The Blade

.

.

.

Saya balik lagi!

Maaf minggu kemarin aku gak update, dan curut minta maaf karena chapter kemarin itu berantakan banget. Curut minta maaf, akan curut perbaiki di chapter ini.

Terimakasih bagi yang sudah menunggu, menjadi silent reader, mem-fav, mem-follow dan mereview chapter kemarin dan chapter kemarinnya lagi. Curut sangat terharu... Curut sangat berterimakasih atas tanggapan kaliaaaaan.

Saa... Gimana UTS-nya?

Mungkin ini bisa sebagai sarana penghibur?

Enjoy!

.

.

.


Boboiboy adalah milik Monsta studio. Saya hanyalah seorang penggemar Boboiboy yang meminjam karakter mereka untuk sementara.

Cerita ini adalah milik Manusia Curut.

Warn : Typo(s) adalah sahabat karib saya dalam menulis jadi mohon maklumi. Penyakit gila saya juga dapat kambuh tiba-tiba saat menulis dan membuat cerita ini jadi tidak nyaman di baca.

Curut sangat memohon bantuan minna-san dalam memperbaiki cara penulisan curut :3

So, READY?!

.

.

.

GO!


.

"Bagaimana jika kita tidak menjadi rekan yang baik?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Yang pasti kita akan mati jika kita tidak menjadi rekan yang baik"

"Lalu bagaimana caranya agar bisa menjadi rekan yang baik?, ya kau tahu aku tidak mau mati di usia muda"

"Caranya adalah berusaha menjadi kawan yang yang saling membantu satu sama lain dan percaya kepada rekan bukan sebagai rekan, tetapi sebagai kawan"

"Bukankah rekan dan kawan itu berbeda?"

"Memang berbeda, tetapi jika dipadukan hasilnya sangatlah keren"

"Baiklah, apa kau ingin menjadi kawanku?"

"Jika berkawan denganmu aku harus berfikir puluhan malam dulu, bodoh"

.


Chapter 2 : Paku Membuatku Mual


Aku lapar. Jika aku tidak makan sekarang juga, perutku akan sakit.

Berjalan memanglah hal yang biasa dan wajar dilakukan oleh seorang survivor, tetapi percayalah berjalan dengan perut yang kosong bukanlah hal yang bagus.

Aku baru ingat jika semalam aku dan Yaya menghabiskan semalaman penuh untuk membicarakan perdamaian sampai tengah malam. Kami tertawa dan menceritakan angan-angan kami satu sama lain. Rasanya seakan malam pun menuruti mau kami, angina malam ang dingin berhembus begitu lembut dan membelai kulit kami secara halus. Tidak ada badai pasir, tidak ada Survivor jahat yang menikam, dan tidak ada makan malam.

Ya, makan malam.

Perutku mengeluarkan bunyi yang menyedihkan, bergemuruh meminta untuk di isi makanan. Andai kemarin aku tidak menyerahkan kantung cadangan makananku pada Yaya, mungkin kini aku bisa makan sesuatu. Tetapi kini kantung makananku telah di simpan oleh Yaya.

Sekarang aku sudah sangat lapar dan perutku juga tidak bisa diajak bernegosiasi lagi.

"Yaya..."

Aku harus makan sekarang juga, tetapi bagaimana caranya aku meminta makanan pada Yaya?, oh ya tuhan perbincangan semalam saja sudah membuatku terpojok dengan amat sangat. Ia terus saja mengataiku bodoh dengan berbagai bahasa dan rasanya sangatlah memuakan.

Kini, satu satunya hal yang kuinginkan adalah melahap sesuatu, tapi bagaimana caranya aku bisa meminta makanan pada Yaya tanpa dikatai bodoh lagi?

"Apa?" Yaya menjawab sahutan tidak bertenagaku itu dengan penuh semangat. "Kau memanggilku?"

Aku meneguk saliva. "T-tidak... sebenarnya iya".

Yaya tersenyum simpul dan melambatkan langkahnya ditengah tanah gersang. "Kenapa?"

"Kenapa... apa?" Jawabku bodoh, mungkin karena aku sudah terlalu lapar aku menjadi tidak berkonsentrasi.

Yaya mendengus kesal. "Ish jangan bodoh Boboiboy, bukankah tadi kau yang bertanya padaku?"

Dia meledekku bodoh lagi...

Mungkin meminta makanan pada Yaya tanpa dikatai bodoh merupakan salah satu hal yang paling mustahil untuk terjadi di dunia ini, tetapi aku tidak mungkin bukan mengaku bahwa aku lapar pada Yaya dengan cara mengatakan 'Yaya aku lapar, minta makanan' lalu menunjukan wajah memelas.

