Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Sword Art Online © Reki Kawahara
.
.
.
Pairing: Naruto x Asuna
Rating: T
Genre: Tragedy/supranatural/romance/mistery/humor/hurt/comfort
Setting: AU (Kota Uzu)
Kamis, 20 Oktober 2016
.
.
.
MY GIRLFRIEND FROM THE LAST
By Hikasya
.
.
.
Chapter 3. Bertanding kendo
.
.
.
POV: NARUTO
.
.
.
Pada akhirnya, Asuna tidak kutemukan di sepanjang perjalananku ke sekolah. Dia tidak ada di mana-mana saat aku mencarinya ke semua tempat. Sampai membuatku hampir terlambat karena jam masuk sekolah dimulai pada pukul 9 pagi. Tapi, aku tidak berhasil menemukannya hingga langkahku sampai ke kelasku sendiri.
Kelas 12-A, di mana aku belajar selama dua bulan ini, bersama teman-teman seperjuanganku. Sebentar lagi, kami akan menempuh ujian kelulusan untuk bisa masuk ke perguruan tinggi. Kami dituntut keras untuk terus belajar dan harus meninggalkan apa saja yang mengganggu konsentrasi belajar kami. Akan banyak ujian yang kami tempuh demi kelulusan ini.
Setiba di kelasku ini, aku disambut dengan suara-suara yang memekakkan telingaku. Pasalnya teman-teman sekelasku berbicara antara satu sama lainnya. Ada yang saling berkejar-kejaran, membaca, menelepon, melukis dan berbagaimacam pemandangan yang menarik untuk diperhatikan. Tidak ada di antara mereka yang menyapaku kecuali hanya satu orang.
"Ohayou, Naruto!"
Seseorang menyapaku dengan suaranya yang amat datar saat aku meletakkan tasku di atas meja, persis di depan mejaku. Siapa lagi kalau bukan si rambut putih dan bermata sipit, Senju Tobirama.
"Ohayou, Tobira!"
Begitulah panggilanku terhadapnya. Aku suka memanggilnya dengan sebutan "Tobira."
"Kenapa kau sedikit telat padahal biasanya pagi-pagi sekali kau sudah ada di kelas ini? Ada apa gerangan?"
Dia malah bertanya dengan kesan aneh sambil membaca sebuah buku pelajaran. Duduk santai di bangkunya sendiri tanpa menoleh sedikitpun padaku.
Aku duduk di bangkuku sembari menjawab pertanyaannya.
"Ada urusan yang mendadak sehingga aku sedikit telat datang ke sekolah."
"Urusan apa?"
"Bukan urusanmu."
"Ukh! Apa katamu!?"
Kali ini Tobirama mendelik ke arahku. Aku cuma bersikap cuek sambil menopang daguku dengan tangan kanan yang bertumpu di atas meja.
"Ya, bukan urusan apa-apa yang tidak perlu kau ketahui, Tobira."
"Tapi, kenapa kau menjawabnya dengan dingin begitu?"
"Salah ya?"
"Tentu saja salah. Aku inikan temanmu, seharusnya kau menceritakan apapun padaku. Tapi, kau malah mengatakan sesuatu yang sangat menyinggungku. Kau memang menyebalkan!"
Wajahnya menjadi sewot. Si Senju itu kembali melototi buku yang dipegangnya di kedua tangannya. Aku hanya memperhatikannya dengan datar.
Dua orang yang kaku saling berbicara. Itulah yang kurasakan selama berteman dengan Tobirama. Hanya dialah yang mau menjadi temanku, meskipun masih banyak yang ingin berteman denganku, tapi aku merespon mereka dengan tidak baik. Kadang-kadang aku berkata sinis pada mereka sehingga mereka tersinggung dan menjadi kesal padaku. Memilih menjauhiku dan menganggap aku tidak ada di antara mereka. Mereka cuek begitu saja tanpa menghiraukan aku lagi.
Tapi, ada satu orang yang lebih parah dariku yaitu Kazuto. Kazuto yang duduk tak jauh dariku. Di kelas ini, tidak ada seorangpun yang mau menjadi temannya. Dia sangat tertutup dan misterius. Suka menyendiri dan selalu menghilang ketika jam istirahat tiba karena pergi entah kemana. Dia juga terkenal di klub kendo karena kecepatannya saat berkendo. Keahlian kendonya jauh melebihi Uchiha Sasuke. Uchiha Sasuke, seorang laki-laki berambut raven dan bermata hitam kelam yang berasal dari klan Uchiha dan merupakan ketua klub kendo sekolah ini. Aku sangat mengenal Sasuke itu, tapi tidak akrab, kerap juga kami saling bertengkar jika berlatih kendo bersama-sama.
