Castle Alfeim, tempat latihan.
Menjadi seorang penerus kerajaan, berarti menjadi penerus dari penjaga Azasayumi. Naruko tahu dan mengerti, apa yang harus dan orangtuanya ingin ia bisa. Mengendalikan Azasayumi, sama artinya dengan mengendalikan seluruh kerjaan. Saat Naruto—kakaknya, ditunjuk menjadi seorang Valar, itu artinya semua tanggung jawab dan segala tetek-bengek tentang kerajaan berada di tangannya. Karena tanggung jawab seorang Valar menyangkut dengan eksistensi keseluruhan dunia. Dia akan terlalu sibuk, untuk dapat mengurus Alfeim. Tapi, seberapa keras pun Naruko mencoba, ia tidak bisa.
"Naruko! Coba lagi! Shion, sekecil ini bisa mengendalikannya! Apa yang terjadi padamu?"
Selalu begini. Setiap orangtuanya ingin ia menggenggam busur kerajaan itu, selalu saja ia dibandingkan dengan adik kecilnya. Tidak, Naruko tidak bisa menyalahkan Shion. Ini semua salahnya sendiri. Salahnya, yang tidak becus. Salahnya, yang tidak bisa memenuhi keinginan orangtuanya.
Tapi...
Naruko tidak mengerti...
Saat Naruto menarik dan memakai busur itu, ia bisa melihat penyatuan dari busur itu dan kakaknya, sama halnya dengan Shion. Hanya saat ia yang menggenggam Azasayumi, busur itu menjadi tidak terkendali. Nyaris menyakiti penjaga yang ikut melihat latihan tak berujung ini. Sekeras apapun Naruko mencoba, ia tidak bisa!
"Aku tidak mengerti bagaimana, tapi... Sepertinya pemerintahan akan diturunkan pada Shion..."
Naruko tidak pernah menginginkan menjadi seorang tuan puteri. Ia tak pernah menginginkan jadi kandidat pemimpin kerajaan. Ia tak pernah menginginkan jadi pemegang busur menyebalkan itu! Ia hanya gadis 13 tahun, yang ingin kehidupannya normal!
Tapi... menjadi seperti ini dan mengecewakan orangtuanya...bukan sesuatu yang ia inginkan juga.
"Naruko, kau mau kemana?!"
Saat itu yang bisa ia ingat adalah ia berlari, menjauh dari pekarangan castle. Sempat didengar olehnya bagaimana sang ayah melarang penjaga, atau siapapun yang ingin mengejarnya. Beliau berkata, dia harus bisa melewati semuanya sendiri. Dia harus dewasa. Naruko bersyukur, karena dia tidak mau ada yang mengikuti juga.
Tanpa sadar, kakinya membawa Naruko ke portal Arda. Ia tidak banyak bicara saat penjaga portal menanyainya macam-macam, terutama alasannya berlari tak tentu arah dengan berlinang air mata seperti itu. Naruko langsung menerjang portal ke Dunia Tengah.
Seperti terakhir kali Naruto membawanya ke sana, Naruko langsung merasakan sebuah ketenangan. Senyum terukir di wajahnya, ketika kakinya mulai menginjak rerumputan Dunia Tengah. Saat matanya melihat seorang dewan Valinor, Naruko buru-buru bersembunyi. Kalau pak tua itu tahu ia ke sini, Naruto bisa diomeli. Sejauh yang Naruko ingat, gadis itu tak suka membuat kakaknya dalam masalah.
Membiarkan dirinya dinaungi pepohonan, Naruko semakin tenang. Dimana pun ia berada, asalkan ada pohon, gadis itu tak pernah tersesat. Tidak tahu bagaimana, tapi Naruko lebih nyaman dengan alam daripada di tengah kerumunan orang.
Sampai langit gelap, ia tidak berhenti.
Kali ini Naruko benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika berhadapan dengan orangtuanya. Sebut saja ia kabur, ia tidak peduli. Keletihan yang dirasakan oleh kakinya seolah sirna, ketika sebuah gapura indah berhias bunga berhasil dilewatinya. Mulai berlari, Naruko terperangah. Di tengah padang rumput ini, berdiri kokoh sebatang pohon tua yang bercahaya.
