Chanyeol terasa lebih ringan dan semuanya berjalan dengan baik.

Setelah segala urusan perceraiannya selesai dia langsung menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk pernikahannya. Mulai dari menyewa gedung, undangan, dan sebagainya. Hanya tinggal beberapa saja yang harus ditunda karena Hana masih mengandung anak mereka.

Dia merasa menjadi lebih hidup dan semangat ketika berpikir akhirnya dia dapat menikahi perempuan yang dicintainya itu.

Takkan lama lagi.

Sehun tersenyum lebar melihat wajah atasannya itu yang selalu tersenyum dan penuh semangat mengerjakan tugasnya. Segalanya menjadi lebih mudah untuk mereka kerjakan setiap pekerjaan yang datang dan selesai dengan cepat.

"Sepertinya anda sangat bahagia sekali dengan pernikahan anda dengan nona Cho nanti."

Chanyeol mengangguk, dia membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang telah selesai ia baca dengan senyuman lebar, kemudian menutup berkas itu dan menyerahkannya pada Sehun, "Ya, saya sangat menunggu hal ini dari dulu."

"Saya ikut bahagia, akhirnya semuanya berjalan sesuai harapan anda."

"Terimakasih, Sehun."

"Kalau begitu, saya akan kembali bekerja." Sehun membungkukkan badannya, kemudian pergi dari ruang kerjanya.

Chanyeol memutar kursinya sedikit miring untuk menatap komputernya dan dia tersenyum lebar.

Jantungnya berdegup cepat setelah mendengar perkataan Sehun.

Akhirnya.

Akhirnya semuanya seperti yang dia inginkan.

Chanyeol meraih mouse komputernya dan menggerakkan kursor untuk membuka email-nya untuk mengecek e-mail yang masuk, kemudian matanya melirik kalender duduk yang ada diatas mejanya untuk mengecek jadwalnya untuk hari itu.

Dan ketika dia melihatnya, ia mengingat hal yang selalu dia lupakan selama 2 tahun kebelakang.

"Hari ini."

Hari pernikahan dia dan Byun Baekhyun 2 tahun yang lalu.

Hari yang tak pernah dia bayangkan dan harapkan.

Hari terburuk dalam hidupnya.

Dan hari ini.

Dia mengingatnya.

Dan dia berfikir.

Apa yang telah dia lakukan selama ini untuk perempuan itu sebagai suaminya?


Dan dia tahu jawabannya.


2 Tahun yang lalu.

Setelah upacara pernikahan dan resepsi yang dilaksanakan dalam satu hari, Chanyeol langsung pergi menuju kamar hotel yang telah dipesan untuk mereka dimana acara resepsi itu dilaksanakan. Dia tak mempedulikan perempuan itu yang kini menjadi istrinya, dia ingin mengakhiri ini secepatnya.

Sesampainya dikamar itu, dia membersihkan dirinya dan mengganti bajunya dengan pakaian santai untuk tidur. Dia tak melihat perempuan itu dikamar mereka setelah dirinya mandi dan memakai bajunya dan dia tak peduli, yang ada dipikirannya adalah dia ingin tidur lebih cepat.

Dan malam itu berakhir dengan dia tidur terlebih dahulu.

Keesokan harinya, dia bangun lebih cepat dari biasanya.

Chanyeol mengerutkan dahinya beberapa saat sebelum membuka matanya dan menatap sekitarnya.

Saat itu juga, satu pikiran menyentaknya.

Dia sudah menikah.

Dia memalingkan wajahnya untuk menatap sisi lain tempat tidur dan dia terdiam dengan rahang yang mengeras.

"Apa-apan ini!?"

Sisi lain tempat tidur itu kosong dan masih terlihat rapih, seperti tidak ada yang menempatinya.

Chanyeol merasa marah.

Apa maksudnya semua ini!?

Dia menyibak selimutnya kemudian turun dari kasur itu dan keluar dari kamar.

Dimana perempuan itu berada!?

