'Maaf Sarada-chan, papa belum sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Papa tidak ingin kamu merasa tertekan karena dilahirkan ke dunia ini. Papa sayang padamu, percayalah. Untuk masalah ibu, papa tidak janji.' Ucapku dalam hati lalu mulai meninggalkan sekolahnya. Tanpa kusadari sebelumnya, ada seseorang yang sedang mengawasi kami dari kejauhan. Seseorang yang bersembunyi di dalam gelapnya sebuah gang.

"Sasuke, aku akan menjemput putriku."

THE BROKEN MAN

Chapter 3

Disclaimer : Masashi Kishimoto

The Broken Man is mine

Ctik… ctik… ctik…

Seorang wanita berambut merah muda sedang duduk menatap layar laptopnya yang juga berwarna sama dengan rambutnya. Jari-jemari lentiknya tak henti-hentinya menekan satu persatu keyboard sehingga menimbulkan suara berirama yang menghiasi ruangan kecil tempat ia berada.

"Huft! Kurasa ini terlalu mudah ditebak." Wanita itu berhenti sesaat sambil memandang layar laptopnya dengan serius, lalu menekan tombol delete. Ia menggaruk-garuk kepalanya berusaha mencari sebuah ide. Kadang-kadang ia memejamkan matanya hingga dahinya berkerut.

"Ada apa Sakura? Kau kehabisan ide untuk cerita novelmu?" Tiba-tiba seorang wanita berambut pirang yang dikuncir berceletuk sambil melongokkan kepalanya ke arah layar laptop sahabatnya itu.

"Diamlah Ino! Aku sedang berpikir!" perintah Sakura ketus. Ino mendengus kesal lalu mengambil laptop Sakura tanpa persetujuan dari pemiliknya.

"Hei, apa yang Kau…"

"Pria itu berlari mencari suara yang sejak tadi terus saja berdengung di dalam pikirannya. Ia yakin bahwa wanita itulah yang sejak tadi sedang menguntitnya. Ia berlari kesana kemari namun tak ditemukannya sesosok bayangan pun. Bahkan gang itu semakin gelap saja seiring hilangnya senja."

"Ino!"

"Hahaha…"

"Kembalikan laptopku!" Sakura pun menarik laptop kesayangannya dari tangan Ino dengan gusar. Ia kembali duduk di kursinya dan menatap Ino kesal.

"Kenapa Kau tertawa? Apanya yang lucu?"

"Hahaha… aduh maaf Sakura, ceritamu itu loh benar-benar menarik." Ino terus saja tertawa, terlihat ia mengatakan hal itu dengan tidak serius.

"Tertawa saja terus! Aku tahu, Kau pasti berpikir bahwa ceritaku ini aneh kan?" Sakura kembali mengetik tanpa mempedulikan sahabatnya yang langsung kelabakan minta maaf.

"Eh, maaf Sakura. Jangan marah dong, ceritamu cukup menarik kok. Hanya saja…"

"Hanya saja apa?!" Sakura melirik Ino dengan tatapan kesal bercampur rasa penasaran. Mungkinkah Ino bisa menyumbangkan sebuah ide untuknya?

"Wanita yang dicari itu hantu ya?"

"Ino! Sialan Kau!"

"Hahahaha… maaf lagi deh, habisnya Kau lucu sekali ketika berpikir seperti itu. Senyum sedikit dong Sakura, senyum!" Ino mencubit pipi Sakura sambil tertawa ketika dilihatnya ekspresi aneh wajah Sakura akibat cubitannya. Hal tersebut sukses membuat Sakura bertambah kesal. Ia menepis tangan Ino dari wajahnya lalu bangkit meninggalkan tempat duduknya.

"Hei, Sakura! Kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu, jelek!"

BLAAMM!

Pintu yang dibanting Sakura menimbulkan getaran kecil di ruangan tersebut membuat Ino tersentak kaget. Ia tidak menyangka bahwa Sakura akan semarah itu. Sebenarnya ia hanya ingin bercanda ketika dilihatnya Sakura yang terlalu serius. Wanita berambut pirang itu menghembuskan nafasnya pasrah. Ia tahu bahwa sahabat merah mudanya itu memang sangat emosional. Ia sering terkena bad mood dan suka marah-marah sendiri. Entahlah, sejak kapan ia menjadi seperti itu. Ino sudah berteman dengan Sakura sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Sakura kecil yang ia kenal dulu bukanlah Sakura yang emosional. Entah sejak kapan pula sahabatnya itu berhenti curhat atau meminta nasihat Ino mengenai masalahnya. Sakura semakin tertutup saja.

