Chapter 2 Update !
Halo Minna-san ! setelah menyelesaikan fic saya yang satu lagi, saya memutuskan untuk meneruskan Fic ini semenjak banyak yang ingin mengetahui kelanjutannya ^_^
ENJOY READING !
Manik biru muda itu seketika terbuka. Manik biru langit yang indah itu terbuka di tengah gelapnya ruangan. Tanpa pikir panjang, pemuda itu memposisi dudukkan dirinya. Ia terdiam seakan memikirkan sesuatu. Lalu ia pun menatap ke jam dijital yang berada di samping kanan kasurnya. Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 di pagi hari tetapi sepertinya kesadaran milik pemuda itu sudah sepenuhnya kembali.
Pemuda itu menghela napas dan menyibak selimutnya, lalu ia bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju ke kamar mandi. sepertinya ia harus segera bersiap-siap untuk sesuatu yang baru.
"Ah, aku ingat… ini sudah hari kedua ya ?"
.
.
Chapter 2 : The New Life
.
.
Kuroko No Basuke ( The Basketball Which kuroko's Play )
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Story Writer : Me ( Jessy Jasmine 7 )
Genre : Adventure, Supernatural
WARN : DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
"Ohayou, Kuroko-san"
Kuroko menoleh menatap seorang pemuda bersurai ungu yang berdiri di belakangnya dan menyapanya. Pagi Kuroko tengah berjalan di koridor untuk pergi ke perpustakaan dan sepertinya ia tidak sadar jika selama ia berada di lorong itu, jarang sekali ada orang yang lewat.
"Oh, Umitara-san. Ohayou." balas Kuroko. Umitara tersenyum.
"sungguh langka melihatmu pagi-pagi seperti ini." Ujarnya.
"justru aku yang harus berkata begitu, jarang sekali ada orang yang menyadariku." Batinnya dan menatap Umitara dengan tajam. "yah, aku terbangun terlalu pagi, dan karena tidak bisa kembali tidur, aku kemudian memutuskan untuk pergi ke perpustakaan Seirin." Jelas Kuroko. Umitara mengangguk.
"Begitukah. Kalau begitu aku mohon permisi, masih banyak hal yang harus kulakukan juga." Umitara membungkuk sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan Kuroko.
Kuroko menatap Umitara hingga sosok pemuda itu menghilang dibalik tangga, tetapi kemudian ia memutuskan untuk kembali berjalan ke perpustakaan. Seseorang menyadari keberadaannya itu memang langka, tetapi ia mengabaikannya.
"Oi, Kuroko." Kuroko menengadah, mendapati sosok yang lebih tinggi darinya sudah berada di hadapannya dengan memegang sebuah buku bersampul hitam di tangan kanan-nya.
"Ada apa, Kagami-kun ?" tanya Kuroko.
"Ayo kita kembalikan agenda kelas ke Sensei(guru)." Ucap Kagami. Kuroko mengernyit.
"bukankah ini jadwal-mu sendirian, Kagami-kun ?" tanya Kuroko.
"Ayolah, Kuroko… cuman mengantarkanku ke tempat Sensei saja tidak akan melukaimu, kan ? Ayo." Ucap Kagami. Dengan sedikit tidak rela, Kuroko bangkit dari tempatnya dan kemudian berjalan mengikuti Kagami. Mereka berjalan keluar kelas dan berhambur dengan murid lain di lorong sekolah.
"memangnya ada perlu apa hingga kau perlu aku mengantarkanmu ke ruang guru, Kagami-kun ?" tanya Kuroko.
"tidak, hanya saja Hijiri ingin menyerahkan jadwal latihanmu…" ucap Kagami.
"Hijiri-kun ?" Kuroko menatap Kagami dengan bingung. Tetapi kemudian sosok yang tengah dibicarakan sudah muncul.
"Ohayou, Kuroko-san." Kagami dan Kuroko menatap sosok di hadapan mereka.
"Hijiri-kun…" Kuroko menatap Hijiri. "Ohayo."
"Beruntung sekali aku bertemu denganmu disini. dan ini, jadwal latihanmu di klub kami." Ucap Hijiri seraya menyerahkan selebar kertas kepada Kuroko. Kagami menatap aneh Hijiri.
