Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.
Pairing: jelas Akafuri.
Warn: Sho-ai, standart warning, dan alur maju mundur, OOC.
Aaa, g sanggup ngelihat FFN dan AO3 tapi Akafuri lama banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusen sendiri deh. Ayo gelakkan semangat Akafuri.
Happy reading minna ^-^
"Seijuurou-san." Suara itu pelan, gemetar, hampir tak bisa berucap dengan benar. Tapi, entah kenapa, selalu berhasil menarik perhatiannya.
Akashi menatap pemuda yang kini tertunduk itu, ia tak bisa melihat wajah itu dengan jelas. Sosok itu selalu bergetar tiap kali ia menatapnya makin intens.
Latar tempat berubah menjadi sebuah ruang ganti dimana ia dan pemuda itu hanya dikelilingi oleh benda-benda kotak besi yang berjejer. Akashi menekan tubuhnya merapat pada tubuh itu, memerangkapnya dalam kungkungannya. Pemuda itu hanya menunduk, tak berani menatap Akashi. Tapi terlihat sekali tubuhnya memerah—mungkin malu ataukah saking takutnya?
Ketika Akashi membawa lidahnya menyusuri lekuk leher yang memerah, pemuda itu mengejang, mendesah pelan—hampir tidak terdengar—dan kepalanya sedikit naik. Tapi rambut coklatnya yang agak panjang menutupi wajahnya. Akashi tak bisa mengenali persona itu.
Dua buah tangan saling terkait—sebenarnya hanya Akashi yang menggenggam—sementara yang seorang lagi tampak benar bergetar, namun tak menarik diri dari tautan. Cukup seperti itu, Akashi tahu bahwa pemuda itu setuju saja dengan perlakuannya, tak menolak. Genggaman itu mengerat dan tangan yang bergetar itu mulai berkurang tremornya.
Sekali lagi, ketika Akashi menoleh. Lobe menutupi surai kecoklatan itu, kepalanya—lagi-lagi—menunduk, mantel tebal melingkupi tubuhnya yang mengigil. Telinganya dipasangi penutup, selimut leher terpasang rapat. Pemuda itu tertutup sempurna. Tertutup untuknya agar ia bisa mengetahui indentitas pemuda itu.
Yang Akashi tahu adalah ia yang seorang pemuda. Berambut coklat yang agak berantakan dan nampak sekali seperti bulu kucing. Hanya itu, ia bahkan tak pernah bisa melihat wajahnya.
Menyedihkan sekali, padahal bersitan-bersitan kenangan itu terus muncul tenggelam di pikirannya. Tapi, kenapa tak sekalipun ia bisa melihat wajah itu? Kenapa seolah susah sekali untuk mengingat dimana kiranya ia pernah melihat orang itu?
Padahal, dari setiap ingatan itu, Akashi tahu bahwa orang itu penting baginya. Sayangnya, ia merasa tak pernah mengenal pemuda itu. Tidak pernah sekalipun pemuda itu tersimpan di database otaknya. Seolah orang itu tidak penting, seolah dia orang asing. Tapi kalau begitu, kenapa ia selalu mengingatnya?
Akashi menatap kosong. Jika orang itu penting baginya, apakah orang itu juga menganggapnya penting? Dan bagaimana jika ia menyakiti hati orang itu karena pemuda itu berpikir bahwa ia mengabaikannya?
Padahal, ia mengingat apapun yang terjadi selama 'Akashi yang lain' menguasai dirinya. Ia bisa mengingat, bagaimana menyedihkannya ia ketika tak bisa melawan otaknya sendiri untuk bertindak arogan, superior dan tak kenal kata kalah. Orang yang hanya ingin kemenangan dan memaksa semua orang di timnya melakukan hal serupa. Ia yang memangkas kecintaan yang ada pada setiap diri anggota timnya terhadap basket. Menjadikannya sebagai permainan yang memiliki keharusan menang, membuat ego mereka membumbung dan membuat mereka menjadi makhluk yang tak lagi memiliki kepuasan hati sendiri.
