenten.


TOK

TOK

Temari membuka pintu di tengah koridor lantai 6. Terlihat beberapa kumpulan orang yang sedang tampak fokus berbicara di lingkaran meja bundar didepan mereka. Temari selaku sekertaris Gaara, segera menghampiri adik sekaligus bos-nya itu.

"Temari? Untuk apa kau kemari? Aku sedang rapat." Bisik Gaara saat Temari mendekat.

"Maaf mengganggu. Tapi ini hal yang cukup penting. Istrimu pingsan dan dibawa ke RS. Tidak berbahaya, tapi setidaknya aku ingin kau mengetahuinya. Bagaimana, presdir?" Ujar Temari formal berbisik ditelinga Gaara.

Mendengar hal itu, sontak Gaara segera bangkit dari duduknya dan keluar. "Maaf, Temari. Rapatnya aku serahkan padamu dan wakil presdir."

"Ga-Gaara-sama!" Seru Kankurou selaku wakil presdir yang juga merupakan kakak dari Gaara.

"Sudahlah, kankurou."


Hinata masih tertidur lelap setelah sampai di RS. Wajahnya tampak pucat dengan infus yang menyambung di lengannya.

"Aduh, Ino. Apa kita harus menghubungi keluarganya?" Ucap Tenten di depan ruangan Hinata duduk bersama Ino disebelahnya.

"Aku tidak tahu kontak keluarganya. Kalau kita pergi, tak ada penjamin. Sudahlah, tunggu saja sampai dia bangun." Ino tersenyum tipis sambil tetap memainkan permainan di ponselnya.

Selagi mereka berdua sibuk mengobrol, tiba-tiba terdengar suara tapak kaki berlari ke arah mereka. Tenten yang menyadarinya segera melihat ke sumber suara dan langsung berdiri.

"D-Direktur?!" Tenten menatap Presdir mereka yang tampak lelah setelah berlari itu sedang berdiri di hadapannya, begitu pula dengan Ino yang ikut berdiri.

"Ah, kalian dari divisi yang sama dengan Hinata." Ingat Gaara seraya melepas mantelnya. Tenten dan Ino segera mengangguk cepat.

"Selamat pagi, Direktur. Maaf kalau tidak sopan, tapi.. Apa direktur juga punya kenalan sedang dirawat disini?" Tanya Ino penasaran melihat Direktur yang bahkan hanya bisa ditemui jika sedang pesta atau kebetulan yang mustahil.

"Eh? kalian temannya? Hinata."

Mata kedua gadis itu langsung membulat mendengar nama Hinata di ucapkan langsung dari Direktur idamannya itu.

"I-Iya.. Memangnya Hinata kerabat direktur?" Tanya Ino ragu-ragu. Kedua gadis itu menatap Gaara penuh seksama menunggu jawaban yang akan terlontar dari bibir lelaki itu.

"Ah, begitulah." Gaara menjawab seadanya. Sedikit malas ditanyai lagi oleh bawahannya itu. Ino dan Tenten hanya terkaget-kaget mengetahui ucapan Gaara yang tidak akurat itu.

"Baiklah, kami permisi kembali ke perusahaan, direktur. Sampai jumpa."

Ino dan Tenten segera pamit dan bergegas meninggalkan Gaara sendiri di depan kamar rawat Hinata. Ia lalu membuka pintu dihadapannya dan langsung melihat Hinata sedang di infus dan tertidur lelap. Buru-buru Gaara mendekatinya dan duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah kasur Hinata.

Gaara memperhatikan wajah pucat Hinata yang terlihat lemah itu. Tidak pernah Gaara bayangkan gadis yang biasanya selalu tampak tidak pernah lelah itu kini terbaring lemah di hadapannya. Gaara menaruh dua jarinya diatas kening Hinata dan menyibakkan poni yang menutup mata gadis itu. Dilihatnya dengan jelas sekarang wajah Hinata.

"Permisi." Gaara menoleh kesampingnya dan melihat seorang suster cantik berdiri masuk kedalam ruangan tersebut. "Sudah lama anda tidak kemari, Gaara-san."

"Sakura.." Gaara menatap gadis berambut merah jambu itu datar. "Kenapa kau disini?"

Gadis itu hanya tersenyum tipis dan berjalan menuju samping kasur tempat Hinata berada. Tepat disamping Gaara.

"Aku meneleponmu waktu itu. Padahal kau bilang setuju, tapi malah tidak datang." Gerutunya sambil memajukan bibirnya.

"Matsuri meneleponku setelahnya untuk menyerahkan dokumen." Jawab Gaara pelan. Lagi-lagi Sakura kembali tersenyum dan menatap Gaara.

"Ngomong-ngomong, siapa gadis ini? Kerabatmu?" Sakura melihat wajah Hinata yang masih pulas tertidur.

"Kau mendengarnya?" Gaara menatap wajah Sakura sinis. "Tidak sopan."

"Aku tidak mencuri dengar! Aku berada di kamar pasien sebelah, dan tidak sengaja mendengarnya."

Gaara meneliti wajah Sakura. Memastikan bahwa gadis itu tidak berkata dusta. "Hm.. Dia bukan kerabatku."

"Eh? Pantas saja. Dia tidak mirip denganmu." Sakura tertawa hampir tak terdengar.

"Tentu saja. Dia Istriku." Ujar Gaara mantap tanpa ada tekanan sedikitpun. Sakura sendiri yang mendengarnya langsung membuka matanya lebar.

"I-Istrimu? Kau..sudah menikah?" Sakura menatap Gaara ragu-ragu. Berharap bahwa pernyataan itu adalah bohong.

"Hm.. Begitulah."

Sakura segera menatap Gaara tampak tidak percaya. "Begitu, baiklah.. Aku permisi dulu." Gadis itu segera keluar dari ruangan Hinata dan menutup pintu dengan secepat mungkin.

Mengalihkan pikirannya dari gadis tadi, Gaara membuka ponselnya dan menekan tombol-tombol diatasnya.

"Temari, aku tidak pulang ke kantor hari ini. Tolong bereskan negosiasi itu dengan wakil presdir."

"Aku mengerti." Temari menjawabnya paham dan segera mematikan sambungan teleponnya.

"Ga-Gaara-kun?" Tiba-tiba Hinata yang sedari tadi masih menutup matanya, segera terbangun dan berusaha untuk bangkit. Terlihat hari sudah malam saat Hinata menatap jam dinding menunjukkan pukul 9 malam.

