*!!!ADULT CONTENT!!!*
#D-Day (1)
23:55 - Ruangan Hijikata
Hijikata masih terpaku menatap bulan. Suasana hiruk pikuk dari ruangan pesta tidak sampai ke ruangannya, menyebabkan suasana di sekitar Hijikata sepi dan sunyi. Lampu di ruangannya dibiarkan mati, pencahayaan hanya bergantung pada sinar sang rembulan yang berbentuk sabit. Seketika ia merasa ditelan kehampaan.
Tidak begitu lama, lamunannya dihamburkan oleh percikan kembang api yang tiba-tiba saja sudah menghiasi langit.
1... 2...
Hijikata melangkah ke luar ruangan untuk melihat lebih dekat.
3...
Samar-samar, terdengar suara anak kecil dari luar sana, tapi Hijikata tidak begitu peduli. Kembang api itu indah, pikirnya.
4...
Tepat saat kembang api terakhir, kelopak bunga mawar bertebaran menghujani Hijikata. Hijikata sedikit kaget dan refleks menoleh ke atas atap.
"Yo... Birthday Boy!" sapa seseorang bersurai perak yang sedang duduk di atas atap.
Mata biru Hijikata membulat, kembali bersinar. Bisa karena memantulkan cahaya bulan, bisa karena ia menemukan kembali separuh jiwanya.
"Apa yang kau lakukan di atap rumah orang, hah?! Apa ini hobi barumu, menguntit?!"
"Kalau itu kamu, aku bersedia melakukannya terus."
"Da-Dasar penguntit! Sudah berapa orang yang menjadi korbanmu? Wanita ma..."
Belum sempat Hijikata menyelesaikan kalimatnya, Gintoki sudah melompat dan mendarat tepat di hadapannya.
Perlahan Gintoki menyentuh bibir Hijikata dengan telunjuknya, "sudah aku bilang, bukan, itu kalau kamu?"
Hijikata menepis tangan Gintoki pelan, sebenarnya ia tidak bermaksud menepisnya. Ia menikmati sentuhan itu. Tapi apa daya ia masih kesal dengan laki-laki di hadapannya.
"Omong kosong," Hijikata membuang muka. Gintoki penasaran dengan ekspresi yang dibuat oleh kekasihnya ini.
"Kamu marah?" tanya Gintoki tiba-tiba yang membuat Hijikata kaget. "Sepertinya mereka memberikan kejutan yang meriah untukmu ya? Kamu menikmatinya?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih lirih.
Menyadari ada nada sedih diperkataan Gintoki, Hijikata hanya diam, tapi masih enggan menatap wajahnya.
"Hijikata... Gom..."
Hijikata menarik kerah baju Gintoki yang membuat pria bersurai perak itu menubrukkan badannya ke Hijikata. Sekarang tidak ada jarak lagi yang memisahkan mereka.
Kedua lelaki itu berpelukan di bawah sinar sang rembulan.
"Jangan bicara lagi, aku tidak ingin mendengar apapun darimu," bisik Hijikata ketus.
Menuruti kata-kata pujaan hatinya, Gintoki hanya diam sambil memeluknya erat. Satu lengannya membelai rambut hitam itu, satunya lagi ia lingkarkan di bahunya. Sementara wajahnya dibenamkan di sela leher Hijikata, menikmati aroma tubuhnya.
Nafas Gintoki yang mengalir di lehernya membuat wajah Hijikata memerah sampai ke telinga. Hatinya berdegup kencang, pikirannya kacau. Ia ingin marah, tetapi tidak bisa.
"Kau... kemana saja? Kamu sudah janji akan menemaniku hari ini bukan?" tanya Hijikata bertubi-tubi membuat Gintoki bingung mau berkata apa.
"Baka! Baka! Kalau memang aku tidak penting lagi katakan saja!"
"Hijikata..."
"Kamu tahu, seharian ini aku terus memikirkanmu?"
Mendengar kata-kata tersebut, Gintoki menarik wajahnya dari leher Hijikata dan menatap wajah pria itu. Ia dibuat terkejut karena mendapati laki-laki di hadapannya ini mulai menangis.
"Hoi..." Gintoki menyentuh pipi Hijikata dengan lembut, kemudian mengecup matanya, berharap ia tidak menangis.
Kedatangan Gintoki ke sini bukan untuk membuat kekasihnya menangis.
Tidak, ia sama sekali tidak mengharapkan ini.