Ia—Akashi—sangat buruk, tak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia jelas sudah menyakiti semuanya dengan semua superioritas yang ia miliki. Ia menyedihkan. Shintarou, Daiki, Atsushi, Ryouta, Tetsuya…berapa kalipun kukatakan, rasanya aku masih belum termaafkan. Kumohon, maafkan aku.
Dan ia juga ingat, bagaimana ia membuat tim Rakuzan lebih nampak seperti monster daripada olahragawan. Seolah mesin penghancur yang tak memiliki hati, hanya memiliki kemenangan sebagai tujuan dan visi hidup mereka. Ia kembali membuat basket tak lagi berarti. Ugh, terlampau menyedihkan.
Tapi yang paling menyedihkan, kenapa dia tak mengingat sedikitpun mengenai pemuda itu? Dia seolah kotak kecil yang tersimpan rapat dalam ruang besar memori Akashi. Seolah sengaja dibuang. Sengaja dihapus agar Akashi tak pernah bisa bertemu dengan pemuda itu lagi dan mencoba memilikinya.
"Tch, sebenarnya? Apa yang terjadi selama 'kau' yang mengatasi segalanya?" Akashi memegangi kepalanya yang serasa berdenyut.
Ia mengingat semua orang yang dia temui di tahun-tahun ia bertukar posisi dengan 'sang adik'. Semuanya ia hapal di luar kepala. Mereka semua seolah file komputer yang sudah jelas letak room-nya, tinggal di-klik dan ia bisa mendapat semua data mengenai orang itu yang sudah tersimpan di memori otaknya.
"Kenapa 'kau' seolah menyembunyikannya dariku?" ucap Akashi gamang.
.
.
.
.
Jujur saja, Akashi membenci perasaan aneh yang mengaduk-ngaduk perutnya. Membenci bagaimana perasaanya campur aduk begitu saja, senang, sedih, gundah, bingung, takut semuanya menyatu dan membuatnya merasa mual.
Ia kembali memikirkan pemuda yang kiranya tak pernah bisa ia ingat itu. Sebenarnya, siapa dia? Sosok itu terus-terusan menggumul di pucuk-pucuk pikirannya dan kemudian mengabur setiap kali Akashi mencoba mengingat. Argh, ini benar-benar membuatnya kesal—sebenarnya, lebih ke arah membuatnya frustasi ketika kehilangan sesuatu yang memiliki harga dalam hidupnya. Seperti pertandingannya melawan Murasakibara yang membuatnya mempertaruhkan harga dirinya sebagai seorang kapten.
Memijit pelipisnya pelan, Akashi mendudukkan tubuhnya dan matanya tak sengaja menangkap benda persegi panjang tipis di atas nakas. Sudut-sudut bibir Akashi tertarik, ia memejamkan matanya, mengingat bagaimana wajah itu memerah, mengingat bagaimana pemuda itu menunduk.
Ahhhh, kenapa rasanya sebegini menyenangkan?
Tapi, kenapa pemuda itu menangis? Apa benar ia yang sudah menyakiti pemuda itu?
Sial. Sial, sial. Kenapa ia tidak bisa berpikir jernih? Kenapa ia merasa tidak nyaman setiap kali me-reminesansi punggung yang berlari gemetar itu?
"Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?"
Pemuda itu, manis sekali. Kalau dilihat dari wallpaper ini, Akashi tidak bisa mendeskripsikan apapun selain—manis, ah boleh tambah ceria juga? Hm, serta sepertinya orang itu murah senyum. Ditambah, dia juga lucu—pemuda yang suka boneka. Imut. Dan rambutnya itu, warnanya coklat dan kalau dilihat-lihat, sepertinya, lembut—persis seperti anak kucing. Ahh, Akashi ingin mengelusnya.
BRAK
'Apa-apan kau, Akashi?! Kenapa kau bertingkah konyol begini?! Dan lagi, ingat dirimu yang pria,P-R-I-A dan dia juga pria! Jangan bodoh, kau masih normal!'
Tapi, bukannya dia—Akashi yang lain—juga menyukai pria? Lalu apa salahnya jika ia juga menyukainya? Kalau dipikir lagi, bukannya dia sudah jadi gay juga sebenarnya? Akashi—dia—dan Akashi yang itu—kepribadiannya yang lain—bukannya berada dalam satu badan? Jadi, satu tubuh, satu cara fisiologis, satu susunan syaraf, satu hati. Wajar saja kan, kalau mereka berdua…gay?