Keahlian kendoku saat ini masih jauh di atas rata-rata. Tapi, aku terus berlatih dalam bimbingan guru kendoku yaitu Hatake Kakashi, seorang guru yang mengajar di bidang mata pelajaran sejarah. Aku terus berlatih dengan keras agar bisa mengalahkan sainganku yaitu Sasuke dan Kazuto. Dua orang yang akan kutargetkan untuk kutantang dalam pertandingan kendo, tentunya dalam pengawasan guru pembimbing kendo.
Begitulah, selama bersekolah di Uzu High School ini, aku mengikuti klub kendo. Karena aku suka sekali yang namanya berpedang, makanya aku memilih masuk ke klub kendo pada awal masuk sekolah ini. Kendo sama saja memainkan pedang, karena seseorang memainkan shinai saat berkendo. Shinai diibaratkan seperti pedang, umpamanya begitu saat aku mulai berlatih kendo. Entahlah, aku merasa jiwaku sudah terpaut yang namanya pedang. Kerap juga, aku melakukan gerakan-gerakan aneh saat berlatih kendo bersama teman-teman seklub kendoku. Aku melakukannya tanpa sadar dan pada akhirnya kena ceramah panjang oleh guru pembimbing klub kendo yaitu Kakashi-sensei karena gerakan teknik kendoku berbeda dengan teknik-teknik yang diajarkan Kakashi-sensei.
Sungguh cerita yang panjang seputar kegiatanku di klub kendo, mengingatnya sangat membuatku geli. Ingin tertawa dan tersenyum, tapi aku tidak bisa melakukannya. Tidak ada ekspresi apapun di wajahku yang selalu terlihat murung. Entahlah ada sesuatu yang amat menyedihkan tertinggal di lubuk hatiku yang paling dalam.
TANG! TONG! TANG! TONG!
Bunyi bel masuk menyentakku dari lamunanku yang panjang. Aku kembali sadar dan mengedarkan pandanganku ke segala arah. Semua orang segera berhamburan dan duduk manis di kursi masing-masing. Hingga tatapanku tertuju pada si rambut hitam yaitu Kazuto.
KIIIITS!
Ternyata Kazuto juga menatap ke arahku. Tatapannya sangat tajam. Aku juga menatapnya dengan tajam.
Terjadilah aliran listrik permusuhan di antara kami, tanpa seorangpun yang menyadarinya. Kami diliputi persaingan yang sangat kuat karena akan bertanding kendo esok harinya.
'Lihat saja... Aku akan mengalahkanmu, Kazuto...,' batinku yang menggema di dalam hati.
Mungkin Kazuto berpikiran yang sama denganku.
Setelah itu, guru pun datang dan masuk ke kelas kami dengan semangat masa mudanya yang membara. Dia adalah seorang pria berambut hitam model bob dan beralis super tebal. Namanya Gai.
"OHAYOU, SEMUANYA!"
"OHAYOU, SENSEI!"
"DEMI SEMANGAT MASA MUDA YANG MEMBARA, KITA AKAN SENAM UNTUK PELAJARAN OLAHRAGA, PAGI INI! CEPAT GANTI PAKAIAN KALIAN DAN SEGERA PERGI KE GEDUNG OLAHRAGA!"
"BAIK, SENSEI!"
"OKE, AYO, KITA KELUAR!"
Maka kami semua pun keluar dari kelas itu sambil membawa pakaian olahraga masing-masing. Kami akan berganti pakaian di toilet. Saling berbicara antara satu sama lainnya dalam perjalanan ke toilet tersebut.
Sementara Gai-sensei entah pergi kemana setelah keluar kelas tadi. Mungkin dia mengambil perlengkapan senam di ruang olahraga karena semua perlengkapan olahraga tersedia di sana.
Aku juga terlibat pembicaraan serius dengan Tobirama. Kami berbicara berbagai hal hingga berujung untuk belajar kelompok. Sampai naluriku menangkap hawa keberadaan Asuna yang tersebar di sekitarku.
Apakah mungkin Asuna berada di sekolahku?
Memikirkan itu, sungguh mengejutkan hatiku. Jangan sampai Asuna menampakkan dirinya di sini. Kalau tidak, Kazuto akan merasakan hawa silumannya itu, meskipun terselubung atau ditutupi serapat mungkin agar tidak diketahui keberadaannya, Kazuto bisa menemukannya dengan mudah. Entahlah, aku tidak begitu tahu bagaimana caranya Kazuto memiliki kekuatan "mendeteksi hawa siluman" itu. Mungkin kekuatan itu didapatkannya dari darah keturunan klannya, seperti aku yang memiliki kekuatan "pembuka segel siluman" yang kudapatkan dari klan Namikaze, darah keturunan ayahku.
