naruto by masashi kishimoto
(no profit gained from this ff)
warning: possibly ooc, typo(s), etc.
ENJOY!
.x.
Malam semakin larut. Bulan tampak hanyut ditenggelamkan oleh langit malam. Kelam! Duduk Konan di sana, selalu di tempat yang sama. Ia duduk di depan konter bar—berhadapan langsung dengan bartender yang ternyata rupawan.
Hari ini dia lumayan lelah tapi lumayan juga bayarannya. Jangan lupakan bonusnya! Dia tertawa kemudian. Dalam pikiran berkata kalau dia sungguh beruntung bisa mendapatkan uang yang banyak.
"Melamun?"
Tak diundang, tiba-tiba duduk pria bermasker di samping kirinya.
"Tidak juga. Hanya sedang senang saja," Konan membalas sapaan sang pria.
"Salurkan rasa senangmu itu. Aku butuh hiburan sejujurnya."
Konan melirik sang lawan bicara. Ia memutar bola matanya kemudian. Tak lupa, ia mengakhirinya dengan decakan.
"Tumben sekali minta disalurkan rasa senang? Biasanya kau minta disalurkan uang oleh klienmu. Sudah membuang ideologimu?"
Si pria tertawa dibalik maskernya. Konan hanya mendengus.
"Tampak luar memang indah sekali. Tapi dalamnya sungguh rusak." Si pria menyindir.
"Bukannya kita sama, Kakuzu?" Konan menyeringai. Kakuzu hanya melirik lalu ia tertawa lagi.
"Masih ingin bermain-main kecil dengan yang lain? Aku sedang tidak dikejar waktu kok." Kakuzu mengganti topik pembicaraan mereka.
"Sepertinya tidak. Aku lelah dan ingin mengistirahatkan diri sejenak tadi. Mau main sekarang? Kau sudah menyewa kamar, kan? Lebih cepat, lebih baik."
Percakapan yang penuh keambiguan, bagi orang awam yang mendengar. Bagi mereka? Tentu saja itu hanyalah hal yang biasa-biasa saja.
"Kau memang sangat memahamiku." Kakuzu tersenyum dibalik maskernya.
"Tapi jangan coba-coba menipuku soal bayaran ya!"
Konan beranjak dari kursi kemudian. Kakuzu melakukan hal yang sama. Mereka berjalan dengan pasti tanpa saling melihat satu sama lain. Mereka berjalan keluar dan meninggalkan klub malam ini untuk datang ke hotel sebelah, ingin bergumul di ranjang yang mungkin nantinya akan kotor karena kegiatan mereka.
"Jangan takut! Mentang-mentang aku ini seorang kriminal lalu seenak jidat kau berpikir bahwa aku seorang penipu."
Kakuzu berjalan di samping kanan Konan. Sesekali karena bosan, ia memainkan anak rambut Konan.
"Ah, aku hampir lupa. Kau memang suka menipu orang lain tapi pada akhirnya, kau lah yang ditipu. Aku takkan pernah bisa melupakan hal itu!"
Mereka berjalan masuk ke hotel dan melewati konter resepsionis. Mereka lalu naik beberapa lantai menggunakan lift. Saat lift menghentikan mereka ke lantai yang dituju, mereka berdua keluar dari lift kemudian. Mereka berjalan bersisian. Kakuzu lalu berhenti, membuat Konan ikut berhenti. Kakuzu melempar kunci kamar dan Konan secara refleks menangkapnya. Konan memasukkan kunci tersebut ke lubang pintu dan memutarnya. Setelah itu, ia membuka pintu yang ada di hadapannya. Konan berjalan masuk ke dalam.
"Jangan terlalu jujur seperti itu. Kau membuatku patah hati."
Kakuzu menutup pintu setelah ikut masuk dan tak lupa mengunci pintunya juga. Mereka berbaring di ranjang secara bersamaan kemudian.
"Aku hanya sekedar mengingatkan. Barangkali kau lupa."
Konan merangkak ke atas tubuh Kakuzu. Lalu, ia duduk di atas perut pria itu.
"Tak perlu. Aku takkan pernah lupa tentang itu. Sekalipun aku mati nanti."
Kakuzu menarik dagu Konan. Ia mengecup lalu mengubahnya menjadi ciuman. Bibir Konan ikut membalas, hanya sekilas.
"Benarkah?"
.x.
Kakuzu mengecup leher Konan. Sesekali menjilat. Tak peduli kalau ada keringat yang terkecap. Baginya, hanya rasa lezat yang tertinggal di lidahnya.