"entah kenapa, sikapnya berbeda dengan kemarin…" batin Kagami.
"Terima kasih, Hijiri-kun." Ucap Kuroko yang menatap setiap kata-kata yang berderet di kertas itu.
"Aku dan Aida-senpai sudah membicarakan jadwal yang cocok untukmu. Apakah itu sudah cukup ?" tanya Hijiri. Kuroko mengangguk.
"ini sudah cukup. Terima kasih, Hijiri-kun." Ucap Kuroko.
"Sama-sama. Kalau begitu, aku akan permisi. Ada sesuatu yang harus ku urusi." Ucap Hijiri sebelum akhirnya pergi meninggalkan Kagami dan Kuroko.
"Kau tahu ? sikapnya benar-benar berbeda dari sebelumnya." Ucap Kagami.
"Mungkin karena ia sudah belajar dari kesalahannya." Ucap Kuroko yang tak mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
"seperti GoM ?" tanya Kagami yang menatap Kuroko. Langkah Kuroko seketika terhenti sebelum akhirnya kembali berjalan.
"mungkin…" ucap Kuroko yang kemudian memasukkan kertas jadwal miliknya ke saku celananya. Kagami mengernyit.
"Apakah kau tidak lelah mengambil dua klub, Kuroko ?" tanya Kagami.
"Tidak juga…" ucap Kuroko. Kagami pun terdiam.
Mereka kembali berjalan menyusuri koridor yang semakin sepi, mengingat bahwa waktu belajar mereka sudah selesai untuk hari ini. Dan kini Kagami serta Kuroko tengah menuruni tangga.
"Oi, Kuroko ! tidak bisakah kau lebih cepat sedikit ?" tanya Kagami yang sudah mendahului Kuroko.
"Kagami-kun, kalau kita lari-larian di Tangga Maka—" Seketika Kuroko merasakan sesuatu yang berat menimpa tubuhnya dari belakang. Mengakibatkan dirinya seketika terjatuh dari tangga.
"KUROKO !"
Kuroko membuka matanya dan kemudian mendapati maniknya yang langsung berkontak mata dengan manik ungu milik seseorang yang kini menimpa tubuhnya. Kini ia ingat bahwa tubuhnya baru saja di timpa oleh sesuatu yang berat begitu ia menuruni tangga. Ternyata, seseorang baru saja jatuh menimpa tubuhnya.
"M-Maafkan aku, Kuroko-san !" ucap pemuda lainnya yang baru saja menimpa tubuh Kuroko. Ia segera bangkit dan membantu Kuroko untuk berdiri.
"Kuroko ! kau tidak apa ? dan kau…" Kagami menatap Kuroko dan seorang lagi.
"Umitara Haketake, aku adalah Sekretaris Osis. Yoroshiku (salam kenal)." Ucap Umitara.
"Oh… aku Kagami Taiga, dan dia…"
"Kuroko Tetsuya. Aku sudah tahu itu. ia sudah menjadi bahan perbincangan di kalangan Osis baru-baru ini. Sungguh langkah menemukan seorang murid yang mengambil dua klub sekaligus. Terutama jika perbandingan kedua klub sangatlah berbeda jauh. Basket di Fisik dan Catur di Mental…" ucap Umitara.
"Oh, uhm… begitu ya…" entah kenapa keadaan menjadi terasa berat. Umitara menatap Kuroko.
"Kuroko-san, sekali lagi maaf karena sudah membuatmu jatuh dari tangga." Ucap Umitara yang membungkuk kepada Kuroko.
"Ah, tidak apa-apa..." jawab Kuroko.
"Baiklah kalau begitu, aku akan permisi." Ucap Umitara yang kemudian berjalan melewati Kuroko.
Kuroko membelalak dan kemudian menatap Umitara yang kemudian berjalan menjauhi mereka. Sesuatu entah kenapa terasa aneh di sekitar pemuda berambut albino-ungu itu. Benar-benar aneh.
"Ada apa, Kuroko ?" tanya Kagami.
"T-Tidak ada apa-apa… ayo kita kembali berjalan…" ucap Kuroko yang kemudian kembali berjalan ketempat yang sedari awal sudah menjadi tujuan utama mereka.
