All Charas is belong to Madam Rowling. I just own the plot.

Blurry Bride © sparkyus, 2013.

Enjoy!

.

.

"Baiklah, aku akan bercerita."

Draco bersiul-siul tidak peduli. Tapi Hermione berusaha untuk lebih tidak peduli lagi.

"Aku kabur dari pernikahanku."

Draco mendengus. "Aku sudah tahu. Jangan bercerita hal yang sudah ku tahu, Berang-berang."

"Kau menyelaku, Musang!" balas Hermione dengan kesal. Lebih baik ia selesaikan semua dan keluar dari rumah sial ini secepatnya. Dan tanpa memedulikan gerutuan Malfoy muda itu, ia melanjutkan ceritanya.

"Sebenarnya itu bukanlah pernikahan yang ku inginkan. Aku bahkan sama sekali tidak mencintai calon suamiku. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak lelaki yang tidak pernah ku miliki. Tapi aku terpaksa melakukan itu semua. Aku merasa… berhutang budi pada keluarganya."

"Berhutang budi?"

Hermione menghela napas. "Kau tahu keluarga Weasley?"

"Saingan utama Malfoy Corp?" Draco mendengus jijik. "Keluarga jahe kebanyakan anak yang mendadak kaya itu? Kau mempunyai hubungan dengan mereka?"

"Jaga bicaramu, Malfoy." Hermione mendelik lagi. Gadis itu mengacak rambutnya. Berlama-lama berada di dekat ferret pirang ini bisa membuat kedua matanya menjadi belo karena terlalu sering melotot.

"Lalu?"

Hermione menatap keluar jendela kamar Malfoy. "Keluarga Granger bersahabat dengan keluarga Weasley sejak turun temurun. Itu yang membuatku cukup dekat dengan mereka. Namun suatu hari, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Saat itu aku berumur tiga tahun. Semua saudaraku―baik dari Dad maupun Mum tidak ada yang mau mengasuhku. Aku dianggap sudah gila karena pada umur tiga tahun aku sudah bisa menyelesaikan soal matematika sederhana." Gadis itu tertawa sumbang. "Dan keluarga Weasley lah yang mau menampungku tanpa imbalan."

Hening sejenak. Baik Hermione maupun Draco sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terlebih sang pewaris tunggal kekayaan klan Malfoy tersebut. Otaknya yang tak kalah cerdas dengan Hermione langsung menyimpulkan apa yang terjadi pada gadis tersebut.

"Jadi, kau dipaksa menikah dengan salah satu anggota keluarga Weaselette untuk menebus apa yang telah mereka lakukan kepadamu? Dan kau kabur?"

"Tidak, Malfoy. Aku tidak dipaksa. Aku terpaksa. Aku merasa berhutang budi pada mereka, maka aku menerima lamaran dari Ronald Weasley. Tapi aku tidak mau hidup bersama orang yang tidak kucintai, dan aku kabur saat berada di altar."

"Dramatis sekali, Granger." Draco mencibir, lalu kembali terpaku pada ponselnya.

Hermione tersenyum getir. "Begitulah." Gadis berambut lebat itu menghela napas dan kembali memandang Draco. "Nah, aku sudah bercerita, Malfoy. Sekarang beritahu aku, dimana gaunku dan siapa yang mengganti pakaianku?"

Draco mendengus. Tidak bisakah gadis ini sedikit melupakan percakapan mereka sebelumnya? Ia menyayangkan mengapa tidak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama, melihat Granger meledak-ledak macam bom yang belum di jinakkan merupakan suatu hiburan tersendiri baginya.

"Pelayanku yang mengganti pakaianmu, Granger. Dan gaun mu berada di tempat laundry terbaik yang berada di seantero Inggris."

Hermione menganga. Tak percaya saat mulut berbisa Draco Malfoy mengatakan sesuatu tentang gaunnya. Berada di laundry terbaik se-Inggris Raya? Apa dia sudah gila? Bagaimana ia bisa menebus semua kemurahan yang telah di perolehnya selama disini? Dengan sekali lihat saja gadis itu tahu bahwa Draco Malfoy bukan sembarang orang.

"Ya, Sayang. Aku memang bukan sembarang orang. Aku adalah Draco Lucius Malfoy, pewaris tunggal kerjaan bisnis klan Malfoy dan keturunan termuda trah bangsawan Malfoy."