Konan hanya menerima dengan pasrah, tapi di dalam hati ia sungguh senang luar biasa. Berkebalikan dengan wajah yang datar saja. Dasar wanita! Mengapa suka sekali membohongi perasaan?
Jika kau tanya bagaimana posisi mereka sekarang, mereka seperti ingin melakukan pemotretan—tentu saja pemotretan majalah porno. Atau seperti sedang syuting film? Film porno, itu merupakan hal yang sudah pasti. Terserah mau mengandaikannya seperti apa. Toh apapun yang diandaikan tentang kegiatan mereka hasilnya sama saja—tak jauh dari kata seks, seks, dan seks.
Kakuzu duduk bersandar di kepala ranjang. Masker sudah ia lepas. Topinya tak ia kenakan. Rambut panjang lurus dan lumayan tebal digerai. Dadanya bersih dari kain yang menghalang. Ada beberapa cacat yang terlihat di dadanya. Ada bekas jahitan juga di mana-mana. Tangan miliknya juga tak mau kalah. Dari pangkal ke ujung, seperti digambar, ada banyak benang juga di sana.
Konan berpindah, ia duduk di atas paha Kakuzu. Mereka saling berhadapan, tak ada hal apapun yang menghalangi. Tubuh luput dari helaian benang—telanjang. Tangan memeluk leher si pria. Terkadang ia meraba kepala juga, ingin meremas dan menjambak rambut yang panjang itu. Ingin mencoba untuk menyalurkan segala apa yang dirasa. Kaki masih mengangkang. Ia berusaha membuat dirinya merasa nyaman.
Hening. Tak ada seorang pun yang berniat membuka pembicaraan. Mereka belajar menjadi bisu, mungkin juga segan? Padahal keduanya tak suka situasi seperti ini. Manusia memang suka mempersulit diri.
Kakuzu tak hanya mengecup dan menjilat leher sekarang. Giginya ikut serta, katakanlah menggigit. Ditinggalkan bercak merah di sana. Ia ingin mengubah karya seni menjadi lebih indah lagi.
Tak hanya leher, dada pun dapat giliran. Dikecup kedua payudara. Dijilat dagingnya yang menggoda. Digigit puting yang memerah. Konan hanya bisa mendesah pasrah. Ia merasa ketagihan.
"Kau... Uh... Bergerak terlaluuuhhh... Ah! Lama..." Ternyata Konan bisa mengeluh juga. Ia terdengar tak sabaran.
"Sengaja. Aku ingin melihat wajah cantikmu lama-lama."
Kakuzu menggombal, begitu pikir Konan. Padahal yang Kakuzu ucapkan merupakan perasaan yang nyata, sekedar ingin ia utarakan. Itu memang pujian tulus dari Kakuzu.
"Berikan aku bonus yang banyak kalau begitu!" Berniat meminta atau memaksa?
"Dengan senang hati." Pelayan seperti raja, raja seperti pelayan. Dunia sudah terbalik.
Perang dilanjutkan—perang birahi. Perang ini tidak bersifat melukai akan tetapi, malah mampu membuat mereka lupa diri.
Puting sebelah kanan dicubit. Puting sebelah kiri digigit. Kakuzu merasa gemas, Konan merasa lemas. Kakuzu lakukan aksi itu secara bergantian. Kakuzu memang lah pria yang adil.
Konan mendesah. Kakinya memeluk pinggang milik si pria. Memberi tanda kepada pria tersebut agar segera menikmati hidangan penutupnya. Kakuzu sebenarnya paham soal sinyal-sinyal itu, tapi Kakuzu bersikap pura-pura tak tahu. Kan sudah disebutkan sebelumnya. Dia ingin bermain dalam ritme pelan. Entah ingin menghilangkan segala rasa penat yang membebani tubuh dan pikirannya atau benar-benar ingin menikmati waktu bersama Konan? Entahlah...
"Mukamu... Ah! Suntuk sekali... ya? D-Da... Aaahhh! Datang bulan?" Konan bertanya, hanya berniat bercanda.
"Haruskah aku membuka celana lalu menunjukkan 'senjata' pamungkas?" Bukan jawaban yang keluar, pertanyaan menimpali pertanyaan. Pertanyaan dilontarkan dengan kalimat yang sungguh ambigu. Pria yang merasa depresi memang suka bicara asal-asalan, kan? Berbicara dengan caranya, sekedar ingin menghilangkan semua kegundahan yang menumpuk di hati.
