Bangau Kertas
Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.
Jika diberikan satu kesempatan lagi untuk hidup, Clara ingin berterima kasih.
Ada sekali, dua kali, mungkin tiga tawa Bruno yang menyelamatkan dia dari jarum-jarum suntik. Sekali, dua, mungkin sepuluh di mana Bruno melipatkan origami bangau lalu meletakkannya di bingkai luar jendela. Bersama bangau-bangau kertas lain yang telah jatuh disenggol angin lalu tersapu penjaga kebun, berakhir di tumpukan daun kering sebelum dibakar. Asapnya membubung tinggi.
Origami bangau kali ini berwarna biru. Clara bangun tepat ketika Bruno tiba di balik jendela sana, hampir meletakkan bangau kertas kemudian pergi. Namun terhenti karena Clara menatapnya.
Bruno tersenyum lebar. Berjalan mendekat. Beberapa helai daun tersangkut di rambut. Dengan cengiran riang tanpa dosa seperti itu, Bruno terlihat seperti bocah lima tahun. Clara tidak tahu umur Bruno sesungguhnya, dan Bruno pun juga tidak tahu umur Clara.
Clara hampir tidak melihat mulut Bruno bergerak.
Hei! Bruno menyapa, naik ke ceruk dinding agar Clara dapat melihatnya tidak sebatas kepala. Ia mengetuk kaca dengan buku-buku jari. Apa kabar?
Clara mengerjap. Untuk sesaat berusaha memahami. Itu adalah kali pertama Bruno mengajaknya bicara. Apa yang harus dia katakan? Clara tidak ingin berpikir lama. Ia menganggukkan kepala, bersusah-payah menarik segaris senyum. Mungkin itu tindakan yang nyaris sia-sia. Bruno pasti kesulitan menyadari senyumnya di balik masker oksigen. Mungkin Bruno akan menganggap Clara tidak ramah. Mungkin Bruno akan tersinggung. Karena sudah sekian kali mata Bruno tersenyum menyapa, sambil meletakkan sebuah bangau kertas yang terlipat rapi lalu melambaikan tangan, namun Clara hanya memandangi bangau kertas serta mata Bruno. Tidak berkata apa-apa.
Tapi Bruno melihat senyum Clara.
Jika diberikan satu kesempatan lagi untuk hidup, Bruno ingin berterima kasih.
Ada satu, dua, mugnkin dua puluh atau tiga puluh kali Bruno mendapati gadis kecil itu bermain. Tawa riang mengiringinya berlari di atas kaki telanjang yang kebal terhadap ranting-ranting patah, kerikil bahkan cemara yang mengering. Gadis kecil itu pasti sebaya Bruno. Menggenggam benang layang-layang dan mengajaknya terbang, terbang, menemukan langit, gadis kecil yang punya mata hitam cemerlang itu melepas benang di penghujung hari. Membiarkan layang-layang sederhana menjemput awan. Waktu itu, mata Bruno menyipit.
Bruno tidak suka melihat anak itu tertawa. Seolah dunia begitu baik padanya. Bruno benci melihat anak itu tertawa sedangkan ia membisu. Maka Bruno mulai menutup jendela setiap kali sore tiba demi menghindari anak pemain layang-layang. Menenggelamkan kepala di balik bantal lalu berusaha mengabaikan tawa menyenangkan di luar sana. Bruno sangat tidak suka. Anak pemain layang-layang menapaki padang rumput dan bersuka-ria, sementara puntu rumah Bruno selalu tertutup dan dikunci. Bruno tidak suka. Sangat, sangat, sangat tidak suka.
(Tapi suatu hari—
"Hei, kau yang sembunyi di balik jendela! Jangan mengurung diri terus, ayo main sama-sama!"
Ketika Bruno membuka jendela, sebuah layang-layang diulurkan tepat ke depan mukanya. Anak itu pasti senang bermain di mana saja. Lutut dan baju yang ditempeli tanah. Juga keberanian memanjat pagar rumah lalu menyelinap.
