Snow~

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuXSaku

Summary :

Apakah rasa cintaku kepadamu akan sama seperti salju cantik yang turun malam ini? Mencair kemudian memudar. Seolah bongkahan salju itu telah lenyap dengan sendirinya. Menghilang tanpa meninggalkan jejak. Menghilang… dan takkan pernah kembali lagi...

WARNING : Romance/ Angst/Hurt/Comfort, IC, Typo(s) & MissTypo(s), Gaje, Pemula, Don't Like don't Read!

Chap 3 hadirrrr~ xDD

*Apdet cepet

Hima rasa ff chap 3 ini gregetnya semakin menurun QwQ

Hima ga tahu kenapa rasanya chap 3 ini semakin jelek Dx

*aslinya emang jelek kali

Gomen, Hima paling lemah masalah deskripsi jadi kalau deskripsinya jelek mohon dimaafkan (_ _)

En Hima mengucapkn terima kasih sekali buat yang telah me review OuOv

Buat yang belum mereview, mohon direview ya kalau berkenan OuOv

Oke, hepi riding ya guys! :3


.

.

.

.

.

Aku yang selalu mencari sosokmu

Dan berharap kau kembali

Menghapuskan keraguanku

Seluruh Kekhawatiranku

Dan aku yang selalu berharap

Agar kau kembali

Mengisi hari-hariku yang sepi tanpamu

Dan aku yang selalu saja berharap

Agar kau tak pergi

Meninggalkanku sendiri

Tanpamu

Tanpa hadirmu

Dan aku selalu berharap

Tuhan

Sekali lagi

Pertemukanlah aku

Sekali lagi

Sekali lagi saja

Dengan dirinya

Dengan gadis yang kucinta

.

.

.

.

.

Aku menghela nafas. Entah sudah berapa lama aku menghela nafas sperti ini. Aku tidak mengerti. Dan aku tidak mau tahu. Otakku sudah terlalu lelah untuk dapat memikirkannya. Aku tesenyum miris.

"Sasuke-kun…"

Kualihkan pandangan menatap jendela di samping belajarku. Yang berwarna biru. Dan nampak tua selaras dengan bingkai foto yang tengah kupegang. Sejenak aku terdiam. Memandangi bongkah demi bongkah salju yang turun saat ini. Salju putih bersih. Halus dan terasa dingin itu. Salju itu turun. Bongkahan salju itu terus turun hingga terjatuh bebas di permukaan tanah yang sudah menebal karena tertumpuk jutaan bongkahan salju yang lain. Salju itu mencair dan memudar. Diiringi dengan bongkahan salju lain, yang melakukan hal yang sama. Mencair kemudian memudar. Seolah bongkahan salju itu telah lenyap dengan sendirinya. Menghilang tanpa meninggalkan jejak. Menghilang… dan takkan pernah kembali lagi.

Apakah rasa cintaku kepadamu akan sama seperti salju cantik yang turun malam ini?

Mencair dan Memudar.

Mencair. Lalu Memudar.

Aku mengeleng kuat-kuat. Bodoh. Apa yang barusan kupikirkan? Membandingkan cintaku kepadamu seperti bongkahan salju yang telah lenyap itu? Tidak. Kau tidak cocok dibandingkan dengan salju itu. Kau tidak pantas untuk diumpamakan seperti itu. Kau terlalu sempurna untuk disamakan seperti itu. Tidak. Sama sekali tidak.

.

.

.

.

.

"Nee, Sasuke-kun"

"Hm?"

"Aku ingin menjadi salju itu,"

"Nani?" Ia menatapku lekat-lekat.

"Aku- Aku ingin menjadi seperti bongkahan salju itu," Tunjuknya pada bongkahan salju yang turun.

"Doushite?" Ia mengalihkan pandangan menatap salju yang perlahan jatuh di depan matanya. Kemudian tersenyum kecil. Seperti sebuah senyuman yang dipaksakan.

