Udara pagi menyegarkan, dedaunan ginko kembali berguguran, matahari belum begitu terik—... ah, pagi yang sempurna di Konoha. Walaupun begitu, berbeda dari hari sebelumnya, Golden Clover Academy agak lebih ramai dari biasanya.

"Benar? Benarkaaaaah?"

"Seriusan? Sarutobi dengan Hyuuga?'

"KYAAAAA NGGAK MUNGKIN!"

JDUAK

"GUE NGGAK TERIMA! AAAA BUNUH AJA GUEE BUNUH GUEE!"

Suara tembakan peluru karet.

"JANGAAN! JANGAAAN! KAMU NGGAK BISA NGAPA-NGAPAIN LAGI! Mereka hukumnya MUTLAK!"

Gas air mata tercium.

"HUAAA YANG KUTERIMA ALAMAT PALSU, MAAK!"

Oke, yang barusan apaan?

.

.

Ralat, bukan 'agak ramai'

.

Tapi – 'rame naujubileh'

Err, I-ini sekolah atau tempat demonstrasi lagi ricuh sih?

.


GROWING SPROUT

Episode: III Apologize.

Warning: OOC? AU Highschool

Watch Out! Romance will gonna spilled out at this chapter than humor.

Summary: AU. Tunas kini mulai memperdalam akarnya/Ya, yang penting Hanabi—Hanacchi-nya, ada/Jantung, jangan mendadak berhenti ya, nak/Aku bisa Gila!/Maaf, Konohamaru/KYAA ITU MANIS SEKALI!/ Tek-dung-desh. Dramatis.

Pair: Konohamaru x Hanabi


.

Gadis dengan helai rambut cokelat teruarai panjang melangkahkan kakinya perlahan melewati koridor di depan ruang guru. Langkahnya berat, tidak ringan seperti biasanya. Badannya agak terhuyung kedepan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dekat papan pengumuman sambil menyandarkan tangannya ke situ.

RAPAT FESTIVAL KEBUDAYAAN

Ruang Viola

16.00 – ON TIME !

Hanabi Hyuuga, gadis yang benar-benar merasa tidak enak badan ini dapat membaca samar-samar kertas pengumuman yang nampaknya baru tadi pagi dipasang. Dan ia menyesal karena setelah membaca itu, kepalanya semakin pening. Kau tahu rasanya ingin muntah tapi tidak bisa? Itu yang dirasakan Hanabi sekarang. Namun ditambah sedikit bumbu lemas dan ia merasa tidak dapat berjalan barang satu langkah pun.

Sejak kemarin sore ia memang merasa tidak enak badan. Setelah tragedi terkunci di gudang bersama ... orang yang sedang Hanabi tidak ingin dengar namanya, ia merasa sakit sesampainya di rumah. Ditambah serbuan orang-orang yang tidak ia kenal menanyakan kebenaran hubungannya dengan –orang yang tidak ingin ia sebut namanya, harinya semakin buruk.

'What the hell, hubungan apa, memangnya?' pikirnya dalam hati kecilnya yang lembut dan tak bernoda, yeah, garis bawahi kata lembut dan tak bernoda itu.

Namun terlalu nggak penting untuk memikirkan itu sekarang. Ia hanya terus berpikir bagaimana cara untuk ke ruang kesehatan yang notabene ada di lantai bawah, sedangkan ia sekarang berada di lantai 3, alias lantai paling atas.

Jujur, ia takut ngglundung.

Nggak keren banget kalo dia yang notabene udah jalan kayak mayat hidup gini harus ngglundung di tangga karena nggak kuat jalan.

Sekali lagi, nggak keren.

Dan itu tidak ada di kamus besar keluarga Hyuuga.

"Jangan sok kuat!" Sekejab tubuhnya hampir jatuh ke belakang. Seseorang menggenggam lengannya dengan kuat. Samar-samar ia melihat ke samping, menatap jendela dengan pemandangan langit biru tersebar luas, dan seorang laki-laki seusianya yang—yah, terlihat buram.

"Hah? A-apa?" ujar Hanabi linglung, dan sejurus kemudian pandangannya menggelap dan kesadarannya hilang.

