-27 Days-
*Ch 2/Day 2*
*Reqmartinachristy54*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Genre: Romance, Drama.
Warning: Typo(s), alurlambat/ngebut, request martinachristy54, mungkin fluff, multi-chap, latar musim dingin, AU (maybe).
Summary: 27 hari—waktu yang terbuang 'sia-sia' akibat permainan tersebut. InnocentRin & TsundereLen.
Day 2: Bench, Hot Chocolate, and Silence.
Len menghela nafas melihat keadaan yang—terlalu—berisik di rumah besar keluarga Megpoid. Lebih twpatnya Gumi Megpoid—salah seorang teman sekelasnya yang menjabat sebagai ketua kelas. Ia memiliki rambut berwarna hijau dan mengenakan googles di atas kepalanya.
Gadis itu sangat (baca: terlalu) energetik dan seakan-akan takkan pernah berhenti mengusulkan ide bagi panitia winter project.
Oh? Gumi juga merupakan salah satu panitia winter project.
Dan karenanya hari ini semua panitia beserta anggota berpesta di mansion milik keluarga Megpoid—keluarga Gumi. Yah, bisa dibilang Gumi adalah seorang nona muda.
Len kembali menelusuri tempat tersebut dengan kedua iris biru safirnya. Dan pada akhirnya, ia menemukan seseorang yang ia cari sejak tadi. Dengan langkah cepat, ia pun berjalan menuju orang itu dan menepuk pundaknya.
"Oi, Kaito." Kaito yang mendengar ucapan Len berbalik dan menatap Len kebinggungan.
"Apa?"
"Aku pergi berjalan-jalan dulu ya," tutur Len pelan. Kaito menaikkan sebelah alisnya, namun tetap mengangguk.
"Sepertinya kau tidak betah disini ya," ujar Kaito. Len hanya mendengus lalu mengangguk pelan sembari berjalan pergi—meninggalkan Kaito yang sedang berbicara dengan beberapa temannya.
.
.
.
Len berjalan cukup lama—sekitar sepuluh menit. Kedua iris birunya menatap lurus aspal yang kini telah sepenuhnya tertutup salju. Kemudian ia mendesah sembari mencari tempat tenang untuk sekedar singgah.
Hingga kedua manik matanya menangkap sebuah taman. Len pun beranjak melangkahkan kakinya ke taman tersebut.
Tak memerlukan waktu lama untuk sampai ke tempat tersebut. Setelah sampai, Len pun segera membersihkan bangku taman dari salju dan duduk.
Rasanya begitu tenang disini...
Sangat berbeda dengan situasi di rumah Gumi tadi.
Len mengigil. Walaupun telah mengenakan syal dan sweater, sepertinya hal itu belum cukup untuk menghangatkan diri.
Yang berbeda disini hanyalah suhunya. Suhunya terasa berbeda jauh dibandingkan suhu di rumah Gumi.
Ya.
Jauh lebih dingin.
Len terdiam sambil memperhatikan sekitarnya. Tak banyak orang yang berlalu lalang di tempat ini. Hanya ada dirinya dan seseorang yang ia tak ketahui di seberang jalan.
Tiba-tiba saja, ia mendengar suara derap kaki. Awalnya, Len tak begitu memikirkannya toh menurutnya itu hanyalah suara seseorang sekedar lewat.
Namun hal tersebut terbukti salah saat seseorang itu berhenti melangkah di depan bengku duduknya.
"Kagamine-kun." Len terlonjak mendengarnya dan mengarahkan pandangnya ke sang pembuat suara.
"K-Kamine-san?" tanyanya sembari mengerjapkan kedua matanya beberapa kali—memastikan. "Sedang apa kau disini?"
"Ehehe, aku mendengar dari Kaito kalau kau pergi berjalan-jalan keluar sejenak. Jadi aku ikut menyusul saja, berhubung sekarang tidak ada yang dapat kulakukan sekarang." Rin menggaruk bagian belakang lehernya dengan canggung.
Len hanya mengangguk pelan sebelum menyadari sesuatu yang ganjil. Ia pun menaikkan sebelah alisnya dan bertanya.
