Bintang yang sekarat.
Do Kyungsoo mengingatnya sebagai bintang yang sekarat. Ketika dua bola mata sabit itu menatapnya, menampakkan sepercik api yang nyaris redup. Terlihat begitu kesepian diantara semesta. Netranya sedingin air telaga namun juga sehangat mentari kala pria itu tersenyum seromantis cahaya bulan dengan pikat racunnya.
"Kyungsoo. Namaku, Do Kyungsoo. "
Ia tak mengerti mengapa ia memperkenalkan dirinya dihadapan lelaki ini.
Kyungsoo berdebar, entah untuk alasan apa. Mungkin karena wajah pemuda ini yang tak asing atau mungkin karena kalimat Sehun selanjutnya yang menjadikan gadis itu sepenuhnya terpasung.
"Senang bertemu denganmu. Aku Sehun. Oh Sehun."
.
.
.
Defying Gravity
©Lovelrin
02 : α Car (Canopus)
"Because i used to Defy gravity,
but goodbye keep draging me down. And i'am fighting gravity
just want to say
I love you, will and beyond poetry"
.
.
Bagi Kyungsoo, Scorpius Hyperion Sehun Malfoy adalah makna dari fatamorgana.
Bukan sesuatu yang dapat dengan mudah didekatinya begitu saja, karena Kyungsoo memiliki beribu satu pertimbangan dan seratus alasan mengapa ia tidak bisa begitu saja membuka diri dari sosok berparas tampan dan memiliki senyum menggoda penuh pikat.
Karena gadis yang berusia dua puluh tiga tahun itu memperhitungkan segala jenis letal akibat dari fatamorgana nya. Maka, gadis yang baru lulus dengan predikat suma cumlaude itu masih memberi jarak, masih berdiam diri, berpijak dengan poros bumi dan detak jam yang berotasi sementara ia tetap diam memilih untuk tidak mendekat.
Karena Kyungsoo takut, jika nanti dirinya berlari, membuka diri dan mencoba menyentuhnya, Sehun akan menghilang bagai ilusi yang karam ditengah padang pasir, ternyata sosok itu hanyalah oasis sesaat yang hanya menggelapkan mata.
Jadi, itulah alasan mengapa gadis yang memiliki kulit seputih salju itu bersikap skeptis dipertama kali Sehun menyapanya.
Kyungsoo tahu, Sehun itu adalah bajingan kaya yang seenaknya bergonta-ganti pasangan layaknya berganti baju. Pria yang dijuluki sebagai dewa seks bersama dengan sahabatnya Blaise Kai Zabini adalah jenis pria yang paling Kyungsoo benci setengah mati.
Pria itu memiliki semua hal yang menjadi impian banyak wanita; wajah tampan, kedudukan tinggi di strata sosial, kekayaan melimpah dengan karir cemerlangnya sehingga meraih banyak prestisius. Tapi, semua itu masih dinggap serpihan remeh bagi Kyungsoo. Karena sebagus dan sebaik apapun Sehun. Sehun tetaplah keparat yang senang menghabiskan dunia dipelukan malam penuh hasrat membara.
Pria sekaliber Sehun tidak bisa dipercaya.
Namun, detak jam seolah menghanguskan semuanya.
Entah dimulai dari kapan, Sehun dengan perlahan mulai menghapus benang-benang skeptisnya.
Dan Kyungsoo tidak pernah menyangka bahwa lelaki itu akan bisa sebegitu dekat dengannya.
Pria yang memiliki seringai mematikan dengan tubuh proposional itu seolah menenggelamkan prespektif nya, telak.
.
.
Kyungsoo menamai Sehun sebagai stalker paling absurd yang ditemuinya.
Tentunya kata stalker ditolak mentah-mentah oleh Sehun ketika pria itu menyapanya seakan-akan pertemuan keduanya setelah jamuan makan malam di kementrian itu adalah hal yang sudah digariskan oleh takdir tanpa faktor yang disengaja sama sekali.
Walaupun tahu Sehun sedang berbohong, Gadis itu memilih diam dan membiarkannya.
Kyungsoo tahu jika sedari awal ia masuk kedalam cafe tanpa sang manajer, Minseok sudah memberitahu jika ada produser muda yang menanyai tentangnya, "Namanya Oh Sehun, Kyungsoo~ya! Kau tahu SEHUN! dia yang dijuluki titisan Paris! Produser paling berbakat saat ini. yang tampan itu tengah menerorku untuk mempertemukanmu dengannya!"
"Pergi ke cafe duluan, aku ada urusan."
