Daddy Day Care: A little brother for Jungkook?

Pair:

Kim Namjoon (Rap Monster) x Kim Seokjin (Jin)

With

Child! Yoongi, Hoseok, Jimin, Taehyung, and Jungkook.

Rated: T

Summary:

Seokjin sakit dan Namjoon harus merawat kelima putranya sendirian karena Seokjin tidak mampu mengurus mereka untuk sementara. Tapi.. kenapa penyakit Seokjin lebih mirip gejala kehamilan?

Warning:

Fiction, AU, GS! for Seokjin.

.

.

Enjoy!

.

.

Daddy Day Care: A little brother for Jungkook?

Puk Puk Puk

Namjoon mengerang malas dan menepis jemari seseorang yang terus saja menepuk-nepuk pipinya. Dia masih sangat mengantuk karena semalam dia harus lembur di kantornya.

Namjoon mencoba untuk kembali tidur tapi tangan yang terus saja menepuk-nepuk pipinya itu tidak berhenti dan saat dia membuka matanya, dia melihat ada sosok bayinya, Jungkook, tengah berbaring di atas tubuhnya dan menepuk-nepuk pipi Namjoon dengan tangan gemuknya.

"Kyahahaha!" Jungkook tertawa riang saat Namjoon menatapnya. Dan tawa Jungkook langsung membuat Namjoon tersenyum.

Namjoon meraih pinggang bayinya dan memindahkannya ke sebelahnya, "Kenapa Kookie ada di sini? Di mana, Mama?" Namjoon menangkap tangan gemuk Jungkook yang bergerak-gerak heboh dan berpura-pura menggigitnya, membuahkan tawa lainnya dari Jungkook.

Cklek

Namjoon menoleh ke arah suara pintu dan dia melihat Seokjin keluar dari kamar mandi di kamar mereka dengan wajah pucat. Namjoon bergegas duduk di tempat tidurnya, "Sayang, kenapa?"

Seokjin menggeleng lemah dan berbaring di tempat tidurnya, "Aku agak mual dan pusing. Bisa tolong bangunkan anak-anak? Mereka harus sekolah."

Namjoon mengangguk pelan, tangan besarnya menyentuh dahi Seokjin lembut. "Tapi kau tidak demam. Mau aku antar ke dokter?"

Seokjin menggeleng pelan, "Kurasa aku akan baik-baik saja kalau istirahat sebentar."

"Apa sebaiknya aku izin dari kantor hari ini? Kau tidak akan bisa mengurus Taehyung dan Jungkook sendirian dalam kondisi begini."

Seokjin membuka matanya yang sejak tadi terpejam karena pusing dan menatap suaminya, "Terima kasih, Namjoonie."

Namjoon mengangguk ringan, "Nah, sekarang aku akan bangunkan mereka. Kau di sini saja bersama Kookie."

Seokjin mengangguk lemah dan kembali memejamkan matanya seraya memijat pelipisnya.

Namjoon berjalan keluar dari kamar mereka dan masuk ke kamar Yoongi dan Hoseok. Saat dia membuka pintu kamar itu, dia tidak melihat Yoongi di tempat tidurnya, hanya ada Hoseok yang tertidur pulas seraya memeluk boneka kuda kesayangannya.

Namjoon berjalan ke arah Hoseok dan bergerak membangunkannya, "Hoseok, ayo bangun. Kau harus sekolah." Namjoon menepuk-nepuk punggung Hoseok beberapa kali dan Hoseok mengerang malas dan akhirnya bangun.

"Uhm.. Hobbie ngantuk, Papa.." rengek Hoseok seraya mengusap matanya.

"Ayo bangun dan mandi. Papa harus membangunkan Jimin."

Hoseok mengangguk kecil dia bergerak bangun dengan malas seraya mengusap-usap matanya karena mengantuk, dia juga menguap beberapa kali.

Cklek

Namjoon menoleh ke arah kamar mandi di kamar anaknya dan dia melihat Yoongi baru saja keluar dari sana dan dia sudah memakai seragamnya dengan rapi.