"Hinata.." Dengan sigap Gaara membantu Hinata untuk bangun dan terduduk diatas kasur. "Bagaimana keadaanmu?"

"Maaf. Aku merepotkanmu." Hinata menundukkan kepalanya yang masih terasa pusing.

"Jadi, apa alasannya hingga kau bisa ambruk?" Ujar Gaara langsung ke pokok permasalahannya.

"Ng.. Maaf. Aku..aku..Maaf." Hinata memalingkan wajahnya. Mana mungkin Hinata membocorkan bahwa Ia tidak sempat istirahat dan makan demi kerja lembur untuk dapat membeli barang-barang natal serta memberi uang ke keluarganya? Itu akan memalukan sekali.

Gaara mengehela nafasnya panjang dan menepuk-nepuk kepala Hinata pelan. "Kenapa kau tidak katakan padaku kalau kau butuh uang tambahan?"

"Eh!? Ke-kenapa.." Hinata menatap wajah Gaara kaget. Bingung mengapa Gaara seakan dapat membaca isi hatinya.

"Aku dengar dari atasanmu kau selalu meminta lembur. Selain itu, kita bekerja di satu tempat, dan aku adalah direkturmu yang selalu bisa kapan saja mengkontrol hal-hal yang dilakukan karyawan dikantorku." Gaara menjelaskannya detail. "Maaf. Sebagai suami aku gagal."

"Bukan! Bukan begitu.." Hinata menggeleng pelan. "Aku butuh uang untuk kepuasanku sendiri. Jadi.. Gaara-kun tidak perlu merasa tidak enak."

"Iya, tapi seharusnya dalam hal keuangan apapun bentuknya, itu tanggung jawabku." Gaara tersenyum tipis dan berdiri dari duduknya diatas pinggir kasur itu. "Mulai hari ini, berhentilah bekerja. Aku yang akan memberimu uang tanpa kau perlu mengeluarkan tenagamu."

"Tidak bisa! Aku perlu untuk keluargaku.. Jadi, aku harus tetap bekerja." Hinata menatap Gaara penuh harap.

"Kenapa? Kau meragukan keuanganku!?" Seru Gaara sedikit jengkel.

"Bukan begitu..."

"Kalau begitu, berhentilah bekerja." Gaara menatap Hinata egois.

"Aku tidak bisa! Aku harus tetap bekerja!" Seru Hinata tidak mau kalah. Gaara yang mendengarnya hanya menatap Hinata kesal dan segera keluar dari ruangan tersebut.

"Terserah padamu-lah!"

Pintu ruangan itu segera dibanting Gaara kencang. Hinata sendiri hanya kembali diam. Masih tidak terima untuk berhenti dari pekerjaannya. Ia melihat ke arah jendela di sebelah kasurnya.

"Salju..."

Hinata segera melihat arah kalender yang terpampang didinding ruang pasien itu.

"Malam natal.."


Gaara menghipas putung rokoknya di luar gedung Rumah Sakit. Ia duduk di bangku taman Rumah Sakit sendirian. Salju sudah menumpuk di pundaknya. Jas nya tampak sudah tidak rapih lagi.

"Gaara-san!Ehm... Ga-Gaara-kun!"

Hinata berseru kencang seraya berjalan menuju ke arah Gaara.

"Hinata! Sedang apa kau disini!?" Gaara segera mematikan putung rokoknya dan berlari ke arah Hinata.

"Maaf.. Aku ingin bilang padamu." Hinata menarik lengan kemeja Gaara erat.

"Ada apa? Di tengah salju begini, kenapa kau malah keluar?" Gaara menatap Hinata bingung.

"Selamat Natal! Sekarang jam 12 malam, Gaara-kun!" Hinata tersenyum lebar tanpa peduli salju sudah menumpuk di tubuhnya.

Gaara yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan menghela nafasnya. Tiba-tiba Gaara teringat ucapan Hinata di Restoran tempo lalu untuk berjanji akan mengadakan natal bersama. "Bodoh. Kau benar-benar menepati janjimu, ya?"

"Maaf, harusnya kita merayakannya di rumah." Hinata menatap langit-langit yang turun salju dengan indahnya sedih.

"Tidak apa, kita bisa melakukannya saat pulang." Gaara melepas jas nya dan menutupi tubuh Hinata dengan membalut jas hitam miliknya itu. "Terimakasih."

"Gaara-kun.. Mengenai pembicaraan tadi. Aku akan keluar dari perusahaan." Hinata tersenyum simpul seraya menatap mata Gaara.

"Sungguh?"

"Ya. Aku sudah memikirkannya."

"Sudahlah. Kau tetap bisa bekerja. Aku tidak mau dianggap suami ditaktor yang melarangmu melakukan apapun."

Gaara lalu tersenyum tipis dan memeluk Hinata erat. "Ternyata benar."

"Eh?" Hinata memandang wajah Gaara diatas kepalanya malu-malu merasakan tindakan Gaara yang tidak seperti biasanya itu.

"Kau kurusan. Aku mulai menyadarinya dari minggu lalu terurtama saat kembali ke rumah. Tapi saat memelukmu, semakin terasa perbedaannya." Gaara memeluk tubuh Hinata semakin erat. Hinata sendiri hanya bisa diam diperlakukan hal seperti itu pertamakali dengan Gaara.

"Ternyata..Gaara-kun memperhatikanku?" Malu-malu Hinata bertanya seraya tetap menyembunyikan wajahnya didada Gaara.

"Tentu saja. Tiap hari kita bertemu. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya." Gaara lalu melonggarkan pelukannya. "Hinata, dengar aku!"

"I-Iya!" Hinata memandang mata hijau Gaara dengan wajahnya yang masih bersemu merah.

"Kalau butuh uang, katakan padaku!"

"I-Iya!"

"Aku mengizinkanmu bekerja, tapi jika kau ambruk lagi, aku akan minta kau berhenti saat itu juga!"

"Iya!"

"Lalu, aku tidak mengizinkanmu pergi tanpa seizinku!"

"Iya!"

Hinata menatap wajah egois Gaara. Bukannya sebal, Ia malah senang dengan perkataan Gaara saat itu.

"Kenapa?" Gaara menatap Hinata bingung.

"Tidak. Terimakasih."

