Damn, You're Sexy, Park Chanyeol!
By Jonah Kim
Pairing : Chanbaek (Main Pair), Kaisoo, HunHan.
Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Luhan (Marganya saya ganti), dll.
Rated : M, For pornography, Smut, and Smut talk.
Don't Like, Don't Read!
.
.
Enjoy ^^
.
.
.
Langkah pertama, kenakan parfum yang paling disukai pria, misalnya- Aau De Parfum atau Ounce Bottle berbau mawar. Sesuatu yang berbau sensual akan lebih baik. Wewangian seperti itu adalah dasar utama untuk menggoda seorang pria.
Baekhyun mengangguk-angguk paham, lalu melanjutkan membaca langkah keduanya.
Langkah kedua- jika anda tertarik dengan seorang pria maka gunakanlah mata anda. Gunakan pandangan seakan anda sangat menginginkannya. Akan lebih baik jika anda mendongak dan memperlihatkan leher jenjang anda. Pria pasti akan tergoda.
Sempurna! Ini yang dibutuhkan Baekhyun, menggoda Chanyeol menggunakan leher mulusnya. Bahkan Jongin sudah sering mengatakan betapa menggodanya lehernya itu. Semoga saja, Chanyeol juga berfikiran sama.
Baekhyun tersenyum-senyum sendiri membayangkannya. Ia menutup bukunya, lalu memasukkannya kedalam tas ransel. Bersiap akan pulang ke rumah karena hari sudah hampir sore, meskipun cuaca masih cukup hangat dan juga panas. Baekhyun melirik ke arah Jongin yang nampak menguap dan terlihat ogah-ogahan. Dasar pemalas!
"Heh, Jongin, kau naik apa hari ini?"
Jongin menoleh, membenarkan rambutnya lalu menatap Baekhyun tidak semangat. Sepertinya, energinya terkuras habis setelah ia bermain basket tadi.
"Sepeda. Kenapa, kau mau membonceng?"
"Oh, tidak, terima kasih. Aku tidak mau kulit mulusku menjadi seperti kulitmu yang agak-agak kecoklatan itu. Aku akan pulang naik kereta bawah tanah saja." Baekhyun tersenyum mengejek, Jongin melihatnya dengan muka tak perduli.
"Terserah," katanya ketus.
"Heh, Jongin! Aku kan hanya bercanda. Kenapa kau marah?" Baekhyun mendengus lalu merangkul bahu Jongin. Jongin yang memang sedikit capek, tidak perduli ketika Baekhyun terus menempelinya seperti anak kanguru.
"Baek, benar kau tidak mau naik mobilku?" tanya Sehun lagi. Berkali-kali, ia menawari Baekhyun tapi, berkali-kali pula, baekhyun menolaknya. Baekhyun tersenyum, lagi-lagi bertindak seperti orang gila.
"Aku sedang ingin naik kereta. Kalian ini cerewet sekali, sih?" Sungutnya kesal, lalu tersenyum-senyum lagi. Jongin melongo, Baekhyun memang sulit ditebak.
"Baiklah. Hati-hati, jangan tidur di bahu orang asing, jangan membaca komik hentai lalu tertawa-tawa sendiri. Kau bisa dikira orang gila nanti," kata Luhan mengingatkan. Baekhyun memukul lengan Luhan.
"Hey, aku sudah tidak seperti itu lagi, Luhan!"
"Baguslah. Rupanya, kau sudah berubah sekarang."
"Jangan-jangan, Baekhyun tidak mau pulang karena mau membeli kaset porno." Baekhyun mendelik, bagaimana Sehun yang cengeng ini bisa berfikiran sesempit itu. Tentu saja tidak!
"Atau majalah pria dewasa," ujar Jongin, semangatnya kembali naik. Ia selalu suka menggoda Baekhyun. Baginya, wajah Baekhyun yang memerah, sok-sok polos seperti ini, membuatnya terlihat lucu.
"Atau komik hentai!"
Luhan dan yang lainnya tertawa terpingkal-pingkal. Baekhyun tertawa sinis, lalu meninggalkan teman-temannya yang masih ajeg menertawai dirinya. Terserahlah, fikir Baekhyun tidak perduli.
"Baek, mau kemana?" tanya Luhan setengah berteriak.
"Membeli kaset porno!"
Dan kembali tawa itu meledak begitu saja. Bahkan mereka sekarang berguling-guling di jalanan, persis seperti orang terkena anyan, dasar gila! Memang apa yang lucu.
.
.
.
"Permisi nonna, bisakah kau geser sedikit?"
Baekhyun menoleh, sedikit ragu ketika pria ini bertanya padanya. Memastikan, apakah pria ini yang memanggilnya dengan sebutan nonna? Dia katarak atau apa. Tidak lihat jika Baekhyun menggunakan celana di seragamnya, memiliki jangkun, dan berambut pendek! Baekhyun mendengus, bergeser sedikit, sebelum berkata sewot kepada pria tua itu.
"Aku laki-laki, ahjusshi,"
"Ah, maaf."
Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Baekhyun. Membuat Baekhyun sedikit risih. Apalagi, ketika pria tua itu menggenggam erat mantel miliknya.
"Ahjusshi, bisakah kau lepaskan tanganmu?"
Pria itu tersenyum, lalu melepaskan genggamannya. Baekhyun bernafas lega. Namun, tak berapa lama, ia kembali harus menahan nafasnya, ketika pria itu dengan beraninya, menyusup dari celah-celah mantelnya, mengelus pinggang rampingnya dan berniat melecehkannya.
"Ahjusshi!"
Baekhyun bergetar hebat, pria yang bahkan seumur ayahnya itu tanpa segan, kembali memeluknya dari depan. Baekhyun ingin berteriak tapi, dia malu. Baekhyun hanya bisa bergeser dan pria itu terus mendekati Baekhyun.
Baekhyun menabrak seorang pria saat ia mundur kebelakang.
"Ahjusshi, berhenti melakukan ini atau aku akan melaporkanmu!" Seorang pria menyelamatkan Baekhyun. Baekhyun terlalu takut untuk mendongak, tetapi ketika pria itu membimbingnya untuk pergi; berdesak-desakkan dengan penumpang yang lain, saat itulah, Baekhyun merasa aman. Tangan itu terlalu besar dan hangat, Baekhyun menatap pria yang telah menolongnya itu, berniat untuk sekedar mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Chanyeol?"
"Sunbae, kau tidak apa-apa?" Chanyeol berkata lembut, membuat seluruh peredaran darah Baekhyun seakan berhenti di satu titik, yaitu bagian jantungnya. Ia mengangguk pelan, terlalu bingung dan juga terkejut.
"Hei, minggir sedikit, nonna!"