Kuroko kemudian mencoba untuk melupakan apa yang dirasakannya disaat ia tidak sengaja berpapasan dengan sekretaris Osis itu. mungkin semua itu hanyalah imajinasi-nya saja.
"Terima kasih karena telah mengantarkannya." Ucap wanita paruh baya yang tengah memegang jurnal kelas milik kelas Kuroko dan kagami.
"Ya. Sama-sama, Sensei." Dan kagami pun menutup pintu ruang guru itu.
"Setelah ini kau akan langsung latihan ?" tanya Kuroko.
"Tentu saja… kau juga, nanti akan memulai kegiatanmu di Klub catur, bukan ?" tanya Kagami. Kuroko kemudian mengambil kertas jadwalnya.
"Tidak… hari ini tidak ada kegiatan atau pun latihan… mungkin besok." Ucap Kuroko yang kembali menyimpan kertas itu di saku celananya.
"kalau begitu kau bisa latihan basket sekarang, bukan ?" tanya kagami. Kuroko mengangguk. "baiklah, ayo kita langsung ke Gymnasium." Ucap Kagami dan Kuroko mengikutinya dari belakang.
"Tadi itu melelahkan." Ucap Kagami.
Latihan basket berakhir setengah jam lalu dan kini Kuroko sedang berjalan bersama Kagami. Berterima kasihlah kepada Kagami, kini mereka berdua telah pulang malam. Kuroko menoleh menatap Kagami.
"yah, salahkan kepadamu yang telah sekali lagi menghancurkan ring." Kuroko menatap datar kembali ke jalan.
"aku tahu itu salahku…" Kagami menyesali perbuatannya.
"dan kau harus mentraktir ku Vanilla Milkshake karena telah membuatku terlibat juga, Kagami-kun." Ujar Kuroko.
"Iya, aku tahu ! ya ampun, kenapa kau harus selalu mengulangi hal itu ?" gumam Kagami. Kuroko hanya terdiam.
"kau tahu Kagami-kun." Kuroko angkat bicara.
"hm ?"
"apa yang terjadi kalau misalnya aku harus memilih diantara aku harus bermain catur atau bermain basket." Ujar Kuroko. Kagami menaikkan alisnya. Sesuatu terasa ganjal.
"yah, itu terserah kau saja sih." Ucap Kagami seraya memegang tengkuknya. Kuroko menunduk. "tapi kau harus tahu, Kuroko." Kuroko menatap Kagami yang tiba-tiba saja berhenti. "kami mungkin sedih kehilanganmu, tetapi pilihan terbaikmu adalah pilihan terbaik kami." Ujar Kagami sambil tersenyum. Kuroko tersenyum samar.
"tumben kau bisa bijak begitu, Kagami-kun." Dan Kagami pun tersentak dan mulai mengejar Kuroko yang sudah berjalan duluan.
"K-Kau minta pendapatku, kan ?! Nah, itu lah pendapatku!" sergahnya.
"Ya. Aku tahu itu, Kagami-kun." Ucap Kuroko.
Kemudian mereka mendengar keramaian di persimpangan jalan. Sepertinya terjadi kecelakaan. Mereka dapat mendengar seseorang berteriak dan menangis. Sirine dari mobil ambulans bahkan terdengar dari kejauhan. Kerumunan orang itu tidak banyak sehingga bahkan baik Kuroko maupun Kagami dapat melihatnya. Kagami membelalak.
"Kuroko, jangan lihat!" Seru Kagami seraya mengangkat tangan kanannya bertujuan untuk menutupi wajah Kuroko, ia ingin agar Kuroko tidak dapat melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu. Dan dengan tidak sengaja, usaha yang sangat baik dari Kagami itu membuat Kuroko wajah Kuroko terpaksa terbentur dengan tangan Kagami.
"Kagami-kun, itu sakit…" ucap Kuroko seraya memegangi wajahnya. Kagami segera menoleh kearah partnernya, khawatir.
"Oh, maaf Kuroko. Aku tidak sengaja." Ucap Kagami. Kuroko menghela napas.
"aku tidak apa-apa." Ujar Kuroko. "bagaimana keadaan orang itu ?" Tanya Kuroko. Kagami kemudian terdiam.
