BE MINE
BTS fanfiction
KookV
Rating: T-M
Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)
Warning: BL, Typo
Cast: All BTS member
Previous
Taehyung bungkam tak menanggapi. Sudah dua kali dalam satu hari ini, Jeon Brengsek Jungkook mengganggu kehidupannya. "Karena aku tidak menemukan buku yang aku inginkan."
"Memang buku seperti apa yang kau inginkan?"
"Buku membuat racun."
"Racun?!" pekik Jungkook terkejut.
"Ya, aku ingin melenyapkanmu." Balas Taehyung tanpa mengalihkan tatapannya pada lembaran buku yang dibacanya.
Mendengar jawaban Taehyung, membuat Jungkook menelan roti lapisnya susah payah, sedangkan Jimin dan Yoongi mati-matian menahan diri agar tawa mereka tak meledak lalu menarik perhatian seluruh pengunjung.
BAB TIGA
"Tae itu tidak lucu." Di dalam mobil Yoongi mulai mengeluarkan gerutuan populernya.
"Apanya?" tanya Taehyung setengah hati, sementara dirinya sedang sibuk memainkan permainan di dalam ponsel.
"Apa yang kau katakan pada Jungkook tadi."
"Hmm itu, aku memang tidak berniat bercanda. Makanya tidak lucu."
"Astaga!" pekik Yoongi frustasi. "Apa kau tidak tahu siapa yang sedang kau ajak bercanda?!"
"Aku tahu Yoongi hyung yang imut." Balas Taehyung dengan nada menyebalkan.
"Jangan memanggilku imut atau aku akan menjitak kepalamu!" ancam Yoongi sementara Taehyung hanya tersenyum lebar saja, tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Kenapa kau membenci Jungkook? Masalah pribadi atau karena perusahaan?"
"Hmmm." Taehyung menggumam, Yoongi melirik kesal karena terlihat jelas jika Taehyung tak berniat untuk menjawab pertanyaannya dengan serius.
"Mau menjawab atau tidak?!" tegas Yoongi.
"Jeon Jungkook sudah berulang kali menyindir agensi kita! Apa Yoongi hyung tidak peduli?!" pekik Taehyung kesal.
"Di luar itu? Alasan lain yang membuatmu tidak menyukai Jungkook.
"Dia Playboy."
"Menurutku dia bukan Playboy…,"
"Baiklah, dia memang menjalin hubungan baru setelah putus dengan kekasihnya, dia bukan Playboy hanya mendapat pengganti dengan cepat." Potong Taehyung.
"Kurasa lebih baik kau mencobanya dulu."
"Mencoba apa Yoongi hyung? Astaga! Kalimatmu membuatku takut." Yoongi mengernyit melihat ekspresi ketakukan Taehyung yang tentu saja hanya pura-pura.
"Mencoba berteman dengan Jungkook, mungkin dia tak seburuk dugaanmu."
"Jika dia seburuk yang aku pikirkan?" tantang Taehyung.
"Kau bisa menendang selakangannya." Jawab Yoongi diiringi senyuman lebar imutnya.
"Mungkin aku akan mencobanya, lampunya sudah hijau ayo jalan!" perintah Taehyung seenaknya.
"Aku yakin kau tidak akan mencoba untuk berteman dengan Jungkook. Dua ratus persen kau tidak akan melakukan apa yang kau katakan."
"Kenapa Yoongi hyung ingin aku berteman dengan Jungkook? Apa Yoongi hyung ingin pindah agensi?"
"Tidak!" pekik Yoongi. "Jika aku pindah agensi aku harus membayar denda pemutusan kontrak sangat mahal, belum lagi keluar masuk pengadilan. Merepotkan, jam tidurku saja sudah sangat langka." Gerutu Yoongi panjang lebar. Taehyung tertawa mendengar semua kalimat tak berkualitas Yoongi. "Itu fakta!" tegas Yoongi.
"Baiklah…, baiklah….," ucap Taehyung menyerah.