Suara gertakan membuyarkan lamunan Baekhyun. Orang-orang ini mendorong-dorong tubuhnya hingga Baekhyun hampir limbung ke arah Chanyeol. Chanyeol dengan baik hati menangkap tubuh mungil Baekhyun. Memeluknya agar Baekhyun tak lagi terdorong. Ada perasaan hangat menyelimuti keduanya. Chanyeol tersenyum dan menuntun kepala Baekhyun untuk tetap berada dalam dekapannya.
Baekhyun menunduk, sebenarnya, ia malu.
"Jangan khawatir, aku akan merahasiakannya. Kau tidak perlu merasa malu." Chanyeol mengusap keringat yang mengalir di kening Baekhyun. Baekhyun tersenyum canggung lalu kembali memeluk Chanyeol saat wanita di belakangnya mencoba mendorongnya lagi.
"Kau lepaskan saja mantelmu itu. Disini gerah, pasti rasanya panas sekali," ujar Chanyeol sopan, melirik ke arah ahjusshi mesum tadi. Kelihatannya, pria tua yang tadi hampir berbuat mesum itu sudah kabur ke dalam gerbong ujung, takut dengan ancaman Chanyeol.
"Chanyeol, terima kasih sudah menolongku tadi."
Chanyeol tersenyum. Mengelus surai rambut Baekhyun dan untuk sesaat, tangannya berhenti saat melihat senyuman Baekhyun. Dadanya berdesir hangat. Meskipun, setelah itu, Chanyeol berusaha mengacuhkannya.
"Kau akan turun, kan?" Chanyeol mengernyit heran, Baekhyun tidak turun meskipun mereka telah tiba di daerah Pyongsang. Bukankah rumah Baekhyun berdekatan dengan rumahnya? Tapi, mengapa pria cantik itu tampak gugup?
"Eh, iya, aku akan turun," jawab Baekhyun sekenanya. Ia tidak bisa memikirkan akan kemana sekarang. Mengatakan ia pindah rumah? Oh, itu konyol. Mengatakan bahwa ia membohongi Chanyeol kemarin? Itu lebih buruk lagi.
"Aku akan pulang mengambil bajuku. Malam ini, aku mau menginap di rumah Kyungsoo. Kau mau ikut?"
Baekhyun merutuk, Kyungsoo lagi, Kyungsoo lagi. Baekhyun menggeleng, ia sedikit pusing sekarang. Mungkin demam, karena Baekhyun merasa tubuhnya sedikit kepanasan.
"Baekhyun, kau kenapa?"
Chanyeol melihat tubuh Baekhyun yang seperti akan limbung. Dengan gugup, Chanyeol meraih tangan Baekhyun yang jauh lebih kecil dibanding tangannya. Dan ketika jemarinya menyentuh kulit telapak tangan Baekhyun, Chanyeol terkejut. Dingin.
"Astaga, Baekhyun, kau yakin baik-baik saja?"
Dengan panik, Chanyeol langsung memeriksa kening pemuda cantik itu. Panas sekali, bahkan panasnya melebihi teko yang baru mendidih. Chanyeol menggendong tubuh Baekhyun sembarangan, tidak perduli dengan tatapan orang-orang, yang jelas, Chanyeol panik sekarang. Ada ketakutan aneh yang membuncah didadanya.
BRAK!
Chanyeol menutup pintu apartementnya dengan kaki kirinya, sedangkan Baekhyun terus menggumam, Chanyeol segera membaringkan tubuh mungil itu ke ranjangnya. Menelpon dokter secepat yang ia bisa.
"Baekhyun, kau ingin aku menghubungi orang tuamu?"
Baekhyun menggeleng, ayahnya sedang di Kanada dan Baekhyun tidak ingin merepotkan ibu tirinya. Chanyeol mengangguk mengerti. Selagi menunggu dokter datang, Chanyeol pergi ke dapur, membawa baskom berisi air dingin lalu mengompres kain itu ke kening Baekhyun.
"Terima kasih, Chanyeol,"
"Hah, kau ini, jika sakit kenapa kau naik kereta?"
Baekhyun cemberut. Ia tadi ingin menikmati bagaimana asyiknya naik kereta, tapi justru tadi hampir dilecehkan dan sekarang ia demam. Sungguh hari yang sial baginya.
Tak berapa lama, pintu apartement Chanyeol berbunyi, tanda bahwa ada yang bertamu. Mungkin itu dokter, batin Chanyeol sedikit lega.
"Dokter Choi, terima kasih sudah datang. Ikut aku, dia sedang menunggu didalam," katanya, sedikit panik. Dokter yang dipanggil Choi itu tersenyum lalu dengan sigap, segera memeriksa keadaan Baekhyun. Ia juga menulis resep untuk Baekhyun setelah memastikan bahwa tidak ada yang patut dikhawatirkan, hanya demam biasa.
"Baiklah, Baekhyun. Aku akan membeli obat-obatan ini. Kau istirahat saja. Mari dokter Choi."
Chanyeol mematikan lampu kamarnya. Meninggalkan Baekhyun yang tersenyum-senyum sendirian untuk membeli obat. Melihat betapa paniknya Chanyeol tadi, mampu membuat Baekhyun sejenak melupakan rasa sakitnya. Rasanya begitu aneh, dia senang tanpa alasan yang jelas.
"Kau tidak mau meminum obatmu?" tanya Chanyeol sedikit kesal. Baekhyun menggeleng. Setelah tidur beberapa menit tadi dan ternyata, hari sudah malam, Chanyeol membangunkan Baekhyun hanya untuk meminum obat. Baekhyun tidak suka minum obat.
"Itu pahit. Aku tidak mau. Panas sekali. Nyalakan pendingin ruanganmu, Chanyeol!"
"Hey, kau sedang demam, mana boleh menyalakan pendingin! Kau ingin sembuh tidak, sih?"
"Kau itu tidak berguna!"
"Lalu aku harus bagaimana? Kau bahkan tidak mau minum obat." Baekhyun menggeliat di atas ranjangnya. Rasa panas benar-benar menyiksanya.
"Ya, Tuhan, bajumu basah semua. Ganti bajumu, Baek!" Baekhyun tidak bergeming, ia terus menggumamkan nama ibunya, berharap dengan begitu, rasa panas dan pusing yang dialaminya segera hilang. Bahkan, Baekhyun lupa dengan keberadaan Chanyeol sekarang. Yang ia inginkan, hanyalah ibunya.
"Aish! Baiklah, aku tidak punya pilihan lain."
Baekhyun menatap Chanyeol sedikit terkejut. Tanpa sungkan, pria tampan itu mulai melepas satu demi satu pengait baju seragamnya, dari yang teratas, membuat Baekhyun menelan ludah gugup.
"Chan... Chanyeol?"
"Jika kau tidak mengganti bajumu, kau bisa semakin demam. Lihat, bajumu basah semua," jawabnya membela diri. Baekhyun mengangguk dengan wajah memerah. Ia tidak mampu berbuat apapun. Pikirannya kosong, sosok Chanyeol yang berada di atasnya dan membuka bajunya, membuat tubuh Baekhyun menggigil, entah karena hawa panas di tubuhnya atau karena Chanyeol.