"Sakura semakin galak saja, aku jadi takut." Ino duduk di sofa berwarna merah muda yang ada di ruangan tersebut. Ia mengedarkan seluruh pandangannya ke ruangan kecil yang menjadi tempat Sakura untuk menulis cerita novelnya. Ya, Sakura sahabatnya adalah seorang penulis novel. Sudah lima tahun ia menggeluti dunia sastra dengan menggunakan penname Cherryblossom. Ia tidak suka menulis dengan nama aslinya. Walau sebenarnya Ino tahu bahwa nama samaran tersebut hanyalah nama Sakura dalam bahasa asing. Saat ini Ino berada di dalam kamar apartemen kecil Sakura. Kamar itu merupakan satu-satunya kamar di apartemen yang Sakura sewa.

"Sepi sekali, ke mana siSakura itu." Setelah lama melamun, Ino keluar dari kamar Sakura dan memperhatikan ruang tengah apartemen tersebut. Kosong tak ada siapa pun. Ia mengangkat sebelah alisnya, heran ke manakah sahabatnya itu?

TING TONG!

Tiba-tiba bel apartemen Sakura berbunyi. Ino memperhatikan pintu keluar dalam diam, berharap Sakura muncul untuk membukanya. Namun setelah bel kedua pun sahabatnya itu tak juga muncul. Bel terus saja berbunyi membuat Ino kesal. Akhirnya ia menghampiri pintu tersebut dan membukanya.

"Siapa?" tanya Ino sambil membuka pintu tersebut. Di hadapannya kini berdiri seorang pria berambut merah. Ino berdiri mematung menatap wajah pria tersebut. Ia terpukau tidak hanya karena wajahnya yang tampan, tapi juga matanya yang seperti mata panda dan juga tato Ai yang menghiasi dahi kirinya.

"Maaf, apa Sakuranya ada?" Pria yang sedari tadi merasa risih diperhatikan seperti itu melontarkan pertanyaan pada Ino. Bukannya menjawab, Ino masih saja terdiam dengan mulut terbuka.

"Maaf, apakah Sakura…"

"Kau siapa ya?" Ino makin menatap pria itu dengan intens. Ia mencondongkan tubuhnya sambil masih berdiri di tempatnya yang sukses membuat pria tersebut mundur satu langkah. Sejujurnya, Ino tak mengenal pria tersebut. Untuk apa ia mencari Sakura? Apakah Sakura punya teman pria? Atau kekasihkah? Ino bahkan tak pernah melihat Sakura berbicara atau berjalan dengan seorang pria.

Pria berambut merah itu terdiam. Ia berusaha melirik ke arah dalam ruangan apartemen Sakura, berharap figur wanita tersebut muncul. Namun, entah sudah berapa detik lamanya wanita yang dinantinya itu tak juga muncul. Ino menjadi curiga dengan gerak-gerik pria tersebut. Ia pun menutup pintu dan segera kembali ke ruang tengah. Baru dua langkah ia berjalan, bel pintu kembali berbunyi. Ino menoleh pintu dengan kesal sambil berteriak, "Anda mungkin salah tempat, Tuan!"

TING TONG!

Baiklah, saat ini rasanya darah Ino sudah naik ke ubun-ubun. Ia membuka pintu tersebut dengan kasar sambil memaki-maki pria yang belum pergi dari tempat ia berdiri.

"Pria sialan! Kau siapa, hah?! Beraninya mengunjungi apartemen wanita! Apa Kau ini rentenir? Penagih pajak? Tukang reparasi televisi? Atau jangan-jangan Kau ini pria mesum?!"

"Nama saya Sabaku Gaara. Saya adalah editor Sakura. Kalau Anda tidak percaya, ini kartu nama saya." Pria itu mengambil sebuah kartu dari dalam kantong jasnya lalu memperlihatkannya pada Ino. Ino menatap kartu tersebut dengan mata membulat lalu kembali menatap wajah pria yang ada di depannya.

"Eh?"

OoO

"Untung saja minimarket di depan apartemen menjual jus kesukaanku. Saat buntu ide seperti ini memang paling enak minum jus." Sakura menaiki tangga apartemennya sambil menenteng sebuah kantong belanja dengan senang. Gara-gara lelucon Ino tadi ia jadi semakin kesal karena tak juga menemukan ide yang bagus untuk cerita novelnya. Ia pun memutuskan untuk pergi ke minimarket yang ada di depan apartemennya untuk membeli jus kesukaannya. Minuman yang biasa ia beli saat sedang kesal atau buntu ide.