"Apa itu?" tanyanya sambil menunjuk dua gelas mug yang dibawa Rin. Rin hanya tersenyum kecil lalu menjawab.
"Cokelat panas! Karena Kaito bilang kau ada di luar, maka aku membawanya sekalian untukmu," jawab Rin ceria.
"Cobalah," lanjutnya sambil memberikan segelas cokelat panas pada Len. Len hanya mengangguk lalu menerimanya. Rin tersenyum lalu melihat sebuah tempat kosong di sebelah Len.
"Apa aku boleh duduk di sebelahmu, Kagamine-kun?" tanya Rin. Len pun megedipkan kedua matanya beberapa kali sebelum mengangguk pelan.
"Arigatou, Kagamine-kun!" ucap Rin ceria lalu duduk di tempat tersebut.
Salju terus saja berjatuhan dari langit—membuat pemandangan yang dilihat mereka hampir sepenuhnya putih. Rin mengangkat mug di genggaman tangannya lalu meneguk cokelat panasnya secara perlahan.
Len sendiri juga melakukan hal yang sama dengan Rin—namun ia meneguk coklat miliknya hingga habis. Entahlah, sepertinya ia tidak begitu tahan dengan suhu dingin.
Rin hanya terdiam bersama Len yang tampak tak mengucapkan apapun.
Hening dan tenang.
Hanya terdapat salju yang hampir tak menimbulkan bunyi apapun. Bersama dengan suara derap langkah yang tertelan oleh salju.
"Hah..." Rin menghela nafas. Len tampak menatap Rin kebinggungan sejenak, sebelum menggigit bagian bawah bibirnya.
"Uumm... Kamine-san?" Rin menoleh ke arah Len yang kini sedang menoleh ke arah lain dengan rona merah di kedua pipinya.
"Apa?" tanya Rin sambil memiringkan kepalanya sedikit—kebinggungan. Len menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Entah mengapa, dirinya merasa hal tersebut cukup sulit diekspresikan.
Yah, mengetahui bahwa dirinya berbeda daripada teman-temannya yang dapat asal ceplas ceplos.
"Um... mengenai kemarin..."
"Kemarin?" Rin menaikkan sebelah alisnya.
"Mengenai kemarin... ettou... a-aku.."
"Hm?"
"A-Ari-Ari..."
"Um?"
"A-Arigatou," ucap Len sambil mengalihkan pandangannya. Rin terdiam—tampak kurang mengerti.
"Untuk apa?" tanyanya sambil menatap Len kebinggungan. "Toh aku juga mengijikan kalian bermain di rumahku."
Len menggigit bagian bawah bibirnya dan menggerutu dalam hati. Uh, apakah ia harus menjelaskan semuanya dengan jelas?
"U-Untuk pakaian itu.." Rin menautkan kedua alisnya—berpikir sejenak—sebelum mengerti sepenuhnya arti ucapan lelaki di sebelahnya.
"Oh... itu... Daijoubu ne, toh aku yang menawarkannya. Jadi tidak usah diambil pusing!" seru Rin ceria. Len kembali mengangguk kecil tanpa mengatakan apapun dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan.
Rin sendiri juga kembali menatap salju-salju yang berjatuhan. Entah mengapa, kedua iris biru safirnya tampak sedikit sedih saat melihatnya—seperti sebuah memori buruk terngiang di pikirannya.
Len menghela nafas, kemudian memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut. Bagaimanapun juga, sepertinya ia—atau lebih tepatnya mereka—sudah terlalu lama berada di tempat tersebut.
"Eh? Ada apa, Kagamine-kun?" tanya Rin ketika mendapati Len berdiri.
"Aku mau kembali ke mansion sekarang," tuturnya. Rin langsung tampak terkejut dan cepat-cepat berdiri.
"Eh! Tunggu! Aku ikut!" jeritnya lalu mulai berlari sambil membawa mug-nya yang sudah habis. Namun apa daya ia tersandung—menyebabkan mug yang ia pegang terjatuh dan mendarat mulus di atas tumpukan salju.
Rin memosisikan dirinya untuk duduk di atas lapisan salju tebal lalu menyingkirkan salju yang kini berada di bagian kepalanya dengan panik dan terburu-buru.