Itu akan merusak reputasiku sebagai seorang Survivor tersohor.

Tahanlah Boboiboy sebentar lagi malam... sebentar lagi malam... Batinku berusaha meyakinkan perutku agar dapat bertahan sebentar lagi dengan mengatakan bahwa sebentar lagi malam akan datang menghampiri, walau sebenarnya aku tahu bahwa sekarang masih sekitar pukul 10 pagi.

"Boboiboy, aku ingin bertanya mengenai satu hal" Ucap Yaya tanpa mengubah pandangannya. "Soal mencari teman, bagaimana caranya kita dapat menambah jumlah dari kita?"

Aku berdeham kecil. "Soal itu, mungkin caranya adalah dengan menantang survivor yang kita temui lalu kita mengalahkannya dan kita menawarkan mereka apa ingin bergabung dengan kita dengan cara merayunya atau apapun sejenisnya"

"Jika gagal?, maksudku jika orang itu tidak mau menerima tawaran kita?"

"Bunuh"

Yaya berdecak pelan. "Jangan dibunuh Boboiboy"

"Di mutilasi?"

"Itu sama saja"

"Dihilangkan nyawanya"

"Bodoh!, aku serius tahu!" Yaya mendengus kesal dan berjalan sembari menghentak-hentakan keras kakinya ke atas tanah sebagai pelampiasan emosi. "Mungkin kita harus membiarkan lawan kita pergi saja. Itu lebih baik, bukan?"

"Jangan, itu artinya sama saja kita menambah jumlah musuh" Kilahku menentang pendapat Yaya. "Lebih baik kita membunuh lawan kita"

"Membunuh lawan sama saja mengurangi jumah populasi manusia. Semakin sedikit populasi manusia, maka semakin cepat pula manusia akan punah"

"Tetapi tetap saja lebih baik jika di bunuh"

Yaya mendengus. "Lalu jika semua orang di muka bumi ini menolak, maka kita akan membunuh mereka semua?, seperti itu maumu, hah?"

Aku menjadi gugup. Ucapan Yaya ada benarnya.

"Y-ya sudah, jika begitu kita berdua terpaksa harus membuat membuat generasi baru".

Membuat generasi baru dengan Yaya?, yang benar saja…

Kedua pipi Yaya memerah. "Ma-mana sudi aku memiliki anak denganmu. Yang benar saja, lebih baik aku mati di tanganmu".

Ucapan Yaya terdengar begitu ketus dan membuatku terkekeh geli. Sebenarnya aku juga tidak mau bergenerasi dengan seorang survivor seperti Yaya. Pasti mengerikan sekali.

"Lalu bagaimana penyelesaiannya?" Ucapku akhirnya, meskipun dengan menahan sedikit suara kekehku karena masih membayangkan bagaimana jika aku bergenerasi dengan Yaya.

"Mungkin kita biarkan saja mereka tetap hidup dan bebaskan lawan kita. Mungkin orang-orang yang sudah kita lawan akan memikirkan tawaran kita 2 kali dan mungkin saja jika nantinya mereka ikut bergabung dengan kita"

"Hm… masuk akal…" ujarku sembari menggigit jari.

Yaya mendengus pelan. "Percuma saja tadi aku bertanya padamu jika pada akhirnya aku juga yang menjawab pertanyaanku sendiri". Yaya menghela nafas secara kasar dan mempercepat langkah kakinya. Percuma saja ia mempercepat langkah kakinya, aku tetap bisa menyusulnya karena langkah kaki Yaya begitu pendek.

Yaya perempuan yang kuat, mungkin ia memang salah satu orang yang dapat aku andalkan. Ia kuat menghadapi masalah dan pemikirannya juga cepat (Tidak sepertiku yang cukup lama dalam memecahkan suatu masalah). Yaya bukanlah tipe orang yang dapat kau remehkan begitu saja karena penampilannya yang cukup manis dan bicaranya yang lembut (Meskipun ia terus mengataiku bodoh), bisa jadi ia sudah memikirkan bagaimana cara menumbangkan lawannya sebelum lawanya bergerak.

Tanpa sadar, aku mulai berfikir bahwa Yaya adalah orang yang tepat untuk dijadikan tempat bergantung. Mungkin kita akan menjadi rekan... maksudku kawan yang baik.

Kurasa.


FLASHBACK :: Semalam

.

