Real World
Konoha
Naruto berjalan menuju Kediamannya di Dunia Manusia yaitu di Kota Konohagakure. Konohagakure terletak tidak jauh dari Kuoh dan disini merupakan tempat tinggal teman masa kecil Naruto yaitu Shikamaru dan Hinata.
Dia mulai memasuki Pintu utama rumah yang dibelikan oleh Ayahnya dengan Akeno yang berada digendongannya. Rumah yang memiliki luas sepanjang 30 meter dengan Gaya Rumah Khas Eropa. Para pelayannya yang melihat Tuannya memasuki Kediaman Phoenix langsung membungkukkan badan. "Selamat datang kembali, Naruto-sama", Kata salah satu pelayan Naruto.
"Hn, Aku pulang. Tolong siapkan sebuah kamar dan pakaian untuk wanita ini, jangan lupa siapkan borgol besi dengan sihir tingkat tinggi", perintah Naruto. Pelayan itu mengangguk, dia kemudian membungkukkan badannya lalu pergi kebelakang.
Naruto kemudian memandang wajah Akeno sebentar, "Kau akan mengerti bagaimana rasanya karena kau adalah salah satu dari Mereka", ujar Naruto. Naruto kemudian duduk di salah satu Sofa yang ada di ruang tamu rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Pelayan tadi datang dengan satu pasang Yukata ditangan kanannya dan Borgol berwarna Emas ditangan kirinya, borgol Emas itu sedikit mengeluarkan cahaya berwarna biru keputih-putihan. "Ini permintaan Anda, Naruto-sama", ujar pelayan tadi.
Naruto mengangguk, dia kemudian mengambil Yukata dan Borgol tadi, dia kemudian berjalan menuju kamar yang sudah disediakan oleh pelayannya. "Kita akan bersenang-senang sebentar, Himejima Akeno", kata Naruto sambil tersenyum iblis.
.
.
Ruang klub supernatural!
PRANG!
Sebuah batu menembus salah satu kaca milik Ruang Klub Supernatural, batu itu kemudian jatuh di Meja Ketua Klub Supernatural, Rias Gremory. Rias memandang batu yang berlapis oleh kertas berwarna putih itu, sesaat kemudian dia mengambil dan membuka kertas itu.
"Apa maksudnya ini?", ujar Rias sambil meremas kertas itu.
Kita akan bermain Rating Game dengan Himejima Akeno sebagai taruhannya. Kami akan menunggumu setelah pulang sekolah. Kalau kau tidak datang, Aku akan 'Bermain' dengannya, Rias Gremory.
Naruto Phoenix
'Apa maksudnya itu?', batin Rias. Dari awal kedatangan Naruto, Rias sudah mencurigainya. Rambut yang hampir mirip dengan Raiser dan juga Rambutnya mirip dengan Adik Raiser, Ravel Phoenix.
Raiser Phoenix, sudah lama dia tidak menyebut nama itu. Nama yang sangat dia sukai, Dia sangat mencintai Raiser. Bahkan dengan segenap hatinya, Namun karena suatu insiden dia belajar melupakan Raiser, walaupun dia harus membuat Raiser terluka parah seperti saat ini.
'Raiser', batin Rias.
Rias mengadahkan kepalanya. Sungguh dia tidak tega melihat Issei menghajar Raiser dengan Secred Gearnya. Hatinya pilu saat melihat Raiser jatuh terlentang diatas tanah sambil membisikkan namanya.
Perlahan air mata keluar dari pelupuk mata Rias dan menetes melewati pipi mulusnya.
'Aku minta maaf Raiser, bukan aku bermaksud menyakitimu. Tapi aku tidak sanggup melihatmu, menatap matamu saja aku sudah tidak tahan', batin Rias.
Koneko, Banteng Keluarga Gremory, yang melihat Kingnya meneteskan air mata mendekatinya. "Ada apa Buchou?", tanya Koneko. Rias menghapus air matanya dengan kasar, dia kemudian memandang Koneko yang berdiri tak jauh disampingnya.
"Tidak ada apa-apa, Besok kita akan bertanding Rating Game dengan keluarga Phoenix, Jadi persiapkan dirimu. Ajak juga Kiba, Issei dan Asia", kata Rias. Koneko mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Buchou", ujar Koneko. Rias mengangguk, Koneko kemudian menundukkan badannya sebentar lalu berjalan mundur. Kiba, Kuda keluarga Gremory mendekati Rias yang tengah duduk di mejanya dengan nampan yang berisi Segelas Teh.
"Silahkan Buchou", ujar Kiba.
Rias mengangguk, "Terimakasih Kiba", ujar Rias. Kiba mengangguk, dia kemudian berjalan kebelakang.
.
.
