"Aku akan melakukan yang kau mau. Asalkan maafkan aku" katanya. Aku menyeringai mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu, jadilah budakku." Kataku dengan senyuman paling tulus/? yang bisa ku buat.
"Hah?" katanya terdiam. Ia mematung.
"kau bilang kau akan melakukan yang aku mau?"
"Tapi-"
"Tapi apa?"
"Yayaya, baiklah." Katanya menghela napas. Aku tersenyum puas lalu menyuruhnya pergi dari kamarku.
Nothing
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Warning: Typo(s) Author males betulin, Gaje, Alur gak jelas, aneh, OOC maybe, OC, dll..
Genre:Crime (Maybe), Drama (Maybe), Ecchi (Maybe), Friendship, Romance (Little)
Gak suka? jangan lanjutin baca.
Seperti biasanya, kami pergi ke sekolah. Pagi-pagi sudah tersedia roti dan susu hangat di meja kamarku. Dia memang pantas menjadi budak. Aku menghabiskan sarapanku dan pergi menuju kamar mandi.
Aku menyalakan shower dan membasahi tubuhku dengan air hangat yang keluar dari shower itu. aku memejamkan mataku. Entah kenapa sosok gadis bersurai abu-abu itu muncul di kepalaku. Aku segera membuka mataku dan kembali sadar. aku mengambil handuk dan keluar untuk mengenakan seragam.
Author P.O.V
'Alex sangat baik sampai dia mau menyekolahkanku di sekolah elite.' Pikirmu sambil tersenyum di atap sekolah. kamu memperhatikan murid-murid yang ada di lapangan.
"Kau akan mengikuti klub apa?" dengan kaget. Kamu melihat Kuroko sudah berdiri di sampingmu.
"Aku tidak tahu." Katamu berusaha menenangkan detak jantungmu yang sangat cepat karena kaget.
"Souka.." katanya. Kamu hanya mengangguk.
KRINGGG!
Bel masuk berbunyi. Kamu segera berlari ke kelasmu. Karena kamu sedikit 'ngaret' kamu baru turun lima menit setelah bel. Kamu berjalan di koridor sekolah yang sepi. Kamu memainkan ponselmu sambil berjalan.
Dug.
Kamu menabrak seseorang dan tak sengaja menjatuhkan bukunya. Dengan segera kamu mengambil buku yang terjatuh di lantai dan memberikan buku itu kepada pemiliknya.
"[Name]/Mira?" kata kalian berbarengan sambil menatap satu sama lain. Kamu menengguk air ludahmu melihatnya.
"Lama tak berjumpa, [Name]" katanya sambil tersenyum dan menerima bukunya. Kamu hanya membalas senyuman itu dengan senyuman kecut.
"Bisa kita bicara sebentar? Melewatkan 1 mata pelajaran saja?" katanya tersenyum kearahmu. Kamu mengangguk pada senpaimu itu. kamu mengekorinya menuju atap sekolah.
.
.
'Sial kemana anak itu?' kata Akashi yang dari tadi melihat ke arah mejamu yang kosong. Entah kenapa hatinya merasa resah tak melihatmu.
"Ada apa Akashi?" kata Midorima yang menyadari Akashi yang sedang mencari sesuatu.
"Tidak ada." Kata Akashi kembali menatap tugas yang harus ia kerjakan.
.
.
"Sudah lama kita tidak begini ya?" kata Mira menatap lurus ke arah gedung olahraga. Kamu hanya mengangguk dan berdiri di sampingnya.
"Kau bersekolah di sini?"
"Ya, aku meminta pada paman untuk bersekolah di sini." Katanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. Semuanya menjadi hening.
"Apa kau berkhianat, [Name]?" kata Mira. Kamu terdiam mendengar kata-kata itu. memikirkan pada siapa sebenarnya kamu berpihak. Kamu tak tahu harus memilih yang mana.