"Kita akan menjadi rekan yang baik…" Yaya tidak mengalihkan pandangannya dari langit gelap malam yang dihiasi oleh bermilenium-milenium bintang. Senyumannya terkembang cukup lebar. Jangan bertanya bagimana aku bisa mengetahuinya padahal kami berdua tengah berbaring di atas tanah yang keras sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya. Hanya firasatku yang mengatakan jika ia tersenyum.

"Rekan?"

Yaya tertawa kecil. "Iya, rekan. Sejenis kawan yang bekejasama satu sama lain untuk mencapai keberhasilan"

"Oh" jawabku begitu singkat.

Sudah setiap malam aku memandang bintang di langit, tetapi baru pertama kalinya aku terpukau melihat bintang bersinar di langit. Meskipun sama seperti malam-malam lainnya, bintang pada malam hari ini memiliki kesan yang berbeda. Ini membuatku berusaha untuk menghindari argumen dengan Yaya hanya sekedar untuk memandang kumpulan bola gas bercahaya yang terletak di luar bumi.

"Boboiboy, menurutmu ada berapa banyak bintang yang ada di luar angkasa?"

"Entahlah, mungkin tidak terhingga?" Jawabku malas.

"Tidak mungkin jumahnya tidak terhingga. Semua hal itu dapat di hitung"

"Ya" kilahku tidak peduli. "Jika kau memiliki kesabaran yang sangat banyak"

Yaya tertawa kecil dengan suara yang cukup pelan. "Kau tahu?, dulu aku memiliki seorang teman sesama Angtrōs yang menceritakanku sebuah cerita mengenai bintang"

Aku menatap Yaya dengan melirikan sedikit mataku ke arahnya. Dapat aku lihat dengan jelas perubahan ekspresi di wajahnya menjadi ekspresi sedih.

"Mau mendengarnya?" Tanya Yaya.

Aku terdiam tidak peduli.

Yaya menghela nafas. "Aku anggap itu sebagai iya. Dulu, setiap bintang itu dapat berkomunikasi satu sama lain"

"Berkomunikasi?" Tanyaku penasaran dan mulai antusias.

"Terdengar aneh, bukan?"

Aku tersenyum, "Iya, bagaimana caranya sebuah bola gas raksasa bisa memiliki mulut dan berbicara satu sama lain"

"Hahaha…" Yaya tertawa lagi, meskipun kali ini terdengar sedikit dipaksakan. "Ya begitulah. Anggap saja mereka memiliki mulut sehingga dapat berbicara satu sama lain"

"Aku tidak pandai berimajinasi"

Yaya memutar kedua bola matanya searah dengan jarum jam.

"Jadi dulu sekali, bintang dapat berkomunikasi satu sama lain. Ada satu bintang, rupanya sangatah kecil dan sinarnya pun redup.

"Kasihan sekali" Kataku memberi respon.

"Iya" Yaya mengangguk. "Bintang kecil itu bernama Si Kerdil Coklat , atau biasa di sebut Brown Dwarf. Ia bersahabat karib dengan salah satu bintang terterang di alam semesta yang bernama Pollux"

Aku memindahkan tatapanku dari langit menuju Yaya yang kini memejamkan kedua bola matanya dengan erat, seakan ia tidak mau membukanya sama sekali. Meskipun kedua bola matanya tertutup, bibir kecilnya membentuk sebuah kurva manis.

"Ceritanya menarik, lanjutkan"

Yaya menampakan iris coklatnya dan menatapku dengan tatapan menyindir. "Pollux dan Brown Dwarf adalah sepasang sahabat yang aneh. Hampir semua bintang lainnya menghina Brown Dwarf dan berusaha menghasut Pollux untuk menjauhi Brown Dwarf. Tapi Pollux tidak peduli Suatu hari, Brown Dwarf merasa begitu lemah. Ia sudah tidak kuat menghadapi semua hinaan yang dilemparkan padanya, maka Brown Dwarf memutuskan untuk berusaha bersinar dengan lebih terang agar dapat diakui oleh bintang lainnya bahwa ia tidaklah lemah. Brown Dwarf menceritakan niatannya tersebut pada Pollux. Setelah Pollux mendengar celotehan sahabatnya ia terdiam dan tersenyum"

Tepat setelah Yaya berucap begitu panjang, angin dingin menerpa kami berdua, angin itu memanglah tidak begitu besar tetapi cukup membuat api unggun kami bergoyang dan hampir padam.

Aku mengerutkan dahiku. "Dia hanya tersenyum?"

"Tentu tidak" Yaya tersenyum. "Aku belum bilang bahwa ceritanya sudah tamat, bodoh"

"Jangan panggil aku bodoh cerewet. Lanjutkan ceritanya" ucapku.

