"Bagaimana rasanya menjadi seorang Omega, padahal kau dulunya adalah seorang Alpha?"
"Ahh, tidak sia-sia aku menjadikanmu seorang Omega—haa! Kencang, seperti perawan huh?"
"V, mereka memanggilmu—lagi—"
"Aku akan mengeluarkanmu dari neraka ini. Tunggu aku, V."
"Hyung-sik—dia membawa anakmu pergi, Hyung."
"Kali ini kau melahirkan orang mati? Tidak masalah, kita bisa coba lagi."
"Semalam—kau demam—dan tiba-tiba saja darah mengucur dari—"
"V? Taehyung?"
"Anak ini pasti akan mati. Karena pada akhirnya, mereka semua akan berakhir sama."
"Aku akan membuatmu menyesal telah melahirkan anak mati untukku, kau mengerti?"
"Aku akan kembali untukmu, V."
Taehyung membuka matanya. Wajahnya menatap ke langit-langit kamar. Gelap.
Ia bisa merasakan wajahnya basah oleh air mata. Sementara tangannya terangkat ke langit-langit, berusaha meraih sesuatu yang kasat mata.
"Seo-joon."
SPRING DAYS
Summary: 2045, Omega dan Beta perempuan mengalami degradasi populasi, angka kelahiran menurun, cuaca yang terus memburuk, perang dunia. Jeon Jungkook, wakil kapten dari Pasukan Brigade Khusus ke 13, harus terjun ke dalam kejamnya peperangan dan menemukan setitik harapan di dalam tahun-tahun yang mengerikan.
Warnings: Rape, forced pregnancy, ABO AU, mpreg, gore, character death, typos, cannibalism (untuk chapter ini saja).
Pairings: KookV, NamJin, YoonMin, incoming pairings
30 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
Jungkook dan yang lain melanjutkan perjalanan mereka untuk menemukan markas sementara yang dapat menampung dan memberikan perlindungan sementara dari para tentara Korea Utara yang sibuk berkeliaran di sekitar perbatasan. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari tempat perlindungan baru, sementara mereka harus sekaligus berjuang membagi makanan sama rata akibat tempat tinggal yang tidak menentu.
Sudah sejak sehari yang lalu mereka tiba di sebuah desa—lebih tepatnya disebut sebuah kota kecil—yang sudah tidak berpenghuni. Desa itu kosong setelah ditinggalkan oleh penduduknya yang berusaha melarikan diri dari ancaman serangan bom nuklir Korea Utara—jika itu memang benar yang Daehyun baca di sebuah buletin di balai kota. Mungkin karena penduduknya terlalu terburu-buru menyelamatkan diri, kota itu masih memiliki furnitur lengkap di setiap rumah-rumah penduduk yang mereka datangi. Bahkan persediaan makanan pun baru diproduksi sekitar 4 tahun lalu.
Jungkook beserta Pasukan Brigade Khusus ke 13 lainnya memilih rumah pribadi walikota—dengan 2 kamar tidur utama dan 4 kamar tidur biasa. Ruang tamunya pun masih memiliki televisi yang berfungsi, meski saat ini siaran TV sangat susah untuk ditemui. Kebanyakan hanya menyiarkan berita penyerangan negara-negara besar ke negara-negara kecil dan berkembang, perpindahan politik, peperangan, dan berita-berita menyedihkan lainnya.
Seokjin bergurau begitu Yoongi menyalakan saluran TV, mengatakan bahwa jika ada stasiun TV yang masih berjalan, ia akan bergabung secara sukarela dan membuka program acara masak. Tidak ada yang tertawa dengan gurauan Beta tertua itu, kecuali kekasihnya Namjoon—yang secara tulus mengapresiasi gurauannya.
Saat Jimin dan Baekhyun berjalan-jalan mengelilingi daerah pinggiran kota, mereka menemukan sebuah kebun yang masih berfungsi; yakni kebun jagung yang beberapa buahnya telah busuk karena cuaca yang tidak kurung membaik. Mereka memberitahu yang lain dan memanen jagung yang masih dalam kondisi baik, menyimpannya sebagai persediaan makanan.
Sementara itu, hampir memasuki bulan Februari, musim kemarau yang diikuti dengan sering terjadinya hujan asam, kini kian memburuk. Udara pada siang hari mencapai 45 derajat selsius, sementara pada malamnya, udara bisa turun hingga minus lima derajat selsius. Untungnya persediaan baju musim hangat banyak tersedia di toko-toko di kota, sehingga mereka bisa mengantisipasi cuaca dingin di malam hari.
Kota itu, seperti kota-kota yang lainnya, juga dipenuhi dengan debu dan polusi setiap kali waktu memasuki siang hari. Jungkook dan yang lain terpaksa mengenakan masker mereka setiap kali melakukan patroli, agar penyakit paru-paru tidak menyerang mereka secepat orang-orang yang tidak mengenakan masker. Beberapa tahun lalu, 4 orang anggota dari resimen lain, tewas akibat menghirup terlalu banyak polusi selama bertugas di luar daerah perbatasan. Mereka mengalami gejala batuk-batuk menyerupai TBC, dan meninggal dalam jangka waktu hanya 17 hari terjangkit penyakit.
Bahkan Seokjin sendiri memilih untuk berdiam diri di tempat mereka tinggal, tidak mau ambil resiko jika sampai masker yang ia kenakan ada yang rusak dan tidak bisa 100% berhasil memfilter polusi di udara. Apalagi dialah satu-satunya medis di kelompok Pasukan Brigade Khusus ke 13 dibantu dengan Baekhyun sebagai asisten barunya, jika ia jatuh sakit, maka tidak dinyana lagi anggota yang lain akan lebih mudah mati di medan pertempuran.
Kesimpulannya, untuk sementara ini mereka ada dalam zona aman. Dan mereka bersyukur akan hal itu.
31 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
00.41 a.m
Jungkook tengah menemani Yoongi yang sedang sibuk mengotak-atik sinyal frekuensi pemancar radio mereka—dan menyambungkannya dengan sebuah layar televisi. Alpha yang lebih tua itu bermaksud untuk menghubungi pemerintah pusat dengan alat telekomunikasi berupa percakapan lewat video. Meski sejak kemarin siang ia berusaha membuat alat tersebut dengan bantuan Chanyeol, tetap saja hasilnya nihil. Hingga saat ini mereka belum mengontak lagi pihak militer pusat.
"Ah, Chanyeol sialan, jika saja ia mau membantuku lebih lama!" gerutu Yoongi sambil melempar kabel-kabel ke meja dengan kesal.
Jungkook mengamati kabel-kabel di atas meja dengan wajah berusaha memahami arti dari kabel-kabel tersebut, meski ia gagal pada akhirnya. "Tampaknya Chanyeol-hyung terlalu sibuk menguntit Baekhyun. Dia terlalu tertarik padanya."
"Bahkan ia tidak bisa menjaga kelaminnya kemana-mana!"
Alpha yang lebih muda itu mendengus, "Bukankah kau sendiri yang sudah mengklaim Jimin begitu ia heat? Kenapa kau berbicara seolah-olah Chanyeol telah berhubungan seks dengan Baekhyun?"
Yoongi hanya terdiam mendengar ucapan Jungkook—selama beberapa saat. Wajahnya berubah dingin, "Kurasa Jimin menghindariku. Semenjak aku—mengklaim dirinya sebagai Omega milikku."
"Oh, ya?" Jungkook terdengar tertarik, "Memangnya sewaktu kalian melakukan seks, kau melakukan sesuatu padanya, Hyung?"
"Bahkan aku tidak ingat apa yang kulakukan padanya!" seru Alpha berambut perak itu frustasi, "Aku hanya ingat bahwa aku bangun di malam hari karena mencium aroma manis, dan bangun-bangun aku sudah mendapatinya telanjang di sebelahku! Kau tahu—feromon seorang Omega—rasanya seperti kau menyeruput cairan alkohol. Sesaat kau merasa nikmat, selanjutnya kau tidak sadarkan diri."
Jungkook mengingat-ingat sensasi ketika ia menghirup aroma Taehyung—bahkan ia serasa teler untuk beberapa detik.
Dan ia ingin merasakan sensasi itu lagi.
"Setidaknya, setiap dia heat, kau akan jadi orang pertama yang dicarinya."
Yoongi mendengus, "Kalau kami melakukan seks tanpa dasar cinta, apa artinya?"
"Uh—bukankah sudah cukup kalian berhubungan seks selama kalian menikmatinya?"
"Aku bahkan tidak tahu jika aku menikmatinya atau tidak. Aku hilang ingatan selama aku menyetubuhi Jimin, Jungkook-ah," Yoongi menggeleng lemah.
"...oh." Jungkook kehilangan kata-kata.
Tetapi kemudian Yoongi berkata lagi padanya, "Tapi kuakui aku senang dengan keberadaan Omega-Omega ini. Aku merasa seperti ada harapan untuk membangun dunia yang baru—yang lebih baik lagi," ujar Alpha itu dengan wajah termenung ke potongan-potongan kabel di atas meja. Kemudian matanya tertuju pada Jungkook, "Kau juga, Jungkook-ah. Wajahmu terlihat lebih bahagia ketika Taehyung datang. Kau seperti—kembali pada dirimu yang dulu."
Mulut Jungkook ternganga heran mendengar pernyataan Alpha yang lebih tua itu, "Oh—begitukah?"
Yoongi tersenyum kecil melihat ekspresi Jungkook dan mengangguk pelan, "Ne. Apa jangan-jangan..." kemudian wajahnya berubah serius, "Kau mencintai Taehyung?"
Jungkook membeku mendengar pertanyaan itu. Pikirannya sesaat kosong, dan sesaat kemudian terbang ke masa-masa Taehyung masihlah seorang Alpha yang ia idolakan.
Lalu ia membayangkan Taehyung yang kini membawa trauma di masa lalunya.
Taehyung yang rapuh, yang ia sumpahi untuk selalu ia lindungi.
"Ani. Aku hanya ingin—melindunginya. Tidak kurang, tidak lebih."
"Hn, begitu," Yoongi kembali pada pekerjaannya setelah mendengar jawaban dari Alpha yang lebih muda itu.
Bahkan ia tidak yakin dengan ucapan Jungkook.
31 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
00.47 a.m
"Kurasa ini masih bisa dimakan," kata Baekhyun sambil membaca tulisan yang tertera pada kaleng makanan berisi buah leci.
"Ooh! Leci!" seru Jimin senang. "Sudah bertahun-tahun aku tidak makan leci! Sepertinya terakhir aku makan buah leci saat aku berusia sekitar 10 tahun..." Omega itu berusaha mengingat-ingat.
Taehyung berdiri di samping mereka, matanya ikut mencari-cari bahan makanan yang dapat dibawa pulang. Sudah 2 jam mereka menghabiskan waktu mengobrak-abrik isi sebuah minimarket yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berlindung. Yang ia temukan hanyalah kaleng-kaleng makanan yang sudah terbuka dengan isi membusuk, dan lainnya adalah makanan yang sudah lewat jauh dari tanggal kadaluarsa yang tertera.
Setidaknya makanan-makanan ini lebih lezat daripada makanan yang ia makan ketika ia berada di ruang tahanan Omega tentara Korea Utara.
Taehyung mengepalkan tangannya saat ingatan-ingatan buruk selama 8 tahun dikurung.
Kumohon, jangan pikirkan hal itu lagi.
"V-Hyung?"
Omega itu tersentak, "Mwo?"
"Kami sudah menemukan bahan makanan yang masih bisa dimakan," kata Jimin sambil menunjukkan keranjangnya yang terisi penuh. Baekhyun juga menunjukkan isi keranjang yang dipenuhi makanan-makanan kaleng—dan beberapa kotak susu yang masih memiliki waktu kadaluarsa sampai seminggu ke depan.
"Oh. Baguslah kalau begitu. Mungkin kalian bisa berjalan duluan tanpaku," Taehyung menanggapi sambil tersenyum kecil, "Aku masih ingin mencari makanan di sini. Sepertinya aku belum menyusuri semua tempat."
Tanpa berdebat panjang, Jimin dan Baekhyun langsung pergi meninggalkan Taehyung—kembali ke tempat perlindungan utama mereka.
Taehyung kembali pada pikirannya selama ia berjalan menyusuri setiap lorong rak-rak yang berisi bahan makanan dan persediaan lainnya. Kemudian matanya menangkap bagian mainan anak-anak. Ia menghentikan langkahnya di situ dan meraih sebuah boneka beruang. Tangannya mengusap boneka beruang itu lamat-lamat.