"Aku hanya ingin kau tidak terus meratapi kepergian Hoseok, dia brengsek dan kau harusnya mendapat yang lebih baik. Atau karena Hoseok berada di agensi Jungkook sekarang, kebencianmu berlipat ganda?"
"Tidak." Balas Taehyung, kedua matanya menatap jalanan dengan lekat. "Aku bahkan lupa kenapa aku harus merasa sakit karena Hoseok."
"Setelah Hoseok, apa kau pernah jatuh cinta?"
"Tentu saja." Taehyung menarik napas dalam-dalam. "Tapi aku tidak mengatakannya terang-terangan, aku menyimpannya untuk diriku sendiri. Dan semua orang yang menarik perhatianku—mereka brengsek. Selalu berakhir dengan skandal. Beruntung aku tidak sempat memiliki hubungan dengan mereka."
Yoongi tak langsung membalas. Dia menginjak rem perlahan, lampu merah menyala. Berpikir dengan cermat. "Jadi—cinta itu menurutmu?"
"Hanya permainan."
"Cinta sejati?"
Taehyung terkekeh pelan. "Tentu saja cinta sejati itu ada. Seperti kakek dan nenekku. Untuk beberapa orang. Tapi tidak untukku."
Yoongi memilih untuk bungkam, menjalankan kembali mobilnya ketika lampu hijau menyala. Berbicara tentang Cinta dengan seorang Kim Taehyung seperti berbicara dengan sebongkah batu sungai.
"Turunkan aku di depan."
"Tidak kembali ke kantor?"
"Tidak, aku ingin berjalan-jalan sebentar dan mungkin membeli camilan."
"Apa tidak masalah?"
"Aku bukan Idol, tenang saja." Balas Taehyung kemudian mengedipkan mata kirinya pada Yoongi.
"Aku tidak akan tergoda." Balas Yoongi dengan nada dingin. "Setelah itu kau akan kemana?"
"Langsung pulang."
"Jalan kaki?"
"Hmmm, hanya lima belas menit."
"Ya, ya, terserahlah."
Yoongi menghentikan mobilnya, Taehyung keluar dengan cepat. Melambaikan tangannya pada Yoongi kemudian mulai berjalan menyusuri trotoar. Banyak pejalan kaki yang menyapanya, bahkan beberapa meminta untuk berfoto. Taehyung melayani mereka semua dengan ramah.
"Permisi, apa saya boleh berfoto dengan Anda?"
"Ah tentu sa….," kedua mata Taehyung membola, kalimatnya terhenti.
"Hai, sepertinya kita selalu bertemu. Apa itu kebetulan?" tanya Jungkook kemudian tersenyum menampakkan dua gigi kelinci depannya.
Taehyung hanya mendengus lantas berjalan pergi. Mengacuhkan Jungkook. Namun, menyerah tidak pernah ada di dalam kamus hidup seorang Jeon Jungkook.
"Kau pasti penasaran bagaimana aku bisa sampai di sini? Bagaimana aku bisa menemukanmu?"
Masih memasang sikap tak pedulinya, Taehyung mempercepat langkah kakinya namun Jungkook rupanya tak kesulitan untuk mengejarnya. Berjalan di sisi kanan tubuh Taehyung dan terus meracau, membuat kedua telinga Taehyung seolah berdenging.
"Jika kau perhatikan dengan baik, kau turun tepat di depan gedung tempatku bekerja, semua pekerjaanku sudah selesai untuk hari ini, aku keluar untuk mencari camilan. Lalu aku tak sengaja melihatmu. Seseorang yang aku kenal."
Langkah kaki Taehyung seketika berhenti, menoleh menatap Jungkook. "Kita tidak saling kenal." Balas Taehyung sebelum melangkah meninggalkan Jungkook.
"Tunggu."
Taehyung nyaris berteriak namun ia cukup sadar berada dimana sekarang. "Apa yang kau inginkan?" desis Taehyung.
Jungkook tersenyum. "Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat."
"Maaf aku tidak tertarik."
"Aku tertarik padamu."
"Lepaskan atau aku tendang selangkanganmu."
Jungkook mengernyit membayangkan betapa nyeri tendangan Taehyung pada daerah pribadinya. "Empat belas hari."