Sakura membuka pintu apartemennya tanpa mengucapkan salam. Walau ia tahu ada Ino di dalam, tapi ia sudah terbiasa untuk asal masuk di apartemennya sendiri. Lagian Ino juga tidak akan jantungan melihat Sakura yang tiba-tiba muncul. Saat hendak melepas sepatunya, ia melihat sepasang sepatu pria di sana. Ia mengernyit heran, sepatu siapakah itu? Sakura tak pernah menyimpan sepatu pria di apartemennya.

"Mu… mungkinkah?" Tiba-tiba bayangan seorang pria berambut hitam muncul dalam pikirannya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya sedikit bergetar membuat pegangan kantong belanjanya hampir saja jatuh.

"Tak mungkin Ia tahu tempat ini!" Sakura yang baru saja bersiap untuk pergi ke luar tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah tangan yang mencengkeram lengannya. Sakura sangat terkejut dengan penuh ketakutan, ia langsung berteriak,

"Kyaaa! Lepaskan aku! Lepaskan aku dasar Kau pria brengsek!" Sakura meronta dengan kasar, membuat orang yang mencengkeram tangannya jadi kewalahan.

"Sakura, ada apa denganmu? Kenapa Kau mengatai aku pria brengsek?!" Sakura terdiam, suara itu adalah suara wanita yang sangat dikenalnya. Ia langsung membalikkan badannya dan melihat Ino yang menatapnya dengan marah seperti hendak menelannya bulat-bulat.

"Eh, Ino?"

"Ya tentu saja aku Ino! Siapa lagi dasar jidat!" Ino pun menjitak kepala Sakura dengan kesal. Sakura langsung mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit. Kalau saja ia tahu ini bukan salahnya, wanita berambut pirang yang ada di depannya itu pasti sudah ia jitak juga.

"Ada seorang pria mencarimu," ujar Ino sambil berkacak pinggang. Perkataan Ino membuat Sakura terdiam. Seorang pria? Jadi dia benar-benar ada di sini? Sakura langsung berbalik dan hendak kabur, namun Ino langsung menarik baju belakangnya untuk menahan wanita merah muda tersebut.

"Kau ini kenapa sih?"

"Katakan pada pria tersebut bahwa Haruno Sakura tidak ada di sini!"

"Apa Kau serius? Bukannya ini kesempatan bagus untuk mendapatkan ide cerita darinya?" Ino menatap Sakura dengan heran.

"Kau sudah gila ya?! Kau mau membunuhku? Aku tidak ingin bertemu dengan pria itu! Aku memang sering mengajak putrinya pergi. Maksudku putriku, maksudku… ah, ya sudahlah! Memangnya aku tidak boleh melakukan itu?" Sakura berkata dengan kesal, ia hampir saja menangis kalau saja air matanya tidak ditahan. Perkataan Sakura yang bombastis sukses membuat Ino mengernyitkan dahinya.

"Loh, jadi dia sudah punya anak ya?" Ino malah bertanya sambil mengelus dagunya heran.

"Pokoknya aku tidak ingin bertemu dengan Sasu…"

"Sakura?"

Ino dan Sakura menoleh ke arah pria yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah. Pria tersebut menatap kedua wanita yang ada di depannya dengan heran. Ketika didengarnya suara ribu-ribut di pintu, ia langsung menghampiri karena ia tahu Sakura ada di sana. Melihat pria yang ada di depannya sukses membuat Sakura melongo. Bahkan kantong belanjaan yang dibawanya jatuh. Rasa-rasanya dunianya seperti berputar tiga ratus enam puluh derajat. Ia langsung memegang kepala dengan kedua tangannya.

"Astaga! Apa yang baru saja kukatakan!" Sungguh, ia sama sekali tidak berpikir bahwa pria yang datang ke apartemennya adalah Gaara, editornya. Entah mengapa hanya bayangan pria masa lalunya yang muncul dalam pikirannya. Bahkan rasa takut dan panik menguasainya. Hampir saja ia menyebut nama pria tersebut di depan Ino kalau Gaara tidak muncul.

"Apa Kau baik-baik saja?" tanya Gaara khawatir.

"Eh, i.. iya. Aku baik-baik saja." Sakura langsung mengambil kantong belanjaannya yang jatuh. Sakura menatap Ino kesal dengan tatapan, "Kenapa Kau tak bilang." Ino yang dilirik begitu langsung kesal. Hei, Sakuralah yang tiba-tiba panik dan berceracau tidak jelas sehingga Ino tak sempat bilang.

"Aku datang kemari untuk mengetahui sudah sejauh mana ceritamu. Sahabatmu, Yamanaka-san bilang bahwa Kau sedang buntu ide. Mungkin aku bisa membantumu," ujar Gaara.