Kyungsoo mendecih saat menyadari garisan takdir apa yang akan ditemuinya, membaca dengan cepat situasi saat ia melangkah masuk dan dugaannya menembus tepat, ketika kedua hazelnya memproyeksi lelaki dengan rambut platinum paling kontras tengah duduk disudut cafe dekat dengan jendela paling besar yang menampakkan pemandangan kota Seoul yang diguyur hujan.
Gadis itu tidak pernah menyangka jika lelaki itu dengan berani mendekatinya. Walau sudah menampakkan raut wajah tidak suka yang begitu kentara Sehun seolah begitu terlatih dalam menaklukan semua jenis perempuan. Dan kali ini sirine awal Kyungsoo sudah memperingati bahwa lelaki yang selalu menjadi pembahasan topik di channel televisi serta majalah-majalah itu tengah melontarkan senjata terlatihnya dan menargetkannya sebagai mainan baru.
Kyungsoo menatap lekat Sehun, Ketika pria berdarah biru tersebut beranjak dari duduknya sembari membenahi dasi yang menggantung longgar. Setiap gerakan kecil dari Sehun mencerminkan aura sensual yang menggetarkan, Tak heran jika kaum hawa yang memperhatikannya berebut mencuri perhatian lelaki jenius tersebut. Pangeran bangsawan yang dengan seringai serta tatapannya saja sudah mampu membuat gadis-gadis meleleh bagai cokelat dipanaskan.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini." Melirik dari sudut mata, Kyungsoo mengamati lekuk wajah Sehun yang terpahat sempurna. Tampang keren yang pasti membuat Adonis; dewa Yunani paling tampan bisa menangis karena iri.
Dengan hidung mancung yang menggoda, tulang pipi tinggi yang merupakan ciri khas kaum aristokrat makin menambah pesonanya.
Dengan semua kelebihan itu, maka tak heran jika Sehun memiliki begitu banyak julukan fenomenal. Title yang paling populer dan masih stagnan merajai semua kolom-kolom majalah adalah, Sehun titisan Paris. Paris sendiri merupakan lelaki tampan dengan senyum memikat mata tajam yang merupakan kekasih Helen Of Troy; perempuan tercantik seplanet bumi yang kecantikan legendarisnya memicu perang besar antara Sparta dan Troya.
Kyungsoo menggigit bibirnya, mencoba menormalkan letak fungsi kerja otaknya yang mulai aneh semenjak bertemu dengan Sehun.
Sementara Sehun saat ini tengah menenangkan degup jantungnya, melihat bibir menggiurkan itu seolah menariknya untuk menggantikan perlakuan gadis itu dengan gigitan dan kecupan dari bibirnya sendiri.
Sehun berdehem, sebelum tersenyum tipis kembali menyapa gadis ini.
"Aku punya hal menarik yang mungkin kau sukai. Bisa kau meluangkan waktumu sebentar? Duduk berdua membicarakan hal-hal yang menjadi-topik dunia saat ini?" ucapan itu sarat akan permohonan, seumur hidupnya ia tidak akan pernah mau menenggelamkan diri memohon dengan kehati-hatiannya memilih diksi apapun.
Karena yang dihadapinya berbeda.
Karena sekarang, Sehun tengah mencoba meraih keping yang akan menyempurnakannya.
Karena gadis yang masih berdiri seolah tengah berkontemplasi akibat ucapannya, adalah seorang gadis yang akhirnya ditemukan Sehun sebagai makna dari kata pulang kerumah.
"Aku-"
Kyungsoo menatap lekat hazel Sehun, dan gadis itu seolah terpasung pada hazel kembar Sehun yang memikatnya, seolah menampakan kilat yang mengatakan jika Sehun tengah bersungguh-sungguh. Tidak ada sepercih dusta yang ditampilkannya. Seolah apa yang diucapkan itu permohonan tulus yang membuat Kyungsoo tertahan begitu lama pada manik pikatnya.
"Baiklah." Dan lengkung lidahnya lah yang akhirnya mengucapkan kejujuran sebelum logikanya berkerja menolak Sehun.
Sehun mempunyai cara sendiri, entah sihir apa yang diucapkannya. Kyungsoo bahkan tidak sadar jika pertemuan kedua mereka menghabiskan waktu tiga jam yang berlalu begitu cepat sebelum Minseok datang menganggu.
Kyungsoo menahan tawanya saat mata Sehun seolah mengeluarkan laser yang dapat menghanguskan Minseok dalam serpihan abu tak berbekas ketika ia datang dan mengucapkan pamit dengan beribu alasan yang terucap gemetar dibawah tekanan mematikan tatapan tajam Sehun.