"Bagaimana, ya…" Kagami menggaruk kepala belakangnya. Kuroko menatap datar ketanah sebelum akhirnya menutup matanya.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kita kembali jalan ?" Tanya Kuroko. Kagami mengangguk dan kemudian mereka mulai berjalan kembali untuk pulang.
Besoknya, Kagami memutuskan untuk menjeput Kuroko. Kagami beralasan bahwa ia ingin saja berangkat bersama Kuroko hari itu, membuat Kuroko entah kenapa merasa tidak nyaman. Mereka berjalan hingga akhirnya mereka kembali bertemu dengan persimpangan jalan yang di temui oleh mereka tadi malam. Mereka terdiam di tempat. Dipersimpangan itu ada banyak buket bunga.
"Kejadian semalam ya." Ucap Kagami iba.
"kudengar korbannya meninggal begitu sampai di rumah sakit." Ucap Kuroko. Kagami menaikkan alisnya.
"Kuroko ?" Kuroko tidak menoleh. "kau tidak enak badan ?" Tanya Kagami.
"tidak…" jawab Kuroko, masih menatap persimpangan jalan itu. "aku ingin tahu perasaan orang yang kenal dengan korban…" ucap Kuroko. Kagami menghela napas sambil tersenyum wajar.
"aku tahu ini menyedihkan, tapi… Kuroko, kau selalu baik seperti biasanya, ya." Ucap Kagami. Kuroko menoleh dengan ekspresi kesal kearah Kagami.
"aku tidak baik." Tukas Kuroko yang kemudian menyamai langkah Kagami.
"menurutku, jarang ada orang yang memikirkan orang lain yang tidak ada hubungan dengannya." Ujar Kagami. Kuroko menunduk. "jangan bersedih, Kuroko. Daripada itu, ayo kita bergegas. Kalau sampai terlambat kita bisa kena masalah."
Kuroko menuruti ucapan Kagami dan mereka pun berjalan menuju seirin. Kuroko melirik sejenak ke persimpangan itu sebelum kembali menatap jalan.
"mungkin ada hubungannya denganku." Kuroko menatap jalan dengan tajam. "karena, orang itu adalah…"
"kau masih memikirkannya ?" Tanya Kagami. Kuroko menoleh kearah Kagami.
"aku tidak memikirkannya." Ucap Kuroko seraya meminum minumannya.
"Yah, baguslah kalau begitu. Kau murung sejak kemarin, kupikir kau masih memikirkan kejadian semalam. Kan tidak baik untukmu memikirkan sesuatu dalam jangka waktu lama." Ucap Kagami seraya memakan burgernya.
"terserah kau saja, Kagami-kun." Ucap Kuroko.
"lalu, bagaimana dengan Hijiri ? kau bertemu dengannya ?" Tanya Kagami. Kuroko mengangguk.
"Ya. Katanya ada yang ingin di diskusikan denganku. Dan, Kagami-kun, jika kau tidak repot, kuharap kau mau menungguku." Ujar Kuroko.
"yah, semenjak latihan basket di tunda untuk hari ini, kupukir tidak ada masalah dengan hal itu." Ucap Kagami.
"baiklah. Kalau begitu, begitu pelajaran selesai, kita akan segera ke ruang klub Catur." Ujar Kuroko. Kagami mengangguk setuju.
"sebenarnya aku masih belum tahu kenapa, dia ikut sedari awal, tapi ia menggangguku." Ucap Hijiri begitu ia merapihkan kertas-kertas yang selesai ia diskusikan dengan Kuroko.
"apa maksud kata-katamu itu, huh ?" Kagami mendelik kesal kearah Hijiri.
"memangnya ada apa ? bukankah itu wajar ? lagi pula kau juga orang luar." Cibir Hijiri.
"tapi, jika kau mau mengengetahuinya, aku diminta oleh Kuroko untuk menunggunya. Jadi tidak ada masalah, bukan ?" Sergah Kagami. Kemudian mereka mendengar suara pintu ruang klub dibuka.