Selain kekuatan "pembuka segel siluman" itu, aku tidak memiliki kemampuan supranatural yang lain. Kemampuan supranatural yang bisa digunakan untuk menyerang siluman atau membasmi siluman, hal itu tidak ada padaku. Bahkan ayah yang seorang pendeta kuil yang merangkap sebagai dosen yang mengajar mata pelajaran sejarah di salah satu perguruan tinggi di kota Konoha, hanya memiliki kemampuan untuk membuka segel siluman. Tapi, ayah juga memiliki kemampuan untuk melihat siluman, mendengarkan suara siluman dan merasakan hawa keberadaan siluman. Itu yang diwariskan ayah padaku.
Sedangkan ibuku adalah seorang wanita yang biasa-biasa saja, tanpa memiliki kemampuan supranatural apapun. Dia meninggal karena sakit, tanpa diketahui penyakit apa yang dideritanya saat aku masih berumur 10 tahun.
Aku sering bersedih hati jika mengingat tentang ibu yang meninggal karena sakit misterius. Ibu adalah wanita yang sangat menyayangiku sepenuh hati. Dialah yang terus menyemangatiku saat aku dilanda putus asa. Dialah yang menjadi pelindungku selama ini. Dia adalah segalanya bagiku.
Hingga saat kehilangan dirinya untuk selama-lamanya, membuat aku terpukul sekali. Aku menangis sepanjang hari, tapi ayah selalu menghiburku dan menasehatiku agar tetap tegar menghadapi hidup. Aku berusaha mengikuti apa yang dikatakan ayah. Mencoba tegar dan selalu maju untuk menjalani hidup ini.
Ketika aku masuk Uzu High School di kota Uzu, aku memutuskan hidup mandiri dan jauh dari ayahku. Ayahku membelikan aku satu apartemen yang berada di sebelah barat kota Uzu, tak jauh dari kuil Yamabuki itu. Aku hidup sendirian selama aku bersekolah di sini. Hidupku monoton dan selalu sama seperti itu. Tidak ada sesuatu yang menarik, membuat hidupku penuh ketegangan. Aku ingin berpetualang dan menempuh suatu bahaya yang menantang. Rasanya aku ingin menghadapi bahaya dengan pedangku dan berperan sebagai pendekar pedang layaknya pada zaman dahulu kala.
Pikiran aneh ini terus tersibak setiap hari, sejak aku kecil. Entah mengapa aku ingin memegang pedang dan memainkan pedang. Hingga menarikku untuk mempelajari kendo, sejak berumur 7 tahun.
Juga aku mulai menggunakan nama keluarga ibuku, Uzumaki, sebagai nama depanku selama bersekolah di Uzu High School, atas izin dari ayah. Tidak ada alasan khusus mengapa aku menggunakan nama Uzumaki, bukan Namikaze. Hanya untuk menyembunyikan identitasku yang sebenarnya, sebab klan Namikaze dikenal sebagai "klan pembuka segel siluman" sejak zaman dahulu kala. Klan yang dianggap sebagai bencana besar karena mereka pernah membuka segel pengurungan siluman yang mengerikan selain Kyuubi, siluman itu menghancurkan seluruh tempat yang ada di dunia ini. Hingga datanglah klan Uchiha dan klan-klan lainnya untuk menghentikan siluman itu. Mengalahkannya dan menyegelnya lagi tanpa bisa membasminya.
Dunia aman setelah itu, klan Namikaze dibunuh oleh pemerintahan kerajaan. Tapi, hanya satu orang yang selamat dan mewariskan kekuatan itu pada generasi berikutnya. Sampai kekuatan itu turun padaku. Aku baru menggunakannya saat membebaskan Asuna dari lukisan itu. Selama ini, aku menyembunyikan kemampuanku dari khalayak umum, hanya Kazuto yang mengetahuinya. Karena Kazuto pernah mengunjungi apartemenku saat belajar kelompok bersamaku. Kami selalu sekelas dari kelas 10-12 ini. Dia tidak sengaja membaca buku catatan harian milik ayahku yang tertinggal di kolong meja ruang tamu. Dari sanalah, dia mengetahui bahwa nama keluarga ayahku adalah Namikaze.
Rahasia siapa diriku terbongkar olehnya melalui buku catatan harian milik ayahku. Dia pun mulai bersikap tidak bersahabat padaku dan menganggap remeh kemampuan supranaturalku. Aku sering menantangnya bertanding kendo, tapi aku kalah. Setelah itu, dia semakin bersikap dingin dan menganggapku sebagai pecundang yang lemah.