"Menyenangkan bertemu denganmu." Kalimat singkat Kyungsoo memutuskan kontak mata Sehun pada Minseok, menjadikannya menoleh cepat kearah Kyungsoo. Seolah pendengarannya mengalami distorsi Sehun mulai mengalami gangguan pengendalian diri.
"Apa?" Oh my god, Oh Sehun kau seperti orang tolol! Kau salah tingkah lagi?! for God Sake Sehun ada apa denganmu!
"Sampai jumpa, Scorpius Hyperion Sehun Malfoy."
.
.
.
Sampai jumpa.
Kyungsoo tidak menyangka akan mengucapkan kata-kata itu, seolah menginginkan ada lagi pertemuan-pertemuan selanjutnya antara dirinya dan Sehun. Dua kata itu seketika menjadi lampu hijau bagi Sehun untuk merengkuh Kyungsoo.
Sampai akhirnya mereka bisa menjadi begitu dekat, seolah jarak yang telah diciptakan begitu jauh dihapus dengan pelan-pelan oleh segenap diri Sehun.
Semua prespektif dan sifat skeptisnya kepada Sehun seolah dilumpuhkan dengan begitu halus dan tak terduga. Lelaki yang sempat dijulukinya sebagai Playboy brengsek yang mempermainkan wanita-wanita itu ternyata bukanlah apa yang selama ini didengarnya .
Sehun seolah mengaramkan setiap penilaian negatifnya. Menenggelamkannya pada kenyataan yang terbuka saat lelaki itu seakan membiarkannya masuk dan mengizinkannya untuk mencari dan membaca segenap diri Sehun secara transparan.
Do Kyungsoo akhirnya menemukan semua itu.
Pada letak ketulusan yang terpancar dari tatapan hazel memikat Sehun.
Ketulusan murni dan kehangatan mutlak tanpa syarat terlihat begitu jelas dikedua hazel pria itu yang memantulkan sosoknya saat Sehun menatapnya. Pria yang memiliki nama sama dengan salah satu rasi bintang itu mempunyai cara sendiri dalam merengkuh, mendekap dan mengenggam seutuh dirinya.
Seperti ketika dimana Sehun pertama kali mengaitkan jari jemarinya dan mengenggam hangat tangannya.
Ditengah ratusan cherry blossom dan aroma musim semi, kelopak bunga tersebut berjatuhan ketika angin musim semi menerpa, rambut gadis itu melayang, wajahnya meringis dingin, Sehun yang mengisi tempat disampingnya menyadarinya, maka ia memberanikan diri mengenggam tangan mungilnya. Pelan-pelan jari jemarinya tertaut sempurna dengan jemari cantik gadis itu, menyalurkan kenyamanan ketika sentuhannya sempurna.
"Nyaman sekali." Kyungsoo mengerjap, terlalu kaget dengan sentuhan tiba-tiba pada tangannya yang digenggam begitu erat oleh telapak tangan besar milik Sehun. Ia mempunyai banyak hal yang ingin dilontarkan, namun verbalnya tenggelam oleh hangat genggaman Sehun yang sedang tersenyum mengamati lekat-lekat bagaimana perubahan ekspresi gadis yang sedang berada disisinya.
Lantas genggaman itu dimasukkannya dalam celah jaketnya, Sehun mengedipkan pelupuk matanya berpura-pura polos ketika hazel mereka bertemu.
Ia menahan senyum memproyeksi pipi Kyungsoo yang memerah.
"Seharusnya kau memakai sarung tangan." ucapnya pelan, "Cuacanya masih dingin, atau memang kau sengaja memperlihatkan tanganmu untuk ku genggam?" Tergelak menggoda gadis itu dalam canda, Sehun meringis saat Kyungsoo mencubit lengannya.
"Aw, for godsake Kyungie, cubitanmu sakit sekali." Sehun meringis tapi tidak dapat menyembunyikan senyum nya melihat bagaimana gadis itu yang mendecih dengan pipi yang bertambah merah.
"Makanya, Lagipula siapa yang minta digenggam? Kau yang mengenggam tanganku duluan."
"Okay, secara logisnya begitu. Tapi kau menikmatinya kan? Lihat kau bahkan tidak mau melepasnya." Sehun menyukai saat gadis itu mendelikkan mata besarnya.
"Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepasnya tapi genggaman tanganmu pada tanganku kuat sekali." Serunya defensif.
