A/n : Chap ini dari sudut pandang Madara. Dan mungkin kebanyakan dari sudut pandang Madara.

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Warning : Mature Content, Typo(s), tak suka tak usah baca, fem-Madara, fem-Nagato, and fem-Jiraiya.

[New School]

Madara's POV

Hell. Akhirnya penderitaan ini berakhir. Akhirnya aku tiba di rumah mereka. Aku lalu memencet bel.

Sambil menunggu aku memperbaiki braku. Sialan. Aku benci memakai pakaian begini.

Pintu terbuka dan Yuki ada disana. Dengan cepat ia menarik tanganku.

"Ayo masuk." Ucapnya senang.

Ternyata di sana sudah ada Haruka dan Konan. Aku lalu duduk di salah satu sofa dan melipat tanganku di dada. Rasanya aneh saat ada yang mengganjal.

"Oke. Karena semua sudah kumpul, akan kujelaskan. Aku tahu kalian sudah tak punya keluarga lagi. Kami ingin kalian menganggap kami keluarga kalian mulai sekarang. " Ucap Minato.

"Apa maksudmu? Kita bahkan baru kenal." Sanggahku cepat.

"Iya, aku paham. Tapi kalian tidak terbiasa dengan tubuh itu, karena itulah jika kalian berada dalam kesulitan, jangan segan untuk minta tolong. Dan untukmu Haruka, kau adalah keponakan kami jadi kau dan temanmu itu diterima kapan saja disini. Mira juga sama." Jelasnya lagi.

Aku melihat yang lain hanya diam memperhatikan

"Lalu, Yuki dan Haruka akan pergi ke sekolah yang sama, Konoha High School. Lalu Madara akan kuliah di kampus yang sama dengan Konan. Jadi begini, supaya lebih nyaman aku ingin Haruka pergi ke sini sebelum ke sekolah dan pergi bersama Yuki. Lalu Konan bisa menjemput Mira dan pergi bersama. Apa ada yang keberatan?" tanya Minato.

Aku mengangkat tangan.

"Lalu bagaimana jika aku dianggap pacarnya Konan?" tanyaku.

Minato dan Konan malah tersenyum.

"Sebenarnya, Mira. Aku juga keturunan Uchiha. Ayahku Uchiha namun ibuku bukan. Aku juga tahu nama aslimu, Uchiha Madara kan? Bilang saja kau itu sepupuku. Beres." Ujar Konan santai.

Aku membelalakkan mataku tak percaya. Lalu kembali merengut.

"Kalau begitu kau harus melindungiku dari cowok-cowok disana." Ucap atau perintahku padanya.

Sambil tersenyum simpul ia mengangguk.

"Makanan sudah siap." Kushina datang dan memanggil kami.

"Ayo." Ajak Minato dan kami pun makan bersama.

Lumayanlah makan gratis.

Setelah makan, aku langsung pamit.

"Apa tidak menginap saja di sini?" tanya Kushina. Aku menggeleng.

"Ya sudah. Minato tolong antar Mira." Perintahnya pada duren kuning berjalan itu.

Aku pun pulang diantar oleh Minato dengan mobilnya. Lumayanlah.

Saat sampai, aku teringat sesuatu. Bagaimana rasanya sex dengan tubuh ini.

"Ya sudah aku pulang dulu, ya." Ucapnya sebelum pergi.

"Tunggu." Aku menahan tangannya berusaha membuatnya tidak pergi.

"Aku butuh bantuan." Dia luluh dan kamipun masuk ke dalam.

Saat sampai di kamar, aku langsung mendorongnya ke kasur, membuka rokku dan duduk di atasnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya panik.

Aku tersenyum menggoda sebelum melepas baju dan braku.

"Kau lihat. Aku ingin tahu rasanya benda ini, kumohon." Aku menyeringai sambil memegang dadaku.

Dan dari pantatku yang duduk tepat di atas selangkangannya, aku merasakan batangannya tegak.

Tiba-tiba ia bangkit dan memainkan dadaku. Ia meremasnya dan bermain dengan putingku.

"AAHHNN." Aku tak percaya aku mengeluarkan desahan seperti itu. Rasanya nikmat. Apa ini. selangkanganku mulai basah.

Aku kembali mendesah kencang saat salah satu tangannya menggosok selangkanganku.

"YAAHHNN." Desahanku amat sexy. Aku tak percaya itu suaraku.

"Ter-usshh." Ucapku tak jelas. Tubuhku terasa hangat. Dan saat ia mengulum putingku, rasanya seperti kejutan listrik. Tapi kali ini sangatlah nikmat.

Dia membalikkan posisi hingga aku di bawah dia di atas. Tangannya masuk ke dalam celana dalamku dan ia memasukkan satu jarinya.

"AAHHHNN. NIIKMAAHHT. MINATO," ucapku kenikmatan.

Ini bahkan lebih hebat dari saat menjadi laki-laki. Dia lalu memasukkan dua jarinya dan bermain di dalam lubangku. Dia menciumku setelahnya.

Aku awalnya menolak dicium, tapi saat lidahnya bermain di dalam mulutku, aku tak berdaya dan menerimanya. Saliva kami bertukar dalam mulutku. Permainannya amat menggairahkan.

Enak sekali. Tanpa sadar aku mengalungkan kedua tangan jenjangku ini di lehernya. Kami terus bercumbu. Dari mulut, leher sampai ke putingku. Dia sangat hebat.

CROOOT

Sudah keluar. Cairan putih kental keluar membasahi tangannya yang ada di lubangku. Aku lalu semakin liar. Aku bangkit dan membuka resleting celananya. Mengeluarkan batangan besar itu.

Aku lalu menghisapnya.