"Sudahlah, cepat masuk ke kamarmu! Aku akan menemanimu sampai kau tidur." Lengan Hinata lalu ditarik pelan oleh Gaara memasuki kembali gedung Rumah Sakit.

"Eh? Kenapa?"

"Hari ini malam natal, kan? Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri." Gaara menatap Hinata balik di belakangnya.

Mendengar hal itu wajah Hinata lagi-lagi tambah memerah. Tampaknya demamnya lagi-lagi mulai menyerangnya. Tapi entah mengapa kali ini Hinata tidak benci dengan panas di tubuhnya kali ini.


"Aku.. Pulang." Ujar Hinata saat memasuki apartemen yang Ia tinggali bersama Gaara.

"Kau bisa istirahat dulu." Gaara yang berdiri di belakangnya segera masuk seraya membawa barang-barang Hinata kedalam ruangannya. Karena hari ini adalah hari libur nasional, Gaara mendapat cuti satu hari bersama Hinata. Dan hari ini adalah hari Natal.

"Gaara-kun, apa hari ini kau pergi?" Tanya Hinata ragu-ragu.

"Tidak. Aku mendapat cuti libur nasional." Gaara tampak sibuk dengan barang-barang Hinata yang ingin Ia taruh di kamar Istrinya itu. "Kenapa? Kau mau pergi?"

"Bukan." Hinata menggelengkan kepalanya lega. Ia merasa senang mendengar Gaara akan dirumah seharian. Ini akan jadi kali pertamanya mereka menghabiskan waktu dirumah bersama. Dan yang penting adalah, hari ini hari Natal.

Persiapan Hinata untuk Natal percuma. Barang-barang yang ia beli ia minta Hanabi mengambilnya di hari saat Hinata di RS. Hinata berharap dirumah keluarganya memiliki suasana natal. Tetapi hal itu membuat rumahnya tidak memiliki suasana natal sedikitpun.

"Ada apa? Kau menginginkan sesuatu?"

"Hm.. Aku ingin.." Hinata menatap Gaara sedikit malu-malu. "Kau dirumah seharian ini."

Gaara menatap Hinata sedikit kaget. Baru pertama kali Hinata yang biasanya malu-malu seberani ini. Setelah menaruh tas Hinata di atas bangku, Gaara segera mengangguk. "Ah, baiklah."

"Benarkah?"

"Ya, aku juga tidak ada janji dengan siapapun hari ini." Gaara mengecek papan yang berisi daftar-daftar janjinya yang ia taruh diruang tamu itu.

Hinata segera tersenyum simpul. Hatinya sedikit berdegup pelan. Hinata tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Ia kadang berfikir apa yang Gaara rasakan padanya sekarang?. Berharap bahwa Gaara tidak hanya menganggap dirinya angin lalu.

"Hinata, aku akan beli makan." Gaara mengambil kunci mobilnya. "Kau mau apa?"

"Eh? A-aku bisa masak!" Hinata menggeleng cepat.

"Kau baru sembuh. Lebih praktis kalau aku beli sekarang." Gaara menatap Hinata bingung. "Aku berangkat dulu."

"Jangan!" Tiba-tiba Hinata berseru kencang. Ia buru-buru menutup mulutnya, kaget dengan apa yang ia lakukan.

"Hinata? Ada apa?" Gaara sekali lagi menatap Hinata bingung. Ada rasa cemas dalam hatinya melihat Hinata tidak seperti biasanya.

"A-ah.. Ano.. Habis, kalau kau keluar dari sini.. Itu artinya tidak akan menjadi 'seharian' bersamamu.. Kan?" Hinata mengucapkannya tergagap. Wajahnya yang sudah semerah apel tidak dapat terbendung lagi.

Gaara sedikit kaget dengan ucapan Hinata saat itu. Tapi hal itu membuat Gaara senang dengan kejujuran gadis bermata indigo pucat itu.

Perlahan Gaara menghampiri Hinata dengan mengelus lembut kepala Hinata. "Baiklah. Aku tidak akan kemana-mana."

"Kalau begitu, aku akan membuat makanan dulu untuk pagi ini!"


Sudah jam 12 siang lewat tapi Gaara dan Hinata tidak melakukan apapun. Mereka hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Gaara dan Hinata hanya menonton tv bersama saat itu. Tidak ada yang bicara satupun. Hinata sendiri lumayan sibuk mengamati jalan cerita film yang sedang mereka tonton.

"Hinata, kau bosan?" Gaara mulai membuka suaranya.

"Unn.. Tidak, lumayan menarik kok." Jawab Hinata lugu.

"Bu-bukan filmnya maksudku." Gaara menatap Hinata yang masih asik melihat layar di depannya. "Hinata.. Aku ingin bertanya padamu."

"Eh? Apa?" Hinata tiba-tiba segera tidak terfokus lagi pada filmnya. Ia mulai tertarik mendengar perkataan Gaara.

"Kalau.." Wajah Gaara mulai berubah menjadi serius. Membuat Hinata semakin membuka telinganya. "Kita tidak menikah, bagaimana?"

Mata Hinata tiba-tiba terbuka lebar. Hatinya sedikit ciut mendengar perkataan Gaara saat itu. Gaara yang berada didekatnya kini terasa begitu jauh bagi Hinata.

"A-apa maksudnya?" Tanya Hinata ragu-ragu.

"Entahlah." Gaara tersenyum tipis. Ia menaruh kepalanya di leher Hinata. "Aku mengantuk, ."

"Gaara-kun.." Hinata dengan perlahan menaruh tangan kanannya diatas kepala Gaara yang masih menyembunyikan wajahnya di tengkuk gadis itu. Dengan pelan Hinata membelai untaian rambut marun Gaara yang halus.

Ia tersenyum kecil merasakan nafas Gaara mulai terimbang. Kepala Gaara yang mulai berat dipundaknya menandakan Gaara tertidur pulas itu tetap ia pertahankan tanpa mengubah posisinya sedikitpun.

"Kau pasti lelah sekali.." Bisik Hinata. Hinata yang duduk disebelah Gaara, mulai menyenderkan punggungnya ke arah sofa. Membiarkan Gaara masih tetap tertidur di pundaknya seraya tetap melingkari lengannya di tubuh Hinata.

Ring..Ring..

"Ah.. Ponsel Gaara-kun.." Hinata melihat ke arah ponsel hitam di sebelahnya. Diambilnya perlahan dan membuka kunci dari ponsel tersebut.