"Astaga!" Pekikan Chanyeol mau tak mau membuat baekhyun sedikit tersentak. Chanyeol menelan ludah susah payah. Tubuh Baekhyun tidak seperti miliknya yang sedikit berotot. Ia ramping, putih dan juga mulus. Perutnya rata, bahkan cenderung ramping seperti kebanyakan gadis pada umumnya.
"Chanyeol, kenapa berhenti?"
Chanyeol menggeleng dengan mata terpejam. Ia sempat merutuk, kenapa memikirkan banyak hal padahal mereka sama-sama laki-laki.
"Ganti celanamu sendiri! Aku mau mandi."
Baekhyun hanya bisa menatap Chanyeol tidak mengerti. Mengapa pria itu marah-marah tanpa alasan yang jelas? Menyebalkan!
.
.
.
"Maaf, Kyungsoo, aku tidak bisa menginap. Ibuku datang ke apartement dan memasakkanku ikan sup kesukaanku. Aku tidak bisa melewatkannya. Maafkan aku, ya?"
Chanyeol tertawa saat mendengar omelan Kyungsoo di ponselnya. Sesekali, ia menggoda Kyungsoo yang kemudian akan terdiam beberapa saat. Pasti Kyungsoo akan memaafkannya.
"Baiklah, sampai jumpa, baby."
Setelah menutup ponselnya, Chanyeol menatap Baekhyun yang sudah tertidur. Bermaksud untuk meredakan rasa panasnya, Chanyeol menaiki ranjang dan memeluk tubuh mungil Baekhyun. Rasanya memang panas, tapi agar baekhyun sembuh, Chanyeol tidak masalah tidur dalam keadaan panas seperti ini.
Pagi datang begitu cepat. Baekhyun adalah orang pertama yang terbangun saat merasakan sesuatu yang janggal di tubuhnya. Ia mengerang, merasakan gerah dan juga panas yang mendera tubuhnya. Ia juga mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya namun karena gerah yang sudah sangat mengganggunya, maka Baekhyun berniat untuk bangun. Ia membuka matanya dan melotot melihat dua tangan mendekap dadanya.
"Kyaa..."
Chanyeol berjengit dan terbangun dari tidur nyenyaknya. Belum sempat mengumpulkan kesadarannya, ia dikejutkan oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Baekhyun. Chanyeol kesal dengan jeritan yang lebih cocok disebut lengkingan tersebut. Sungguh membuat telinganya sakit.
"Lepaskan aku! Panas tahu!" Protes Baekhyun, berteriak.
"Seharusnya, kau berterima kasih padaku. Bukannya malah berteriak kesetanan begini. Aku yang merawatmu kemarin. Seharian penuh aku bahkan tidak memikirkan diriku sendiri karenamu, Byun Baekhyun."
"Banyak menuntut! Heh, Dobbi, cepat turun dari sini!" Perintah Baekhyun sambil memelototkan matanya, sebisa mungkin terlihat galak. Tapi anehnya, Chanyeol justru tertawa melihat wajah Baekhyun yang menurutnya lucu itu.
Baekhyun mengernyit, ia tidak sedang berusaha melucu sekarang ini.
"Apa yang kau tertawakan? Cepat turun dari sini!"
"Iya, iya, cerewet!"
"Apa? Kau mengataiku apa?"
"Tidak ada." Elak Chanyeol sambil cengar-cengir. Baekhyun menendang pantat Chanyeol ketika pria itu berbalik. Membuat pria yang ditendang, terjungkal dan terjatuh ke lantai. Baekhyun tertawa; merasa lucu dengan kepala Chanyeol yang terjungkal dan pantatnya berada di depan mata Baekhyun.
"Apa sih maumu?" tanya Chanyeol ketus sambil berdiri menghadap Baekhyun. Baekhyun tersenyum, berusaha menggeser pantatnya agar lebih mendekat ke arah Chanyeol. Dan, ketika itu, deru nafas Baekhyun tepat mengenai junior Chanyeol. Chanyeol melotot. Segera menjauh dari jangkauan Baekhyun, sejauh-jauhnya.
"Kau tanya apa mauku?" Baekhyun berdiri, menghampiri Chanyeol yang nampak tegang luar biasa. Tidak berkedip karena matanya sibuk mengawasi tangan Baekhyun yang menjalar ke mana-mana.
"Aku mau juniormu, Park Chanyeol," katanya sambil menjilati leher Chanyeol. Menjilat, kecup, hisap; membuat sesuatu di antara selangkangan Chanyeol tiba-tiba menegang. Sulit dipercaya memang, tapi itulah yang terjadi.
"Chanyeol."
DEG!
"Baekhyun- Kau serius?" tanya Chanyeol tergagap. Seluruh persendiannya seakan lemas bahkan sebelum Baekhyun belum menyentuh apapun di tubuhnya.
"Tentu saja. Sudikah kau menyetubuhiku dan menggagahiku seharian ini? Ini hari libur, Yeol. Kesempatan untuk kita bisa bercinta."
SHIT!
Baekhyun. Dia- terlalu menggoda.
'Aku normal. Aku normal. Aku suka wanita. Meski bukan yang berdada besar, aku cukup puas dengan wanita yang memiliki payudara yang kecil. Ya, cukup puas.'
Meski- Chanyeol ragu saat mengatakan mantra itu dalam hatinya. Tangan Baekhyun yang menyentuh dadanya, membuat seluruh logikanya hanyut terbawa air. Hingga hanya bayangan-bayangan Baekhyun yang tengah mendesah-desahlah yang ada di benaknya.
Tidak.
Ini tidak mungkin. Kemana otak polosnya yang tiba-tiba menghilang itu? Kenapa wajah Baekhyun yang sedang menggigit bibirnya terlihat begitu sensual di mata Chanyeol? Kenapa?
"Chanyeol- kau tidak mau, ya? Sayang sekali. Padahal, aku ingin menikmati juniormu ini." Baekhyun kembali memegang junior Chanyeol. Sama seperti kemarin; bedanya, Chanyeol sekarang tampak mulai terbiasa. Matanya terpejam, menikmati layanan yang diberikan oleh Baekhyun.
"Baek- Ahh... Baek."
Baekhyun menyeringai. Tangannya makin cekatan mengurut junior Chanyeol. Chanyeol mendesah dengan suara bassnya. Merasa kesulitan, Baekhyun melepas celana piyama Chanyeol beserta celana dalamnya.
DEG!
Sekarang, Baekhyun bisa melihat dengan jelas- bagaimana bentuk dan rupa junior Chanyeol yang sekarang menegak itu. Besar dan juga panjang. Baekhyun yakin benda ini pasti bisa memuaskan hasratnya. Baekhyun tersenyum dalam hati.