"Benarkah?" Kyungsoo merasakan genggamannya semakin erat, Sehun menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Ini karena aku tidak mau melepaskannya." Ucapan tiba-tiba Sehun membuat desir darahnya mengalir begitu cepat.
Angin musim semi kembali berhembus. Sehun menatap cermat Kyungsoo. Sebelum merelakan tangannya kosong ketika ia melepas genggaman hangat itu, "Sebentar."
Kyungsoo menatapnya, memperhatikan Sehun melepas jaket yang dipakainya, ia mematung ketika kedua tangan Sehun yang menampakan nadi dan otot melingkari tubuh mungilnya, Aroma musk maskulin Sehun langsung menerpa Kyungsoo ketika Jaket Sehun tersampir sempurna ditubuhnya.
Sehun menarik gadis itu untuk mendekat kearahnya. Berdiri bersisian, sebelum tangannya kembali digenggam begitu erat mengiringnya mengikuti langkah kakinya. "Kalau masih dingin bilang okay, Jika jaketku tidak bisa memberi kehangatan yang cukup maka aku siap menggantikannya." Sehun berbisik pelan dengan seringai mematikan, sebelum pria itu meringis karena gadis itu kembali mencubitnya.
"Ya Tuhan, Aku baru tahu kalau kau suka main kasar. Jika mau bermain kasar, kau bisa minta langsung padaku dengan baik-baik." Seru Sehun, mengedipkan sebelah mata dengan tatapan mengundang. Menimbulkan gelak tawa renyah saat gadis itu kembali merona karena balasan responnya.
"Diamlah Hunaa."
"Okay baby." Sahut Sehun manis. Mendecih, Kyungsoo membelalakan kedua hazelnya lebar-lebar sehingga sirkular perifernya seakan-akan berpendar. Gadis itu menghunuskan pandangan tajam bermakna jangan-sok-romantis yang disambut tawa oleh Sehun.
Keduanya melangkah, Sehun memelankan feolitasnya mengikuti langkah kaki Kyungsoo, sesekali ia melirik gadis itu lalu tersenyum karena gadis itu tenggelam diantara keindahan cherry blossom.
Mereka tidak menyadari bagaimana tatapan mata beberapa manusia yang melewati mereka, menatap penuh iri pada pasangan yang memakai topi senadaberwarna hitam dan juga masker, menampakan senyuman singkat melirik Sehun dan Kyungsoo yang terlihat begitu menggemaskan, dan terkadang mereka yang berlalu lalang mengucapkan kata ; "Mereka romantis sekali."
Walaupun masih saling beradu argumen dan bertengkar penuh canda, kedua tangan yang tergenggam itu tak juga terlepas.
.
.
Bagi setiap majalah dan berita televisi, gadis yang tengah membaca buku didepannya ini adalah Titisan wanita tercantik sejagat, Helen Of Troy. Tapi bagi Sehun, gadis ini tidak bisa disamakan dengan apapun. Karena Kyungsoo memiliki seribu poin lebih dari pada penilaian dari prespektif mengenai dirinya. Bukannya tidak setuju, tapi Sehun tidak bisa menyamakan Kyungsoo dengan analogi apapun selain membandingkan gadis itu dengan persamaan Kyungsoo sendiri.
Karena tidak ada yang dapat menyamai Kyungsoo. Sebagus dan setinggi apapun orang-orang melabelinya, Sehun tidak akan bisa menyetujui hal itu. Karena Kyungsoo adalah Kyungsoo. bukan titisan, persamaan atau analogi. Karena jika bukan Kyungsoo, Sehun tidak akan bisa bertekuk lutut seperti saat ini. Bagaimana dirinya yang mengagumi cara gadis itu beragumentasi dengannya.
"Ya."
"Tidak."
"Analasisku menyatakan ya Hunaa! Kurasa kau mengalami turbulensi antara persepsi positif dan negatif." Kyungsoo menatap pria itu, menjulurkan buku yang dibacanya.
"Mereka seharusnya melakukan observasi di Victos dan Vilcambamba!" ucapnya pelan membaca cermat barisan buku, sebelum kembali menatap wajah Sehun yang mengernyit.