"Aku akan memberitahumu satu rahasia. Aku menamai anak itu Ji-hoon. Park Ji-hoon. Karena kau tidak memiliki hak untuk menjadi orang tuanya. Kau hanya memiliki tugas untuk melahirkannya ke dunia. Tidak lebih, tidak kurang."
"Mungkin dia akan menjadi Omega secara alami nantinya. Karena itu aku akan membawanya ke Pyongyang."
"Kau tidak akan pernah bertemu dengannya. Karena di sini tugasmu hanya satu, memberi kami anak."
Suara kaleng yang jatuh mengagetkannya. Taehyung langsung membalikkan tubuhnya dengan sikap waspada. Dilihatnya seisi minimarket kosong, hanya ada dirinya. Lampu tabung di langit-langit berkedip-kedip ketika Taehyung berjalan keluar dari susuran rak-rak.
Masih kosong.
Ia hendak berbalik lagi ketika dilihatnya sesosok manusia berdiri di belakangnya. Omega itu terkesiap dan langsung mengambil pistolnya.
Melihat moncong pistol tertuju padanya, sosok manusia itu langsung berlari pergi dan menghilang tanpa suara.
Dengan hati-hati dan perasaan waswas, Taehyung berjalan mendekat ke arah sosok manusia itu menghilang. Tangannya masih siaga menggenggam pistol, dengan jari telunjuk siap menarik pelatuk. Ia berjalan menyusuri lorong panjang minimarket, dan merasakan udara panas berhembus dari luar. Ketika ia menghampiri sumber udara panas tersebut, dilihatnya sebuah lubang menganga di ujung tembok yang berseberangan dengan ruang penyimpanan.
Ia melirik ke lubang tersebut.
Dan sepasang netra berwarna merah dengan urat pembuluh darah menjalar, balik memandanginya.
Taehyung langsung berteriak kaget dan kembali mengacungkan pistolnya.
31 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
00.54 a.m
Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang daritadi berdiri di depan pintu masuk minimarket—mengenakan masker yang menutupi setengah wajahnya, matanya sibuk memandanginya dan Jimin dengan tatapan datar seperti yang biasa ia lakukan. Omega itu melangkah mundur dengan perasaan panik ketika Alpha bertubuh tinggi itu berjalan menghampiri mereka.
"Kalian perlu bantuan?" tanya Chanyeol penuh perhatian, tangannya terjulur ke keranjang belanjaan yang mereka bawa.
Jimin dengan senang hati menawarkan keranjangnya pada Chanyeol, "Tentu saja! Gomawoyo, Chanyeol-Hyung!"
Chanyeol menerima keranjang belanjaan Jimin dan menoleh pada Baekhyun, "Bagaimana denganmu?"
Baekhyun buru-buru menggeleng, "Tidak usah. Aku bisa membawanya sendiri!"
Alpha itu hanya mengangguk, "Baiklah kalau begitu."
Tiba-tiba suara teriakan menggema dari dalam minimarket. Ketiga orang itu langsung beralih ke asal suara dengan wajah terkejut.
"Itu suara V-Hyung!"
"Pasti ada sesuatu—"
Chanyeol langsung berlari masuk ke dalam minimarket, sementara Jimin dan Baekhyun mengikutinya di belakang. Begitu mereka memasuki minimarket, mereka mendapati Taehyung jatuh terduduk di atas lantai sambil mengacungkan pistolnya ke sebuah lubang yang terpampang di pojokan minimarket. Omega itu menembakkan pistol sekali dan disertai suara jeritan kesakitan.
Jimin berlari ke arah Taehyung, "Hyung! Apa yang kau—"
"Ada manusia—" kata Taehyung dengan suara bergetar, "Ada manusia selain kita di sini..."
Chanyeol ikut menundukkan kepalanya ke lubang tersebut dan melihat ceceran darah di antara lubang tembok dan tanah berdebu. Alpha itu menelan ludahnya, "Apa jangan-jangan masih ada penduduk yang tinggal di sini?" katanya sambil memeriksa ceceran darah tersebut.
31 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
01.34 p.m
Yoongi berseru senang ketika akhirnya sistem saluran telekomunikasi yang dibuatnya berhasil tersambung. Ia menunjukkannya pada Namjoon ketika pimpinan mereka itu sedang berduaan dengan Seokjin di dapur. Ketika Yoongi memberitahu hal tersebut, Alpha bertubuh tinggi itu langsung berdiri dari meja makan dan setengah berlari menuju ruang tengah. Sesampainya di sana, ia melihat Jungkook sedang ikut membantu Yoongi mencari frekuensi yang tepat.
Tidak lama kemudian layar televisi mulai berdesing cepat, dan menampakkan wajah seorang Beta yang dulu merupakan teman Namjoon selama mereka masih dalam tahap pendidikan militer. Layar televisi awalnya tidak terlihat stabil, sampai akhirnya samar-samar kembali memunculkan sosok Beta tersebut.
"Oh! Jackson-sunbaenim!" seru Jungkook gembira.
Jackson yang lengkap mengenakan setelan jas militer dan sepasang headset di telinga, ikut berseru gembira melihat mereka, "Kalian! Hei, Joonie!" ia melambaikan tangan dengan senang ke arah kapten muda Pasukan Brigade Khusus ke 13 itu, "Kami sudah menunggu cukup lama untuk membalas pesan kalian! Sekarang kalian ada di mana? Dan bagaimana keadaan di sana?"
"Hai juga, Jackson. Sekarang kami berada di sekitar daerah Daeseong-dong, masih tidak jauh dari basis militer yang dulu. Sekitar delapan puluh kilometer, kurang lebih," kata Namjoon menjelaskan. "Sejauh ini keadaan sudah aman."
"Begitukah?" Jackson tersenyum, "Maafkan kami tidak bisa mengirimkan bala bantuan. Seoul tiba-tiba saja mendapat serangan udara dari tentara Jepang tanpa peringatan awal. Bang PD-janggunnim meminta agar polisi dan tentara di pusat untuk membantu mengamankan di sini untuk sementara. Beliau khawatir jika Jepang bekerja sama dengan Korea Utara untuk menghancurleburkan Seoul."
"Lalu bagaimana keadaan di sana sekarang ini? Bagaimana Daehanminguk Yuk-gun saat ini? Apa masih banyak serangan yang datang?"
Jackson menggeleng sedih, "Kami kehilangan banyak, tapi sekarang ini kami sudah membuat barikade untuk serangan udara yang mendatang."
Seisi ruangan langsung terdiam. Tidak hanya Korea Utara, tapi sekarang Jepang menjadi musuh mereka. Meski sudah dua tahun lalu Jepang resmi menyatakan perang pada Korea Selatan dan Cina, tapi baru saat ini serangan pasti dari Jepang diluncurkan. Cepat atau lambat, barisan pertahanan di Seoul akan semakin berkurang. Sampai pada akhirnya hanya tersisa puing-puing dari ibukota negara Korea Selatan.
Jungkook menelan ludahnya dengan berat hati. Ia tidak lupa bahwa ayahnya saat ini berada di Seoul. Dalam hati ia setengah berdoa, berharap jika apapun terjadi di Seoul, ayahnya akan menjadi salah satu orang yang berhasil melarikan diri. Setidaknya ia berharap ayahnya masih akan baik-baik saja sampai ia bisa kembali ke Seoul.
"Ngomong-ngomong, kenapa hanya kalian yang ada di ruang tengah? Mana yang lain?" tanya Jackson, memecah keheningan.
Namjoon memandang teman-temannya, saling bertukar pandang. Akhirnya Alpha itu memutuskan untuk menjawab, "Sejak penyerangan dadakan dari Korea Utara ke kamp militer enam hari lalu, kami sudah kehilangan empat orang. Yongguk telah mati dengan terhormat, dan empat orang lainnya—Hyun-woo, Jongdae, Junmyeon dan Kyungsoo—mereka semua berhasil ditangkap."
Jackson terdiam untuk beberapa saat, menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya, "Aku mengerti, dan turut berduka. Aku akan mengabarkan PD Bang-janggunnim sesegera mungkin mengenai hal ini dan mengirimkan kalian bahan makanan secepatnya dalam tiga hari," kata Beta itu—wajahnya diliputi rasa simpati bercampur rasa duka. "Tapi mengenai bala bantuan, aku tidak tahu sampai kapan kami bisa mengirimnya ke tempat kalian. Kuharap sampai nanti, kalian tetap bisa bertahan hidup, Namjoon-ssi. Dangyeol."
Namjoon mengangguk dan mengangkat tangannya sampai ke pelipis, "Dangyeol. Sodaejang."
Layar televisi kembali statis.
Seokjin memulai, "Untuk saat ini kita hanya bisa bertahan."
"Ne," Namjoon menyetujui. "Mulai sekarang, kita akan berpatroli dua orang setiap 4 jam. Terlalu berat untuk Hoseok, Daehyun, Yugyeom dan Won-sik untuk berpatroli setiap saat."
"Apakah cukup?" tanya Jungkook ragu, "Kurasa sebaiknya kita juga memasang jebakan di sekitar kota. Aku khawatir akan ada tentara Korea Utara yang tanpa sengaja menemukan kota ini dan membantai kita semua, cepat atau lambat." Suaranya tertahan ketika ia hendak menyebutkan, Omega-Omega di sini, termasuk Taehyung, juga akan tidak dijamin selamat.
"Benar katamu, Jungkook-ah. Aku akan meminta Chanyeol dan Hoseok untuk membuat jebakan ranjau dan mesin penembak otomatis besok pagi. Setidaknya kita butuh pertahanan yang lebih ketat jika tidak ingin menyerang lawan," Alpha itu memandang lurus ke arah Jungkook, "Aku juga berharap kau tidak akan lelah melatih Taehyung. Bagaimanapun juga, dulu dia adalah Alpha dan seorang tentara yang berbakat. Kita membutuhkan kemampuan itu untuk saat ini."
Jungkook mengangguk, "Aku mengerti."
Suara pintu didobrak terbuka mengalihkan perhatian mereka.
"Daewi-nim!" seru Chanyeol—muncul begitu tiba-tiba di ambang pintu, dengan Taehyung, Baekhyun dan Jimin di belakangnya. "Kami menemukan manusia selain kita di kota ini!"
Namjoon terkesiap, diikuti dengan yang lainnya, "Huh?! Apa maksudmu?"
31 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
03.13 p.m
Hoseok dan Won-sik berjalan di depan, sementara Chanyeol dan Jungkook mengikuti keduanya di belakang. Senapan masing-masing menggantung di tangan mereka, sebagai bentuk pertahanan utama jika ada musuh mendekat atau melakukan penyerangan.
Jungkook mengingat cerita Taehyung beberapa saat yang lalu, bagaimana ia melihat sosok manusia lain di dalam minimarket. Manusia yang tidak ia ketahui apakah laki-laki Beta atau Alpha, karena sosoknya begitu samar-samar di benak Omega itu. Yang ia ingat hanyalah netranya yang berwarna merah dan dipenuhi dengan pembuluh darah—menghiasi wajahnya yang hitam entah karena debu dan polusi atau tidak. Ketika Taehyung berusaha menembakinya, sosok itu berlari dengan bahu berlumuran darah.
Jungkook kemudian menangkap jejak kaki yang dicetak oleh bercak darah, dan menyuruh Hoseok, Won-sik dan Chanyeol untuk mengikutinya. Sambil membenarkan posisi maskernya, ia samar-samar mencium bau tengik—seperti bau bangkai yang sudah berhari-hari dibiarkan membusuk di alam. Hoseok yang menangkap aroma tidak mengenakkan itu, langsung memegangi maskernya.
"Kenapa bau di sini seperti bau tempat pembuangan bangkai?" gerutunya, mengingat-ingat ia pernah mencium aroma ini ketika ia berada di antara mayat-mayat saat melakukan misi-misi pertamanya, dan terakhir ketika mereka menemukan tempat penyimpanan Omega di ruang bawah tanah.
Kaki Jungkook menendang sesuatu ketika ia terlalu fokus dengan sekitarnya. Sesuatu itu menggelinding pelan ke depannya. Diamatinya benda itu berwarna putih, dengan sepasang lubang dan sebuah lubang kecil berbentuk hidung. Mata Alpha itu langsung membelalak lebar.
"Bukankah itu tengkorak manusia?" tanya Won-sik dengan nada khawatir.