Kediaman Naruto
Akeno kini tengah terbaring dengan Yukata berwarna biru muda bercorak bunga Sakura yang melekat pada tubuhnya. Tangannya diikat dengan borgol yang sudah diberikan oleh Pelayannya tadi pada tangan kanannya dan pada tangan kiri Naruto, sehingga mereka kini berhadapan.
"Eng~", gumam Akeno, dia kemudian membuka mata Onyxnya dan menatap Naruto sebentar.
Naruto menyeringai, "Tidur nyenyak, Hime-sama?", tanya Naruto dengan nada Cool. Akeno terdiam sebentar, sesaat kemudian semua ingatannya terkumpul. Naruto yang notabe adalah adik kelasnya sudah menangkapnya dan Kini mereka berada di satu ranjang yang sama.
"Kau!?",
"Ssstt", potong Naruto sambil menaruh telunjuk di bibir mungil Akeno.
"Apa itu salammu saat ada laki-laki yang tidur disampingmu, Hime?", tanya Naruto. Naruto kemudian sedikit mengambil rambut Akeno yang ada didepan wajahnya dan menyelipkannya di belakang telinganya.
"Cih, Lepaskan Aku", kata Akeno mendesis. Naruto malah tertawa renyah, sesaat kemudian dia memandang Akeno tajam.
"Jangan harap kalau kau akan aku lepaskan setelah membuat Aniki-ku terluka, Himejima Akeno? Jangan membuatku tertawa", kata Naruto sambil mendekatkan wajahnya kepipi Akeno.
Mata Akeno membelalak. "Tidak, jangan lakukan itu!", teriak Akeno.
Naruto malah bersiul sebentar, dia menundukkan kepalanya. Pony pirangnya menutupi sebagian wajahnya. "SETELAH APA YANG KAU PERBUAT DENGAN ANIKI-KU, JANGAN HARAP AKU AKAN MEMBERI AMPUN PADAMU AKENO!", teriakan Naruto menggelegar di kamar yang luas itu.
Akeno terdiam, amarah juga mengumpul di kepala Akeno, "KALAU BEGITU KENAPA HANYA AKU YANG KAU SANDERA? SAAT MELAWAN RAISER-SAMA BUKAN HANYA AKU SAJA YANG MELAWANNYA!", ujar Akeno sambil berteriak keras. Jarang sekali dia berteriak namun kali ini amarahnya sudah cukup terkumpul.
Naruto memegang dagu Akeno dan sedikit menaikkannya dengan paksa sehingga Akeno sedikit meringis kesakitan. "Bagus, itu yang aku inginkan. Marahlah, Bencilah Aku sebisamu, Akeno", kata Naruto dia kemudian mendekatkan wajahnya kewajah Akeno dan melumat bibirnya sebentar.
Naruto melepaskannya sesaat kemudian, "Kau tahu kenapa aku lebih memilih menyandramu? Alasannya mudah, Karena bidak catur akan mudah dilumpuhkan bila tidak ada Ratunya", ujar Naruto. Akeno mengepalkan tangannya, Dia kemudian membuka telapak tangannya namun lingkaran sihir tidak keluar satupun.
"Ada apa? Sihirmu tidak mau keluar?", tanya Naruto dengan nada santai.
Akeno memandang Naruto, namun Naruto hanya menyeringai. "Borgol ini adalah Borgol dari Sihir keluarga Phoenix. Hanya keluarga Phoenix yang bisa membukanya", jelas Naruto. Akeno berusaha menghantam pipi Naruto dengan tangannya yang bebas tapi Naruto lebih gesit menangkap tangan kanan Akeno.
"Untuk seorang Wanita kau cukup berani", kata Naruto sambil mengarahkan lututnya ke area Sensitif milik Akeno. Tangan kanan Naruto merobek paksa Yukata yang tengah dipakai Akeno sehingga menampakkan sesuatu yang,,,, kalian pasti sudah paham.
"Ayo kita bermain sebentar, Himejima Akeno", kata Naruto.
[Disensor]
Hari berikutnya!
Sona Sitri kini berada di ruang klub Supernatural, didepan mereka juga sudah ada Tsubaki, Saji, Issei, Kiba, Koneko dan Parrege yang lain juga tengah berkumpul di ruang klub Supernatural.
"Apa?! Akeno-senpai disandra?!", teriak Issei.
Rias mengangguk, dia kemudian angkat bicara, "Terlebih lagi keluarga Gremory sudah kehilangan Queen. Jadi aku memintamu Sona, bantulah kami", ujar Rias. Sona menaikkan garis bibirnya sehingga membentuk senyuman tapi tipis.
"Dengan senang hati, kita adalah teman sejak kecil. Jadi tidak ada alasan untukku tidak membantumu", kata Sona. Rias tersenyum senang, dengan begini keluarga Gremory akan lebih mudah untuk memenangkan Rating Game ini.