"Eh, iya itu sangat bagus. Aku memang sedang buntu ide. Mari kita duduk di ruang tengah." Sakura menghampiri Gaara dan mengajaknya untuk kembali ke ruang tengah. Ino yang ditinggal begitu saja mendengus kesal. Ia lalu mengelus-elus dagunya dengan penasaran. Ceracauan Sakura tadi benar-benar diluar dugaan. Ada apa dengan sahabatnya itu? Apa ia sedang ada masalah? Apa ada sesuatu yang disembunyikannya?

"Putrinya? Maksudnya, Sakura punya anak? Masa?"

OoO

Flashback on

Sakura menatap ibunya, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Sedangkan Haruno Mebuki, ibunya hanya tersenyum khawatir.

"Ibu, apa maksud ibu barusan?"

"Seperti yang ibu katakan Sakura, Kau menikahlah dengan putra bungsu keluarga Uchiha tersebut. Hanya itu."

Sakura membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang dikatakan ibunya. Ia memajukan tubuhnya sehingga jarak antara dirinya dengan ibunya semakin dekat.

"Maksud ibu, pria yang pernah ibu kenalkan padaku itu?"

"Tentu saja Sakura, siapa lagi? Uchiha Sasuke."

Sakura makin tak percaya. Ia menggenggam erat kedua tangan ibunya, meminta penjelasan lebih lanjut. Kenapa tiba-tiba ide gila tersebut terlintas dalam pikiran ibunya, satu-satunya orang tua yang masih ia miliki dan sangat dihormatinya.

"Ibu tidak punya pilihan, Sakura." Wanita tua itu menunduk sedih, air mata mulai mengalir dari kedua bola matanya.

"Tapi kenapa Bu? Kenapa?" Rasa amarah mulai muncul dalam hati Sakura. Sungguh ibunya tak pernah bercerita apa pun padanya mengenai keluarga Uchiha tersebut. Yang ia tahu adalah keluarga kaya tersebut merupakan kenalan ayah dan ibunya. Ia pernah sekali bertemu dengan putra bungsu keluarga tersebut saat keluarga mereka mengadakan acara makan malam bersama. Saat itu Sakura tidak terlalu peduli dan bahkan hanya berkenalan sekilas dengannya. Tak ada pembicaraan lain. Ia sama sekali tak mengenal pria tersebut luar dalam.

"Ibu terpaksa, Nak. Sungguh, ibu terpaksa! Kalau saja ada jalan lain, ibu pasti akan mengambil jalan itu. Tapi semuanya tidak semudah itu, Nak! Seperti semuanya sudah tertutup dan tak ada pilihan lain! Hutang ayah dan ibu sudah cukup menumpuk. Apalagi setelah usaha yang dijalankan ayahmu bangkrut dan ia bunuh diri. Ibu merasa malu pada keluarga tersebut karena selama ini merekalah yang memberi pinjaman pada ayahmu. Ibu tak bisa membayarnya, sungguh." Wanita yang sangat dihormati dan disayangi Sakura itu mulai terisak. Ia menempelkan tangan Sakura yang menggenggam tangannya ke wajahnya. Sakura diam, kali ini amarahnya benar-benar memuncak.

"Teganya Kau menjual putrimu, ibu. Hanya karena hutang!" Mata Sakura mulai basah akibat genangan air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya. Wajahnya kini memerah, bercampur rasa antara marah dan kecewa.

"Maafkan ibu, Nak! Sungguh maafkan ibu! Ibu sudah tidak tahu harus bagaimana lagi! Rasanya ibu sudah seperti orang gila memikirkannya, Nak!"

"Siapa yang menyuruh ibu untuk memikirkan ide itu? Siapa Bu? Katakan!"

"Maafkan ibu, Nak! Maafkan ibumu yang tidak berdaya ini. Tak ada lagi yang bisa ibu lakukan selain menyetujui syarat dari keluarga Uchiha tersebut."

Mendengar pengakuan ibunya membuat tubuh Sakura serasa disambar halilintar. Ia langsung menarik tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan ibunya. Ia hanya duduk mematung menyaksikan isakan ibunya yang semakin keras. Rasanya kepalanya sakit, bahkan hatinya jauh lebih sakit.

"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Sakura dengan suara lirih.

"Kalau Kau menolak, tak ada lagi yang bisa kita lakukan, Nak. Hutang keluarga kita terlalu besar dan mereka tidak memberi kita waktu lagi. Astaga, ibu lebih baik mati saja kalau begini. Ibu sudah tidak sanggup…"

"Uchiha keparat itu…"

Flashback off

"Sakura?"