"Mungkin?" Konan mengendikkan bahu kemudian, tapi senyuman tersungging di wajahnya.
Kakuzu sudah selesai menikmati payudara milik sang pelacur. Bercak merah ada di mana-mana. Bukannya merasa marah atas noda-noda yang mengotori tubuhnya, Konan malah terlihat bangga. Manusia memang banyak macamnya, kalau Konan mungkin dapat dikategorikan sebagai manusia gila.
Tangan Kakuzu membelai, Konan merasa merinding. Tangannya menelusuri kulit yang ditumbuhi rambut sungguh halus—bahkan seperti tak ada apapun yang tumbuh di sana, Konan pun mengerang. Tangannya mendadak menerobos, Konan berteriak kencang.
"Bangsat! Tanganmu itu benar-benar keterlaluan! Kenapa langsung masuk begitu?!" Konan memaki.
"Aku berubah pikiran. Ternyata aku tak bisa menahannya terlalu lama. Hahaha!" Malah dijawab dengan tawa yang membuat Konan merasa kesal.
Konan memandang matanya—tajam dan menusuk. Kakuzu balik menatap, tampak bibir melengkung di sana—menyeringai dengan lebarnya. Setan melawan setan. Mungkin Tuhan yang akan menjadi wasitnya. Perang pun dilanjutkan kembali.
Jemari bergerak. Ada tiga yang tertanam di dalam lubang; telunjuk, tengah, dan manis. Maju dan mundur mencoba melebarkan. Konan sudah berbaring telentang di ranjang. Tangannya memegang kepala Kakuzu dan tak lupa meremas rambut yang tumbuh di sana saat Kakuzu berhasil menyentuh titik surganya. Ia seperti melayang.
Kakuzu berada di atasnya. Ia menahan tubuhnya agar tak menimpa tubuh si wanita dengan lutut dan sikunya. Dipandangnya si wanita sungguh dalam, Konan tak mengerti apa maksud Kakuzu memandangnya begitu. Kemudian tak berapa lama, Kakuzu tersenyum.
Konan hampir saja datang kalau Kakuzu tak menghentikan. Dipasangnya wajah cemberut yang sungguh kentara. Kakuzu tertawa kemudian. Ternyata bisa bersikap imut juga wanita yang ada di hadapannya.
"Aku akan masuk," Kakuzu meminta izin.
"Kau ingin roleplaying, ya? Kau sebagai pengantin pria dan aku sebagai pengantin wanitanya? Aneh sekali melihatmu meminta izin seperti itu. Kau membuatku takut." Konan memasang ekspresi takut yang berlebihan.
"Benar juga, ya. Aku ini 'kan selalu mendapatkan apa yang aku mau. Untuk apa aku meminta izin segala." Kakuzu mencoba membanggakan dirinya.
"Ya, kau selalu mendapatkan uang sebanyak apapun yang kau inginkan. Tapi tidak untuk hal lai—Ah!"
Belum selesai Konan berbicara, Kakuzu sudah mencuri garis mulainya. Ia memasukkan kejantanannya secara cepat dan tepat. Bagaikan sedang melakukan praktikum. Tentu saja ia berhasil. Mungkin dia akan dapat nilai 100 nantinya.
"Masih sempit seperti biasa, ya. Aku menyukai sensasinya." Kakuzu memuji, Konan mendecih.
"Aku sedang marah sekarang. Jangan coba-coba merayuku karena hal itu tak akan berhasil." Konan membuang muka.
"Benarkah? Coba kita buktikan saja kalau begitu." Kakuzu berbisik di telinga Konan. Konan masih setia menampilkan wajah cemberutnya. Oh! Ada sedikit rona merah di kedua pipi yang tertangkap oleh pandangan.
Kejantanan Kakuzu sudah masuk seluruhnya. Kakuzu berhenti bergerak sebentar. Konan menunggunya dengan sedikit perasaan berdebar-debar. Kakuzu memandang Konan kemudian tapi Konan hanya diam. Tapi tak seperti tadi, ia mencoba untuk tak memalingkan muka.
Bergerak, Kakuzu memulai pergerakan dengan maju dan mundur. Melakukan apa yang dilakukan oleh jemari sebelumnya. Bergerak dengan perlahan namun terasa dalam agar sang lawan dapat menyenandungkan nada dengan alunan yang dapat mematikan—mematikan akal dan pikiran.
Konan menggigit bibirnya, enggan mengeluarkan suara untuk sekarang. Ia bersikap malu namun mau. Lihat saja pinggulnya! Pinggulnya ikut serta bergerak maju dan mundur berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Aaahhh!"