Pulang Sekolah [Didekat halaman belakang]
Dua kubu tengah berhadapan, Kubu Phoenix terdiri atas Naruto dengan Akeno yang ada didekapannya, tapi Akeno hanya diam, mungkin kakinya sedikit lemas karena diajak 'Bermain' oleh Naruto kemarin malam. Disana juga ada Sasuke, Shikamaru, Ravel, Ayame dan Hinata. Mereka masih memakai pakaian Sekolah.
Sedangkan Kubu Gremory terdiri atas Rias, Asia, Koneko, Kiba, Tsubaki, Sona dan Saji. Issei memandang Naruto sengit, "Lepaskan Akeno-senpai!", teriak Issei pada Naruto. Issei juga telah mengaktifkan Secread Gearnya berupa tangan Naga yang ada di tangan Kanannya.
Naruto bersiul sebentar, Sesaat kemudian Dia mendorong Akeno kedepan tapi Akeno terjatuh terlebih dahulu, Akeno sedikit meringis kesakitan sambil memegang kedua lututnya. "S-sakit", rintih Akeno.
Naruto kemudian mengangkat tubuh Akeno dengan menarik tangannya hingga Akeno kembali berada didekapan Naruto. "Lihat, dia tidak bisa berjalan sekarang. Tapi kalau kalian ingin mengambilnya, silahkan", kata Naruto sambil menyeringai.
Issei menggertakkan Giginya, dia kemudian berlari kearah kearah Naruto. "Enyahlah kau Brengsek!", kata Issei sambil mencoba menghantamkan tangannya ke wajah Naruto.
Grep.
Sebelum tangannya mencapai wajah Naruto, sebuah tangan menghentikan pukulan Issei dari samping dengan memegang pergelangan tangan Kiri Issei. Dia adalah Hyuuga Hinata, Jack Keluarga Phoenix.
Hinata memandang Issei dengan pandangan Datar, Dia kemudian membuka telapak tangannya. Sebuah Lingkaran sihir berwarna Biru tua senada dengan rambutnya keluar dari telapak tangan Hinata.
Jyuuken!
Hinata mengucapkan mantranya sambil menghantamkan lingkaran itu keperut Issei. Issei sedikit membelalakkan matanya saat rasa perih hinggap di perutnya. Rasanya seperti ada yang menghantamkan perutnya dengan pukulan, bahkan Tombak cahaya tidak ada apa-apanya dibandingkan pukulan tadi.
"Uhhhukk. Ada apa dengannya?", tanya Issei sambil menatap Hinata.
Sedangkan yang ditatap hanya memasang wajah tanpa ekspresi. Asia yang merupakan Gajah skaligus Healing di keluarga Gremory langsung mendekati Issei yang terduduk sambil memegangi perutnya.
"Issei-san, Kau tidak apa-apa? Aku akan mengobatimu segera", ujar Asia, dia kemudian menyodorkan kedua tangannya didepan perut Issei, dua buah cincin muncul di jari-jari tengah Asia sesaat kemudian sebuah sinar hijau keluar dari tangan Asia dan langsung menyembuhkan Luka yang ada diperut Issei.
Issei bangkit dari posisinya tadi, "Terimakasih Asia", kata Issei. Dia kemudian kembali memandang Hinata.
"Siapa kau?", tanya Issei.
"Hyuuga Hinata, Jack", kata Hinata.
"Hm~ Aku akan menunggumu diatas, Rias, Sona. Kita buktikan siapa yang paling cocok untuk menjadi pemenang", kata Naruto.
"Untuk sekarang, kau boleh melawan bawahanku. Dan kau Sasuke, bantu teman kita yang sedang kesusahan, bila perlu tidak usah sungkan-sungkan mengeluarkan seluruh kemampuanmu", ujar Naruto pada Sasuke. Tanpa menunggu jawaban Sasuke, Naruto mengeluarkan Api biru dari punggungnya.
"Sampai Jumpa", kata Naruto kemudian dia terbang menuju sebuah gedung paling tinggi di Kuoh Gakuen.
"Cih, kemari kau pengecut!", teriak Issei. Kini mereka berhadapan dengan Kubu Phoenix. Koneko si banteng Keluarga Gremory manju selangkah didepan mereka semua. Dia mengeratkan sarung tangan tanpa jari di tangannya.
"Minna, Aku yang akan mengurusnya. Sebaiknya kalian duluan saja", kata Koneko. Saji kemudian melangkah sehingga dia dan Koneko sejajar. Saji kemudian mengembangkan senyumannya.
"Aku akan membantumu Koneko-chan", ujar Saji sambil mengeluarkan Secread Gearnya berupa Bunglon berwarna Biru tua. Shikamaru, Ravel, Ayame dan Sasuke kemudian menghilang melalui lingkaran Sihir sehingga tinggal mereka bertiga yang ada disana.