"Baekhyun- jangan melihatku seperti seorang maniak begitu," katanya pelan, lebih terdengar seperti suara memohon. Menutupi juniornya dengan wajah yang memerah karena malu.
Baekhyun terkekeh. Menyingkirkan jemari Chanyeol dan kemudian kembali mengocoknya, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Chanyeol memekik. Ini terlalu nikmat. Lebih nikmat dari kemarin saat Baekhyun melakukannya di dalam mobil.
"Ahh- Baekhyun. Ahh... Ini nikmat sekali. Ah, lagi- lagi, Baek. Kumohon, jangan berhenti." Baekhyun tersenyum, semakin termotivasi untuk melayani Chanyeol sebaik mungkin, ia berjongkok; berencana untuk mengulum junior Chanyeol.
"Baekhyun- apakah kau tidak jijik? Ahh-" tanya Chanyeol sambil memandangi Baekhyun dibawahnya. Baekhyun tertawa sambil berusaha mengulum junior Chanyeol. Sedikit kesusahan karena junior Chanyeol yang cukup besar dan juga panjang. Baekhyun meregangkan mulutnya lebar. Hampir saja ia tersedak saat Chanyeol makin melesakkan ke tenggorokannya. Baekhyun tertawa; Chanyeol mulai menikmati permainannya.
"Baekhyun, kau hebat-"
Baekhyun mengangkat kepalanya, lidahnya menjilati seluruh bagian vital itu dan perlahan merendahkan kepalanya untuk menuruni ujung junior Chanyeol. Junior itu melesak hingga ke tenggorokannya. Mempercepat gerakan kepalanya saat Chanyeol mengerang dan mendesah menikmati perlakuan Baekhyun yang tidak berhenti meski hidungnya menyentuh dasar junior Chanyeol.
"Ah- Ya, Tuhan! Ini nikmat sekali."
Chanyeol menarik rambut Baekhyun, menekan dan semakin menekan. Pemuda bermarga Park itu tersengal, tak percaya Baekhyun mampu melakukan itu. Menelan seluruhnya ke dalam mulutnya. Keadaan ini membuat birahi Chanyeol makin meninggi, ia menggeram, masih menarik rambut Baekhyun dan mengumpat dalam hati karena kenikmatan yang tiba-tiba menyerangnya ini. Dan untuk pertama kalinya.
"Baekhyun. Aku- Ahh."
Chanyeol mengatur nafasnya. Kepalanya tertarik ke belakang dan semakin menekan Baekhyun untuk masuk sedalam yang ia bisa. Lututnya melemas, tapi Baekhyun menyokongnya agar tidak terjatuh. Seluruh aliran darahnya seakan berhenti. Ada sesuatu yang akan meledak; seperti sesuatu yang akan keluar. Chanyeol memekik; memberitahu bahwa ia akan orgasme.
CROT!
CROT!
"Hah- Hah- Baek."
"Bagaimana, nikmat, kan?" Dengan wajah senangnya, Baekhyun meneguk dengan suara yang keras, seakan memperlihatkan bahwa ia menikmati cairan putih pekat milik Chanyeol, tanpa rasa jijik sedikitpun. Chanyeol tersentuh, merasa ia begitu dihargai oleh Baekhyun.
"Sekarang, giliranmu memuaskanku, Park Chanyeol."
Baekhyun berdiri. Perlahan, mulai membuka satu persatu kancing piyama milik Chanyeol. Memperlihatkan bagaimana mulus dan putihnya bahu serta seluruh tubuhnya. Chanyeol memalingkan wajahnya; baginya ini jauh lebih mendebarkan dibanding kemarin saat ia membuka baju Baekhyun.
"Tatap aku!"
Baekhyun memerintah. Seakan seperti seruan mutlak, Chanyeol kembali menatap Baekhyun. Ia bahkan tidak berkedip saat ini. Menatap tubuh Baekhyun yang memang sempurna untuk ukuran seorang gadis. Pinggang yang ramping dan pantat yang naik- mengundang pria manapun untuk meremas pantat itu.
Eh?
Meremas? Apakah Baekhyun mengijinkan Chanyeol untuk melakukan itu? Entah mengapa, Chanyeol ingin sekali meremas pantat montok Baekhyun. Jantungnya bahkan berdebar saat memikirkannya.
DEG!
Baekhyun menurunkan celananya. Chanyeol menelan ludah gugup. Lalu, celana dalamnya; atau lebih tepatnya celana dalam milik Chanyeol. Dan Chanyeol hampir mimisan karena untuk pertama kalinya, ia melihat junior milik pria lain.
"Baek-" Chanyeol tidak tahu harus berkata apa; atau tidak sama sekali. Ini benar-benar meruntuhkan keyakinannya bahwa semua yang indah adalah tubuh seorang wanita. Karena saat ini, yang dilihatnya adalah area selangkangan Baekhyun yang terekspos dengan jelas. Pahanya tidak berbulu. Putih dan cenderung mulus untuk ukuran pria normal. Chanyeol bingung harus memulai bagaimana.
"Aku- bingung," akunya terang-terangan. Baekhyun tersenyum, mendekatinya.
"Apanya, Yeol?"
"Hm- harus memulai dari mana? Bukankah kau tidak seperti wanita yang memiliki- lubang?" Chanyeol menggaruk tengkuknya, tampak sekali ia canggung berhadapan dengan Baekhyun. Tapi, justru itulah pesona dari seorang Park Chanyeol yang bahkan tidak dimiliki dari pria manapun yang pernah ditemui Baekhyun. Baekhyun tersenyum, menuntun tangan Chanyeol untuk menyentuh lubangnya. Berkedut, meminta untuk diisi.
"Disini, Yeol. Kau sudah mengerti?" tanyanya lembut
"Hm- baiklah. Kau yakin mau melakukannya denganku?" tanya Chanyeol sekali lagi. Ia tidak mau dituding melakukan pelecehan seksual seperti ahjusshi mesum di kereta kemarin, atau dituding melakukan pemerkosaan. Tentu saja karena Chanyeol adalah anak baik-baik.
Baekhyun tertawa lagi.
"Tentu. Kau tidak perlu mencemaskan apapun. Kau juga tidak perlu bertanggung jawab ataupun merasa terbebani denganku."
"Tidak. Jika aku sudah melakukannya denganmu, maka aku akan bertanggung jawab," katanya mantap.
Baekhyun tersentak; terkejut dengan pernyataan Chanyeol barusan. Benarkah yang dikatakan oleh Chanyeol? Kenapa hatinya tiba-tiba menghangat saat mendengarnya? Bukankah, Baekhyun hanya terobsesi saja? Atau-
"Sudahlah, Chanyeol. Jangan memikirkan hal itu. Jadi, bisa kita mulai? Aku sudah benar-benar tegang sekarang."