Melihat Hijikata yang semakin terlarut dalam tangisannya membuat Gintoki semakin frustasi. Ia pun menarik dagu Hijikata dan memberi ciuman yang cukup dalam pada bibirnya.
Hijikata menyambut ciuman itu, karena ini yang ia inginkan. Ia merindukannya.
Selama beberapa saat menikmati ciuman itu, tangisan Hijikata pun berhenti. Dan tiba-tiba saja, kembang api kembali menghiasi langit.
1...
Gintoki menyudahi ciumannya, mengelus lembut bibir Hijikata yang ranum dan lembab akibat ulahnya, kemudian mempertemukan dahinya dengan dahi Hijikata.
2...
Kedua lelaki ini menatap langit, menikmati indahnya kembang api yang membuat langit semakin terang.
3...
"Kamu menyukainya?" tanya Gintoki pelan sambil meraih pinggang Hijikata
"Hmm..." Hijikata mengiyakan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Gintoki.
...Tapi aku lebih menyukaimu, katanya dalam hati.
4...
"Ah, ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu," kata Gintoki tiba-tiba sambil meraih lengan kimononya. Hijikata sedikit kecewa karena Gintoki melepaskan pelukannya.
Cukup lama Gintoki mencari barang tersebut tapi tidak ketemu. Ia pun kebingungan dan mulai panik.
Melihat tingkah kekasihnya itu, Hijikata menghela nafas. Ia melangkah mendekati Gintoki, lalu menarik tangannya agar melingkari pinggangnya.
"...yang aku inginkan hanya kamu," Hijikata mengucapkannya dengan susah payah karena memang itu yang ia pikirkan. Hatinya berdebar kencang, wajahnya kembali memerah sampai ke telinga.
Melihat sikap manis Hijikata kali ini Gintoki tidak mampu menahan diri. Ia senang, sangat bahagia. Entah ulang tahun siapa sekarang, tapi ia merasa seperti telah diberi hadiah yang luar biasa hari ini. Maka dari itu ia akan menikmati hadiah ini.
"Hijikata... I love you," katanya kemudian menyentuh lembut bokong Hijikata yang disambut dengan desahan kecil Hijikata di telinganya.
"Gin..."
Gintoki menggiring Hijikata masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu sedikit untuk kemudian melanjutkan aksinya. Setelah puas meremas bokongnya, Gintoki mencium leher Hijikata kemudian menarik tangannya ke arah perut kekasihnya itu.
"Agh!" pekik Hijikata yang membuat Gintoki terkesiap.
"Hijikata?"
"Nggh..." Hijikata menyentuh tangan Gintoki yang berada di perutnya, wajahnya ia tundukkan untuk menutupi ekspresinya.
"Hijikata!" Gintoki menarik wajah Hijikata. Wajah Hijikata pucat, seperti menahan sakit.
Melihat ekspresi itu hati Gintoki memanas, pikirannya sedikit panik. Ia pun menyibakkan kimono hitam Hijikata untuk memastikan langsung kekhawatirannya.
"Gintoki, ini bukan apa..."
"Diam!"
Setelah berhasil melucuti kimono Hijikata, Gintoki mengarahkan tubuh tersebut agar mengenai cahaya yang masuk melalui sela pintu. Apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Di sana, di sisi perut kanan Hijikata, terdapat luka sayatan yang cukup dalam.
Gintoki menyentuh pelan luka itu, sudah tidak mengeluarkan darah tapi masih basah. Saat melakukannya, Hijikata merinding karena menahan sakit.
Gintoki diam beberapa saat. Mata merahnya menjadi kelam, raut wajahnya tidak jelas terlihat tapi bisa ditebak kalau ekspresinya pasti mengerikan.
Hijikata tidak menyukai situasi ini, maka ia menyentuh pipi Gintoki dengan satu tangannya, menempelkan pipinya pada pipi kekasihnya itu, berusaha menenangkan.
"Gin... ini hanya luka biasa," kata Hijikata pelan. Ia menarik tangan Gintoki yang menyentuh perutnya dengan tangannya yang lain, kemudian mengecup punggung tangan tersebut. "Aku tidak apa-apa."
Gintoki pun membalas kecupan itu dengan ciuman di bibir Hijikata. Kali ini ciuman yang ia berikan cukup panas. Hijikata melenguh beberapa kali karena lidah Gintoki yang bergerak liar di dalam mulutnya. Gintoki pun sesekali melenguh karena Hijikata tidak mau kalah dengannya dalam permainan lidah kali ini.
