Final Exam
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
Warning: AU, and other things.
Rin berbaring di tempat tidurnya.
Baju longgar warna hitam menutupi tubuhnya sampai paha. Rin menekuk lututnya dalam posisi yang sama. Bunyi cklek memenuhi telinganya. Matanya yang berwarna biru mengikuti pintu coklat kamarnya yang terbuka perlahan—membiarkan kakaknya masuk tanpa izin darinya.
Mata Rin masih mengikuti kakaknya yang langsung duduk di lantai dan berbaring di bawah sana. "Rin?" gumaman tidak niat menjawab panggilannya, "Tadi dianter siapa?"
"Kagamine-kun, Rinto-nii."
Rinto langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat wajah adiknya dalam-dalam, "Serius lo dianter pulang sama Len?" adiknya mengangguk dalam diam. Rinto tertawa cukup keras sampai datang teguran dari sang adik.
Rin memang sudah tahu Len sejak dia masuk Teino Gakuen. Eksistensinya sebagai murid baru alias utas langsung melejit saat ia direkrut oleh kakaknya—yang saat itu adalah salah satu berandalan ternama dari Teino Gakuen. Sejak tahun pertama di Teino Gakuen, mereka sebenarnya sudah mengenal secara tidak langsung. Rinto sering berbicara mengenai kemampuan Len yang di atas rata-rata untuk anak tahun pertama. Mereka sendiri sering bertemu saat Rinto dan Rin berpapasan hanya untuk sekedar menyapa.
Rinto menghela napas, "Terus Lui?"
Rin menurunkan kakinya cepat—napasnya menjadi berat, "Maksud Rinto-nii?"
"Lo masih temenan kan sama dia?"
Rin langsung kembali rileks saat ada kata-kata 'temen' pada kalimat kakaknya. Jelas, ia masih bersahabat dengan Lui. Mereka sahabat sampai mati. "Masih."
"Terus kenapa lo panik?"
—
Rin masih tahan menatap langit-langitnya setelah Rinto pergi.
Otaknya dipenuhi kalimat terakhir kakaknya.
Ia tidak panik.
Hanya saja, ia menjadi agak sensitif saat datang nama Len dan Lui. Entah karena apa, yang pasti ia sadar bahwa perilakunya terhadap lawan jenis—khususnya Len dan Lui—agak berubah belakangan ini. Menurut biologi, ini namanya pubertas. Entah pubertas kali ini benar-benar mengenainya atau hanya hipotesisnya saja.
Detik selanjutnya, ia hanya ditemani oleh hembusan AC, sebelum bunyi cklek yang agak berbeda kembali memenuhi telinganya. Rin melihat ke arah jendela, di sana Lui dengan satu kaki yang sudah masuk dan menapak di lantai kamar Rin yang dingin. Kakinya yang lain ikut masuk mengikuti tangannya yang menggantung plastik penuh dengan makanan ringan.
Lui berjalan ke arah kasur Rin, dan melempar pelan palstik tersebut ke arah lutut Rin. Rin bangkit duduk untuk menarik kantong plastik tersebut mendekat. Ia memasukkan tangannya ke dalam, dan mengeluarkannya dengan sekotak Choco Ball. "Choco Ball?" ia memperhatikan Lui yang duduk di atas kasurnya, "Aku sayang kamu." Ia tersenyum di akhir.
Lui mendengus, lalu berbaring di atas kasur Rin, "Giliran gue beliin makanan aja lo, bilang sayang sama gue," Lui melihat Rin yang membuka Choco Ball tersebut, lalu memakannya. Baru beberapa Choco Ball yang Rin telan, Lui langsung menarik Rin untuk berbaring di sampingnya. "Bilang apa lo sama gue?"
Rin mengunyah dalam diam. Hidungnya bisa mencium kemeja sekolah Lui yang belum diganti dari tadi pagi. Rin bisa menyimpulkan bahwa Lui menyemprotkan parfum sebanyak mungkin sore ini—bau kemejanya menjadi lebih wangi walau ada bau keringatnya sedikit. Dengan cepat, tangannya yang memegang kotak Choco Ball melingkar di tubuh Lui.
"Makasih, Lui." Ucapnya seraya membiarkan tangan Lui memeluk dirinya.
—
Rin terbangun karena suara notification chat dari ponselnya. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan melihat sekilas home screen yang masih bertuliskan slide to unlock. Tidak berniat membaca dari siapa chat tersebut, ia memilih memperhatikan selimut putihnya. Seingatnya, ia tidak menggunakan selimut tadi malam—jadi, ia menyimpulkan secara sepihak bahwa Lui yang menyelimutinya tadi malam.
