S vs M

By : Ichizuki Takumi

Pairing : Sasunaru

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Friendship

WARNING: YAOI, OOC

Happy reading~

.

.

.

"Tadaima."
"Hn. Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita- ada apa dengan wajahmu?" Sasuke langsung merubah topik pembicaraannya saat melihat pipi Naruto yang lebam.
Naruto menggeleng memberi tanggapan tanpa jawaban. Dia menuju kamarnya dengan raut yang sulit diartikan.
"Apa mereka membully-mu lagi? Baju siapa yang kau pakai?" Sasuke berusaha mengejar ke kamar.
"Sasuke," Naruto berhenti di pintu kamar tanpa menoleh. "Aku sedang ingin sendiri," dia menutup pintunya pelan.
Sasuke mengurungkan niatnya untuk mengejar Naruto. Dia ingin sahabat pirangnya sendiri yang bercerita padanya.

.

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, pasangan faforit bagi para fujoshi mengumbar kemesraan mereka. Si pirang yang di klaim sebagai uke dalam hubungan itu merapatkan tubuhnya pada si raven.

Namun hari ini Naruto merasa ganjal dengan ekspresi orang-orang yang dilewatinya. Reaksi mereka terlalu histeris dari pada biasanya, dan reaksi lainnya semakin mencibir lebih kejam dan terang-terangan.
"Sasuke, aku merasa sikap mereka aneh hari ini," bisik Naruto semakin merapatkan tubuhnya.
Kedekataan mereka justru membuat para fujoshi semakin histeris.
"Hanya perasaanmu, Dobe."
"Mungkin kau benar," gumam Naruto, lebih pada dirinya sendiri.
Namun ditengah perasaannya yang kurang nyaman, Naruto sempat melihat seringai terlukis di bibir pemuda bertato segitiga terbalik di ujung koridor.
Tiba-tiba emosi Naruto memuncak. Ingin sekali rasanya menghajar pemuda itu dan melepas semua seringai menjijikkan dari wajahnya.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat gelisah," ujar Sasuke sesaat setelah sampai di depan kelas Naruto. Dia menyingkirkan rambut pirang yang menghalangi penglihatan Naruto agar mata biru indahnya menatap tepat ke arah matanya.
Naruto menggeleng. Dia menundukkan kepala menghindari tatapan sang Uchiha.
"Naruto."
Suara dari dalam kelas mengusik kegiatan mereka. Itu Gaara. Pemuda berambut merah yang kemarin menolong Naruto, kini berjalan mendekatinya. Naruto khawatir pemuda itu merasa terganggu dengan perbuatan mereka.
"Ada apa, Gaara-san?" tanya Naruto ragu.
"Ada sesuatu yang harus kau lihat," Gaara menyerahkan ponselnya.
Naruto yang melihat layar ponsel Gaara, membelalakkan matanya. Dia tidak percaya nama baiknya akan tercemar dengan cara seperti ini.
Melihat ekspresi Naruto, Sasuke jadi penasaran dengan apa yang terjadi.
"Naruto!" teriak Sasuke, saat Naruto lari setelah memberikan ponsel Gaara padanya.
Sasuke melihat gambar pada ponsel itu. Betapa terkejutnya dia mendapati gambar sahabatnya yang hampir telanjang dengan selembar boxer saja.
"Lelucon apa ini?" Sasuke menarik kerah Gaara, berniat menghajarnya.
"Bukan aku yang melakukannya," ujar Gaara tenang.
Tanpa bicara lagi, Sasuke segera menyusul Naruto. Meninggalkan penonton yang terdiam bingung.
"Apa ini cinta segitiga?"
"Mungkin."
"Kyaa... kyaa..."
Mereka semakin histeris dengan spekulasi mereka sendiri.

.

.

.
Sasuke mengatur napas ketika sampai di atap. Dia melihat Naruto termenung dan bersandar pada pagar pembatas, menghiraukan suara gaduh yang dia buat saat membuka pintu.
"Aku juga mendapat pesan itu. Aku baru mengeceknya," ujar Naruto lirih, seolah Sasuke dapat mendengar suaranya di tengah hembusan angin.
"Karena ini kau terlihat murung kemarin?" Sasuke ikut bersandar di sebelahnya. Dia menatap langit biru sejernih kornea sahabatnya. Matahari belum terlalu terik, membuatnya betah memandang warna biru itu.
"Bisa dibilang begitu."
Tubuh Naruto merosot. Dia memeluk lututnya merapat ke dada.
"Seperti bukan dirimu saja. Ini hanya masalah sepele."
"Sepele katamu?" geram Naruto dengan tatapan nyalang tertuju pada sahabatnya.
"Memangnya apa yang kau permasalahkan? Lagi pula kau bukan perempuan."
Dalam hati Naruto membenarkan ucapan Sasuke.
"Kecuali..."

Naruto gugup mendengar lanjutannya.

"...gambar itik warna kuning itu terlihat lucu."