Saking asiknya, saliva mengalir keluar dari ujung bibir Hijikata. Entah saliva itu miliknya, atau milik Gintoki.
Ciuman kini dialihkan ke leher Hijikata. Gintoki menjilati bagian leher di belakang telinganya dan dibalas dengan desahan Hijikata. Gintoki hafal betul sweet spot kekasihnya ini.
"Bersiaplah..." bisik Gintoki di telinga Hijikata sambil menghembuskan nafasnya dengan sengaja.
"Nggh..."
Gintoki menghujani tubuh Hijikata dengan ciuman. Ia mencium tulang selangka dan menyentuh dada Hijikata, meremasnya dengan lembut sembari sesekali memainkan si kecil dengan jarinya. Lalu ciumannya ia alihkan lagi menuju bagian sensitif Hijikata yang lain sehingga membuat kekasihnya itu tidak berhenti melenguh.
"Ahhnn... Ginn... Ngghh..."
Desahannya semakin menjadi-jadi saat Gintoki memainkan jarinya di bagian depan dan belakang Hijikata.
Hijikata dengan wajahnya yang sudah memerah dan berkeringat pun menyerah. Ia tidak tahan lagi. Ia ingin Gintoki melakukannya.
"Gintoki cukup!" Hijikata menghentikan lengan Gintoki yang juga membuat kekasihnya itu menyudahi ciuman di tubuhnya.
Hijikata berbalik membelakangi Gintoki dan berkata lagi, "aku ingin kamu..."
Gintoki yang sudah memahami betul kekasihnya ini pun langsung mengeluarkan futon dari lemari dan mebentangkannya di lantai. Setelah itu, ia menarik Hijikata dan membaringkannya di atas futon.
Kini posisinya sudah berada di atas Hijikata.
Hijikata yang malu pun menutupi wajahnya dengan punggung tangan, membuat Gintoki sedikit kesal. "Jangan tutupi wajahmu, aku ingin lihat," katanya sembari menggenggam tangan Hijikata dan menahannya di samping kepala.
"Kalau pun tidak aku tutupi, memangnya kamu bisa lihat?"
Maksud Hijikata ialah karena ruangan yang gelap remang-remang tanpa lampu yang menerangi.
"Bisa lah. Wajahmu bahkan tubuhmu sudah tergambar jelas di kepalaku," mendengar gombalan keluar dari mulut Gintoki, Hijikata pun kesal dan menjambak rambut ikalnya.
"Aduh... Hijikata-kun, aku sangat menentang domestic violence, lho," kata Gintoki sambil mengelus kepalanya.
"Berisik, dasar keriting menyebalkan!"
"Hai-hai... I love you too."
"Ba...!"
Cup! Gintoki mencumbu bibir Hijikata, lagi.
"Daijoubu...This time, I'll be gentle."
#D1
01:00 - Markas Shinsengumi
Yamazaki heran dengan kembang api yang dinyalakan malam-malam tadi, dua ronde pula. Ia sudah menyusuri ke luar markas bersama anggota Shinsengumi yang lain tapi tidak ada siapa pun di sekitar sana.
"Tidak baik mengganggu tidur orang begitu," gumamnya.
"Sudah lah Yamazaki, itu tidak usah terlalu dipikirkan. Lagipula kembang apinya indah bukan?" Kondo masih sedikit mabuk menanggapi anak buahnya itu. Yamazaki hanya melenguh dengan sikap atasannya.
"Ngomong-ngomong, Toshi mana ya?" tanya Kondo setelah menebarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Eh-hm itu..." Yamazaki ragu untuk menjawab, wajahnya pun sedikit memerah. "Mungkin sudah tidur di ruangannya? Wakil Komandan terlihat lelah," sambungnya.
Sougo yang mendengarkan sedari tadi pun melepas penutup matanya, "mungkin dia sedang menikmati hadiah ulang tahunnya," katanya polos sambil melirik Yamazaki.
"Hah? Hadiah apa? Pesta ini maksudnya? Kalau begitu semestinya dia bersama kita di sini. Hahaha... Toshi masih saja malu-malu ya," Kondo nyeloteh karena dikuasai mabuknya.
"I-iya ya..." Yamazaki semakin gugup.
Sougo pun berdiri dan duduk di sebelah Yamazaki.
"Kau melihatnya?"
"Maksud Kapten?"
Sougo hanya menatap kedua mata Yamazaki dalam-dalam sebagai jawaban. Yamazaki pun panik.