Koneko lebih dulu maju dengan berlari dan jangan lupakan Posisi kedua tangannya yang berada didepan dada.
Hinata hanya memandang Koneko dengan pandangan datar. Dia juga sedikit menaikkan tangannya, Matanya Putihnya memfokuskan pada tubuh Loli Koneko. Hinata juga berlari kearah Koneko dengan kecepatan sedang.
Beberapa Centi sebelum wajah mereka bertemu, Koneko mengarahkan pukulan pada tangan Kirinya kepipi Kanan Hinata. Hinata juga mengarahkan pukulan pada tangan kanannya ke pipi kiri Koneko. Tapi pukulan Koneko hanya mengenai pergelangan tangan Kanan Hinata, Begitu pula dengan Hinata, pukulannya hanya mengenai pergelangan tangan Koneko.
Hinata kemudian memberi tendangan pada Perut Koneko Tapi Koneko menaikkan kakinya sebelah sehingga tendangan Hinata berhasil dia blok. Hinata kemudian melompat kebelakang.
Hinata kembali berlari kearah Koneko dan melompat keudara, dan langsung memberi tendangan Tumit kearah kepala Koneko.
Koneko kembali menangkisnya dengan lengan Kirinya, setelah dia menemukan celah, Koneko langsung menarik kaki kiri Hinata dengan tangan kanannya. Koneko menyeringai sedikit, "Jangan pernah memperlihatkan celah pada musuh", katanya, Koneko kemudian melempar Hinata hingga membentur salah satu pohon yang ada didekatnya.
Darah sedikit keluar dari mulut Hinata, mungkin karena benturan yang terlalu kuat mengenai punggungnya.
Hinata kemudian bangkit sambil mengusap sedikit Darah yang berada dibibirnya, Dia tetap menggunakan pandangan datarnya. Dia mengadahkan telapak tangannya, sesaat kemudian muncullah lingkaran sihir dan sebuah aura berwarna biru. Hinata kemudian melesat kearah Koneko.
.
.
.
Sementara itu didimensi lain, Dua orang bertudung kini berdiri didepan Seorang gadis kecil berambut hitam. "Jadi kapan kita akan kesana Ophis?", tanya salah satu dari orang bertudung tadi. Ophis hanya menyeringai, disamping Ophis terdapat Pria berambut putih, Dia adalah Vali.
"Mungkin sebentar lagi adalah waktu yang tepat", kata Ophis.
.
.
.
DUAAK
Saji terlempar kebelakang akibat terkena Jyuken Milik Hinata, darah keluar dari mulutnya. Saji kemudian mengusap darah yang ada dimulutnya. Dia kemudian menatap Scred Gear yang ada di tangannya. Secred Gearnya menyala-nyala.
Koneko yang ada masih berdiri didepan Saji, dia memandang Hinata tajam. Dia kemudian berlari kearah Hinata. Tapi Hinata memasang posisi lain, Kakinya yang sebelah kanan berada didepan dan ditekuk sedangkan kaki sebelah kirinya dibiarkan memanjang. Posisi tangannya yaitu telapak tangan menghadap kedalam. Sebuah lingkaran sihir Yin dan Yang muncul dibawah tubuh Hinata dan Koneko.
"Kau sekarang berada di dalam Jangkauan Sihirku", ujar Hinata dengan nada datar.
Hakke Rokujūyon Sho!
Hinata maju dengan kecepatan tinggi, ketika dia berada didekat Koneko dia langsung menghantamkan tangannya ke perut Koneko sebanyak dua kali. Uhuk. Koneko memuntahkan darah saat menerima Jyuuken Hinata.
Hinata kemudian memutar badannya kearah kiri, dia kemudian kembali menghantamkan Jyuukennya kebagian dada Koneko sebanyak empat kali.
Hinata kemudian merundukkan badannya, dia kemudian menghantamkan Jyuukennya kebagian pundak Koneko sebanyak delapan kali.
Hinata kemudian memutarkan tubuhnya kekanan, dia kembali menghantamkan Jyuukennya kepaha Koneko sebanyak enam belas kali.
Hinata kemudian menaruh kedua tangannya dipinggannya, dia kemudian kembali menghantamkan Jyuukennya sebanyak Tiga puluh dua kali kepundak Koneko. Sedangkan Koneko kembali memuntahkan darah lumayan cukup banyak.
'Yang terakhir', batin Hinata.
Hinata kemudian menaruh kedua tangannya di kedua pinggangnya. Dia kembali menghantam Jyuukennya ke seluruh tubuh Koneko. '60, 61, 62, 63...'.