"Uchiha brengsek!" Sakura bangkit dari tempat duduknya. Ia hampir saja melempar gelas yang ada di dekatnya ke arah pria yang sedang duduk di depannya. Tentu saja pria tersebut langsung terkejut dengan tingkah wanita tersebut. Sakura langsung menyadari bahwa yang sedang duduk di depannya adalah Gaara. Entah mengapa malah figur Uchiha Sasuke yang ia bayangkan ada di sana.

"Eh, ma… maaf." Sakura kembali duduk dengan wajah memerah karena malu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan bertindak bodoh seperti itu.

"Kau tidak apa-apa? Sejak tadi Kau melamun." Gaara menatapnya dengan khawatir.

"Aku tidak apa-apa kok. Sudah sampai mana percakapan kita tadi, ya?" Sakura langsung menatap buku catatan yang ada di depannya. Namun ia sangat terkejut karena yang tertera di kertas catatan itu hanya sebuah coretan tak berarti.

"Kupikir Kau mendengarkan perkataanku sampai aku sadar bahwa Kau hanya melamun sambil mencoret-coret buku catatanmu. Kau tidak menulis poin-poin pembicaraanku tadi." Ujar Gaara sambil menghembuskan nafas pasrah. Ia menatap wanita berambut merah muda yang sudah dua tahun ini menjadi penulis yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang editor. Sakura menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, merutuki kebodohannya sendiri.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Sakura?" tanya Gaara sambil menautkan jari-jemarinya satu sama lain. Sakura menatapnya lalu menggeleng,

"Tidak ada apa-apa kok! Sungguh! Aku hanya buntu ide." Sakura berusaha mengelak, tapi Gaara bisa merasakan ada hal berat yang sedang disembunyikannya. Pria itu pun kembali menghembuskan nafasnya.

"Sakura, sudah dua tahun aku menjadi editormu. Aku tahu benar sifatmu Sakura."

"Sungguh tidak ada apa-apa Gaara. Ayolah, Kau kan editorku. Sejak kapan Kau jadi tertarik dengan masalahku."

"Masalahmu adalah masalahku juga Sakura. Apa Kau lupa saat pertama kali kita bertemu. Saat pertama kalinya aku menjadi editormu," ucap Gaara lembut.

Sakura terdiam, perkataan Gaara barusan mengingatkannya pada kejadian dua tahun silam. Saat Gaara menjadi editornya, mereka berjanji untuk bisa berkerja sama dengan baik. Itu artinya, jika salah satu dari mereka ada masalah maka ia harus mengatakannya. Apalagi Gaara bertanggung jawab atas Sakura. Pimpinan redaksi tempat Sakura menelurkan novelnya merasakan bahwa Sakura membutuhkan seorang editor yang benar-benar mengerti mengenai dirinya. Apalagi sepertinya karena Sakura sering terlihat diluar kendali dan kadang-kadang tidak menulis sama sekali. Itu sebabnya pimpinan redaksi mengutus Gaara untuk menjadi editor pribadinya. Sakura adalah penulis berbakat yang karyanya sering menjadi best seller. Sayang sekali jika ia tidak bisa mengatur kehidupannya dengan baik karena itu artinya akan menurunkan kinerjanya sebagai seorang penulis handal. Apalagi hanya di dunia inilah Sakura menghidupi dirinya.

"Aku minta maaf. Sebenarnya hanya ada sedikit masalah. Tapi, hanya masalah kecil kok. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, sungguh! Kalau aku tidak bisa menyelesaikannya lagi, aku pasti akan meminta bantuanmu." Sakura tersenyum lebar sambil sesekali tertawa. Gaara yang melihat tingkah Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa penulis yang ada di depannya saat ini sedikit aneh. Ia biarkan Sakura melakukan apa yang ia suka, karena ia mengerti bahwa penulis sepertinya yang selalu dikejar deadline tidak bisa terus-menerus dikekang.

"Sakura, aku pulang dulu ya. Sudah sore nih! Setelah ini aku ada shift malam di kafe tempatku bekerja. Kalau Kau lelah, mampirlah ke kafe tersebut. Ajak Sabaku-san juga, itu lebih baik." Tiba-tiba Ino muncul sambil menggendong tas jinjingnya.

"Oke, nanti malam aku mampir ke kafe itu. Kurasa sedikit cappuccino andalan kafe tempatmu bekerja bisa merilekskan otot-ototku yang sedikit menegang."

"Maksudmu saraf-sarafmu?" Tanya Ino sambil mencibir ke arah Sakura.