"Baiklah" Kata Yaya halus, walaupun ia menahan sedikit emosi. "Setelah Pollux tersenyum, ia berkata 'Jika kau sudah bisa bersinar lebih terang lagi, apa yang akan kau lakukan?'. Brown Dwarf terdiam selama beberapa saat, tetapi tak lama ia menjawab 'Tentu saja aku harus bertambah terang lagi, aku ingin menjadi bintang yang lebih terang dibandingkan Sirius'"

Aku menahan tawaku."Pffth... Lebih terang dari Sirius?, bukankah Sirius itu bintang yang paling terang di alam semesta?"

"Ya, kau benar. Sirius itu bintang yang memiliki cahaya paling terang dan paling mudah di lihat". Yaya menunjuk ke salah satu bintang yang terang di langit. "Itu Sirius"

"Gila, bintang yang kerdil seperti Brown Dwarf ingin menjadi lebih terang dari bintang seterang Sirius?" tanggapku dengan begitu mudah. Wajar bukan aku berkata seperti itu?

"Selanjutnya, Pollux hanya mampu menahan senyum. Pollux tahu keadaan Brown Dwarf memanglah sangat sulit, tetapi pilihan Pollux jugalah hal yang salah. Pollux akhirnya kembali bertanya 'Menjadi bintang paling terang?'. Brown Dwarf kembali menimpali sembari di sertai oleh tatapan mata yang serius. 'Ya', jawabnya begitu yakin. Pollux terkekeh pelan 'Tetapi bagaimana caranya?'. Setelah Pollux berkata demikian, Brown Dwarf pun terdiam"

Yaya bangkit dari posisi terlentangnya dan ia pun terduduk sembari menatap langit yang kini memancarkan kerlap-kerlip indah. Tatapan matanya terlihat begitu damai, seperti ia tidak peduli bahwa ia adalah Angtrōs terakhir ataupun kini ia harus menjadi rekan seorang survivor bengis seperti diriku.

"Pollux berkata lagi. 'Menjadi bintang yang terang merupakan hal yang menyenangkan, tetapi tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari memiliki sahabat seperti dirimu'. Brown Dwarf tertegun dan seketika terdiam setelah mendengar ucapan Pollux. Brown Dwarf tidak pernah mengira bahwa Pollux menganggapnya sahabat dengan tulus, lalu Pollux melanjutkan ucapannya. 'Jika kau lebih terang dari si keparat Sirius itu, berarti kau akan menjatuhkan peringkatku menjadi peringkat ke-13'. Brown Dwraf tidak mampu menjawab apapun. Dirinya seakan tiba-tiba menerima goncangan besar yang diberikan oleh Pollux."

Aku terdiam sejenak dan mulai mencerna kembali cerita Yaya, sedangkan Yaya menatap langit dengan tatapan yang semakin lama menjadi semakin intens. "Pollux kembali berkata. 'Kau memang kecil dan cahayamu itu redup dan menenangkan, tetapi itulah dirimu. Jangan coba-coba kau ikuti orang lain karena kau telah tercipta dengan ciri khasmu sendiri. Jadilah dirimu sendiri, walaupun nantinya kau akan menerima cemohan dari bintang yang lain, tetapi kau tetap menjadi dirimu sendiri. Menurutku itu lebih baik dibandingkan jika kau mengikuti Sirius'."

Aku terdiam sebentar dan memandangi langit dengan tatapan menerawang.

"Ceritanya tamat?" tanyaku.

"Hampir tamat" Yaya tersenyum aneh. "Setelah itu, Brown Dwarf mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Pollux terharu"

"Apa itu?" Tanyaku.

"Brown Dwarf berkata 'Kaulah kawan terbaikku, Pollux.'. Akhirnya, Pollux dan Brown Dwarf bersahabat samapi saat ini. Pollux meminta Brown Dwarf untuk selalu berada di sisinya. Tamat"

Aku terduduk dan menatap bintang dengan tatapan intens. Satu persatu bintangku terawang dengan teliti. Hanya ada satu hal yang ingin ku lakukan sekarang. Mencari dimanakah bintang Pollux.

"Apa yang kau lakukan Boboiboy, tatapanmu aneh?"

"Mencari Pollux" ujarku tanpa mengalihkan perhatianku dari langit yang di hiasi oleh bermilenium-milenum bintang.

"Terlambat, aku sudah menemukannya" Yaya menunjuk ke salah salah satu bintang dengan cahaya terang yang berada di barat daya. "Itu Pollux"

Baru aku sadarai bahwa sejak tadi Yaya memandang langit dengan tatapan intens karena hendak mencari sang Pollux.