Bruno tidak pernah menerima ajakan itu—dia mau, mungkin malah sangat mau, bersenang-senang di bawah siraman matahari, namun masih ada buku-buku menanti diselesaikan di atas meja belajar (Bruno tidak suka membaca, tidak, tidak suka.) Tapi satu ajakan itu sempurna menguapkan rasa benci yang tidak pernah punya alasan; meluluhkan hatinya.)
Ada satu, dua, berkali-kali—Bruno sudah berhenti menghitung—Bruno melihat gadis itu mengamati dunia. Bola mata hitam cemerlang dengan hanya sisa-sisa cahaya. Memandangi langit seolah ingin kembali. Langit favoritnya dulu, kala kakainya yang lincah masih kerap dan selalu ingin bersenang-senang, dari bertelanjang kaki hingga ia bersepatu sambil menggendong tas berisi buku-buku, dunianya kian berkembang hingga umur belasan yang orang-orang bilang manis. (Dan dia mulai menerima pernyataan cinta, dan dia mulai mencintai.) Langit miliknya dulu begitu indah dan menyenangkan. Itu dulu, sebelum—sebelum—sebelum ia membuka mata lalu menerima bahwa kakinya tidak lagi merindukan langit.
Bruno bukan sengaja mengamati. Dia melewati jendela itu beberapa kali. Mengamati taman samping yang ditumbuhi perdu dan pot-pot mini.
Mata cemerlang itu kontras dengan keriangan kupu-kupu menghinggapi serbuk sari.
Clara ingin, satu kali saja, mengucapkan terima kasih.
Waktu itu hujan, dan lampu-lampu berkedip beberapa kali namun tak sampai mati. Clara ingin bangkit untuk menarik gorden. Tidak ada apapun yang bisa menakutinya walau gelap di luar dan bayangan pohon seolah melambai, derak kaca dihempas angin kencang. Semoga tidak ada badai. Clara ingin bangkit untuk menutup gorden, namun dia tidak beranjak. (Tidak bisa.)
Suasana begitu sepi. Hanya sekali dua kali bayangan orang melintas di selasar, bunyi tak-tok-tak-tok hak rendah diredam tamparan hujan pada atap. Clara menarik napas. Malam ini akan jadi panjang bagi bangau kertas di kusen luar jendela—
Bangau kertas. Clara tersentak. Membuka mata lebar-lebar. Ada sebuah bangau kertas di kusen jendela luar, berwarna hijau muda, rentang sayapnya sudah kuyup. Hanya sayapnya yang basah. Clara mengerutkan kening tidak mengerti. Kaca jendela itu telah telak basah diguyur hujan. Tapi bangau kertas itu tidak. Sebelum hujan, tidak ada bangau kertas hijau muda di sana. Hanya biru. Lantas—lantas—
Hanya sayapnya yang layu. Bukankah itu memberinya sejumput harapan?
Bruno masih menyempatkan diri meletakkan bangau kertas.
Apa kabar?
Clara berhenti melangkah. Memandangi perdu dan pot-pot mini. Ada sebuah jendela. Dan sebuah bangau kertas, origami berwarna merah muda, masih baru dan baru saja diletakkan. Clara dapat merasakan angin berembus melewati tubuhnya, tubuhnya yang kembali bebas, kakinya yang kembali pada langit dan jiwanya yang tertawa di bawah matahari, tubuhnya yang transparan.
Clara tersenyum. Mengambil bangau kertas itu lalu menelusuri rentang sayapnya, membisikkan sesuatu, dan bangau kertas itu, yang dilipat dengan kertas lipat warna merah muda, bergerak sebelum terbang mengangkasa. Menjemput kawan-kawannya yang telah lebih dulu mengudara bebas.
Terima kasih.
Di antara perdu dan pot-pot mini, tak ada sesosok apapun mengamati jendela.