"Kuharap tebakanmu salah, Hyung," Jungkook membungkukkan tubuh untuk mengamati benda itu dengan lebih dekat. Ekspresinya berubah drastis, "Kecuali kali ini, tebakanmu benar."
Hoseok nyaris memekik, "Kenapa ada tulang manusia—"
"Ssh! Aku mendengar sesuatu!" Jungkook langsung memberi mereka isyarat untuk diam. Ia memberi tanda pada Chanyeol untuk melindunginya, sementara Alpha yang lebih muda itu berjalan mendekati asal suara yang didengarnya.
Dilihatnya sesosok manusia berdiri di antara gundukan tanah. Sosok manusia itu berpakaian yang terdiri dari hanya kaus putih yang sudah berwarna coklat karena berbagai macam noda dan polusi udara, dan kakinya diselimuti dengan celana kamuflase militer. Manusia itu sedang sibuk menggigiti sesuatu—seperti memakan sisa-sisa tulang. Jungkook mencoba untuk melihat dari dekat, dan disadarinya kemudian bahwa orang itu sedang menggigiti bagian daging dari seonggok tangan laki-laki yang sudah setengah membusuk.
Jungkook mengeluarkan suara mual—mengejutkan manusia misterius itu. Orang itu langsung menoleh dan menunjukkan wajahnya yang sudah sehitam jelaga, dengan mata merah menyala, dan setengah dari kulitnya seperti terkena luka bakar.
Jungkook mengarahkan senapannya dan menembaki sosok itu tanpa ampun ketika manusia mengerikan itu mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya. Sosok itu langsung terkulai di atas tanah, dengan darah segar mengalir dari seluruh bagian tubuhnya.
"Makhluk apa ini?! Kenapa ia tidak terlihat seperti manusia?" tanya Chanyeol panik dan setengah tidak percaya.
"B-barusan—apa aku salah lihat? Dia seperti sedang memakan tangan manusia..." Hoseok menelan ludahnya.
"Memang tangan," kata Won-sik sambil mengarahkan senapannya ke arah gundukan tanah. Ketika diperhatikan lebih dekat, gundukan tanah itu berisi tulang-tulang dan anggota tubuh manusia yang setengah membusuk dan tidak terkubur dengan baik. Hoseok benar-benar tidak bisa menahan rasa mualnya. Dengan cepat, Beta itu membuka maskernya dan muntah sejadi-jadinya.
Chanyeol langsung membantu Hoseok mengeluarkan isi perutnya dengan menepuk punggung Beta tersebut dan menawarkan sebotol minuman untuk membersihkan mulutnya.
Jungkook memeriksa tubuh sosok yang sudah menjadi mayat di hadapannya, "Sepertinya orang ini bukan yang dilihat Taetae-hyung tadi. Lihat," ia menujuk ke bahu mayat itu, "Bahunya sama sekali tidak terluka."
"Lalu mayat-mayat yang ada di sini, mereka siapa?" tanya Chanyeol, wajahnya bergidik ngeri. "Mengapa mereka bisa bertahan hidup tanpa menggunakan masker penyaring udara?"
Jungkook menggali tanah dan tubuh mayat yang sudah mulai dingin dengan ujung sepatu bootsnya, seolah-olah berusaha mencari-cari sesuatu yang dapat menjawab pertanyaan itu. Ia hanya bisa mengingat bahwa pakaian yang dikenakan oleh mayat yang baru saja memakan tangan manusia beberapa menit lalu adalah pakaian kamuflase untuk pasukan tentara di daerah perbatasan. Entah tentara Korea Selatan atau tentara Korea Utara, karena warna celananya sudah pudar akibat udara yang kotor dan debu lainnya.
"Jika saja aku juga tahu jawabannya, Hyung."
31 Januari 2045, Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
06.29 p.m
Jungkook dan yang lain memberitahu Namjoon apa yang mereka lihat. Pimpinan mereka itu mendengarkan dengan seksama, dan ekspresinya berubah tidak percaya. Won-sik melemparkan tangan yang setengahnya sudah membusuk dan dipenuhi dengan bernga, dan setengahnya lagi memiliki lubang bekas gigitan manusia.
Seokjin berusaha menahan isi perutnya agar tidak tumpah saat ia menyelidiki potongan tangan yang sudah jadi bangkai itu.
"Bekas gigitan ini—memang disebabkan oleh gigi manusia." Ia menyodok-nyodok tangan itu dengan ujung moncong pistol, "Kulitnya melepuh sebagian. Sepertinya sebelum orang ini mati, dia menderita penyakit kulit."
Namjoon menatap Jungkook, Won-sik, Chanyeol dan Hoseok satu persatu—lalu memandangi Taehyung sesaat. "Kalian benar. Ada manusia selain kita di sini."
"Apa mereka berbahaya?" tanya Yugyeom takut. Begitu ia mendengar cerita dari Taehyung dan Jungkook bahwa ada manusia selain mereka di kota ini—dan kemungkinan mereka adalah kanibal, ia merasakan kakinya langsung berubah seperti jeli. Baru beberapa hari lalu ia kehilangan Yongguk, dan kini ia mendapati berita bahwa ada kuburan massal manusia yang kemungkinan besar berisi korban kanibalisme.
"Untuk sementara kita tidak bisa mengetahuinya. Jungkook, Yoongi-hyung, Chanyeol, dan Hoseok, aku ingin kalian memasang pengamanan dan barikade di sekitar bangunan ini," kata Namjoon memberi instruksi, "Setidaknya akan ada kamera yang berjaga di sekitar sini. Aku menemukan ada beberapa kamera CCTV yang masih bisa digunakan, dan kurasa akan sangat berguna untuk memanfaatkannya. Ranjau-ranjau yang sudah dipasang tadi siang, akan banyak ditambahkan di daerah sekitar kita. Yugyeom dan Won-sik, kalian bantu mengawasi keadaan untuk mereka dengan menggunakan mobil. Aku dan Daehyun akan berjaga di sekitar balai kota jika ada sesuatu yang mencurigakan. Dan Seokjin—" Alpha itu menoleh pada kekasihnya, "Jaga para Omega ini."
Seokjin mengangguk, mematuhi.
Taehyung maju ke depan, "Setidaknya biarkan aku juga ikut membantu kalian. Aku bisa menggunakan senjata. Bukankah lebih baik untuk tiga orang yang berjaga-jaga di sekitar balai kota?"
Jungkook meletakkan tangannya ke dada Omega itu, "Tidak. Kau di sini bersama yang lain. Kau bisa membantu Jin-hyung untuk menjaga Baekhyun dan Jimin, juga mengawasi apabila ada orang mencurigakan masuk ke wilayah kita."
Omega itu menggeram kesal, tapi tidak mendebat.
Ketika para Beta dan Alpha kecuali Seokjin meninggalkan ruang tengah untuk mulai melakukan tugas masing-masing, tinggalah ia bersama ketiga Omega yang lain. Jimin menempel pada Baekhyun, wajahnya terlihat cemas. Beberapa saat ini, Omega itu terus berusaha menjaga jarak dari Yoongi. Tapi begitu Alpha itu pergi keluar dari bangunan rumah walikota, wajahnya langsung berubah khawatir—matanya tidak pernah lepas dari Alpha itu sampai ia menghilang di balik pintu.
"Apa mereka akan baik-baik saja?"
"Mereka akan baik-baik saja, semuanya sudah aman dan terkendali untuk sementara," kata Seokjin menenangkan Jimin.
Taehyung jatuh terduduk di atas sofa dan menendang meja dengan kesal, "Kenapa mereka tidak membiarkanku ikut? Aku masih bisa melawan dan melindungi diriku sendiri! Apa mereka lupa bahwa aku dulu seorang Alpha dan tentara yang terbaik selama masa pelatihan?!"
Seokjin menatap Taehyung dengan wajah berkenyit, "Taehyung, kau sekarang bukanlah seorang Alpha. Kau seorang Omega. Kau tidak akan bisa sepenuhnya melindungi diri jika salah satu dari mereka adalah Alpha yang lebih kuat darimu."
Omega bertubuh tinggi itu menyisir rambut pirangnya keabu-abuannya dan mengerang frustasi.
Baekhyun mendekatinya dan kemudian memegangi dahinya. Wajahnya berubah khawatir, "V-hyung, apa kau demam? Wajahmu terlihat sedikit merah—" ia merasakan temperatur tubuh Taehyung, "Tubuhmu seperti mulai panas."
Taehyung langsung menegakkan tubuhnya dan mulai mengutuk, "Huh?" ia memegangi dahinya.
Seokjin memandangi Baekhyun, menyadari apa yang terjadi.
Jimin mendekat dan memegangi lengan Omega yang lebih tua itu, "Heatmu akan tiba tidak lama lagi, Hyung."
31 Januari 2045, Hanbando Bimujang jidae
09.56 p.m
Sehari yang lalu, seorang penjaga berpakaian putih-putih mengambil mayat Hyun-woo dari selnya. Dua hari lalu ia tidak pernah mendengar suara dari sel Junmyeon—sampai akhirnya sehari yang lalu pula penjaga dengan pakaian yang sama menyeret suatu karung hitam sebesar tubuh manusia keluar dari sebelah selnya. Kyungsoo tidak perlu berpikir dua kali bahwa mereka membawa tubuh Junmyeon yang sudah tidak bernyawa.
Airmatanya sudah lama mengering sehari yang lalu. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis lagi. Hanya berdoa agar Junmyeon tenang saat ini, karena tidak perlu merasakan penderitaan yang sama dengannya.
Hanya dirinya dan Jongdae—ia berharap—masih hidup saat ini. Tetapi kondisinya terasa seperti mau mati. Tubuhnya panas, lebih panas daripada pertama kali ia menerima suntikan berisi cairan mencurigakan, dan seluruh anggota tubuhnya terasa lemah. Selangkangannya kembali basah semenjak beberapa jam lalu, dan ia merasakan penisnya bereaksi saat ia menghirup aroma maskulin—Alpha—Jongin tepatnya—lewat di depan selnya.
Alpha itu hanya sibuk menungguinya di luar setiap selang 6 jam. Memperhatikan.
Tidak lama tubuh Hyun-woo dibawa keluar, Kyungsoo mendapati Jongin berdiri di dalam selnya. Wajahnya dingin.
"Bagaimana rasanya, mengalami heat?"
Kyungsoo mengerang—tidak yakin bahwa apa yang didengarnya adalah hal yang benar. Ia hanya mendecih membuang ludah ke arah Jongin. "Kau akan menerima akibatnya—setelah semua yang kau lakukan—hngh, pada kami..."
Jongin menyeringai. Ia menggendong tubuh Kyungsoo—tidak peduli saat Kyungsoo berusaha menendang dan mencengkram tubuhnya. Dengan tenang, Jongin justru membalas dengan menampar keras wajah Beta itu, membuatnya kehilangan kesadaran untuk beberapa saat. Setengah sadar, ia mencium aroma pinus dari tubuh Jongin, merasakan tubuhnya bereaksi. Ia mendesah panjang—setengah sadar—sampai akhirnya Jongin menjatuhkan tubuhnya ke atas sebuah tempat tidur berseprai kain warna putih.
Alpha itu melonggarkan ikat pinggang dan jaketnya, sementara bootsnya masih dikenakan di kedua kaki. Matanya menatap kosong pada Kyungsoo. "Hyung-sik-daejangnim bilang, jika kau berhasil hidup dalam waktu 3x48 jam, maka aku boleh memilikimu. Dan sudah 4 hari semenjak tubuhmu berubah menjadi Omega."
Omega. Kyungsoo tidak mempercayai kata-kata itu.
Tapi pikirannya mulai dipenuhi dengan hal lain.
Ia ingin tubuhnya dihantam dengan keras oleh Alpha itu, merasakan penisnya di antara selangkangannya.
Kendalikan dirimu, Kyungsoo babo! Kau bukanlah seorang Omega, kau masih seorang Beta!
Tetapi ketika ia berusaha melawan, Jongin menekan wajahnya ke atas tempat tidur dengan kakinya, sementara kedua tangannya ditahan dengan sebelah tangan. Kyungsoo menggeliat—berusaha melepaskan diri ketika ia merasakan celananya mulai dilepas dengan paksa. Udara dingin langsung menyapu kulitnya yang telanjang.
Sesuatu yang lain—penis—menginstrusi bagian dalam selangkangannya yang basah. Kyungsoo mengerang saat Jongin mulai menghantam tubunnya secara periodik. Alpha itu melenguh seperti orang mabuk. Tangannya yang tadi telah melepaskan celana Kyungsoo, kini berpindah untuk menarik lehernya, sementara tangannya yang lain masih menahan kedua tangan Kyungsoo di belakang punggung.