"Tidak Kyungie, Mengenai misteri Inca ini aku yakin jika bukan dua tempat itu yang harus mereka identifikasi." Sehun mendekatkan diri menatap buku yang tergeletak dimeja. Kyungsoo menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Tapi, saat Conquistador Spanyol menghancurkan kekaisaran Inca, mereka menjarah, merampok dan membakar dengan cara paling biadab di kota utamanya. Sebelum Penguasa Inca kabur dari perbudakan ia membawa kekayannya dan melarikan diri, tentu saja penguasa terakhir tersebut pasti melewati dua kota utama itu sebelum akhirnya mati Hunaa! jelas sekali pasti harta nya terkubur di sana." Sehun memiringkan kepalanya, berpikir mengenai argumen mereka mengenai letak kematian penguasa terakhir yang saat ini menjadi letak harta karun karena penguasa Inca membawa kekayaan berlimpah sebelum menghilang dan dinyatakan mati tanpa tahu dimana letak kematiannya.
"Aku setuju, tapi sayangnya fakta mengenai Victos dan Vilcambamba dalam peta kolonial Spanyol tidak disebutkan sama sekali." Kyungsoo menaikan alisnya. "Darimana kau mengetahuinya?" Sehun menyeringai.
"Sebelum kita memulai perburuan mencari harta karun Inca dan mulai beradu argumen, Aku membuka internet." Kyungsoo mendengus menatapnya tidak percaya.
"Curang! Bagaimana bisa! Kita sepakat ak-"
"Jika kita ingin memulai ekspedisi mencari harta karun Inca, Sebelum melakukannya kita harus mempersiapkan diri Kyungsoo~ya." Dengan tatapan masih tidak terima gadis itu mengernyit bingung. "Apa? Tentu saja kita harus mempersiapkan diri Hunaa~!"
Sehun mendekatkan dirinya, menahan senyum dan seringai menggoda saat gadis itu tidak sadar jika posisi mereka saat ini begitu dekat. Sehun mengikat kedua hazel itu dengan tatapan lembutnya, menyeringai sebelum berhenti didepan wajah memikat Kyungsoo tepat lima centimeter sebelum berbisik.
"Pastikan untuk selalu bersikap waspada disemua situasi apapun. Kau tahu? Aku bisa mencium mu saat ini juga Kyungsoo~ya." Sehun menikmati perubahan ekspresi gadis didepannya ini sebelum gadis itu menjauhkan diri dan berdesis kesal bersamaan buku yang sebelumnya tergeletak dijadikan senjata ampuh baginya dalam mewaraskan isi otak Sehun.
"Aw, aww aku benarkan? Apa yang aku ucapkan itu kebenaran, jika kita memulai ekpedisi mencari harta ka-"
"Tidak ada ekspedisi apapun!"
Dan argumen mereka berakhir ketika Sehun tergelak ringan dan gadis itu masih memukulinya dengan rona merah dipipi sebelum berakhir karena keduanya ditegur oleh nyonya galak penjaga perpustakaan kota.
"Maaf, Ini tempat belajar bukan tempat bercinta. Jika masih ingin menunaikan pertengkaran sepasang kekasih, bukan disini tempatnya!" Ucapan pedas yang menggema itu membuat Kyungsoo terdiam, berlainan dengan Sehun yang tidak sadar situasi, Kyungsoo dengan cepat mencubit lengan Sehun yang masih tertawa.
"Hunaa!"
.
.
.
Sehun punya cara sendiri dalam membuatnya jengkel setengah mati.
"Oh Sehun!"
"..."
"Sehun?"
"Hunaa~"
"Iya, ada apa baby?" Sehun menyeringai senang melihat bola mata Kyungsoo yang melebar nyaris melompat keluar dari pelupuk. Sehun mengakui kalau Kyungsoo sangat manis dan menggairahkan jika sedang terbakar emosi. Lihat saja kedua pipi Kyungsoo yang halus berubah merona dan matanya membulat atraktif. Dadanya terlihat naik turun berirama bersamaan dengan hembusan napas yang bergejolak.
Mungkin, keinginan menyaksikan pesona Kyungsoo yang tak biasa itulah yang membuat Sehun gemar sekali menjahili gadis cerdas tersebut. Dirinya melakukannya murni karena menyukai demi memuaskan diri mengamati lekat-lekat ekspresi memikat dari gadis itu.
"Kau distorsi ya? Aku sudah memanggilmudari tadi!" Kesalnya.
"Oh iya?" Sehun mengamati lekat-lekat hazel Kyungsoo yang memancarkan kesan sebal setengah mati terhadapnya. Gadis itu kemudian mendengus, memilih berbalik dari Sehun.
"Lain kali cukup panggil Hunaa~ " Sehun mengikuti langkah kaki Kyungsoo dari belakang.
Menoleh judes dari balik pundak, Kyungsoo mengerutkan keningnya sebelum mendengus dan pergi meninggalkannya.