"Kembalilah kepada kami [Name]." katanya. Kamu semakin bingung harus memilih yang mana. Alex adalah teman ibumu. Tapi tujuanmu tak sejalan dengan mereka.
"Aku-"
.
.
.
.
"Lelahnya…" katamu sembari duduk di pinggir kasurmu. Rasa bosan menghampiri dirimu. Tak ada orang di rumah ini selain kamu. Kamu teringat percakapan tadi siang dengan Mira. Kalian menyepakati aturan yang telah kalian buat. Yaitu:
Dilarang mengganggu aktivitas pada jam sekolah.
Dilarang melukai satu sama lain pada jam sekolah.
Dilarang memperlihatkan benda tajam pada yang lain.
Semua aturan selesai pada saat pulang sekolah.
Kamu menyepakatinya karena merasa tak dirugikan. Entah setan macam apa yang merasuki pikiranmu, kamu masuk ke dalam kamar Midorima dan mengambil sebuah kotak. Lalu kamu menyambar laptop dan ponselmu dan mulai mengerjakan sesuatu.
.
.
.
.
"Tetsuya, apa kau melihat [Name]?" kata Akashi sambil membawa bola basket di tangannya.
"Sepertinya dia sudah pulang." Kata Kuroko
"Apa Akashicchi mengkhawatirkan [Name]cchi?" kata Kise.
"Aku? Tidak." Kata Akashi menjauh meninggalkan mereka.
.
.
.
.
.
.
Sudah dua bulan kalian tetap menaati peraturan. Sekolah sudah sepi. Kamu meletakan sebuah penghapus pada masing masing kelas, kamar mandi, dan juga ruang guru dan ruang kepala sekolah. setelah itu kamu pergi ke atap sekolah.
"[Name]…" seseorang memanggil namamu. Kamu menoleh ke arahnya. Itu Mira. Ia tersenyum padamu.
"Mira…"
"Ayo kita bertarung seperti dulu lagi…" katanya menunjukan sebuah pisau di balik badannya. Kamu hanya tersenyum melihatnya.
"sudah lama sekali ya, senpai…" katamu mengambil pisau yang ukurannya lebih kecil di balik kamejamu. Kamu mengambil ponsel terlebih dahulu dan menekan sesuatu. Angin berhembus menerpa rambut kalian. Mira berlari ke arahmu dengan cepat. Kamu masih diam di tempat memperhatikan gerakannya.
"Kau belum juga berubah, Mira." Katamu tersenyum. Kamu hendak menyelengkat kakinya. Tapi dia melompat dan menendang perutmu hingga kamu terpental agak jauh.
"Kau yang belum berubah…[Name]…" katanya tersenyum. Kamu hanya menahan rasa sakit akibat tendangan yang cukup keras tadi. Kamu berdiri dan berlari ke arah Mira. Mira menghindarimu dengan memiringkan badannya ke samping kiri.
"Gotcha!" bisikmu pelan. Kamu menendang perut Mira sebagai balasan tendangan yang ia berikan padamu tadi. Ia terpental dan menabrak tembok hingga temboknya sedikit retak. Terlihat sedikit darah ada di sudut bibirnya. Dia berlari ke arahmu dan menebas bagian perutmu. Kamu masih bisa menghindar, tapi bajumu robek dan perutmu mengeluaarkan sedikit darah dari luka ringan itu.
"Bye bye…" kata Mira tersenyum lalu menendangmu ke luar pembatas atap. Kamu terjatuh dari atap sekolahmu. Kamupun tersenyum.
"Bang!" bisikmu.
DUAR! DUAR! DUAR! DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!
Sebuah ledakan besar terjadi di seluruh gedung sekolah. semuanya hancur porak poranda. Seseorang berusaha menangkap tubuhmu sambil berlari hingga kalian berguling dan menabrak semak-semak.
