Disclaimer : Che certamente non appartiene a Rie. Naruto e tutti i personaggi appartengono a Masashi Kishimoto.
Una storia che parte da Milano a Konoha © Rievectha Herbst
Warning : OOC, alur cepat, typo dan jenis-jenisnya.
-chapter 3-
Langit Milan di pagi ini mendung. Udara dingin terasa menusuk sumsum tulang. Entahlah sepertinya hari ini akan turun hujan. Haruskah di pagi ini? pikir Sakura. Ia menghela napas, bukan karena ia tak suka hujan. Ia sangat menyukai hujan, karena hujan dapat membuat sedikit masalahnya hilang ikut bersama jatuhnya cairan bening dari sang langit. Hanya saja hari ini entah mengapa ia kurang bersemangat jika hujan turun. Di tambah lagi Ino tak ada menemaninya. Ino pagi-pagi sekali pergi ke tempat Kakeknya yang berada di Roma. Tempat di mana Colloseum berada. Sakura menghela napas kembali, ia ingin sekali bertemu Ibunya. Rindu tawanya, masakannya, juga omelannya. Ia tersenyum sendiri, membayangkan reaksi Ibunya yang kaget saat ia mengagetkannya.
Ternyata aku tak bisa terlalau lama jika tak bertemu Kaa-san. batinnya.
Suara bel membuatnya terlonjak kaget. Ia segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Di sana, berdiri seorang wanita yang agak tua. Ia tersenyum, "Sakura, apa aku mengganggumu?"
Sakura tersenyum, "Tentu saja tidak."
Wanita tua itu tersenyum, "Ini, ada panettone untukmu," sembari menyodorkan kotak yang tadi masih berada di pangkuan kedua telapak tangannya.
Sakura menerimanya sembari tersenyum, "grazie, Signoria Katthleen. Aku memang agak lapar."
Wanita tua bernama Katthleen itu tersenyum, "makanlah, dan jangan lupa untuk memakannya dengan ditemani minuman panas yang manis atau anggur yang manis," ucapnya sebelum pergi.
Sakura hanya mengangguk sembari tersenyum.
Signoria Katthleen tadi adalah tetangganya. Seorang wanita yang ramah dan baik hati. Ia seperti mengingatkan Sakura pada sosok neneknya yang telah tiada.
Sakura masuk kembali ke dalam kamar apartemennya. Segera ia buka kotak itu, dan segera ia taruh panettone di atas piring.
Ehm…aroma manis segera menyambut indera penciuman Sakura. Setelah itu, Sakura menuang segelas spumante.
Sakura duduk manis di kursi, ia segera memotong panettone yang berbentuk kubah dan tingginya biasanya sekitar 30 cm itu. Setelah itu, ia menggigitnya. Panettone yang dimakannya terasa lembut karena terbuat dari adonan yang lembut dan setengah matang. Permen dan kismis segera menyambut lidahnya saat ia menggigit bagian tengahnya. Karena memang panettone ini isinya permen dan kismis. Sakura tampak menikmatinya, terlihat dari ia memakannya dengan agak lambat.
.
.
Sementara itu, di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat mewah. Sasuke duduk di kursi yang berada di balkon yang menghadap ke arah halaman belakang rumah. Di pinggir kursi tersebut terdapat sebuah meja yang bentuknya bulat. Di atasnya terdapat secangkir kopi hitam yang pahit dan sepiring roti isi selai.
Tampaknya makanan dan minuman itu sama sekali belum disentuhnya. Memang belum.
Sasuke menarik napas, semalam ia mendapat mimpi buruk. Mimpi yang tak ingin lagi ia ingat, karena hanya akan menyisakan rasa sakit pada kepala dan dadanya.
Sasuke memejamkan matanya. Di pagi yang dingin ini, Sasuke hanya mengenakan kaos yang tidak tebal, padahal udara kian dingin dan menusuk. Sasuke masih memejamkan matanya. Rasanya lelah sekali, semalaman ia tak dapat tidur karena mimpi itu.
Tiba-tiba badannya terasa hangat. Di bukanya kedua kelopak matanya. Terlihat selimut menyelimuti tubuhnya, dan didepannya berdiri seorang gadis cantik berambut indigo yang panjang, dan mempunyai bola mata berwarna lavender. Gadis itu tersenyum.
"Udara kan dingin," ucapnya, "lagipula mengapa hanya memakai kaos saja? Tipis lagi."
Sasuke tersenyum simpul mendengar omelan gadis itu, "Hn. Tak apa Hinata. Aku sudah terbiasa."
Gadis bernama Hinata itu hanya menghela napas. Ia sudah tahu jika Sasuke memang agak aneh.
"Kau bangun pagi? Tumben," ucap Sasuke, dari suaranya terdengar mengejek.