"Menyedihkan. Dari seorang Beta, kini kau sudah menjadi Omega."
Kyungsoo mengerang. Sementara Jongin masih menungganginya dari belakang.
"Temanmu—siapa namanya? Suho? Junmyeon? Dia mati dalam 2 hari setelah kami menyuntikkannya dengan cairan pemodifikasi hormon dan gen," kata Jongin berbisik di telinga Kyungsoo, "Dia bukan orang-orang terpilih sepertimu. Dia tidak beruntung tidak bisa menjadi Omega sepertimu." Entah bagaimana, Alpha itu sudah mengetahui namanya. Apakah ia tahu Jongdae?
Kyungsoo mengerang ketika Jongin menyodokkan penisnya ke dalam lubang kemaluannya secara berulang-ulang.
"Kau orang terpilih Kyungsoo. Setelah ini kau akan melahirkan anak-anak kami. Walau aku yakin bahwa kau tidak akan pernah bisa seperti V."
Suara erangan rendah disertai lenguhan menggema di seisi ruangan.
1 Februari 2045,Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
06.27 p.m
Jungkook mengira dirinya yang paling pertama bangun saat ia melihat Taehyung berdiri di tengah ruangan bawah tanah yang akan mereka gunakan sebagai ruang latihan. Omega itu memegang sebuah samsak tinju, dan dengan sedikit susah payah berusaha mengkaitkannya ke atas langit-langit. Dengan mudahnya, Jungkook mengambil samsak tersebut dan memasangnya ke langit-langit.
Taehyung menatapnya dengan tatapan tidak suka, "Aku bisa melakukannya sendiri."
"Jangan keras kepala, Hyung."Jungkook menegur sikapnya.
Taehyung hanya diam. Ia membalut tangannya dengan kain dan mulai meninju samsak tersebut sekuat tenaga. Jungkook memperhatikan Omega itu sampai akhirnya Taehyung kewalahan.
"Kenapa kau hanya memperhatikanku? Kalau kau ingin latihan kau bisa melakukannya sekarang," gerutu Taehyung.
Jungkook tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya, "Kau tidak akan bisa meninju dan melindungi diri dengan postur tubuh seperti itu, Hyung."
"Aku tahu bagaimana caranya, Jungkook-ah."
"Namjoon-hyung memintaku untuk mengajarimu bela diri dan cara menggunakan senjata api," kata Jungkook akhirnya.
"Aku tidak butuh kau untuk mengajariku." Taehyung tidak menatap Jungkook saat mengatakannya, tetapi ekspresinya terlihat kesal.
"Kenapa kau tiba-tiba keras kepala begini?"
"Apa aku terlihat seperti Omega yang lemah bagimu?"
Omega itu akhirnya membalikkan tubuhnya untuk melihat ke arah Jungkook dengan pandangan tidak senang. Jungkook balas menatapnya dengan tatapan bingung.
"Aku tidak berpikir kau lemah. Kau hanya perlu latihan khusus jika kau ingin kembali mahir seperti dulu."
"Padahal dulu aku yang mengajarimu menggunakan senapan. Juga berkelahi dengan tangan kosong."
"Kalau begitu, sekarang tugaskulah yang mengajarimu melakukan semuanya."
"Tapi aku tetap tidak ingin kau menganggapku sebagai Omega yang lemah, Jungkook-ah. Aku masih bisa berkelahi dengan tangan kosong jika perlu."
"Tidak ada yang mau berkelahi denganmu, Hyung."
Taehyung menggerutu, "Baiklah! Apa yang mau kau ajarkan hari ini padaku, huh?"
"Bagaimana kalau kita mulai dari yang ringan? Latihan pertahanan dalam perkelahian jarak dekat." Ia memberi instruksi agar Taehyung mengikutinya ke matras yang mereka telah gelar dari kemarin. Omega itu menurut mengikutinya.
"Biar aku contohkan terlebih dahulu, " Alpha itu meminta Taehyung untuk menyerangnya sementara ia berdiri dengan sikap waspada.
Tepat aba-aba dimulai diucapkan, Taehyung langsung melemparkan tinju ke wajah Jungkook. Dengan mudah Jungkook menghindari pukulan tersebut dengan memiringkan kepalanya. Melihat hal itu, Taehyung membalas lagi dengan tendangan di kaki, dan Jungkook melompat ke belakang. Kembali Omega itu melancarkan pukulan ke wajah Jungkook disertai pukulan lainnya. Lagi-lagi, dengan mudahnya Jungkook menangkap kedua tangan Taehyung, lalu mengunci tangan Taehyung dengan satu satu kepalan tangan.
Ia menjatuhkan dirinya bersama tubuh Taehyung ke atas matras sambil memutar tubuh Omega tersebut. Mereka terjatuh di atas matras dengan posisi tubuh Jungkook berada di atas punggung Taehyung. Taehyung merintih kesakitan ketika Jungkook mempererat genggamannya di pergelangan tangannya.
"Ne! Ne! Kau menang! Otot-ototmu itu tidak terkalahkan!" teriak Taehyung sambil mengaduh kesakitan. "Sekarang bisakah kau turun dari atas tubuhku? Aku nyaris tidak bisa merasakan punggungku."
Jungkook tidak berusaha bangkit dari atas tubuh Taehyung, justru meletakkan hidungnya di antara tengkuk Omega itu. Menghirup aroma yang sebelumnya ia baui dari tubuh Taehyung. "Baumu hari ini—aku bisa merasakannya, Hyung."
Taehyung membalikkan tubuhnya dan mengunci tubuh Jungkook dengan kedua pahanya, berusaha melepaskan diri saat Alpha itu bergantian jatuh terhempas di atas matras.
"Jangan menghirupnya, babo!"
Mata Jungkook menangkap wajah Taehyung yang memerah. Tangannya bergerak untuk menyentuh wajah Omega itu, "Hyung—tubuhmu panas—"
Taehyung menepis tangannya, "Aku tahu. Dan aku tidak bisa mencegahnya."
Jungkook menyadari apa yang terjadi, "Kau... heat?"
Dengan cepat, Omega bertubuh tinggi itu berdiri dari tempatnya. Ia mengalihkan pandangannya ke trolley berisi senjata api, "Belum saatnya. Tapi sebentar lagi."
"O-oh."
Taehyung melemparinya sebuah senapan berisi peluru karet, "Mungkin jika aku tidak berkelahi dengan tangan kosong, kau bisa mengajariku hal yang lain."
Alpha itu berdiri dang berjalan menuju trolley yang berisi senjata api. Aroma susu dan pepohonan yang beberapa hari ia hirup semakin tajam. Jungkook mati-matian berusaha mengendalikan dirinya, berusaha agar ia tidak menghantam tubuh Taehyung dengan tubuhnya yang lebih besar—dan menghabisi Omega itu dengan penisnya.
Entah sejak kapan ia berpikir untuk melakukan seks dengan Taehyung.
Ia membayangkan tubuh Taehyung di bawahnya, memaksanya untuk terus menyodokkan penisnya ke lubang kemaluan Omega itu. Memohon.
"Wah, kukira aku yang datang lebih dulu ke sini. Tapi rupanya ada kalian," suara Yugyeom memecah pikiran Jungkook.
Beta itu berdiri di ambang pintu sambil membawa tempat penyimpanan pisau, senyuman merekah di wajahnya yang terlihat masih lugu. Ia melihat ke arah Taehyung dan Jungkook secara bergantian, bersikap seperti biasanya.
Jungkook bersyukur dengan kemunculan temannya sejak masa pelatihan. Karena jika tidak, tangannya saat ini mungkin sudah berada di anggota tubuh Taehyung, dan mungkin ia sudah memaksa Omega itu untuk menyerahkan diri.
1 Februari 2045,Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
11.33 p.m
Taehyung terbangun dengan rasa panas menjalar di tubuhnya. Rasa panas yang sudah berbulan-bulan tidak ia rasakan semenjak ia melahirkan anak terakhirnya—yang sudah mati. Tangannya langsung bergerak memegangi perutnya, merasakan bagian tubuh bagian bawahnya bereaksi. Siang tadi ia meminta bantuan Seokjin untuk membawanya ke tempat yang aman dari jangkauan Alpha—ke sebuah rumah yang terletak di belakang tempat persembunyian mereka.
Karena ia mengalami heat. Dan harus bertahan selama seminggu lamanya di rumah ini sampai heatnya selesai.
Tetapi kini Taehyung sedikit menyesali keputusannya, karena Baekhyun maupun Jimin berada di markas persembunyian, sementara hanya dirinya dan Seokjin yang berada di rumah tersebut. Rumah itu hanya memiliki dua kamar, dan tidak memiliki perlindungan sebaik markas utama mereka untuk saat ini. Ia merasa sangat sendirian.
Pikiran Taehyung langsung berterbangan ke sosok yang dilihatnya kemarin. Ia bergidik ngeri, mengingat bahwa mungkin saja orang yang dilihatnya itu juga memakan manusia.
Tangannya bergerak ke tengkuknya yang terdapat dua bekas gigitan, tanda yang ia terima dari kedua Alphanya dulu. Hyung-sik.
Dan Seojoon.
Selangkangan Taehyung mulai basah saat ia membayangkan Seojoon. Bagaimana Alpha itu memperlakukan dirinya dengan lembut dan penuh kehangatan, sementara Hyung-sik hanya menganggapnya sebagai budak seks dan mesin pembuat anak.
Seojoon yang selalu lembut. Alpha pertama yang membimbingnya pelan-pelan untuk menjadi seorang Omega. Yang juga membenci Korea Utara seperti dirinya. Yang selalu membisikkan kata-kata manis pada Taehyung. Yang selalu menahan amarah Hyung-sik setiap kali Alpha itu ketahuan melampiaskan setiap amarahnya pada Omega itu. Seojoon yang tidak pernah dilihatnya lagi semenjak ia mengandung anak darinya—dan hanya mengucap kalimat bahwa ia akan membawa Taehyung bersamanya keluar dari penderitaan yang tak terhingga.
Berjanji bahwa ia akan membawa Jihoon padanya.
Berjanji bahwa jika mereka berhasil kabur dan membawa Jihoon, ia akan menjadi ayah dan Alpha yang baik bagi Taehyung dan Jihoon.
Betapa Taehyung mengharap bahwa Seojoon adalah ayah kandung dari Jihoon.
Karena anak yang dikandungnya—hasil hubungannya dengan Seojoon sudah dua kali tidak pernah bertahan hidup.
"Aku akan kembali untukmu, V."
Taehyung mengerang kesakitan memegangi perutnya. Peluh mulai bercucuran dari seluruh tubuhnya. Berusaha menahan rasa sakit, Omega itu menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia berusaha membayangkan wajah Seojoon, wajah Alpha yang dicintainya. Membayangkan bagaimana Alpha itu memperlakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tidak pernah menyakitinya ketika mereka berhubungan seks.
Airmata mengalir di pipi Taehyung.
"Seo-joon..."
Omega itu tidak sadar ketika seorang manusia memecahkan jendela dan berusaha masuk. Ia sibuk menahan rasa sakitnya, dan baru menyadari saat sebuah wajah menatapnya. Taehyung berteriak kaget, berusaha mengambil pistol yang terletak di bawah bantalnya. Tetapi tangan yang lebih kuat menahannya untuk mengambil pistol. Seorang yang lain muncul, bertubuh setengah telanjang dan menguarkan aroma sama tengiknya dengan sosok di hadapannya saat ini.
Orang itu—Alpha—meski aromanya bercampur dengan bau darah dan bau bangkai, berusaha mengangkat Taehyung ke bahunya. Taehyung berusaha melawan, tapi tenaganya sudah habis dengan rasa sakit yang dideritanya. Ia hanya mengaduh selama mereka membawanya, kedua tangannya menggantung ke bawah. Bau Alpha menguar di hidungnya.
Taehyung hilang kesadaran.
Seokjin tersentak bangun dari tidurnya, mendengar suara teriakan Taehyung. Meski setengah sadar, buru-buru Beta itu turun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar Taehyung. Ia mendorong paksa pintu dan mendapati ruangan itu kosong.
Ia mengitari kamar, berusaha mencari tombol lampu. Ia berhasil menyalakan penerangan, tetapi gagal menemukan sosok yang seharusnya berada di dalam kamar tersebut. "Taehyung?! Taehyung, kau di mana?" matanya baru menangkap jendela yang kaca dan jeruji jendela hancur berantakan di sekitar.