Untuk itulah, aku terus giat berlatih kendo di bawah bimbingan Kakashi-sensei. Aku bertekad akan mengalahkannya di pertandingan kendo esok hari itu.
Mengenai klan Namikaze di zaman modern ini, tidak dianggap sebagai klan "pembawa bencana besar" lagi, tapi dianggap biasa-biasa saja di khayalak umum. Hanya segelincir orang-orang dari klan yang berhubungan dari generasi terdahulu, mengetahui cerita sejarah tentang klannya, masih menganggap klan Namikaze sebagai klan pembawa bencana. Tapi, tidak dibeberkan ke media massa. Mereka hanya bersikap tidak bersahabat terhadap orang-orang yang berasal dari keturunan Namikaze. Menganggap remeh dan menghina.
Itulah yang kurasakan sejak Kazuto mengetahui semua tentang diriku. Dia semakin menyebalkan dan memuakkan bagiku.
Aku sudah lama melamun sampai aku menyadari langkahku bersama Tobirama, sudah sampai di toilet khusus murid laki-laki. Kami pun masuk bersamaan teman-teman sekelas kami juga masuk.
["KYAAAAAAAAAA! AKU MASUK KE TEMPAT LAKI-LAKI!"]
Mendadak aku mendengar suara yang menggema di sekitarku. Asalnya dari saku blazerku.
'Hm... Itukan suaranya... Asuna!?'
Aku merogoh kantong blazerku. Di mana isinya adalah kunci rumahku dengan mainan kunci berbentuk katak hijau. Aku mengambil kunci itu dan memperhatikan kunci itu dengan seksama.
"Ada apa?" tanya Tobirama, berdiri di sampingku.
Aku menoleh ke arahnya.
"Tidak ada," jawabku dengan nada datar.
"Oh..."
Tobirama hanya ber-oh ria dan segera mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian olahraga. Aku masih berdiri sambil memperhatikan kunci di tangan kananku, sedangkan tangan kiriku mengepit pakaian olahragaku. Aku merasakan hawa keberadaan Asuna yang samar-samar terselubung dalam mainan kunci katak hijau itu. Berarti Asuna menyembunyikan dirinya di dalam mainan kunci katak hijau itu dari deteksi Kazuto.
'Kenapa bisa?'
Aku meraba-raba bagian leherku. Tidak dirasakan adanya kalung jimat pelindung yang melingkari leherku.
Gawat, aku lupa memakainya!
Sudah pasti, kalung jimat pelindung itu tertinggal di rumah. Karena itu, Asuna bisa bersembunyi di dalam mainan kunci katak hijau itu, tanpa tertolak oleh pengaruh kekuatan jimat.
Ya, sudahlah, aku berpikir ada bagusnya juga jika aku tidak memakai kalung jimat pelindung tersebut. Karena Asuna bisa berlindung untuk sementara waktu dari incaran Kazuto. Aku harus melindungi Asuna agar Asuna tidak dimusnahkan oleh pendeta itu.
SREK!
Aku memasukkan kunci rumahku ke dalam blazerku lagi. Sekalian aku membuka blazerku itu untuk berganti pakaian dengan pakaian olahraga. Aku dan para lelaki lainnya akan bersiap-siap untuk melakukan senam di pagi hari yang cerah ini.
.
.
.
Saat istirahat siang tiba, aku berpisah dengan Tobirama. Tobirama memilih ke perpustakaan untuk melototi buku lagi. Sedangkan aku pergi menuju ke belakang sekolah karena aku ingin memastikan sesuatu di sana.
Di belakang sekolah yang dipenuhi dengan pepohonan rindang dan asri, aku menghentikan langkahku tepat di bawah salah satu pohon rimbun. Lalu mengeluarkan kunci rumah dari kantong blazerku dan menggosok-gosok mainan kunci berbentuk katak hijau itu dengan tanganku.
Terdengarlah suara keras yang menggema di dalam mainan kunci katak hijau.
["Hei, itu menggelikan, tahu! Hentikan!"]
Aku tersentak dan berhenti menggosok-gosok mainan kunci katak hijau itu.
"Eh? Ternyata memang ada kamu di dalam mainan katak ini. Apa yang kamu lakukan di dalam sana?"
["Tentu saja, bersembunyi dari orang yang merasakan keberadaanku itu. Aku merasa dia memiliki kekuatan cahaya yang bisa menghancurkan tubuhku dalam sekejap mata. Kekuatannya begitu besar."]
"Itu dia Kirigaya Kazuto yang kuceritakan itu. Dia seorang pendeta."
["Pen-Pendeta!?"]
"Iya."