Dia berjalan menuju sisi lain kamar yang mereka tempati di hotel itu. Matanya menyipir mencoba mempertajamkan pandangannya di ruangan yang gelap.

Pasti perempuan itu yang mematikan lampunya.

Dia melangkah pada sofa - satu satunya tempat yang mungkin dimana perempuan itu berada sekarang - yang menghadap kaca besar tak tertutup tirai, sehingga cahaya bulan dapat masuk.

Chanyeol menormalkan matanya ketika pandangannya menjadi jelas kemudian menatap pada sofa itu.

"Apa yang sedang kamu lakukan disitu!?" Bentaknya.

Baekhyun yang tidur diatas sofa terbangun mendengar suara Chanyeol yang meninggi. Jantungnya berdebar dengan cepat karena terkejut, kemudian dia mengerti situasi yang ada ketika menemukan Chanyeol tak jauh darinya.

"Malam." Katanya pelan dan dia tersenyum tipis.

"Aku tanya sekali lagi! Apa yang sedang kamu lakukan!?"

Baekhyun mengerjapkan matanya, dia tak mengerti, namun menjawab dengan ragu, "Tidur?" Jawabnya.

"Aku juga tahu! Kamu pikir aku buta!?"

Baekhyun menggeleng, "Bukan, Bukan beg-"

"Jika kamu tidak sudi untuk tidur satu ranjang denganku, seharusnya kamu mengatakannya langsung! Jangan seperti ini!"

Baekhyun terkejut mendengar perkataan Chanyeol.

Dia tidak mengerti.

"Chan-"

"Tsk, menjijikan!"

Baekhyun menahan nafasnya mendengar perkataan Chanyeol. Dia mengerjapkan matanya kemudian menatap kepergian lelaki itu.

Sehari setelah pernikahan.

Semuanya memburuk.

Chanyeol meninggalkan perempuan itu.


Mereka menikah karena satu hal.

Perusahaan keluarganya.

Financial perusahaan keluarganya memburuk, terancam untuk gulung tikar dan mereka menggunakannya sebagai tumbal.

Chanyeol tak pernah menyukai hal seperti ini dan dia sangat membenci semua orang yang memanfaatkan hal ini.

Termasuk perempuan itu.

"Chanyeol-"

"Apa!?" Katanya dengan nada tidak suka.

Perempuan itu terdiam dan dia semakin tidak menyukainya, "cepat katakan apa maumu!?"

"Ah, anu-"

Chanyeol menyipitkan matanya tajam.

Byun Baekhyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."

"Tsk, jangan memanggilku kalau begitu!"

Chanyeol melanjutkan langkahnya untuk menuju mobilnya yang telah berada di depan rumah mereka, kemudian masuk kedalamnya dan pergi dari rumah itu.

Meninggalkan Baekhyun yang hanya dapat menghela nafasnya.

"Mungkin lain kali."

Dan hal itu tidak pernah terwujud.


Chanyeol merasa lelah.

Dia bagaikan boneka yang terus dipaksa ini-itu oleh keluarga Byun.

Benar-benar.

Dia tak menyukainya.

"Chanyeol-"

"Hah!"

Baekhyun terlonjak mundur ketika dia menjawabnya dengan nada membentak.

Chanyeol mengerjapkan matanya dan dia sadar sikapnya sudah kelewatan ketika melihat perempuan itu melonjak mundur.

"Jangan ganggu aku, aku sibuk." Katanya, kemudian berjalan masu menujur rumah mereka, melewati Baekhyun yang telah menunggunya sejak tadi di pintu depan rumah mereka.

"Ah, ya." Katanya.


Dia bukan robot!

Dipaksa terus bekerja agar perusahan keluarganya terjamin keadaannya.

Dia benar-benar membenci ini.

Dia tak bisa bergerak dengan bebas.

Dia ingin melakukan banyak hal selain ini.

"Nanti malam, apakah kamu bisa datang ke acara bibi Jung?"

Chanyeol menghela nafasnya ditengah-tengah kegiatan menyantap sarapannya.

