Both of Us

Kuroko no Basket (c) Fujimaki Tadotoshi

Warn: Sedikit OOC dan dapat menyebabkan sakit mata berlebih.

.

.

K untuk Kuroko Tetsuya

Kau menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Suara angin yang berhembus seakan menjadi alunan yang sangat merdu untuk kau dengar. Kehangatan mentari pagi itu membuatmu amat nyaman. Apalagi saat kau melihat ada beberapa bunga yang tumbuh di taman rumah sakit itu.

"Hangatnyaa" kau merentangkan kedua tanganmu ke samping seraya mengadah ke langit.

Pandanganmu tertuju pada seorang pemuda berambut baby blue yang sedang duduk menyendiri di bawah pohon maple. Pakaian yang ia kenakkan sama denganmu. Itu menandakan bahwa ia juga pasien rumah sakit. Kau berjalan menghampirinya dengan perlahan. Matanya yang terpejam membuatmu sedikit terpana olehnya.

"Doumo" ucapnya ketika membuka kedua kelopak matanya.

Kau terpaku sesaat ketika kau menatap kedua manik biru itu. Sangat indah. Itulah yang kau pikirkan saat itu. Kau mengerjapkan mata beberapa kali saat tersadar dari lamunan indahmu.

"A-ano gomenasai" kau merasakan wajahmu memanas saat itu juga. Oh yaampun itu sangat memalukan. Dengan takut kau menunggu jawabannya. Tapi yang kau dapat hanyalah pandangan datar darinya."Boleh aku duduk ?" kau mengalihkan pandanganmu darinya dan menatap tempat kosong disampingnya.

"Silahkan" ucapnya dengan nada datar.

Kau mendudukkan dirimu di tempat kosong tepat disebelahnya dan menyenderkan tubuhmu ke pohon maple tersebut. Kau menoleh ke arahnya. Wajahmu kembali memanas ketika dia menoleh ke arahmu.

"A-ano siapa namamu ?" kau mencoba mencairkan suasana yang terasa agak sedikit canggung.

"Kuroko Tetsuya desu" jawabnya yang lagi lagi memasang nada datar. Kau tersenyum senang. Tanpa sadar mungkin kau telah jatuh hati padanya.

.

.

.

U untuk Uchi (Rumah)

"Ne Kuro-kun lusa aku akan pulang"

Hening. Kalian hanya menatap satu sama lain dalam diam. Walaupun dia menatapmu dengan tatapan datarnya tapi kau tahu ada perasaan sedih disana.

"Bukankah itu bagus? Kau pasti merindukan rumahmu kan?" tanyanya.

"Aku senang tapi juga sedih" kau menundukkan kepalamu. Takut takut akan ada air mata yang jatuh dari matamu dan kau tak ingin dia melihatnya.

"Aku senang bisa kembali ke rumah, tapi aku lebih senang berada di dekatmu"

Ups. Sepertinya kau kelepasan.

"Aku merindukan rumahku" ucapnya pelan.

Kau kembali menatapnya, pandangan matanya menerawang ke luar jendela kamar inapnya. Itu semakin membuatmu hatimu sakit. Padahal kalau dihitung kalian baru bertemu satu sama lain 14 hari yang lalu, tapi perasaanmu sudah sedalam ini ya?

"Kalau bo-boleh tahu memang kau sudah berapa lama disini Kuro-kun ?" kau menundukkan kepalamu lagi.

"1 tahun" jawabnya.

Kau membelalakkan matamu. Selama itu? Sebenarnya kau sakit apa Kuro-kun?

.

.

.

R untuk Rasa

Hari ini adalah hari pertama kau kembali mengunjunginya. Setelah 2 hari beristirahat total di rumah. Kau diperbolehkan untuk bersekolah kembali. Ya sakit tyfus yang bersarang di tubuhmu sudah sembuh. Walaupun kau masih agak merasa lemas.

Kau kembali menatap sebuket bunga Daisy di dekapanmu. Kau berniat memberikan ini untuknya. Bunga Daisy merah yang melambangkan cinta diam-diam. Memikirkan itu membuatmu mendengus geli.