["Wa-Wajahnya mirip sekali dengan wajah pendeta yang mengurungku ke dalam lukisan, waktu itu."]
"Ah, benarkah?"
["Benar. Namanya juga Kirigaya Kazuto. Tapi, orang-orang memanggilnya Kirito si pendekar hitam."]
"Kirito si pendekar hitam?"
["Hm... Dulu di zaman seribu tahun lalu, dia adalah pendeta muda yang suka mengembara dan memusnahkan para siluman yang berkeliaran di manapun dia temukan. Dia pernah beberapa kali memburuku, tapi aku berhasil mengalahkannya dan kabur darinya. Sampai dia menemukanku lagi saat aku bersembunyi di rumahmu, Naruto-kun, yaitu di desa Uzu. Lalu..."]
Sejenak Asuna memutuskan perkataannya, terdiam beberapa menit. Kemudian aku yang penasaran, berkata padanya.
"Ceritakan saja. Tidak apa-apa."
["Tapi, aku tidak sanggup menceritakannya. Itu terlalu menyedihkan bagiku. Kapan-kapan saja aku melanjutkannya lagi. Aku... Tidak ingin mengingatnya lagi. Masa lalu itu sangat menyesakkan dadaku sekarang."]
Suara Asuna terdengar bergetar. Aku berwajah datar sambil menyipitkan kedua mataku. Aku bisa merasakan kesedihan yang dialami oleh Asuna.
"Baiklah... Aku tidak memaksamu. Lain kali, ceritakan lagi padaku ya."
["Iya. Maaf ya."]
"Tidak apa-apa."
["Untuk sementara waktu, aku akan bersembunyi di sini saja. Repot juga harus berhadapan dengan pendeta itu. Aku takut dia akan menyegelku ke dalam lukisan lagi, seperti yang dia lakukan padaku. Aku takut hal itu terjadi. Aku tidak ingin lagi berpisah denganmu, Naruto-kun..."]
Aku semakin menyipitkan kedua mataku dan menggenggam mainan kunci katak hijau itu dengan kedua tanganku. Merasakan mainan kunci itu bergetar hebat.
"Aku tahu itu... Kamu tidak usah takut. Ada aku di sini. Aku akan melindungimu dan tidak akan membiarkan Kazuto menyentuhmu sedikitpun. Tetaplah di dalam mainan kunci ini. Sembunyikan hawa silumanmu itu serapat mungkin. Jangan sampai bocor dan diketahui oleh Kazuto."
["Aku mengerti, terima kasih, Naruto-kun."]
"Ya."
Aku masih berwajah datar. Tidak ekspresi apapun tercetak di wajahku. Sebaliknya Asuna, aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Entah dia tersenyum atau tertawa dengan kemerahan di wajahnya sebagai pelampiasan ekspresi senangnya. Aku bisa merasakannya dengan hatiku.
Aku mendekap kunci itu pada dadaku. Jantungku berdetak sangat kencang. Merasakan perasaan yang aneh di hatiku. Aku merasa nyaman saat bersama Asuna seperti ini. Perasaan nyaman yang pernah kurasakan sebelumnya, padahal baru kali ini aku merasakannya.
Jika benar aku adalah Naruto yang diceritakan oleh Asuna, yang pernah hidup di zaman seribu tahun lalu. Bahwa aku adalah seorang pendekar pedang yang hebat, asalku di desa Uzu. Juga tentang Kirigaya Kazuto yang juga mirip dengan pendeta yang telah mengurung Asuna dalam lukisan. Pendeta muda yang dikenal sebagai Kirito si pendekar hitam. Pernah memburu Asuna dan ingin memusnahkan Asuna. Dialah yang membuat Asuna terkurung dalam lukisan selama seribu tahun. Menyebabkan Asuna berpisah dengan "Naruto" yang dicintainya.
Semua kebetulan ini tidak mungkin disengajakan. Apakah mungkin aku dan Kazuto terlahir kembali atau istilahnya reinkarnasi? Kami ditakdirkan hidup lagi di zaman ini. Bertemu kembali. Mengulang sejarah masa lalu, kembali ke kehidupan masa sekarang. Dengan tujuan yang belum kuketahui, pasti suatu saat nanti, aku mengetahui tujuan Tuhan yang mentakdirkan kami hidup kembali ke dunia ini.
Ada suatu misteri yang mulai muncul di kehidupanku sekarang. Misteri tentang kehidupan "Naruto" dan "Kazuto" di masa lalu itu. Tapi, Asuna belum mau menceritakan kejadian yang terjadi di masa lalu. Apalagi aku benar-benar tidak mengingat apapun selain tentang masa laluku sejak aku kecil dan dibesarkan dalam keluarga Namikaze, bersekolah, bergaul dengan teman-teman dan sebagainya. Itu sudah yang kuingat dan kulewati selama 18 tahun. Tidak ada yang lain, selain itu yang kuingat.