"Soalnya aku menyukai caramu memanggilku seperti itu." Dan gadis itu tidak bisa kembali melangkahkan kakinya saat ucapan yang terlontar begitu pelan dari pria pen-dominasi itu keluar. Gadis itu berhenti sebelum Sehun mengambil alih pergelangan tangannya dan meletakan setiap senti demi senti jemarinya dalam menyatukan genggaman sempurna itu. "Ayo pergi, Blaise sudah menunggu sedari tadi."
Genggaman itu tertaut manis dan tidak terlepas juga.
.
.
.
Sehun mendelik mengawasi setiap gerakan mata pria-pria yang menyusuri tubuh Kyungsoo dengan tatapan serigala. Tatapan mesum yang membuat Sehun mengumpat-umpat kasar dalam hati. Menggerung berang, pria dengan rambut platinum itu semakin mengenggam erat tangan Kyungsoo, menegaskan jika gadis yang ditatap penuh minat ini adalah gadisnya.
"Hai!" Kai mengerling kearah kedua orang itu, mengangkat gelasnya saat Kyungsoo dan Sehun mendekatinya. Kyungsoo tersenyum membalas lambaian Kai.
"Kai, Dynamite mu keren sekali." Blaise Kai Zabini menatap interior Club nya, sebelum kembali menatap Kyungsoo dengan sikap menyenangkan. "Pleasure, aku senang mendengar pujian dari gadis berintuisi sepertimu." Ucapnya .
"Aku kira kau tidak diajak pria keparat ini, mengingat sikap posesif nya terhadapmu." Serunya ringan, Kyungsoo menaikkan alisnya, "Huh?" Kai bersiul rendah, menunjuk Sehun.
"Lihatlah matanya yang mendelik mengerikan pada setiap pria yang menatapmu. Jika telah menyangkut dirimu, dia benar-benar posesif." Kyungsoo menoleh kearah Sehun, genggaman tangan Sehun pada tangannya terasa begitu erat. Kedua hazel Sehun tengah menatap kesal kearah pria-pria lain yang sedang memandang kearah mereka.
Kyungsoo menggerakkan genggamannya, menyentuh lengan Sehun. "Hunaa~ kau belum mengucapkan selamat pada Kai." Sehun menoleh saat kelembutan hangat menyentuh lengannya, suara jernih Kyungsoo terdengar dari dentuman music Loey.
Atensinya terganti sempurna, rasa menyenangkan yang begitu kuat menerpa segenap rasa kesalnya ketika hazel yang selalu memancarkan cahaya itu ditangkapnya.
Kai terpekur saat Sehun tersenyum begitu lembut kearah Kyungsoo. Hal ini menambah beberapa alasan lagi bagi Kai jika gadis itu telah merubah Sehun dalam waktu paling singkat, karena bagaimana bisa seorang Scorpius Hyperion Sehun Malfoy mengikat kedua hazel kembar Kyungsoo dengan matanya yang memperlihatkan ketulusan yang begitu menggetarkan. Tatapan penuh cinta dan sayang yang mendominasi.
Kai tidak pernah menyangka, jika Oh Sehun yang mempunyai sisi dominan itu bisa menuruti ucapan Kyungsoo ketika Sehun mengucapkan selamat padanya atas berdirinya club yang dikerjakannya selama satu tahun penuh ini.
"Woah Blaise, Dynamite mu luar biasa. Aku terharu jika menyadari semua usaha kerasmu dalam membangun Dynamite. Kau sudah besar mate." Sehun tergelak ringan saat Kai mendampratnya dengan tinjuan ringan dibahunya.
"Hei, jangan semaumu menyentuhku. Segenap diriku milik gadis ini. Kau harus meminta izin terlebih dahulu untuk menyentuhku dengan tangan keparatmu." Kai mendengus tidak percaya mendengar ucapan menjijikan dari Sehun.
"Bloody hell, Kyungsoo lihatlah pria mu ini sudah gila!" aduan Kai kepada gadisnya membuat Sehun mendelik. Kyungsoo mengamati kedua sahabat itu sebelum menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Blaise.
"Lihat, gadismu saja mengakui jika kau gila. Hei Sehun baby, kau perlu memeriksakan dirimu ke dokter, aku yakin seratus persen serabut otakmu sudah destruktif akut. Benarkan Kyungsoo baby?"
"Err-No comment."
Kyungsoo tertawa, melihat perdebatan dan persiteruan antara Sehun dan Kai yang membuat gadis itu tidak berhenti tertawa. Kedua sahabat itu menunjukkan cinta mereka dengan cara yang paling absurd.