Tetapi ia tidak menemukan Lui.
Ia tidak bisa melihat kepala oranyenya. Dan entah kenapa, ia menjadi agak sedih. Yang tersisa dari eksistensinya hanyalah bau parfumnya semalam.
Ia agak terlonjak saat rambut oranye Lui mencuat keluar—dan agak sedikit senang juga. Rin menatap selimut yang turun meliwati perut Lui, saat ia bangkit untuk duduk. Rin baru sadar bahwa ada kemeja Lui yang teronggok di dekat kasurnya. Rupanya, Lui topless tadi malam—dan ia merasa memang semalam agak panas walau AC-nya terbilang cukup dingin.
Lui turun dari kasur Rin dan mengambil kemejanya. Ia mendekati Rin, dan mengecup pipi gadis itu, "Gue pergi dulu ya," ia menerima kecupan singkat Rin di pipinya. Lui berjalan menjauh. "Nanti kita ketemu lagi di sekolah." Ia membuka jendela Rin dan pergi begitu saja.
Meninggalkan Rin yang tersenyum entah pada apa.
—
Rin membuka lokernya dengan berat. Ia memang tidak terlambat, hanya saja sepertinya ia terlalu pagi hari ini. Ia mengeluarkan uwabakinya dan segera memakainya. Sebagai gantinya, sepatu hitam miliknya yang disimpan untuk beberapa jam ke depan. Baru saja ia ingin ke kelas, tepukan di bahunya membuatnya waspada.
"Hai," Lui berdiri di sana, dengan rambut yang masih basah dan handuk kecil yang mengalungi lehernya. Rin hanya tersenyum, sebelum mengambil handuk tersebut dan mengacak rambut Lui untuk menyingkirkan semua air yang masih tersisa. Saat sebagian besar air di rambutnya sudah jatuh dan terserap di handuk kecilnya, Lui bisa merasakan handuknya kembali ke lehernya. "Belajar yang bener." Ucapnya sebelum kembali pergi menjauhi Rin.
Rin hanya bisa menghela napas, dan menghabiskan beberapa menit waktunya untuk sampai di depan kelasnya. Mata birunya menatap pintu kelasnya bergeser terbuka—memberikan akses leluasa kepadanya untuk masuk. Kakinya berbalik untuk menutup pintu tersebut kembali, dan berbalik lagi untuk menuju tempat duduknya.
"Rin!" ia agak kaget saat suara Len yang meninggi mengapung di udara, "Lo kemana aja?" Len mengambil jeda untuk membiarkan Rin mengambil ponsel di sakunya, "Chat gue aja gak dibaca—anjiiiir!"
Ternyata memang benar. Beberapa notification tadi pagi adalah ulah Len. Ia tersenyum sebagai permintaan maaf sebelum duduk di tempatnya. "Maaf, Kagamine-kun," ia menyusun buku biologi di mejanya, "Ponselku memang agak error belakangan ini." Dan ia kembali tersenyum.
Len mengangguk. Ia melirik buku-buku di dalam tas Rin. Len menaikkan salah satu alisnya, "Emang ada kimia?" kepala Rin langsung naik hanya untuk sekedar menggeleng, "Terus kenapa lo bawa?"
Rin menaikkan bahunya, "Kenapa enggak?" ia kembali menyusun buku-buku di dalam tasnya.
Len mencibir, "Anjir dah lu."
—
Len selalu merasa bahwa gen miliknya adalah yang terbaik dari yang terbaik.
Ia lahir di keluarga kaya—membuat segala sesuatu yang dia inginkan harus jadi miliknya. Harus. Ia tidak ingin menyalahkan sikapnya yang egois—bahkan ia tidak mengakui sikapnya sebagi sikap egois. Ia lebih suka dengan kata-kata takdir.
Ambil contoh dari mobil BMW i8 miliknya. Ia tidak merengek kepada orang tuanya, ia hanya sekedar berkata, "Ma, Pa, aku mau BMW yang baru,"—dan boom! BMW i8 sudah terparkir indah di garasi mobilnya. Hal yang sama terjadi pada kehidupan cintanya. Ia tidak merengek ingin punya pacar, ia hanya perlu duduk di Teino Gakuen dan gadis-gadis akan langsung mengantri. Jangan tanya berapa mantannya, yang pasti lebih dari lima... lima digit maksudnya.