Ayo melihat kearah bintang yang ditunjuk oleh Yaya. Bintang itu memiliki sinar oranye yang begitu indah. Ia tampak begitu mencolok karena warnanya yang berbeda dengan bintang lainny. Sejenak, aku begitu terpukau dengan keindahan Pollux. Bintang itu mencuri perhatianku.

"Apa kau lihat ada cahaya redup berwarna coklat tua di samping kiri Pollux?"

Mataku menerka dengan lebih serius, sekilah aku dapat melihat secercah cahaya redup yang sedikit berkelap-kelip dengan cahaya coklat tua yang begitu menenangkan. Bintang itu nampak begitu menenangkan.

"Ya aku melihatnya" Aku menatapnya dengan terpukau. "Itu Brown Dwarf?"

Yaya mengangkat sedikit bahunya. "Entahlah, yang tadi aku ceritakan padamu hanyalah dongeg belaka"

Kami berdua kembali terlarut dalam lamunan kami masing-masing. Angin kembali berhembus dan mengisi keheningan kami. Sejujurnya aku bukanlah tidak ingin mengajaknya berbicara, tetapi aku hanya terlalu gugup.

Tadi di awal kau bilang menjadi rekan yang baik ... ya?

"Tadi kau bilang bahwa kita dapat menjadi rekan yang baik" ucapku kembali memulai percakapan.

Yaya menengadahkan pandakannya padaku. "Ya, lalu?"

"Bagaimana jika kita menjadi kawan saja? ... se-seperti Pollux dan Brown Dwarf!"

Setelah itu, Yaya terdiam membisu. Ia benar-benar tidak mengucapkan hal lain lagi malam itu.

.

FLASHBACK :: Off


.

Yaya berjalan tepat didepanku sembari bersenandung kecil. Senandung memang terkesan menyenangkan, tetapi lagu yang disenandungkan oleh Yaya tidak terdengar menyenangkan sama sekali. Lagu yang disenandungkan Yaya sepertinya menyeramkan. Ada beberapa nada minor di senandungan Yaya yang sempat membuatku merinding selama beberapa saat.

"Yaya, kau menyenandungkan lagu apa?"

Yaya menengok kebelakang dengan tatapan awas. "Lagu penguburan Angtrōs"

Pantas saja.

Aku menoleh ke arah barat. "Kau tidak tahu lagu lain selain lagu penguburan Angtrōs?"

"Entahlah..." Yaya mendelikan bahu. "Lagu Angtrōs yang lain terlalu payah untuk dinyanyikan"

Terlalu payah. Pasti lagunya sangat tidak enak, tetapi mungkin saja lagu Angtrōs enak untuk didengar. Mungkin hanya selera musik Yaya saja yang jelek.

Tak lama Yaya mengehentikan langkah kakinya. Tatapannya berubah menjadi fokus, kedua bahunya menegang dan nampak sekali bahwa ia masih belum begitu siap untuk menghadapi pertarungan.

"A-ada orang yang datang..." Ucap Yaya tergagap. "Memang belum begitu jelas rupanya, tetapi aku dapat melihat bayang seseorang di sebelah sana". Yaya menunjuk ke arah utara, memang terlihat cukup samar dan bergoyang karena sinar matahari cukup terik saat ini. Tetapi, aku juga dapat melihat samar-samar bayangan hitam berjalan ke arah kami.

Dadaku bergejolak, rasanya sudah tidak sabar lagi untuk melukai seseorang, padahal baru saja kemarin aku menghanguskan pria tua berambut aneh yang berakhir dengan pertemuanku dan Yaya.

Yaya mundur beberapa langkah ke arah belakang. Tatapan matanya melebar dan tangannya sedikit bergetar.

"Ada apa?" tanyaku was-was, tetapi Yaya tidak menggubris pertanyaanku. Sementara itu, bayangan musuh kami terus mendekat. Rupanya semakin lama semakin jelas untuk dipandang. Tubuhnya menjulang tinggi sekitar 187 sentimeter. Pandangan matanya begitu tajam dan membunuh.

Jantungku berdegup semakin keras karena gugup.

"Yaya, jawab aku!" ucapku dengan suara sedikit bergetar. Entah mengapa firasatku mengatakan bahwa akan ada hal buruk yang akan segera terjadi.

"Yaya!"

