Warning: shounen-ai, au, dan mungkin beberapa karakter OC

Pairing: SasuNaru, GaaNaru, dan sedikit NejiGaa

A/N: Komentar, kritik atau saran yang membangun akan sangat dinantikan

DON'T LIKE DON'T READ

Happy Reading!

Gaara memandangi ruangan yang didominasi oleh warna merah itu. Maski bingung akan keadaan abad dimana ia direinkarnasikan ini, ia tau bahwa kini prioritas utamanya hanya satu,

Mendapatkan Naruto.


YxYxY

Naruto © Masashi Kisimoto

The Fate © cHizu drarryo

YxYxY


Pemuda itu masih terduduk di atas kasur berwarna merah darah miliknya.

Seragam yang mulai kusut tak menjadi masalah baginya. Toh ia sudah menjadi manusia biasa, bukan lagi seorang pangeran seperti dulu. Dan satu hal yang membuat pemuda ini masih tak bergeming dari tempatnya adalah sebuah foto. Tepatnya foto ia dan seorang pemuda pirang.

Tanpa sadar Gaara tersenyum. Harus ia akui, bahwa setelah beberapa abad ia pergi dari bumi Naruto yang dulu ia kenal sangat mirip dengan yang sekarang. Bukan hanya secara fisik, sifat Naruto yang ceria dan tidak patah semangat itu ternyata masih ada sampai sekarang.

Senyuman Gaara berubah menjadi raut kesal jika mengingat betapa buruk perlakuannya pada Naruto dulu.

Ia jelas dalam keadaan sadar saat menyeret paksa Naruto dari rumah Uchiha itu. Ia juga jelas berada dalam kondisi sehat saat memaksa Naruto tinggal bersamanya dan melupakan si Uchiha bungsu itu meski dia sendiri tau bahwa Naruto pasti menolak.

Dan yang paling membuat Gaara menyesal adalah ketika ia dengan amarahnya membunuh Sasuke Uchiha.

Bukan karena rasa tidak tega pada pemuda berambut hitam itu, tetapi karana untuk pertama kalinya Gaara melihat Naruto menangis. Ya, ia menangis. Tetapi bukan untuknya, melainkan untuk sang pemuda Uchiha. Dan betapa besar rasa sesal Gaara saat menyadari bahwa semua yang ia lakukan tak pernah membuat Naruto bahagia.

TOK TOK TOK

Bunyi ketukan pintu itu membuyarkan Gaara dari lamunan masa lalunya. Dengan langkah cepat ia berjalan kearah pintu dan membukanya.

"Lama sekali? Aku pikir niichan ketiduran," ucap seseorang di depan pintu.

Gaara sedikit tercengang melihat penampilan sang pemuda.. err adiknya itu. Jujur ia akui bahwa jika saat memakai pakai jaman kerajan Naruto terlihat imut, kini bisa dibilang kadar keimutan itu bertambah.

"Eh, ada apa? Apa niichan masih sakit?" tanya pemuda itu lagi sambil menyentuh kening Gaara.

"Aku tidak apa-apa," jawab Gaara kemudian.

Setelah mendapatkan jawaban dari kakaknya itu Naruto segera menyeretnya ke lantai bawah dimana Ayah dan Ibunya sudah berkumpul.

.

.

.

"Wah! Kau tampan sekali memakai seragam itu Gaara," kata-kata itu keluar dari mulut Kushina saat melihat kedua putranya turun dari lantai atas.

Naruto yang mendengarnya justru malah menggembungkan kedua pipinya. "Kalau Gaara-nii ganteng, aku apa?" tanyanya kemudian. Hal itu membuat semua yang ada disana tertawa. Bahkan jika dulu Gaara jarang tersenyum, kali ini ia justru tertawa kecil.

Tak ada yang menjawab omelan dari Naruto, semuanya masih tertawa sambil sesekali melontarkan candaan. Tapi siapa tau? Bahwa kini di hati Gaara yang paling dalam muncul suatu kelegaan. Setidaknya, kini ia bisa melihat tawa riang Naruto yang tidak pernah dia dapatkan saat masih jadi pangeran dulu.


Minato menghentikan laju mobilnya tepat di depan gedung bertuliskan 'KONOHA ELITE HIGH SCHOOL' itu. Dengan cepat kedua orang yang duduk di kursi penumpang segera keluar dari mobil. Sebelum pergi, pria berambut pirang itu menginstruksikan pada dua putranya untuk ke ruang kepala sekolah lebih dulu. Memasukkan murid yang sudah lama meniggalkan sekolah itu, cukup sulit bukan?

Langka kaki dua Namikaze itu berhenti di depan pintu bertuliskan 'HEADMASTER'.

Sambil mengepalkan tangannya, salah satu pemuda yang berambut pirang mengetuk pintu nerwarna coklat itu tiga kali. Setelah beberapa menit, ternyata ada jawaban dari sang empunya ruang, "Masuk!"