Kau mengetuk pelan pintu kamar inapnya. Buket bunga itu semakin kau dekap di dadamu. Kau mendengar suara yang agak ricuh di dalam kamarnya. Berisik sekali, pikirmu.

Saat kau membuka pintu kamar inapnya kau dikejutkan oleh beberapa makhluk berambut pelangi. Ada yang berambut Merah, Kuning, Hijau, Ungu dan Biru tua. Yaampun rambutnya unik sekali!

"Kau siapa-ssu ?" suara cempreng itu membuatmu tersadar dari lamunan singkatmu.

"Aku? Aku hanya teman Kuro-kun" kau melangkah pelan menuju sisi ranjangnya. "Konnichiwa Kuro-kun" sapamu saat menghampirinya.

"Konnichiwa" balasnya dengan tatapan dan nada yang datar. Yaampun orang ini minim ekspresi sekali ya.

"Mitte mitte aku membawakan bunga untukmu. Boleh aku ganti bunga yang ada di vas mu itu ?" kau menunjuk vas yang berisi bunga Lily yang berada di atas meja sisi ranjangnya.

"Silahkan"

Kau melangkah riang menuju sisi sebelah ranjangnya tanpa memperdulikan tatapan makhluk pelangi yang saat itu melihatmu penuh heran.

"Hmm, Daisy merah. Sudah berapa lama ?"

Kau menghentikan langkahmu dan menoleh pada seseorang yang bersandar di pojok ruangan sambil membaca sebuah buku yang entah kau tak tahu jelas buku apa yang sedang ia baca.

"Eh ma-maksudmu ?" ucapmu terbata.

Dia menatapmu tajam seakan tidak percaya oleh apa yang kau ucapkan. Kau gugup. Sangat gugup. Bagaimana tidak? Ditatap setajam itu oleh orang yang baru pertama kali kau temui ditambah lagi aura gelap yang berada di sekeliling tubuhnya.

"Lupakan" dia kembali memfokuskan matanya untuk membaca buku yang ia pegang.

Ucapannya itu membuatmu mendesah lega. Kau kembali melangkahkan kakimu menuju sisi ranjangnya. Kau membuang bunga Lily yang sudah agak layu itu dan menggantinya dengan bunga Daisy merah yang kau bawa. Suasana kembali ricuh saat makhluk kuning bersuara cempreng itu kembali berceloteh.

Kau berdiri memandang luar jendela kamarnya. Suasana ricuh saat itu tidak begitu kau perdulikan. Sejujurnya kau merasa tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi kau sudah amat merindukan sosok biru muda itu.

Kau kembali memikirkan pertanyaan itu. Sudah berapa lama ya ? Hmm dari pertama pertemuan kita. Kau terkekeh geli saat menjawab pertanyaan itu dalam benakmu. Kira kira dia merasakan perasaan yang sama untukmu tidak ya?

.

.

.

O untuk Oyasumi

Kau menghela nafas lega ketika para makhluk pelangi itu berpamitan dengan Tetsuya dan juga denganmu. Ini saat yang kau tunggu tungu bukan?

Kau menghempaskan bokongmu pada kursi di sisi ranjangnya. Kau menatapnya yang sudah nampak kelelahan.

"Kuro-kun kalau kau mengantuk tidur saja. Tidak usah perdulikan aku. Anggap saja aku tidak disini" kau menggaruk belakang tengkukmu yang tidak gatal.

Dia hanya menatapmu sekilas lalu mengangguk lemah. Kau menaikkan selimutnya sampai sebatas leher. Dia mulai memejamkan matanya dan mungkin sudah terbuai masuk ke dalam alam mimpinya.

Kau kembali mendudukkan dirimu di kursi. Pandanganmu tertuju pada wajahnya. Wajah damai yang amat kau sukai. Tanpa sadar tanganmu menyentuh lembut helaian rambutnya. Halus. Satu kata yang dapat menggambarkannya. Kau terus mengusap-usap helaian lembutnya. Tanpa sadar kini kau sudah mendekatkan wajahmu pada wajahnya. Kau kecup pelan keningnya sebelum kau jatuh tertidur saat itu.