Penyusup.
Ia langsung menghubungi Namjoon dengan HT, berusaha menenangkan diri agar tidak panik.
2 Februari 2045,Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
00.12 p.m
Jungkook tidak dapat menahan emosinya begitu ia tahu Seokjin telah kehilangan Taehyung dalam pengawasannya.
"Apa maksudmu kau kehilangan Taetae-hyung, Jin-hyung?! Kenapa kau tidak berjaga sekalian saja di kamarnya?" serunya marah. Yoongi menahan tubuh Alpha itu agar ia tidak menerjang Seokjin karena rasa marahnya.
Seokjin membalasnya tak kalah sengit, "Kenapa kau jadi menyalahkanku? Mana mungkin aku tidur di dalam kamar seorang Omega yang sedang heat? Kau tahu 'kan, ada kemungkinan 5 persen untuk seorang Beta untuk berkopulasi dengan Omega saat heat!"
"Daripada kalian sibuk berdebat, kenapa kita tidak segera bertindak untuk menyelamatkannya?" tanya Daehyun sambil berusaha melerai kedua orang tersebut. Ia mengerti meski Jungkook seorang wakil dari Namjoon, tetap saja ia lebih muda dari mereka dan emosinya masih belum terlalu stabil.
"Aku harus ikut mencarinya," kata Jungkook memandang Namjoon. "Bagaimanapun juga kau harus menunjukku sebagai orang pertama yang mencarinya!"
Namjoon memijat-mijat kepalanya yang mulai diserang migrain, "Aku akan menunjukmu jika kau bisa mengendalikan emosimu, Jungkook-ah. Saat ini kau tersulut kemarahan, jadinya kau tidak bisa berpikir tenang."
Jungkook menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tetapi ekspresinya masih terlihat kesal.
Namjoon menunjuk ke beberapa kawannya, "Hoseok, Daehyun, Chanyeol. Kalian bertiga pergi. Dan kau Jungkook-ah," Alpha itu mendongakkan kepalanya pada Alpha dongsaeng yang menjadi wakilnya, "Kau bertugas untuk memberi instruksi pada mereka. Aku tidak ingin ada yang tewas malam ini. Kendalikan emosimu dengan tepat."
"Aku mengerti," kata Jungkook—ia mengambil masker dan perlengkapan senjata diikuti dengan yang lain. Kelima orang tersebut mengenakan setelan jaket kamuflase mereka dan rompi anti peluru.
Jungkook berdoa dalam hati, Semoga kau baik-baik saja, Hyung.
Dan mereka pergi di tengah kesunyian malam, menembus semak-semak yang telah lama tidak terpangkas dan deburan polusi yang masih menguar di saat malam.
Saat Jungkook, Chanyeol, Daehyun dan Hoseok pergi untuk mencari Taehyung, tinggalah Namjoon, Won-sik, Seokjin, Jimin, Baekhyun, Yugyeom dan Yoongi. Mereka semua, kecuali Yoongi, berkumpul di ruang tengah. HT terpasang di atas meja, sementara Namjoon memilin kedua tangannya dengan sikap menunggu.
"Ini semua bukan salahmu, Hyung," kata Namjoon pada Seokjin—yang dari tadi berjalan berputar-putar dari satu tempat ke tempat lain.
"Memang bukan salahku," kata Seokjin. Ia menggigiti jar-jarinya, "Tapi sejujurnya aku khawatir Taehyung akan baik-baik saja. Ia sedang heat, Joonie."
"Selama tidak ada Alpha di antara mereka, keadaan akan lebih baik," Baekhyun menanggapi. Semoga.
"Jungkook adalah orang yang hebat, Hyung. Dia pasti bisa membawa Taehyung dengan selamat," Yugyeom menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. "Sekarang duduklah, aku mulai pusing melihatmu dari tadi hanya berputar-putar tidak jelas."
Seokjin mengikuti ucapan Beta yang lebih muda itu.
Sementara itu Jimin berdiri dari sofa duduknya dan berjalan keluar ruang tengah.
Baekhyun menahannya, "Kau mau ke mana? Keadaan masih belum aman untuk saat ini, jika kau mau pergi sendirian."
"Aku hanya ingin ke ruang bawah tanah, Hyung. Hanya—ingin melihat apa yang Yoongi-Hyung lakukan di bawah sana," ujar Jimin sambil tersenyum.
Seokjin mengernyitkan dahinya sambil memperhatikan Jimin berjalan menuju ruang bawah tanah.
"Kukira ia dan Yoongi nyaris tidak pernah berbicara sama sekali semenjak mereka menghabiskan heat bersama? Sehabis Yoongi mengklaimnya, sepertinya ia takut untuk mendekati orang itu," kata Seokjin.
"Mungkin ia hanya ingin memperbaiki hubungan mereka?" Namjoon menanggapi, "Bukankah akan semakin baik jika Jimin lebih sering berada di dekat Yoongi? Setidaknya ada satu Alpha yang terikat dengannya dan bisa melindungi Jimin."
Baekhyun hendak mengatakan bahwa tidak semua Alpha akan protektif terhadap Omega mereka, tetapi kemudian mengurungkannya. Di hatinya, muncul kecurigaan lain akan sikap Jimin hari ini.
Mungkinkah?
Suasana kembali hening.
Jimin memperhatikan Yoongi yang sedang sibuk mendengarkan suara-suara di radio—tidak memperhatikan kedatangannya. Alpha itu duduk di atas kursi putar dengan kedua kaki terangkat ke atas meja. Tangannya iseng memutar tombol radio dan tangan satunya lagi memegangi kepalanya, seperti sedang berpikir.
"Hyung."
Yoongi nyaris terjatuh dari kursinya.
"Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?"
"Hanya karena ingin saja." Jawab Jimin sambil mengangkat bahunya. Ia mengambil kursi dan duduk di sebelah Yoongi. "Apa yang kau lakukan?"
"Sedang bernapas," sahut Alpha itu. Jimin mengangkat alisnya, tidak menyangka akan ada jawaban seperti itu dari mulut Yoongi. "Kenapa tiba-tiba kau mendatangiku? Bukankah kau menghindariku semenjak aku mengklaimmu?"
Wajah Jimin berubah merah, "Uh—aku—aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku ingin bersamamu. Kupikir sebelum-sebelumnya, kau akan jahat padaku. Tapi kau tidak seperti itu."
Yoongi memutar kursi menghadap Jimin, "Karena aku bukan mereka, Jimin-ah. Aku tidak akan pernah punya maksud untuk menyakitimu."
"Baguslah kalau begitu," kata Jimin, "Aku tidak pernah diklaim oleh Alpha sebelumnya. Aku hanya dijadikan mainan oleh mereka, dan juga oleh Beta lainnya. Biasanya mereka juga selalu menyiksaku." Omega itu menunjukkan tangannya yang terdapat beberapa bekas luka yang telah kering—termasuk luka yang baru di dapatnya beberapa hari lalu.
"Mereka bukan manusia. Mereka hewan."
"Ne."
"Tapi begitu aku mengklaim dirimu," aku Yoongi memulai, "Aku merasa bahwa aku harus selalu berada di sebelahmu. Setidaknya melindungimu dari Alpha dan Beta lainnya. Aroma tubuhmu juga, seperti oksigen tambahan yang harus aku hirup setiap hari."
Jimin memegang tangan Yoongi yang dari tadi memutar tombol radio, "Apakah kau mau berjanji tidak akan pernah menyakitiku?"
Alpha itu agak tersentak—tidak menduga pertanyaan itu keluar dari Jimin. "Tentu saja. Justru aku ingin melindungimu."
Omega di hadapannya mengangguk senang.
Keduanya memulai percakapan, sedikit canggung, tapi setidaknya mereka mencoba untuk membuka diri pada satu sama lain.
2 Februari 2045, Unnamed Small Town, Daeseong-dong
01.04 p.m
"Ke sini."
Jungkook mengarahkan teman-temannya ke tempat kemarin siang ia menemukan sosok manusia tersebut. Dilihatnya tempat itu masih sama seperti siang ia menemukan tempat itu. Masih ada gundukan tanah berisi tulang belulang dan bangkai manusia yang telah dilumuti oleh bernga. Hal yang membedakan adalah bawah tubuh tadi sudah tidak ada di sana.
Ada yang memindahkan tubuhnya.
"Aku tidak menyangka masih ada banyak rumah-rumah di sekitar sini," kata Hoseok setengah berbisik. Suaranya nyaris tidak kedengaran karena tertutup oleh masker, "Apa mungkin mereka bersembunyi di salah satu rumah di sini?"
"Bisa jadi. Untuk itu kita perlu berhati-hati," kata Chanyeol sambil mengikuti Jungkook di belakang.
Terdengar suara teriakan rendah kesakitan di belakang mereka. Jungkook langsung mengarahkan pistolnya. Dilihatnya Hoseok jatuh terduduk di antara semak-semak. Kakinya masuk ke dalam perangkap hewan—beartrap. Ketiga temannya yang lain langsung mengitari Beta itu dengan wajah cemas.
"Sialan, ternyata ada beberapa jebakan beruang di sekitar sini," kata Daehyun pada yang lain—senternya mengarah ke beberapa jebakan yang dipasang dengan rapi dan disembunyikan di antara semak-semak.
Chanyeol berusaha melepaskan jebakan dari kaki Hoseok, "Astaga, jebakan ini cukup dalam masuk ke dagingmu. Mianhae jika ini terasa sakit, Hyung," Alpha itu membuka perangkap dengan cekatan meski mereka hanya memiliki sumber penerangan dari senter, menghasilkan rintihan kesakitan dari Hoseok.
"Shi-bal! Aku tidak mungkin berjalan seperti ini!"
Daehyun mengeluarkan perlengkapan medik dan mencuci luka Hoseok dengan botol berisi air—menghilangkan darahnya hingga bersih. Kemudian ia membalur luka Hoseok dengan alkohol dan obat luka, sebelum akhirnya membalutnya dengan kain putih. "Kau bisa bersandar padaku. Aku akan membantumu berjalan."
Tiba-tiba mereka mendengar suara bunyi benda jatuh, dan langsung saja dengan cekatan Jungkook dan Chanyeol mengarahkan pistol dan senapan mereka ke sumber suara tersebut. Pelan-pelan, Jungkook memimpin teman-temannya mendekati asal suara tersebut.
Mata Alpha itu membelalak lebar saat melihat seonggok tubuh yang sudah tidak sempurna, hanya tersisa kepala yang sudah membusuk dan badan yang terdiri dari leher hingga ke atas perut. Kedua tangan dan kakinya sudah tidak ada. Hoseok memekik pelan, menahan rasa mual.
Daehyun berusaha menyeimbangkan tubuh Hoseok, "Jangan muntah sekarang, Hyung!"
"A-aku tahu—tapi—ukh!"
Jungkook menengadahkan kepalanya, memperhatikan asal dari tubuh ini dijatuhkan. Matanya menangkap sebuah jendela terbuka. Ia memberi kode pada yang lain agar mencari pintu masuk lainnya. Setelah beberapa menit mengitari daerah tersebut, mereka menemukan sebuah lubang saluran air dari dalam rumah tersebut. Jungkook melompat masuk ke lubang tersebut, diikuti dengan Chanyeol. Hoseok yang saat itu terluka, terpaksa harus berjaga di luar bersama Daehyun.
"Langsung hubungi kami jika terjadi sesuatu," kata Jungkook.
Daehyun dan Hoseok mengangguk.
Begitu memasuki saluran air, hidung Chanyeol dan Jungkook langsung mencium bau tengik darah dan bangkai. Bahkan makser yang mereka kenakan tidak dapat menahan semua bau tersebut. Mereka berjalan memasuki sebuah lorong yang hanya diterangi dengan lampu gantung—berkedip-kedip setiap kali mereka melangkahkan kaki. Chanyeol tersandung sepotong tulang kering manusia, dan menggigit bibirnya karena panik. Di sekitar lorong yang mereka masuki banyak tumpukan tulang belulang, sebagian adalah anggota tubuh manusia yang belum seutuhnya membusuk.