"Empat belas hari apanya?" Taehyung tak paham.
Jungkook tak menjawab, Taehyung hanya merasakan tangan kanan Jungkook meremas lengan kirinya kemudian Jungkook pergi begitu saja. Meninggalkan Taehyung dengan berbagai pertanyaan yang berputar di dalam otak jeniusnya.
"Kenapa orang itu membuat perasaanku tidak enak, benar-benar mengerikan." Gerutu Taehyung sebelum memilih untuk berlari. Cepat-cepat meninggalkan kawasan gedung agensi keluarga Jeon.
.
.
.
Langkah Taehyung terhenti di depan gedung apartemennya. Menatap seorang laki-laki yang lebih muda darinya, namun, dia tidak terlihat tertarik dengan laki-laki itu. Justru sebaliknya dia merasa kesal, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Darimana kau tahu rumahku? Dengan siapa kau ke sini?"
"Bisakah kau berbicara dengan lebih pelan?"
"Apa yang kau lakukan di sini, Minjae?"
"Aku merindukanmu Taehyung hyung."
Taehyung melempar tatapan datar nyaris mengumpat. "Bohong."
"Aku serius!" pekik Minjae dengan nada putus asa.
"Pulanglah, kita tidak ada urusan."
"Tae hyung…," rengek Minjae dengan suara penuh iba.
"Ah ayolah…, hentikan itu jangan merengek di depanku kau semakin menyebalkan."
Minjae menunduk, sebenarnya Taehyung merasa iba juga tapi mau bagaimana lagi jika Minjae ditanggapi tidak akan ada habisnya. Kemudian secara mengejutkan Minjae menarik lengan kanan Taehyung dan mencium paksa bibir Taehyung. "Brengsek!" teriak Taehyung mendorong kasar dada Minjae. "Apa yang kau lakukan?!"
"Aku menyukaimu Tae hyung."
"Pulanglah jangan berbuat sesuka hatimu." Ucap Taehyung dingin kemudian berlalu meninggalkan Minjae memasuki gedung apartemen tempat tinggalnya.
Memberikan lirikan tajam pada petugas penjaga pintu agar tak ikut campur dengan urusan pribadi orang lain. "Kenapa dia harus menciumku, kurang ajar sekali." Gerutu Taehyung.
"Tae hyung!" mempercepat langkah kakinya, Taehyung bermaksud menghindari Minjae.
"Taehyung!"
Taehyung berhenti karena suara Minjae terdengar berbeda, memutar tubuhnya dan Taehyung tidak tahu apa ada hari paling sial di hidupnya setelah hari ini. Minjae dan Jungkook, kombinasi sempurna untuk menghancurkan harinya.
"Tae hyung…,"
"Maaf aku harus berbicara dengan Taehyung tentang bisnis." Potong Jungkook membuat Minjae terperanjat. "Ayo." Ucap Jungkook sambil menatap kedua mata Taehyung.
Pergi bersama Jungkook merupakan hal buruk tapi setidaknya itu lebih baik dibanding berhadapan dengan obsesi remaja labil macam Minjae. "Baik." Gumam Taehyung kemudian berjalan mendekati Jungkook.
Jungkook tersenyum, membukakan pintu penumpang mobil untuk Taehyung. Membuat Taehyung semakin dongkol dengan semua kepura-puraan seorang Jeon Jungkook.
"Siapa dia?
"Cepat sekali kau menyusulku?"
Taehyung dan Jungkook bertanya dalam waktu bersamaan. Kening Taehyung berkerut dalam. "Kau dulu." Ucap Taehyung.
"Siapa dia?" ulang Jungkook sambil terus fokus pada jalan raya.
"Minjae."
"Ah aktor, pantas saja aku sepertinya tak asing dengan wajahnya."
"Hmm." Gumam Taehyung.
"Bagaimana kalian bisa saling kenal?"
"Minjae pernah menjadi bintang video musik Suga hyung. Aku tidak paham kenapa dia tertarik padaku."
"Kau tidak tertarik pada Minjae? Wajahnya tampan."
"Tidak."