"Telepon.." Hinata melihat layar di ponsel tersebut yang buru-buru mengangkatnya.

"Halo.. Selamat siang." Ucap Hinata ragu-ragu.

"Ah.. Hinata-san?" Jawab si penelepon terdengar kaget.

"Eh? Ano..."

"Maaf. Aku Temari. Apa Gaara bersamamu?" Tanya Temari mulai membuka pembicaraan.

"Te-temari san? Ah, iya. Dia tertidur." Ujar Hinata seraya melirik Gaara disebelahnya.

"Sungguh? Baguslah. Dia tidak tidur selama seminggu ini. Karena itu aku menelepon untuk menyuruhnya istirahat." Jawab Temari lega.

"Se-seminggu?" Tanya Hinata tampak tak percaya.

"Ah.. Benar juga. Kalian tidak tidur bersama, ya?" Ucap Temari mengingat pernikahan Gaara dan Hinata bukanlah kemauan dari kedua orang tersebut. "Kau pasti mengira Gaara akan langsung tidur saat masuk kamarnya. Tapi, sebenarnya anak itu kembali lagi mengerjakan tugas perusahaan di kamarnya hingga pagi lagi. Karena itu dia tidak sempat tidur."

"Ke-kenapa tidak anda nasehati, Temari-san?" Tanya Hinata pelan berusaha tidak membangunkan Gaara.

"Tidak mungkin. Dia keras kepala." Temari tertawa kecil. "Kenapa bukan kamu saja?"

"Eh!? Ma-mana mungkin.." Hinata menggeleng cepat.

"Kenapa tidak? Kau istrinya. Kau berhak untuk minta untuk bisa berada di satu kamar." Temari tersenyum simpul di balik telepon. Tampak senang mendengar Hinata yang langsung grogi.

"Ah.. A-aku.."

"Ya. Coba saja. Aku harus pergi, Hinata. Sampai jumpa!" Temari tiba-tiba menutup teleponnya dan membiarkan Hinata yang masih terus berfikir akan hal itu.

"H-hak..ku?" Bisik Hinata malu-malu. Ia menatap Gaara yang berada disebelah kanannya. Memang Hinata mulai menyukai laki laki disebelahnya ini. Tapi, jika Gaara menolak nasehatnya, sudah pasti hati Hinata akan sakit sekali.

"Kenapa?" Mata Gaara tiba-tiba mulai terbuka. Ia menatap wajah Hinata diatas kepalanya tampak kebingungan.

"Ga-Gaara-kun!"

"Hm? Ada apa?" Gaara mulai bangun dan segera kembali menyenderkan kepalanya di sofa.

"A-anu.. Hm.."

"Katakanlah." Ucap Gaara tenang.

"Bagaimana kalau kita tidur bersama!?" Seru Hinata membuat mata Gaara langsung terjolak kaget. Hinata sendiri yang wajahnya sudah memerah segera menggeleng cepat. "Ah.. Bukan.. Maksudku..tidur di kamar yang s-sama."

Gaara sedikit tersenyum melihat Hinata yang sudah gelagapan mencari alasan.

"Tidak."

"E-eh? Ke-kenapa?" Tanya Hinata bingung. Hatinya sedikit sedih sekaligus lega mendengar jawaban Gaara saat itu.

"Itu pasti suruhan Temari, 'kan?" Tebak Gaara tepat. Hinata segera menggelengkan kepalanya berusaha berbohong.

"Ti-tidak, sungguh!" Hinata menatap Gaara ragu.

"Oya? Kalau begitu.."

Gaara mulai mendekatkan kepalanya ke arah wajah Hinata. Jarak 1cm diantara mereka membuat Hinata berusaha menahan nafasnya.

"Kau siap setiap terbangun wajah kita berdekatan seperti ini?" Tanya Gaara seraya tersenyum tipis. Matanya terus menatap mata Hinata yang mulai membulat.

"Eh.. Aku.."

"Kalau kau tidak siap dengan hal itu, hentikan saja. Jangan memaksakan diri."

"Bukan! Aku khawatir dengan kesehatanmu!" Ujar Hinata jujur.

"Hm.. Lalu kenapa kita harus tidur bersama?" Tanya Gaara masuk akal.

"I-itu.. Mungkin dengan begitu aku bisa menasehatimu jika kau tidur terlalu larut.. Mungkin.." Hinata menundukkan wajahnya perlahan.

Gaara memandang Hinata serius. Ia menghampiri Hinata dan segera menarik lengan Hinata menuju kamarnya.

"Masuklah, mulai hari ini kau bisa tidur disini." Ujar Gaara saat memasuki kamarnya yang berukuran lebih luas daripada milik Hinata.

"E-eh..tapi.."

"Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku punya banyak hal lain yang penting dibanding memikirkan hal mesum seperti itu." Jelas Gaara seraya merapihkan barang-barang diatas kasurnya.

"Ah.. Apa itu artinya, aku boleh menaruh barang-barangku juga?" Tanya Hinata memastikan seraya memutar bola matanya mengitari kamar yang 2 kali lipat lebih luas dari kamar miliknya.

"Ah, bawa seluruhnya. Kau bisa bawa atau mengubah kamar ini. Sesukamu. Toh, ini kamarmu juga sekarang." Gaara memandang Hinata yang masih terpaku dihadapannya.

"Hm.. Te-terimakasih." Ujar Hinata malu-malu.

Mendengar ucapan Hinata, Gaara segera mengangguk cepat. "Yah.."

Hinata lagi-lagi melihat Gaara yang sibuk membereskan barangnya. Pikirannya terus melaju memikirkan bagaimana wajahnya nanti malam saat tertidur.


Tadi malam adalah malam pertama bagi Hinata tidur bersama Gaara di kamar yang menjadi milik mereka berdua sejak kemarin itu. Memang bukan pertama kali Hinata tidur bersama Gaara, mengingat mereka pernah tidur berdua saat Gaara menginap dirumah Hinata.

Tapi, entah mengapa Hinata merasa lebih grogi tadi malam. Berbeda dengan Gaara yang segera tertidur di sebelah Hinata pulas.

Berusaha fokus pada pekerjaannya, Hinata langsung menatap layar komputer di hadapannya, sampai akhirnya terdengar teriakan dua wanita di belakangnya.