'Andai saja kunang-kunang menghiasi tempat ini juga...'
Ia tidak tahu ketika satu kali melangkah, permintaannya terkabul. Kunang-kunang berterbangan entah darimana asalnya. Mempercantik segala hal yang dilihat oleh matanya. Naruko tertawa, benar-benar merasa senang. Langkah terakhirnya sebelum ia tidur—pada malam itu—tepat di depan pohon tua bercahaya. Saat ia menyentuh pohon itu, tubuhnya mulai bersinar.
Naruko melihat dengan jelas, bagaimana sinar itu berkumpul dan menjadi kalung indah, yang tergantung di lehernya.
.
.
.
Naruto © MK's
Mitologi Nordik © Eropa people's
.
.
.
Eru Iluvatar's
Chap 3 : Namikaze Naruko
Naruko terbangun, hanya untuk mendapati dirinya berbaring di sebuah ruangan yang terlalu besar baginya. Kasurnya memang empuk, namun terlalu lebar. Terlalu meyakinkan rasa kesepian. Menguap sekali lagi, gadis itu mencoba untuk mendudukkan badannya. Bagus sekali. Kepalanya langsung pusing.
"U-ugh... Kurama? Kau di mana?"Naruko memutuskan untuk bangkit, mencari keberadaan Kurama. Membuka dua pintu besar itu, Naruko dihadapkan dengan dua orang pelayan. Keduanya membungkukkan badan sejenak, memberinya dua senyum sumringah yang menyilaukan.
"Selamat pagi, hime-sama! Bagaimana keadaanmu?"tanya salah satu dari dua pelayan tersebut.
Naruko hanya tersenyum tipis. "Aku baik,"jawab gadis itu, mencoba terdengar ramah.
"Syukurlah! Selamat datang kembali!"
Naruko mencoba mengabaikan rasa canggungnya. Ingatan yang kemarin membuatnya tidak sadarkan diri tidak membantu sedikit pun akan kenyamanan di tempat ini. Ia ingat ini adalah rumahnya, tapi tidak benar-benar merasa pulang. Lagipula ingatan itu belum sempurna...
"Kalian lihat Kurama?"tanya Naruko pada akhirnya.
"Sedang menghadap Lord Minato-sama. Perlu kami antar?"
"Tidak terimakasih, aku bisa sendiri. Kalian kembalilah bekerja!"
"Baik, permisi..."
Naruko mendengus kecil, saat dua pelayan itu menghilang di koridor. Mulai melangkahkan kakinya, Naruko berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan fokus matanya. Kepalanya jadi semakin pening, dengan bayang-bayang ingatan yang mulai menghampirinya, di tiap sudut istana. Helaan nafas sengaja gadis itu keluarkan. Naruko merasa tenang, ketika berhasil memegang kenop pintu dua muka yang amat megah.
"Dikunci..."eluh gadis itu, saat tak bisa membukanya.
Naruko mengetuk pintu kayu jati itu. "Siapa?"sahut suara baritone dari dalam. Hati Naruko agak bergetar mendengarnya. Ini adalah...suara Namikaze Minato.
Ayahnya.
"Ini Naruko, ...ayah!"jawab Naruko. Lidahnya terasa gatal saat ia menyebut Raja Alfeim dengan sebutan Ayah. Sudah berapa lama? Sudah berapa lama ia tak memanggil seseorang dengan sebutan itu?
Pintu terbuka lebar, Naruko disuguhi bungkukan badan beberapa penjaga. Menghela nafas sekali lagi, ia melangkah masuk. Di ruang luas ini, Naruto bisa melihat tahta yang berjajar. Ada lima kursi jumlahnya. Yang di tengah dan paling elegan diduduki oleh sesosok pria berambut pirang jabrik. Mata birunya tampak teduh, namun juga memancarkan kebijaksanaan yang mampu membuat siapapun segan padanya. Di samping sang Raja, tentu saja didirikan tahta untuk Yang Mulia Ratu. Akan tetapi yang mendudukinya bukan Ratu, melainkan Namikaze Shion—penerus tahta Alfeim sekaligus penjaga busur Azasayumi saat ini. Naruko tersenyum kecut. Apa yang ia harapkan? Ibunya akan duduk di sana, membentangkan tangannya untuk siap menerima pelukan? Itu tidak mungkin.