"Apa kau pernah mengalami trauma cinta di masa lalu?"
"Tidak!" tegas Taehyung kemudian meraih ponselnya untuk mengirim pesan pada sang kakak, memberitahukan keberadaannya sebelum kakaknya membuat berita kehilangan.
"Hmm, kupikir aneh saja kau tidak tertarik pada Minjae atau pada semua orang yang mendekatimu. Dari semua berita yang aku baca dan dengar, semua yang mendekatimu adalah pria-pria kelas atas yang tampan."
"Jika tidak tertarik mau bagaimana lagi." Balas Taehyung setengah hati.
"Memang seperti apa tipe idamanmu?"
"Kenapa kau ingin tahu? Sudah cukup bertanyamu, sekarang giliranku." Taehyung menoleh ke kiri menatap sisi kanan wajah Jungkook. "Bagaimana kau tahu apartemen tempatku tinggal? Kenapa kau tiba-tiba muncul padahal kita baru beberapa saat yang lalu berpisah?"
"Aku mengikutimu." Balas Jungkook singkat, tanpa basa-basi.
"Kenapa aku tiba-tiba merasa takut padamu."
"Tidak perlu merasa takut. Aku tidak akan menyakitimu. Sungai Han?" tawar Jungkook.
"Tidak." Balas Taehyung sebelum meluruskan pandangannya. "Aku tidak ingin menarik perhatian karena pergi bersamamu, dan kita tidak sedang berkencan tidak usah pergi ke sana."
"Kenapa kau mau menerima tawaranku?"
"Ah aku lupa. Terima kasih sudah muncul tiba-tiba dan menawarkan bantuan."
"Kenapa kau mau menerima tawaranku?" ulang Jungkook.
"Aku tidak mau terus diganggu Minjae."
"Carilah kekasih, Minjae akan berhenti mengganggumu. Aku jamin."
Taehyung tertawa pelan, membuat jantung Jungkook berdetak lebih cepat. Kali ini tawa Taehyung berbeda, bukan tawa kesal atau tawa mengejek yang pernah Jungkook dengar sebelumnya. Melainkan sebuah tawa yang tulus. "Kenapa tertawa?" tanya Jungkook nyaris terbata.
"Karena ucapanmu terdengar lucu."
"Dilihat dari segi apa?" tuntut Jungkook menginginkan kejelasan jawaban.
"Kau menyuruhku mencari kekasih, seolah-olah mencari kekasih itu semudah membeli soda."
"Kenalanmu banyak apa dari mereka tidak ada yang menarik perhatianmu?"
"Tidak." Balas Taehyung.
"Kenapa?"
"Sembilan puluh persen orang-orang yang ingin dekat denganku atau menjadi temanku, mereka memiliki maksud lain. Karena keluargaku dan karena siapa aku."
"Hmm." Gumam Jungkook, ia ingin bertanya banyak hal namun ia ragu jika Taehyung akan merasa tersinggung nantinya.
"Kau sendiri, bagaimana bisa bergonta-ganti kekasih? Deretan mantanmu sangat banyak."
"Aku hanya ingin mencoba, maksudku aku ingin mencari yang terbaik karena itu aku tidak pernah berkencan lebih dari satu bulan. Karena dalam satu bulan aku sudah tahu tabiat sesungguhnya dari semua orang yang berkencan denganku. Sampai-sampai julukan menyebalkan disematkan padaku. Aku tidak mencampakan seseorang tanpa alasan, media yang terlalu buruk menilaiku."
"Oh." Balas Taehyung.
"Maaf aku mengikutimu."
"Kali ini aku berterimakasih kau mengikutiku. Turunkan aku di depan kantorku, kakakku sudah menunggu di sana."
"Tentu." Balas Jungkook.
Sekitar sepuluh menit, mobil Jungkook berhenti tepat di depan gedung agensi milik keluarga Kim. Menoleh ke kanan Jungkook melihat Taehyung melepas sabuk pengamannya. "Kim Taehyung hyung." Panggil Jungkook sopan.
"Ya?"