" Hell Kai! Jangan panggil gadisku denga baby. Dia milikku. Astaga lihat yang gila bukanku tapi kau, gara-gara break dari Daphne kau seenaknya memanggil Kyungie dengan panggilan menggelikan seperti itu?!"
"Dia bisa menjadi pengganti Daphne, benarkan Kyungsoo~ya. Kau mau jadi pacarku?" ucapan manis dengan senyum menggoda Kai pada Kyungsoo dihadiahi Sehun dengan tendangan yang cermat dihindari Kai.
"Dont you dare Kai! Kyungsoo milikku. Cari yang lain. Karena Kyungsoo adalah tawanan seumur hidupku."
Pengaruh baik dari Kyungsoo terhadap Sehun, membuat Kai tersenyum. Merasa jika sepenuhnya sahabat yang selalu berada disisinya itu telah menemukan gadis paling tepat yang telah menghancurkan segenap tekad Sehun tentang hubungan yang pernah dianggap remehnya.
"Sebelum cincin pernikahan tersemat, aku masih punya kesempatan. Ya kan Kyungsoo sayang?" Sehun ingin mengacungkan jari tengah dengan sumpah serapah kotornya jika tidak mengingat presensi Kyungsoo. Ia tidak ingin membuat telinga dan mata gadis itu tercemar akibatnya.
"Ya Tuhan, Aku terjebak diantara anak berumur lima tahun. Kalian perlu diperiksa mental." Desah Kyungsoo masih tidak percaya pada pendengarannya mendengar pertengkaran absurd khas anak kecil diantara Sehun dan Kai.
Mereka berdua benar-benar patner in crime. Jika Kris datang dan Chanyeol bergabung pasti dynamite yang baru berdiri telah hancur akibat perseteruan anak kecil mereka.
"Aku bersedia diperiksa mentalnya asal kau yang memeriksanya." Ketus Sehun membuat kepala Kyungsoo berdenyut sakit.
"Yatuhan Oh Sehun!" Sehun hanya tersenyum melihat reaksi dari ucapannya mengakibatkan ekspresi menggemaskan dari gadisnya.
"Aku ambilkan minum. Sprankling water hmm?"
Blaise Kai Zabini hampir terperangah ketika mendengar kalimat Sehun, dimana kini ia seolah menjadi pria yang paling mustahil dikenalinya. Scorpius Hyperion Sehun Malfoy, akan berubah semanis cokelat jika dihadapkan dengan Kyungsoo.
Selama kenal dan dekat dengan gadis itu. Sehun tidak pernah sekalipun lagi melirik gadis manapun, menatap atau mempermainkan gadis lain yang selalu menjadi kegiatan rutin Sehun bersamanya dalam memburu kenikmatan dunia yang selalu menjadi hiburan mereka.
Sehun yang dikenalnya dulu tidak akan pernah bisa memberikan tatapan penuh kelembutan dan pemujaan seperti ini. Sehun yang dikenalnya dulu tak akan mau mengambilkan apapun bagi setiap jenis orang yang memintanya, sikap Sehun yang penuh dengan perhitungan selalu membuatnya berpikir terlebih dahulu pada setiap hal yang akan dilakukannya, sikap arogan dan penuh dominan tersebut tidak akan pernah mau diatur dengan sebegitu mudahnya. Ego lelaki itu menahannya dalam bersikap sebegini manis.
Sebelum Kyungsoo merubah segenap diri Sehun. Gadis itu seakan hadir untuk melengkapi dan menambal jiwa Sehun, sebagai pelengkap dikepingan hidupnya yang masih kosong, Gadis itu seolah menjadi potongan yang hilang bagi kehidupan nyaris sempurna Sehun. Kedatangannya seakan-akan bagai satu hembusan angin segar yang membawa oksigen paling menyenangkan untuknya, Sehingga Sehun tidak bisa menghirup hal lainnya jika bukan dari gadis yang diperlakukannya sebegini istimewa.
Dan dari senyum yang terlengkung sempurna diwajah Sehun, Kai bisa membacanya dengan jelas. Senyuman itu seolah menampakkan kejujuran dari sudut terdalam hatinya, bahwa bagi Sehun hanya dengan keberadaan Kyungsoo disisinya, maka segenap dunia ada pada genggaman tangannya.
Kai menatap lekat Kyungsoo yang tengah mengamati Dynamite. Lalu dia tersenyum sebelum mendekatkan dirinya. "Kyungsoo~ya." Panggilan dari Kai membuat Kyungsoo menoleh kearahnya.