Lalu semua itu hancur karena ada seorang Rin. Bukan. Ia tidak tertarik pada gadis itu. Tidak. Ia hanya menganggapnya aneh. Ia tidak merengek ataupun meminta akan eksistensi gadis itu—ia langsung muncul begitu saja. Dan yaah—ia juga tidak merasa terganggu. Keberadaan Rin baginya cukup untuk sebatas itu. Tingkah lakunya belakangan ini hanya ekspresi dari keadaan tidak terganggunya pada Rin.
Semuanya hanya sebatas itu.
Kepeduliannya pada Rin, hanya sebatas itu.
Ia sendiri tidak mengerti bagaimana keadaannya terhadap Rin. Terlalu dini untuk dibilang cinta—malahan, ia akan ilfil sendiri jika perasaannya kali ini disebut cinta. Ia sama sekali tidak punya perasaan yang begitu dalam terhadap Rin.
Tidak mungkin.
Baginya, Rin adalah seorang teman.
Dan perasaannya kemarin karena ia kesepian, dan tidak mempunyai teman.
Tetapi terkadang, Len penasaran apa pandangan Rin tentangnya.
Lalu ia bertanya di tengah suara berisik siswa-siswi di sekitarnya. Rin mengangkat bahunya. Ia kembali memakan roti melonnya. Len mengalihkan perhatiannya ke depan, ia kembali meminum kopinya. Rasa pahit yang tidak terlalu kentara menyapa lidahnya, sebelum mengalir ke kerongkongan. Matanya mengikuti roti melon Rin yang sudah habis. Plastik roti tersebut ia simpan terlebih dulu, lalu ia buang apabila ia ingin keluar.
Len mengambil tasnya dan tas milik Rin. Ia menarik tangan Rin paksa ke luar kelas.
Ia bahkan tidak peduli suara Rin yang memanggilnya.
—
Len menunggu Rin untuk meloncat.
Gadis itu ketakutan setengah mati. Bukan karena ketinggian antara pagar dan tanah, tetapi karena ia takut untuk bolos sekolah. Len hanya mendecak, sebelum meyakinkan Rin bahwa mereka akan pulang cepat karena ada rapat guru. Rin tetap tidak mau percaya terhadap perkataan Len, mereka terus berargumen sebelum Len berkata ia sudah bertanya pada beberapa guru.
"Ka-Kagamine-kun, a-aku mau sekolah." Rin berkata lirih.
"Iya. Besok lo sekolah," Len berkata santai. "Udah cepet, temenin gue! Besok kita sekolah ampe kiamat, oke?"
Rin berpikir sebentar sebelum memutuskan untuk loncat. "Emang Kagamine-kun tau dari siapa?" ia berkata dengan melihat wajah Len yang nyengir, "Kagamine-kun?"
"Dari kepala sekolah."
—
Rin tidak menyangka ia akan dibawa ke Harajuku.
Ia benar-benar tidak menyangka Len akan membawanya ke sini.
Ia menatap Len dengan raut tidak percaya. Ia sudah bisa merasakan banyak orang berlalu-lalang di hadapannya—ini pasti dekat Takeshita Street, jalanan tempat fesyen Harajuku berkembang pesat. Ia takut terpisah dengan Len—walaupun tangannya telah digenggam erat oleh Len sesaat mereka kabur dari sekolah.
Menit ke 9 mereka di Harajuku, Rin dan Len sudah sampai di Takeshita Street. Rin berjalan agak susah, bahunya bersenggolan dengan banyak orang, membuatnya agak pusing dan terhuyung. Tangannya basah karena tangan Len yang menariknya ke stand takoyaki. Setelah menabrak beberapa beberapa orang di jalan, akhirnya mereka bisa mencapai stand.
Stand tersebut menampilkan warna putih yang tenang. Pria tua yang ramah bertanya apa pesanan mereka. Len hanya berkata dua porsi takoyaki dan Pocari Sweat. Mereka berterima kasih pada paman tersebut yang memberi potongan harga karena rindu pada masa muda.
"Gak rasional," Len memakan takoyakinya yang masih panas, "Cuman karena kangen jaman SMA sampe segitunya." Len terkekeh sebelum mengelap saus takoyaki di dekat bibirnya.
Rin menghirup udara untuk mendinginkan takoyakinya yang panas, "Menurutku, walaupun gak rasional—" Rin mengunyah takoyakinya yang panas, "—itu lucu." ia menelan takoyakinya.
Len menarik sudut bibirnya, menyeringai pada Rin yang kembali menatapnya dengan pandangan aneh. "Tadi siapa yang ngerengek pengen belajar di sekolah?"