"Hinataaa!" Seru dua wanita dibelakangnya dengan nada yang selaras.

"Eh..I-ino-san.. Tenten-san..ada apa?" Tanya Hinata takut melihat wajah kedua temannya itu tampak seram.

"Ceritakan pada kami hubunganmu dengan presdir!" Seru Ino pelan.

Hinata langsung melebarkan matanya mendengar hal itu. Seingatnya, Hinata tidak pernah menyinggung tentang Gaara. Sama sekali tidak.

"A-apa maksud kalian?"

"Jangan pura-pura, Hinata. Saat kau dirawat di RS, presdir kita datang dan bilang mau menjengukmu!" Lanjut Tenten sekarang yang memojokkan Hinata.

Hinata mulai mati kutu. Benar saat terbangun, ada Gaara disampingnya. Tapi, dia sama sekali tidak tahu apa yang Gaara katakan pada dua temannya. Salah bicara sedikit bisa jadi petaka baginya.

"A-anu..."

"Hmmm?" Dua wanita cantik itu menatap Hinata bersamaan. Tidak peduli bahwa jam kantor masih berlaku.

"Hyuuga-san! Sedang apa?" Tiba-tiba datang seorang wanita cantik menuju ke arah mereka.

"Ah.. Te-temari-san.." Bisik Hinata pelan.

"Selamat siang, Hyuuga-san, bisa aku bicara denganmu sebentar?" Sapa Temari sopan. Temari dan Tenten sedikit salah tingkah melihat langsung sekertaris Presdir yang terkenal akan bijaknya itu. "Boleh aku bicara dengannya dulu?"

"Y-ya.. Jangan sungkan." Ujar Tenten. Ino dan Tenten segera kembali ke meja kerja mereka berdua sambil mata kedua gadis itu mengawasi Hinata keluar dari ruangan kantor bersama Temari.

"Te-temari-san, ada apa?" Tanya Hinata bingung. Ia melihat sekelilingnya bingung. Sebuah ruangan kosong yang hanya berisi sebuah rak besar dengan buku-buku tebal didalamnya.

"Yah.. Sebenarnya Gaara melarangku memberitahu siapapun, tapi aku ingin memberitahu padamu selaku istrinya.. Ehm, Ayah Gaara memintamu dan Gaara untuk datang saat tahun baru." Jelas Temari pelan.

"Eh? Ta-tapi tadi malam dia tidak memberitahukannya dan langsung tertidur pulas." Hinata membuka kembali memorinya akan kejadian semalam.

"Benarkah? Jadi kalian mulai tidur bersama?" Ujar Temari penasaran. Wajah Hinata segera merona merah. Ia mengangguk pelan. "Waaah! Akhirnya kau mengatakannya!"

"Bu-bukan hal besar, Temari-san!" Hinata berseru pelan.

"Ini bahan yang bagus untukku." Bisik Temari jahil. "Hinata, kau tunggu disini! Malam ini dia sudah selesai lebih cepat! Aku akan memanggil dia dulu! Tunggu aku disini saja." Pinta Temari bersemangat.

Mau tak mau,Hinata segera menuruti permintaan kakak iparnya yang satu itu. Setelah Temari keluar, Hinata tinggal sendiri di sebuah ruangan kosong itu.

Ia duduk diatas lantai. Tidak ada bangku atau apapun. Hanya rak kayu dan beberapa bangku yang tertata rapih.

Terdengar suara gerimis hujan dari luar yang semakin lama mulai membesar menandakan hujan mulai deras. Hinata yang masih duduk diatas bangku tampak mulai takut. Dengan cepat Ia segera menuju ke arah pintu untuk membukanya.

"Ke-kenapa tidak bisa terbuka?" Hinata menatap pegangan pintu besi itu bingung. Tak ada lubang kunci ditengahnya, lantas apa yang membuat pintu itu tidak bisa terbuka? Dengan teliti Hinata mengamati dan menemukan sebuah tombol-tombol di papan besi tepat sebelah pintu itu.

"Mesin kode.. Apa kodenya?" Tanya Hinata dalam hati. Belum sempat Hinata menekan tombolnya, tiba-tiba terdengar suara petir kencang yang diikuti dengan padamnya listrik.

Tidak dapat melihat apapun karena lampu mati serta tidak ada jendela diruangan itu membuat Hinata segera berteriak kencang, membuat karyawan diluar segera keluar menuju depan ruangan tersebut.

"Tidak! Nyalakan lampunya! Kumohon!" Seru Hinata kencang. Matanya tertutup rapat dan telinganya ia tutup sekencang mungkin dengan kedua tangannya. Hinata terus berteriak mendengar petir dengan asiknya menunjukkan gemuruhnya dahsyat.

"Hinata!? Kau didalam!?" Seru Ino dari luar pintu kencang. Wajahnya tampak khawatir mendengar teriakan Hinata yang menggema.

"Ino-san! Tolong.. Nyalakan lampunya!" Seru Hinata lagi. Dadanya naik turun dengan nafas tersenggal-senggal. Hinata berusaha mengontrol dirinya ditengah kegelapan yang menyelimutinya.

"Hinata! Petir tadi merusak aliran listrik perusahan ini! Bersabarlah!" Ujar Ino lagi tidak tenang. Para karyawan lainnya ikut berkumpul mendengar Hinata lagi-lagi berteriak histeris.

"Hi-Hinata! Kau dengar kami, kan?" Tenten mulai membuka suaranya. Tak ada jawaban dari gadis bermata indigo itu. Dia tetap sibuk berteriak diikuti suara jatuhnya barang yang saat itu gelap gulita bertambah seram dengan teriakan Hinata.

"Hinata! Jawab aku!" Seru Ino tambah cemas mendengar barang-barang mulai berjatuhan dari dalam ruangan.

"Hinata!" Tiba-tiba Gaara yang baru datang seraya berlari segera menuju kedepan pintu. Ia langsung dengan segera berusaha membuka pintu tersebut.

"P-presdir.." Ino dan Tenten memandang Gaara bingung. Baru pertama kali mereka melihat direktur sekaligus pemilik perusahaan itu seperti yang mereka lihat saat ini.

"Percuma, Gaara! Pintu ini hanya bisa dibuka dengan kode. Tapi, aliran listrik padam, dan kita tidak bisa menyalakannya!" Jelas Temari sembari menahan tangan Gaara.