"Oyasumi Kuro-kun"

.

.

.

K untuk Kanker

Kau terbangun saat mendengar dering dari handphone yang berada di saku seragam sekolahmu. Kau mengedarkan pandanganmu. Gawat kau malah ketiduran di kamar inap Kuroko. Dengan cepat kau mengambil handphone mu dan menjawab panggilan telepon dari ayahmu sembari menatap Kuroko yang nampaknya masih asik di alam mimpinya.

"O-ohayou tou-san"

"….."

"A-ah aku menginap di rumah temanku, maaf aku lupa memberi tahu tou-san"

"…"

"Ha'I ha'I gomen-gomen"

"…"

"Jaa tou-san"

Klik

Kau kembali memasukkan handphone mu ke dalam saku dan bersiap untuk pulang.

Drap Drap Drap

Kau panic saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ba-bagaimana itu orang tuanya Kuroko? Bagaimana kalau itu saudaranya? Temannya? atau yang lebih parah bagaimana kalau itu pacarnya?

Kau memutuskan untuk bersembunyi di dalam kamar mandi yang berada di kamar itu. Sayup sayup kau mendengar dua orang sedang berbicara. Kau mendesah lega. Ternyata hanya seorang perawat dan seorang dokter yang sedang melakukan pemeriksaan rutin.

"Kondisinya memburuk, kankernya sudah semakin menyebar"

Kanker? Kuroko mengidap kanker?

Tes tes …

Tanpa sadar air mata menetes dari kedua matamu. Kenapa Kuroko menyembunyikan ini? Kenapa?

Kau membuka pintu kamar mandi tempat kau bersembunyi. Dua orang yang sedang memeriksa keadaan Kuroko pun dibuat kaget olehmu.

"Be-benarkah? Ka-Kanker apa? Su-sudah be-berapa lama? Masih bisa sembuh kan?" kau langsung menyerbu sang dokter dengan berbagai pertanyaan.

Dokter itu mengangguk lesu.

"Kanker otak. Sudah dari setahun yang lalu. Kemungkinan untuk sembuh hampir mustahil"

Kau menutup mulutmu mencegah suara isakanmu. Takut takut suara isakanmu akan membangunkan Kuroko nantinya. Kau berlari keluar dari kamarnya dan tak mengindahkan tatapan penuh tanya dari dokter dan perawat yang masih berada di dalam kamar Kuroko.

Kau berlari. Air mata tak henti hentinya keluar dari matamu. Kakimu membawamu ke taman rumah sakit tempat kalian pertama kali bertemu. Kau jatuh terduduk. Menyembunyikan wajahmu diantara kedua tanganmu.

Kanker Otak. Apa nanti Kuro-kun akan meninggalkanku ?. Pertanyaan itu terus terngiang di benakmu.

.

.

.

O untuk Obat

Kau menghirup nafas dalam dalam dan mengeluarkannya kembali. Kau berusaha menenagkan dirimu sebelum masuk ke kemar inapnya. Sudah 3 hari berlalu semenjak kau tahu ada Kanker bersarang di tubuh Kuroko dan kau masih saja meneteskan air mata saat mengingatnya.

Kau melirik arloji yg melingkar di pergelangan tanganmu. Sudah waktunya makan siang ya.

"Kuro-kun aku masuk ya" kau membuka pintu kamar inapnya dan menutupnya kembali saat kau sudah masuk ke dalamnya.

"Konnichiwaaa" ucapmu mencoba riang.

"EH? Kau belum makan yaa?" kau melihat nampan yang diatasnya ada semangkuk bubur penuh dan sayur sayuran rebus. Kuroko hanya menggeleng lemah. Kau merasa akhir akhir ini dia terlihat lebih pucat.

Kau menggeser kursi yang berada di sisi ranjangnya dan mendudukinya. Mengambil semangkuk bubur itu dan berniat menyuapinya.

"Buka mulutmu. Aaaaa ~" dia pun melalukan apa yang kau perintahkan. Kau menyuapinya dengan sabar diselingi beberapa obrolan ringan. Ya walaupun hanya masuk setengahnya tapi tidak apa apa kan?