"Baiklah! Otot dan sarafku! Apa Kau puas dasar jelek?! Aku benar-benar lelah hari ini!"

"Oke, oke. Aku pergi dulu ya, sampai jumpa lagi Sabaku-san." Setelah mengatakan hal itu, Ino menghilang dari pandangan Sakura dan Gaara. Sepertinya ia sudah berjalan keluar. Sakura mendengus kesal sambil menatap buku catatannya yang dianggapnya tak berguna sama sekali. Gara-gara ia melamun, ia jadi tidak mendengarkan ide yang diutarakan Gaara. Ia benar-benar kesal pada dirinya sendiri.

"Sepertinya aku juga harus segera pergi. Ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan." Gaara melirik jam tangannya. Sakura pun melihat ke arah jam dinding yang menempel di atas televisinya. Yah, memang sudah seharusnya Gaara pergi. Ia telah menghabiskan waktu pria tersebut dengan sia-sia.

"Seperti yang Kau katakan, Kau benar-benar terlihat lelah Sakura." Kata Gaara sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia menyusun dokumen yang tadi dibawanya dan memasukkannya ke dalam tasnya.

"Ya, begitulah." ujar Sakura cuek.

"Mungkin memang lebih baik Kau pergi ke kafe itu. Bagaimana kalau nanti malam Kau kujemput. Kupikir aku juga ingin bersantai malam ini."

Sakura membulatkan matanya mendengar ajakan Gaara. Ia yang tadi ogah-ogahan langsung berdiri tegak sambil menatap pria tersebut.

"Apa Kau yakin? Sejak tadi aku sudah membuang-buang waktumu," tanya Sakura.

"Malam nanti aku senggang, lagian kita masih harus membicarakan novel terbaru yang sedang Kau selesaikan." Mendengar jawaban Gaara membuat Sakura langsung menepuk jidatnya yang lebar. Benar juga, dari tadi karena asyik melamun mereka sampai belum sempat membicarakan novelnya secara serius. Ia menganguk mengerti. Gaara hendak keluar dari apartemen Sakura sampai akhirnya ia berhenti membuat Sakura heran,

"Ngomong-ngomong, nama kafe itu apa ya?" Sakura kembali menepuk jidatnya mendengar pertanyaan Gaara dengan wajah pendiamnya yang innocent. Pria yang ada di hadapannya ini merupakan pria berpendidikan yang sangat cool, bisa-bisanya ia bersikap bodoh yang membuat Sakura ingin menelannya bulat-bulat.

"Nama kafenya adalah Orion Caffe. Tempatnya tidak jauh dari sini. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Nanti kita pergi bersama-sama, jadi Kau tidak perlu khawatir." jawab Sakura. Gaara hanya menganguk lalu pergi meninggalkan wanita tersebut. Setelah bayangan pria itu hilang, Sakura menutup pintu apartemennya.

Sakura masuk ke dalam kamarnya. Ia buka laptopnya dan melihat draft tulisan yang belum ia selesaikan. Ia baca kembali cerita yang tadi siang diketiknya. Seorang pria yang mencari-cari bayangan wanita yang terus menghantuinya. Senyum sinis timbul di wajah Sakura. Ia tahu ide cerita ini muncul setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Saat ia nekat pergi ke apartemen pria yang tidak ingin ditemuinya. Merasa sangat jaim, Sakura mengatakan bahwa ia tak ingin menemuinya tapi ia malah datang ke sana. Kalau saja bukan karena seorang gadis kecil yang selalu dalam genggaman pria tersebut, Uchiha Sasuke. Sakura meremas jari-jemarinya. Apakah Sasuke juga sedang mencari-carinya seperti yang dilakukan tokoh pria dalam novelnya tersebut? Ah, tidak mungkin! Sakura yakin bahwa pria itu juga berusaha menjauhinya. Ia tahu mereka tidak saling mencintai. Tapi, bayangan gadis kecil dalam genggaman Sasuke kembali muncul. Sarada Uchiha, nama yang ia berikan pada gadis itu. Nama yang diberikan hanya lewat sepucuk surat.

Flashback on

Sakura menatap pria yang ada di depannya dengan ragu. Pria tersebut juga menatapnya, mereka saling menatap dalam diam. Suasana canggung membuat Sakura akhirnya membuang pandangannya. Ia meremas jari-jemarinya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Kau terlihat tidak nyaman," ucap pria berambut hitam yang ada di depannya.

Sakura kembali menatap pria tersebut. Ia kesal karena pria di depannya bersikap biasa saja, padahal Sakura benar-benar merasa canggung. Bagaimana mungkin pria yang tidak mengenalnya baik-baik malah bersikap seolah tak ada masalah saat mereka sedang duduk berhadapan. Menanti detik-detik pernikahan mereka.