"Karena- Karena aku ingin mencair dan memudar," Aku menatapnya heran. Ia mengeluarkan senyumnya lagi.

"Aku ingin- Mencair. Memudar.-" Ia menghentikan ucapannya. Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan kembali perkataannya.

"… Dan kemudian lenyap," Ia menatapku lagi. Dengan senyum lemahnya.

"Doushite? Kenapa? Kenapa kau ingin lenyap?" Ia mendongak menatap langit. Memandangnya dengan sebuah tatapan sendu.

"Karena- aku tidak ingin keberadaanku ada di dunia ini. Aku tidak ingin menjadi sebuah beban. Aku ingin mencair. Memudar. Dan kemudian lenyap di hati semua orang," Aku menatapnya tidak mengerti.

"Apa maksudmu? Beban? Apa kau fikir keberadaanmu selama ini hanya menjadi beban? Tidak. Itu tidak benar Sakura," Aku berusaha mengucapkan kata semampuku. Meskipun aku tidak benar-benar mengerti apa yang sedang dimaksud gadis yang tengah bersamaku ini.

"Sasuke-kun… Tidak akan mengerti," Ia memandangku lagi dengan tatapan lemahnya. Sebuah tatapan yang sejenak mengusik pikiranku. Dan membuat batinku sedikit bergejolak.

"Bagaimana bisa aku mengerti sedangkan kau saja tidak pernah memberitahukanku apapun," Aku menatapnya dalam-dalam. Berusaha agar gadis ini nyaman berada di sisiku. Sehingga ia dapat menceritakan segala keluh kesahnya padaku.

"Gomen- aku tidak mau merepotkanmu," Ia tersenyum lagi. Senyum yang membuatku benar-benar tidak mengerti.

"Doushite?"

" Karena-" Ia menghela nafas sebelum melanjutkan perkataanya. Mendongak langit sebentar untuk waktu yang cukup lama. Sedetik kemudian berganti menatapku kembali.

"Karena… aku ingin segera lenyap dari dunia ini," Kali ini ia tersenyum manis. Manis sekali sampai-sampai aku tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Tenggorokanku seperti tercekat dan suaraku seakan menghilang tak bersisa. Aku hanya bisa menatapnya. Menatapnya dengan dalam dan dengan pandangan penuh ketidakpahaman. Matanya yang bulat. Polos dan menatapku lurus dengan sebuah pandangan yang seakan-akan rapuh itu membuatku terdiam untuk bebarapa saat. Dengan sesungging senyum di bibirnya yang mungil. Senyum yang lemah dan nampak tak berdaya itu membuatku kehilangan kata-kata. Benar-benar kehilangan kata-kata. Sungguh aku tidak mengerti. Tentangnya. Tentang senyumnya. Dan Tentang semua bongkahan salju itu.

.

.

.

.

.

*Flashback

Sial. Kenapa musim dingin selalu saja terasa dingin dan membekukan? Tubuhku seakan mati rasa. Otakku hampir saja tidak bisa berpikir lagi karena kedinginan. Jemariku bahkan terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Aku mendesah berat.

Musim dingin memang identik dengan hawa dingin yang mematikan. Apalagi di daerah ini. Selalu saja saljunya lebih banyak daripada di daerah lain. Selalu saja saljunya lebih menumpuk daripada di daerah lain. Selalu saja saljunya lebih dingin dibanding daerah lain. Selalu saja saljunya hampir membuatku mati kedinginan! Aku merapatkan jaketku kesal.

Kalau saja ini bukan perintah Okaa-san yang menyuruhku mengantarkan makanan ini untuk Paman Madara, sudah dari tadi aku akan kembali ke rumah. Berselimut dengan selimut yang tebal. Dengan secangkir coklat hangat dan tentu saja dengan iringan sebuah lagu yang kusukai. Judulnya adalah Story about us. Lagu yang selalu kudengar setiap saat. Lagu yang hampir kuputar setiap saat. Dan sungguh aku sangat menyukai lagu itu!