Takkan mungkin, sampai Naruko berhasil menjatuhkan Uchiha Madara dari ketamakannya.
"Naruko?"
Di depan tahta, Naruko kira ia akan menemukan sesosok pemuda gagah berani yang merupakan pemimpin Valar, yaitu Kurama. Memang benar, hanya saja beda kemasan. Kurama yang sedang menghadap Raja Minato adalah Kurama yang terperangkap dalam tubuh rubah. Ketika disentuh oleh Naruko di bawah payung rembulan, pemuda itu bisa berubah, kan? Naruko akan melakukannya lagi nanti malam.
"Yo, Kurama! Dan umm..."Naruko memposisikan dirinya di sebelah Kurama. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari rubah itu, Naruko membungkukkan badannya sejenak. "Aku pulang, Ayah..."sambung Naruko, diakhiri senyuman.
Pria bernama Minato itu tersenyum. "Kemarilah, putriku!"ujarnya, menarik Naruko ke dalam dekapan hangat seorang ayah. Kehangatan itu tak bertahan lama, saat Naruko berhasil mencuri lirikkan pada Shion—adiknya, yang melempar tatapan tajam padanya, sebelum bangkit dan meninggalkan ruangan. Naruko menghela nafas. Ini tidak akan mudah...
"Kau sudah ingat, Naruko?"Kurama bertanya, saat Minato melepas dekapannya. Naruko hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil.
"Belum semua, tapi aku tahu siapa diriku..."
"Jadi, laporan Kurama bahwa kau lupa ingatan itu benar adanya, Naruko?"Minato mencengkram bahu putrinya, tersenyum lembut ketika gadis itu mengukirkan sebuah cengiran lebar. "Yang penting kau tidak apa-apa... Kau tidak pernah pulang ke rumah seratus tahun terakhir... Andai Kushina ada di sini..."
Dada Naruko terasa sesak, saat nama sang Ibunda disebutkan oleh Minato. Gadis itu tak bisa menahan senyum sendunya, sembari memperhatikan tahta yang biasa diduduki sang Ibunda. Naruko teringat, saat ia dan dua saudaranya masih kecil. Mereka sering bercanda di ruangan ini, dengan kedua orangtua mereka yang duduk santai ditemani teh dan jajaran pelayan. Detik-detik sebelum Dark Age terjadi, di mana kedamaian masih terasa dengan nyata.
Ah... Dark Age.
Bulu kuduk Naruko agak meremang mengingatnya. Dia tak akan pernah lupa, satu hari tiap 50 tahun itu. Di saat bulan diselimuti awan hitam tebal. Saat pohon Lindon berada dalam titik lemahnya, di mana harus dilindungi oleh dewan Valinor dan Valar, selagi yang lain melindungi masing-masing Yggdrasil dari serangan Uchiha Madara. Dark Age pertama yang Naruko alami, adalah kedua kalinya Uchiha Madara mengibarkan bendera perang. Umurnya baru 10 tahun saat itu, dan ia sudah disuguhi pemandangan penuh kekacauan. Ia ingat, saat itu suara ledakkan terdengar di mana-mana. Ayah dan Kakaknya meninggalkan Naruko dan Shion di tempat persembunyian. Walaupun Kakaknya berumur sama dengan Naruko, tapi saat itu dia telah ditunjuk dan berlatih sebagai anggota Valar.
Dark Age ke-2 yang Naruko alami, dia gagal menyelamatkan Ibunya dan beberapa orang penting lain. Dari kejadian ini, Svartalfheim berhasil jatuh di tangan Madara. Satu-satunya alasan yang membuat Naruko enggan menginjakkan kaki di Alfeim. Masih merasa bersalah pada seluruh rakyat, karena ia gagal melindungi Sang Ratu.