Rupa orang itu pun tampak. Wajahnya terlihat begitu licik, dan giginya begitu tajam seperti perangkap jeruji untuk menangkap rusa. Rambutnya terlihat panjang dan sangat berantakan, ia terlihat seperti orang yang sangat berantakan. Ia menenteng tas selempang kecil berwarna hitam kecil yang terlihat sedikit kumal, tubuhnya di tutupi oleh jubah hitam panjang.

"I-itu... Paku..."


Yaya terus melangkah kebelakang dan akhirnya ia bersembunyi di belakang punggungku, berniat untuk bersembunyi. "I-itu... Paku..."

Aku terbingung-bingung sendiri dan melirik ke arah tanah.

Tidak ada paku di tanah...

"Paku?" ucapku.

Tubuh Yaya terus bergetar di belakang punggungku. "Dia salah satu survivor paling ditakuti dan dihindari oleh para survivior yang tidak sengaja bertemu dengannya"

Kami terdiam sejenak, Yaya terus berusaha untuk menyembunyikan tubuhnya di balik punggungku.

"Paku itu nama orang yang ada di depan kita itu?" tanyaku polos.

"I-iya..." jawabnya lirih. "Namanya Paku"

Aku berusaha menahan tawa karena kebodohanku sendiri. Aku kira di tanah ada paku jadi Yaya ketakutan sendiri dan berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik tubuhku.

"Hahaha..., namanya aneh!"

"Ssshhhh..." Yaya memukul pelan pundakku. "Jangan salah, belum pernah ada orang yang berhasil melewatinya dan tidak ada yang berhasil hidup setelah melawannya"

"Tetapi kau tidak perlu memukulku"

"Aku hanya ingin memberikan sedikit saran agar kau bisa tetap hidup setelah berhadapan dengannya. Jangan remehkan orang ini, atau kau akan mati dengan mulut berbusa"

Aku menaikan sebelah alisku. "Mulut berbusa?"

"Ya". Yaya mengangguk pelan di belakang tubuhku, ia kembali merendahkan tubuhnya dengan berjongkok, berharap tubuhnya tidak terlihat. "Ia adalah tipe petarung yang tidak biasa, intinya kurangi kontak langsung dengannya"

"Mengapa?"

"Aku tidak tahu" Yaya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda tidak tahu, dan berjongkok lebih rendah lagi sambil mengedarkan pandangannya. "Aku diberitahu oleh salah satu rekanku dulu mengenai hal itu"

Menghindari kontak langsung?, bertarung jarak jauh?

"Tidak mungkin aku melakukan hal yang katakan. Aku ini petarung jarak dekat" Ucapku tegas. "Lalu, mengapa kau bersembunyi di balik tubuhku?"

Yaya tergagu sejenak. "A-anu... h-hal itu.. e-"

"Jangan bilang kau tidak pernah bertarung!" teriakku kencang padanya.

"Ucapanmu barusan benar..."

Jadi maksudmu...

Darah emosiku melonjak. "KAU BILANG KAU INGIN BERTARUNG UNTUK MEWUJUDKAN PERDAMAIAN TETAPI KAU TIDAK PERNAH BERTARUNG, BEGITU?!"

Yaya memberikan cengiran tanpa rasa bersalah sedikit pun, seakan ia tidak peduli dengan keadaan diriku yang kini sangat emosi. "Se-seorang Angtros selalu menghindari pertarungan. Mereka memandangi pertarungan dari baru menghampiri ketika pertarungannya selesai dan mengetahui pemenangnya"

Aku mencibir pelan. "Payah..."

"Kau juga payah, bodoh!"

"Berhenti mengataiku bodoh!"

"Baka, Aho, Idiot-"

"Itu artinya juga bodoh, kau hanya meledekiku bodoh dalam bahasa yang berbeda!"

Sementara itu, orang yang bernama "Paku" itu terus berjalan mendekat kearahh kami berdua yang kini tengah sibuk berdebat hal yang tidak penting sama sekali.

"Ah ah... bisakah kalian berdua berhenti berdebat?, suara kalian membuatku lelah" Suaranya terdengar begitu manis dan licik di saat yang bersamaan. Setelah itu, kami berdua lantas menghentikan debat kami dan memandangi Paku yang kiniberdiri tepat di depan kami dengan wajah pongahnya yang begitu memuakan.

"Hentikan acara debat kalian atau kalian akan mati dengan cara yang tidak menyenangkan"

Paku mengangkat lengan jubah tangan kanannya yang sebelumya menutupi seluruh lengannya menjadi ia lipat setengah lengan. Di sekujur tangannya, di ikat tali yang telah ditempelkan dengan banyak sekali paku yang tampak begitu aneh.