"apa yang kau lakukan bodoh?" kata orang itu. seorang pemuda bersurai merah menyelamatkanmu. Untung saja ada dia. Kalau tidak pasti kau sudah mengalami lumpuh total atau kebutaan. Atau bisa saja mati.
"kenapa kau menyelamatkanku?" katamu mengelap darah yang ada di sudut bibirnya dengan ibu jarimu.
"kau kira aku rela kehilangan budakku begitu saja?" katanya menyeringai kepadamu. Kamu terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutmu. Akashi menggendongmu dengan bridal style ke gedung olahraga. Satu-satunya gedung yang tidak kamu ledakan.
"Itu Akashicchi!" kata Kise menunjuk ke arah kalian berdua dengan suaranya yang menggelegar seperti syahrini/oi. Semua berlari ke arah kalian.
"Apa yang terjadi nanodayo?!" kata Midorima.
"[Name]-chan! Daijobu?" kata Momoi panik melihat keadaanmu.
"Apa menurutmu dia kelihatan baik-baik saja heh?" kata Aomine yang melirik malas Momoi. Akashi menurunkanmu di dekat bench.
"Apa dia baik-baik saja?" kata Nijimura melihat keadaanmu.
"Jelas dia tidak baik-baik saja senpai..nyam nyam."
Kuroko membuka bajumu dan membersihkan lukamu dengan air yang dibawa oleh Momoi. Perutmu di perban dengan perban seadanya yang memang disiapkan untuk tim basket. Kamu meringis kesakitan. Tangan kananmu rasanya sangat sakit dan tidak bisa di gerakan.
"Ada apa [Name]? aku tahu itu sangat perih… bertahanlah…" kata Momoi memegang tangan kirimu.
"Tangan kananku tidak bisa digerakan." Katamu sambil berusaha menahan rasa sakit. Kuroko menyentuh tangan kananmu dengan sangat sangat lembut.
AAAAAAAAAAAAAA!
Teriakmu kesakitan karena ulah Kuroko. Kamu yang reflex menendang muka Kise yang sedang memijat kakimu.
"Hidoi-ssu…" kata Kise.
"Sepertinya dia mengalami patah tulang nanodayo." Kata Midorima menaikan kacamatanya. Sekali lagi Aomine menyentuh tangan kananmu
GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA! SAKIT AHOOO!
.
.
.
.
.
Sudah seperti di pengadilan. Kamu diadili di depan teman-temanmu oleh Alex. Kamu hanya bisa menundukan kepalamu karena ulahmu yang menghancurkan fasilitas umum. Kamu duduk di sebuah kursi kayu. Badanmu, tangan kirimu, kakimu diikat di kursi itu karena kamu berusaha kabur dari sana sejak tadi.
"Apa kau tahu kenapa kau berada di sini?" kata Alex duduk di kursi yang ada di depanmu. Kamu hanya mengangguk.
"Apa kau tahu apa kesalahanmu?" Alex kembali bertanya dan kamu kembali menjawabnya dengan anggukan.
"Coba katakan apa saja kesalahanmu!" kata Alex dengan suara yang lebih tegas. Kamu hanya memutar bola matamu sembari mengingat apa yang sudah kamu lakukan.
"Aku menghancurkan gedung sekolah(?)" katamu.
"Masih ada lagi nanodayo." Kata Midorima tegas. Kamu mencoba mengingat yang lainnya.
"apa?" katamu dengan nada tak bersalah.
"kau mencuri satu pack penghapusku nanodayo!" katanya sedikit berteriak.
"kau lompat dari lantai 4!" kata Momoi
"kau menendang mukaku waktu itu-ssu!" kata Kise protes.
"tapikan itu tidak-" kamu agak menolak pernyataan Kise karena itu tidak kesengajaan.
"kau mematahkan tangan kananmu [name]-chin…nyam nyam"
"apa?! Kau pikir aku-"
"Cukup!" Suara tegas dari Alex lagi-lagi membuatmu tidak sempat memberikan pembelaan kepada dirimu. Semuanya hening seketikan. Nijimura dan Izuki hanya menghela napas melihat keadaan ini.