Dark Age ke-3...Uchiha Madara benar-benar berhasil mengacaukan Dunia Tengah. Semua dewan Valinor tandas, keberadaan mereka masih menjadi misteri. Yang bisa Naruko syukuri saat penyerangan itu terjadi, mereka—dirinya dan Valar—berhasil melindungi pohon Lindon. Hasil dari Dark Age ke-3 ini, perlindungan antar portal Arda semakin menurun. Naruko yakin, Madara sudah menghimpun pasukan sampai ke makhluk penghuni Muspell.
Bahkan beberapa waktu lalu, berhasil menyerang telak para Valar. Sampai-sampai Kurama mendatanginya ke Midgard, untuk menjemputnya kembali ke Dunia Tengah. Walaupun Naruko belum ingat jelas apa yang membuatnya berada di dunia manusia, beraktifitas seperti mereka pula. Tapi Naruko yakin apa alasan Kurama menariknya kembali.
Hanya dia satu-satunya yang tersisa, yang bisa diandalkan, untuk melindungi pohon Lindon untuk Dark Age yang akan datang.
"Naruko? Kau sedang memikirkan apa?"teguran dari Minato menarik Naruko kembali pada dunia nyata.
"Tidak ada apapun..."jawab Naruko, memaksakan diri untuk tersenyum. Gadis itu berjengit kecil, saat Kurama menancapkan kuku tajamnya di kaki Naruko, agar gadis itu menunduk—menatapnya.
"Kau tak perlu khawatir. Kita hanya perlu menyelamatkan semua anggota Valar dan menyerang Svartalfheim, sebelum Dark Age terjadi..."Kurama memang selalu mengetahui apa isi hati orang-orang di sekitarnya.
Ah, ya. Dark Age sebentar lagi...
.
.
.
"Kau ingat pertama kalinya kita sadar Naruko adalah reinkarnasi Eru Iluvatar?"Sasuke menerawang ke langit kemerahan di atasnya, memasang senyum nostalgia. "Jawaban keanehan reaksi alam padanya, baru kita sadari. Bagaimana mudahnya binatang mengakrabkan diri, bagaimana pepohonan melindunginya,"
Naruto mengeratkan cengkraman kaki kecilnya pada atasan yang dipakai Sasuke. Burung itu tertawa dalam hati. "Konyol sekali, bagaimana hebohnya dewan Valinor setelah mengetahui hal itu. Mereka terlalu buta untuk mencarinya dengan kekuatan. Metode yang sama, yang mereka lakukan untuk menemukan kita—anggota Valar. Padahal mereka tahu, Eru Iluvatar ada, bukan untuk bertarung. Dia lahir, untuk melindungi..."gumam burung itu, menyambung apa yang ada di pikiran Sasuke.
Eru Iluvatar, eh?
Pertama kali dewan Valinor menjelaskan, Kurama tertawa mengejek. Naruto masih ingat jelas, bagaimana kebiasaan ketua mereka itu—mencari masalah. Tentu saja dewan Valinor marah, merasa diremehkan. Tapi, siapa pula yang cukup bodoh untuk menanggapi ejekkan dari biang masalah?
Sayang sekali...Ada. Satu yang sejak pertama Naruto lihat sudah ia cap sebagai orang bodoh.
Namanya Deidara. Yang paling emosional di antara dewan yang lain. Kalau saja sifatnya bisa lebih keren sedikit, anggota Valar pasti bisa menyegani sosok itu, walau hanya sedikit. Karena kemampuannya tak bisa diremehkan. Tentu saja! Mana mungkin dia jadi Valinor, kalau mengamankan Jotunheir saja tidak bisa?
Fakta yang mengatakan bahwa dewan Valinor sendiri belum pernah bertemu dengan satu pun generasi Eru Iluvatar, mereka tidak mempercayainya. Tidak percaya bahwa penjelasan para dewan itu nyata, bukanlah bualan semata. Tanpa sebuah bukti, teori hanya menjadi sebuah dongeng belaka.
Ketika Naruko mereka temukan sedang tertawa dengan berjuta kunang-kunang di sekitarnya, mereka percaya. Mereka memang tidak melihat Naruko mengeluarkan energi besar yang dewan bilang bisa menghancurkan dunia, tapi mereka tetap percaya. Dunia Tengah tak pernah senyaman itu. Dataran Lindon memanglah selalu menebar hawa damai. Namun tak pernah semenenangkan itu. Seolah semua makhluk di sekitar Naruko ikut tertawa bersama gadis itu.