"Waktunya minum obat" kau tersenyum ke arahnya. Lagi lagi dia hanya menggeleng lemah.

"Tidak mau" ucapnya dengan nada datar seperti biasanya.

"Ayolah Kuro-kun, biar kau cepat sembuh ya ya ya" kau mengatupkan kedua tanganmu di depan dada.

"Aku tidak akan sembuh" sekarang kau bisa melihatnya meneteskan sedikit air mata. Hatimu serasa ditusuk pisau. Kau melihat beberapa butir obat yang sudah disiapkan suster untuk Kuroko di atas sebuah mangkuk kecil.

Dengan nekat kau mengambil semua obat Kuroko dan memasukkannya ke dalam mulutmu sekaligus. Mengabaikan rasa pahit yang ditimbulkan obat itu. Kau memegang kedua sisi pipinya dan dengan cepat. Kau mendorong semua obat itu ke dalam mulutnya. Setelah kau merasa sumua obat sudah berpindah kau menjauhkan wajahmu. Kau menyambar gelas yang ada di mejanya dan menyodorkan gelas itu ke arah Kuroko.

Dia meminumnya dengan semburat merah tipis di pipinya. Walaupun wajahnya tak semerah wajahmu. Kau merutuki dirimu sendiri. Bagaimana kau bisa lepas kontrol seperti itu.

"Ka-kalau kau tidak mau minum obat lagi, aku akan memakai cara itu untuk memaksamu"

Eh? Ancaman itu kenapa terasa sedikit mesum ya?

.

.

.

T untuk Terima Kasih

Sudah 2 bulan ini kau rutin mengunjungi Kuroko setiap harinya setelah kau pulang sekolah dan kau tidak pernah bosan dengan rutinitas itu. Kau juga semakin akrab dengan member Kiseki no Sedai. Tidak kau sangka ternyata Kuroko adalah seorang pemain basket sebelum Kanker itu bersarang ditubuhnya.

Terkadang saat sore hari kalian bermain basket bersama. Err sebenarnya hanya mereka berlima yang bermain. Kau dan Kuroko hanya duduk melihatnya di lapangan parkir. Walaupun begitu terkadang kau melihat Kuroko menyunggingkan senyuman tipis. Mungkin dia teringat masa masa saat bermain basket. Pikirmu.

Kau melirik ke arahnya yang saat ini sedang membaca manga keluaran terbaru sambil bersandar di batang pohon maple. Di taman rumah sakit ini lah kalian pertama bertemu. Tanpa sadar kau terus memperhatikannya tanpa berkedip. Kuroko menolehkan kepalanya kearahmu dan itu membuat jantungmu berdetak semakin kencang.

"Watashi, Kuro-kun ga suki da"

Eh? Sontak wajahmu memerah seperti kepiting rebus. Kau tidak menyangka akan kelepasan seperti ini. Kau merutuki dirimu sendiri. Bodoh bodoh bodoh. Ucapmu berulang kali didalam hati.

"Hm, terima kasih" setelah menyunggingkan senyuman tipis disertai sedikit rona merah samar di kedua pipinya dia kembali memfokuskan dirinya dengan manga yang dibacanya tadi.

Kau hanya dapat terdiam. Sedikit tidak mengerti maksud dari ucapan Terima Kasihnya itu.

.

.

.

E untuk Erat

Beberapa hari telah berlalu semenjak insiden 'pernyataan cinta' di taman itu. Setelah kejadian itu sifat Kuroko sedikit berubah. Dia semakin jarang sekali bicara padamu. Dari pertama kalian bertemu Kuroko memang orang yang pendiam. Tapi biasanya dia sedikit menanggapi celotehan tidak pentingmu itu. Kau merasa err sedikit tidak dianggap olehnya.

Hari ini kau kembali mengunjungi Kuroko. Kau sengaja untuk tidak mengunjunginya selama beberapa hari. Ya mungkin, untuk menghilangkan perasaan canggung diantara kalian. Kau melangkahkan kakimu di koridor rumah sakit dengan gontai. Kau berhenti pada kamar bertuliskan angka 149. Ya itu adalah ruangan tempat dimana Kuroko tinggal selama beberapa tahun belakangan.