SRET
Sebuah tali berwarna ungu menghentikan pukulannya yang terakhir, Hinata menatap Saji. Mata sebelah kanannya berwarna gelap dan ungu. Saji menarik paksa Hinata hingga dia mendekat kearah Saji, beberapa meter kemudian Saji memberi tendangan pada pipi Hinata sehingga Hinata kembali terpental namun tali itu masih mengikat lengan Hinata.
'Tenagaku sudah habis, mustahil bila aku masih bisa melawannya', batin Hinata.
Saji kembali menarik Hinata hingga Hinata kembali terseret diatas Tanah.
SWUUSH
Sebuah panah berwarna ungu memotong Tali Saji, Saji menatap orang itu, dia adalah Sasuke yang sudah dilapisi Armor makhluk astral berwarna biru tua, busur berada ditangan kanannya dan Anak panah terdapat di tangan kirinya. Sasuke memandang Saji datar, "Sasuke, jangan terlalu memaksakan dirimu, kalau kau terus seperti ini maka tubuhmu akan terkena efek sampingnya", Ujar Susano'o didalam Tubuh Sasuke.
'Hn, Aku akan baik-baik saja', kata Sasuke dalam hati.
Susano'o hanya menghela nafasnya, dia dan Madara sama saja. Sasuke kemudian melesat kearah Saji dengan Genggaman dari tangan Susano'o. Dia kemudian menghantamkan tangan besar Susano'o-nya dari atas tubuh Saji.
DUAAR
Ledakan besar tercipta, Saji berhasil menghindarinya karena dia melompat kearah kanan. Sasuke yang melihat Saji yang masih berada di udara langsung menggunakan tangan besar Susano'o untuk memanah Saji. Sasuke kemudian menutup mata kirinya, "Selamat tinggal", kata Sasuke, Dia kemudian melepas tali busur itu sehingga panah Sasuke melesat kearah Saji.
"Kuso, panahnya sangat cepat", ujar Saji. Dia berhasil menghindari dengan melompat keatas, Sasuke menyeringai. Dia kemudian mempercepat pembuatan anak panahnya walau itu akan menguras banyak tenaganya. Dia kembali menarik busur yang ada ditangan kanannya, dan anak panah itu kembali melesat namun anak panah itu mengenai...
Koneko.
Koneko terjatuh pada tangan Saji, mereka kemudian turun diatas tanah. Dia menggoyangkan tubuh Koneko, "Koneko-chan... kenapa?", tanya Saji.
Koneko membuka matanya, lemah. Dia menatap Saji, "Aku akan tidak berguna. Seluruh aliran darahku tertutup gara-gara gadis Hyuuga tadi", katanya. Saji membelalakan matanya, perlahan tubuh Koneko menjadi partikel cahaya dan menghilang.
Benteng keluarga Gremory sudah dikalahkan!
Sebuah suara wanita terdengar, seluruh orang yang memainkan Rating Game saat itu tercengang kecuali Naruto yang hanya menyeringai, didekapannya terlihat Akeno yang hanya tertidur lemah, mungkin masih lemas.
Kembali kepertarungan Sasuke dan Saji, "Lumayan", kata Sasuke dengan nada datar.
"Ayo kita akhiri ini dengan cepat", ujar Sasuke. Sebuah kepalan tangan besar dari tangan makhluk yang mengelilingi tubuh Sasuke membesar kemudian Sasuke langsung menghantamkannya ke tubuh Saji.
DUUAR
Bidak Keluarga Sitri sudah dikalahkan!
Ledakan kembali terjadi, sesaat setelah debu yang mengelilingi area itu reda, terlihat tubuh Saji yang perlahan berubah menjadi partikel cahaya kemudian menguap, Sasuke hanya memandang itu datar. DEG. "Uhukk", Sasuke langsung memuntahkan darah, dia jatuh terduduk sambil mendekap mulutnya.
"Bukankah sudah aku bilang untuk tidak memaksakan dirimu? Sekarang ini yang kau dapatkan akibat ambisi bodohmu itu", Ujar Susano'o dalam tubuh Sasuke.
'Tidak apa-apa', balas Sasuke. Dia kemudian bangkit mendekati tubuh lemah Hinata, Sasuke kemudian menggendongnya ala Bridal Style, dia memfokuskan dirinya, sesaat kemudian sebuah sayap Api berwarna Hitam muncul dipunggungnya, dia kemudian terbang menuju arah Naruto saat ini.
... Naruto Phoenix ...
Rias, Sona, Tsubaki, Asia, Issei dan Kiba yang mendengar Kalau Koneko dan Saji telah dikalahkan menggeram marah. Dia menatap Shikamaru, Ayame dan Ravel yang ada didepannya dengan tatapan tajam.