Mati aku, Hermione meringis saat tak sengaja mengungkapkan apa yang ia katakan dalam hati. Berdeham, ia mulai menggali ingatan untuk mencari tentang keluarga Malfoy yang pernah dibacanya di berbagai media informasi.

Malfoy. Salah satu dari segelintir keluarga bangsawan yang masih terjaga kemurniannya di Inggris Raya. Seperti yang dikatakan oleh Draco tadi, keluarga Malfoy mempunyai kerajaan bisnis yang tersebar di seluruh Eropa, bersaing dengan Weasley's. Keturunan mereka identik dengan rambut pirang-platina dan sepasang mata berwarna biru-kelabu yang indah serta wajah yang—tampan.

Well, mau tak mau Hermione harus mengakui bahwa Draco Malfoy memang tampan, bukan?

"Baiklah," gumam Hermione setelah berhasil menemukan kembali suaranya. "Baiklah. Aku minta maaf jika tadi aku berlaku kasar padamu, Yang Mulia Malfoy."

Draco mendengus. "Tidak perlu seperti itu, Granger. Untuk saat ini, kau kuanggap sebagai—ehm—teman. Jadi, ya, kau tidak perlu mendadak sesopan ini. Kembali saja menjadi dirimu yang bermusuhan padaku seperti tadi."

Kalau saja Hermione tidak melihat bibir Draco yang bergerak-gerak, gadis itu yakin bahwa tadi adalah bisikan-entah-darimana. Tapi, ya. Yang bicara seperti itu barusan adalah salah satu anggota keluarga Malfoy, pemuda aristokrat yang arogan dan menjujung tinggi darah kebangsawanan serta kekayaan tujuh turunan.

"Kau serius?"

"Tentu saja, Berang-berang."

"Aku tersanjung sekali, Musang."

"Memang sudah seharusnya begitu."

Keduanya kembali saling mendelik. Kelabu bertemu dengan cokelat madu. Dan seperti sebelum-sebelumnya, kontes tatap-menatap-langsung-ke-mata ini di menangkan oleh Draco Malfoy. Masih dengan senyum angkuhnya ketika melihat Hermione Granger memerah lagi.

Gadis itu berdeham. Ia merapikan rambutnya dan beranjak bangkit dari duduknya di kasur Draco selama ini. "Uhm. Well, Malfoy, aku tak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Kurasa ucapan terima kasih pun tidak cukup untuk membalas semua kebaikanmu padaku." Ia tersenyum, well, se kesal-kesalnya ia pada Draco Malfoy, bukankah selama ini memang Draco yang membantunya hingga ia selamat?

"Sampai neraka membeku pun kalimat 'terima kasih' memang tidak cukup, Granger."

"Dengarkan aku dulu, Malfoy," Hermione menghela napas. "Aku… aku bisa melakukan apapun yang kau mau sebagai balasannya—tapi jelas tidak melanggar hukum, Malfoy. Aku sudah memikirkan hal ini baik-baik, dan," ia menarik napas. "Aku mengijinkanmu meminta satu permintaan yang kau inginkan."

"Lucu. Aku sudah memiliki segalanya, Granger. Kau tahu itu."

Hermione menggigit bibirnya. "Aku tahu. Tapi aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu selama ini. Seandainya saja aku tidak bertemu denganmu dan kau tidak mau membantuku, mungkin aku sudah terperangkap dalam penjara keluarga Weasley selama-lamanya."

Akhirnya Draco balas menatap Hermione. Ia bisa melihat kesungguhan di mata cokelat madunya yang—sebenarnya—indah. Juga ada keraguan, dan secercah rasa bersyukur yang membuat pemuda itu sedikit risih. Tidak. Belum pernah ada orang yang menganggapnya begitu berguna di dunia ini.

Belum pernah.

Hingga ia bertemu dengan Hermione Granger.

.

.

Hermione Granger merebahkan diri di kasur empuk apartement yang kini telah menjadi miliknya.

Beruntung, saat William dan Monica Granger meninggal mereka menyerahkan seluruh harta warisan yang sebenarnya tak kalah banyak dengan Malfoy's itu kepadanya. Hanya kepadanya. Jadi, bisa di bilang ia hanya menumpang tempat tidur di rumah keluarga Weasley yang bak istana itu.

Sambil memainkan ponsel yang baru di belinya dua hari yang lalu itu, Hermione kembali teringat dengan apa yang di inginkan oleh Draco Malfoy, juga dua hari yang lalu. Ia menggigit bibir dan jantungnya mendadak berdentum khawatir.