"Yoongi sudah mandi?"

"Sudah, Papa."

"Kalau begitu bisa tolong siapkan seragam Hoseok? Papa harus membangunkan Jimin."

Yoongi mengangguk, dia berjalan ke arah tempat tidur Hoseok, menarik Hoseok agar bangun dan menggandengnya ke kamar mandi.

Namjoon berjalan keluar dari kamar Yoongi dan Hoseok dan berjalan ke kamar Taehyung dan Jimin. Saat Namjoon membuka pintunya, kedua anaknya masih bergelung di tempat tidur dengan nyaman. Namjoon berjalan untuk membuka tirai di kamar anaknya (dia baru sadar kalau tirai di kamar Yoongi – Hoseok sudah terbuka dan itu pasti Yoongi yang membukanya).

Namjoon berjalan ke arah Jimin dan menepuk-nepuk punggung anaknya, "Jim, ayo bangun.."

Jimin menggeliat malas dan kembali tertidur.

"Jimin.." panggil Namjoon lagi.

"Chim-Chim ngantuk, Papa.." gerutu Jimin seraya terus menutupi kepalanya dengan selimut.

"Hei, ayo sekolah."

"Uuung.. Jimin mau Mama.."

"Ayo bangun Jimin. Nanti biar Papa mandikan."

Jimin menggeleng kecil, "Jimin mau Mama.." rengeknya.

"Mama sedang bersama Kookie, Jimin sama Papa saja ya?"

Jimin membuka selimutnya dan menatap Namjoon dengan sebal, "Tapi Jimin mau dimandikan sama Mama."

Namjoon menghela nafas pelan, dia mencoba mencari cara agar anaknya mau mandi. Namjoon melirik Taehyung, "Jimin mandi bersama Taetae saja, ya?"

"Taetae?"

Namjoon mengangguk, "Iya, nanti kalian bawa mainan karet kalian untuk bermain. Bagaimana?"

"Jimin mau!" pekik Jimin semangat dan suaranya yang melengking itu berhasil membangunkan Taehyung.

Taehyung yang kaget pun menangis keras dan membuat Namjoon panik, dia bergegas menghampiri Taehyung dan memeluknya.

"Taehyung.. sshh.." Namjoon berbisik pelan untuk menenangkan Taehyung yang menangis karena kaget mendengar suara Jimin yang melengking.

"Taetae kenapa, Papa?" tanya Jimin polos.

"Jimin ke kamar mandi duluan saja ya? Nanti Taehyung dan Papa menyusul."

Jimin mengangguk polos, dia bergerak bangun dan berjalan ke kamar mandi mereka untuk mandi. Sementara Namjoon masih sibuk menenangkan Taehyung yang menangis walaupun tangisannya sudah tidak sekeras tadi.

"Taetae.. mandi sama Jimin Hyung ya?" tawar Namjoon seraya mengelus-elus dan mengecupi kepala anaknya.

Taehyung mengangguk kecil, "Tapi Papa juga ikut mandi ya?"

"Iya nanti Papa ikut mandi." Namjoon berujar pasrah.

.

.

.

.

.

.

.

"Hoseok, ayo duduk yang benar. Nanti terlambat ke sekolah." Namjoon menegur Hoseok yang malah sibuk bercanda bersama Taehyung dan mengabaikan roti panggangnya.

"Hoseok tidak suka ini, rasanya pahit." Hoseok menjulurkan lidahnya, menggambarkan perasaan tidak sukanya pada roti panggang buatan Namjoon yang memang agak hangus.

Yap, karena istrinya sedang sakit, Namjoon memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk kelima anaknya. Tapi yang berhasil dia buat dengan benar hanyalah empat gelas susu, dia gagal membuatkan roti panggang untuk keempat putranya dan juga bubur bayi untuk Jungkook.

Namjoon menggaruk tengkuknya malu, "Kalau begitu sarapan sereal saja ya?"

Hoseok mengangguk semangat, "Iya, Papa!"