"Bagaimana kau bisa meledakan gedung itu?" kata Alex bertanya dengan serius.
"Aku membuat bomb beberapa hari lalu. Lalu aku memasukannya kedalam penghapus. Dan aku mengatur voice record di ponselku. Jika aku mengatakan 'bang' maka semua penghapus itu akan meledak." Katamu
"Apa alasanmu melakukan ini [Name]?" kata Alex menatapmu meminta alasan atas apa yang kamu lakukan. kamu hanya menghela napasmu.
"Aku bertarung dengan Mira di atap sekolah." katamu.
"Ryoki Mira?" kata Nijimura menaikan sebelah alisnya. Kamu hanya mengangguk sambil membuang muka ke arah lain.
"kenapa kau melakukan itu?" Akashi angkat bicara dengan aura yang tiba-tiba sangat mencekam. Kamu menelan ludahmu dan menyusun kata-kata untuk memberikan penjelasan kepada semuanya.
"Dia yang mengajakku bertarung." Katamu menghela napas.
"Bertarung?" Akashi langsung bertanya dengan nadanya yang tajam. Dengan segenap kata-kata/? Yang sudah kamu susun. Kamu sudah siap menjelaskan apa yang terjadi.
"Mira adalah teman sekelompokku dulu…kami biasanya bertarung untuk melatih kemampuan masing-masing." Katamu kembali menghela napasmu.
"Mira adalah temanmu dulu? Aku tak pernah mengetahui itu. apa kau memberi tahu sesuatu tentang kami?" kata Nijimura dengan nada agak sewot/?
"Tidak, aku hanya bilang kalau aku bergabung dengan musuh." Katamu. Alex hanya mendengarkan dengan seksama.
"Kenapa kau meledakannya nodayo?" kata Midorima
"Eh… karena…" kamu mencari jawaban yang tepat. Karena kamu memang tidak mempunyai alasan untuk itu.
"Hanya untuk bersenang-senang…" suaramu pelan.
"APA?!" semuanya kaget dengan jawabanmu barusan.
"Baiklah, karena perbuatanmu, kau akan dihukum." Kata Alex tersenyum. Kamu menelan ludahmu. Terbayang hukuman yang kamu terima saat di neraka kejam dulu. Kamu akan disuruh skotjam 1500x. bahkan temanmu pernah ada yang dihukum 5000 kali push up. Dan- dia mati karena kelelahan.
"kau-" kamu sudah bersiap dengan segala hukuman yang akan ia berikan padamu.
"dilarang keluar rumah selagi tanganmu belum sembuh total." Katanya.
"Eh?" katamu. Kamu hanya bersweatdrop ria.
"ada apa?" kata Aomine
"Hanya itu?" katamu dengan muka polos.
"Hanya itu?!" kata yang lain berbarengan. Setelah penghakiman itu selesai, mereka pergi ke kamar masing-masing.
"Kau membuat kekacuan yang sangat besar [Name]-chan." Kata Momoi yang berjalan di depanmu. Kamu hanya tersenyum mendengarnya.
"Itu menyenangkan kok." Katamu terkekeh.
.
.
.
.
.
.
Kamu membaca email dari Momoi. Hari ini mereka akan pulang malam. Kamu hanya menghela napasmu karena kamu harus sendirian di rumah ini lebih lama. Kamu membalas emailnya agar tidak mampir kemanapun setelah latihan. Kamu menghela napasmu. Perutmu terasa sangat lapar hingga membuatmu pergi menuju dapur. Kamu membuka kulkas dan mengambil sayur-sayuran dan mayonnaise yang ada di sana. Dengan tangan kirimu yang sudah sangat terbiasa memegang benda tajam, kamu memotong sayuran itu dengan rapih/?. lalu kamu melumuri sayuran itu dengan mayonnaise di atasnya. Tak lupa membuatkan teman-temanmu juga.