.
.
.
POV: NORMAL
.
.
.
Saat Naruto sibuk dengan pemikirannya yang panjang sambil mendekap kunci itu di dadanya, tampaklah sosok yang berdiri di batang pohon yang tak jauh darinya. Sosok gaib yang berhawa aneh. Entah siapa dia.
Tapi, dia hanya tersenyum simpul dan segera menghilang ketika menyadari kedatangan seseorang yang datang ke arahnya. Seseorang itu hendak meluncurkan kekuatan cahayanya melalui pedang hitam yang kini tergenggam di tangan kanannya. Pedang hitam itu memancarkan sinar putih.
Sedetik kemudian, pedang hitam itu menghilang dari tangan seseorang itu. Kembali ke tempat "penyimpanan gaibnya" yang hanya diketahui oleh sang pemiliknya.
"Sial... Siluman itu kabur lagi. Cepat atau lambat, aku pasti akan mendapatkanmu dan membasmimu...," kata seseorang itu yang tak lain adalah Kazuto. Dia menghelakan napasnya sejenak lalu tidak sengaja melihat ke arah Naruto.
Dia pun keheranan.
"Apa yang dilakukan anak itu di sana?" Kazuto mengangkat salah satu alisnya."Dia benar-benar anak yang aneh."
Setelah itu, dia pergi dan meninggalkan Naruto sendirian di sana. Tanpa menyadari keberadaan hawa Asuna yang bersemayam di dalam mainan kunci katak hijau itu.
.
.
.
Keesokan harinya.
Tepat pada pukul 3 sore, di klub kendo sekolah.
Di dojo khusus klub kendo yang terpisah dari gedung UHS, semua orang yang merupakan anggota-anggota klub kendo, sudah berkumpul di sana. Mereka duduk dengan rapi dan mengenakan pakaian seragam khusus untuk kendo. Mereka akan bersiap-siap berlatih lagi sebelum guru pembimbing mereka datang yaitu Kakashi, untuk terus meningkatkan kemampuan kendo mereka sebelum diadakan pertandingan kendo antar kelas yang diadakan sebulan lagi.
Uchiha Sasuke, laki-laki berambut raven dan bermata hitam kelam, sang ketua klub kendo, sudah datang dan tengah berhadapan dengan dua lelaki yaitu Naruto dan Kazuto. Pasalnya Naruto dan Kazuto meminta izin padanya untuk bertanding kendo sebelum Kakashi si guru pembimbing datang.
"Oh, begitu. Kalian ingin bertanding sekarang."
Sasuke berwajah datar sambil memanggul shinai di bahunya.
"Ya, itu semua atas permintaan orang ini."
Kazuto menunjuk laki-laki berambut pirang di berada di sampingnya.
Sasuke menatap Naruto. Lalu mendengus pelan.
"Paling-paling si Dobe ini kalah lagi darimu, Kazuto."
"Apa katamu, Teme!?"
"Hn."
Sasuke hanya cuek dan tidak mempedulikan tatapan tajam dari Naruto. Kemudian dia pun berdehem.
"EHEM! Baiklah, aku izinkan kalian bertanding sekarang sebelum Kakashi-sensei datang!"
"Terima kasih."
Kazuto yang menjawabnya. Sementara Naruto mulai meliriknya dengan sinis.
"Ayo, kita mulai bertanding, Kazuto! Kali ini, aku akan mengalahkanmu."
"Hm, kita buktikan itu saat pertandingan ini berakhir."
Mereka berdua memasuki dojo dengan telanjang kaki, membungkuk satu sama lain, dan mulai mempersiapkan diri mereka masing masing. Alat pelindung yang mereka keluarkan tampak tua namun pas dipakai. Setelah mereka selesai mengikat simpul headgear di saat yang sama, keduanya berjalan ke arah tengah dojo dan membungkuk satu sama lain sekali lagi.
Kazuto perlahan berdiri dari posisi menundukkan badannya, menggenggam shinai favoritnya erat-erat, dan mengambil posisi tegas. Sementara itu, Naruto...
"Apa itu, Naruto?"
Usai melihat kuda-kuda Naruto, Kazuto tanpa sadar tergelak. Bahkan semua orang yang di sana juga tergelak melihat kuda-kuda yang ditunjukkan oleh Naruto.
Aneh adalah satu-satunya cara untuk mendeskripsikannya. Kaki kirinya dimajukan setengah tubuh ke depan, pinggangnya direndahkan, dan shinai di tangan kanannya dipegang ke bawah dengan ujungnya nyaris menyentuh lantai. Tangan kirinya seolah-olah memegang gagang shinai sekedar untuk penampilan.