BRAK
'Ohh, tidak-tidak. Nasib keluarga besar Akashi tergantung padamu, semua aset keluarga harus kau yang menggulirkannya. Kau harus memutar rodan perusahaan, memproduksi banyak uang dan membuat mereka tetap menjadi keluarga yang masuk di jajaran orang terkaya di dunia. Lagipula, keluarga ini harus ada penerus. Dan apa yang terjadi jika dirimu gay? Pasanganmu tidak akan bisa memberikanmu keturunan. Siapa yang akan menjalankan perusahaan selanjutnya setelah dirimu pensiun?
Jadi, peringatkan dirimu untuk tetap menjadi normal, Akashi!'
Arghh, tidak bisa. Kepalaku penuh oleh dirinya. Tapi –
"Hey kau, kenapa kita memiliki selera yang sama?" Akashi menjilat bibirnya—ini pasti kebiasaan Akashi yang satunya—dan menatap cermin yang merefleksikan dirinya sendiri." Sama-sama menyukai pemuda yang memiliki rambut coklat."
.
.
.
.
Bunyi decitan sepatu yang beradu dengan lantai terdengar sepenjuru gym tim basket Seirin. Latihan ini masih saja panas meski mereka telah menjadi yang nomor satu. Tak ada istilah pengenduran—karena menjadi juara berarti harus mempertahankan gelar. Walaupun setelah Winter Cup ada jeda seminggu, tetap saja rasanya lelah.
"Furihata-kun hari ini membolos lagi?" Riko bertanya dengan nada mengerikan, kipas kertas besar tergenggam di tangan.
Tak ada sahutan. Semua orang memasang tampang yang sama—bingung.
"Bisa beritahu alasan yang membuatnya berani-beraninya meninggalkan latihan?" Pelatih muda yang kini menginjakkan kaki di kelas tiga menatap satu per satu pemain yang beristirahat di bench.
"Kami juga tidak tahu. Dia tidak memberi kabar sama sekali. Bahkan, ia tidak masuk sekolah hari ini." Fukuda dan Kawahara memasang tampang panik. Semua mata menyorot pada mereka berdua." Kemarin, ketika kami bertiga, aku, Fukuda dan Furihata ke Maji Burger seperti biasa—yah, semenjak kau tahu—Winter Cup—Furihata terlihat selalu murung, jadi kami berpikir untuk menghiburnya dengan mengajaknya pergi kesana. Dan itu sudah menjadi kegiatan rutin kami sebulan ini, tapi kemarin, walau bukan pertama kali kami memergoki Furihata menangis, kemarin itu rasanya Furihata terlihat jauh lebih menyedihkan. Dan, ketika dia bilang mau pergi ke toilet sebentar, dia sama sekali tidak kembali sampai kami pulang. Padahal, kami menunggunya selama tiga jam."
Kiyoshi memasang tampang khawatir yang sangat kentara, tak jauh berbeda dengan orang lainnya. Memang benar, Furihata malah jauh lebih pucat dari biasanya setelah final Winter Cup. Kemampuan basketnya menurun tajam, ia sering jadi sasaran kemarahan pelatih karena main asal-asalan. Bahkan beberapa kali dicium bola karena melamun saat latihan passing. Dan keadaannya yang begitu—jelas ia tidak baik-baik saja, tapi mereka tak berpikir akan sebegini parahnya.
"Lalu, apa kalian sudah menghubungi ponselnya?!" Hyuuga mengeluarkan hawa mencekam. Sebagai kapten yang baik, ia takkan membiarkan anak buahnya mengalami masalah.
Kedua pemuda itu menggeleng." Tidak diangkat. Bahkan, ia meninggalkan tasnya." Fukuda mengangkat tas warna coklat tanah, identik sekali dengan pemuda bermata kucing itu." Aku membawanya, karena kupikir, ia akan sekolah hari ini."
Riko tampak berpikir." Kalian tahu apa yang membuatnya menjadi seperti ini?"