Mereka sampai di sebuah ruangan—dapur—bercat krem dan penuh dengan muncratan darah dan cairan aneh lainnya. Saat Jungkook memasukkan kepalanya—siap-siap menginterogasi isinya—ia melihat seorang manusia, bertubuh bungkuk dan berkulit setengah mengelupas (apa mungkin karena pengaruh hujan asam?), sedang sibuk memotong-motong sesuatu di atas papan talenan. Ia tidak perlu mengetahui lebih jauh karena orang itu—Beta—memang sedang memotong anggota tubuh manusia, lebih tepatnya bagian dari paha hingga kaki bagian bawah.
Saat Beta tersebut sibuk melakukan pekerjaannya, Jungkook langsung mengeluarkan pisaunya dan langsung membabat leher Beta itu. Tanpa suara, tubuhnya terhempas ke atas meja dapur dengan darah mengalir dari lehernya.
"Jungkook-ah! Kau tidak mungkin membunuh semua orang ini jika ingin tahu di mana Taehyung berada!"
Jungkook tampak tidak peduli dengan ucapan Chanyeol. Ia membersihkan pisaunya yang berlumuran darah ke baju Beta yang sudah mati itu. "Aku harus membunuhnya terlebih dahulu, jika kau tidak ingin salah satu dari kita ada yang dimakan mereka."
Alpha yang bertubuh lebih tinggi itu tidak menanggapi lebih lanjut.
Keduanya kembali mengitari dapur, berusaha menemukan ruangan aneh lainnya. Yang mereka lihat hanyalah tumpukan tubuh manusia. Bernga—belantung dan lalat memenuhi ruangan. Manusia-manusia ini berpakaian seperti warga pada biasanya, dan pikiran mengerikan menyelimuti kepala Jungkook.
"Kurasa mereka semua warga dari kota ini. Warga yang tidak berhasil menyelamatkan diri saat Korea Utara menjatuhkan ancaman bom nuklir," kata Jungkook.
"Kurasa juga begitu. Tapi apa mungkin—" Chanyeol menelan ludahnya, "Kalau orang-orang yang membunuh dan memakan mereka ini—adalah tentara Korea Utara?"
Jungkook menggeleng, "Seragam mereka terlalu sulit untuk dikenali."
Mata Chanyeol pada akhirnya menangkap sebuah pintu yang ditutupi dengan lemari berisi barang pecah belah. Ia langsung menyikut wakil kaptennya itu. "Jungkook-ah," panggilnya agar Alpha yang lebih muda itu ikut menengok.
Jungkook mengangguk dan berjalan mendekati pintu itu. Dengan hati-hati ia memutar kenop pintunya, tetapi dikunci. Chanyeol mengambil sepasang kawat dan mulai mengutak-atik lubang kunci tersebut. Kenop pintu berbunyi 'klik', dan tanpa suara Chanyeol berhasil membuka pintu.
Pintu tersebut menuju ruang bawah tanah.
Pikiran Jungkook langsung tertuju pada ruang bawah tanah di mana ia menemukan Taehyung dan yang lainnya. Ia menelan ludah, memberi instruksi pada Chanyeol untuk mengikutinya. Mereka berusaha sepelan mungkin menuruni tangga dengan pistol terhunus di depan tubuh mereka.
Mereka menuruni anak tangga dan sampai di sebuah ruangan. Ruang sel berjejer di kanan dan kiri mereka. Satu dua orang Beta, berpakaian yang menunjukkan bahwa mereka penduduk biasa, terkapar lemah di sel masing-masing. Tubuh mereka tidak lebih dari kulit yang hanya dibalut tulang. Kulit mereka pun sama-sama melepuhnya dengan Beta yang tadi ia bunuh. Dua orang Beta itu tidak bergerak sama sekali, mata mereka memandang kosong ke depan.
"Ada suara langkah kaki," bisik Chanyeol pada Jungkook.
Keduanya langsung berlari kecil ke sel tahanan yang memiliki sudut ruangan paling gelap. Mereka diam di sana, mengamati.
Seorang Beta lagi, setengah telanjang dan berpakaian seragam tentara turun. Kulitnya melepuh dan matanya merah. Suara napasnya seperti mesin, menderu-deru. Beta itu memperhatikan sekitarnya, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Akhirnya ia menarik salah seorang tahanan dari selnya—yang bahkan tidak berusaha meloloskan diri.
Beta itu menarik pisau panjang yang ujungnya sudah karatan sebagian, dan menggorok leher tahanan yang sudah terkulai lemas itu. Darah muncrat ke wajahnya.
Jungkook menahan napasnya. Ia hendak menghampiri Beta tersebut, pistol siap di tangannya, sedangkan pisaunya ada di kantung celana. Tetapi Chanyeol yang menyadari niatannya, langsung menarik Alpha itu kembali ke tempatnya. Jungkook menatapnya dengan tatapan heran bercampur kesal, tetapi Chanyeol menyuruhnya diam dan memperhatikan.
Beta itu akhirnya pergi menaiki tangga.
Begitu ia menghilang di kegelapan, Jungkook dan Chanyeol langsung keluar dari sel, "Sepertinya tidak ada Taehyung di sini," kata Chanyeol. "Dan berapa banyak dari mereka yang berkeliaran di sini? Kenapa mereka memakan manusia? Padahal di sini banyak toko kelontong yang masih menyimpan persediaan makanan layak konsumsi."
"Aku juga tidak tahu," kata Jungkook. "Padahal bisa saja kita membunuh Beta tadi atau mengancamnya untuk membawa kita ke tempat Taehyung."
HT mereka berbunyi.
Suara panik Daehyun bergema, "Mayday. DH. Hobi dibawa salah satu dari mereka. Out."
Jungkook mengumpat marah, "Kita harus membunuh mereka semua! Lalu menyelamatkan Taetae-Hyung dan Hobi-Hyung!"
"Kendalikan dirimu."
Jungkook meninju tembok sel dengan marah.
"Sekarang, kita kembali dulu ke tempat Daehyun. Ia pasti menunggu kita di sana."
Jungkook menarik napasnya. Ia adalah wakil kapten, tetapi entah kenapa pikirannya akhir-akhir ini berubah kalut begitu ia memikirkan Taehyung dan juga teman-temannya. Untung saja Chanyeol langsung memposisikan dirinya secara profesional ketika Jungkook tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia mengikuti Chanyeol keluar dari rumah tersebut.
Tetapi sebelum mereka keluar, Jungkook menghampiri sel yang masih berisi seorang Beta yang dari tadi hanya duduk terdiam—pandangannya kosong ke depan. Ia meraih pistolnya dan menarik pelatuk. Tubuh Beta itu langsung jatuh ke atas tanah disertai muncratan darah.
"Setidaknya ia langsung mati tanpa rasa sakit yang menyiksa," kata Jungkook saat Chanyeol hendak memprotes perbuatannya.
Begitu mereka keluar dari bangunan mengerikan itu, mereka mendapati Daehyun terduduk di antara semak-semak. Wajahnya diliputi rasa ketakutan dan sedikit rasa sakit, "Mereka membawa Hobi-Hyung. A-aku tidak bisa mengikuti mereka, mereka terlalu banyak. Aku tidak bisa melawan—aku melarikan diri—"
Chanyeol menepuk bahu Daehyun, "Kami mengerti. Sekarang kita akan melacak mereka, oke?"
Daehyun mengangguk lemah.
Ketiganya pergi bersama-sama, mengitari daerah tersebut. Hujan asam mulai berjatuhan dari langit-langit, membasahi tanah dan pelan-pelan mereka menghentikan pencarian.
Jungkook samar-samar mencium aroma metalik—bau karat—dan bau harum manis.
Matanya langsung menangkap sebuah sosok yang sedang berjalan di dekat mereka. Ia menepuk bahu Chanyeol, mengatakan apa yang ia lihat. Dan mereka membuat rencana.
2 Februari 2045, Unnamed Small Town, Daeseong-dong
03.14 p.m
Taehyung membuka matanya, mendapati dirinya berada di atas matras di sebuah ruangan persegi panjang. Ruangan itu berbau amis darah, dan matanya menangkap tubuh manusia digeletakkan begitu saja di atas lantai. Tubuh itu sudah membusuk sebagian, dan kehilangan anggota tubuh dari dada hingga bagian bawah kaki.
Merasakan tubuhnya masih terasa panas sekaligus lemah, Taehyung memejamkan matanya. Berusaha mencerna apa yang terjadi. Ia mengingat bahwa ada dua orang misterius dengan kulit mengelupas dan berseragam tentara menangkapnya, lalu semuanya gelap. Omega itu merintih ketika bagian bawah perutnya kembali berkedut-kedut perih. Ia berusaha memegangi perutnya ketika menyadari bahwa tangannya terikat rapi di kepala tempat tidur.
Ia sedang heat saat ada orang asing mengerikan tiba-tiba menculiknya. Dan sekarang ia kehabisan tenaga karena heat yang dialami tubuhnya. Taehyung merutuki dirinya, berharap ia masih seorang Alpha dan tidak perlu menjadi Omega yang lemah karena sedang mengalami heat.
Tiba-tiba matanya menangkap sekumpulan foto ditempel di tembok secara berantakan. Foto-foto itu ditempel bersamaan dengan kertas-kertas koran yang memberitakan bahwa kota di area Daeseong-dong menerima ancaman bom nuklir dari Korea Utara 3 tahun lalu. Sebuah jurnal yang dibiarkan tergeletak di dekat matras menyita perhatiannya. Dengan susah payah Taehyung berusaha meraih benda tersebut dengan kakinya.
Suara pintu didorong dengan paksa mengagetkannya. Buru-buru Taehyung memasukannya ke dalam saku celananya dengan susah payah, menggunakan tangannya yang masih terikat rapi di kepala ranjang.
Beta yang tadi menangkapnya kini membawa satu orang lain lagi, dan melempar orang itu ke sebelahnya. Taehyung membelalakkan mata dengan panik. Hoseok kini jatuh terkapar di sebelahnya.
Beta itu mengikat kedua tangan Hoseok ke kepala tempat tidur—sama seperti yang ia lakukan pada Taehyung.
Kemudian ia pergi keluar dari kamar, meninggalkan keduanya.
Omega yang sedang kesakitan itu berusaha mengumpulkan kesadarannya, kakinya menyentuh tubuh Hoseok. Hoseok perlahan membuka matanya.
"—uhh, Taehyung?" tanyanya setengah sadar. Ia melihat Omega berambut pirang keabu-abuan itu tengah terengah-engah seperti berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, wajahnya merah dan dipenuhi peluh. Kemudian Hoseok baru menyadari bahwa Taehyung sedang heat. "Kau—sedang heat."
"Ne." Taehyung menarik napas dalam-dalam dan menggigit bibirnya. Pikiran lain muncul di kepalanya—bayangan Hoseok untuk berhubungan seks dengannya muncul akibat dorongan hormon di tubuhnya saat ini. Taehyung berusaha mengontrol pikiran-pikiran itu. "Kenapa—kau berada di sini Hyung?"
"Aku, Jungkook, Chanyeol, dan Daehyun ingin menyelamatkanmu. Tapi—aku tertangkap mereka," kata Hoseok menjelaskan. "Kau kelihatan buruk sekali, Taehyung."
Taehyung berusaha tertawa, tetapi perutnya seperti berkata sebaliknya, "Kau juga, Hyung. Kakimu, ada apa dengan kakimu?"
"Para keparat ini memasang jebakan beruang," kata Hoseok sambil mengerang. "Sialnya aku salah satu korbannya."
"Apa mereka akan memakan kita?"
Hoseok menelan ludah, "Semoga Jungkook dan yang lain cepat tiba ke sini sebelum mereka melakukannya."
Pintu kembali terbuka, memunculkan dua orang Beta—Beta salah satunya adalah orang yang membawa Hoseok ke kamar—dan satu orang Alpha yang menggendong tubuh Taehyung ke tempat ini. Taehyung langsung bereaksi ketika ia mencium aroma Alpha yang belum pernah mengklaimnya. Pikirannya mulai berterbangan—keinginan untuk berhubungan seks kembali di pikirannya.
"Omega." Alpha berkulit seperti terkelupas dan terbakar itu memandangi Taehyung. Matanya yang merah membelalak, seringaian mengerikan muncul di wajahnya yang setengah hancur.
Taehyung tidak menolak atau berusaha melawan ketika Alpha itu mulai menyentuh tubuhnya. Justru muncul keinginan agar Alpha itu segera memasuki dirinya. Tangannya yang berkalus dan besar mulai merobek kaus putih Taehyung, menampilkan dadanya yang masih berukuran sekepalan kecil tangan—sisa-sisa kehamilannya yang sebelumnya—dan perutnya yang masih terdapat lemak tambahan. Hal yang berbeda dengan dirinya ketika masih Alpha adalah ukuran pinggulnya yang saat ini lebih besar.