Chanyeol mengangguk, meski masih merasa ragu. Ia menuntun Baekhyun ke ranjangnya karena bingung harus melakukan apa.
Baekhyun kemudian berbaring, memposisikan kakinya sendiri untuk mengangkang selebar mungkin, menampakkan lubang baekhyun yang berwarna kemerahan. Berkedut dan terus berkedut. Chanyeol gugup, tangannya gemetar dan wajahnya memerah. Menatap Baekhyun seakan meminta petunjuk.
"Lakukan apa saja!" katanya kesal. Chanyeol cemberut. Merasa gagal menjadi seorang partner bagi Baekhyun. Dan karena tak mau mengecewakan Baekhyun yang sudah membuatnya orgasme, Chanyeol kemudian menindih tubuh mungil Baekhyun.
Menunduk dan mencium leher jenjang itu. Mencium, mengecap, menjilat dan menghisapnya kuat-kuat, tidak menggigit karena ia tidak suka meninggalkan tanda. Tentu saja karena ia tidak mau oranglain melihat tanda di leher Baekhyun.
"Ahhh. Chanyeol!"
Baekhyun memejamkan matanya saat lidah pria tampan itu melesak masuk ke dalam cuping telinganya. Sesekali menjilat dan menggigit dengan lihai. Mencoba sebaik mungkin melakukannya.
Chanyeol menuju dagu Baekhyun, menjilat dan terus menjilat. Entah mengapa ia suka sekali menjilat, membuat Baekhyun tidak merasa risih, namun hanya merasa geli. Bibir itu terus menjelajahi area wajah cantiknya. Mencium pipinya dan kembali menjilat. Kali ini dia menyesap dengan penuh nafsu. Membuat Baekhyun melenguh.
"Cium aku, Yeol!"
Chanyeol mencium bibir Baekhyun. Mencium dengan lembut dan tidak tergesa. Mau tak mau membuat Baekhyun terhanyut dalam ciuman lembut seorang Park Chanyeol. Menyesapnya dengan pelan dan panjang, menikmati setiap senti bibir Baekhyun yang entah mengapa rasanya begitu manis dan juga memabukkan.
Mereka saling bercumbu dengan penuh gairah. Baekhyun tak menyadari tangan Chanyeol yang menggesek-gesek junior tegangnya. Pria cantik itu terlalu sibuk dengan bibir tebal Chanyeol. Menyedot bibir itu hingga kepalanya terangkat ke atas. Chanyeol membalasnya dengan lembut namun bernafsu.
"Ngghhh... Hm-"
Baekhyun memajukan pinggulnya ke atas, berharap juniornya menyentuh junior Chanyeol yang menimbulkan gesekan yang membangkitkan gairah.
Perlahan, ciuman itu berubah ganas dan cenderung menuntut. Chanyeol menekan tengkuk Baekhyun agar tubuh mereka saling rapat dan lebih intim. Baekhyun membalasnya dengan liar. Mencumbu Chanyeol seakan bibir Chanyeol adalah permen. Menyedotnya habis-habisan.
"Ngghh-"
Lidah Chanyeol merangsak masuk ke dalam mulut Baekhyun dan kemudian melilitnya dengan cepat, menimbulkan bunyi ciuman yang khas. Lelehan air liur terlihat di dagu Baekhyun, mengalir melalui lehernya. Chanyeol terus menggerakkan lidahnya membelit lidah Baekhyun. Merasa bahwa ini adalah candu untuknya, Chanyeol tak ingin berhenti walau sejenak, meskipun cuma mengambil udara, Chanyeol bahkan tak rela melepas pagutannya.
SRET!
Kedua lengan Baekhyun melingkar di leher Chanyeol, Baekhyun juga membalik tubuhnya menjadi diatas tapi, Chanyeol tidak mengijinkan itu terjadi. Ia membalik Baekhyun dan menindihnya lagi.
Chanyeol menggesekkan selangkangannya pada tonjolan di depan tubuh sang lawan main yang sudah ereksi dan berdiri tegak. Kemudian, karena Baekhyun dan dia kesulitan bernafas, akhirnya, Chanyeol melepaskan ciumannya. Tersenyum melihat wajah Baekhyun yang memerah dengan mata yang menatapnya menggoda. Mengais udara karena merasa sesak. Tersengal tapi justru semakin seksi di mata Chanyeol.
"Masukkan Yeol-" Suara Baekhyun terdengar parau, membuat Chanyeol entah mengapa merasa suara itu bisa membangkitkan gairahnya berkali-kali lipat. Tanpa membuang waktu, Chanyeol kemudian memposisikan juniornya di lubang Baekhyun yang telah berkedut dan memerah. Baekhyun menggigit bibir bawahnya saat junior itu merangsak masuk ke dalam tubuhnya dengan cepat dan juga kasar. Ia merintih saat hentakan itu menyakiti tubuhnya, bersumber pada anusnya. Terasa perih dan juga mengganjal. Ia tidak mengira Chanyeol tidak mengerti mengenai rasa sakit.
"Argghh! Sakit- Pabbo! Bodoh sekali, kau ini! Ah-" Teriak Baekhyun, merasa kesal karena Chanyeol tidak melakukan pemanasan apapun.
"Ya, Tuhan! Maafkan aku, Baek. Aku lupa tentang- jari yang kau suruh masukkan. Ahh- Baekhyun. Ini benar-benar sempit. Rasanya menakjubkan!"
Baekhyun tidak menjawab, ia sibuk dengan rasa sakit dan rasa aneh pada lubangnya. Ia merasa lubangnya terisi begitu penuh dan terbuka dengan begitu lebar. Junior itu masuk hingga pangkal dalam, membuat Baekhyun mulai menikmati saat ujung junior itu menyentuh kelenjar kelaminnya.
"Baek- Nghh."
Chanyeol mulai bergerak. tidak bisa dikatakan pelan karena ia melakukannya dengan sangat cepat dan tidak sabaran. Mungkin karena nafsu yang sudah memuncak.
"Ohh- Chanyeol! Ahh. Ahh. Lebih cepat-"
Baekhyun mencengkram ranjang dengan kuat saat sentakan pertama mengangkat tubuhnya tinggi. Ia kembali menyentuh ranjang saat lubang anusnya terisi penuh kembali. Menahan nafasnya saat Chanyeol melakukan penitrasi berulang dengan cepat dan akurat menghujam prostatnya. Ini mengerikan. Ini nikmat sekali!
"Lakukan lebih, Ohhh- Terus... Akhhh-" Baekhyun mulai meracau. Chanyeol tak menjawab, ia masih fokus dengan gerakannya, merapat dan mengeluar masukkan juniornya. Sesak dan juga hangat.
DUK!
Ranjang kembali berderit. Chanyeol melakukannya dengan liar sekali. Hentakan demi hentakan mampu membuat tubuh mungil Baekhyun terangkat tinggi-tinggi, melesat ke ranjang kembali saat Chanyeol menarik juniornya.