Gadis itu menatap Kai yang tengah memandanginya lamat-lamat, kemudian kalimat yang dibisikkan oleh Kai membuat denyut pada nadinya seakan berhenti. "Sehun might be bratty, but when he with you he's totally change to gentleman."
"-Cause for him, your he's universe. I mean it."
.
.
"MINGGIR!"
Genggaman erat Sehun pada tangan Kyungsoo semakin lama semakin longgar, Sehun sudah mengumpat kasar ketika gadis-gadis jalang mengerumuninya sebegitu brutal. Pria itu memaki keras tetapi semua gadis yang terpikat dan terhipnotis oleh ketampanan serta keahlian percintaannya tidak memperdulikan ucapannya.
"FUCK, AKU BILANG MINGGIR!"
Sehun menatap khawatir Kyungsoo yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya. Gadis itu terdesak oleh para gadis yang begitu ekstrem mendekati Sehun dengan beratus alasan yang terdengar begitu menjijikan. Ia berjengit setiap kali jalang-jalang yang mengitarinya melontarkan ucapan erotis terhadap Sehun.
Ucapan Kai berputar ditelinganya, "Sehun might be bratty, but when he with you he's totally change to gentleman."
"-Cause for him, your he's universe. I mean it."
Gadis itu ingin mempercayainya, tetapi ketika mendengar setiap lontaran erotis mengenai Sehun dan ucapan panas tentang Sehun, membuat seutuh pertahanan gadis itu karam terkikis oleh satu persatu kata yang terdengar begitu menyakitinya.
Sehun memang brengsek. Kyungsoo mengenai itu. Kai sudah menceritakan semua hal tentang Sehun padanya. Kyungsoo sendiri tahu jika lelaki itu tidak pernah melakukan apapun selain mempermainkan wanita untuk menghilangkan kebosanannya. Tidak ada apapun mengenai sex yang selama ini menjadi rumor yang selalu didengarnya dari teman-teman sesama aktrisnya. Sehun tidak pernah melakukan hal apapun lebih dari sebatas ciuman.
Karena Kyungsoo sendirilah yang merasakannya.
Bahwa Oh Sehun bukanlah apa yang selama ini didengarnya. Bahwa setiap kata-kata yang diucapkan dengan desahan erotis dari gadis binal disekitarnya adalah salah.
Karena Kyungsoo tahu siapa Sehun.
Sehun telah mengunci rapat semua penilaian negatifnya melalui setiap pertemuan nya dengan lelaki itu. Karena Kyungsoo sudah mencari, menggali, menatap dan melihat fakta yang terbuka begitu transparan mengenai Sehun. Sehun bukanlah bajingan yang suka memuaskan diri dengan memasuki celana dalam wanita.
Karena Sehun adalah Sehun. Bukanlah pria yang hanya dikenal sekilas oleh jalang yang mengerumuninya dengan begitu ekstrem.
Tetapi, tetap ada satu denyut yang menyakiti dadanya ketika lelaki yang dipercayainya itu dikelilingi begitu banyak gadis dengan paras cantik dan tubuh menggoda.
Kyungsoo tidak cemburu. Gadis itu memperingati diri tapi semakin lama ia bertahan pada posisi kerumunan dan mendengar celoteh dari para gadis-gadis disekitarnya, ia tidak bisa menahannya.
Dan genggaman tangan itu akhirnya terlepas.
.
.
.
.
"Chanyeol~" Kyungsoo menarik sisi kemeja Chanyeol dengan jemarinya, mengenggamnya erat dengan jemari gemetarnya.
"Kyungsoo~ya? Ada apa? Sehun dima-" Ucapannya terhenti ketika kedua hazel Chanyeol memproyeksi lelaki itu yang tenggelam dalam kerumunan gadis-gadis kekurangan bahan. Dengan wajah khawatir, Chanyeol menoleh cepat kearah Kyungsoo. Menatapnya lamat-lamat melihat gadis itu tengah menundukkan kepalanya.
"Mau pulang?" Chanyeol bertanya pelan. Tidak menyelesaikan ucapannya. Satu anggukan dari gadis itu menjawabnya. Tanpa bertanya apapun, Chanyeol langsung membawa Kyungsoo keluar dari dynamite.
Tangannya disentuh lembut Chanyeol, dan genggaman yang biasanya tertaut sempurna dari Sehun berganti menjadi genggaman erat tangan Park Chanyeol. []
.
.
.
tbc