Aku dan Yaya haya terperanjat dan memasang posisi kuda-kuda siap.

"Dan rasakan sensasi rasa sakit yang amat sangat sebelum ruh kalian tercabut dengan kasar"

Senyuman setan tersungging dan Paku langsung menyerang dengan cepat.


'...Rasakan sensasi rasa sakit yang amat sangat...'

Aku menyunggingkan senyum lebar.

"Kedengarannya menarik!" Aku segera berlari maju, bermaksud menerima tantangannya.

"Jangan!" teriak Yaya, tetapi aku tidak peduli. Aku segera mengeluarkan senjata kebanggaanku, pedang halilintar dan segera menyerang maju.

"Aah bodoh, dasar laki-laki" rutuk Yaya yang kini hanya berdiri sembari menyentuh dahinya, pasrah.

Aku terus merangsek maju dan berusaha melukai dan mengubahnya seketikat menjadi abu, tetapi aku harus tetap membuatnya hidup dan menawari apakah ia ingin ikut bersama denganku dan Yaya untuk mewujudkan perdamaian serta meneruskan populasi manusia, atau bergenerasi.

Ah, padahal aku ingin sekali mencium bau dari abu gosong lagi.

Paku, ia berlari kearahku dengan tangan kosong, secara teknis tangannya dililit oleh tali yang ditempeli banyak sekali paku. Entah bagaimana cara kerjanya alat yang ada di tangan Paku, tetapi jika ia menyerangku lebih dahulu, hal yang perlu aku lakukan hanyalah menghindar.

Paku merogoh saku belakang celananya, seakan ia hendak meraih sesuatu. Ternyata, Paku mengambil segenggam paku dengan ukuran yang terbilang cukup besar dari paku berukuran normal. Ukuran paku itu lebih besar dibandingkan paku yang dilitkan dengan tali yang berada di lengan kanannya.

"Rasakan ini bocah!" teriak Paku. Paku pun melempar paku yang ia genggam kearahku dengan cepat. Paku itu terbang melesat tepat kearahku, tetapi aku menepis seluruh paku yang mengarah padaku dengan menggunakan pedang halilintarku yang kini bersinar dengan warna merah terang.

"Itu tidak ada gunanya jika kau melawan diriku yang hebat ini". Aku berlari cepat kearahnya dan segera menebaskan pedang halilintar ke arah tubuhnya, tetapi aku tidak berniat untuk membunuhnya. Aku hanya berniat membuatnya terluka sedikit. Jika terluka, aku hanya tinggal meminta Yaya untuk mengoleskan obat Aloch itu di atas lukanya, biar Paku tersiksa oleh obat mujarab yang sangat menyiksa itu.

Aku menebaskan pedangku dengan cepat, aku yakin tebasanku itu sangat cepat tetapi Paku berhasil menghindar dari tebasanku dengan cara salto ke arah belakang beberapa kali. Aku berjengit kesal, aku tahu bahwa ia bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh, tetapi sepertinya ia bertarung layaknya survivor lain. Lalu mengapa aku harus menjaga jarak dengannya ketika bertarung?

Setelah Paku selesai beberapa kali melakukan salto yang sangat banyak itu (Aku yakin bahwa jika Paku hanya melakukan salto sebanyak 3 kali, ia sudah dapat menghindari seranganku, tetapi ia salto sebanyak 13 kali), Paku kembali ke posisi berdiri tegak. Senyumannya terkembang, tetapi lagi-lagi senyuman licik yang tampak. Kedua bola mata hitamnya berkilat-kilat begitu menyeramkan. Mata hitam itu mengingatkanku pada seekor musang kecil yang menyerangku tepat sehari sebelum aku bertemu Yaya.

Begitu ganas dan mengerikan.

"Untuk apa kau salto sebanyak itu?" Tanyaku meremehkan. "Buang-buang tenaga untuk melawanku karena aku ingin kau melawanku dengan seluruh tenagamu, aku ingin melihatmu duduk berlutut di depanku"

"Boboiboy, kau terlalu percaya diri" ujar Yaya yang berdiri cukup jauh dariku, wajahnya menampakan wajah yang pasrah. "Jangan sombong"

Paku yang berdiri cukup jauh dariku karena ia terlalu banyak melakukan salto pun tertawa aneh. "Hahaha..."