DUK!
"Oh- Shit! Disitu! Ya, ya, disitu! Ohh- Chanyeol!"
"Baek- kau- Ahh."
SRET! DUK!
Ranjang kembali bergetar hebat. Chanyeol merasa seluruh tubuhnya mengejang. Rasa nikmat ini membuatnya lupa diri. Melupakan segalanya kecuali Baekhyun dan lubang sempit milik Baekhyun. Terlalu nikmat. Terlalu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
"Ahh- Baekhyun! Kau- nikmat."
PLAK!
Chanyeol tidak tahu dorongan dari mana, ia memukul pantat Baekhyun. Begitu keras, Baekhyun memekik, antara senang dan juga kesakitan. Persis seperti seorang masochist- tapi, Baekhyun tidak perduli. Beberapa kali, ia mendengar pukulan pantat, beberapa kali itu pula, Baekhyun kembali menjerit. Berbaur menjadi satu dengan kenikmatan hebat yang luar biasa melanda keduanya.
"Chanyeol- Ahhh. Ohh... Ya, ya, lagi! Disana! Terus-" Kepala Baekhyun tertarik ke belakang dan kakinya melingkari pinggang Chanyeol. Memudahkan proses penitrasi yang dilakukan oleh Chanyeol. Ia mendesah dan mencengkram kedua tangannya hingga memutih. Kenikmatan ini membuatnya bagai terbang ke langit ketujuh.
"Damn! Ohh- Ya, Tuhan, nikmat sekali, Yeol!"
Kaki Baekhyun meregang dan punggungnya terguncang ke atas karena kenikmatan yang diberikan oleh gerakan brutal Chanyeol.
"Ahhhh- Nggh- Lakukan lebih cepat. Ohh-"
"Baekhyun- Ahh. Kau sempit. Sial!" Chanyeol mengerang saat lubang Baekhyun semakin menyempit dan mempermainkan juniornya. Peluh mereka tercampur ketika tubuh keduanya bersentuhan. Bunyi gesekan kulit dan deritan ranjang semakin memanaskan situasi.
DUK!
"Ahhhh-"
SRET!
DUK!
"Ahh- Ohh-"
"Lebih dalam lagi, Park Chanyeol! Ya, ya, kau hebat. Nghh-" Baekhyun berusaha mengimbangi setiap hentakan keras yang dilakukan oleh Chanyeol. Ia menusukkan lubangnya sekeras dan sedalam yang ia bisa. Chanyeol memekik saat Baekhyun mulai bergerak mengimbanginya.
Mereka bergerak berlawanan arah. Baekhyun semakin gencar menusuk junior Chanyeol yang ada di atasnya. Sedangkan Chanyeol, ia semakin brutal melakukan persetubuhan ini. Menggerakkan pinggulnya berulang kali, terkadang memutarnya, membuat sensasi yang tidak bisa digambarkan karena lubang Baekhyun memeras juniornya kuat-kuat.
"Ahh- Kau nikmat! Se-sempit!" Chanyeol semakin dalam menusuk, membuat tubuh Baekhyun terhentak-hentak. Rupanya ia akan mengeluarkan cairan spermanya.
CROT!
CROT!
Sperma Chanyeol masuk ke dalam tubuh Baekhyun karena terlalu banyak, keluar mengaliri kedua paha pria cantik itu. Sedangkan cairan Baekhyun keluar membasahi perut mereka berdua.
"Hah- Hah-"
Nafas keduanya memburu. Tersengal-sengal dan Chanyeol limbung diatas tubuh Baekhyun. Baekhyun merasa sesak dengan tubuh Chanyeol yang menimpa tubuh kecilnya. Ia ingin menggeser tubuh Chanyeol, tetapi justru kembali menggerakkan junior Chanyeol didalam lubangnya. Baekhyun menjerit.
Chanyeol yang awalnya akan tertidur, kembali menegang. Juniornya mengeras saat Baekhyun dengan perlahan kembali menggeseknya. Meskipun pelan dan lemah, Chanyeol sudah terlanjur terangsang.
"Chanyeol- Lakukan lagi!" Baekhyun menatapnya dengan pandangan mata sayu dan memohon. Membuat Chanyeol tersenyum lembut dan mencium kening Baekhyun.
"Aku akan menungging. Kau bantu aku melakukannya tanpa melepaskan juniormu. Karena itu cukup sakit untuk memasukkannya lagi."
"Bagaimana caranya?"
"Angkat tubuhku- lalu balikkan aku hingga menungging."
"Akan kucoba," kata Chanyeol, sedikit ragu. Ia mengangkat tubuh Baekhyun. Tidak terlalu berat karena tubuh Baekhyun yang ramping dan mungil lalu memutarnya.
"Ahhh- Shit!"
Chanyeol mendesah. Juniornya serasa diputar dan diperas oleh lubang Baekhyun. Baekhyun kemudian memposisikan dirinya sendiri untuk menungging. Menusuk junior Chanyeol dengan cara memundurkan pinggulnya.
"Ahh- nikmat, Baek-"
Baekhyun tertawa.
Tanpa membuang waktu lagi, Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya. Baekhyun masih mendesah dengan suara yang parau; cenderung merintih tapi, begitu junior Chanyeol menyodok titik terdalamnya, kelenjar kelaminnya, sekali lagi- Baekhyun mulai menjerit-jerit.
"Nggh-"
Chanyeol memejamkan matanya. Posisi ini memudahkannya untuk semakin dalam menghujam lubang anus Baekhyun. Menungging adalah saat dimana ia bisa menyodok dengan akurat.
"Jangan dijepit, Baek-" Chanyeol hampir saja menjerit penuh kenikmatan saat lubang Baekhyun tiba-tiba menyempit. Rupanya Baekhyun akan mengeluarkan cairannya. Cepat sekali, mungkin karena posisi menungging adalah posisi yang dapat memanjakan titik prostatnya yang terdalam.
Tubuh Baekhyun merosot ke bawah. Otot-ototnya terasa lemas dan juga kaku. Kalau saja, tangan Chanyeol tidak menahannya pinggulnya, mungkin Baekhyun akan ambruk.
Merasa lelah dan akan keluar, Chanyeol menggerakkan tubuhnya dengan brutal. Ia seperti kesetanan, gerakannya lebih cepat dibanding saat pertama tadi. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia kembali bernafsu karena ulah Chanyeol. Kepalanya tersentak ke bawah. Guncangan ini membuat kepalanya terasa berputar-putar.
CROT!
CROT!
Chanyeol orgasme. Cairan keduanya lebih banyak daripada yang pertama. Bahkan memuncrat hingga membasahi wajahnya. Ia terbaring lemas setelah mencabut juniornya. Tanpa berkata apapun, Chanyeol sudah tertidur dengan suara dengkuran yang cukup keras. Mungkin efek dari kelelahan yang melanda tubuhnya. Baekhyun tersenyum. Menatap wajah Chanyeol yang dengan cepatnya tertidur. Menatapnya lama dan mencium bibirnya sekilas.