Itu sudah lama sekali. Semakin lama mereka menghabiskan waktu bersama-sama, semakin mereka mengerti mengapa Eru Iluvatar dilahirkan di dunia ini.
Jujur saja, Naruto sempat terkejut ketika mengetahui adiknya adalah Eru Iluvatar. Naruko terlihat seperti gadis biasa. Hanya seorang gadis yang kebetulan dipilih takdir terlahir di bawah garis keluarga Namikaze. Satu yang terbebani tahta Alfeim, saat Naruto tertunjuk sebagai Valar. Dia tak pernah membayangkan, adik yang selama ini ia sayangi ternyata seseorang yang jauh lebih kuat darinya. Terjawablah sudah, mengapa busur Azasayumi tidak pernah setimbang, jika gadis itu menggenggamnya. Kekuatannya terlalu besar untuk ukuran elf biasa. Beruntung, masih ada Shion—adik mereka, yang mengisi kekosongan tahta selagi mereka mendapat tanggung jawab yang lebih besar.
Melindungi pohon Lindon, akar-akar nyawa dari seantero Arda. Ya, itu tugas mereka.
"Kita harus ke Castle, Naruto..."Sasuke berucap tiba-tiba, setelah tak sengaja mendengar perbincangan warga bahwa putri mereka sudah pulang. Mata elangnya menatap lurus, pada bangunan paling megah dan paling tinggi, sebagai sentral Alfeim. Ya, Castle Alfeim—rumah Naruto. "Kau mau pulang, kan?"lanjutnya, setengah menyindir.
Naruto mendengus kecil. Pulang? Naruto tidak pernah ingin pulang. Satu-satunya alasan ia sering meminta izin kembali ke rumahnya tiap akhir pekan pada dewan Valinor adalah karena ia ingin mengawasi adiknya. Naruko dan Shion. Di dalam bangunan itu, ia selalu dituntut menjadi Pangeran Sempurna. Awal-awal ia dipilih, sebelum Dark Age pertama mereka, pelatihan yang diberatkan pada Naruko dan Shion membuat dua adiknya itu saling menjauh. Shion yang terus dipuji oleh kedua orangtua mereka, secara tak sadar mulai angkuh di depan Naruko. Dan Naruko, yang belum berhasil mencapai apa yang orangtua mereka inginkan, jadi lebih banyak menyendiri. Sampai sekarang pun Naruto yakin, Shion masih menjauh dari Naruko.
Satu hal, yang membuat dirinya merasa gagal menjadi seorang kakak...
Untuk itulah, ia tak merasakan hal yang spesial ketika melihat bangunan megah tempat ia lahir dan dibesarkan itu.
"Kita masuk ke sana, seret Kurama dan Naruko, lalu berangkat menuju Niddhavellir,"ujar Naruto dengan intonasi datar.
Sasuke hanya menyeringai kecil. Selalu. Setiap mereka mengunjungi Alfeim, kedinginan Naruto bisa mengalahkan kedinginan dirinya yang terkenal sebagai pangeran Es dari dataran Svartalfheim.
"Ya sudah, ayo!"
.
.
.
Seperti yang Naruto rencanakan, mereka menginjakkan kaki tak lama di dalam istana. Hanya ikut makan malam, itu pun atas permohonan Sang Raja. Setelah itu, dirinya, Sasuke, Kurama, dan Naruko langsung berangkat, menuju Portal Arda penghubung dengan Niddhavellir. Perjalanan menuju pintu dimensi ruang itu terasa kaku, tak ada satu pun yang mau bicara. Faktor Naruto yang diam saja, padahal biasanya dia yang paling hobi berkicau untuk menghangatkan atmosfir.
Naruko merasa benar-benar tak nyaman. Ini bukan momen reuni yang ia inginkan. Anggota Valar hanya tersisa tiga. Itu pun Kurama dan Naruto dalam keadaan terperangkap sihir yang tak bisa diremehkan. Mungkin hanya Sasuke yang baik-baik saja. Tapi...Naruko belum bisa mengingat apapun yang spesial mengenai pemuda itu.