"Heh?" Naruto sudah menduga ucapan Sasuke, tapi kalau diucapkan secara langsung tetap saja membuatnya terkejut.
"Hahahahaa... aku sudah menduganya, pasti karena celana bebekmu itu. Khekhekhe," Sasuke tertawa sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.
Wajah Naruto memerah mendengar ucapan sahabatnya. Harusnya Sasuke prihatin, bukan malah menertawakannya.

Brak

Kedua pemuda itu menghentikan aktivitasnya, kini pandangan mereka tertuju pada seseorang yang tanpa sopan santun membanting pintu.
"Aku tau kalian akan kemari. Pelajaran sudah dimulai tapi kau tidak ada di kelas, jadi aku meminta ijin untuk mencarimu," ujar Sakura sambil memandang Naruto. "Aku sempat mampir ke kelasmu tadi," lanjutnya, kini menatap Sasuke.
"Apa maumu?" ujar Sasuke yang sudah kembali ke gaya stoick-nya.
"Aku hanya tidak ingin melewatkan sedikitpun momen kalian melakukan yang iya-iya," ujar Sakura dengan seenaknya membayangkan hal yang menjurus ke rated M. "Apa kau tidak marah, tubuh mulus eksotis milik Naruto tersebar ke seluruh sekolah. Sekarang bukan kau saja yang menikmatinya, karena semua mata di sekolah ini sudah melihatnya," kemudian Sakura menatap Naruto. "Nice boxer, Naru-chan," tambahnya dengan dua jempol ditujukan pada si pirang yang sedari tadi duduk di lantai.
Naruto menepuk keningnya mendengar komentar dari Sakura. Apa separah ini penyakit fujoshi dari orang yang disukainya? Tapi komentar terakhir, lagi-lagi membuat wajahnya memerah.
'Apa salahnya memakai celana itu!' raung Naruto dalam hati. Tapi dia sedikit bersyukur, Kiba belum sempat mengambil gambar dirinya yang sedang telanjang. Akan jadi bulan-bulanan sampai lulus kalau itu terjadi. Walau tidak ingin mengakui, tapi *piip*-nya memang kecil.
"Hn. Bukan urusanku."
"Kau seme sadis, membiarkan uke-mu teraniaya seperti itu!" Sakura menatap Naruto dengan pandangan kasihan.
"Aku bukan masocist!" teriak Naruto membela diri.
"Itu tidak penting Naru-chan. Yang lebih penting, kapan kau siap melakukannya?"
"A-apa? Melakukan apa?" kening Naruto mengernyit, tidak paham dengan maksud gadis bersurai pink itu.
Sakura menghela napas. Apa uke favoritnya terlalu polos? Setidaknya Naruto harus tau hal sekecil itu, ini juga demi kebaikannya.
"Bercinta," ujar Sakura vulgar.
"Aaaargh... Kau tidak malu mengatakannya di depan kami?" saking kagetnya, Naruto tidak sadar kalau dia berteriak.
"Apa dia selalu berteriak seperti ini?" tanya Sakura malas pada pemuda yang sedari tadi diam.
Sasuke mengendikkan pundaknya menanggapi pertanyaan tersebut.
"Semua keputusan ada di tanganmu, Sasuke-kun. Hubungi aku kapanpun," Sakura mengedipkan matanya, setelah itu berlalu pergi.
"Kenapa hanya si Teme? Sakura!" namun protesnya tak ada yang menjawab, karena gadis itu sudah menghilang dibalik pintu.
Tidak puas dengan itu, pandangan Naruto beralih pada Sasuke.
"Ada urusan apa diantara kalian?"
"Bukan urusanmu, Dobe."
Bibir Naruto manyun mendapat jawaban itu.

.

.

.

Kiba memperhatikan pemuda blonde dengan pasangannya yang dengan mesra membeli makan siang di kantin. Dia menggeram, menggenggam tangannya dengan kesal. Dia pikir kejahilannya kemarin akan membuat pemuda itu jera, namun malah sebaliknya, pemuda dengan senyum lebar itu bersikap seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.

Perkiraan bahwa penggemar mereka akan merasa jijik juga justru terbalik. Penggemar mereka malah bersyukur dan berniat berterima kasih pada siapapun yang menyebar foto itu. Bahkan ada beberapa pemuda yang jadi menyimpang hanya karena melihat tubuh kurus si pirang.

"Aku tidak tahu kalau pantat si pirang itu seksi juga."

Kiba mendelik kearah temannya.

"Apa maksudmu, Sui?"

Pemuda berambut aneh itu memandang temannya malas.

"Ayolah Kiba, kau harus menilai secara subyektif. Cobalah menilai secara netral, bukan dengan pandangan obyektif sebagai Kiba yang membenci Naruto."

Kiba mengalihkan pandangannya pada pemuda pirang yang sedang bergelayut manja pada si raven. Pandangannya turun ke arah bawah, tepatnnya ke pantat. Kalau dilihat, milik Naruto memang seksi, ditambah bayangan kemarin yang menelanjangi si pirang seakan mengganggu pikirannya. Meski berisik, tapi bocah itu memiliki tubuh yang seksi. Terlalu indah untuk seorang lelaki.