"Tidak bisa, kamu pergi sendiri."

"Tapi-"

Chanyeol mengangjat wajahnya dan menatap Baekhyun tajam.

"Apa!?"

Baekhyun menggeleng, "tidak, tidak apa." Dan dia tersenyum tipis setelah mengatakan itu.

Berhari-hari kemudian, semuanya selalu seperti itu.

Tak ada pembicaraan yang sangat panjang antara mereka.


2 Tahun itu, semuanya dipenuhi dengan perkataan singkat yang tak pernah berakhir dengan tepat.

Dan sekarang Chanyeol menyadarainya.

Dia tak pernah membiarkan perempuan itu mengatakan pendapatnya.

Dia tak pernah mendengarkan perkataan perempuan itu.

Dia tak pernah melakukan semua itu.

Dan dia tak pernah menjadi seorang suami yang baik untuk perempuan itu.


Suara ketukkan di pintu, menghentikan Chanyeol membaca berkas yang ada ditangannya. "Masuk!" Perintahnya.

Sehun membuka pintu ruang kerja atasannya itu dan membungkuk sekilas kemudian berkata, "Ada Nyonya Byun, Direktur."

Chanyeol mengerjapkan matanya.

Dia tahu cepat atau lambat dia akan bertemu dengan wanita paruh baya itu lagi.

Wanita yang merencanakan hal itu 2 tahun yang lalu.

"Biarkan beliau masuk."

"Baik."


1 Tahun yang lalu.

Chanyeol sudah berada titik muaknya yang tertinggi dan dia mulai memberontak secara perlahan.

Dia tidak peduli dengan akibat yang akan ditimbulkan oleh tingkahnya itu.

Dia bermain, bersenang-senang, dan menghamburkan semua yang dia punya.

Dia benar-benar sudah tidak peduli.

Namun setelah apa yang dilakukannya selama ini, semuanya dalam baik-baik saja - tidak ada yang berubah sama sekali.

Itulah yang dipikirkannya.

Dia pikir, perusahaan keluarganya perlahan akan hancur karena tingkahnya, tapi ternyata tidak. Selama ini dia menahan sikapnya karena dia berfikir seperti itu.

"Tsk, sudah aku duga, semuanya hanya gertakkan saja."

Karena itu, dia berfikir, jadi tidak masalah bukan jika dia menjalin hubungan dengan orang yang dia sukai?

Dia yakin Byun Baekhyun juga tidak akan peduli soal itu.

Maka dari itu, dia menjadikan Cho Hana - orang yang disukainya sejak di universitas - jadi kekasihnya.


"Sebenarnya, aku takkan banyak berbicara." Chanyeol mengerjapkan matanya, kemudian menajamkan pendengaran serta matanya pada mantan meruanya itu yang kini sudah duduk di sofa di sebrangnya. "Jadi, apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu?"

"Semuanya sudah berakhir, kami sudah bercerai secara resmi, jadi tak ada yang harus diragukan lagi."

Nyona Byun mengangguk dan tersenyum tipis, "sepertinya kamu memang sudah tidak peduli dengan keluargamu lagi."

Chanyeol tersenyum miring, "saya yakin, anda tidak akan melakukan sesuatu yang mengotorkan segala hal yang anda buat."

"Kamu yakin seperti itu?" Nyonya Byun tersenyum miring. Beliau melipat kaki kanannya dan menjadikan kaki kirinya sebagai tumpuan. "Yah, memang seperti itu sepertinya." Beliau melipat kedua tangannya di depan dada kemudian melanjutkan perkataannya, "berterimakasilah pada perumpuan itu."

Chanyeol mengerutlan dahinya, "apa maksud anda?"

Nyonya Byun melebarkan matanya terkejut, hanya untuk beberapa detik, kemudian beliau tersenyum dan bertanya "eh, jadi, dia tidak memberitahumu?

Chanyeol tak menjawabnya dan dia mengerutkan dahinya.

Apa yang dia tidak ketahui?