.
.
"Tadaima~" suara Momoi sampai ke halaman belakang. Kamu hanya tersenyum lega karena mereka sudah pulang.
"Wah! Dia menyediakan makan malam untuk kita-ssu!" kata Kise girang.
"bukannya dia dihukum tidak boleh keluar rumah selama tangannya belum sembuh?" kata Aomine
"Kurasa dia membuatnya..." kata Kuroko duduk di meja makan.
Mimoi mencarimu ke halaman belakang. Kamu sedang duduk di jembatan sambil merendam kakimu di kolam ikan.
"[Name]-chan! Jangan merendam kakimu malam-malam! Nanti kau bisa sakit!" kata Momoi berjongkok di sampingmu.
"Aku akan baik-baik saja." Katamu.
"Apa kau membeli makanan itu?" kata Momoi ikut duduk di jembatan, tapi kakinya tidak dimasukan ke dalam air.
"aku membuatnya." Katamu
"dengan tanganmu yang begitu?" kata Momoi menatapmu kaget.
"Kami diharuskan bisa menggunakan senjata dengan kedua tangan." Katamu menatap ke arah air. Momoi hanya mengangguk dan mengajakmu ke masuk ke dalam rumah. kamu langsung naik ke lantai 2.
"Hei."
Kamu dengan otomatis menoleh ke sumber suara. Itu hanyalah Akashi yang memanggilmu.
"Ada apa? Tuan." Katamu degan sedikit menekan nada pada kata 'tuan'.
"buatkan aku susu hangat dan letakan di kamarku." Katanya. Kamu hanya mengangguk kesal. Kamupun kembali turun ke dapur dan membuatkan susu untuk tuanmu itu.
"walau kondisiku sedang begini dia benar-benar tidak mengurangi tugasku." Katamu menggerutu. Tiba-tiba kamu teringat dulu mama sering membuatkanmu dan kakakmu susu hangat sebelum tidur. Kamu segera menggelengkan kepalamu dan membawa susunya keatas yang kamu pegang dengan tangan kirimu.
"letakan saja di meja." Katanya, kamupun meletakannya di meja dan berjalan keluar.
"Siapa yang menyuruhmu keluar?" katanya tajam. Kamu hanya menghela napas dan membalikan badanmu kearahnya.
"kemarilah… aku akan mengajarkanmu pelajaran di sekolah…" kata Akashi halus. Kamupun duduk disampingnya. Ia membuka buku matematika miliknya. Kamu melihat tulisannya yang tersusun rapih. iapun mulai menjelaskan padamu. Pertamanya kamu memperhatikannya dengan serius. Lama-lama pandanganmu beralih ke wajahnya yang tampan. Ia pun menoleh kearahmu. Kalian saling bertatapan. Suasana hening seketika. Mata kalian saling bertatapan begitu lama. Entah hanya perasaanmu saja, wajah Akashi tambah mendekat dengan wajahmu.
Mendekat…
Mendekat…
Mendekat…
3cm…
2cm…
"Akashicchi! Apa kau ada di dalam?"
Suara Kise membuat kalian menjauhkan muka kalian masing-masing. Mukamu memanas. Kamu langsung mengambil bantal dan memeluk bantal itu sambil menunduk.
"Masuk saja Ryouta." Kata Akashi. Kise masuk ke dalam ruangan itu.
"Ternyata ada [Name]cchi juga, sedang apa kalian."
"aku sedang mengajarkannya matematika" kata Akashi. Kise hanya melihat catatan Akashi yang bertebaran di kasur.
"[Name]cchi kenapa?"
"aku tidak apa-apa" katamu menatapnya datar.
"baguslah, aku hanya mau pinjam catatan IPA" kata Kise. Akashi memberikan catatannya pada Kise.