Di mata Alpha manapun, pemandangan tubuh Taehyung justru terlihat menggiurkan. Alpha itu langsung mengisap puting Taehyung, dan Taehyung mengerang dengan rasa nikmat. Tangan dan mulut Alpha itu terasa kasar di kulitnya, tapi ia tidak dapat menahan hasratnya.
"Taehyung! Kendalikan dirimu—"
Salah satu Beta menonjok wajah Hoseok.
"Jebal."
Hoseok semakin memberontak dan berteriak ke arah Taehyung, dan Beta yang lain menendang wajahnya, menghasilkan luka memar di wajah Hoseok dan darah segar mengucur di bibirnya.
Taehyung melingkarkan tangannya ke leher Alpha itu, merasakan kakinya diangkat tinggi-tinggi, sementara celananya dilucuti dengan paksa. Naluri Omeganya sudah hampir siap diinstrusi saat suara tembakan bergema di telinganya—diikuti suara erangan kesakitan.
Seisi ruangan tersentak, dan langsung menoleh ke asal suara tersebut.
Alpha dengan wajah rusak sebagian itu menyuruh dua Beta bawahannya untuk menyelidiki asal suara—dengan bahasanya yang tidak bisa dikenali Hoseok maupun Taehyung yang mulai kehilangan pikirannya.
Kembali terdengar suara tembakan diikuti suara teriakan, memecah kesunyian malam.
Saat Alpha itu hendak berjalan keluar kamar, Jungkook tiba-tiba saja muncul di ambang pintu. Tangannya memegang pistol—mengacungkannya ke arah penculik Taehyung.
"Kami sudah membunuh temanmu. Sekarang saatnya untukmu mati," kata Jungkook, matanya membara oleh amarah.
Alpha yang namanya belum diketahui tersebut langsung memekik keras ke arah Jungkook, menyerbu tubuh Jungkook. Dengan cepat Jungkook menahan tubuh Alpha yang bertubuh lebih besar darinya itu, dan melempar tubuhnya keluar kamar. Masih belum menyerah, sang Alpha kembali menyerang Jungkook—kali ini dengan pisau panjang yang ia keluarkan dari celananya. Jungkook berusaha menembak, tapi Alpha itu telah menerjang tubuhnya. Keduanya berjatuhan di atas lantai. Pistol yang dipegang oleh Jungkook terlempar jauh dari tangannya.
"JUNGKOOK-AH!" seru Hoseok panik.
Kedua Alpha bergelut di atas lantai. Alpha yang bertubuh lebih besar menghajar wajah Jungkook, tetapi Jungkook langsung menendangnya dengan dengkul di bagian kemaluan, menimbulkan suara erangan kesakitan yang memekakkan telinga. Alpha besar itu kembali dengan parangnya dan berusaha menusuk Jungkook di bagian dada, tapi Jungkook menghalanginya dengan telapak tangannya. Darah mengucur dari telapak tangan, tapi Jungkook menarik paksa mata parang tersebut dan langsung memutar badan, menyikut Alpha yang bertubuh lebih besar di bagian wajah.
Alpha itu terlempar ke belakang, memberi waktu pada Jungkook untuk mengambil pistolnya. Alpha yang bertubuh lebih kecil itu mengacungkan pistolnya ke arah Alpha yang lebih besar.
Suara letupan senjata api kembali terngiang di udara. Dua kali.
Jungkook menembak Alpha itu di bagian dada dan kepala. Dan tubuh Alpha itu ambruk langsung ke lantai, isi kepalanya berceceran di sekitarnya.
Jungkook merasakan telinganya berdenging untuk beberapa saat. Setelah ia yakin keadaan telah membaik, ia langsung berlari masuk ke kamar dan menemukan Taehyung dan Hoseok terkapar di atas matras dengan kedua tangan terikat. Ia membuka ikatan tali mereka satu persatu, berusaha mengendalikan dirinya ketika melihat tubuh telanjang Taehyung. Menahan dirinya agar tidak menggerayangi tubuh yang terlihat nikmat di matanya.
"Jungkook-ah! Kau berhasil menemukan kami!"
"Ne, Chanyeol-hyung dan Daehyun-hyung ada di luar. Mereka mengawasi bagian luar bangunan ini. Tidak kusangka jumlah mereka cukup banyak," kata Jungkook. Ia menggendong tubuh Taehyung yang setengah tidak sadarkan diri di atas punggungnya sambil membantu Hoseok berdiri. Sekilas ia melihat dua bekas gigitan pada leher Omega itu—tetapi berusaha untuk kembali fokus pada Hoseok, "Kakimu bagaimana, Hyung?"
"Kurasa aku akan selamat malam ini," sahut Beta itu sambil tersenyum—yang justru terlihat seperti sedang meringis.
"Pegangan padaku," titah Jungkook sambil membenarkan posisi Taehyung di punggungnya. Hidungnya masih menangkap aroma tubuh Taehyung. Ia menelan ludah dengan susah.
Ketiganya keluar dari bangunan yang berupa rumah dengan dua tingkat. Di luar mereka mendapati Daehyun terduduk dan Chanyeol berdiri dengan mayat-mayat bergelimpangan di sekitar mereka. Chanyeol yang berdiri memasang wajah khawatir, tangannya tidak lepas dari bahu Daehyun.
"Kalian baik-baik saja? Apa keadaan aman?" tanya Jungkook memastikan.
Daehyun terjatuh dari posisi duduknya. Langsung saja Hoseok, Jungkook dan menghampiri teman mereka tersebut dengan rasa khawatir.
"Daehyun?! Kau tidak apa-apa?" Hoseok memegangi tubuh temannya tersebut. Ia merasakan sesuatu yang basah merembes keluar dari dada Beta itu. Ketika ia memperhatikan telapak tangannya, tangannya diselimuti oleh darah segar.
Jungkook terkesiap dan mengamati wajah Daehyun. Kulit wajahnya tampak pucat di balik masker yang dikenakannya. Alpha itu menyuruh Chanyeol untuk menghubungi Yoongi, meminta agar Won-sik menjemput mereka dengan truk penumpang.
"Sejak kapan kau terluka?" tanya Jungkook waswas.
"Sejak—" Daehyun meringis kesakitan, "Sejak mereka membawa Hoseok. Ada satu orang Beta datang tiba-tiba dan menyadari keberadaanku. Dia langsung menebasku dengan pisau, tapi aku berhasil menembaknya sampai mati."
Jungkook mengumpat. Ia tiba-tiba teringat ucapan Namjoon padanya beberapa saat lalu sebelum Namjoon mengizinkannya menyelamatkan Taehyung.
Aku tidak ingin ada yang tewas malam ini.
"Bertahanlah, Daehyun," ujar Hoseok. Ia membuka tas yang berisi peralatan medik—pertolongan pertama—dan membuka baju Daehyun yang sudah dilumuri darah. Bagian dadanya tergores panjang, nyaris menampilkan kulit dan daging di dalam dada. Beta itu menelan ludah dan melihat ke arah Jungkook. Chanyeol membantunya mencuci dada Daehyun dengan alkohol dan membalut perban di sekitar bagian dadanya setelah menghubungi Yoongi.
Sementara Jungkook yang masih menggendong tubuh Taehyung di punggungnya, membungkukkan tubuh sambil membisikkan kata-kata penyemangat pada Daehyun. Daehyun hanya mengangguk lemah setiap mendengar ucapannya.
Won-sik tiba dengan membawa truk bersama Seokjin. Beta yang bertugas sebagai medik tersebut langsung menyuruh yang lain memapah tubuh Daehyun ke dalam truk. Ia dengan tenang membuka ikatan perban yang kembali dilumuri darah, dan memperhatikan bagian luka di dada Daehyun. Wajahnya kembali berubah cemas.
"Lukanya kembali terbuka. Sepertinya juga lukanya terserang infeksi," kata Seokjin menginformasikan. "Aku membawa obat untuk infeksinya, tapi darahnya tidak berhenti mengucur."
"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak punya kantung persediaan darah!" seru Hoseok panik. "Kalau tidak salah golongan darah Daehyun A, 'kan? Apa perlu aku mendonorkan darah untuknya?"
Seokjin mendesah panjang dan menggeleng, "Kita butuh persediaan darah secepatnya. Karena aku tidak punya alat untuk mengambil darah, akan butuh waktu lama juga mempersiapkan kantung darah untuk Daehyun."
Jungkook mempererat pegangan tangannya pada Daehyun. Daehyun hanya balas meremas genggaman tangan Jungkook.
"Aku tidak peduli jika aku mati hari ini," kata Daehyun pelan. "Tapi aku takut meninggalkan kalian."
"Jangan bicara begitu, Hyung. Kau tidak akan mati hari ini." Ia bisa merasakan jantungnya berdegup tidak karuan. Tidak, tidak. "Ini semua salahku, kau jadi—"
"Semua manusia akan mati pada akhirnya." Daehyun menatap Jungkook. Pandangan seisi truk tertuju padanya. "Aku mungkin tidak akan selamat saat ini. Meski aku beruntung bisa mati ditemani oleh kalian."
"Kau akan selamat. Besok kau akan terbangun dengan tubuh lebih baik," kata Seokjin, "Lukamu sudah mulai menutup, Daehyun-ah."
Daehyun berusaha tertawa, tapi ia hanya terbatuk-batuk kecil, "Aku mulai mengantuk."
Jungkook mengusap kepala Daehyun, "Tidurlah, hyung."
Beta itu menutup matanya dan Jungkook mulai berkomat-kamit, berharap bahwa Daehyun hanya terluka dan akan bangun keesokannya dengan tubuh yang lebih baik lagi.
Sementara truk mereka meluncur di jalanan beraspal yang sudah hancur sebagian karena hujan asam.
Udara dingin malam itu nyaris tidak membaik sampai mereka sampai di tempat perlindungan awal mereka.
2 Februari 2045, Unnamed Small Town, Daeseong-dong
05.57 p.m
Chanyeol menjadi orang pertama yang menyadari bahwa Daehyun sudah tidak lagi bersama mereka. Alpha itu sedang memperhatikan wajah Daehyun yang terlalu tenang untuk orang sedang tidur. Panik ia menyuruh Seokjin untuk memeriksa napas dan denyut nadi dari tubuh Daehyun. Wajah Daehyun yang pucat kini telah mulai membiru.
Won-sik dan Chanyeol membawa tubuh Daehyun yang telah tidak bernyawa ke dalam tempat mereka berlindung. Namjoon menerima kematian Daehyun dengan ekspresi yang sulit tergambarkan. Ia menoleh ke arah Won-sik dan Yoongi, menyuruh mereka untuk membantunya menguburkan tubuh Daehyun sesegera mungkin di pekarangan.
Mereka tidak menangis pagi itu. Kecuali Jungkook yang diselimuti perasaan bersalah. Alpha itu membantu yang lain menguburkan Daehyun, dan ia hampir tidak berhenti bergeming di posisinya, meminta maaf pada Daehyun atas kecerobohannya, merasa ia telah menyia-nyiakan tanggung jawabnya sebagai wakil kapten dengan membiarkan salah seorang anggotanya mati. Namjoon tidak menyalahkannya, justru berusaha menghibur Alpha muda itu dengan sentuhan lembut di bahu.
"Ini bukan salahmu, Jungkook-ah."
"Tapi aku gagal menyelamatkannya. Aku membiarkan seorang teman kita lagi. Aku tidak menjalankan tugasku dengan baik."
"Dia mati bukan karena kesalahanmu," Namjoon mengulangi ucapannya. "Seperti halnya Yongguk. Daehyun mati dengan terhormat, dan ia telah menjalankan misi dengan baik."
Jungkook tidak menjawab dan hanya kembali termenung.
Sementara para Omega dan Seokjin menemani Taehyung yang masih berusaha melewatkan heatnya di tempat tidur. Seokjin yang telah mengobati luka Hoseok, menghampiri rumah kecil yang menjadi tempat Taehyung melewati heatnya untuk beberapa hari ke depan.
Ia dan para Omega duduk di dekat tempat tidur Taehyung, masing-masing tidak membuka suara. Sampai akhirnya Seokjin meneteskan airmata dan mulai menangis. Baekhyun berusaha menenangkannya.
"Hyung?"
"Daehyun mati," kata Beta itu dengan suara lirih, "Padahal belum seminggu Yongguk mati, dan sekarang Daehyun. Aku takut jika setelah ini, di antara kita ada yang akan mati lagi."