"daripada kalian bertengkar, bukankah lebih baik kita cepat pulang ? hari sudah gelap, kita hanya akan mencari masalah dengan Fujiru-san jika terus berkeliaran disekolah." Ujar Kuroko. Hijiri bangkit dari tempatnya dan kemudian berjalan kearah Kuroko.
"aku tidak terlalu peduli soal penjaga sekolah itu, tapi itu memang benar." Ucap Hijiri.
"baguslah kalau begitu." Ucap Kagami.
Dan mereka pun berjalan pulang bersama. Dan tentu saja perdebatan antara Hijiri dan Kagami tidak dapat dihindarkan.
"kenapa kau bisa bersama kami ?" untuk kesekian kalinya, Kagami bertanya dengan kata-kata yang sama.
"tch, tidakkah kau bosan menanyakan hal yang sama ? aku muak mendnegar pertanyaanmu yang diulang-ulang." Ucap Hijiri.
"Jawab saja, apa susahnya ?!" seru Kagami tidak mau kalah.
"Kagami-kun, kebetulan rumah Hijiri-kun berada beberapa blok dari rumahku. Jadi kami satu arah." Ucap Kuroko.
"kau mendengarnya ?" ucap Hijiri.
"Ya. Jelas sekali." Ucap Kagami tidak terima. Kuroko menghela napas.
Lalu kemudian sebuah cahaya terang muncul dari lengan Kagami dan Hijiri. Mereka berdua segera menarik lengan baju mereka. Saat cahaya itu meredup, cahaya itu meninggalkan sebuah tanda aneh yang tidak dimengertinya. Kuroko terperangah.
"T-Tanda Aneh Apa Ini !?" Seru Kagami. Hijiri kemudian menatap lengannya juga.
"T-Tanda itu… aku juga memilikinya. Iihat—" mereka bertiga segera menoleh keatas begitu melihat sebuah bayangan melewati mereka.
Mereka melihat dua sosok yang sepertinya tengah menyerang satu sama lain. Dengan pakaian yang asing serta benda yang tengah dipegang oleh mereka, tampaknya mereka tengah bertarung. Kuroko menatap pertarungan itu dengan siaga.
"Orang !" ujar Hijiri.
"Mereka bertarung!" seru Kagami.
Kemudian seorang dari dua sosok itu melompati satu gedung ke gedung lain, dan sepertinya langkah mereka membuat gedung itu retak dan membuat puing-puing jatuh ke tanah dan kini tengah mengarah kepada Kagami dan Hijiri.
"Kagami-kun, mundurlah!" Seru Kuroko.
Tetapi respon Kagami lambat dan bahkan Hijiri sudah tidak dapat bergerak lagi. Kuroko mendecak dan kemudian berlari kearah mereka. seketikatangan kanan Kuroko bercahaya dan cahaya itu menyebar hingga sosok Kuroko hilang ditelan cahaya. Cahaya itu membuat dua sosok itu berhenti dari kegiatan mereka.
Mendekati puing-puing itu, Kagami dan Hijiri merasakan seseorang menarik mereka dengan sangat kuat hingga mereka terpental kebelakang dan mereka selamat dari jatuhnya puing-puing itu ke aspal. Kagami dan Hijiri terbatuk akibat debu yang bertebaran.
"kalian tidak apa-apa ?" Kagami dan Hijiri menoleh keatas menatap sosok yang wajahnya tertutup oleh bayangan, tetapi tak lama mereka bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu.
"K-Kuroko ?!" Seru mereka berdua.
Kini sosok Kuroko tidaklah mengenakan seragam Seirin, melainkan mengenakan jas serba hitam dengan sebuah jubbah hitam. Berbagai macam benda yang tidak dapat mereka sebutkan seakan menghiasi pakaiannya.
Kuroko kemudian membalikkan tubuhnya kearah dua sosok yang masih terdiam di atas gedung. Lalu tidak lama salah satu dari mereka turun. Sosok itu sepertinya menggunakan pakaian yang agak mirip dengan Kuroko, serba hitam.
"B-Black King !" Serunya dengan wajah senang. Sementara Kuroko menatapnya dengan tajam sebelum akhirnya menghela napas.
"e7, Ogiwara Shigehiro, pangkat Pawn atau Pion." Ucap Kuroko. Pemuda itu mengangguk dengan wajah sumringah.