"Tentu saja, masa aku harus bangun siang terus? Apalagi sebentar lagi aku akan bertunangan dan menikah tentunya," ucap Hinata agak kesal.
Sasuke tersenyum, "Hn. Aku tahu. Kau sedang mencoba berlatih untuk menjadi istri yang baik kan? Dengan mencoba bangun pagi tentunya."
Pipi Hinata bersemu merah, ia segera mencubit lengan Sasuke dan sukses membuat Sasuke merintih kesakitan.
"Kau ini," ucapnya kesal sembari mengusap-ngusap lengannya yang kini mulai memerah karena cubitan itu.
"Salahmu, Sasuke-kun."
"Hinata, sudah kubilang berkali-kali. Jangan panggil aku dengan embel-embel itu," gerutu Sasuke, "geli aku mendengarnya."
Hinata tertawa, "Iya, iya. Aku hanya menggoda nii-san saja kok!"
"Kemana Naruto?" tanya Sasuke.
"N-Na-Naruto-kun masih tidur di kamarnya," sahut Hinata yang tiba-tiba tergagap.
"Hn. Dasar pemalas. Bangunkan dia!" perintah Sasuke.
Hinata hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan Sasuke yang kini tengah memakan roti isi selai tomatnya.
Semalam memang Hinata datang. Itu merupakan kejutan bagi Sasuke. Karena ia pikir, Hinata akan datang keesokan harinya, sehari sebelum mereka akan mengerjakan proyek pembuatan film pendek untuk tugas kelompoknya. Senang? Tentu saja Sasuke senang dapat bertemu dengan Hinata, sudah 1 bulan ia tak bertemu dengannya. Dengan sepupunya jauhnya yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Saat itu Sasuke langsung memeluk Hinata beberapa saat untuk melepas rindu.
Hinata tak datang sendiri, rupanya ia datang dengan sorang lelaki berambut jabrik berwarna blonde, dan memiliki bola mata yang indah dan menyejukkan, warna sky blue, lelaki itu bernama Uzumaki Naruto. Sahabat pertama yang dimilikinya.
Rupanya Hinata membawa lagi kejutan yang lebih mengejutkan lagi bagi Sasuke. Ia akan bertunangan 3 minggu ke depan. Sungguh merupakan kejutan yang sempat membuat matanya terbelalak. Terlebih lagi ia tak menyangka. Bagaimana mungkin mereka dapat bertunangan dengan begitu mudahnya? Karena keluarga Hyuuga itu –pihak dari Hinata- sangat overprotective terhadap Hinata. Apalagi kakaknya Hinata yang bernama Hyuuga Neji, dia amat sangat overprotective terhadap Hinata. Apalagi Sasuke tahu bagaimana sikap Neji pada Naruto saat tahu bahwa adik Neji yang sangat disayanginya ternyata sudah berpacaran lama dengan Naruto.
Hey, Sasuke tak dapat membayangkannya, ia tahu Naruto merupakan tipe pejuang keras, tidak mudah menyerah. Meskipun Naruto dan Hinata telah berpacaran lama, dari SMP mungkin, tapi mendapat restu untuk bertunangan secepat itu. Benar-benar kejutan. Ia tentu saja ikut berbahagia atas pertunangan Naruto dan Hinata yang akan dilangsungkan 3 minggu ke depan. Sebagai sahabat Naruto sekaligus sepupu jauh Hinata, ia bahagia.
Sasuke kembali membentuk sudut bibirnya melengkung ke atas, mengingat kejadian semalam dan membayangkan reaksi Neji dan keluarga Hyuga saat Hinata dan Naruto meminta untuk bertunangan.
"Woi teme! Kau sudah gila ya? Senyam-senyum sendiri," ucap suara cempreng yang sudah ia kenal pemilkinya, Naruto, yang tiba-tiba mucul di hadapannya.
Sasuke memasang muka datarnya lagi, "Hn. Kau yang gila dobe."
Naruto duduk di kursi yang berada di sebelah Sasuke.
"Milan. Di sini dingin sekali. Kau betah sekali disini," ucap Naruto, "Bagaimana hubunganmu dengannya? Kudengar ia sedang di London."
Sasuke tak melirik Naruto, ia menatap lurus ke depan, "Baik-baik saja."
Naruto hanya mengangguk-ngangguk.
Suasana menjadi sunyi. Tak ada yang membuka suara. Sampai suara handphone milik Sasuke berbunyi. Sasuke menekan tombol hijau dan mendekatkan benda itu ke telinganya.
Sebuah suara feminim menyambutnya di seberang sana. Menanyakan keadaannya dan mengungkapkan kerinduannya.
.
.
Orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Karena hujan turun begitu lebatnya. Sakura berdiri di halte, suasana di halte pun ramai karena banyak yang berteduh di sana. Sakura menyesal karena ia tak membawa payung. Padahal sebelum ia pergi ke perpustakaan yang berada di pusat kota, ia berniat akan membawa payung. Tetapi ia kembali menyimpannya, sehingga ia tak jadi membawa payung tersebut. Dan akhirnya seperti ini. Menunggu di halte.
Sakura mengedarkan pandangannya. Orang-orang kini mulai memadati halte, Sakura kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang kini basah karena hujan.
Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu berwarna merah. Dan semakin mendekat. Nampak seseorang berambut merah berlari-lari menuju halte tempat dimana kini ia sedang berteduh.
Orang berambut merah itu ternyata seorang lelaki. Sakura terbelalak kaget dan menahan napasnya sejenak, saat lelaki berambut merah itu berdiri di pinggirnya. Tiba-tiba ia merasakan sesak di dadanya. Rasanya sulit bernapas. Rasa rindu, sayang, marah dan benci menjalari tubuhnya. Membuat bibir dan sekujur tubuhnya gemetaran. Enatahlah Sakura juga tidak tahu mengapa ia seperti itu.
"stai bene?[1]" tanya sebuah suara bening yang berasal dari sebelahnya. Dari seorang lelaki berambut merah.
Tubuh Sakura semakin bergetar, suaranya. Mulut Sakura terkatup rapat. Rasanya sulit mengelurkan suaranya. Seperti ada yang mengganjal di kerongkongannya.
Lelaki berambut merah itu menjadi khawatir.
"stai bene?" tanyanya sekali lagi dengan nada khawatir.
Sakura masih tetap tak menjawab, tapi tubuhnya semakin bergetar hebat.
Lelaki berambut merah itu semakin cemas, ragu ia membuka jaket yang dikenakannya. Lelaki berambut merah itu mengulurkan kedua tangannya yang memegang jaket, bermaksud untuk menyampirkannya pada bahu Sakura yang bergetar. Sedikit lagi ia akan menyampirkan jaket itu, tetapi…
"TIDAK!" Sakura berteriak, ia mundur beberapa langkah dan memandang lelaki berambut merah itu dengan tatapan tajam. Mukanya pucat sekali. "Jangan mendekat," suaranya bergetar.
Tetapi lelaki berambut merah itu seakan tak mendengar ucapan Sakura. Ia semakin mendekat. Sakura mundur lagi selangkah.
"HENTIKAN! Kubilang JANGAN MENDEKAT!" Sakura kembali berteriak.
Dan orang-orang yang berada di halte itu menatap Sakura dengan pandangan bingung. Tak ada yang mau mencegah lelaki berambut merah itu berhenti mendekat pada Sakura, seakan ini merupakan sebuah tontonan yang sangat menarik di tengah hujan deras.
Sakura mundur lagi, ia kembali berteriak menyuruh lelaki berambut merah itu berhenti. Sampai seorang lelaki menghentikan langkah lelaki berambut merah itu yang kini jatuh tersungkur dengan sudut bibirnya mengerluarkan darah. Tentu saja karena lelaki itu langsung memukul lelaki berambut merah itu.
Lelaki yang berhasil menghentikan lelaki berambut merah itu membalikkan badannya dan menatap Sakura.
Sakura terbelalak kaget. "K-kau…"
.
.
Per essere continuato.
[1] stai bene?=kau tak apa-apa?
balasan Review buat yang gak login:
Sakura Haruno 1995:
grazie ya...
haha...iya..iya... emang gak keliatan...
ehm... ni Review yang chap 1, kn?
hhohho... ok... RnR di nuovo?
4ntk4-ch4n:
halo...
haha...Sasu cuma sepupu jauh Hina kok!
iya...ini dah update...
siipp...lihat aja nanti endingnya... SasuSaku mungkin...? +ditimpuk+
ok...grazie udah nyempetin RnR fict Rie yang aneh...
RnR di nuovo?
yang lainnya dah di PM.
thank's to:
Miss Uchiwa SasuSaku's Lover, ZaRukoSiiStoicAlone, Uchiha Kazuma Big Tomat, Sakura Haruno 1995, 4ntk4-ch4n, CheZaHana-chan.
A/N:
hahaha...phuih..akhirnya bisa update...
maaf telat...
hehe... gimana? gimana? tambah gaje kah?
Rie bingung pas ngetik ini...
berhari-hari Rie pikirin ini... wuah...mentok di tengah jalan...jadi kayak gini...
pfufh...maaf deh kalau aneh... Rie usahain chap depan lebih gimana gitu...
typo, eyd? kalau ada yang salah kasih tahu ya...
yang pasti Rie minta REVIEWnya...
hehehe...
RnR?
Ci vediamo a fino alla prossima storia.