"Maaf untuk pertemuan pertama kita yang sangat buruk, dan pertemuan lain yang menurut Hyung sangat buruk."
Taehyung terperanjat untuk beberapa detik. Jungkook memanggil namanya dengan sopan. Itu cukup mengejutkan.
"Maafkan aku." Ulang Jungkook.
"Ba—baiklah." Jawab Taehyung terbata, dia masih cukup bingung dengan perubahan sikap Jungkook.
"Jadi aku sudah dimaafkan? Dan mungkin kita bisa….," Jungkook mendengus karena Taehyung keluar dari mobil tanpa mendengar seluruh kalimatnya. "Dan mungkin kita bisa berteman, Kim Taehyung." Ucap Jungkook dengan nada kesal. Ia lantas membawa mobilnya pergi tanpa menurunkan jendela dan berpamitan pada Taehyung. Percuma saja, karena Taehyung sudah sibuk mengobrol dengan kakaknya, Kim Seokjin.
Taehyung melihat pantulan mobil Jungkook dari pintu kaca gedung agensi keluarga Kim.
"Karena Minjae terus mengganggumu, aku tidak mengijinkanmu tinggal sendiri. Kau tinggal denganku dan Namjoon sampai semuanya aman." Dahi SeokJin berkerut melihat tatapan tidak fokus dari Taehyung. "Tae kau mendengarku?"
"Ah! Ah—tentu saja aku mendengarmu SeokJin hyung." Ucap Taehyung kemudian tersenyum lebar.
"Kau sedang memikirkan hal lain, jangan berdusta. Aku yang membesarkanmu aku tahu kau berbohong."
"Aku tidak berbohong!" pekik Taehyung. "Bawa aku pulang."
SeokJin terdiam untuk beberapa detik mengamati wajah Taehyung lekat. "Baiklah kali ini aku tidak akan memaksamu untuk bicara."
"Hmm." Gumam Taehyung.
Taehyung sesekali melirik SeokJin, ada banyak hal yang ingin dia tanyakan tapi ia ragu karena SeokJin akan membuat pembicaraan serius berdurasi sangat lama dan membosankan.
"Ada apa Kim Taehyung?"
Pertanyaan SeokJin membuat Taehyung merinding, kakaknya benar-benar bisa membaca isi hati dan pikirannya dengan sangat mudah. "Hmm." Gumam Taehyung ragu.
"Katakan saja, aku pendengar yang baik dan terakhir kali aku memarahimu saat kau SD dan mendorong temanmu ke dalam selokan."
"SeokJin hyung sudah menikah jadi aku ingin bertanya…,"
"Jika pertanyaanmu kapan aku dan Namjoon memiliki anak aku akan memukulmu!" peringat SeokJin.
"Bukan itu, ah itu termasuk sih tapi aku sudah tahu jawabannya. Hyung akan menjawab Ayolah mengurus perusahaan saja sudah membuat rambutku nyaris botak bagaimana aku bisa berpikir tentang anak."
SeokJin tersenyum hambar mendengar kalimat panjang lebar Taehyung. "Cepat tanyakan." Perintah mutlak SeokJin.
"Tidak jadi, lupakan saja SeokJin hyung."
"Aku akan menerormu." Ancam SeokJin."
Taehyung mengerucutkan bibirnya. SeokJin mulai lagi dengan sikap menyebalkannya. "Bagaimana ciri-ciri laki-laki yang serius? Dari pengalaman SeokJin hyung dengan Namjoon hyung?"
"Taehyung apa kau jatuh cinta?"
TBC
Halo semua terima kasih sudah meluangkan waktu kalian membaca cerita ini. Maaf saya terlalu percaya diri…, jika ada yang mau baca sih. Terima kasih review kalian Tikha Semuel RyeoLhyun, thiefhanie fha, amandayupi, ranran, Glennnnoore WW, GaemGyu92, purplesya, vayasyun, Strawbaekberry, Yeoja821, TSen Daehyun, Fayyumiko, juney532, RinHyunpark1992, Clou3lf, Hastin99, KaiNieris, AprilKimVTae, Kyunie, kanataruu, yoongiena. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