Kau membuka pintu geser itu dengan pelan. Kosong. Kuroko pasti sedang menyendiri lagi di taman. Batinmu. Kau segera berjalan menuju taman sambil memikirkan topik apa yang akan kau bahas nanti bersamanya.

Benar saja. Saat kau sudah sampai di taman rumah sakit kau melihatnya melakukan rutinitasnya seperti biasa. Membaca manga sambil bersandar di pohon maple.

"Kuro-kun" ucapmu sambil melambaikan tangan dan berlari kecil menghampirinya.

Langkahmu terhenti seketika ketika dia beranjak dari tempatnya semula dan berjalan melewatimu. Kau terpaku di tempatmu. Matamu sudah siap untuk mengeluarkan bulir air mata. Tapi kau urungkan niatmu untuk menangis saat itu juga karena sosok biru itu tiba tiba bersimpuh sembari memegang kepalanya. Kau berlari menghampirinya dan ikut bersimpuh dihadapannya.

Greep

Kuroko melingkarkan kedua tangannya ke tubuhmu dan menenggelamkan kepalanya di bahumu. "Ittai…" suaranya yang parau itu menyapu lembut telingamu.

Pertahananmu runtuh. Kau menangis terisak sembari ikut melingkarkan tanganmu ke memeluknya erat. Baru kali ini kau melihat Kuroko kesakitan seperti ini. Mugkin selama ini dia berusaha menahan sakitnya sendirian. Batinmu sedih.

Salah satu tanganmu kau letakkan di kepalanya dan mengelusnya pelan. Berharap rasa sakit yang dirasakan olehnya berkurang. Sedangkan yang satunya lagi terus mencengkram erat baju rumah sakit yang dikenakkan oleh Kuroko.

Oh, Kami-sama rasanya kau sangat ingin menggantikan posisi Kuroko saat itu juga.

.

.

.

T untuk Tahun Baru

Kau memasukkan kedua tanganmu ke saku mantel yang kau kenakkan. Hari ini adalah malam tahun baru. Salju nampak turun dengan indahnya dan mulai menutupi jalan.

Kau masuk ke dalam Konbini yang ada di seberang Aiiku Hospital. Dengan cekatan kau mengambil beberapa snack dan memasukkannya ke keranjang belanja yang kau bawa. Hari ini kau ingin menghabiskan malam tahun baru bersama Kuroko dan member Kiseki no Sedai.

Blusssh

Wajahmu sontak memerah kala kau memikirkannya. Hubunganmu kini sudah membaik. Walaupun kau belum tahu persaannya padamu, tapi dengan hubungan seperti ini pun kau merasa senang.

Setelah membayar belanjaanmu, kau pun menyebrangi jalan raya dan masuk ke Aiiku Hospital. Kau masuk ke dalam lift dan menekan tombol 4.

Ting

Pintu lift yang kau naiki terbuka lebar. Menandakan bahwa kau sudah menjejak di lantai 4. Kau berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang agak lebih ramai dari biasanya. Wajar saja ini adalah malam tahun baru.

Kau sampai di depan kamar inap Kuroko. Dari luar kamarnya pun ocehan Kise terdengar cukup keras. Kau membuka pintu geser itu perlahan dan masuk ke dalam kamar inap Kuroko.

"Malam-ssu." ucap Kise sembari melambaikan tangannya ke arahmu. "Wah kau membawa banyak camilan ya. Senangnya ~~" dia menghampirimu dan mengambil beberapa kantung di tanganmu untuk ditaruh di meja. Dan dia mulai mengobrak abrik kantung belanjaanmu.

Kau hanya tersenyum lembut menanggapi pertanyaannya. Kau duduk di sofa dan memandangi Kuroko yang sedang menonton pertengkaran Kise dan Aomine. Kau pun terkadang ikut mengomentari pertengkaran Aomine dan Kise yang tiada henti.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.28 Para anggota Kiseki no Sedai sudah pamit sedari tadi. Mereka bilang ingin pergi ke kuil untuk menikmati Amazake dan berdoa. Tinggal lah kalian berdua di ruangan ini.