"Bukan berarti pintu ini tidak bisa dibuka paksa, kan?" Gaara menatap Temari tajam.

"Tidak! Lepaskan aku!" Hinata lagi-lagi berteriak kencang. Keringat sudah membasahi tubuhnya. Entah setan apa yang merasuki Hinata tapi teriakannya terus bergema diruangan itu.

"Hinata! Dengarkan aku!" Gaara berseru kencang ke arah pintu itu.

Mendengar suara Gaara, Hinata mulai berhenti berteriak. Tubuhnya masih lemas dengan nafas yang tidak terkontrol. Hinata dengan cepat berjalan ke arah pintu dan menempelkan tubuhnya. "Ga-Gaara-kun?"

Lega mendengar jawaban Hinata, Gaara kembali membuka mulutnya. "Menjauhlah dari pintu, aku akan membukanya."

"Gaara! Ini pintu besi! Kau gila?" Seru Temari kencang.

Ino dan Tenten serta karyawan yang lain masih tetap bingung dengan keadaan ini. Mereka tetap berwajah semu melihat atasannya tampak kesal.

"P-presdir.. Kau bisa terluka." Ujar Ino melihat Gaara di depannya.

"Apa salahnya aku terluka demi menolong Istriku sendiri?" Gaara lalu membuka jas Hitamnya dan melemparnya kelantai. Ia menghiraukan para karyawan yang terkejut akan kenyataan yang baru didengarnya beberapa detik lalu.

Petir lagi-lagi menyambar kencang. Suara bergemuruh itu membuat Hinata lagi-lagi kehilangan pikirannya yang mulai tenang dan kembali berteriak semakin kencang.

"Aaaah! Hentikan! Jangan lukai aku!" Seru Hinata membuat Gaara segera menjatuhkan tubuhnya ke arah pintu.

"Hinata! Jangan layangkan pikiranmu! Dengarkan suaraku!" Seru Gaara disela-sela usahanya. Tak ada jawaban dari Hinata yang masih sibuk berteriak nyaring.

Temari melihat Gaara tampak khawatir. Gaara terus berusaha mendobrak pintu tersebut dengan punggungnya sendiri.

Tampak dengan jelas bahwa mendorong diri sendiri kearah sebuah pintu besi tidak semudah yang kau bayangkan. Rasa sakitnya bisa berpuluh kali lipat dibandingnya dengan pintu kayu. Dan itulah yang terlihat dimata Temari.

"Hinata! Aku tidak akan melukaimu, sadarlah!" Seru Gaara lagi berusaha agar Hinata tidak lepas kontrol didalam ruangan tanpa cahaya itu.

"Presdir.." Ino menatap Gaara sedih. Dirasakannya betapa sakit punggung Gaara saat itu mendobrak sebuah pintu besi hanya dengan dibalut sebuah kemeja putih yang tebalnya tidak seberapa.

"Hinata.. Hinata!" Gaara terus berusaha melemparkan tubuhnya kearah pintu sekeras mungkin. Sakit yang Ia rasakan hilang begitu saja saat medengar Hinata kembali berteriak histeris. Hal itu malah membuatnya semakin semangat mendobrak pintu itu meski punggung serta pundaknya sudah memar kebiruan.

Pintu besi itu lalu mulai bergerak, menyatakan bahwa kunci didalamnya sudah mulai rusak. Gaara mulai lega melihat hal itu dan terus berusaha lebih keras lagi.

"D-dia monster.." Ujar salah satu karyawan yang ikut berkumpul. Tampak ketakutan dimata para karyawan lainnya melihat Gaara hampir berhasil membuka pintu besi yang hampir mustahil dibuka dengan tangan kosong itu. Berbeda dengan Temari. Ia tampak tenang melihat hal itu.

"Gaara.. Ini pertama kalinya kau menggunakan kekuatanmu lagi setelah terakhir kali kau melakukannya di Sekolah.." Bisik Temari dalam hati seraya tersenyum tipis.

Gaara lalu dengan cepat mendobrak pintunya kencang dan dengan sukses, kunci didalam pintu itu hancur dan membuka pintu besi itu perlahan.

Tanpa basa-basi, Gaara segera memasuki ruangan itu dan menemukan ruangan itu sudah berantakan. Rak kayu yang terpampang rapih, patah berserakkan. Bangku-bangku yang tersusun sudah hancur dilantai. Dan Hinata sudah kehilangan kesadarannya di lantai.

Tubuhnya terdapat penuh goresan dan luka-luka yang cukup dalam. Membuat tubuhnya berlumur darah segar. Gaara yang melihatnya segera mengangkat Hinata dan memeluknya erat.

"Kenapa kau begini, Hinata.." Bisiknya. Tenggorokan Gaara tampak terkunci melihat tubuh Hinata. Ia memendamkan kepalanya di pundak Hinata.

"Jangan menangis, Gaara." Temari yang memasuki ruangan itu menepuk pundak Gaara yang langsung ia tepis cepat.

"Aku tidak akan menangis dihadapanmu." Gaara lalu mengangkat tubuh Hinata di kedua lengannya dan segera keluar dari ruangan itu. Para karyawan yang berada di luar langsung melebarkan mata mereka melihat keadaan Hinata saat itu.

"Hinata! P-presdir, apa dia baik-baik saja?" Ujar Ino cemas. Matanya terus menahan air mata yang hampir terjatuh melihat keadaan sahabatnya seperti itu.

"Dia akan baik-baik saja. Ino, mau kau membantuku? Katakan pada karyawan disini untuk tidak menyebarkan kejadian ini pada divisi yang lain." Pinta Gaara serius.

"Percayakan padaku, presdir!" Ino menjawabnya mantap.

Gaara lalu kembali berjalan dan segera memasuki mobilnya bersama Hinata menuju RS. Kepalanya masih terus berfikir.

'Kira-kira kejadian apa yang bisa membuat Hinata begini?'


Tubuh Gaara yang lebam akan kejadian tadi, dibalut rapih dengan perban. Ia melihat kearah kaca, pundak serta punggungnya tampak kaku untuk digerakan. Tapi semua itu menghilang ketika melihat Hinata yang berada di atas kasur disebuah kamar rawat. Gaara lalu mengenakan kemejanya dan duduk disebelah Hinata.

Diamatinya Hinata yang masih terkulai lemas. Tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian, dibalut dengan perban penuh seperti mumi. Hanya wajah cantiknya yang tidak terluka sedikitpun. Masih tetap bersih tak ada goresan sedikitpun, membuat Gaara bersyukur karenanya.