"Apa aku terlihat aneh?" tanya Sakura ketus.

"Ya, untuk seorang wanita yang akan menikah. Rasanya aneh sekali," jawab pria di depannya.

"Justru Kaulah yang aneh, Sasuke! Memangnya Kau nyaman dengan pernikahan ini?"

Pria bernama Sasuke itu hanya menghembuskan nafasnya mendengar penuturan Sakura. Sebenarnya ia juga merasa tidak nyaman, tapi ia berusaha agar terlihat baik-baik saja. Menikah dengan wanita yang tak dikenalnya dengan baik secara paksa? Pria mana yang bisa menerimanya dengan baik? Bahkan Sasuke tak diberi waktu untuk berpikir secara matang. Rasanya pernikahan mewah yang diselenggarakan oleh keluarga Uchiha ini tidak ada artinya.

"Aku tidak punya pilihan."

"Kalau begitu aku juga! Kalau bukan karena ibuku, aku tak akan berada di sini hari ini."

Mereka berdua kembali bertatapan dalam diam. Atmosfer di sekitar mereka kembali terasa canggung. Sakura menggigit bibirnya berusaha menenangkan diri, berharap bisa setenang Sasuke. Namun, hatinya terus saja berkecamuk.

"Tuan Sasuke, Nona Sakura, tolong bersiap-siap. Pernikahannya akan segera dimulai." Tiba-tiba seorang pelayan datang sambil tersenyum. Ia kagum melihat penampilan dua orang di depannya seperti seorang raja dengan ratunya yang bersiap menemui rakyat mereka. Sakura dan Sasuke hanya menganguk. Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.

Setelah yakin bahwa pelayan itu sudah pergi, Sakura menolehkan pandangannya ke arah Sasuke. Sasuke yang merasa diperhatikan juga menoleh ke arah Sakura.

"Sasuke, haruskah kita menikah?"

"Eh? Aku tidak tahu." Sasuke hanya menggaruk-garukkan kepalanya.

"Jawablah dengan tegas! Sebenarnya aku tidak menginginkan ini terjadi! Tapi… kita terpaksa harus melakukannya." Sakura kesal, hanya tinggal beberapa detik lagi sebelum akhirnya mereka pergi ke pelaminan. Sakura ingin memastikan ini lagi dengan waktu sempit yang ia miliki.

"Kalau Kau tidak bersedia, Kau tidak perlu melakukannya," jawab Sasuke. Tentu saja jawaban pria tersebut membuat Sakura marah.

"Lalu Kau akan membiarkan semuanya begitu saja?! Pria macam apa Kau?" Sakura membentaknya, teringat kembali wajah menyedihkan ibunya. Teringat pula hutang-hutang yang Sakura tak tahu harus diapakan.

"Aku juga tidak mau! Haruskah kita menikah dengan terpaksa?!" Sasuke pun tak mau kalah. Ia merasa bahwa Sakura menyalahkannya padahal ia juga tak ingin ini terjadi.

"Kau pikir hanya Kau saja yang menderita?! Kau tahu aku berulang kali dimarahi oleh ibuku?!"

"Aku tidak tahu, tapi…"

"Kita jalankan saja, walau tanpa cinta. Aku yakin semua akan baik-baik saja." Sakura tersenyum sedih. Sasuke pun menatapnya dengan kasihan. Sebenarnya ingin rasanya ia mengelus wajah wanita itu sambil mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja, namun entah mengapa hanya pertanyaan tak berarti yang keluar dari mulutnya.

"Benarkah?"

Ya, jalankan saja. Sampai akhirnya tibalah saat itu, saat yang mengubah semuanya. Saat yang menjadi hari bersejarah dalam hidup Sakura mau pun Sasuke. Saat yang sukses membuat mereka terpisah begitu jauh. Saat yang membuat Sakura menyesali perbuatannya dan mulai menghakimi dirinya sendiri. Rasa bersalah pada seorang gadis kecil yang terus menghujamnya.

Flashback off

Bulir-bulir air mata mulai mengalir dari wajah sendu Sakura. Ia terkejut begitu menyadarinya. Segera ia usap air mata tersebut. Untuk apa ia menangis? Apakah ia menangisi kehidupannya yang menyedihkan? Apakah ia menangisi Sasuke? Apakah ia menangisi Sarada? Apakah ia…

"Maafkan aku ya Sarada… aku ini memang ibu yang payah. Tapi aku sangat ingin memelukmu dalam tidurku. Aku ingin membawamu bersamamu. Tapi, ayahmu pasti tak akan membiarkan aku merebutmu dari pelukannya. Ia tahu bahwa aku ini ibu yang payah, menyedihkan, dan sangat berbahaya. Aku ini seperti hewan buas untukmu…"

Tangisan Sakura pecah, menghancurkan kesunyian kamar kecil wanita tersebut. Menangisi kepedihan dan ketidakberdayaannya.