"Aku ingin pergi ke kuil juga. Tolong antarkan aku" suara Kuroko memecah keheningan.

"Ta-tapi diluar sangat dingin. Lagipula ini sudah tengah malam Kuro-kun" ucapmu mencoba membujuknya.

"Sekali ini saja. Aku juga ingin berdoa di kuil" nada suaranya terdengar memohon.

"Baiklah, aku akan mencoba membujuk dokter ya"

.

Kini kau sedang mendorong kursi roda Kuroko menuju kuil. Beruntunglah sang dokter mengijinkan kalian untuk pergi ke kuil. Walaupun hanya diperbolehkan hanya 30 menit. Padahal jarak dari rumah sakit ke kuil itu membutuhkan waktu kira kira 10 menit.

Suasana disekitar kuil amatlah ramai. Kau ikut mengantri di barisan untuk berdoa di altar doa.

Kau melirik Kuroko yang mulai nampak sedikit kedinginan. Ya walaupun dia sudah memakai berlapis lapis baju. "Kuro-kun kau baik baik saja? Atau mau kembali ke rumah sakit saja?"

Kuroko menggosok gosokkan kedua telapak tangannya. "Tidak papa, aku bisa menahannya sedikit lagi"

Kau menaruh kedua tanganmu di kedua pipinya dari belakang. Berharap kau bisa sedikit menghangatkannya. Pikiranmu kembali melayang-layang. Kau sangat takut. Takut akan kehilangan Kuroko. Sosok yang begitu kau cintai.

"Ano. Sekarang giliran kita" ucap Kuroko.

Kau menaruh salah satu tanganmu di tali tempat membunyikan lonceng. Begitu juga dengan Kuroko. Kalian menggoyangkannya pelan. Terdengar pelan bunyi gemerincing khas lonceng. Kau menundukkan badan dua kali untuk memberi hormat. Setelah itu menepukkan tangan dua kali dan mulai berdoa.

Tahun ini aku sangat beruntung bisa bertemu Kuroko. Terima kasih Kami-sama.

.

.

.

S untuk Selamat Tinggal

Kau duduk di bangku taman dengan Kuroko di sampingmu. Sebenarnya kau ingin cepat mengantar Kuroko ke dalam kamarnya yg hangat. Tapi Kuroko terus meminta mengunjungi taman rumah sakit. Kau sudah membujuknya sekeras mungkin tapi nihil. Yah, Kuroko memang 'sedikit' keras kepala.

Kau menyandarkan kepalamu ke bahunya. Sontak kau merasakan bahu Kuroko sedikit menegang.

"Biarkan seperti ini. Sebentar saja" ucapmu lirih.

"Maaf. Padahal selama ini aku tahu bahwa kau menyukaiku. Tapi aku seakan menutup mata"

Kau mencengkram erat mantelmu dan tertawa hambar. "Haha, tidak papa"

Kuroko menggenggam salah satu tanganmu dan menyenderkan kepalanya di atas kepalamu. "Aku menyukaimu" ucapnya lemah.

Kau meneteskan air matamu dan balas menggenggam tangannya. "Aku lebih menyukaimu Tetsu-kun".

Kuroko tersenyum tipis menanggapi ucapanmu. Makin lama tangan yang genggam terasa makin dingin. Deru nafasnya pun sudah terdengar putus putus. Kau tahu bahwa ini lah saat terakhir kalian.

Beberapa detik berlalu dengan hening. Namun entah kenapa kalian menikmatinya. Perlahan Kuroko mendekatkan kepalanya kearahmu. Dalam jarak ini bahkan kau bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat itu. Wajahmu kontan memerah. Dengan perlahan dia mengecup bibirmu. Lembut. Lembut sekali. Kau memejamkan kedua matamu. Menikmati getaran-getaran aneh yang ada di dadamu. Rasa dingin yang tadi dirasakan menghilang sudah. Yang ada hanya kehangatan.

Kau melingkarkan kedua tanganmu pada tubuhnya. Untuk semakin mempersempit jarak diantara kalian. Kuroko pun meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pipi ranum mu. Lama-lama ciuman lembut itu menjadi lumatan-lumatan kecil. Tanpa ada nafsu didalammnya.