"Hhhh... aku sudah ketinggalan adegan seru."
A-Apanya yang adegan seru? Eh tapi mereka terlihat menikmatinya sih. EEE-EEHHH??!!
Yamazaki pun dibuat gusar dengan ingatannya sendiri. Sementara Sougo kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu.
02:00 - Ruangan Hijikata
Tubuh Gintoki masih sedikit pegal setelah melancarkan aksi membakar kalori di malam hari. Ia menoleh ke sosok berambut hitam yang meringkuk di sampingnya.
Lelap sekali ya? Pikirnya sambil tersenyum.
Ia menyadari Hijikata pasti kelelahan karena seharian harus bertugas, lalu dirinya sendiri pun cukup kelelahan karena sebelumnya harus melaksanakan misi dengan bayaran yang cukup mahal di Yoshiwara.
Walaupun misi itu tergolong tidak begitu sulit bahkan memuakkan.
Ia menoleh jam dinding, sudah lewat beberapa jam setelah hari yang spesial itu. Lalu ia tersadar kalau belum mengucapkannya pada orang yang sedang tertidur lelap tak berdaya.
Selama dia masih tertidur, aku rasa hari masih belum berganti, Gintoki berasumsi asal.
Ia pun meraih kimononya yang tergeletak di samping sisi futon dan menyingkapkan kimono itu untuk menyelimuti tubuh Hijikata hingga ke leher.
"Otanjoubi Omedetou, Hijikata Toushiro-kun," bisik Gintoki pada Hijikata sambil mengelus lembut rambut hitamnya.
FIN
Extra...?
Keesokan harinya, Hijikata terbangun. Ia merasakan sensasi aneh di perutnya. Lalu ia melirik sosok yang tertidur sangat amat pulas sampai ngorok di sampingnya.
Rambut perak keritingnya yang kacau, wajah tidurnya yang damai walaupun bibirnya sesekali terbuka lalu menutup.
Dalam hati, Hijikata sangat gemas padanya. Ingin sekali nguyel-nguyel, jambak-jambak rambutnya dan menghujani wajah itu dengan kecupan. Uhuk!
Perlahan, Hijikata mendekatkan wajahnya pada pria yang masih memejamkan mata itu.
Semakin dekat,
Dekat,
Cup!
Segera, ia menjauhkan wajahnya begitu membubuhi kecupan di kening pria yang masih saja tidur terlelap tanpa gangguan itu.
Merasa perutnya semakin bergejolak aneh, Hijikata segera berlari ke kamar mandi.
Sementara itu, sosok berambut perak di ruangan diam-diam menyentuh dahi yang baru saja diberi morning kiss oleh pujaan hatinya. Terlihat semburat senyum menghiasi wajahnya yang tampan.
Ia sangat amat bahagia masih diberi kesempatan untuk hidup dan menjalani kehidupan ini.
Terus bersyukur atas karunia-Nya yang luar biasa sampai akhirnya ia mendengar keributan di luar sana.
Yamazaki menggedor pintu kamar mandi dan terus memanggil nama Wakil Komandannya itu.
Hijikata muntah berkali-kali di kamar mandi sampai wajahnya terlihat pucat. Kondo sudah memanggil dokter untuk memeriksanya. Maklum, Komandan tersayangnya ini memang selalu berlebihan dalam segala hal, dan cepat khawatir. Apalagi berkaitan dengan anggota-anggotanya yang berharga.
Gintoki sudah meninggalkan ruangan Hijikata, tentu saja. Bisa gawat kalau ada yang tahu dia dan Hijikata melakukan pergulatan sengit di ruangan itu pada malam harinya. Walaupun sesungguhnya sudah ada yang memergoki.
Hijikata berbaring di futon setelah kesekian kalinya muntah pagi ini. Wajahnya sangat pucat. Hanya sampai situ informasi yang Gintoki dapat setelah ia meninggalkan markas Shinsengumi dan kembali ke rumahnya.
Mungkinkah, karena luka itu? Atau karena aku terlalu kasar melakukannya? Tapi seingatku aku sudah cukup gentle kemarin, pikirnya berkali-kali, tidak tenang.
Ia terus berbaring dan memejamkan matanya di sofa. Suasana hatinya kacau kali ini.
Kalau sampai terjadi apa-apa pada Hijikata, aku harus bertanggung jawab, pikirnya.
Beberapa saat kemudian, telpon berbunyi. Dengan malas ia bangkit dan menjawab telpon itu.