"Benar sekali, Black King !" ia kemudian berlutut didepan Kuroko seakan Kuroko adalah orang penting. "aku sudah menunggumu." Ucapnya. Kuroko mengangguk.
"Terima kasih, Pion Ogiwara" ucap Kuroko. " tetapi sepertinya kau telah membuat kekacauan disini." Ucap Kuroko, melihat gedung yang hancur. Ogiwara hanya tersenyum.
"Yah… aku tahu ini aneh, tapi aku agak susah menangkapnya." Ucap Ogiwara.
Tidak lama seorang berbaju putih itu turun dari atas gedung dan berjalan kearah kuroko.
"wah, wah, lama tidak bertemu, Raja Hitam." Ucapnya dengan seringai jahat diwajahnya. Kuroko memicingkan matanya.
"Ya. Lama tidak bertemu, d2, Pawn. Mibuchi Reo." Ucapnya. Reo hanya tersenyum.
"Hei, Black King, seharusnya kau menjaga pionmu itu tetap diam. Ia melabrakku secara tiba-tiba." Ucap Reo seraya menunjuk kearah Ogiwara.
"Aku hanya ingin mencari Black King ! Lagi pula kau kan musuh kami !" Seru Ogiwara tidak terima. Kuroko segera mengisyaratkan Ogiwara agar diam, dan ia pun menurut.
"Aku tidak mengerti kenapa kau, sebagai prajurit yang berdiri di depan raja, bisa-bisanya tidak dapat mengalahkan prajurit yang bukanlah sepertimu, e7 ?" Ogiwara menunduk malu karena tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik. Apa lagi Kuroko melakukan penekanan saat mengucapkan Namanya—dalam sosoknya yang sebagai prajurit terpercaya. Dan alasan kenapa Ogiwara tidak sekali pun mengatakan maaf karena Kuroko tidak akan menerika kata maaf dari prajurit-prajuritnya. "Baiklah kalau begitu, aku akan meminjamkanmu kekuatan."
"Apa yang mau kau lakukan ?" tanya Reo sudah dalam posisi. Kuroko tersenyum samar.
"jadi, d2, semenjak White King-mu belum dapat bangun di dunia ini, kau hanyalah perantara." Reo membelalak.
"O-Oh, bahkan kau mengetahuinya…" ucap Reo masih tersenyum, tetapi terbesit perasaan tidak enak yang aneh.
"e7, bersiaplah dalam posisi-mu." Ucap Kuroko yang mengarahkan tangannya kearah Reo.
"Baik !" Ogiwara sudah bersiap dengan posisinya. Ia kini berdiri di depan Kuroko. Reo juga sudah bersiap untuk menangkis serangan yang akan diberikan oleh lawannya.
"pion tanpa pemimpin, hanyalah benda tidak bernyawa. E7, maju ke e5 !" Perintah Kuroko.
Ogiwara kemudian memposisikan dirinya siap menyerang. Tidak lama, sosoknya sudah hilang, membuat Reo terkejut karena Ogiwara sudah berada di depannya dan membuat senjatanya terlempar jauh darinya.
"Tombaknya !" Serunya. Reo hanya dapat bertatapan kesal. Kemudian ia segera menuju kearah senjatanya dan setelah berhasil mendapatkannya, ia memutuskan untuk mengalah. "Aku tidak akan melupakan ini, Black King !" Seru Reo sebelum akhirnya menghilang pergi. Ogiwara berjalan kearah Kuroko, Kagami, dan Hijiri.
"Black King, apakah tidak apa-apa kalau membiarkannya pergi ?" tanya Ogiwara yang kemudian menghilangkan senjatanya dan membuatnya kembali ke sosoknya sebagai manusia normal. Kuroko mengangguk dan membuat seragam prajuritnya menghilang dalam sekejap mata.
"tidak apa-apa. Lagi pula, aku tidak berminat melabraknya sekarang. Akan lebih baik jika langsung kepada orangnya." Ucap Kuroko. Ogiwara kemudian mengangguk.