"Ya ampun, 6 Vs 3, apa ini tidak terlalu berlebihan?", ujar Shikamaru dengan nada yang bisa dibilang bosan. Shikamaru menatap musuhnya yang ada didepannya itu dengan tatapan bosan, 'Gara-gara si Naruto itu aku jadi ikut-ikutan dalam masalah merepotkan ini', batin Shikamaru.
Kiba melesat terlebih dahulu dengan pedang yang ada dipinggannya.
TRANK
Sebuah bayangan hitam menjadi penghalang pedang Kiba yang ingin menebas Shikamaru dari depan. Kiba kemudian melompat mundur kebelakang, "Pengguna Sihir bayangan rupanya kau", ujar Kiba.
Terlihat sebuah lingkaran sihir didepan tangan Shikamaru, Sedangkan Shikamaru hanya tersenyum mengejek. "Terlalu cepat untuk melukaiku, Yuuto-san", kata Shikamaru.
"Buchou, Kaichou, Issei-kun, kalian cepatlah keatas. Yang disini biar kami yang mengurusnya", ujar Kiba, mereka bertiga mengangguk, mereka bertiga kemudian menaiki tangga menuju tempat terakhir mereka yaitu Naruto dan Akeno yang berada dilantai teratas.
"Hei, jangan main perg-"
TRANK
Belum selesai Shikamaru berbicara. Kiba kembali melayangkan serangannya kearah Shikamaru, tapi keuntungan miliknya karena dia memiliki insting yang kuat sehingga dia bisa merasakan kehadiran Kiba yang ingin menebas kembali tubuhnya.
"Jangan pernah mengalihkan pandangan dari musuhmu", kata Kiba. Shikamaru kembali menyeringai.
"Ayo kita buktikan kepada mereka seberapa kuat keluarga Phoenix, Ayame, Ravel", ujar Shikamaru, Ravel dan Ayame mengangguk. Ravel mengeluarkan elemen api dari punggungnya sedangakan Ayame mengeluarkan sebuah tongkat kayu.
"Ayo Mulai!", teriak Shikamaru.
.
.
Rias, Sona dan Issei kini menaiki tangga menuju tempat Naruto dan Akeno, Dia kemudian membuka pintu didepannya dengan cara menendangnya hingga pintu itu terpental. Terlihat Naruto tengah duduk dengan Akeno yang ada dipangkuannya, Keluarga Gremory itu melangkah dan berhenti sejajar beberapa meter didepan Naruto.
"Lepaskan Akeno-senpai!", teriak Issei.
Naruto menyeringai, dia kemudian bangkit dari tempatnya duduk, dia memegang pundak Akeno agar dia tidak terjatuh. Namun hal yang tidak diinginkan terjadi. Tiba-tiba Akeno meluruskan telapak tangannya dengan telapak tangan yang ada didepan, sebuah lingkaran sihir muncul dan petir keluar dari sana.
Rias, Sona dan Issei melompat berpencar sehingga petir Akeno hanya mengenai tanah. Issei terkejut, dia kemudian memandang Akeno dengan tatapan tidak percaya. "Akeno-senpai, apa yang kau lakukan?!", teriak Issei.
Naruto kembali menyeringai, "Lihat, dia sekarang adalah milikku. Kalian sudah terlambat menyelamatkannya, dan kini dia sudah berpaling kepadaku", kata Naruto.
Issei menggeram marah, Dia kemudian menaruh tangannya didepan dadanya. Sarung tangan Issei kemudian mengeluarkan sinarnya, "Tidak akan aku maafkan... TIDAK AKAN AKU MAAFKAN!", teriak Issei.
BOOST! BOOST! BOOST!
Issei langsung melesat kearah Naruto, tapi tiba-tiba Akeno muncul didepannya. Issei yang menyadari itu langsung menghentikan pukulannya, dia kemudian melompat mundur. Naruto yang melihat itu kembali menyeringai, dia kemudian mendekati Akeno lalu membalikkan tubuh Akeno sehingga punggung Akeno menghadap kearah issei.
KRESSS
Tanpa aba-aba, Naruto langsung merobek baju Akeno bagian punggungnya. Mereka bertiga tercengang, bukan karena apa tapi karena tanda burung Phoenix berwarna biru terdapat dipunggung Akeno. Naruto kemudian melepas Shirt hitam yang mengelilingi tubuhnya, dia kemudian memakaikannya pada Akeno. [A/n : Karena seragamnya berlapis dua, yang pertama Shirt putih lalu dilapisi oleh Shirt hitam].
Issei menggertakkan giginya sehingga menimbulkan suara gesekan yang cukup bisa didengar oleh Naruto.
Naruto kemudian maju didepan Akeno, "Aku dengar kalau kaulah orang yang telah memukul Aniki-ku. Jadi bagaimana kalau kita menguji dulu, Apa nagamu yang menang atau apiku yang menang?", tawar Naruto.