Ternyata diri tak bisa semudah itu dibohongi. Konan mendesah juga pada akhirnya, tapi ia tak merasa menyesal. Sekalian mencoba untuk menggoda, mungkin?
Pertahanannya roboh. Pada akhirnya, Konan ikut bergerak. Ia menggerakkan kaki dan memeluk pinggang lawan. Ia menggerakkan tangan; tangan kiri memeluk leher Kakuzu, tangan kanan mencakar punggung pria itu. Ia menggerakkan badannya maju untuk membelai dada lawannya. Terdengar sedikit desahan yang lolos dari bibir sang lawan pada akhirnya. Keduanya mulai runtuh.
"Kau harus memberikan bonus dua kali lipat, ya. Aku benar-benar berusaha juga di sini." Konan menyeletuk. Tumben sekali berbicara dengan jelas. Benar-benar berusaha, ya? Berusaha untuk tidak mendesah?
"Memang kodratnya di mana-mana kaulah yang harus berusaha. Sesuai pekerjaanmu, ini 'kan memang sudah menjadi kewajibanmu untuk memuaskan."
Sepertinya sebentar lagi mereka akan berdebat. Atau tidak?
"Tapi pengecualian untukmu. Jangan coba-coba menipu, ya! Menipu seperti yang pernah dilakukan oleh rekan bisnismu kepadamu." Konan memang hebat dalam sindir-menyindir. Meskipun ia tak berniat begitu.
"Jangan ingatkan aku lagi dengan hal sial itu! Tak paham dengan perkataanku?" Kakuzu sedikit tersinggung.
"Aku hanya penasaran sekaligus heran. Manusia licik sepertimu bisa-bisanya kena tipu. Keberuntungan lenyap darimu, ya?" Konan mungkin tak berniat menyindir atau apapun itu. Akan tetapi, kalimatnya terdengar seperti mengejek.
Kakuzu berhenti bergerak sedari tadi. Dipandangnya wajah Konan dengan pandangan yang menusuk. Rahangnya terlihat mengeras. Dia agaknya marah dengan perkataan Konan. Dia sebenarnya paham kalau wanita di hadapannya tak bermaksud apa-apa. Tapi alamiah juga jika dia tak suka dengan yang dikatakan oleh Konan, kan?
"Kau ingin kita meneruskan perang ini atau perang dalam artian harfiah?" Kakuzu bertanya dengan nada yang dingin.
"Mungkin keduanya." Konan menantang.
Kakuzu tak ingin memulai pertengkaran. Untunglah dia masih bisa mengendalikan emosinya. Acuh dirinya dengan jawaban Konan. Pria memang wajib mengalah, kan?
Kakuzu bergerak lagi kemudian. Konan agaknya merasa bersalah. Dia hanya diam meskipun ada sedikit desahan terdengar lolos dari mulutnya. Tapi ia tak berniat untuk berkata apapun lagi. Dia hanya diam sambil memandang wajah Kakuzu saja.
Maju, mundur, maju, mundur. Keduanya mendesah saling menyahut. Seperti ada campuran dari banyak rasa yang menghantam tubuh mereka; nikmat, lezat, rasa yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Mungkin inilah surga yang selalu manusia cari saat berada di atas ranjang, begitu pikir mereka berdua.
"Maaf," Konan berucap. Kakuzu kaget bukan kepalang mendengarnya. Tak biasanya Konan begitu.
"Sudahlah. Aku juga tak ingin mengambil hati akan hal itu."
Kakuzu malah terlihat lebih aneh lagi. Kemana sifat dinginnya? Kepala mereka berdua terbentur, ya?
"Aku... Sebenarnya aku hanya kasihan kepadamu. Kau percaya dengan rekan bisnismu tapi pada akhirnya kau ditipu." Konan mendesah setelah berucap.
"Memang begitulah kehidupan. Aku mencuri maka nantinya aku akan dicuri. Aku menipu maka nantinya aku akan ditipu. Aku serakah maka nantinya akan banyak orang yang lebih serakah. Inilah dunia nyata. Kita cukup menjalaninya." Kakuzu tersenyum—senyum yang dipaksakan.
Kakuzu menggempur Konan dengan tak sabaran kemudian. Tiga, dua, satu... Mari kita menghitung mundur. Kakuzu mengerang tertahan. Konan bahkan sudah tak sadar, akal sehatnya yang tak sadar. KELUAR! Mereka sampai ke puncak kenikmatan bersama-sama.