"Mama di mana, Papa?" tanya Yoongi seraya menuang sereal ke mangkuknya lalu menuangkannya ke mangkuk Taehyung kemudian dia memberikan kardus sereal itu pada Hoseok.

"Mama sakit, dia di kamar bersama Kookie."

"Mama sakit?" tanya Taehyung kaget.

"Iya, tapi Mama baik-baik saja kok."

"Taehyung mau melihat Mama!"

"Nanti, sayang. Habiskan dulu sarapanmu dan setelah itu Papa harus mengantar kakakmu ke sekolah, Tae mau ikut?"

"Mauuuu!"

Namjoon menghembuskan nafas lega, Taehyung memang selalu suka pergi ke sekolah kakaknya karena dia memang ingin cepat-cepat masuk sekolah.

"Papa, apa Mama baik-baik saja?" tanya Yoongi khawatir.

"Mama baik kok, hanya sedikit pusing dan mual."

"Oh, berarti Kookie mau punya adik ya, Papa?" ujar Jimin polos.

"Eh?" ujar Namjoon kaget.

"Kenapa Kookie mau punya adik, Hyung?" tanya Taehyung.

"Dulu waktu Kookie ada di perut Mama, Mama sering bilang dia pusing. Jadi Kookie mau punya adik kan, Papa?"

Namjoon terdiam dan wajahnya perlahan memucat, apa benar Seokjin hamil lagi?

"Oya? Memangnya kenapa? Mama pusing karena Kookie nakal ya?" tanya Taehyung lagi.

Jimin menggeleng polos, "Aku tidak tahu."

Hoseok menoleh menatap Namjoon, "Papa, kalau Kookie mau punya adik, berarti di dalam perut Mama ada bayinya ya Papa? Hobbie mau adik perempuan boleh tidak?"

Namjoon mengacuhkan semua ucapan putra-putranya soal 'adik untuk Kookie' yang ada di pikirannya sekarang adalah, jika Seokjin hamil lagi.. maka dia akan memiliki enam anak?!

Astaga..

.

.

.

.

.

.

Setelah mengantar anak-anaknya ke sekolah, Namjoon bergegas kembali ke rumah bersama Taehyung. Namjoon meminta Taehyung untuk bermain di ruang tengah sementara dia akan ke kamar untuk memeriksa Seokjin dan Jungkook.

Tadi sebelum pergi, Namjoon sempat memberikan semangkuk sereal untuk sarapan Seokjin. Dia belum membuatkan bubur bayi untuk Jungkook dan Seokjin bilang Jungkook bisa minum ASI saja untuk sarapan karena Namjoon tidak bisa membuat bubur bayi.

Namjoon membuka pintu kamar mereka dan dia melihat Seokjin sedang duduk seraya menimang Jungkook di pelukannya. "Sayang?"

Seokjin mendongak dan menatap Namjoon, "Anak-anak sudah ke sekolah?"

Namjoon mengangguk, "Aku sudah mengantar mereka."

"Taehyung mana?"

"Di ruang tengah, dia sedang bermain lego." Namjoon berjalan menghampiri Seokjin dan dia melihat kalau Jungkook tertidur di pelukan Seokjin. "Aku akan mandikan Jungkook." Namjoon melirik mangkuk Seokjin yang masih terisi separuh. "Kau tidak makan?"

"Aku tidak nafsu makan."

Mual, pusing dan tidak nafsu makan adalah kebiasan Seokjin saat hamil. Jangan-jangan Seokjin..

"Sayang, apa kau sudah datang bulan?"

Seokjin berkedip bingung, "Hah?"

"Iya, apa kau sudah datang bulan untuk bulan ini? Kau mual, pusing, dan tidak nafsu makan. Aku takut kau hamil lagi. Kita beberapa kali melakukan itu tanpa pengaman, kan?"

Seokjin tertawa kecil namun dia terhenti karena kepalanya berdenyut pelan. "Ah, kepalaku sakit.."

"Kau baik-baik saja? Kita ke dokter ya?"

Seokjin menggeleng, "Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya kelelahan. Sudah, sebaiknya kau mandikan Jungkook."