OoO

"Papa, papa! Malam ini kita makan apa?" Seorang gadis kecil berambut hitam berlari menghampiri ayahnya yang sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Konsentrasinya langsung pecah begitu gadis kecil tersebut memeluknya dari belakang.

"Sarada-chan, jangan bergelayut begitu. Papa jadi tidak bisa mengetik nih." Sasuke berusaha melepaskan pelukan putrinya, namun bukannya dilepas malah rasanya semakin kencang saja pelukan itu.

"Yang papa pikirin kerja mulu! Papa gak peduli ya kalau Sarada-chan mati kelaparan!" Sasuke menghembuskan nafasnya lalu berbalik menghadap putri semata wayangnya yang sudah memajukan bibirnya dengan kesal. Melihat ekspresi manyunnya membuat Sasuke mengelus rambut hitam pendek gadis kecil tersebut. Ia tersenyum melihat tingkahnya yang semakin manja saja.

"Tunggu sebentar." Sasuke bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya. Sarada yang penasaran, langsung menghampiri ayahnya dan melongok untuk mengintip apa yang diambil ayahnya.

"Nih!" Sasuke menunjukkan dua buah voucher pada putrinya sambil tersenyum.

"Apa itu? Papa ingin Sarada-chan makan kertas?" Sarada bertanya tak percaya, setega itukah ayah yang disayanginya. Hanya karena pekerjaan yang menumpuk, rela memberi makan kertas pada putri semata wayangnya?

"Mana mungkin papa menyuruhmu memakan ini. Ini adalah voucher yang diberikan oleh paman Naruto. Nanti malam kita bertiga akan pergi ke kafe untuk makan malam bersama. Di sana banyak minuman yang enak loh," jawab Sasuke sambil geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan putrinya yang cukup menohok dirinya.

"Apa? Jadi kita makan di luar? Horee! Sarada-chan mau milih baju dulu!" Gadis itu pun berlari meninggalkan ayahnya sambil melompat-lompat riang. Sasuke hanya tersenyum melihatnya. Ia memandang dua buah voucher yang ada di tangannya. Cukup beruntung ia mempunyai sahabat seperti Naruto yang entah mengapa selalu memiliki stok voucher makanan untuk dibagikan. Setidaknya malam ini ia tidak perlu memasak.

"Huh, saatnya kembali bekerja." Sasuke kembali duduk di tempatnya semula. Entah mengapa tiba-tiba sebersit perasaan aneh muncul dalam benaknya. Namun, tak dipedulikannya perasaan tersebut. Ia hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali bekerja. Membiarkan dua voucher bertuliskan Orion Caffe itu tergeletak begitu saja di samping laptopnya sementara ia kembali sibuk mengetik.

To be continued


Akhirnya, jadi juga chapter 3 ini (==") Maaf kalau lama, banyak yang saya pikirkan sampai-sampai fanfic ini terlupa untuk dipikirkan dan direnungkan, duh...

Terima kasih yang sebelumnya sudah mereview ya, saya mau balas review para readers dulu ( ^^ )

waduhh. . ..penasaran ama masa lalunya-Syukurlah kalau bisa bikin penasaran, itu memang tujuan saya hehe :D

Huuaaa belum terungkap kilaaat :3-
Di chapter ini sudah mulai terungkap kan? Walau belum semuanya sih hehe... biar bikin penasaran. Update kilat Insya Allah ya :D

sasuke ooc y...
ini aq pnasaran bngt knp sasuke nglarang sarada...
apa sakura jhat dsini...-
Iya, Sasuke sengaja saya bikin OOC biar feel bapak anak sama Sarada lebih kerasa. Saya ingin Sasuke jadi ayah yang manis di sini :) Semoga hal itu tidak mengganggu ya. Yang penasaran, silakan tunggu chapter berikutnya :D Sakura jahat gak ya? Bisa iya bisa enggak, lihat aja nanti ya

wah ceritanya bikin penasaran! Lanjutkan author-san update kilattt hehe-Terima kasih! Akan saya usahakan untuk update cepat tapi tidak janji loh (T_T)

Nah, sekian! Mulai sekarang tokoh-tokohnya akan nambah untuk mempermanis cerita *?*

Sampai bertemu chapter depan!