"lain kali catat sendiri Ryouta…" kata Akashi. Kise hanya terkekeh dan pergi keluar
Reader P.O.V
Oh damn! Kesambet setan macam apa dia tadi? Dan kenapa aku malah sama sekali tak berkutik? Mimpi apa aku barusan?
"kau cukup cantik kalau sedang memerah…" kata Akashi tersenyum padaku. aku melempar bantal dengan tangan kiriku ke mukanya. Dia hanya terkekeh sambil menangkis bantal yang ku lemparkan.
'hangat' kataku bergumam dalam hati melihat dia tersenyum seperti itu. aku pernah merasakan ini sebelumnya. Tapi entahlah…
"baiklah, sudah malam. Nanti kita lanjutkan.." katanya tersenyum. Aku langsung saja keluar dari kamarnya. Dan pergi ke kamarku dan Momoi. Aku melihat Momoi sedang mengerjakan tugas-tugasnya.
"Momoi-chan…"
"Ya ada apa?" katanya ramah
"bisa aku bertanya sesuatu?"
"apa?"
"di mana orang tua kalian?" kataku menatap Momoi. Wajahnya berubah tiba-tiba, ia menghela napasnya dan tersenyum.
"baiklah akan ku ceritakan" katanya.
"10 tahun yang lalu orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat saat pergi ke luar negri. Aku sempat mengantarnya ke bandara dan aku menyimpan foto mereka di diaryku" kata Momoi sambil memperlihatkan foto yang ada diary miliknya.
"lalu bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
"setelah itu, aku dirawat oleh bibiku yang jahat. Ia selalu memarahiku, bahkan aku dicambuk olehnya." Aku mengingat kalau di punggung Momoi memang ada bekas luka. Aku sempat melihatnya saat ia selesai mandi.
"karena aku tidak tahan, aku pergi meninggalkan rumah terkutuk itu dan pergi ke panti asuhan sendirian." Aku mengingat nii –san yang pergi meninggalkan rumah begitu saja. Harusnya aku ikut dengannya waktu itu. pasti saat ini kami masih bersama.
"lalu aku bertemu dengan Dai-chan dan tinggal di sana bersama yang lainnya. 3 bulan setelah aku dirawat di sana, panti asuhan itu kebakaran. Aku dan Dai-chan melarikan diri dari sana dan pada malam itu… kami duduk di stasiun dengan kelaparan. Aku melihat banyak orang yang membawa makanan lezat. Aku dan Dai-chan menawari orang-orang untuk membantu membawa bawaan yang berat pada orang-orang. Setelah terkumpul, kami membeli sebuah donat dan kami bagi dua. Lalu kami tidur di tempat itu. setelah itu, seseorang membangunkan kami dan mengusir kami dari tempat itu. kami duduk di jalan raya melihat orang-orang yang berlalu lalang. Dan akhirnya kami ditemukan oleh Alex." Kata Momoi mengakhiri ceritanya. Kamu hanya menunduk mendengarkan ceritanya.
"Mau kuceritakan yang lain?" katanya. Aku hanya mengangguk.
"Kii-chan bilang, dia berasal dari keluarga miskin di desa, ia memiliki dua orang kakak dan orang tua yang sudah tua. Lalu pada waktu berumur 9 tahun, ia pergi merantau ke kota. Lebih tepatnya kabur dari rumah dengan meninggalkan surat di secarik kertas. Ia pun memulai karirnya sebagai model. Saat kembali ke rumah berumur 12 tahun, ia mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dan kakaknya sudah lama tidak pulang ke kampung halaman lagi." Aku menunduk mendengarkan cerita itu.
"Kalau Mukkun, ia adalah anak yang dibuang oleh orang tuanya. Ia tinggal bersama seorang nenek tua yang baik dan sering membelikannya banyak snack. Ia selalu di manjakan dan menjadi cucu kesayangan orang itu. lalu suatu hari, nenek itu meninggal karena sakit. Iapun dipungut alex saat ia bekerja sebagai penjual Koran di sebuah mall." Aku menghela napas panjang. Masih ada tiga orang lagi.