Baekhyun dan Jimin saling berpandangan. "Tidak akan ada yang mati, Hyung. Untuk saat ini, keadaan semuanya sudah aman 'kan?"
"Tapi peperangan masih berjalan."
"Aku tahu," Baekhyun menatap dengan sedih. Ia berpikir untuk menjadi medis agar dapat membantu Seokjin dalam mengobati rekan-rekan mereka yang terluka. Tapi di dalam peperangan pasti selalu ada luka yang tidak bisa sembuh hanya dengan diobati.
Taehyung merintih dan Seokjin berangsur ke tempat tidur Omega itu, membimbingnya untuk minum air putih.
Hari-hari masih terus berjalan. Tapi peperangan masih belum ada ujungnya.
Februari 2045,Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
Jungkook berhasil melewati heat Taehyung tanpa menyentuh sama sekali Omega itu. Setiap kali Taehyung menjalani heat di rumah yang terletak di belakang pekarangan markas utama mereka, ia juga mengurung dirinya di kamar tidur yang ia bagi bersama Yugyeom. Terkadang Alpha itu berusaha menghilangkan aroma tubuh Taehyung dengan berpatroli di sekitar balai kota, sendirian.
Setelah heat Taehyung pertama berakhir, ia dan yang lain menemukan jurnal yang berhasil diambil oleh Omega itu dan membaca isinya.
Isi dari jurnal itu—yang ditulis oleh seorang tentara Korea Selatan bernama Kangin, seperti yang ia duga, menyatakan bahwa kota yang ia tempati setelah ia ditugaskan untuk mengevakuasi warga kota tersebut—tiba-tiba saja mengalami karantina oleh pemerintah Korea Selatan. Warga yang tidak sempat melarikan diri—dan 16 orang tentara Korea Selatan, terpaksa tinggal di dalam kota itu untuk menunggu hasil keputusan dari proses karantina tersebut.
Pemerintah Korea Selatan menyatakan bahwa kota tersebut tidak jadi terkena bom nuklir, tetapi justru mengalami efek dari senjata biologis yang berhasil diluncurkan Korea Utara—yakni wabah penyakit kulit. Pemerintah Korea Selatan mengatakan bahwa orang yang terkena wabah tersebut akan tewas dalam 3 hari, atau jika tidak, mereka akan terus hidup tetapi dengan pikiran yang gila—kehilangan segala emosi dan pikiran rasional yang mereka miliki. Penyakit kulit ini berupa kulit yang memerah seperti luka bakar dan mengelupas hingga menunjukkan bagian terluar daging.
("Darimana pemerintah Korea Selatan tahu kalau wabah itu akan membunuh mereka dalam waktu 3 hari dan membuat mereka gila?" tanya Yugyeom penasaran. "Apa Korea Utara pernah mengeluarkan senjata biologis ini?")
Kangin—tentara yang menulis catatan itu, mengatakan bahwa selama seminggu ia berada di kota, warga mulai mengalami gejala aneh dan mati dalam waktu 3 hari. Mereka yang hidup berkeliaran di kota, dan mulai memakan para warga yang masih hidup lainnya. Mereka hidup sebagai kanibal, tidak peduli masih ada stok makanan yang tersisa atau tidak.
Di tengah-tengah penulisan, Kangin yang seorang Alpha—mengatakan bahwa ia terpaksa membunuh teman-temannya yang mulai terjangkit penyakit tersebut dan menguburkannya di satu lubang yang sama. Bala bantuan yang dijanjikan oleh Korea Selatan tidak pernah datang (tertulis terakhir 4 Desember 2042), dan Kangin mulai menemukan bercak-bercak aneh di kulitnya. Teman-temannya yang masih hidup, sekitar 8 orang dari mereka, juga mulai terjangkit penyakit yang sama. Ia mulai melihat bagaimana teman-temannya mulai kehilangan pikiran mereka, mulai menyerang satu sama lain.
Kangin bercerita bagaimana pada suatu malam ia nyaris memakan mayat temannya.
Penulisan di jurnal selanjutnya tidak dapat dipahami bahkan oleh seorang Namjoon. Karena biasanya yang menyelidiki soal data-data adalah tugas Junmyeon dan Daehyun, mereka terpaksa hanya membuat asumsi-asumsi tidak pasti mengenai keberlangsungan hidup Kangin.
Tapi Jungkook tahu, bahwa di malam ia menyelamatkan Hoseok dan Taehyung, Alpha yang ia bunuh adalah Kangin.
Jurnal berakhir pada tanggal 17 Desember 2042.
(Ketika muncul pertanyaan lagi dari Won-sik, "Apakah artinya kita juga akan berakhir sama seperti mereka?"
Namjoon hanya memandang dengan sedih, "Tidak. Kita tidak akan berakhir seperti mereka. Senjata biologis ini, kurasa hanya sebagai percobaan perang.")
Mereka memutuskan untuk tinggal lebih lama di kota itu—karena setelah suplai makanan dari pemerintah pusat berhasil dikirimkan, muncul berita bahwa Seoul kembali di serang dan kini berpindah untuk sementara di Incheon. Seoul dengan segala macam pertahanannya hancur sebagian karena serangan rudal yang dikirim bertubi-tubi oleh tentara Jepang, sementara Korea Utara sendiri mulai melakukan serangan darat ke Seoul.
(Jungkook tidak pernah berhenti berdoa agar ayahnya adalah salah satu orang yang selamat).
Perbatasan yang dulu masih mereka lindungi, kini sudah menjadi area terbuka bagi Korea Utara untuk menyerang. Beberapa sub unit pasukan tentara yang melindungi daerah perbatasan selain Pasukan Brigade Khusus ke 13 berhasil dihabisi oleh tentara Korea Utara. Bahkan tentara Pasukan Brigade Khusus ke 13 yang berhasil selamat pun kini kurang dari 10 orang.
Di akhir percakapan mereka dengan tentara yang bertugas mengirimkan suplai makanan, tentara tersebut—Beta, mengatakan bahwa kemungkinan besar suplai makanan ini adalah suplai terakhir yang dapat mereka kirimkan. Pemerintah pusat berharap bagi Pasukan Brigade Khusus ke 13 agar ikut kembali ke Incheon, membantu tentara di sana untuk melindungi warga Korea Selatan yang masih tersisa.
Namjoon merundingkan hal tersebut bersama dengan teman-temannya. Tetapi muncul pertimbangan baru mengenai empat rekan mereka, Kyungsoo, Junmyeon, Jongdae dan Hyun-woo yang tidak diketahui keadaannya hingga saat ini.
("Jika mereka sudah mati, apa pentingnya untuk kita menyelamatkan mereka?" tanya Won-sik.
"Tapi bagaimana jika mereka masih hidup? Apa kita juga mau membuang kemungkinan itu?"
"Sekarang lebih penting hati nurani kita, atau pikiran rasional kita?"
"Namjoon-hyung, pertanyaanmu sungguh menyulitkan."
"Lagipula jika kita membawa pulang Omega-Omega ini ke Incheon, apa tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melakukan eksperimen yang sama seperti yang dilakukan oleh Korea Utara?"
Seisi ruangan terdiam mendengar ucapan Seokjin. Jungkook menyetujui ucapan Beta itu.)
Akhirnya mereka memutuskan untuk lebih lama bertahan di kota itu. Jika mereka tidak mendapat kabar lebih lanjut tentang Kyungsoo dan yang lain dalam waktu 3 bulan, maka mereka akan kembali ke Incheon.
Hari-hari mereka pun dipenuhi dengan rasa waswas mengenai Seoul yang saat ini sebagian sudah dijajaki oleh Jepang. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa selain menunggu kepastian tentang Kyungsoo dan yang lain. Keputusan bodoh, tapi akan lebih bodoh lagi jika mereka membawa Omega-Omega tersebut ke Incheon.
Bagaimanapun juga, manusia sudah hampir punah.
Ditambah dengan peperangan yang tak kunjung berakhir.
Selama beberapa bulan menunggu itu, Jungkook melatih Taehyung berlatih bela diri dan menggunakan senjata api. Sesuai dugaannya, dalam waktu singkat Omega itu berhasil menguasai teknik Judo dan sudah mahir menggunakan senapan berlaras pendek—meski tidak sejago dirinya ataupun Hoseok. Baekhyun dan Jimin yang awalnya terlihat takut untuk menggunakan senjata api, akhirnya mulai mencoba mengikuti Taehyung.
Setidaknya mereka saat ini dapat melindungi diri masing-masing.
Tapi masih ada satu hal yang masih terasa belum terpuaskan di diri Jungkook.
Dan hal itu berhubungan dengan Taehyung.
15 Maret 2045,Republic of Korea Army Special Forces Black Berets New Base Camp
5.24 a.m
Kurang dari seminggu setelah heatnya berakhir, Taehyung kembali tidur ke tempatnya semula. Meski tiap malam ia bermimpi buruk tentang masa-masa ia berada di ruang tahanan Omega bersama para Omega lainnya, selalu ada Baekhyun dan Jimin yang berusaha menenangkannya. Dan selalu saja ia akan kembali tidur dengan tenang.
Tetapi pagi itu, Taehyung terbangun di tempat tidur besar yang ia tiduri bersama dengan Jimin dan Baekhyun—merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia melihat Baekhyun masih tidur dengan posisi tubuh terlipat ke arah tubuh Taehyung—seolah-olah mencari kehangatan dari tubuh Omega yang lebih tinggi itu, sementara di sisi lainnya tidak ada Jimin. Sekilas ia berpikir bahwa Jimin hanya pergi ke kamar mandi untuk buang air, sampai akhirnya ia mendengar suara Jimin memuntahkan isi perutnya.
Tanpa pikir panjang, Taehyung melepaskan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan menuruni tempat tidur. Setengah berlari ia pergi ke kamar mandi, mendapati Jimin terduduk di dekat mulut toilet. Omega yang paling muda itu memuntahkan isi perutnya berkali-kali, membuat khawatir Taehyung.
Tangannya bergerak memegang punggung Jimin, menepuk-nepuk.
Setelah Jimin puas memuntahkan isi perutnya, ia bergegas mengambil gelas berisi air, menyuruh Omega itu mencuci mulutnya.
"Kau sakit?"
Omega itu menggeleng, "Tidak tahu. Aku terbangun tadi, dan tiba-tiba perutku seperti mau meledak."
Tangan kiri Taehyung mengelus dahi Jimin, "Tidak hangat. Kurasa kau hanya masuk angin. Mungkin kalau kau istirahat hari ini, kau akan merasa baikan."
Jimin hanya mengangguk lemah dan hendak kembali ke tempat tidurnya. Tetapi Taehyung menghentikannya. Wajah Omega itu berubah pucat.
"Jimin-ah, apa bulan ini kau sudah mendapatkan heat?"
.
.
.
"Selamat V. Kau mengandung anakku."
TBC
Catatan Penulis:
Yang mati di chapter ini: Kim Jun-myeon (29) dan Jung Daehyun (26)
Karakter yang masih hidup hingga sejauh ini dari Pasukan Brigade Khusus ke 13 beserta kode nama mereka adalah sebagai berikut:
Kim Namjoon aka RM (27)
Kim Seokjin aka Jin (29)
Jung Hoseok aka Hobi (27)
Min Yoongi aka Suga (28)
Park Chanyeol aka Yeol (26)
Jeon Jungkook aka JK (25)
Kim Yugyeom aka Brown (25)
Kim Won-sik aka Ravi (28)
Do Kyung-soo aka DO (27)
Kim Jongdae aka Chen (28) lebih tepatnya status belum diketahui
Lalu Omega:
Kim Taehyung (27)
Byun Baekhyun (26) Baekhyun dibuat lebih muda dari Taehyung lol
Park Jimin (18)
Sepertinya di chapter ini juga banyak kesalahan penulisan haha. Saya selalu menulis di atas jam 9, jadi antara sadar dan tidak sadar dengan apa yang saya tulis. Kalau ada yang menemukan kesalahan penulisan, bisa langsung memberitahu lewat review~
Sampai jumpa di chapter selanjutnya! Waktunya saya untuk beristirahat mwaha!
Terimakasih bagi yang telah memfollow dan menambahkan cerita ini ke favorit.
Terutama yang sudah mereview di chapter sebelumnya: nicelline, alanyreyne, Vee, dan a-richuu (makasih loh untuk koreksinya mwehe, sudah diperbaiki yah! :D)
