*Happy Reading!*
Furihata Kouki terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam digital di meja sebelah tempat tidurnya, pukul 02.45 AM. Furihata ingin melanjutkan tidurnya lagi. Namun, rasa lapar yang mengusik tidurnya sangatlah mengganggunya. Perutnya terus keroncongan sejak tadi. Maklum, Furihata belum makan malam sejak pulang ke rumah. Ia lembur mengerjakan tugas kuliahnya yang menumpuk hingga membuatnya tidak bisa makan malam. Saking lelahnya, ia langsung pergi tidur. Furihata tidak pernah tau kalau ia akan terbangun di pagi buta begini.
Furihata pergi ke dapur. Ia membuka lemari makan. Hanya ada piring dan gelas yang tersusun rapi disana. Tidak ada makanan. Ia membuka kulkas, hanya ada botol berisi air mineral, minuman isotonik, dan beberapa minuman kaleng aneka rasa. Tidak ada sesuatu yang dapat ia makan disana.
Furihata menghela napas. Ia lupa membeli persediaan makanan. Sekarang ia malah kehabisan makanan disaat-saat sedang kelaparan seperti ini. Maklum, Furihata tinggal sendirian di sebuah apartemen, tepatnya di lantai 15. Furihata hanya membeli bahan makanan seminggu sekali. Jika ia kehabisan makanan, ia akan makan diluar bersama teman-temannya atau numpang makan bersama tetangganya yang tinggal disebelahnya. Semalam, Furihata tidak sempat makan diluar. Ia juga merasa kurang ajar sekali jika harus mengganggu tidur tetangganya hanya karena mau minta makan.
Mau tidak mau, Furihata harus mengambil alternatif lain. Ia harus pergi keluar untuk mencari makanan. Namun sekarang hampir jam 3 pagi. Kedai makanan mana yang masih buka jam segini?
Furihata teringat kalau di lantai satu apartemen tempatnya tinggal, ada sebuah minimarket yang buka 24 jam. Furihata bisa membeli makanan disana. Ia langsung bergegas ke kamarnya, berganti pakaian, mengambil uang, lalu pergi ke minimarket.
Furihata sangat suka dengan apartemen tempatnya tinggal ini. Selain tempatnya yang nyaman, para tetangga yang tinggal di sekitarnya juga baik dan ramah. Namun, ada satu hal yang tidak Furihata sukai. Bukan tidak suka, melainkan takut. Hal yang ditakuti Furihata itu adalah lift. Furihata tidak suka naik lift sejak ia mendengar cerita menyeramkan tentang lift di apartemennya itu. Dulu, sebelum Furihata tinggal disana, ada seorang gadis SMA yang meninggal tergilas lift pada pukul 3 pagi. Konon katanya, jika ada orang yang menggunakan lift pada pukul 3 pagi, orang tersebut akan didatangi hantu gentayangan si gadis dan dibawa pergi bersamanya. Walaupun belum ada bukti tentang cerita tersebut, orang-orang yang tinggal disana merasa takut dan tidak mau menggunakan lift pada pukul 3 pagi. Mereka lebih memilih menggunakan tangga daripada harus bertemu hantu gadis menyeramkan di dalam lift.
Furihata adalah lelaki yang penakut. Sejak mendengar cerita itu, Furihata tidak pernah lagi mau menggunakan lift. Setiap kali dia akan meninggalkan apartemennya, ia akan menggunakan tangga. Namun, saat ini tubuhnya terasa lemas sekali. Ia lelah dan juga lapar. Mana mungkin ia bisa turun 15 lantai menggunakan tangga disaat seperti ini. Yang ada ia pingsan. Mau tidak mau, Furihata harus menggunakan lift.
Furihata menguk ludahnya susah payah. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
"Furihata… Jangan takut… Itu semua hanya cerita. Tidak ada yang namanya hantu." Furihata berusaha meyakini dirinya sendiri. Setelah memantapkan hatinya, Furihata melangkahkan kakiknya masuk ke dalam lift. Ia segera menekan tombol lantai tujuannya, yaitu 1.
Teng!
Pintu lift terbuka. Furihata berhasil sampai di lantai satu dengan selamat sentosa. Selama di dalam lift pun, ia tidak mengalami kejadian aneh. Furihata sujud syukur karena tidak bertemu dengan hantu gadis itu. Furihata sekarang yakin bahwa selama ini ia hanya paranoid berlebihan.