"Cih, selalu saja begini."

Konohamaru Sarutobi, laki-laki yang kini memapah tubuh mungil Hyuuga Hanabi mendesah pelan. Dilihatnya gadis yang dulu, merupakan sahabatnya di masa kecil kini terbaring lemah di lengannya. Mata jernih yang biasanya nampak ceria dan menunjukkan keisengannya kini berubah memelas. Ia tidak tega. Pada kenyataannya, gadis yang seharusnya ia jaga dan lindungi kini jatuh di pangkuannya sendiri.

"Aku sudah berjanji untuk menjagamu, tapi kelihatannya aku payah, ya?"

Dan tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu.

oOo

"Ramennya Paman! Iya, dua!"

"Es buah, eh kamu juga mau? Jadinya es buah 3, mbak!"

"Anjrit roti gue keinjek!"

"Anjrit BB gue nyemplung ke kuah ramen lo."

Hening

.

.

.

Hening, hening.

.

.

.

Suasana kantin Golden Clover Academy ramai seperti biasanya. Banyak siswa yang dengan brutal langsung menyerbu makanan yang disediakan oleh pihak sekolah disana. Beberapa memilih untuk duduk-duduk santai dan beberapa memilih untuk bergossip. Apalagi kalau bukan menyangkut gossip terbaru; pasangan KonoHana yang 'katanya' baru saja get busted, yah, istilahnya ketangkap basah.

Katanya.

"Moegi, kalo nggak mau es tehnya, buat aku aja sini." Udon memperhatikan Moegi yang sejak tadi hanya memainkan sedotan di gelasnya dengan kasar. Moegi? Sepertinya ia tidak memperhatikan sama sekali. Pikirannya melayang-layang ke adegan 'YAAAMPUN CUTE BANGEET!' yang diteriakan para KonoHana FC yang entah sejak kapan mulai terbentuk.

Ini namanya menyuarakan genderang perang secara terang-terangan. Offensif, dan dia tidak dalam posisi deffensif. Nggak adil. Hanabi agaknya tidak menyukai suasana 'ada cinta di udara' yang merajai hampir seisi sekolahnya. Bukan karena jomblo, tidak, kami kaum jomblo memang sensitif dengan kata cinta atau pasangan dan sejenisnya, tapi kami tidak menghalangi kebahagiaan orang lain. Melainkan karena sejak SD Moegi sudah menyukai Konohamaru.

Naksir, bahasa kerennya.

"Gila, tadi Konohamaru-san keren banget,"

Telinga Moegi bergerak-gerak horror. Udon agak berjengit melihatnya, tapi ia mengerti, karena ia pun mendengar kata 'Konohamaru' yang pastinya sangat sensitif di telinga Moegi. Moegi agak sedikit menggeser kursinya ke belakang. Modusnya ingin mengambil ruang untuk kakinya lebih luas—sebenarnya ia ingin mendengar gossip dari kawanan anak kelas Platina dan Gold.

"Untungnya pelajaran Pak Guru Lee, eh, ralat, aku tidak tahu bisa menyebutnya 'untungnya' atau tidak, begitu mereka berdua keluar, kita justru diceramahi tentang gelora cinta masa muda yang absurd itu." Seorang laki-laki mendesah pelan kemudian meletakkan kepala ke meja, menunjukan bahwa ia malas menghadapi beberapa jam pelajaran yang lalu.

"Tapi tadi manis sekali. Begitu Hanabi-hime bilang ia sakit dan harus ke UKS, aku langsung melirik Konohamaru-san, ia terlihat sangat gelisah. Dan tiba-tiba ia sudah pergi begitu saja menyusulnya. Kyaaa ... !" Gadis berambut pendek dan bertubuh mungil itu kemudian mulai memukul-mukul meja gemas. Dan kemudian tangannya segera ditangkap oleh gadis dengan wajah agak sombong di sebelahnya,

"Rin, please! Tapi aku agak penasaran dengan mereka, mereka jadi dekat sejak pemilihan panitia festival kebudayaan 'kan? Akan jadi seperti apa festifal kebudayaan kita nanti ya?"