Hhh. Aku mendesah panjang. Desahan yang bercampur gemetar dari suaraku yang semakin mengggigil kedinginan. Sudah berapa kali lamanya aku merutuk sial pada hawa dingin ini. Aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanyalah cepat-cepat mengantarkan kiriman ini untuk Paman Madara, dan segera kembali pulang ke rumah dengan cepat. Dengan segelas coklat hangat,. Dengan selimut tebal yang membungkus tubuhku sehingga aku tidak merasa kedinginan lagi, dan-

Belum sempat aku membayangkan imajinasi yang bermacam-macam, langkah kakiku tiba-tiba terhenti. Mataku tertuju pada sosok seseorang yang berada tepat di hadapanku. Yang tengah duduk manis di bangku putih panjang di tengah-tengah taman kota sembari merapatkan jaketnya. Entah kenapa lidahku terasa kelu. Apa karena aku semakin kedinginan? Bukan. Sepertinya bukan karena itu.

"Hng- Nani?" Ia menatapku seolah tau keherananku padanya. Aku terkesiap kaget. Ada rasa malu yang tiba-tiba saja menyergapku.

"Ano- Tidak," Aku menggaruk kepala yang tidak terasa gatal. Gadis itu mengalihkan pandangannya dengan acuh tak acuh ke arah langit. Tempat bongkahan-bongkahan salju itu turun. Penasaran, aku pun mencoba mendekatinya.

"Ngg- Apa yang sedang kau lakukan disini?" Ia menoleh kepadaku sebentar. Dengan tatapan polos dan seolah lemah itu. Kemudian berganti mendongak menatap langit lagi.

"Tidak ada," Ia tersenyum tipis. Deg. Sejenak ada sesuatu yang terasa panas seakan menyelimutiku.

"Kalau begitu kenapa kau duduk disini? Bukannya akan lebih baik bila kau di rumah saja? Udara hari ini sangat dingin bukan?"

"Tidak apa," Ia menjawab cepat. Lagi-lagi dengan tatapan sendunya.

"Aku- sebenarnya aku sedang menunggu," Aku tersentak. Menunggu?

"Pacarmu?" Ia menggeleng. Ada perasaan lega kurasakan.

"Bukan apa-apa. Maaf ya telah mengatakan hal yang tidak penting untukmu," Ia tersenyum. Lagi. Dan kali ini senyumannnya manis sekali. Manis hingga degup jantungku berdegup cepat. Dan seolah udara di sekitarku terasa hangat. Apa ini?

"Namaku- Sakura Haruno," Ia meyambung perkataanya lagi. Kemudian mengulurkan tangannya pelan.

"Sasuke Uchiha," Aku membalas uluran tangannya. Tangannya yang terasa dingin dan lembut. Tangannya yang kecil. Tangannya yang entah kenapa dapat menggetarkan hatiku. Tangannya yang mengusik pikiranku. Hingga pandangan mataku tak bisa lepas menatap mata emeraldnya yang cantik. Hingga aliran darahku serasa terhenti ketika menatapnya. Hingga tubuhku terasa kaku. Dan jemariku terasa sangat keras. Aku mengatupkan rahang rapat. Sejenak aku paham. Benar. Aku telah jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada pandangan pertama. Jatuh cinta dengan kepolosannya. Dan tentu saja, jatuh cinta pada orang yang salah.

*Flashback end

.

.

.

.

.

Sejujurnya aku tak pernah menyesali

Pertemuan pertamaku denganmu

Rasa cintaku padamu

Dan sejujurnya aku selalu ingin

Tuhan tolonglah

Ubahlah takdir kami

Ubahlah nasib kami

Sehingga semuanya tak akan pernah

Berakhir seperti ini...


A/N:

Gimana? jelek ya? QwQ

Gomen Hima tau kemampuan Hima sebagai newbie emang jelek Dx

ehe QwQ

*malah curhat

Flame boleh, tapi yang membangun ya ^^v

Mind to Review? QAQ

Sampai jumpa di chap selanjutnya~ xDD