Naruto membuka pintu itu pelan lalu memberi isyarat pada kakaknya untuk mengikutinya. Setelah masuk mereka berdua segera duduk dihadapan pria berambut silver itu.

"Ho.. Selamat datang kembali Namikaze-san. Kuharap kau bisa membanggakan kami sama seperti saat kau bersekolah disini dulu," ucap sang Kepala Sekolah. Tak jelas pria itu sedang tersenyum atau tidak karena ada masker yang menutupi mulutnya.

Dua Namikaze itu mengangguk mantap. Dengan perintah Kepala Sekolahnya yang bernama Hatake Kakashi itu, keduanya segera beranjak dari sana menuju ke kelas Gaara saat ini. Kelas XI-1.


Gaara's POV

Bosan. Bingung. Kesal. Mungkin itulah gambaran perasaanku saat ini.

Bagaimana tidak bosan? Pelajaran sejarah yang dibawakan oleh Kurenai-sensei tidak menarik perhatianku. Sebabnya satu, semua yang dituluskan di buku ini sungguh jauh dari kenyataan. Masa' di buku tertulis kalau kerajaan Suna hancur karena banjir besar? Jelas-jelas bahwa Kerajaan itu hancur akibat keserakahan pemimpinnya sendiri. Akibat keserakahanku dulu.

Soal tentang 'bingung dan kesal' itu karena sejak tadi perempuan yang duduk diseberang tempat dudukku ini menatapku sambil tersenyum aneh. Memang sih dia cantik, tapi aku lebih suka yang manis .

Berbicara tentang 'manis', bagaimana keadaan Naruto ya?

Tanpa sadar kutolehkan kepalaku ke jendela. 'Kenapa menunggu jam istirahat saja terasa lama sekali sih?'

.

.

.

.

Normal POV

"Jadi, testis adalah tempat pembentukan sel sperma dan hormon Testoteron.. blablabla.." Guru cantik berambut hitam pendek itu tampak semangat menjelaskan meski semua yang ada disana -kecuali sang guru- sudah tepar ditempat duduknya masing-masing.

Tak terkecuali sang pemuda Uchiha. Mata onyx miliknya menatap jengah ke buku IPA di mejanya. Semakin bosan, Sasuke mengalihkan pandangannya pada pemuda di sampingnya yang sepertinya sudah tertidur pulas, terlihat dari gumaman tidak jelas yang keluar dari mulut si pirang.

Sasuke menyeringai sedikit. Tiba-tiba sebuah ide melintas dibenaknya, ide yang ia kira cukup 'menarik'. "Ku buat kau tidak bisa melupakan ini, Naruto." bisiknya pelan setengah mendesah di telinga Naruto. Kontan saja; secara reflek tubuh Naruto menggeliat sedikit.

Uchiha bungsu itu segera mendekatkan bibirnya dengan bibir tipis Naruto, mempertipis jarak antar keduanya.

TENG TONG TENG TONG

Tiba-tiba bel di sekolah itu berbunyi kencang. Tentu saja hal ini membangkitkan semangat para siswa-siswi KEHS* untuk bangun dari tidurnya.

Naruto yang pendengarannya sangat berfungsi jika urusan bel istirahat, langsung menengadahkan kepalanya. Hal yang salah memang, karena itu membuat rambut jabriknya 'menabrak' bibir si Uchiha.

DHUG

"Aduh! Apa-apaan sih ini?" teriaknya kesal sambil berdiri.

Sasuke yang sebenarnya malu langsung ikut-ikutan berdiri, "Ck, urusai baka Dobe," gumamnya cepat sambil berlalu keluar kelas.

Naruto sweatdrop, segera disusulnya Sasuke yang sepertinya sudah jauh di lorong sekolah bertittle Internasional itu.


"Argh.. Jika bel sialan itu tidak berbunyi terlalu cepat, aku pasti sudah berhasil mengerjainya," gumam Sasuke sambil berjalan di lorong yang sepi itu. Ya, seorang Sasuke mana mungkin berkata aneh jika ditempat yang banyak orang seperti kantin atau kelas. Ini adalah jalan menuju atap, tempat ia -dan Naruto- kadang menyendiri. Menatap langit biru tak ada salahnya kan?

KREK

Semilir angin langsung menyambutnya saat pintu tua itu terbuka. Dilangkahkannya kedua kakinya itu ke tempat dimana ia biasa tidur-tiduran menatap langit.

Betapa terkejutnya Sauke melihat pemandangan dihadapannya kini. "Gaara-san," ucapnya tanpa sadar.

Pemuda yang merasa namanya disebut itu segera membuka kedua matanya, menampilkan dua Jade yang menyorot tajam.

"Kau, Sasuke?" tanyanya sambil menegakkan tubuhnya.

"Sudah lama ya, kita tidak bertemu.." balas Sasuke datar. Mata onyx dan jade itu saling tatap, berusaha meyakinkan pemiliknya masing-masing kalau saat ini mereka tak bermimpi.