Bagaimanapun juga, gadis berambut honeyblonde tersebut tak ingin ditinggal sendiri.
Len mendesah lalu berbalik menuju Rin yang sibuk membersihkan salju dari tubuh mungilnya.
Ia mengulurkan tangannya—membuat Rin menatapnya binggung. Len mengalihkan wajahnya—tampak malu dengan aksinya sendiri. Namun mau bagaimana lagi? Toh hanya dirinya yang berada di sekitar sini sekarang.
"Cepatlah. Kau mau aku tinggal hah?" tanyanya dingin.
Kedua manik mata Rin berbinar mendengarnya dan ia pun menerima uluran tangan Len sambil tersenyum lebar.
"Ha'i!"
.
.
.
End of Day 2
Day 3: Ice Skating and Watching Fireworks!
.
Bwehehe, saya update hari ini juga chap ini... Huwe, kali ini pendek banget -_- Ini balasan reviewnya...
-martinachristy54
Bwahaha, soalnya saya ga suka kencan mulu. Ga enak gimana gtu :v #disetrika
Arigatou Martina-san sudah me-review~!
-aquathyst
Mayu warna rambutnya abu-abu ujungnya pelangi (soalnya saya pernah gambar dan harus pakai silver dan gold serta warna pelangi di ujungnya #disepak)
Entah ya, kalau sistem di sekolah saya remidinya dikasih proyek. Entah itu disuru nulis essai atau apa gitu ._. jadi karena kebetulan Rin sama Kaito yang remidi mata pelajaran yang sama, mereka harus nulis essai
Dan kalau di sekolah saya semua yang remidi mata pelajaran yg sama berada di kelas yang sama untuk mengadakan remidinya sama-sama (walaupun tingkatan/kelasnya berbeda)... terkadang guru juga langsung mengecek setelah murid selesai, makanya Rin tahu Kaito dapat sepuluh dan Kaito tahu Rin dapat dua puluh... Ehehe, maaf kalau kurang jelasss...
Terus kalau Kaito ke rumah Rin itu kan buat nganter doang yang pertama, jadi dia ga masuk. Kalau yang kedua dia masuk tapi Rin kan sudah tahu dia mau datang, jadi pasti rumahnya sudah diberesin (inget Kaa-san kalau kedatangan tamu #slap).
Kayaknya pikiran saya justru lain sendiri ya TwT ... Sekali lagi maaf kalau tidak kesampaian dan kurang jelas... mengenai 'binggung' itu... saya juga kurang ngerti? *nak* | Iya, semuanya harus main. Makanya Rin juga langsung diseret sama Miku #slap | Arigatou ne sudah menyempatkan untuk mereview! Terima kasih sudah mengingatkan kesalahan saya di atas... maaf sekali lagi... dan terima kasih banyak!
-Kurotori Rei
Wkwk, iya... MiKai berantem mulu :v Arigatou ne Rei sudah me-review!
-Furika Himayuki
Arigatou ne :''3 #terharu
Ahaha, masalahnya cerita satu itu masih saya perlu edit banyak :v jadi kayaknya bakalan agak lama lanjutnya... walaupun ide semua dah nyantol di otak #nak
Arigatou gozaimasu sudah me-review!
-BananaxOrenji
Saamaaaaa! Rinto? Kayaknya ada. Tapi rada lama (mungkin) #bwehehehe #disikat
Arigatou gozaimasu sudah me-review!
-Kagawita Hitachi
Belum... ini baru ch 1 soalnya X3
Mungkin mulai Day 5 ke atas baru mulai ngerasani. Skrg masih belum X3
Arigatou ne sudah me-review!
-MargaretzChan
Huwee? Padahal perasaan humornya ga kesampean (ini anak ga humoris blas #woi)..
Masalahnya ini pendek amet, chap depan yang rada panjang lagi kayak chap 1... tp kayaknya ngak sepanjang itu *nak*
Arigatou ne Margaretz-san sudah me-review!
Arigatou gozaimasu buat semua yang membaca, fave, fol, dan menyempatkan waktu untuk me-review. Maaf karena banyak kesalahannya... sekali lagi saya minta maaf...
Sekian, jaa ne!
~Kiriko Alicia