Suaranya begitu aneh, seperti suara seseorang yang tengah mengalami influenza dan batuk berdahak di waktu yang bersamaan. "Hahaha... jadi inilah Boboiboy?" Paku menyeka bulir air mata yang keluar dari pelipis matanya setelah puas tertawa dengan suara aneh. "Aku kira Boboiboy adalah orang yang bertubuh kekar dan tinggi, tetapi ternyata ia hanya seperti anak-anak yang begitu bodoh"

Aku mengeratkan genggamanku pada pedang halilintar dan menyala semakin terang dan bertambah tipis, sehingga menjadi lebih tajam.

"Oh ternyata Boboiboy tidak bekerja sendirian, dia bersama wanita aneh yang tidak kalah lemahnya". Kini Yaya yang termakan oleh api emosi. Matanya berkilat tajam, seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya kapan saja.

"Ah, itu pasti kuasa-mu bukan Bobiboy?, kuasa petir atau listrik. Pedangmu tidak sehebat yang orang-orang bicarakan", Paku meludah ke arah kanannya, dan aku yang melihatnya hanya merutuk dalam hati, hanya berusaha merutuk. "Payah, aku kecewa. Sekarang lebih baik kau mati di sini dan biarkan aku menjadi yang terkuat".

Paku melipat lengan jubah sebelah kirinya juga, kini tampak pemandangan yang sama. Tangan kirinya juga dilitkan dengan tali yang ditempeli oleh paku yang jumlahnya sekitar puluhan.

"Maafkan aku ya manusia pakuan brengsek yang banyak omong" Aku menatap Paku tajam, entah mengapa aku tidak sama sekali takut lagi dengannya. "Aku memang masih kecil, tapi kau harus tahu bahwa beberapa anak kecil itu berbahaya!"

Aku kembali menyerangnya dengan berlari mendekat, Paku hanya tercengir dan datang menyambutku dengan sebuah kepalan tinju yang penuh dengan paku. Jika kepalan tinju itu mengenaiku kulitku, sudah pasti aku akan terluka cukup parah.

Paku melepaskan tinju tangan kirinya dan aku mengelak ke arah kanan. Kepalan itu benar-benar nyaris mengenai kulit wajahku, tetapi itu belum selesai. Tangan kanannya berusaha meninju wajahku yang berada di samping kanan. Dengan sigap, aku menahan tinjuan itu dengan pedang halilintar.

"Kau lumayan juga bocah, reaksimu itu cepat juga"

Paku mengencangkan tinjunya dan berhasil membuatku terlempar ke belakang beberapa meter. Aku mendarat di tanah dengan terlentang. Bagus, setidakya aku belum mati karena paku-paku yang jumlahnya banyak sekali itu.

"Boboiboy!" Yaya berteriak memanggil namaku. "Kau baik-baik saja bodoh?"

Aku terlempar, tetapi ia tetap memanggilku bodoh...

"Sial, bisakah kau berhenti memanggilku bodoh?" teriaku pada Yaya.

"Ma-maaf. Biarkan aku ikut membantumu" ucap Yaya memohon. Ia merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan pisau bedah kecil berwarna merah muda, lalu ia menggenggamnya erat dan merangsek maju.

"Aaaaaah!" Yaya berlari maju, berniat untuk menyerang Paku.

"Tidak Yaya!, JANGAAAAAAAN!"

.

.

.

.

.

CROOOOT!

.

.

.

Tuberculosis

.

Maaf kalo jadinya gaje, saya baru nulis tadi pagi dan mood saya ilang jadinya cuman segini...

Maafkan Curut yang tidak bertanggung jawab ini...

Tadinya saya mau bikin satu chapter ini sampe fightnya habis, tapi karena mood saya cuman sampe segini jadinya cuman segini /ditendangsampaiplanetceres

Satu lagi, tadi niatnya saya juga pengen sekalian publish oneshot, tapi karena gak sempat selesai jadinya di publishnya minggu depan aja.

Saya tau ini kurang memuaskan, tapi saya akan minta pendapat minna-san lagi tentang chapter ini, mungkin saya gak make Boboiboy POV lagi chapter depan kalo hasilnya masih mengecewakan kayak chapter kemarin.

Yosh, PREVIEW TIME! ::

"Ini..."

"Paku ini bukanlah paku biasa... kalian akan MATI"

"BOBOIBOY CEPAT LAKUKAN ATAU KITA BERDUA AKAN MATI!"

"Yaya, wajahmu berubah hijau"

"Tutup mulutmu dasar manusia ceking!"

"E-eeeeh?"

CHAPTER 3 :: Lakukan!

SEE YOU!

SALAM SELAI KACANG DAN SELAMAT HARI BISKUIT SEDUNIAAAA (udah lewat...)

Cengiran yang Kelebaran, Manusia Curut.