"Apa mungkin karena kata-katanya awal masuk tim basket? Ingin mempunyai pacar dan gadis yang disukainya itu hanya akan mau jalan dengannya jika ia menjadi nomor satu dalam suatu hal?"
"Jadi, maksudmu—semua ini karena seorang gadis?" Kagami mengernyit tak paham.
"Apa gadis itu menolaknya?" suara itu pecah dari Izuki yang sedari tadi hanya jadi pendengar, semua orang dalam ruangan berpikir.
Jika itu terjadi. Ini mungkin saja menjelaskan semuanya.
"Tidak."
"HUAAAA, KUROKOOOOOO. JANGAN MENGAGETKANKU, SIALAN!"
Kuroko menatap datar Kagami dengan ekspresi khasnya." Aku sedari tadi berada disini, Kagami-kun."
"TAPI, KAU –
Prak
"Sudahlah. Lebih baik dengan apa yang akan Kuroko katakan." Riko meniup kipas kertasnya seolah meniup pistol. Sementara Kagami mengerang karena badannya menjadi korban." Jadi, Kuroko-kun. Bisa kau jelaskan?!"
"Ketika final itu, saat kita semua di ruang ganti. Aku melihat Furihata-kun keluar lebih dahulu dan aku mengikutinya." Ada jeda yang diambil. Semua orang memandang Kuroko dengan tatapan, 'kau penguntit?'. Kuroko menggelengkan kepala." Saat final, aku melihat wajah Furihata-kun yang sama sekali tidak menikmati kemenangan kita. Saat keluar dari stadium, Furihata-kun terus-terusan melihat handphone-nya dan wajahnya kelihatan cemas. Kupikir, itu karena gadis itu. Tapi, ketika seorang gadis menemuinya, dia malah meninggalkan gadis itu."
Kuroko menghela nafas, entah kenapa semenjak Winter Cup berakhir ia lebih bisa berekspresi. Mungkin karena semua bebannya selama ini sudah tuntas." Dan wajahnya masih tetap cemas."
Hening membanjiri seluruh gym Seirin.
"Jadi, Furihata sudah menolak… seorang gadis?!" Hyuuga meraup sunyi dengan suara bernada frustasi." Aku bahkan belum satupun, sialan bocah itu!"
"Aku hanya punya satu pacar. Dan itu…aku yang menembaknya." Orang yang dianggap paling normal—Tsuchida—berkomentar lirih. Malah terlihat ikut galau.
"Sudahlah," ucap Kiyoshi kebapakan." Mungkin dia lebih untung." Semua orang mengangguk." Walaupun aku juga ingin sih."
Semua anggota langsung mencibir—abaikan Kuroko yang tetap dengan ekspresi datarnya. Toh yang ada di hatinya hanya basket.
"Ah, aku sih tidak masalah. Kan masih ada Mitobe, iya 'kan sayang?" Koganei berujar polos. Sengaja mengalungkan sebelah tangannya pada Mitobe yang hanya diam.
"Menjauh kau. Dasar homo."
"Huee, jahatnya. Daripada kau tidak punya pacar."
"Aku –
"Tidak laku, dasar kacamata pemarah."
"SIALAN KAU!"
Prak, prak, prak, prak.
.
.
.
.
Semua anggota Seirin mengusap kepala mereka yang membenjol.
"Kita sedang membahas tentang Furihata-kun. Bukan mengenai nasib kalian yang jomblo!" Sekali lagi, Riko meniup kipas kertas besar—raksasa—nya seolah meniup debu." Jadi, fokuslah!"
Pemuda bersurai biru muda menatap pelatih perempuan mereka dengan pandangan setengah jengkel setengah merajuk." Tapi kenapa aku juga kena?"
Satu-satunya perempuan di ruangan tersebut berjengit kemudian cekikikan." Oh maaf, aku terlalu bersemangat."
"Padahal sendirinya juga jomblo," sinis Hyuuga tak berpikir sebelumnya.
Aura suram kemudian.
"Ohhhhh. Be-gi-tu ya?!"
"A-ah, tidak bicara apa-apa. Sungguh Rikooo, aku tidak bermaksud begituuuu."
