FIND YOU

Rate : T

Cast : Sehun, Jongin, Tomoteo (Hotshot), dan yang lain menyusul

Genre : Hurt/Comfort

2018© PeachSundae


Insomnia kembali menyerang Sehun setelah melihat lukisan Jongin seminggu yang lalu. Kantung mata yang hitam dan tebal sekarang menjadi ciri khasnya, tak seperti mengerjakan tugas-tugas mata kuliah utama yang menyebalkan dan tentu sekarang semakin irit berbicara.

Maria juga sama sekali tidak menceritakan apa pun setelahnya, bahkan ia tidak menemukan gadis tersebut dan selalu mendapati ruang yang dipakainya terkunci. Ia tidak dapat membagi fokus dalam pikirannya, hatinya akan berdegup kencang ketika ia tak sengaja mengingat lukisan Jongin.

Wajah manis itu tak berubah, mata yang sayu karena mengantuk itu masih Sehun kenali. Intinya itu benar-benar sosok Jongin.

"Jangan melamun." Timoteo menarik tangan Sehun yang menjadi tumpuan dagu. Sekilas Sehun mencubit pelan lengan pemuda disebelahnya kemudian mencoret-coret kertas yang masih bersih di bawah tumpukan kertas proyeknya. "Apa yang terjadi setelahnya?"

"Hum..."

Timoteo meletakkan pensilnya dengan kasar, sengaja membuat suara. "Kau tiba-tiba berada di Central Park, berdiri di jembatan seperti orang bodoh dengan kostum serba biru. Aku malu saat orang-orang menatapmu aneh."

Sehun mengerlingkan matanya, Timoteo terlalu mendramatisir keadaannya waktu itu. Ia juga tidak tau kenapa ia bisa di situ, memang itu tempat pertemuannya dengan Jongin hanya saja ia yakin entah kapan itu ia akan dapat menemukan Jongin di sana. "Entahlah aku juga tidak tau." Jawabnya acuh dan semakin sibuk dengan acara mencoret kertas.

Kawannya mendengus sebal, "Tapi apa kau tau, kekasihku juga suka berada di jembatan itu." Tangan Sehun berhenti bergerak, menatap datar Timoteo yang tersenyum senang. Kekasih? "Kalau tidak salah kau juga menemukan Jongin bukan di sana?"

"Kapan kau akan menemukanku dengan kekasihmu?" tanya Sehun to the point. Tangan kanannya sengaja ia jadikan tumpuan untuk memiringkan tubuhnya, duduk bersila terlalu lama membuat punggungnya sakit. "Jangan menatapku seperti itu, aku bosan melihatmu membanggakan kekasihmu itu. Lagi pula aku heran kenapa ia mau menjadi kekasihmu,"

Tatapan selidik Timoteo berubah menjadi tatapan datar, menghela nafas panjang mendengar ejekan Sehun. "Bukannya kau sudah melihatnya,"

"Maksudmu," Ia menggantungkan kalimatnya, merasa tidak yakin dengan perkataan selanjutnya, "lukisan itu?" kali ini pemikiran Sehun mulai menemui jalan keluar. Yang di tanya mengangguk dan mengambil handphonenya untuk menunjukkan sesuatu. Namun layar handphone itu mati, mendecak sebal Timoteo bertanya untuk meminjam cas pada Sehun dan otomatis tangannya meraih kabel putih yang selalu ia taruh di rak meja.

"Ck, sepertinya bukan waktunya aku memberitahu kekasihku."

Sejenak Sehun menatap kalender duduk di meja belajarnya, mengingatkan diri untuk melingkari tanggal tepat di hari penggelaran lukisan. Dirinya semakin gelisah, rasanya tidak sabar menunggu hari Rabu.

.

.

.

Tepat pada tanggal yang ia lingkari Sehun bersiap-siap berangkat dan tak lupa tiket yang secara langsung ia dapat dari Maria. Sembari menunggu taksi tangannya meraih buku bersampul kulit coklat yang lumayan tebal dari meja belajarnya, membolak-balik kertas yang sudah menguning pelan takut merusaknya. Tangannya terhenti pada bagian akhir, bagian dimana goresan tinta hanya mengisi setengah halaman, menggantung dan tak ada lanjutannya.

Sebuah buku yang menjadi cerita pengantar tidurnya semalam setelah paket kiriman datang. Seingatnya ia tidak meminta sebuah buku untuk di paketkan tapi ibunya pasti sengaja. Hanya buku ini yang Sehun keluarkan dari kardus, buku diary milik Jongin. Ia tidak tau bagaimana ibunya bisa menemukan buku penting seperti ini karena semenjak Jongin menghilang baik ia maupun ibunya tidak pernah menyentuh apapun saat membersihkan ruangan.

Kembali menelusuri catatan Jongin Sehun hanya tersenyum tipis, jarang sekali Jongin menuliskan tentang dirinya bahkan pada halaman terakhir pun hanya sedikit.