"Chikage, kau penasaran tentang kedekatan mereka atau festival kebudayaannya?" Pemuda di sebelahnya nyengir, dan disambut dengan getokkan kipas oleh gadis bernama belakang Chikage itu.

"Auch! Santai dikit! Ngomong-ngomong, aku dapat foto mere—"

"NGGAK ADIIIII ... !"

Zoom out.

Sekolah.

Zoom out.

Konoha.

Zoom out.

Negara Hi.

Zoom out.

Bumi.

Zoom out.

Antariksa.

" ... IIIIIIIIIL !"

Moegi berteriak marah. Satu kantin hening sesaat, melirik Moegi dengan rambut panjangnya yang dikucir dua dan berpose ala dragon ball yang akan berubah bentuk, kemudian mereka melanjutkan aktivitasnya lagi. Tidak peduli.

Siapapun. Siapapun kecuali Hanabi Hyuuga. Kenapa saingannya harus seseorang bernamabelakangkan Hyuuga?

Ini seperti kodok saingan dengan sang rembulan.

Sekali lagi; nggak adil.

.

.

Tek-dung-desh. Dramatis.

oOo

'Aku sudah berjanji untuk menjagamu, tapi kelihatannya aku payah, ya?'

Sinar matahari siang menyentuh lembut mata Hanabi Hyuuga yang sedari tadi tertutup. Ia menggeliat perlahan. Nampaknya tubuhnya masih belum bersahabat. Pikirannya setengah sadar. Kepalanya masih berat, sekalipun tidak sepening tadi.

'Siapa yang payah?'

"Konocchan ..." tanpa sadar ia merintih. Ia teringat akan janji, dan semuanya. Ia teringat tentang Konohamaru.

"Hanabi? Kau—err, nggak papa?" Suara familiar yang terasa hangat di tubuhnya membuat Hanabi membuka matanya perlahan. Kemudian ia tersenyum saat melihat Konohamaru duduk di sebelah tempat tidurnya. Menatapnya khawatir. Rasanya senang, saat kau bisa melihat orang yang benar-benar kau ingin lihat disaat yang tepat.

"A-aku akan memanggil Guru Kesehatan kalau kau mau, yah untuk jaga-jag—" Konohamaru salah tingkah. Gadis yang ia sayangiyeah, mari kita garis bawah untuk menambah kesan dramatis saudara-saudara—sejak lama memanggilnya dengan sebutan kecil kesayangannya. Oh, astaga mimpi apa dia semalam. Tapi ia segera beranjak, ia tidak mau wajahnya yang bersemu merah itu terlihat oleh Hanabi. Tidak, itu merusak imej Sarutobi-is-always-calm-down-in-every-situationnya.

Tapi langkahnya terhenti, ia merasakan genggaman di lengannya. Lemah, tapi memaksanya untuk tinggal. Dan ia berhenti bergerak—menatap ke belakang, dan menemukan wajah super imut Hanabi Hyuuga yang sedang demam dan tubuh mungilnya kini memaksanya untuk tinggal. Sebuah perkataan pelan; "Jangan pergi, Konocchan." Yang dilontarkan oleh bibir kecil seorang Hanabi Hyuuga membuat otaknya seakan berhenti.

Astaga, ia hampir meledak, atau mungkin lebih tepatnya jejeritan – kayang di tempat.

Tapi sekali lagi, demi imej, ia menahannya.

Tapi ini kelewatan. Harusnya ada seseorang yang memotret wajah super imut Hanabi ini, wajah yang membuat ia salah tingkah, nyaris koma, mendadak ayan.

Wajah yang baru disadarinya, sangat—well, agak memalukan untuk mengatakan ini sebenaranya, indah. Atau mungkin ia yang terlambat menyadarinya? Mereka telah tumbuh bersama, mereka telah berusia 17 dan 16 tahun sekarang, kelas 11, dan ia baru menyadarinya sekarang.

Tapi mungkin itu tidak penting untuk Konohamaru. Entah sejak kapan Hanabi balik menjauh darinya, tapi asalkan ada Hanabi di sekitarnya, tidak masalah. Ia tidak memperhatikan bagaimana gadis itu tumbuh, tapi baginya, selama gadis itu ada, tidak masalah.