"Kalau ada wasit di sini, dia pasti akan marah melihat posisimu, Dobe!"
Sasuke menegur Naruto secara langsung.
"Tidak masalah, ini gaya pedangku."
Naruto menjawabnya dengan nada yang sangat datar.
Kazuto mengambil nafas dalam dan membenahi ulang posisinya. Naruto semakin memperlebar jarak di antara kakinya dan menurunkan pusat gravitasinya.
Kazuto berpikir untuk menyerbu maju dengan kekuatan penuh untuk mendaratkan serangan kuat ke arah lawannya. Namun kuda-kuda aneh Naruto, membuatnya tidak yakin harus berbuat apa. Meski ada celah, tidak mudah memanfaatkan celah itu. kuda-kuda itu tampaknya seperti hasil dari pengalaman bertahun-tahun.
Namun, itu tidak mungkin. Naruto bisa memegang shinai sejak berumur 7 tahun. Dia hanya bisa mempelajari dasar-dasar teknik selama belajar kendo bersama ayahnya di kota Konoha. Sesampainya di kota Uzu ini, Kakashi yang membimbingnya untuk belajar teknik-teknik tahap selanjutnya. Itulah yang diketahui Kazuto dari buku catatan harian milik ayah Naruto, yang tidak sengaja dibacanya saat belajar kelompok di apartemen Naruto, tempo dulu itu.
Seolah menyadari kebingungan Kazuto, Naruto mendadak mulai bergerak. Dia menyerbu dalam sudut rendah seolah dia meluncur dan shinainya melompat ke atas dari bagian kanan bawahnya. Itu bukan kecepatan yang perlu dikejutkan, namun karena itu adalah serangan tiba-tiba, Kazuto harus bergerak secara refleks. Dan dengan kaki kanannya terbuka lebar...
"Kote!"
Kazuto mengayun ke bawah ke lengan kiri bawah Naruto. Seharusnya itu waktu yang sempurna, namun serangannya hanya menebas udara kosong.
Itu adalah elakan yang sulit dipercaya. Naruto telah melepaskan tangan kirinya dari gagang shinai, dan melemparnya ke arah tubuhnya. Apa itu mungkin dilakukan?
Ditargetkan pada Kazuto, yang dibuat terkejut, shinai yang dipegang oleh tangan kanan Naruto sendiri menyerbu ke depan. Kebingungan, Kazuto dengan panik mengelak.
Di saat keduanya bertukar posisi, telah menolehkan kepala untuk menghadap satu sama lain sambil mereka mengambil jarak lagi, kesadaran Kazuto telah berubah drastis. Ketegangan menyenangkan mengisi seluruh tubuhnya, seolah darahnya mendidih. Kali ini, giliran Kazuto untuk menyerang. Teknik andalannya, serangan lengan bawah...
HUP!
Namun kali ini juga, Naruto berhasil mengelak dengan lincah. Dia menarik lengannya ke belakang, memutar tubuhnya, dan membiarkan shinai Kazuto untuk lewat dengan jarak setipis kertas. Kazuto lagi-lagi kebingungan. Serangan berkecepatan tingginya sangat diakui di dalam klub, dan dia tidak ingat adegan di mana seseorang berhasil mengelak dari semua serangan berturut-turutnya.
Menjadi serius, Kazuto memulai serangan gencar. Dia menikamkan ujung shinai secara terus-menerus. Menyerang lebih cepat dari nafas seseorang. Namun Naruto terus mengelak dan mengelak. Pergerakan cepat di mata Naruto membuatnya seolah dia sudah memahami semua pergerakan shinai Kazuto.
Jengkel, Kazuto dengan paksa menutup jarak dan mengunci shinainya ke arah Naruto. Menghadapi kaki dan tubuh Kazuto yang sudah terlatih, Naruto mulai terhuyung-huyung di bawah tekanan luar biasa. Tanpa membiarkannya kabur, Kazuto merebut momen untuk melancarkan serangan penghabisan yang diarahkan secara langsung ke kepala Naruto.
"Men!"
'Ah!?'
Kazuto terlambat menyadari satu momen. Dia sama sekali tidak menahan diri dalam menyerang, dan shinainya menghantam dengan keras ke topeng logam di head gear pelindung Naruto.
BAASHIIN!
Suara tumbukan bernada kuat menggema sepanjang dojo.
Naruto terus terhuyung-huyung ke belakang selama beberapa langkah sampai dia akhirnya berhenti.
"Kau baik baik saja, Naruto?"