"Benarkan, kataku," bisik Suigetsu tepat di telinga Kiba.

Kiba bergidik ngeri, dia melirik kesal melihat seringai teman-temannya, seolah mengejeknya yang tak melepas pandangan dari pantat si pirang sampai sang obyek menghilang dari lokasi.

"Cih, menjijikkan."

"Kau akan menyesali perkataanmu kalau tetap keras kepala seperti itu, Kiba. Khukhukhu..." kekeh Shino, mencoba mengejek temannya.

Kiba menggeram. "Aku ke toilet," dia merasa kesal merasa dipojokkan oleh teman-temannya. Dia dapat mendengar dengan jelas tawa mereka yang berhasil membuat emosi Kiba naik.

.

.

.

Naruto berdiri di gerbang, bersandar pada tembok dengan kedua tangan dimasukkan dalam kantong. Rambut pirangnya terhembus angin, pandangannya terarah pada batu kecil yang sedang ia mainkan dengan sepatu.

"Naruto-kun."

Naruto menoleh, merasa namanya dipanggil.

"Ah, kau yang kemarin," ujar Naruto disertai senyum manisnya.

'Sialan, buat apa bocah ini ada disini?' lanjutnya dalam hati.

"Kita belum berkenalan kemarin. Namaku Sai," pemuda itu menyodorkan tangan. Dia mengernyit saat Naruto tidak juga menerima jabatan tangannya. "Kau masih marah padaku?"

Naruto tersentak dari pikirannya. Dia buru-buru tersenyum dan menyambut tangan pemuda di depannya dengan sedikit canggung.

"Tidak, aku tidak marah padamu. Kau hanya disuruh kan?"

'Geez, sudah tau kalau masih marah, kenapa malah kesini, dasar mayat hidup!' lanjut Naruto dalam hati.

"Maafkan aku. Aku menyesal," Sai menundukkan kepalanya menyesal.

"Sungguh, aku tidak marah." Elak Naruto.

'Cepatlah pergi, bocah. Orang-orang melihat kesini,' geram Naruto dalam hati.

"Kau tidak ingin bertemu denganku?"

'Apa dia membaca pikiranku?'

"Aku tidak membaca pikiranmu," Sai tersenyum melihat ekspresi Naruto yang panik.

"Sungguh, kau tidak bisa membaca pikiranku?"

Sai mencoba tersenyum setulus mungkin, meyakinkan pemuda pirang di hadapannya.

"Syukurlah kalau begitu," entah kenapa, namun Naruto merasa lega mendengar jawaban itu. Harusnya dia tau, tidak ada orang yang bisa membaca pikiran.

"Kau menunggu seseorang?"

'Bukan urusanmu,' batin Naruto geram. Pemuda disampingnya tidak juga pergi.

"Aku sedang menunggu kekasihku," Naruto tersenyum, menanggapi pertanyaan Sai. "Apa kau murid baru disini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya."

"Sepertinya kau memang selalu memikirkan kekasihmu, sampai tidak mengenali teman sekelas sendiri."

"APA?! Kau sekelas denganku?" pasalnya Naruto merasa baru kemarin bertemu dengan pemuda itu.

Sai tersenyum. Pemuda itu sering sekali mengeluarkan senyum palsu, membuat Naruto merasa kurang nyaman berada di dekatnya.

"Apa kau mau menjadi temanku?"

Naruto memandang heran kearah Sai.

'Apa dia pemuda kesepian? Sampai dia memintaku menjadi temannya seperti itu.'

"Sai senpai, terimakasih sudah membantuku melukis," seru gerombolan gadis yang kebetulan lewat di depan mereka.

'Ternyata dia populer,' batin Naruto, menyesal sudah bersimpati pada pemuda disampingnya.

"Sampai jumpa Naru-chan," lanjut gerombolan gadis disertai jeritan saat menyapa Naruto.

Naruto melambaikan tangannya dengan senyum cerah.

'Aku juga senpai kalian, baka! Setidaknya panggil aku senpai!' teriak Naruto dalam hati.

"Ternyata kau orang yang lucu, Naruto-kun."

"Eh, benarkah?"

"Dobe, cepat naik."

Pemuda yang sedari tadi ditunggu Naruto akhirnya datang juga, dengan motor dan helm yang disodorkan pada sahabatnya.

"Kau lama sekali, Teme," Naruto menerima helm yang disodorkan Sasuke.

"Ada urusan sebentar."

"Sai, aku pulang dulu," Naruto melambaikan tangannya pada Sai yang juga balas melambai.

Senyuman yang sedari tadi terpasang di bibir Sai seakan luntur, tergantikan dengan raut wajah serius. Dia berbalik kemudian melirik sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

Terimakasih all atas semua review, fav, dan follownya.

Terimakasih juga atas sarannya. Dan do'akan semoga ff ini tidak macet di tengah jalan.

Aku punya pertanyaan, apa kalian ingin FF ini meningkat ratednya atau cukup di rated T?

Thanks all...

Mind to review?