Ya, yang penting Hanabi—Hanacchi-nya, ada.

.

.

JEPRET!

Konohamaru mengangkat wajahnya menghadap pintu. Hey, ia memang tadi berdoa agar ada yang memotret wajah Hanabi sekarang, tapi tidak dengan kondisi ia sedang menggenggam erat tangannya begini! Gawat! Gossip itu akan kembali merebak sepertinya.

'ADUH!'

'Aoi santai!'

'RIN JANGAN DORONG!'

'''KYAA!'''

GUBRAK!

Tiga mahkluk dari kelas Platina dan Gold jatuh di depan pintu UKS. Satu, Aoi Rokusho, koordinator lapangan Festival Kebudayaan, dua Ayumi Chikage, koordinator artistik sekaligus perwakilan kelas Platina, dan urutan paling bawah, dengan memegang kamera, Rin Takeda, perwakilan kelas Gold.

"A-anoo, Konohamaru-san, bukannya kami mau mengganggu kalian, tapi aku hanya mengingatkan bahwa sebentar lagi rapat dimulai, dan kau ketua kami, jadiiii ..." Aoi menahan perkataannya, berusaha tenang mengangkat tubuhnya perlahan.

" Kami tidak bisa mulai tanpamu, Sarutobi." Kini Ayumi yang berusaha menahan sikap angkuhnya dibalik rasa malunya.

"Baiklah, aku akan—" Konohamaru akan melanjutkan perkataannya dan beranjak pergi saat sejurus kemudian Hanabi mendadak membuka mulutnya dan menarik kuat tangan Konohamaru—seakan tak mau membiarkannya pergi. Dan Konohamaru kembali membatu. Batu merah mungkin. Karena ia sudah bersemu merah luar biasa. Ekspresinya bahkan membuat takjub tiga orang yang sangat menghormati mereka—yang kini berdiri di depan mereka.

"Bisakah ..."

Hening. Tidak ada yang berani berbicara. Semua menanti perkataan, atau mungkin bisikkan lemah dari Hanabi.

"Bisakah aku pinjam Konohamaru sebentar? 5 menit." Dan entah bagaimana caranya. Senyuman tipis yang dilontarkan Hanabi membuat tiga orang di depannya terperangah dan segera mengangguk. Mereka membalikkan badannya cepat dan beranjak pergi. Meninggalkan Konohamaru yang speechless di tempat.

Jantung, tahan ya, nak. Jangan mendadak berhenti.

Dan keadaan kembali hening. Hanya terdengar suara desiran dedaunan di atas dan suara hembusan nafas mereka berdua. Dan kau tahu sesuatu? Konohamaru tidak tahan lagi. Ia akan meledak. Tunggu, dia sudah meledak.

"Kau tahu betapa aku khawatir? Kau langsung terhuyung lemah pulang kemarin. Handphone-mu kau matikan, aku hampir mati panik tadi malam! Tadi pagi kakakmu tiba-tiba menelpon, katanya kau sakit. Dan sekarang kau bertingkah manis sama seperti saat kita masih kecil dulu. Apa kau pikir aku tidak bingung, eh? Kau selalu sok kuat di hadapanku, selalu menganggapku musuh. Dan sekarang? Kau egois Hanabi! Aku—"

Dan kemudian Konohamaru menarik nafas untuk melanjutkan perkataannya. Ia lihat Hanabi juga menunggunya untuk melanjutkan perkataannya.

"Aku hampir gila!" Katanya, akhirnya. Hanabi kemudian mengambil posisi duduk perlahan. Ia sudah sepenuhnya sadar. Laki-laki di hadapannya sungguh menepati janjinya. Ia telah salah pikir. Ia, Hanabi Hyuuga, telah melakukan banyak kesalahan selama ini. Dan ia baru menyadarinya sekarang, saat mereka sudah berusia 16 dan 17 tahun, sudah kelas 11—sangat terlambat eh?