"RASAKAN KAU, HYUUGAAAA."
Prak
Anggota tim Seirin hanya bisa sweatdrop. Kalau begini? Kapan membahas Furihata?
15 menit kemudian.
"Jadi. Apa kemungkinan yang terjadi pada Furihata selain karena gadis?" tanya Riko dengan wajah iritasi—terutama di bagian gadis. Dia bahkan tak bisa mengungkapkan perasaannya, rasanya iri.
"Aku sama sekali gagal paham. Dia bukan orang yang punya impian khusus."
"Impiannya hanya dapat pacar."
"Terlalu normal."
"Terlalu manusiawi."
"Terlalu biasa."
"Bisa dibuat puisi."
"Diam Izuki!"
Satu kibasan kipas.
"Kembali ke pokok utama."
"Dia seperti kebanyakan anak SMA lainnya."
"Karena dia tidak punya impian khusus. Makanya, semuanya jadi aneh ketika Furihata-kun tiba-tiba terlihat seperti orang depresi berat."
"Apa jangan-jangan dia punya gadis impian baru?" Kembali, Izuki yang membuat semuanya dengan segera membuat konklusi.
"Mungkin saja. Bisa jadi karena itu ia tidak melirik lagi gadis sebelumnya." Sahutan polos meluncur lurus dari Kagami.
"Ternyata Furihata playboy jugaaaa!" Hyuuga kembali meratapi nasib.
"Pacarku cuma satuuu."
"Anakku tak lagi polosss!"
"Dia bukan anakmu Kiyoshiiiii!"
"Aku punya Mitobeee."
"Bukan. Furihata-kun tidak seperti itu."
"GYAAAA, KUROKOOOOO. SEJAK KAPAN KAU DISITUUUU!"
Kali ini semua orang dalam tim Seirin melotot bersamaan—tidak termasuk yang bersangkutan—saat mendengar Kuroko yang sedari tadi diam bersuara. Ia hanya melirik dan menggunakan trademark-nya, 'aku ada disini sedari tadi'.
"Jadi? Kau tau sesuatu tentang ini semua?!"
Kuroko tidak mengangguk tidak juga menggeleng. Ia menatap semua anggota Seirin satu persatu." Tidak, tapi, setahuku Furihata-kun tidak pernah membicarakan gadis manapun semenjak ia mulai aktif basket."
"Mungkin saja dia tidak membahasnya denganmu. Tapi, dengan yang lain mungkin saja 'kan?!"
Diam beberapa saat.
Pemuda paling—ehm pendek ehm—yang berada disana menunduk." Dia satu hobi denganku. Kami sering berbicara. Dan dia… tidak pernah membahas soal wanita."
Sekelebat, Kuroko ingat. Ketika itu, Furihata mendadak terlihat sedih saat akhir pertandingan final Winter Cup. Tidak, lebih tepatnya saat papan skor menentukan siapa pemenangnya.
'Apa ini berkaitan dengan Rakuzan—lebih spesifiknya, Akashi?!'
Tanpa sadar Kuroko mengepalkan tangan. 'Semoga saja itu tidak benar.'
TBC
hiks, hiks. Susah banget ya kalau g masukin tim Seirin ke dalam fanfic dimana salah satu tokohnya adalah char yang berasal dari sana apalagi dengan tema high school begini. Sebenarnya perdebatan Seirin kelihatan nggak penting padahal itu yang jadi penghubung chapter depan sama chapter kemarin atau mungkin mempengaruhi jalan cerita. Saa na, lihat nanti lah.
Untuk yang enggak login.
Michiyo : di sendiri aja ngerasa nasib Furi-chan ngenes sekali. Iya, dia mau cari Kouki kok. Tenang aja. :3
Icyng : noooo, jangan. Furi jadi janda beneran nanti. Padahal di sendiri juga keki sama Akashi.#ulurin sapu tangan. makasih pujiannya, kan di jadi gede kerah baju #diinjek.
Makasih buat semua review, follow dan favoritnya. Senengnya #peluk satu-satu.
Mohon review lagi, komentar, kritik dan sarana diperlukan untuk perbaikan fic.
Review?