"Kita harus bersiap. Aku yakin Madara akan mengirimkan anak buahnya untuk berjaga di Portal Arda," ucap Kurama serius, ketika Portal Arda bisa mereka lihat 25 meter dari tempat mereka berdiri. "Dalam tubuh ini aku mungkin tak bisa menggunakan kekuatan asliku, tapi setidaknya perlawanan fisik cukup kuat. Naruto—kau bisa menggunakan sihir sementara, kan? Kembalikan keadaan tubuhmu, lawan sekuat tenaga. Tapi tetap jangan memaksakan diri. Sasuke...Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
Meskipun hari pelatihan di Hutan Duriath Kurama selalu menjadi biang masalah, tapi di saat-saat kritis seperti ini, sifat kepemimpinannya akan keluar. Seluruh anggota Valar menghormati pendapat dan perintahnya. Terlihat dari bagaimana Naruto dan Sasuke mengangguk, tanpa adanya protesan. Tubuh Naruto bercahaya. Burung itu telah kembali ke wujudnya yang semula. Sedangkan Sasuke memejamkan kedua kelopak matanya. Ketika terbuka, Naruko tidak lagi melihat dua langit kelam. Melainkan mata semerah darah dengan tiga titik hitam yang menghiasnya.
Mata Sharingan, mata khas Uchiha.
Melihat mata itu, Naruko membeku. Ia merasa pernah melihat mata serupa. Tapi...di mana?
Tiba-tiba saja, badannya mulai bergetar.
"Ayo!" Kurama menerjang portal duluan, diikuti oleh Naruto.
Naruko mengernyit heran, saat Sasuke hanya diam di hadapannya. Satu helaan nafas terdengar, tahu-tahu pemuda berambut emo itu berbalik ke arahnya. Wajah datar itu, kini dihias sebuah senyum. Hanya dalam beberapa detik, badan mereka tak berjarak.
Sasuke memeluk Naruko.
"...S-sasuke?" Naruto tercekat.
"Hmm...?" Sasuke hanya bergumam, menenggelamkan wajahnya pada cekuk leher Naruko. "Sebentar..."
Naruko sebenarnya ingin memprotes. Tapi...badannya tak mau berkompromi. Ada kehangatan yang tak bisa ia deskripsikan di tengah sentuhan ini.
"Jangan takut, kita akan berjuang bersama menyelamatkan Valar lainnya," bisik Sasuke, sebelum melepaskan pelukan itu. "Ayo!"
Naruko lagi-lagi tidak memprotes saat Sasuke menariknya untuk menerjang portal bersama-sama.
"Kumplit sudah buruan kita kali ini, khukhu~!" ini adalah sambutan pertama yang Naruko dan Sasuke dapatkan ketika menginjak tanah Niddhavellir pertama kalinya. Pasukan Orc dengan berbagai macam bentuk tubuh absurd. Mengerikan.
"Kalian lama sekali?!" Kurama menggeram. Tubuh kecilnya tampak tetap menggemaskan walau dalam pose siaga. Kontras dengan rubah itu, di sebelahnya, Naruto justru sedang memasang cengiran lebar. Matanya berkedip jahil, mengarah pada Sasuke. "Rasa rindu memang merepotkan, ya!" ujar si Pirang Jabrik.
Sasuke berdeham, tetap pada mimik wajah stoic-nya. Tapi tak luput dari mata Naruko, bagaimana pipi putih pucat itu dinodai rona kemerahan.
Apa yang aku lewatkan di sini?—batin Naruko, masih tidak mengerti.
"Sudah cukup waktu mengobrolnya! Kami di sini atas perintah Lord Madara untuk membawa Eru Iluvatar! Serahkan gadis itu!" Satu Orc dengan badan paling besar bersuara. Orc yang lainnya menyeringai kejam, bersiap untuk menyerang.
"Madara menginginkan Eru Iluvatar? Untuk apa? Dikawini?" Naruto mengeluarkan tawa menyebalkan. Naruko mendelik. Ia, dikawini Uchiha Madara? TAK SUDI! "Maaf saja, tapi seorang Kakek tak boleh mencuri hak milik cucunya sendiri!" dengan itu, Naruto memulai pertarungan. Diikuti tarian pedang dari Sasuke dan pergerakan gesit Kurama.