"Tapi.."

"Cepat Namjoon, Kookie harus ganti baju, aku tidak mau dia mengalami iritasi ringan lagi."

Namjoon menurut, dia mengambil Jungkook dan membangunkannya karena dia akan dimandikan. Jungkook menggerung marah tapi karena Namjoon terus membujuknya untuk bangun, bayi kecilnya yang gemuk itu akhirnya bangun, dia menggeliat pelan dalam pelukan Namjoon dan menguap.

"Kookie sudah banyak minum ASI. Nanti biar aku yang membuatkan makan siang untuknya, mungkin siang nanti aku sudah merasa lebih baik."

Namjoon mengangguk, "Aku juga sudah menelepon kantor saat mengantar anak-anak tadi. Jangan memaksakan diri, sayang. Istirahat saja."

Seokjin mengangguk pelan.

.

.

.

.

.

.

.

Tapi ternyata sampai siang hari pun Seokjin masih belum membaik. Jadi Namjoon lah yang harus pergi menjemput anak-anak mereka di sekolah bersama Taehyung.

Namjoon berdiri di dekat bangunan sekolah bersama Taehyung yang menatap pelataran sekolah dengan mata berbinar.

"Papa, kapan Taetae boleh sekolah seperti Hyungie?"

Namjoon tersenyum saat mendengar pertanyaan penuh nada antusias dari Taehyung, dia berjongkok agar tingginya sejajar dengan Taehyung (itu pun Namjoon masih lebih tinggi). "Nanti, sayang. Taehyung harus menunggu sebentar lagi sebelum bisa ikut sekolah bersama Hyungdeul yang lain.."

Taehyung mengangguk mengerti. "Tapi Taehyung tidak sabar.."

"Tunggu saja, nanti kalau Taehyung sudah bertambah tinggi lagi, Taehyung pasti boleh ke sekolah."

Taehyung refleks menjinjitkan kedua kaki mungilnya, "Taehyung tinggi kok, Papa!"

Namjoon tertawa, "Bukan seperti itu, sayang.."

"Papaaaaa!"

Namjoon dan Taehyung menoleh dan mereka melihat Jimin tengah berlari ke arah mereka. Jimin memang yang pulang lebih dulu sebelum Yoongi dan Hoseok. Jadi mereka masih harus menunggu sampai Yoongi muncul, karena Yoongi adalah yang paling tua, maka dia sudah berada di tingkat tertinggi dibandingkan saudaranya yang lain.

Namjoon tersenyum dan menangkap tubuh gempal Jimin, "Aigoo, Jiminnie sudah pulang sekolah, hum?"

Jimin mengangguk riang, "Hari ini Jimin belajar.."

"Hyung itu apa?" tanya Taehyung seraya menunjuk gambar bintang di dada Jimin.

"Oh, Jimin mendapatkan ini karena berhasil menari dengan baik di kelas kesenian tadi!" jelas Jimin bangga.

Namjoon tertawa dan mengacak rambut anaknya, "Aigoo, anak Papa hebat sekali."

Jimin tersenyum lebar hingga matanya menyipit lucu, sementara Taehyung menatap gambar bintang yang terbuat dari kertas origami di dada Jimin dengan takjub.

"Taehyung juga mau itu. Hyung, itu boleh buat Taehyung tidak?"

Jimin menggeleng keras, "Tidak boleh! Ini punyaku!"

"Hyung, Tae mau ituuu… untuk Taetae ya?"

"Tidak!"

Taehyung mengulurkan tangannya untuk mengambil bintang di dada Jimin, Jimin yang tidak mau memberikan itu pada Taehyung mendorong tubuh mungil Taehyung hingga terjatuh.

"Uuuuh.. Huaaaa!"

Taehyung menangis keras karena didorong oleh Jimin, Namjoon membantu Taehyung untuk bangun dan memeluknya.

"Jimin.. tidak boleh seperti itu pada adikmu. Ayo, minta maaf pada Taetae, kasihan dia sampai terjatuh."