Mereka menikmatinya dalam diam. Sang wanita sudah lemas. Si pria mengelap peluh yang mengalir di wajah sang wanita. Mereka berpandangan kemudian. Perlahan, wajah dimajukan. Kakuzu sekedar mengecup bibir merah Konan, hanya itu.
Dilepas penyatuan kemudian. Kakuzu berbaring di sebelah kanan. Konan memandang ke luar jendela. Langit penuh dengan bintang.
"Sebenarnya, aku tak bisa menjalani hidup ini. Setelah semuanya dirampas secara tiba-tiba dariku, kupikir aku sudah mati. Hidupku telah hancur dan tak ada sisa apapun lagi." Kakuzu tiba-tiba mengeluarkan segala isi hati. Konan diam mendengarkan.
"Aku memang tak lahir dari keluarga kaya. Tapi aku bercita-cita untuk memiliki segalanya sejak diriku masih bocah ingusan. Aku berusaha. Aku bekerja apa saja hanya demi mendapatkan uang. Aku belajar—belajar dengan keras agar beasiswa selalu kudapatkan dan itu semua membuahkan hasil kemudian."
Kakuzu berhenti sejenak. Hening melanda mereka. Terdengar angin malam yang berhembus melewati mereka.
"Aku lulus dari kuliah. Aku wisuda. Kemudian tak berapa lama, aku langsung bekerja. Kupikir mimpiku untuk menjadi orang kaya akan terwujud. Aku selalu bertekad di jalan yang benar. Tapi kenyataan menghantamku. Ternyata dunia tak seindah dan sebersih itu." Senyum pahit terlihat di wajah Kakuzu.
"Seniorku, dia orang yang aku kagumi. Tiba-tiba ia datang kepadaku di suatu malam. Aku kebetulan lembur. Kupikir dia hanya sekedar menyapa dan berbasa-basi saja. Tapi dia malah mengajakku melakukan kudeta. Mengajakku untuk menjatuhkan segala kepemimpinan atasan kami saat itu. Aku kaget dan tak menyangka. Napasku tercekat. Masih dapat kurasakan sensasinya sampai saat ini."
Kemudian Kakuzu ikut memandang ke luar jendela. Ia memeluk pinggang Konan dari belakang.
"Aku yang dibutakan, tanpa pikir panjang langsung menyetujui. Atasanku tak terlalu baik juga, begitu pikirku. Hitung-hitung pembalasan dendam atas apa yang dilakukannya pada semua anak buahnya; mengejek, menghina, mencela kami tanpa alasan yang jelas. Melakukan itu semua hanya untuk kesenangannya semata. Ini tidak salah, pikirku. Ini hanyalah sebatas aksi dan reaksi. Kami pun berjabat tangan kemudian. Lalu langsung merencanakan segalanya."
Kakuzu membenamkan wajahnya di leher Konan. Konan sudah membalikkan badan sedari tadi.
"Kami mengambil dana dari penyalur. Tentu saja bukan untuk perusahaan tapi untuk diri kami. Kami buat seolah-olah bos, atasan kami, yang sudah mengambil uang itu. Mencuri istilahnya. Seakan-akan dia melakukan korupsi. Awalnya penyalur tak merasa curiga. Tapi setelah melihat data pengeluaran yang tak jelas, bos pun dicurigai menyeleweng. Perdebatan panjang tentu saja terjadi. Bos sudah pasti kalah. Kami sudah melakukan tipu muslihat. Bukan hanya berdua saja tapi banyak rekan kerja yang membantu. Tentu saja orang-orang yang membenci bos juga. Setelah diskusi panjang, bos pun akhirnya dipecat dengan tak hormat. Kami tertawa atas keberhasilan yang telah kami lakukan."
Jeda.
"Seniorku menjadi bos yang baru kemudian. Aku menduduki jabatannya sebelum dia menjadi bos. Dan begitu seterusnya. Kami tak pernah merasa puas. Jika bukan jabatan, sahamlah yang kami rebut. Kami berdua melawan semua orang hanya demi tahta dan uang. Keserakahan membuat kami menjadi iblis yang sesungguhnya. Jika tidak dengan menipu, maka tentu saja dengan melenyapkan lawan. Kami yang memegang kendali. Tak ada yang bisa melawan balik."
Kakuzu menyisir rambut Konan. Ia hanya ingin menggerakkan jemarinya yang terasa kaku.