'Selamat tidur, Park Chanyeol.'
.
.
.
"Selamat siang, Kyungsoo."
Jongin tersenyum. Memamerkan senyum menawannya yang mampu membuat gadis-gadis di sekolahnya menjerit. Tapi sayangnya, itu tidak berlaku bagi Kyungsoo. Ia hanya tertawa sinis-melihat wajah Jongin yang menurutnya; kampungan itu, lalu berbalik melewati Jongin begitu saja.
"Eh, kau mau kemana siang-siang begini?"
"Ke tempat Chanyeol," katanya singkat. Mengunci pintu apartement dan menaruh kuncinya di saku yang ada di mantel.
Jongin mencibir.
"Kasihan sekali. Menyukai pria yang tidak peka sama sekali. Mendingan denganku yang akan menerimamu dengan tangan yang terbuka."
"Apa? Kau bicara apa?"
"Aku bilang, bagaimana jika denganku saja?"
"Lebih baik aku mencium pantatku sendiri dibanding bersama dengan spesies kelas rendah sepertimu," jawabnya angkuh, terkesan sombong. Tapi, Jongin tak perduli. Justru ini sisi lain dari Kyungsoo yang menarik baginya.
"Ya, dan aku akan dengan senang hati ikut membantumu mencium pantatmu. Aku suka keduanya. Maksudku- baik depan maupun belakang, aku suka semuanya."
Depan- belakang- apakah itu artinya; pantat dan penis! Ya, Tuhan!
"Makhluk aneh sepertimu, lebih baik- enyahlah!"
"Tunggu, Kyungsoo!"
Jongin mendorong Kyungsoo ke pintu apartement dan mencengkram kedua bahunya. Kyungsoo tersentak, kaget dengan sikap Jongin barusan. Berani-beraninya-
"Mau apa kau?"
"Menurutmu?"
Jongin semakin mendekat. Nafasnya terdengar begitu dekat di telinga Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum sinis, ciri khasnya. Jongin makin mendekat dengan tangan yang terus menggerayangi tubuhnya.
"Ku peringatkan kau jika-"
CHUP.
Jongin menempelkan bibir keduanya-hanya sekilas, tidak lebih. Jongin masih ingin bermain-main, melihat reaksi Kyungsoo. Dan reaksinya adalah-Kyungsoo yang melotot kearahnya. Ia marah dan juga kaget. Ciuman pertamanya. Kenapa harus dengan Jongin? Kenapa bukan dengan Chanyeol?
Kenapa.
Kenapa?
KE – NA - PA!
BUG!
"Arrgh-"
Jongin terjungkal ke lantai ketika Kyungsoo memukulnya dengan tiba-tiba, tanpa peringatan apapun, sehingga Jongin belum siap untuk menghalaunya. Lalu, menendang kakinya dan tanpa alasan yang jelas, juga menggigit tangannya. Jongin tersentak. Sakit tiba-tiba melanda seluruh bagian tubuhnya, terlebih tangannya yang seakan mati rasa.
"Argghh- Astaga! Dasar rabies! Lepaskan tanganku!"
Jongin menggunakan tangannya untuk mendorong dahi dan kepala Kyungsoo. Tapi, percuma, kepala Kyungsoo seperti terekat pada tangannya- menempel dengan biadabnya.
Jongin memekik. Bersumpah setelah ini, ia akan membunuh Sehun yang memberinya ide gila mencium Kyungsoo-si mulut rabies. Mereka kira, Kyungsoo akan terlena pada ciuman Jongin yang hebat. Ya, Jongin adalah pencium yang cukup hebat.
"Ya, Tuhan! Kyungsoo, demi Tuhan, hentikan ini!"
"Kau harus minta maaf padaku!"
Kyungsoo memberi jeda pada gigitannya sejenak, lalu melakukannya lagi. Jongin menjerit, tidak ada pilihan lain selain benar-benar meminta maaf. Persetan soal harga dirinya.
"Mianhae- Kyungsoo."
Kyungsoo mendongak. Melepaskan gigitannya dan tersenyum pada Jongin. Jongin beringsut mundur. Kyungsoo mengerikan! Dia bersikap seakan seperti anjing rabies yang gila. Jongin menjerit dalam hati, 'Eomma, tolong aku.'
Jongin mundur. Terus mundur. Tapi, sekarang Kyungsoo berjongkok untuk mendekatinya. Memasang wajah yang memang berbahaya. Jongin tersenyum aneh- berusaha untuk tidak terlihat gugup.
"Dengar, Kim Jongin! Kau kira kau bisa bermain-main denganku?"
Jongin reflek menggeleng.
"Jangan macam-macam, mengerti!"
Jongin mengangguk. Mencoba berdiri saat Kyungsoo mencoba mengulurkan tangannya. Tapi, sialnya- Kyungsoo menarik tangannya kembali. Jongin meringis. Pantatnya sakit saat lagi-lagi terjatuh ke lantai yang dingin.
"Kenapa melotot padaku? Cepat antarkan aku!"
"Ah. Baiklah."
"Kau pakai sepeda?" Jerit Kyungsoo tak percaya. Jongin menggaruk tengkuknya, bingung harus mengatakan apa; karena ia fikir- Jongin bisa merayu Kyungsoo dan berduaan dengannya di dalam apartementnya. Atau kalau beruntung, mungkin juga di dalam kamar Kyungsoo.
"Kalau begitu, kau tunggu disini. Lalu, aku akan memakai sepedamu." Jongin jelas menolak. Kyungsoo tidak bisa dengan mudahnya diserahi sepeda berharga milik Jongin ini. Bisa saja, Kyungsoo menjual atau melelang sepeda ini dengan penawaran khusus! Lalu tertulis di depan sepedanya- kata-kata seperti; Banting harga! Belilah sekarang selama persediaan masih ada. Atau kata-kata lainnya yang amat tidak ingin difikirkan oleh Jongin untuk sekarang ini.
"Enak saja! Kau sangka aku mau menyerahkan sepedaku untukmu." Jongin memeluk sepedanya posesif.
"Hah. Kusangka itu terlalu berlebihan untuk sepeda seperti itu!" Kyungsoo menunjuk sepeda itu tidak berminat. Jongin melirik sinis. Lalu, menaiki sepeda itu, berniat untuk segera pergi sejauh-jauhnya dari hadapan Kyungsoo.
Terlalu lama dengan bocah ini, Jongin bisa terkena rabies!
"Kurasa aku sudah cukup tolol karena telah menanggapi obrolanmu," kata Jongin tak perduli, ia akan mengayuh sepedanya saat tiba-tiba saja, Kyungsoo menaiki sepedanya dari belakang. Memegang kedua bahunya.