Naruto kemudian menatap Rias dan Sona, "Kalau kalian ikut campur...", ujaran Naruto terpotong saat seseorang yang sangat Familiar muncul dibelakangnya, "Dia akan menghabisi kalian", sambung Naruto. Orang yang datang itu adalah Sasuke dan Hinata yang ada digendongan ala Bridal Sasuke.
Sasuke hanya memandang Rias dan Sona datar.
Naruto kemudian maju beberapa langkah, dia menaruh kedua tangannya disaku. Sedangkan Issei, dia mempersiapkan dirinya dengan Secred Gear yang sudah aktif.
Perlahan api biru mengelilingi tubuh Naruto, Api biru Naruto kemudian membentuk sayap dan bagian api yang lainnya memutar mengelilingi kedua lengan Naruto sehingga kini lengannya sudah dilapisi oleh Pelindung berupa Api.
Naruto kemudian berlari dibantu dengan sayap yang ada dipunggungnya menuju arah Issei. Setelah mereka dekat, Naruto langsung menghantamkan tangannya ke wajah Issei, 'Sekarang adalah saat yang tepat untuk membalasnya', batin Naruto.
Issei menangkisnya dengan menyilangkan kedua tangannya didepan wajah, Naruto kemudian melompat ke udara. Seluruh Apinya ia kumpulkan di tangan kanan sehingga Api berkobar dengan ganas pada tangannya.
"MATII!", teriak Naruto.
Dia melesat turun dengan kecepatan tinggi.
DDUARR
Debu mengelilingi tempat itu, perlahan debu itu menghilang. Dan terlihat Issei dengan Mode Balance Breaker. Seluruh tubuh Issei dilapisi oleh armor menyerupai Naga. Naruto kembali menyeringai. "Bagus, itulah yang aku inginkan", kata Naruto.
Naruto mengerahkan seluruh tenaganya, perlahan tubuhnya dilapisi oleh Api biru, Rias dan Sona terkejut melihat perubahan Naruto. "Kau akan menyesal telah berurusan denganku", kata Issei. Issei kemudian melesat dengan kecepatan tinggi kearah Naruto, Dia kemudian memberi tendangan pada perut Naruto.
Naruto menghilang, dia kemudian muncul dibelakang Issei. Naruto kemudian mendendang punggung Issei tapi tangan Kanan Issei lebih dulu menangkisnya, Issei kemudian mengambil tangan Naruto lalu menariknya dengan paksa, Iseei yang mihat wajah Naruto yang berada didekatnya langsung menghantamkan pukulannya ke wajah Naruto.
Naruto mundur beberapa langkah kebelakang, Dia menatap bengis Issei. 'Kurama, aku butuh bantuanmu', batin Naruto.
Ketentraman Kurama terganggu, dia kemudian menghela nafasnya. "Terserah", Balas Kurama dengan nada acuh. Perlahan tubuh Naruto dilapisi oleh jaket berwarna kuning, (Mode Bijuu saat PDS Ke-4). Tangan besar muncul dibelakang Naruto dan langsung menyergap Issei dan mengangkatnya keudara.
Naruto menyeringai, dia kemudian menghantamkan tubuh Issei kembali ketanah, ledakan kembali memenuhi atap sekolah itu. Terlihat Issei berada didalam genggaman tangan besar Kurama. Naruto kemudian menarik Issei hingga dia berada didepan tubuhnya. Naruto menatap Issei dengan tatapan bengis, tanpa aba-aba Naruto langsung menghantamkan pukulannya kewajah Issei yang berlapis armor itu.
BUAG
BUAG
BUAG
KRAK
PRANG
Perlahan armor yang melapisi wajah Issei perlahan hancur dan menampakkan wajah Issei yang sedikit lebam. Naruto kembali menghantamkan pukulannya kewajah Issei, Rias hendak maju tapi Sasuke lebih dulu ikut maju.
Naruto kemudian mencengkram leher Issei, "SEKARANG BAGAIMANA HAH?! APA KAU SUDAH MERASAKAN APA YANG DIRASAKAN ANIKI-KU?! RASANYA SAKIT, DAN KALI INI KAU JUGA AKAN MENIKMATINYA HYODOU ISSEI!", teriakan Naruto menggelegar disana. Naruto kemudian menaikkan cengkramannya.
"Naruto, waktumu sudah habis. Kau tidak akan bisa menggunakanku selama benerapa menit", Perkataan Kurama bagaikan angin lalu bagi Naruto. Dia terus menggunakan Kekuatan Kurama pada tangan yang memukul wajah Issei.
"Apa permainan anak-anak ini sudah selesai?", tanya Seseorang.