"Yo! Sudah lama tak bertemu, saat bertemu keadanmu malah seperti ini." Seorang dokter memasuki kamar rawat itu dan menatap Gaara seraya tersenyum tipis.

"Shikamaru.." Gaara menatap lelaki berkuncir itu datar.

"Kenapa lukamu? Berkelahi lagi? Ini bukan di masa Sekolah lagi, Gaara!" Shikamaru tertawa kecil. Mengingat bahwa teman satu kelasnya dulu dibangku Sekolah menengah atas ini sangat sering berkelahi.

"Bukan. Aku tidak akan melakukan hal konyol itu." Gaara membuang mukanya tampak tak ingin membuka masa lalu. Ia kembali menatap Hinata.

"Wanita ini Istrimu, kan?" Shikamaru kembali menatap Gaara.

"Ya..begitulah." Gaara melihat Shikamaru yang menahan tawanya.

"Ini pertama kalinya kau berbuat begini demi seorang wanita." Shikamaru lalu ikut duduk di kursi tepat sebelah Gaara.

"Toh dia istriku." Gaara menatap Shikamaru datar. "Untuk apa kau kemari?"

"Kenapa? Aku dokter disini. Aku bebas melihat pasienku." Shikamaru tersenyum simpul tak peduli tatapan Gaara yang mulai jengkel karena jawabannya.

"Kapan dia bisa pulang?" Tanya Gaara mengubah topik.

"Ah, dilihat dari kondisinya, sekitar 3-4 minggu lagi. Luka-lukanya cukup dalam." Shikamaru mengecek pergelangan Hinata yang terbalut perban perlahan. "Keadaan jantungnya juga belum stabil."

Gaara memutar bola matanya melihat kembali tubuh Hinata dan dengan segera bangkit dari duduknya. "Shikamaru, hubungi aku jika terjadi sesuatu lagi. Aku harus pergi."

"Heh? Kau yakin membiarkan dia terbangun tanpa dirimu?" Shikamaru memandang Gaara bingung. Gaara hanya mengangguk pelan dan menuju kearah pintu keluar.

"Setidaknya, aku ingin meyakinkan sesuatu. Apa yang terjadi padanya di masa lalu."


Gaara menyetir mobilnya kencang, tak peduli rasa sakit yang menjalar hingga ke kepalanya berkat luka di punggungnya. Yang ada dipikirannya hanya dapat cepat sampai tujuan menuju rumah Hinata. Dengan lihai Gaara mainkan gigi serta setir mobil diikuti iringan gas yang semakin kencang. Sesampainya didepan rumah Hinata, Gaara segera turun dari mobilnya cepat dan membanting pintu mobilnya kencang.

"Nii-san? Kenapa terburu-buru begitu?" Hanabi yang sedang duduk di bangku teras langsung berdiri melihat kakak iparnya berlari kencang ke arah rumahnya.

"Dimana Hiashi-san?" Ucap Gaara sinis.

"D-di.. Ruang tengah." Jawab Hanabi sedikit takut melihat aura Gaara yang tampaknya sedang tidak baik itu.

Tanpa bicara lagi, Gaara membuka pintu rumah itu cepat. Ia segera melangkahkan kakinya cepat membuat lantai rumah yang terbuat dari kayu itu berdecit nyaring. Menemukan pintu dimana ruang tengah itu berada, Gaara segera membukanya dan menemukan Hiashi asik membaca koran di atas sebuah bantalan.

"Gaara?" Hiashi memandang Gaara bingung. Tak pernah Ia lihat wajah Gaara sedingin ini selama mengenal lelaki beramata emerald itu. Tanpa basa-basi Gaara berjalan ke arah Hiashi dan menarik kerah kimono laki-laki yang merupakan mertuanya sendiri. Ia menatap Hiashi tajam tak peduli betapa tak sopannya perlakuannya pada Hiashi.

"Apa yang kau lakukan pada Hinata, dulu!?" Seru Gaara kencang. Hanabi yang melihatnya dari balik pintu segera mengumpat. Takut melihat Gaara dihadapannya itu.

"Apa maksudmu?" Hiashi menatap Gaara lebih tajam. Mata yang sama dengan Hinata itu tak mengubah pandangannya.

"Jawab aku, Hiashi-san!" Gaara kembali berteriak. Hiashi sendiri tampak kehilangan akalnya. Ia segera menepis tangan Gaara dikerahnya dan meninju wajah tampan Gaara kencang hingga membuat Gaara terpental ke arah pintu.

"Berani-beraninya kau melakukan ini padaku. Entah apa yang sabaku itu ajarkan pada penerusnya ini." Hiashi memandang Gaaraa angkuh.

"Kenapa kau melakukan hal itu pada Hinata?" Gaara kembali bangkit dan menghapus darah yang mengalir dipelipis bibirnya dengan kemeja putihnya.

"Kutanya, apa maksudmu, tuan Sabaku!?" Hiashi berdiri dihadapan Gaara tetap mengkontrol emosinya.

"Hinata hampir mati karena trauma dengan masa lalunya. Aku yakin kau salah satu penyebab dari semua itu." Jelas Gaara tetap menatap Hiashi dengan pandangan merendahkan. Hiashi langsung terkaget mendengar ucapan Gaara. Ia menatap Gaara bingung. Pikirannya tidak terkontrol lagi.

Sama dengan Hanabi yang ikut mendengarnya di balik pintu.

"Kenapa!? Apa yang terjadi padanya?" Hiashi sekarang yang mencengkram kerah Gaara balik. Berbeda dari yang Gaara pikirkan. Hiashi tampak jujur saat mendengar pernyataannya.

"Apa? Kau tidak tahu?" Ujar Gaara mulai bingung.

"Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu! Cepat katakan, apa yang terjadi pada anakku!?" Seru Hiashi tampak cemas. Nafasnya mulai memburu dengan keringat dingin yang mulai keluar dipelipisnya.

"Hiashi-san.. Kau sungguh tak tahu?" Gaara menatap kembali wajah Hiashi tampak tak percaya. Seketika pandangan Gaara kosong. Teriakan Hiashi tampak tak terdengar. Terasa mual hingga menjalar ketenggorokannya. Pandangan Gaara mulai buram hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya.