"KUROKO !" Panggil Kagami. Kuroko pun menoleh. "A-Apa-apaan itu tadi ! kenapa bisa ada anggota Rakuzan disana ?!" Seru Kagami dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"dan tadi kau bilang, Black King. Apakah ini semacam permainan catur ?" tanya Hijiri. Ogiwara menatap Kuroko.
"Tenang Ogiwara-kun, mereka adalah calon anggota baru kita." Ucap Kuroko. Ogiwara terlihat senang.
"Ya ampun, benarkah Kuroko ?!" Serunya senang.
"Apa yang kau maksud dengan anggota ?" tanya Kagami. Kuroko kemudian menunjukkan lengannya bersamaan dengan Ogiwara.
"tanda yang berada di tangan kalian adalah tanda dari kelompok kami." Jelas Kuroko.
"maksudmu, Bidak Hitam dalam catur ?" Kuroko dan Ogiwara mengangguk. "Jadi kita berada di tengah-tengah sebuah perang ?" tanya Hijiri.
"kau bisa mengatakannya seperti itu." Ucap Ogiwara.
"Yang benar saja ?! memangnya kita di Zaman Abad Pertengahan ?!" Protes Kagami.
"Kagami-kun, untuk sekarang aku tidak dapat menjelaskan alasannya sekarang. Aku akan membiarkan Ogiwara-kun menjelaskan semuanya, yang lain pasti juga akan memintanya." Ujar Kuroko. Kagami dan Hijiri terperangah.
"Yang lain ? itu artinya masih ada lagi ?" tanya Hijiri.
"Tentu saja." Jawab Kuroko.
"Oh, kejadian ini telah membuat kepalaku pusing." Ucap Kagami.
"Untuk sekarang, kita akan membiarkan mereka, toh yang sudah bangun hanyalah Mibuchi-san, jadi tidak perlu khawatir." Ucap Kuroko. Mereka mengangguk.
Kemudian mereka memutuskan untuk menyudahi hal yang menimpa mereka saat itu, membiarkan hari esok menjelaskan semuanya.
"hei, Kuroko. Aku merasa aku bermimpi bahwa aku telah terpilih menjadi prajurit." Ucap Kagami dengan matanya yang hitam. Kuroko hanya bertatapan datar.
"itu adalah semacam pemberitahuan. Aku juga mengalaminya." Ucap Kuroko. Kagami memijit pelipisnya.
"kau tahu ? semenjak kejadian kemarin, aku selalu bisa merasakan bahwa hari ini akan mengejutkanku." Ucap Kagami. Kuroko kemudian menatap Kagami datar.
"hari ini akan mengejutkanmu, jadi bersiaplah." Ucap Kuroko. Kagami menatap Kuroko bingung.
"Apa maksudmu—" kemudian pintu kelas mereka terbuka dan wali kelas mereka memasuki kelas.
"Baiklah semuanya. Sebelum pelajaran ini kita mulai, bapak akan memperkenalkan kalian kepada murid baru. Ayo, silahkan masuk." Ucapnya.
Saat murid baru itu masuk, Kagami menyadari bahwa ia nyaris pingsan karena terkejut.
"Perkenalkan, Ogiwara Shigehiro. Salam kenal." Ujar murid baru itu dengan senyuman penuh semangat sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada dua sosok temannya. Ia tersenyum.
"YANG BENAR SAJA ?!" Rutuk Kagami dalam hatinya.
To Be Continued…
Bagaimana ? menurut saya alurnya terlalu cepat sih, tapi karena entah kenapa ada perubahan ide, saya juga susah mengubahnya total, semenjak ada beberapa scene yang memang sudah cocok.
Yup ! mau tahu apa yang terjadi ? Kita tunggu saja kelanjutannya !
Preview :
"Aku benar-benar kaget kau pindah ke Seirin."
"Ada keributan apa ini ?"
"Lho, tanda ini kan..."
"aku yakin kalian pasti tidak akan percaya, tetapi kalian adalah ksatria terpilih."
"mulai hari ini, aku dan Hijiri akan membantu kalian !"
"White King adalah..."
"Baiklah, kami ingin kau menunjukkan caranya."
"Tunggu saja, White King."
NEXT CHAPTER :: Chapter 2 : New Comrades
Keep Reading-Keep Waiting For The Next Chapter ! See ya !
Mind To RxR ? X3