"Kemudian, kami berada di tingkatan teratas. Kami berdua berada di tingkatan yang sama. Kami punya banyak uang. Segalanya kami miliki. Meskipun semua itu kami dapatkan dengan cara yang kotor. Bersenang-senang dengan wanita tentu saja menjadi hiburan kami. Berpesta di setiap malam. Karena pesta-pesta itu juga mengawali pertemuan pertama kita. Mimpiku sudah terwujud akhirnya." Kakuzu berhenti lalu menatap Konan. Ada kesedihan yang terbaca dari raut wajah dan pantulan mata Kakuzu.
"Tapi itu tak berlangsung lama. Seharusnya aku sadar, seharusnya aku mengerti. Jika seniorku itu bisa melakukan hal yang keji kepada kakak kandungnya, bos yang sudah kami lengserkan, bagaimana pula denganku yang hanya sebatas rekan kerjanya ini? Drama terulang. Apa yang kami lakukan kepada kakaknya dulu, dilakukan lagi sekarang. Bedanya dia menjadi sang pelaku, sedangkan aku menjadi targetnya. Aku awalnya tak percaya tapi aku segera paham. Beginilah memang seharusnya. Aksi dan reaksi. Aku melukai harga dirinya karena berhasil setara dengannya. Dia melukaiku karena sakit hati disamakan denganku yang hanya modal beruntung ini. Hahaha! Bukankah hidup ini lucu sekali?" Kakuzu tertawa, terdengar sangat terpaksa. Terasa menyayat dan tak ada rasa senang di dalamnya.
"Pada akhirnya, aku mendekam di penjara untuk waktu yang lama. Setelah keluar pun tak mudah bagiku untuk mencari pekerjaan. Sudah untung aku bisa menjadi karyawan swasta sekarang. Jika saja aku tak tergiur. Jika saja aku tak tergoda. Jika saja aku tak serakah. Jika saja... Penyesalan memang selalu datang di akhir. Ia mendarah daging sampai detik ini."
Kakuzu selesai bercerita. Konan menghapus airmata yang jatuh di kedua pipi Kakuzu.
"Kau dan airmata adalah dua hal yang tak cocok bersama. Jika kau bisa merasa menyesal dan jatuh, tentu kau bisa bangkit juga. Jangan menyalahkan dirimu terus-menerus! Hidup ini cuma sekali. Kau akan semakin menyesal jika menjalaninya dengan mengeluh dan menyesal seperti ini." Konan memeluk Kakuzu kemudian. Ternyata bisa juga si wanita berkata bijak.
"Terimakasih," ucap Kakuzu dengan suara seperti berbisik, tapi terdengar tulus sekali.
"Untuk?"
"Untuk kepuasan fisik serta kepuasan psikis yang kau berikan. Mungkin ini akan menjadi malam terindah di antara malam-malam yang pernah kita habiskan berdua."
Kakuzu tersenyum kecil, tipis sekali. Tapi tak ada kepalsuan di sana.
Chapter 2 FIN
OMAKE
Kakuzu berjalan keluar dari hotel. Senang karena dia sempat bertemu Konan untuk terakhir kalinya. Berjalan dia di gang sepi dan gelap kemudian. Ia berhenti sebentar di bawah lampu yang berkedip-kedip. Ia mendongakkan kepala, terlihat bintang-bintang yang berkedip mencoba menghibur dirinya. Ia tersenyum sungguh lepas melihat itu. Dikeluarkan senjata dari jaket yang dikenakan. Tak perlu susah mengokang, pistol diarahkan ke kepala milik sendiri. Tak ada keraguan yang menerpa pikirannya. Ditarik pelatuk kemudian. Ia masih tersenyum. Tak ada penyesalan di sana. Rasa sakit pun menembus dari sisi kanan; terjatuh, mata terpejam, wajah masih tersenyum. Bintang-bintang semakin banyak bertaburan.
.x.
p.s: sebelumnya untuk yang bertanya Hidan itu bunuh diri atau tidak, jawabannya mungkin ya dan mungkin tidak. /plak/ yang pasti Hidan mati. maafkan author! /pundung/ tidak ada niat bashing chara sama sekali. semua yang terjadi di ff ini murni hanya untuk kepentingan alur cerita. author sendiri suka kok sama Akatsuki tanpa pengecualian. /senyum/ ah, mau menjelaskan juga. setiap chapter di ff ini langsung tamat ya tapi secara tak langsung merupakan kesatuan dalam cerita. karakter prianya juga berbeda di setiap chapter. semoga ceritanya tidak mengecewakan ya. Big Love, Nara Y.