Jimin mendengus, "Tidak mau!"

"Jimin." Namjoon menegur Jimin seraya terus menenangkan Taehyung.

"Pa-Papa, Ji-Jimin Hyung jahat, hiks. Sakit.." rengek Taehyung seraya menatap Namjoon dengan kedua matanya yang basah dan airmata terus mengalir dari matanya.

"Ssh.. sayang.." Namjoon berbisik pelan untuk menenangkan Taehyung yang masih terisak-isak.

Jimin yang melihat Taehyung menangis menjadi tidak enak. Jimin menghampiri Taehyung dengan perlahan dan mengusap kepalanya. "Taetae, maafkan Hyung.. sakit ya?"

Taehyung mengangguk, dia beringsut menjauh dari tangan Jimin dan memeluk Namjoon lebih erat.

"Taehyung, maafkan Jimin Hyung ya? Jimin Hyung tidak sengaja kok." Namjoon membujuk Taehyung untuk memaafkan Jimin sebelum Jimin ikut menangis.

Taehyung mengangguk kecil, dia mengusap-usap mata dan pipi gembulnya yang basah.

"Aigoo, anak Papa." Namjoon mengulurkan tangannya dan membantu membersihkan bekas airmata di mata Taehyung.

"Papa! Papa! Papa!"

Namjoon yang masih sibuk mengurus Taehyung menoleh dan kali ini dia melihat Hoseok yang sedang berlari riang ke arah mereka, di belakangnya ada sosok seorang guru wanita yang berjalan mengikuti Hoseok.

"Ah, Hoshiki sudah pulang.." Namjoon tersenyum menyambut Hoseok.

"Uhm, anda ayah Hoseok?" tanya guru Hoseok.

Namjoon mengangguk, dia berdiri sambil menggendong Taehyung yang masih memeluk lehernya. "Iya, perkenalkan, aku Kim Namjoon." Namjoon mengulurkan tangannya, "Ada apa? Apa Hoseok nakal?"

Guru itu menggeleng dengan wajah yang merona karena melihat Namjoon yang memang luar biasa tampan. "Ti-tidak, Hoseok anak yang baik."

"Lalu?"

"Ka-kami akan mengadakan pentas sekolah bulan depan, dan.. kami ingin meminta izin anda untuk mengizinkan Hoseok berpartisipasi."

"Oh, begitu.." Namjoon menunduk menatap Hoseok, "Hobbie mau ikut pentas?"

"Mau, Papa!"

"Kalau begitu saya mengizinkan Hoseok ikut berpartisipasi." Namjoon berujar kepada guru Hoseok setelah Hoseok mengatakan kalau dia mau ikut dalam pentas sekolah itu.

Guru Hoseok mengangguk pelan, "Anda.. tidak terlihat seperti ayah dari beberapa anak."

"Eh? Maksudnya?"

"Iya, anda masih terlihat muda dan tampan.. oh! Maafkan saya." Guru itu membungkuk kecil karena dia refleks mengucapkan kalimat itu dan dia takut Namjoon tersinggung.

Namjoon tertawa pelan, "Tidak apa." Namjoon menunduk dan menatap Hoseok, "Yoongi belum keluar ya? Papa khawatir kalau kita lama meninggalkan Mama di rumah bersama Kookie."

"Itu Yoongi Hyung!" seru Jimin seraya menunjuk Yoongi yang berjalan keluar dari sekolah dengan tenang.

Namjoon menghela nafas lega, dia menurunkan Taehyung dari gendongannya. "Karena anak pertama saya sudah pulang, saya rasa saya harus pergi." Namjoon berujar kepada guru Hoseok seraya tersenyum kecil.

"Ah, ya! Tentu saja."

"Yoong-Yoong Hyuuungg~ ayo pulang~" ujar Jimin seraya berlari menyongsong Yoongi dengan senyum lebar di wajahnya.

Namjoon menunduk menatap anak-anaknya yang sudah berkumpul, "Nah, sebelum pulang kita beli makan siang dulu, ya? Kalian mau makan apa?"