Kazuto bertanya dengan panik. Naruto dengan ringan mengibaskan tangannya untuk menunjukkan kalau dia tidak apa-apa.
"Ah, aku kalah. Kazuto memang kuat. Sasuke saja sama sekali bukan bandinganmu."
Mendengar itu, Sasuke mendelik ke arah Naruto. Dia tersinggung dengan perkataan Naruto barusan.
"Apa katamu, Dobe!? Aku dengar itu."
"Itu memang benar, kan?"
Naruto hanya cuek sambil menatap Sasuke yang mendelik ke arahnya.
Lalu Kazuto bertanya padanya.
"Hmm... Apa benar kau tidak apa-apa, kan?"
"Ya. Pertandingan selesai."
Setelah mengatakan itu, Naruto mengambil beberapa langkah mundur dan menghelakan napasnya. Kemudian Kazuto membuat beberapa gerakan yang lebih aneh lagi. Dia mengayunkan shinai di tangan kanannya ke kiri dan ke kanan, kemudian memegangnya di punggungnya dan membuat suara keras.
HYUNHYUN!
Setelah itu, Naruto meluruskan punggungnya dan menggaruk kepala di balik topengnya dengan tangan kirinya, yang membuat suara bergeretak. Semua ini membuat seorang gadis yang berada di dalam ruangan itu, sangat cemas melihatnya.
Dia adalah seorang gadis berambut panjang indigo dan bermata lavender. Berpakaian seragam sekolah khas UHS. Berumur sekitar 18 tahun. Seorang murid yang merangkap sebagai manager klub kendo. Namanya Hyuga Hinata.
"Ah, ke-kepalamu terpukul, Naruto, jadi..." sahut gadis yang bernama Hinata itu dengan suara yang cukup keras.
"Bu-Bukan! Ini hanya kebiasaan lama, Hinata...," jawab Naruto yang berwajah datar. Dia menatap Hinata yang berdiri di samping Sasuke.
Setelah Naruto dan Kazuto membungkuk satu antara satu sama lainnya, mereka berdua duduk dalam postur formal dan mulai melepas simpul di pelindung masing-masing.
Lalu mereka berdua meninggalkan dojo bersama untuk sementara waktu, menuju ke toilet yang ada di dalam dojo itu, dan membersihkan keringat di wajah mereka.
Kazuto awalnya hanya ingin main-main saja. Dia tidak pernah menduga akan berubah menjadi serius dan membuat seluruh tubuhnya kelebihan panas.
"Akhirnya kau mengaku kalah juga. Gerakanmu sangat aneh. Memangnya kau belajar di mana dulu?"
Kazuto bertanya tiba-tiba saat berada di dalam toilet, tepatnya di depan wastafel.
"Hmmm... Pola seranganku itu... Sepertinya teknik pedangku sudah kupelajari sejak seribu tahun lalu."
Sekali lagi, Naruto menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak masuk akal. Dia mengatakannya tanpa sadar.
"Apa maksudmu? Seribu tahun lalu?"
"Ya, begitulah..."
Naruto tiba-tiba menjadi lain karena senyum lebar merentang di wajahnya dan dia mulai mengharapkan respon.
"Apa kau tidak mengingat apapun tentang seribu tahun lalu itu, Kazuto?"
Kazuto terdiam. Tidak mengerti sama sekali yang dikatakan oleh Naruto. Dia melihat ke arah cermin di mana bayangan dirinya terpantul di sana.
"Apa yang kau bicarakan? Kau sungguh aneh!"
"Tapi, kau seorang pendeta yang ditugaskan untuk memburu siluman dan hantu, kan?"
Kazuto mengangguk.
"Itu benar."
"Apa kau mempunyai kemampuan untuk menyegel siluman ke dalam lukisan?"
Dia menoleh ke arah Naruto. Menatap tajam ke arah Naruto. Naruto juga menatap tajam ke arahnya.
"Aku mempunyai kemampuan itu. Memangnya kenapa?"
Saat itu juga, Naruto terperanjat. Kedua matanya membulat sempurna. Mulutnya sedikit ternganga.
'Ternyata benar. Dia memiliki kemampuan menyegel siluman ke dalam lukisan. Persis yang dikatakan Asuna. Dia... Pasti... Reinkarnasi Kirito yang pernah hidup di zaman seribu tahun lalu...'
Batin Naruto yang menggema kemana-mana.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
CHAPTER 3 UPDATE!
Terima kasih banyak atas perhatian kalian yang sudah membaca dan mereview fic ini. Akan saya lanjutkan lagi ke chapter 4.
Sekian sampai di sini.
Selesai diketik dan diedit pada hari Kamis, 20 Oktober 2016