"Aku sudah memikirkan baik-baik apa yang aku inginkan darimu, Granger. Dengar, aku ingin kau berpura-pura menjadi kekasihku. Ingat, berpura-pura. Aku terpaksa melakukan ini karena aku muak dengan segala perjodohan yang di lakukan oleh Mother dan Father. Dan kukira hanya itu yang bisa kuminta darimu. Hanya berpura-pura, Granger. Karena jauh di lubuk hatiku aku tak sudi mempunyai kekasih bergigi berang-berang sepertimu."

Sialan. Ia nyaris saja menjotos hidung sang Malfoy Muda kalau saja saat itu pelayan café tidak mengantarkan secangkir Black Coffee milik Malfoy dan secangkir Frappucino miliknya. Perkataannya begitu menusuk hati, tak heran jika otak cerdasnya merekam kalimat itu dengan baik dan sengaja memutar-ulang terus-terusan saat pikirannya kosong.

Tak sudi mempunyai kekasih bergigi berang-berang sepertiku? Well, aku pun juga tak sudi jika mempunyai kekasih tampan—ups, coret—musang macam Draco Malfoy, batinnya geram.

Hermione meremas guling yang ada dipelukannya dengan geram tanpa sadar. Awas saja jika ia bertemu dengan pemuda itu lagi, pasti akan—ia—

Ponselnya berbunyi.

Gelagapan, gadis itu segera menyentuh icon berwarna hijau di pojok kiri dan mendekatkan ponselnya ke telinga.

"Hermione Granger disini."

"Mione! Akhirnya aku mendapatkan nomor ponselmu! Kau dimana sekarang? Dasar bodoh, tak tahukah kau bahwa aku, Luna dan Lavender mengkhawatirkanmu, huh?! Bahkan Harry yang sebelumnya marah besar saja ikut-ikut ribut mencarimu—Aw! Sakit, Harry!—"

Hermione refleks menjauhkan ponselnya, lalu menatap layarnya dengan ngeri. Nomor itu tampak familiar. Sedetik kemudian kedua bola matanya melebar. Ya Tuhan.. jangan bilang.. yang meneleponnya saat ini adalah—

"Ginny?"

"Mione! Kau mendengarku?"

Sial. Ternyata memang benar.

Yang meneleponnya adalah Ginny Weasley.

Ya, Weasley.

Weasley yang itu.

Hermione menghela napas. "Hai, Ginny. Tapi sebelum itu, izinkan aku bertanya padamu. Darimana kau tahu nomor ponselku yang baru? Setahuku yang tahu hal ini hanyalah—"

"Oh, tentu saja dari Malfoy. Draco Malfoy, Hermione! Pemuda pirang yang pernah berkencan denganku dulu, pemuda yang tampan—Harry!—"

Hermione mendengus.

Ternyata memang benar.

Oh, Dewa Laut yang mulia, terkutuklah Draco Malfoy sekarang juga!

.

.

TBC—

.

.

A/N

HOLLA GUYS!

Aigoo ~ sudah lama nggak bertemu dengan kalian di fanfic ini xD saya kaget begitu tahu kalo yang ngerespon cukup banyak. Terharuu bgt. Maaf ya kalo misalnya cerita ini sukanya ngaret, sumpah kehidupan saya sibuk sekali dan harus nyolong waktu buat buka laptop dan ngelanjutin fanfic ini:') terima kasih banyak sekali buat yang udah fav, follow dan review,

Merrya Narcissa Belatrix, jheinchyeon, Rikame, Christabelicious, BlueDiamond13, Riri26, Guest, uulil, Drakie poo, GreenTea, oktamalfoy, Diny Anggie, bellania malfoy, vanillathin, Destin, Graceva Malfoy, Ryoma Ryan, Rereristiana, Ms. Loony Lovegood, kHaLerie Hikari, BlackPearl, Poosy-Poo20, Riri26, GobletDraconis, fitria, Moofstar, dan semuaaaaa reviewer(?) yang lupa atau kelewatan saya sebut disini. Me laff you so much!3

Dan, untuk kalian semua, saya minta saran dong. Gimana ya caranya menghilangkan penyakit writer's block? Sebenarnya ide cerita sudah tersedia tapi tangan saya rasanya tidak bisa menari di atas keyboard seperti biasa._. mohon sarannya para senior dan para reviewer /bungkuk-bungkuk/ /apasih(?)

Nah, berhubung chap 3 sudah di post, mau RnR again, dear? please /puppy eyes/

.

.

Adios,

Sparkyus.