Jongin menjerit.
"Apa yang kau lakukan? Cepat turun!"
"Aku tidak mau. Antarkan aku ke tempat Chanyeol!" Kyungsoo makin erat mencengkram bahu Jongin, bahkan memeluk lehernya. Jongin merasa sesak; merasa ia tidak dapat bernafas karena ulah Kyungsoo yang selalu bisa membuatnya terkena serangan jantung mendadak.
"Dari puluhan alat transportasi yang ada. Kenapa kau harus memboncengku? Demi, Tuhan, carilah taksi atau bus dan pergilah dari jangkauanku!"
"Aku akan menempelimu terus jika kau tidak mau mengantarku!" Ancam Kyungsoo pada Jongin. Jongin melirik sinis, berniat berteriak lagi sebelum Kyungsoo mulai menangis- berakting.
Jongin gelagapan; semua orang yang lewat di sekitarnya menganggap Jongin telah membuat Kyungsoo menangis. Kyungsoo terus menangis dan sesekali merutuk tak jelas ke arahnya.
"Hei, berhenti menangis!" Teriak Jongin frustasi. Kyungsoo tetap tidak bergeming- melanjutkan tangisannya semakin keras. Orang-orang mulai menghujatnya. Memakinya dengan kata-kata yang cukup kasar.
"Hei, anak muda! Tega sekali kau menyakiti hati rapuh kekasihmu yang baik hati itu! Lihat dia jadi menderita dan menangis begitu. Semoga, Tuhan mengampunimu!"
"Tidak tahu diri! Sudah beruntung mendapatkan pemuda manis seperti itu, tapi dia justru menyakitinya. Dasar pria memang sama; semuanya brengsek!"
Jongin merasa terpukul atas ketidakadilan yang menimpanya kali ini. Ia tidak merasa dirinya bersalah; tapi orang-orang mengatainya kekasih yang brengsek karena telah membuat kekasihnya menangis. Demi, Tuhan, Jongin hanya ingin jauh-jauh dari hadapan Kyungsoo.
"Baiklah, anak culas! Berhenti menangis, aku akan mengantarmu!" Jongin mendengus, merutuk diri sendiri karena kebodohannya yang bahkan tidak dapat berkutik pada sosok berbadan kecil seperti Kyungsoo ini. Untuk pertama kalinya, Jongin merasa bertemu dengan saingan yang benar-benar menyusahkannya.
Kyungsoo memekik girang, memeluk leher Jongin kuat-kuat agar tidak terjatuh.
"Kyungsoo, aku tidak bisa bernafas! Jangan memelukku seperti itu!" Keluh Jongin sebal. Sepedanya mulai bergerak tak konstan. Dan, karena Kyungsoo takut terjatuh, ia sedikit merenggangkan pelukannya.
"Baiklah, cerewet sekali kau ini!"
"Kau yang cerewet!"
"Tentu saja kau! Jika dari tadi kau tidak mengajakku bicara- mana mungkin aku berbicara sendirian. Aku kan tidak gila!"
"Memang tidak- tapi mungkin saja sebentar lagi."
"Apa- Apa kau bilang?"
"Tidak ada."
"Kau bohong! Jelas-jelas tadi kau mengatakan hal buruk tentangku." Jongin menghela nafas, telinganya terlalu berdengung karena Kyungsoo berteriak tepat di dekat telinganya.
"Demi guntur- bisakah kau diam?"
"Tidak ada guntur disini- Jongin!"
"Itukan hanya perumpamaan."
"Semacam hiperbola? Atau-"
"Entahlah. Aku tidak tahu."
Jongin tidak menanggapi obrolan Kyungsoo lagi. Ia hanya fokus mengemudikan sepedanya. Cukup berat karena Kyungsoo berada di belakangnya. Sesekali, ia akan berguman- ya atau tidak; untuk membuat Kyungsoo berhenti menanyainya lagi. Ia hanya mendengarkan omongan Kyungsoo yang ternyata tidak berhenti mengoceh sepanjang perjalanan. Sesekali, ia akan meneriaki Kyungsoo saat pria itu sudah mulai memeluknya lagi.
TBC.
#kipas-kipas. #Hembuskan nafas- keluarkan.
Oke deh- Ditunggu reviewnya ya. Jadi kalau FF saya dihargai- kan Jona jadi semangat lanjutinnya.
Thanks to :
Xiaolu whirlwinds telekinetics, mukhasparcloudy, indirafsyzhr,
brigitta bukan brigittiw (Nama akunnya bikin ngakak)-oke lanjut,
chanbaekluv, alysasparkyuelfshawol, haihaihai, chanbaekly, green, chanbaek shipper, ia, nadyaputrikpopersbestfriendyunacha (Panjang amat -_- tapi saya bisa menangkap maksud yg buat akun ini, bahwa dia temannya yuna sama cha. Haha),
arumighty, yoonandi, raetaoris, lab27, syjessi22, cozalou laya, .hardshipper, nadya. , kim seonna, happybacon, bluepink exo-xoxo-couple,
namu hwang (author-nim, aku penggemar ff without wordmu, hihi),
jung eunhee, kkamjongyehet, hunhankaisoo, kim eun seob, ssonghye, , opikyung0113, , chanbaekssi, derpyeol, sekhayahya1, yunjou, , keepbeef chiken chubu, byun baeyuki, uchiha shesura-chan, deer panda, kyungmiie, byynbaekhcha, baekkieyeollie, guest, thiiya,
cb (Jona tdk tahu kenapa dia bilang kirain udah end ya? Padahal baru chapter 1 apa salah review nih? Tp gomawo udah review),
aj2523, aaa, byunbaeklily, sarang, amma, aheechanbaek, vanesaa, 12wolf, aero jung, guest, bbyek, zahina, guest, areynasyndrome, flower you,
pintukamarchanbaek (sekali lagi nih akun bikin ngakak. Haha),
nana, d'vil, nam min seul, byunbaek, shakyu, baekstreet, fysugar-free, shy fukuru, fdz1492, , bellaarinihaq, , wereyeolves, kyeoptafadila, baekhyunaa, dyodo hyung, 20gag, indaaaaahhh, kriswu393, byunnapark, creepyeol, cho sungkyu, 1603, exindira, yo yong, chanlovebaek, 0110dorky, adistiii, fujoshii g, , mela querer chanbaekyeol, parkona, chika love baby baekhyun, luxiaolu, younlaycious88, strawbaekry.
Thanks a lot guys, udah mau review, sebagai terima kasih, Jona tulis nama2 kalian; mf klu misal salah nulis atau besar kecilnya ga ditulis, Dan... buat yang ngerasa belum review tapi udah baca, review ya, kalau mau dihargai orang hrs ngehargai org lain dulu. Cpe kan udah nulis kalian g ninggalin jejak buat motivasi aku.
OKe- gomawo buat yg review, review lagi ya. Bye^^