"Tetsu-kun tidak mau menceritakan banyak tentang orang tuanya. Ia hanya berkata kalau ia mengenal Alex sejak kecil dan setelah orang tuanya meninggal, ia tinggal dengan Alex. Midorin dan Akashi-kun adalah anak dari keluarga terpandang, sama sepertimu. Mereka juga dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang oleh orang tuanya, sama sepertimu. Dan orang tua mereka juga dibunuh karena harta sama sepertimu."
"Orang tuaku dibunuh karena harta?" kataku terkejut. Aku baru mengetahui hal ini. Demi apapun paman dan bibi tak pernah menceritakan apapun padaku.
"kau belum tahu? Ayah dan ibumu dibunuh oleh paman jahat yang merawatmu, siapa namanya.. eh.."
"dia bukan pamanku." Kataku.
"dia juga membunuh paman dan bibimu yang baik itu…" kata Momoi.
Aku menahan emosiku dengan menghela napas dan mengepalkan tanganku. Aku mulai berpikir untuk menjebloskanya ke penjara. Tidak! Kalau perlu langsung suntik mati saja!
"baiklah, terima kasih Momoi-chan." Kataku tersenyum. Aku langsung mengambil laptop yang ada di tas dan mengerjakan sesuatu.
.
.
.
.
"Permisi apa kau ada di dalam?"
"masuk saja [Name]-chan" kata Alex yang menyuruhku masuk.
"tumben sekali [Name]-chan berkunjung kemari, ada apa?" aku langsung menyerahkan semua yang aku kerjakan semalaman sampai Momoi marah marah karena aku tidak tidur.
"Apa ini?" katanya
"Ini peta gedung neraka jahanam itu. lokasinya ada jauh dari pulau ini. Sangat jauh, aku sudah menjelaskannya di dalam dokumen itu." Kataku dengan semangat berapi-api karena aku sangat marah pada om om berengsek itu. setiap malam, dia minum vodka bersama perempuan perempuan murahan yang ia sewa. Itu sangat menjijikan sekali. Dan parahnya, Alex hanya tersenyum melihatku yang terlalu bersemangat.
"Kau sangat membantu, terima kasih. Silahkan keluar." Katanya. Jujur aku sweatdrop karena sikapnya itu. aku hanya menepuk dahiku dan pergi keluar ruangan itu. akupun pulang ke rumah dengan rasa antara bersemangat dan kecewa. Entahlah. Pokoknya aku mau cepat cepat membunuh orang sialan itu. kenapa orang jahat matinya selalu paling terakhir? Pokoknya aku benci benci benci benci orang itu. dia membunuh orang-orang yang aku sayangi dan mengajariku hal hal yang seperti itu. dia kira aku ini anak bodoh? Walau aku masih kecil aku juga tau apa yang ia lakukan pada anak-anak seperti kami. Pelatihan bodoh yang membuat sebagian dari kamu mati. Bahkan aku juga hampir mati. Pokoknya aku sangat membencinya!
.
.
.
.
.
TBC
Authornya jarang update yaa? Maaf maaf, author sibuk/? *sok sibuk*
Untuk windyanaangelica, makasih banget uda ngingetin w dulu soalnya belum tau bedanya nee sama nii #digeplak
Chou… jangan menunggu aku :')
Shiro, aku pasti menyelesaikan/? FF ini kok :3
Uzumaki Himeka, Iyaa… jujur karena kelamaan update, idenya langsung ilang semua :o
Nurunuzu, etto… tadinya mau dikasih spoiler, tapi gajadi, jhahahaha *ketawa jahat*
Okee thanks uda baca FF gaje buatanku yang aneh bin aneh/?
See you next time!