Ternyata dari Sougo. Ia menyuruh Gintoki untuk datang ke markas Shinsengumi saat itu juga.
Setelah menutup telpon, hatinya semakin tak karuan. Ia ragu apa akan datang ke markas Shinsengumi atau tidak. Tapi, karena sudah berjanji pada dirinya sendiri akan bertanggung jawab, ia pun memutuskan untuk pergi ke sana saat itu juga.
Sesampainya di markas, Sougo menyambut Gintoki dan mengantarnya ke ruangan Hijikata. Selama di perjalanan itu hatinya terus berdegub kencang, pikirannya kacau.
Begitu tiba di ruangan Hijikata, di sana sudah ada seorang dokter yang duduk di samping kirinya, sementara Kondo dan Yamazaki duduk di sisi kanan. Mata kedua orang itu terlihat berkaca-kaca.
Hijikata yang menyadari kehadiran Gintoki terkejut. Ia hanya membuang wajah, yang tentunya membuat Gintoki menjadi kesal.
Apa-apaan dengan sikap itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Pikirnya.
Sang dokter yang baru menyadari Gintoki berdiri di belakangnya pun tersenyum ke arahnya. Gintoki langsung bertanya pada dokter itu mengenai keadaan Hijikata.
Sang dokter memperlihatkan wajah cerah bak biksu-biksu pemimpin kuil, walaupun tidak seluruh kepalanya botak, dan senyum penuh kebahagiaan serta memancarkan aura super positif yang bagi Gintoki sungguh annoying.
Biksu, eh, dokter itu memberi selamat pada Gintoki. Selamat untuk apa? Gintoki semakin heran dan mencoba mencari jawaban dengan menoleh ke arah Kondo dan Yamazaki.
Hijikata hamil.
Seisi ruangan pun kembali dipenuhi dengan isak haru. Kali ini Gintoki ikut bergabung di sebelah sang dokter sambil berterima kasih padanya. Sesekali ia menyenyuh tangan Hijikata yang dengan cepat ditepis oleh si empunya tangan.
Jadi, di sini lah awal cerita Lil dimulai. Terus berkembang dari embrio yang hadir ke dunia sempit bernama rahim melalui cinta kasih dari kedua papi-maminya, Gintoki dan Hijikata.
Ada yang mau join Lil di rahim Hijikata? Siapa tau kita bisa buat kembar banyak kayak anime tetangga.
Lol
Beneran FIN.
YEEYY Selamat bagi yang sudah sampai di garis finish ini! Conguratulations~~!!
*tebar kembang*
Aaa... aku senang sekali akhirnya bisa jadi salah satu bagian dari yang menghiasi hari penting ini bersama rangorang yang mencintai Hijikata lainnya~
Btw, Maaf, kalo FF ini isinya mungkin kurang cocok sama kalian, ooc dst. Terus tak lupa, Makasih karena sudah baca sampai selesai! *terharu* *pelukin satu-satu*
!!!AKU LUPA UPLOAD FF INI DI FFN PAS TGL 05/05/2017 UPLOADNYA DI APP TETANGGA AJA JADI TELAT YG DI SINI GOMEN~!!!
!!Ini sesi curhat jadi abaikan saja*
Kalian tahu? Aku sangat amat mencintai Hijikata sampai di titik aku menganggapnya benar-benar hidup. Aku suka segala sisinya, yang aku tidak suka hanya satu. Melihat dia sedih. Meskipun sejujurnya Hijikata yang berkaca-kaca gitu juga keliatan indah . *plaked
Kalian tahu? Beberapa waktu belakangan ini aku tersiksa dengan fakta-fakta yang ada. Ini membuat aku capek dan muak, sempet ngehindari GinHiji Gintama stuff saking penatnya.
Terus, karena kangen, iseng cek sini lagi deh. Beruntung banyak temen-temen di sini yang dengan semangat memperkaya GH ff, aku jadi terharu, dan bahagia sekali.
Makasih banget udah buat ff2 gokil itu dan membuat aku merasa tidak sendirian di dunia yang kecil ini ini mulai alay XD
Intinya, marilah kita merayakan hari ulang tahun Uke kita tercinta dengan penuh suka cita di dalam dada~
*ga nyambung*
Semoga tahun-tahun berikutnya bisa terus berlanjut ya... Bersama menjaga senyuman Hijikata! (Aminnn)
Sekali lagi,
Selamat Ulang Tahun, Hijikata Toushiro!