"Chim-Chim mau ayam goreng!"

"Uh, uh! Taetae juga mau itu!"

"Hoseok mau daging sapi!"

"Aku mau sup saja, Papa."

"Papa, Papa, nanti beli permen yang baaaannnyyyaaakkk, ya!" ujar Taehyung seraya merentangkan kedua tangannya untuk menggambarkan sebanyak apa permen yang dia inginkan.

Namjoon tertawa kecil, "Iya, iya.."

.

.

.

.

.

.

.

Namjoon berjalan mondar-mandir di depan pintu kamarnya dan Seokjin dengan cemas. Kondisi Seokjin belum juga membaik, dia justru semakin parah karena Seokjin terus saja muntah. Dan ini membuat Namjoon sangat khawatir, makanya dia memanggil dokter ke rumahnya setelah anak-anaknya tertidur.

Dia takut anak-anaknya ikut mengkhawatirkan kondisi ibu mereka. Karena sepanjang hari ini, setelah mereka pulang sekolah, anak-anaknya tidak henti menanyakan ibu mereka.

Namjoon menghentikan gerakannya mondar-mandir di depan pintu kamar saat pintu kamarnya terbuka dan seorang dokter berjalan keluar dari sana. Namjoon bergegas menghampiri dokter itu dan mencengkram lengan atasnya, "Bagaimana? Istriku tidak hamil lagi, kan? Iya, kan?" tanyanya panik.

"Eeh, tenang dulu, Tuan.."

"Aish, cepat katakan saja!" ujar Namjoon tidak sabar. Kepastian apakah Seokjin mengandung lagi atau tidak benar-benar menjadi sebuah penentu hidup dan mati Namjoon. Dia bisa stress kalau mendapatkan satu anak lagi yang sama hiperaktifnya seperti Hoseok, Jimin, dan Taehyung.

Dokter itu berdehem pelan, "Nyonya Kim baik-baik saja.. dan soal yang anda tanyakan itu.." dokter itu menatap Namjoon, "Nyonya Kim tidak hamil, dia hanya keracunan makanan, makanya dia mual dan pusing."

Namjoon menghembuskan nafas lega, "Haah, syukurlah.."

"Saya sudah memberinya obat, dia akan baik-baik saja. Biarkan dia istirahat yang cukup malam ini."

Namjoon mengangguk, "Baik, terima kasih banyak."

Setelah mengantar dokter itu pergi, Namjoon berjalan masuk ke kamar mereka dan dia melihat Seokjin tengah duduk di tempat tidur mereka. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi karena dokter sudah memberinya obat.

"Kata dokter kau keracunan makanan." Namjoon berujar seraya duduk di sebelah istrinya.

"Oya?"

"Huum, tapi aku bingung, apa yang kau makan sampai kau keracunan begitu?"

Seokjin mengerutkan dahinya, "Entahlah, kemarin malam kan aku hanya makan salad buah buatanmu.." Seokjin terdiam dan dua detik kemudian dia menoleh dan menatap Namjoon, "Namjoon, kemarin kau membuat salad buah dengan apa?"

"Eh? Mayo yang ada di kulkas dan kucampur sedikit yoghurt."

Seokjin mengerang kesal dan memukul kepala Namjoon, "Bodoh! Yoghurt yang ada di rumah itu sudah basiiii! Apa kau tidak lihat kalau itu sudah kuletakkan di dapur dan tidak di lemari es? Rencananya itu mau kubuang hari iniii!"

"Eh? Benarkah?"

"Argh! Kau ini benar-benar !" Seokjin berbaring memunggungi suaminya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Sa-sayang.. maafkan aku.. aku kan tidak tahu."

"Aku tidak mau bicara denganmu! Dasar bodoh!"

"Seokjin.."

"…."

"Jinnie, maafkan aku.."

"…."

"Jinnie.."

"BERISIK! AKU MAU TIDUR!"

The End

.

.

.

.

Hahaha, sudah lama tidak menulis Daddy Day Care ini.

Kuharap kalian sukaa~

.

.

.

Thanks