Tapi, Naruko masih terdiam. Otaknya sedang memproses maksud ucapan kakak kembarnya itu. Hak milik cucu Uchiha Madara? Apa maksudnya?
Naruko memilih untuk menyimpan pertanyaan itu dulu, ketika beberapa Orc bergerak gesit ke arahnya. Sesi pertanyaan bisa diadakan nanti. Dia punya pasukan Orc yang harus dihabisi.
"Kami tangkap kau!"
Naruko menunduk menghindar, langsung menghantamkan kakinya hingga satu Orc terpelanting, menghantam Orc lain. Dari kanan dan kiri dua makhluk serupa berniat mengayunkan senjata masing-masing. Yang satu berupa rantai-rantai berkarat, Naruko sukses menggenggamnya dan menarik benda logam itu, membuat satu Orc terjatuh. Lalu Naruko melompat ke belakang, menghindari hantaman senjata berwujud kapak genggam. Gadis itu berjengit, saat sesuatu mencengkram pundaknya. Menegadah, ia melihat satu Orc bersayap tengah memasang seringai kemenangan.
"Aku tak akan tertangkap semudah itu!" ucap Naruko yakin."Razoc!" sambungnya tanpa sadar.
Kedua tangan Naruko bergerak menyilang. Satu sulur pohon melingkari pinggang Naruko. Pohon yang berada tepat di sebelahnya bergerak. Dahan kuat tumbuhan tersebut menghantam Orc, hingga terpental jauh. Dengan badan masih terangkat oleh sulur pohon, tak menapaki daratan, Naruko terpaku.
Dirinya mungkin belum mengingat semua bagian dari memori otaknya. Tapi Naruko yakin, dia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Senjata pamungkasnya adalah busur Eldar. Bagaimana...ia bisa menumbuhkan sulur ini? Apa yang terjadi pada pohon tadi? Dan lagi...Razoc? Apa yang telah ia ucapkan? Sihir?
Apa...yang telah kulakukan?
Bersambung...
EI's Vocabulary
Dark Age : Satu hari ketika pohon Lindon berada di titik terlemahnya.
Muspell : Bagian paling bawah Yggdrasil, berisi raksasa lahar.
Jotunheir : Bagian Yggdrasil setelah Midgard, berisi para raksasa dan binatang besar lainnya.
Niddhavellir : Bagian ketujuh Yggdrasil, berisi makhluk sejenis Dwarf, Loki, dan makhluk kerdil lainnya.
A/N
Masih pendek, ya? Chic janji panjangin mulai chap depan, deh! Hehe...
Maaf untuk lamanya update. Chic sempat kesulitan memisahkan 'feel' Naruko di EI dan Naruto di 'UP'. Malah besar kemungkinan, kali ini bercampur dengan Naruto di 'YBS'. Tapi, pada akhirnya, Chic berhasil mengatasinya. Terimakasih untuk kalian yang setia menanti!
Tak banyak yang bisa disampaikan. Jika ada kritik dan saran, jangan segan menumpahkannya di kolom review.
Cuplikan chapter depan :
Kurama menopang dagu. "Mungkin ada hubungannya dengan kepergianmu ke Midgard?"
"Sudah kubilang dia belum taubat!" Naruto tertawa hambar. Mereka telah menemukannya.
"...Jangan dipaksakan," Naruko bisa melihat jelas kilau kekecewaan dari dua langit kelam itu. Bisakah...ia melakukan sesuatu untuk menghibur Sasuke?
Pria itu tetap seperti terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya masih sepanjang itu. Wajahnya masih seperti itu. Posturnya tetap setegap itu. Tapi kilauan matanya...lebih mengerikan.
Bukan hanya Uchiha Madara. Kali ini, Naruko benar-benar melihat Sang Melkor...
"Sudah lama kita tak bertemu, Eru!"
Ini tidak akan mudah...
Balasan review sudah masuk pm, ya?
Sekian terimagaji,
Chic White
(Possible!Chic-ken*roosting*)