Rin mengalihkan pandangannya ke takoyakinya cepat. Terlalu malu untuk menatap Len kembali. Ia mengakuinya, ia memang menikmati perjalanan mereka ke Harajuku. Rin hanya menatap jalanan yang mereka tapaki, tidak berani membuka percakapan karena malu Len akan membalasnya.
Len menyenggol sikut Rin pelan. Meminta jawaban atas pertanyaan yang ia tujukan pada Rin. Rin menghela napas, "Aku masih mau sekolah kok," ia berkata sembari memakan takoyaki untuk yang kedua, "Yah, ayahku bilang—sekali-kali refreshing boleh lah—gitu, Kagamine-kun."
Len membuka Pocari Sweatnya, "Lo gak susah manggil gue Kagamine mulu?" ia menarik pandangan Rin, "Panggil gue kayak Lui kek."
Rin menautkan kedua alisnya, "Aku panggil kamu Lui gitu?"
"Capek ah ngomong sama lo."
Menit-menit selanjutnya mereka kembali berjalan-jalan di Takeshita Street. Takoyaki yang hanya menyisakan plastik kosong sudah dibuang, mereka hanya melanjutkan perjalanan di sepanjang Takeshita Street.
Baru saja mereka sampai di depan Daiso, rintik hujan membasahi rambut masing-masing. Len langsung menarik tangan Rin untuk berteduh di depan Daiso. Rin merutuki dirinya yang meninggalkan payungnya di loker. Ia membuka blazernya, dan menutupi kepalanya yang basah.
"Yaaah, ujan." Len turut membuka blazernya, melindungi kepalanya dari hujan. Tangan Len membuka tasnya cepat dan langsung mengeluarkan satu kotak rokok. Ia mengambil sebatang rokok dari kotak tersebut, mengapitnya di antara kedua bibirnya, dan menyulut api di salah satu ujung rokok tersebut.
Di bawah hujan yang membasahi Harajuku, asap keluar dari bibir mereka.
Entah dari sebatang rokok, atau dari bibir yang menggigil kedinginan.
—
Mereka kembali ke sekolah.
Seperti yang Len katakan, sekolah sepi karena pulang cepat.
Rin harus menunggu beberapa saat sebelum mobil sang kakak menyapa jarak pandangnya. Ban mobil tepat berhenti di depan pagar untuk melihat Rin yang menunggu.
"Eh, ada Len." Rinto menyapa Len yang dibarengi suara pintu ditutup di sebelahnya.
Len menaikkan kedua alisnya, "Senpai, apa kabar?"
"Gak usah sok baik, Setan."
"Gak usah ngegas juga, Iblis."
Rin tersenyum kepada Len, "Kagamine-kun, mau ikut?"
—
Mobil putih Rinto terparkir tepat di depan rumah Len.
Rumah putih gading cukup besar dan pagar hitam adalah alasan Len membuka pintu belakang untuk turun. Kakinya yang terbalut Converse hitam menapak di aspal, diikuti oleh kakinya yang lain.
Len berjalan ke jendela mobil Rinto yang terbuka. Niat awalnya yang baik runtuh saat Rinto meniupkan asap rokok tepat ke wajahnya, "Tuh, kiss-bye dari gue." Rinto tertawa pelan saat Len terbatuk dengan jari tengah yang berdiri untuknya.
Len menghela napasnya, "Ya udah deh, gue balik dulu ya." Ia tersenyum singkat pada Rin, sebelum berbalik membuka pagar hitam rumahnya.
"Len-kun!" Rin berteriak dari dalam mobil—menyita atensi Len untuk sejenak, "Makasih ya!"
Di sana, Len menampilkan giginya yang berderet rapih.
"Nanti kita cabut lagi, oke?!"
tbc.
hai hai!
saya sadar kok, saya salah karena apdetnya yang lama banget;w;.
by the waaaay, di chapter ini ada banyak luirin ya? haha, iya emang banyak. saya emang mau kasih clue aja dari adegan luirin itu kalo hubungan mereka itu statusnya sahabat, kelakuannya pacaran. terus buat len saya gak mau buat karakternya yang terburu-buru. chapter sebelumnya banyak yang ngira kalo len udah suka sama rin. itu mau ngasih tau doang kalo dia pengen jadiin rin itu temennya, walaupun len pengen lebih dari temen... maksudnya sahabat gitu biar kayak lui-yang malah buat len jadi kayak sahabat posesif gitu /halah.
udah deh itu aja.
tolong sarannya!;)