Pelukanmu semakin erat tatkala kau tidak lagi merasakan hangat nafasnya. Kau pun juga merasa tidak ada sedikit pun pergerakan dari bibirnya. Bulir bulir air mata turun dari kedua mata indahmu. Kau menangis dalam diam.

.

.

.

U untuk Ulang

Suasana gelap mendominasi kamarmu. Kau bahkan tidak ada niat untuk menggerakkan tubuhmu. Hanya meringkuk di kasur sembari memegang ponselmu dan menangis tersedu. Menangis, menangis dan menangis.

Kau kembali melihat lihat gallery di ponselmu. Banyak sekali foto Kuroko yg tersimpan disana. Walaupun rata rata fotonya berwajah datar. Tapi tetap saja menurutmu dia amat mempesona.

Kau pandangi lekat lekat semua lekuk wajahnya. Betapa kau merindukan sosoknya yang berwajah datar itu. Kami-sama bolehkah kau meminta untuk mengulang kejadian saat kalian bersama ?

.

.

.

Y untuk Yume ( Mimpi )

Kau terbangun dari tidur indahmu. Berhari hari menangis membuatmu matamu kian membengkak. Kalau boleh kau ingin selamanya bermimpi. Ya, karna tentu saja dalam mimpi kau akan bertemu dengan sosok biru berwajah datar. Hanya di dalam mimpi. Selamanya di dalam mimpi.

.

.

.

A untuk Awal

"Kau harus belajar membuka kembali hatimu-ssu"

Kau mengaduk ngaduk minuman di depanmu dengan bosan. Musim sudah berganti. Tapi hatimu masih saja dingin. Walaupun kau kini sudah kembali melakukan aktivitas sekolahmu seperti biasa. Tapi kau semakin jarang bicara. Kise pun harus merengek seharian agar kau bisa pergi dengannya. Dasar.

"Entahlah Kise-kun, itu masih terlalu sulit" kau menatapnya dengan tatapan datar.

"Hey kenapa sekarang kau jadi terlihat seperti Kuroko-cchi" Kise mengerucutkan bibirnya.

Kau tertawa pelan. Sangat pelan. Tapi itu cukup untuk membuat lawan bicaramu menatapmu dalam. Kau salah tingkah. Bukan apa-apa, tapi sudah lama sekali rasanya kau tidak berinteraksi dengan pemuda lain. Apalagi hanya berdua seperti ini.

"Nee apa kau mau memulai nya lagi denganku?" Kise nampak sedikit memalingkan wajahnya yang memerah. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya pertanda gugup.

Kau termenung. Seharusnya memang kau harus membuka lagi lembaran baru. Mungkin pemuda dihadapanmu ini bisa mengembalikan kecerianmu seperti dulu dengan tingkahnya yang kelewat konyol itu kan?

OWARI

Gomenasai gomenasai gomenasaaaaaiiiiii.

Huaa ff nya kok makin lama makin ancur ya DX maafkan saya minna-sama D: tolong maafkan sayaaaaaaaa Dx

Sebenernya gak tau kenapa jadi kepengen buat chara death gitu. Huehehe terciptalah ff nista ini. Gomen ne.

Terus juga ini kenapa malah jadi kaya oneshoot terus dikasih judul judul ya -3-. Haaaah pokoknya maaf ya minna ;o;

Oh iya kan Akashi nanya udah berapa lama itu maksudnya mendem perasaannya ya. Ehehe :3

Yang mau mencaci, mencela, atau sampai membanting handphone atau laptop anda setelah membaca fict ini silahkan. Saya terima dengan senang hati /apaini.

Eh iya ini balasan review buat yang gak login ya xD

Siapakahsaya: berkat dirimu aku jadi teringat akan fict ini lho xD haha ini udah lama diketik tapi gak selesai selesai. Maap ya kalo aneh *sujud*

Guest: Makasih ya buat eomma sama appa yang udah review :"D terharu deh x"D *kasih beribo cipok*

Tanpa kalian yang meriview fict ini author hanyalah butiran debuh (?) Kha kha kha xD

Ja na ~