Naruto merubah arah pandangnya, dia kemudian menatap langit. Terlihat sebuah celah dimensi muncul disana, kemudian keluarlah dua orang bertudung oleh jaket berwana coklat. Mereka berdua mengadahkan telapak tangannya, orang yang disebelah kanan itu mengeluarkan api Kuning, sedangkan orang yang berada disebelah kiri itu mengeluarkan api berwarna putih.
Api putih dan Api kuning?
Orang yang memiliki api kuning itu langsung menghilang dan muncul didepan Sasuke, dia kemudian menghantamkan perut Sasuke beberapa kali. UHUK. Sasuke kembali memuntahkan darah, Hinata yang berada digendongan Sasuke terjatuh diatas tanah.
JRAAS
Tangan orang yang menyerang Sasuke menembus perut Sasuke dengan empat jari yang menajam.
"Sasuke!?", teriak Naruto. Dia kemudian melepar tubuh Issei sembarangan, Mode Kurama sudah hilang karena sudah mencapai batas waktu.
WWUUSHH
JRRASS
Seseorang pengendali Api putih itu muncul didepan Naruto dan langsung menembus perut Naruto dengan tangannya. Naruto memuntahkan darah yang lumayan banyak, Dari tangan orang yang menembus tubuh Naruto itu mengeluarkan cahaya berwarna putih, perlahan orang itu mengeluarkan tangannya dan digenggamannya terdapat sebuah Api biru dan sebuah cahaya kuning, dia telah berhasil mengambil inti dari kekuatan Naruto dan Kurama.
Begitu pula dengan Sasuke, orang yang menembus perut Sasuke berhasil mengambil Api biru dan kekuatan Susano'o milik Sasuke.
Setelah mereka menariknya, tubuh Naruto dan Sasuke terjatuh dengan lemas duatas tanah dan jangan lupakan darah yang terus menetes dari perut mereka. Orang yang menembus tubuh Sasuke tadi memandang Issei yang terjatuh lemah dipangkuan Rias.
"Apa kita lerlu mengambil kekuatan Sekiryuute itu?", tanyanya. Orang yang menembus perut Naruto tadi menggeleng.
"Kalau Sekiryuute itu biarkan Ophis yang mengurusnya", balasnya. Mereka kemudian kembali hilang tertelan oleh dimensi lain.
Joker(putih) keluarga Phoenix telah dikalahkan!
Joket(hitam) keluarga Phoenix telah dikalahkan!
Bidak keluarga Gremory sudah dikalahkan!
Suara itu menghentikan pertempuran Antara, Kiba, Tsubaki dan Asia melawan Shikamaru, Ravel dan Ayame. Ravel membelalakkan matanya, Kakaknya sudah dikalahkan. Ayame juga melebarkan matanya tidak percaya. 'Naruto-sama', batin Ayame sambil menutup mulutnya.
Mereka semua menghentikan pertarungan mereka, dia kemudian mengeluarkan sayapnya masing-masing lalu terbang menuju tempat Naruto berada.
.O.o.O.o.O.
Setibanya di tempat Naruto. Shikamaru, Ravel dan Ayame pangsung berlari menghampirinya, Shikamaru menuju arah Sasuke yang tengah sekarat. Ravel langsung memangku kepala Naruto. "Nii-san, Bangun!", ujar Ravel.
Ayame ikut duduk bersimpuh disamping Naruto, keadaan Naruto begitu mengenaskan kali ini. 'Tubuhku tidak bisa bergerak tadi', batin Akeno. Ravel dan Ayame kemudian mengangkat tubuh Naruto disebelah kiri dan kanan.
Shikamaru mengangkat tubuh Sasuke, sedangkan Akeno mengankat tubuh Hinata karena pada saat itu Hinata masih belum sadarkan diri.
Ravel memandang tajam Rias yang ada didepannya.
"Urusan kita belum selesai Gremory", ujar Ravel.
"Maaf Buchou, sepertinya aku tidak bisa lagi bersamamu", ujar Akeno.
To Be Continue..
Yeeyyy. Selesai juga chapter ini, kalau ada yang belum paham silahkan ditanyakan. Di fanfic ini Chara Dxd hanya pembantu saja.
Sekedar info:
1. Red Fire :
-Attack : Medium
-Timer : Medium
-Speed : Medium
2. Black Fire :
-Attack : Low
-Timer : High
-Speed : Medium
3. Blue Fire :
-Attack : High
-Timer : Low
-Speed : Medium
4. Yellow Fire :
-Attack : Medium
-Timer : Medium
-Speed :High
5. White Fire
-Attack :High
-Timer : High
-Speed : Medium
Fyuuhh. Itulah perbedaan kekuatan setiap elemen api. Kalau ada yang ingin ditanakan jangan sungkan-sungkan ya. Ingat kata pribahasa, 'Malu bertanya, sesat dijalan'.
Id Line : noshy_outsiders.