Furihata segera masuk ke dalam minimarket. Ia mengambil beberapa potong roti, keju, beberapa bungkus mi instan rasa kesukaannya, selai, dan juga susu kotak. Setelah membayarnya di kasir, Furihata kembali ke apartemennya.
Furihata melirik jam tangannya. Pukul 3 tepat. Furihata harus segera sampai di apartemennya, segera mengisi perutnya lalu kembali tidur. Pukul 9 nanti, Furihata harus menghadiri kelas. Ia tidak boleh sampai terlambat.
Di depan lift, Furihata bertemu dengan seorang gadis. Rambutnya coklat pendek. Kulitnya juga pucat. Ia mengenakan seragam SMA. Sesaat Furihata teringat kembali dengan cerita hantu gadis SMA di dalam lift. Namun, Furihata berusaha meyakinkan dirinya bahwa gadis di depannya bukanlah hantu karena kakinya yang menapak.
Gadis itu menoleh. Ia tersenyum ramah pada Furihata. Furihata bersyukur karena wajah gadis itu normal. Tidak hancur seperti yang diceritakan para tetangganya.
"Oh, halo. Apa kau juga tinggal disini? Aku tidak pernah melihatmu," si gadis menyapa.
"Ah, ya. Aku tinggal di lantai 15," Furihata menjawab kikuk.
"Begitu ya. Aku Aida Riko, salam kenal ya."
"Aku Furihata Kouki. Senang bertemu denganmu."
Keduanya lalu memasuki lift.
Selama di dalam lift, mereka berdua hanya diam. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Furihata jadi canggung sendiri karena ia tidak pernah satu ruangan hanya berdua dengan seorang gadis.
"A-ano… Aida-san. Kamu baru pulang sekolah? Kok masih pakai seragam?" Ffurihata mengambil inisiatif untuk memulai obrolan.
"Ah, ya. Aku habis belajar kelompok di rumah temanku. Lalu aku ketiduran disana. Kemudian, ayah menelponku dan menyuruhku untuk segera pulang."
"Oh, begitu ya."
Keduanya kembali canggung.
"Ngomong-ngomong, kamu tinggal di lantai berapa?" Furihata bertanya lagi.
"13."
DEG!
Mendadak Furihata membeku. Lantai 13 itu adalah lantai angker. Tidak ada satupun yang berani tinggal disana kecuali satu keluarga. Sebuah keluarga yang terdiri atas seorang ayah dan seorang anaknya yang masih SMA. Namun, beberapa tahun lalu, sang anak yang tinggal di keluarga itu ditemukan tewas tergilas lift. Sang ayah depresi karena kematian putrinya. Sehari setelah kematian putrinya, sang ayah ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Furihata kurang tau tentang cerita itu karena kejadian tersebut terjadi sebelum dirinya tinggal disana, tapi Furihata pernah mendengar nama keluarga itu. Keluarga tersebut bernama Aida.
Furihata tidak berani melihat gadis yang berdiri di sebelah kirinya. Ia sangat takut. Namun, Furihata harus memastikannya, siapa wujud sebenarnya dari gadis itu.
Furihata jatuh terduduk begitu melihat sosok yang berdiri di sebelah kirinya itu. Wajahnya pucat pasi. Mulutnya megap-megap seperti ikan kehabisan oksigen. Furihata tidak bisa mengatakan satu katapun. Bahkan tubuhnya mendadak tidak bisa digerakkan. Ia mati rasa.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Furihata-kun? Apa ada yang aneh denganku?"
Gadis itu menyunggingkan senyum mengerikan di wajahnya yang hancur. Kakinya tidak lagi menapak lantai. Wujud aslinya telah terlihat.
"T-tolong… J-jangan bunuh aku… Kumohon…"
"Khukhukhu… tidak bisa. Kau sekarang sudah jadi temanku. Kau harus ikut bersamaku."
Gadis itu menjulurkan tangannya, hendak menggapai Furihata. Furihata tidak tau apalagi yang terjadi setelah itu karena ia merasa seluruh tubuhnya hancur dan semuanya menjadi gelap.
Keesokkan harinya, Furihata ditemukan tewas di dalam lift dengan keadaan tubuh hancur akibat tergilas lift yang jatuh diatasnya.
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Lift
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Original Story © Yuuki Azusa
Rated : T
Genre : Horor x berbagai genre lainnya
Cast : Furihata Kouki, Aida Riko
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Chapter 3 is up! Kali ini original story dariku lagi nih! Btw, makasih buat yg udah favs, follow, dan review ya. Makasih sudah menunggu dan mendukung kelanjutan ceritaku ini.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!~