"Ya, lama sekali." Tentu ucapan Gaara barusan memiliki arti yang berbeda bagi dirinya dan Sasuke.

KREK

Pintu itu kembali berderit lalu terbuka. Darisana muncul sosok pemuda pirang, di tangannya tampak dua mangkuk ramen siap saji.

"Sasuke? Gaara-nii? Sedang apa kalian disini?" tanya Naruto sambil menutup pintu lalu mendekati keduanya yang masih terdiam.

"Darimana saja kau Naruto (Dobe)?" dua pertanyaan itu muncul bersamaan dari sang kakak dan pemuda raven.

Naruto lagi-lagi bingung, "Aku dari kelasmu Gaara-nii. Kata teman-temanmu kau tadi langsung keluar begitu saja. Dan kau Teme, tadi aku mencarimu ke halaman belakang tapi ternyata kau juga tidak ada," ucapan Naruto terpotong saat ia mengambil napas sejenak. "Ternyata kalian berdua disini toh.. kebetulan tadi aku beli ramen ini, meski cuma ada dua sih," terusnya cepat.

Akhirnya, setelah obrolan tidak penting antara Sasuke dan Naruto -yang membuat Gaara menatap Sasuke tajam-, pemuda pirang itu memutuskan untuk memakan ramen instannya. Tak lupa membagi satu cup ramen yang satunya untuk Gaara dan Sasuke.

Dua pemuda dihadapannya itu menatap kosong kearah cup ramen yang mengeluarkan asap tipis, menandakan bahwa sudah siap dimakan.

"Kenapa tidak ada yang makan? Kalau sudah dingin nanti jadi tidak enak lho," ucap Naruto yang kini memegang cup ramen dengan isi tinggal setengah.

Masih dalam diam, akhirnya Gaara mengambil cup ramen itu. Berbekal sumpit ditangannya, segera saja ia mulai mengambil ramen itu. "Kalau Gaara-san makan dengan sumpit itu, lalu aku pakai apa?" tanya Sasuke pada Naruto.

Naruto tersadar, segera saja ia lumat ujung sumpit ditangaannya. "Kamu pakai ini saja," ujarnya lalu menyodorkan sumpit itu pada si Uchiha. Gaara yang melihat itu langsung membelalakkan kedua matanya.

'Kalau si Sasuke itu memakai sumpit Naruto. Berarti secara tak langsung bibir Naruto akan kena bibirnya?' batinnya kaget atas pemikirannya sendiri.

"Tunggu dulu. Kau Uchiha, ini pakai saja sumpitku! Dan Naruto, kemarikan sumpitmu!" kata-kata itu keluar seiring dengan perebutan sumpit antara Gaara dan Sasuke.

Yah.. pada akhirnya sang cup ramen yang dibawa Sasuke terjatuh. Dan membuat sang pemuda pirang marah pada keduanya.


Mata jadenya kembali menatap bosan ke depan. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit lalu, kini ia hanya bisa merutuki perbuatannya tadi.

SREK

Pintu geser di kelas itu terbuka. Suaranya menyadarkan penghuni kelas dari kegiatan masing-masing.

Dari pintu itu muncul sang Kepala Sekolah dengan buku oranye-nya yang aneh. Tba-tiba saja terjadi bisik-bisik antara ia dan guru yang mengajar di kelas saat itu.

Setelah bisik-bibik yang aneh itu, dengan cepat Kakashi pergi darisana.

"Yak, perhatian semuanya!" teriak sang guru dengan suara toa-nya yang khas. "Hari ini, selain Gaara ternyata ada murid pindahan yang akan menjadi penghuni dari kelas ini. Silahkan masuk!" lanjut guru itu lalu mempersilahkan sang murid baru untuk masuk.

SREK

Pintu itu kembali terbuka. Darisana masuk seorang pemuda, lengkap dengan seragam khusus siswa KEHS. Tas berwarna hitam yang ia lampirkan dipundaknya tampak cocok dengan kulit putih susu dan rambutnya yang berwarna coklat. Siswi-siswi di kelas itu tampak memekik melihatnya

"Ok, silahkan perkenalkan dirimu!" ucap guru itu tiba-tiba.

"Perkenalkan, nama lengkapku adalah Neji Hyuuga. Tapi kalian semua bisa memanggilku Neji," mata lavender itu menatap semua yang ada disana. Neji tersenyum saat ia melihat pemuda berambut merah yang kini balik menatapnya shock.


To Be Continued


Ahahai! chi uda updet ni.. gomen ya kalau lama banget!

Ngomong-omong, kali ini reviewnya bakal chi bales ntar. tangan saia kram lama-lama di depan compi T_T

buat para reader, author, maupun senpai-senoai tolong review atau comenya ya? chi masih harus belajar lagi dan semua itu takkan berhasil tanpa kritik maupun pujian(?) mina.

Jadi sampai jumpa dichap3 besok~~ entah kapan di updet tapi bakal ada hits NejiGaa nya ^^ (maklum saia juga suka NejiGaaa)

.Terima kasih.

RnR?