Merasa bosan Sehun memilih untuk turun kebawah sembari membeli kopi di seberang apartement. Menyimpan kembali buku berharga itu pada laci meja yang kosong dan dengan langkah ringan ia segera keluar setelah mengecek jam tangannya. Taksi yang ia pesan terlambat setelah ia menunggu di depan cafe sambil berdecak sebal, tergesa membuka pintu dan tak segan menekan nada bicaranya. Rasa tak sabaran sudah sedari tadi ia tahan, merasa penasaran dengan lukisan yang ia ganti posisinya.

Pulau yang terletak di sebelah selatan ujung sungai Hudson ini memang memiliki jalur padat, harus pintar-pintar mengatur waktu karena terkadang tak ada badai bisa saja macet terjadi dan tak berujung. Seperti itu sih kata Timoteo ketika ia mulai melepas Sehun sendirian untuk mengeksplor kota ini lagi pula ia tak bisa jadi supir pribadinya terus menerus.

Ia hanya mengingat bahwa jalan yang tengah mereka lewati ini adalah Times Square, kemudian gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi hingga tak terasa ia sudah sampai pada tujuan. Sebuah gedung tua berwarna coklat mulai ia telusuri dengan brosur di tangan kirinya. Sebelum memasuki lebih dalam ia membaca sebentar brosur tersebut dan menikmati petualangannya melihat lukisan. Langkah kakinya yang panjang sengaja ia pelankan mengamati perpaduan warna dan pola yang terpasang disana.

Beberapa model patung menjadi objek yang Sehun lihat ketika ia masuk ke dalam ruangan di sisi kirinya. Ia kembali membaca brosurnya, merasa penasaran dimana letak lukisan dirinya. Beberapa orang yang tertarik berbicara mengenai harga dengan pemilik pameran, seingatnya pameran ini bukan hanya milik Maria namun acara ini adalah pameran bersama untuk mencari dana jadi ia mulai mengerti kalau sedari tadi ia salah memasuki ruangan. Memilih berjalan lurus akhirnya ia menemukan ruangan khusus Maria, paling ujung kiri gedung ketika ia melihat salah satu lukisan aneh yang ada di ruangan Maria dulu.

Tak mempedulikan jejeran lukisan yang memikat orang-orang, Sehun hanya tertuju dengan lukisannya dan terlebih dengan lukisan Jongin. Ia tidak tahu apa hasil lukisan Jongin akan di pajang karena dalam brosur hanya menjelaskan siapa saja yang terlibat dengan maha karya utama milik mereka. Lukisan dengan tema satu warna mulai ia temui, dari warna kuning hingga warna biru miliknya.

Sehun menatap bingung lukisannya, seingatnya bentuk lukisannya tidak seperti ini. Tidak dengan lukisan jantung yang berdarah dan air mata di wajahnya. Seingatnya ia hanya duduk menatap ke depan dengan tatapan kosong. Tapi tetap saja membuat Sehun ternganga dan segera memotret hasil lukisannya untuk di pamerkan pada ibunya, cepat-cepat mengetik text.

Ia terkekeh pelan membaca reaksi ibunya yang heboh, membalas pesan singkat itu tak kalah hebohnya. Sehun tersenyum puas menatap hasil karya tersebut. Sedikit sombong boleh bukan kalau mengatakan ia adalah pria tertampan di dunia–mengangap dirinya masuk dalam The 100 Most Handsome Face versi TC Candler. Merasa puas dengan hasilnya Sehun bergegas keluar, mencari keberadaan Maria atau Timoteo yang sebenarnya sudah datang dari tadi.

Namun begitu langkah kedua ia lakukan, seseorang memanggilnya, dengan nada lirih dan lembut. Otaknya mencoba mencerna suara tersebut, suara yang ia kenali namun sudah lama tidak ia dengar lagi. Dengan hati yang kurang yakin ia membalik tubuhnya, mendapati seseorang yang selama ia cari tengah menatap lukisan dirinya. Sehun tidak ingin imajinasinya memanipulasi dunia nyatanya.

"Jong―

Tapi matanya tidak sedang berbohong bukan?

―In?"

.

.

Forgotten Portrait Complete

.

.

TBC


Hue~ kok aku merasa aneh ya sama ff ini (secara keseluruhan) ᶘ ᵒᴥᵒᶅ

Terimakasih sudah mencoment ff ini dan terimakasih buat saya sayya yang udah kasih suport buat daku~ maaf ya aku nggak bisa balas comen kalian sekarang T.T

WB benar-benar bikin mood aing ilang

Big Thanks For You ^^

Athiyyah417 | lightdarklord88 | Darkyoung | dinda94 | cute | Bakpao Sehun | jjong86 | saya sayya | skai | Wendybiblu | Park RinHyun-Uchiha |