Kemudian rasa bersalah memenuhi Hanabi. Sesak rasanya. Ada sesuatu yang menahannya untuk berbicara, sesuatu itu terasa sangat sakit di tenggorokannya. Dan sesuatu itu membuat dadanya kembali sakit, ia tidak suka perasaan ini. Sudah bertahun-tahun ia tidak mengalami rasa yang tidak mengenakkan seperti ini.

Ia tidak suka, saat ia bersedih, dan menangis seperti ini.

"Tu-tunggu! Jangan menangis seperti itu! H-hey!" Konohamaru panik. Sungguh, gadis di hadapannya sangatlah labil. Terkadang bisa bertenaga babon, kadang bisa sok pintar, kadang bisa sangat diplomatis, kadang bisa sangat baik hati dan tiba-tiba menangis meledak-ledak seperti ini. Yah, dia memang bisa gila saat sudah berdekatan dengan gadis ini.

"... Maaf, Konohamaru. Maaf." Dan Hanabi kembali terisak.

Tapi saat kemudian ia merasa hangat,

.

...saat tiba-tiba Konohamaru memeluknya,

tangisan itu mereda.

oOo

Suasana ruang Viola cukup ramai. Oke, ralat, rame banget. Seluruh perwakilan kelas sudah menduduki deretan kursi-kursi panjang besi yang disediakan. Para panitia sudah siap dengan laporan perdivisi mereka masing-masing. Hanya kedatangan ketua dan wakil ketua mereka yang dinanti. Sudah lewat 5 menit, dan mereka belum datang.

"Kyaa! Itu tadi manis sekali!" Mungkin seperti yang kalian duga, Rin, yang sedari tadi sibuk memukuli meja kini mulai mendramatisir cerita tentang apa yang ia lihat tadi. Dengan bumbu jeritan di mana-mana, ia sukses membuat Hanabi dan Konohamaru seakan melakukan hal-hal yang sangat romantis. Dan Aoi juga Ayumi memilih untuk diam saja. Tidak penting bagi mereka untuk mengkoreksi cerita Rin. Lagipula, mereka juga penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

GREEK.

Pintu geser terbuka. Sosok pemuda jangkung dengan baju acak-acakan memasuki ruang Viola. Blazernya ia taruh asal-asalan di bahu, bajunya keluar masuk dan ia membuka pintu sambil mengacak helai rambut cokelatnya. Hah, ini dia datang ketua kita, Konohamaru Sarutobi.

"Baik, ayo mulai rapatnya." Katanya sambil menutup pintu. Namun yang menjadi jawaban dari pernyataan itu adalah;

"CIEE ... !" dan segala godaan lainnya.

"Hah? Apa, kenapa?" Dan segera puluhan bola kertas menimpuknya.


oOo

Saat penghalang bernama benci sudah hilang, tunas mulai memperdalam akarnya. Dan saat dipupuk dengan kasih, tunas itu akan berkembang.

oOo


oOo

Episode 3 : End

To Be Continued

oOo


Selamat Natal! Selamat tahun baru!

Lama tak jumpa saya? Well, udah satu tahun hiatus sih ya ... *melipir*

Ini saya buat tengah malam. Jadi maaf kalau ada kekacauan. Semoga dapat menghibur ya. Karena buat saya sendiri fiksi ini saya buat ringan, tidak belibet, untuk hiburan saya juga, haha.

Ah, dan Rin, dia bukan OC kok. Dia minor chara dari Tim Minato. Saya kecilkan dia, super kecil, jadi seumuran Hanabi.

Terimakasih banyak untuk para pencinta Konohamaru – Hanabi semua!

Michilatte626 males login

atacchan

LightSaber Padawan

Namikaze Haruna

Rikuo Nurarihyon

Dhen Hyuga Kuchiki

Violet7orange

Saqee-chan

Crunk Riela-chan

Himeka Sooyoungster

peaphro

Naer Sisra

Sketsa Gelap

Kokoro Fujisaki

kin-chan

NaMIKAze Nara

Peluk cium ya buat teman-teman semua. Maaf tidak sempat balas review satu-satu. Untuk yang nanya kok nggak update-update, err... agaknya saya sedikit sibuk belakangan /kenagampar.

Anyway, kan udah di update *twink*

Please, CLICK