"Gaara! Gaara! Hoi! Bangunlah!"

Suara Temari tampak menggema ditelinga Gaara. Perlahan Ia membuka matanya dan menemukan Temari, Hanabi, serta Hiashi berjejer mengelilingi kasurnya.

"Ne..Nee-chan.." Ujar Gaara dengan suara parau.

"Aku dengar kau pingsan dan langsung kemari." Ujar Temari. Gaara memandangi sekitarnya. Dia masih berada di rumah Hinata membuatnya sedikit lega.

"Gaara, aku sudah dengar ceritanya dari Temari." Ujar Hiashi tampak mulai tenang.

"Jadi? Kau sudah bisa mengira apa yang terjadi padanya?" Gaara memandang Hiashi penuh harap. Hiashi segera mengangguk pelan.

"Hinata memang phobia terhadap kegelapan dan suara petir. Ia akan mulai berteriak kencang saat dua hal itu terjadi. Aku juga sudah melakukan rehabilitas padanya yang akhirnya percuma. Tapi masalah luka di tubuh Hinata.." Hiashi menurunkan bola matanya tampak tak mau melihat wajah Gaara langsung.

"Kenapa? Aku tahu kau mengerti hal itu." Gaara kembali menaikkan nada bicaranya.

"Maaf. Aku sungguh-sungguh tidak tahu itu adalah benar. Tapi, mungkin kau bisa bertanya langsung pada Neji, sepupu Hinata. Aku tidak pernah merawat Hinata sejak dia kecil. Neji yang merawatnya sejak dulu. Kau bisa menemuinya untuk bertanya hal itu."

"Kau.." Gaara lalu segera berusaha bangkit dari tidurnya dan segera ditahan oleh Temari cepat.

"Gaara, hal itu sudah berlalu. Kau melakukan apapun tak akan ada yang berubah." Temari menatap Gaara tajam. Mendengar ceramahan Kakaknya, Gaara hanya mendecih kesal.

"Maaf.." Hiashi menundukkan wajahnya dalam.

"Sudahlah.."Gaara menatap Hiashi sedikit canggung. "Setidaknya sekarang aku tahu apa penyebabnya."

Belum sempat Hiashi kembali bicara, ponsel Gaara tiba-tiba berdering. Dengan sigap lelaki berambut marun itu mengangkatnya. Mendengar suara sang penelepon, dengan cepat mimik wajah Gaara langsung masam.

"Untuk apa kau meneleponku?" Gaara menjawab salam dari sang penelepon itu dingin.

"Tentu saja untuk mengetahui kabarmu, bukan?" Ujar penelepon itu tampak main-main.

"Kalau tidak ada urusan, aku akan matikan tele-"

"Istrimu."

Ucapan Gaara terputus seketika saat penelepon itu mengutarakan satu kalimat singkat itu.

"Dia cedera cukup parah. Apa dia masih hidup?" Mata Gaara terbuka lebar mendengar perkataan sang penelepon.

"Kau! Apa hubunganmu dengan hal itu?" Gaara mulai menaikan nada suaranya.

"Tenang, Gaara. Mana mungkin ada sangkut pautnya diriku dengan istrimu? Hanya karena aku menyukaimu dulu." Sang penelepon itu tersenyum tipis seraya tetap tenang.

"Tentu saja. Aku sudah tidak memiliki hubungan denganmu lagi. Satupun tidak ada." Gaara memperjelas. Sang gadis yang merupakan si penelepon langsung menggigit bibirnya kencang.

"Gaara! Kau sungguh tidak peduli padaku?" Gadis itu mulai tampak tak tenang. Terasa getaran suaranya di telepon.

"Ya. Kita sudah tidak ada urusan lagi, Sakura."

.

.

.

Setelah beberapa detik gadis bernama Sakura itu diam dalam hening, akhirnya Ia mulai kembali bicara seraya berteriak.

"Gaara! Kau tahu aku ini perawat di RS itu kan?" Sakura tersenyum licik. "Aku bisa kekamarnya dan mencekiknya hingga mati."

Gaara langsung bergidik. Dengan cepat Gaara mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan Temari, Hiashi dan Hanabi tanpa menjelaskan situasinya sedikitpun. Ia langsung berlari dan memasuki mobilnya cepat. "Jangan main-main, Sakura!"

"Kenapa aku harus main-main? Kau meninggalkanku hanya karena untuk bersama wanita itu." Sakura kembali mengingat kenangan pahit itu seraya mulai berjalan menaiki lantai 11, tempat dimana kamar rawat Hinata.

"Sakura! Aku sungguh-sungguh yakin kau tidak akan melakukannya." Seru Gaara seraya menyetir mobilnya cepat.

"Heh...seperti biasanya, selalu percaya diri." Sakura kembali tersenyum saat kakinya menapaki lantai 11.

"Kau gila, Sakura. Ini mengenai nyawa orang. Sakura yang kukenal bukanlah seperti ini."

"Karena aku bukan Sakura yang dulu." Sakura lalu berdiri di kamar 602. Tempat dimana Hinata berada. "Selamat atas pernikahannya."

Gaara lagi-lagi menginjak gasnya kencang. "Sakura! Jangan lakukan itu!"

"Kau pikir aku tidak berani?" Sakura mulai memasuki ruang dimana Hinata berada. Dilihatnya kasur tempat Hinata berada. "Akan kutunjukkan."

Beberapa detik kemudian Sakura segera mematikan ponselnya dan menaruhnya di saku baju perawatnya itu. Ia menatap wajah Hinata yang tidak dibalut perban itu. Berbeda dengan tubuhnya yang penuh dengan balutan perban. Dengan perlahan Ia mengarahkan kedua tangannya di leher Hinata. Jemari-jemarinya yang tampak lincah mulai melingkari leher mulus Hinata.


TBC

Ya.. ini chapter yang cukup panjang dan melelahkan

Terimakasih untuk semua yang sudah mau membacanya..

Review kalian sangat penting untuk memajukkan fic ini.. aku butuh masukan semuanya...

lolol gimana? masih OOC kah? well.. masih sih tapi, kalau nggak dirubah dikit, ceritanya nggak jalan

Semoga kalian menyukainya ya ^^

Terimakasih semua sudah membaca dan men-review! #terbang

Silahkan memberi masukan dan review fic pertamaku ini ya lol

entah ini sampai chapter berapa.. terus baca ya..

bye bye hehe