"AAHH. AAHH." Desahnya saat aku mengulum batangannya. Rasanya panas.

Terus begitu sampai cairannya tumpah di mulutku.

Aku langsung memuntahkannya. Dan ia pun berhenti. Aku lalu terbaring. Aku lihat Minato merapikan pakaiannya.

"Kenapa kau tak mengambil keperawananku?" tanyaku setengah mendesah. Aku menggesek-gesek selangkanganku.

"Maaf. Aku ingin orang yang berharga bagimu yang mengambilnya. Kalau begitu aku pulang." Ujarnya pergi. Tentunya setelah ia mencuci tangannya di kamar mandi.

Aku merengut saat melihat kepergiannya. Aku lalu bermain sendiri semalaman. Sampai aku lelah dan tidur.

Keesokan harinya, saat aku bangun aku mendapati kasurku lusuh berantakan. Aku bangkit dan menyadari tubuhku hanya terbalut celana dalam dan kaos kaki atau stoking hitamku. Aku teringat kejadian semalam dan memilih untuk mandi. Setelah air panas memenuhi bathtub, aku bertelanjang dan masuk ke dalamnya.

"Aaah. Enak sekali." Ujarku.

"Ternyata dia cukup gentle." Sambil mengingat ucapan Minato yang tak ingin mengambil keperawananku.

Aku lalu mandi dan membersihkan tubuhku ini.

Saat selesai, tepatnya bermenit-menit kemudian, aku langsung melilitkan handuk di tubuhku dan juga menggunakan hairdyer untuk mengeringkan rambutku. Di koper itu ternyata ada beberapa peralatan mandi dan juga benda kosmetik lainnya. Berhubung aku belum bisa memakai aku letakkan saja di meja rias.

Tingtong

Aku mendengar bel berbunyi dan hendak membukanya. Namun sadar aku hanya mengenakan handuk. Aku lalu mengambil kemeja putih dan memasangkannya di tubuh atasku. Sehingga aku kini terlihat memakai kemeja dan rok handuk pendek. Aku langsung membuka pintu.

"Siapa? Oh, kau rupanya." Ternyata Konan.

"Apa kau sudah siap. Aku akan mengajakmu keliling kampus hari ini." ujarnya.

"Masuk." Aku mempersilahkannya masuk

"Tunggu disini ya. Jangan kemana-mana." Dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang tamu.

Lalu aku berpakaian. Aku ingin terlihat seperti perempuan terhormat dan anggun. Jadi aku memakai sebuah dress tanpa lengan yang bagian atasnya berwarna hitam dengan motif-motif bunga mawar di punggungnya, lalu ada tali membentuk pita tepat di bawah dada berwarna putih, lalu dari bawah pita itu sampai ke betis berwarna putih. Agak mirip dengan yang kupakai semalam. Aku juga memakai stoking hitam dan sepatu hak rendah putih. Aku memakai sepatu itu agar serasi dengan dressnya, aku ini perfectionis, jadi kalau aku adalah perempuan aku harus tampil secantik mungkin. Perempuan manapun pasti akan cemburu denganku. Apalagi istriku yang tahu bahwa perempuan cantik ini adalah suaminya. Aku lalu memakai kalung berbandul lambang klan Uchiha dan gelang putih di tangan kiriku. Aku mencoba-coba dulu berjalan dengan sepatu hak ini. Setelah mulai terbiasa, aku mengambil tasku dan berjalan ke Konan.

"Ayo." Ucapku.

Kami lalu keluar dan pergi dengan motornya. Ini yang kubenci. Aku harus duduk miring dan memeluknya agar tidak jatuh. Coba motornya bukan motor ninja atau sejenisnya, pasti lebih nyaman. Aku yakin dia menyeringai mesum karena dadaku menempel di punggungnya.

Saat sampai, aku agak kagum melihat kampus yang cukup luas. Lalu Konan mengajakku keliling. Semua cowok disana seperti melihatiku terus dengan tatapan aneh, dan cewek juga melihat dengan tatapan iri. Apa iya aku secantik itu. Terakhir kami mengunjungi kantor guru dan memberi surat pendaftaranku dan surat pemberhentian Nagato. Alasan yang dipakai Konan adalah Nagato kecelakaan dan tidak akan pulih. Miris. Aku tanpa sadar tersenyum kecut sambil menggenggam tangan Konan mencoba menenangkannya.

Setelah itu Konan mengajakku ke kantin untuk makan. Saat makan banyak mahasiswa lain yang mengajakku kenalan. Dan saat mengetahui aku sepupunya Konan, mahasiswa cowok terlihat berseri-seri wajahnya. Ya, a

ku tahu aku cantik. Tapi maaf, aku belum buka lowongan.

Dan saat kami akan pergi, seorang cowok datang dan langsung duduk di sebelahku. Aku menoleh dan ia langsung memelukku.

"Mira. Lama tidak bertemu. Apa kau sudah memutuskan untuk menjadi pacarku?" Dia adalah Obito, anakku, atau mungkin sekarang bukan.

"Lepaskan aku. Aku tak bisa bernafas." Berontakku saat ia makin erat memeluk.

"Maaf." Ucapnya tertawa tanpa dosa.

"Jadi?" aku mengerti sekarang.

"Maaf, ya. Kita ini saudara, jadi kita tidak boleh pacaran." Jelasku padanya.

"Apa kau lupa, klan Uchiha memperbolehkan hal itu asal bukan saudara kandung. Dan kau bukan adik atau kakakku." Bantah Obito.

Dan JLEB. Sakitnya. Aku tak percaya aturan yang kubuat agar klan Uchiha tetap ada sampai akhir zaman malah menjadi bumerang. Dan lagi, ia bilang bukan saudara kandung. Aku tahu itu. Tapi aku ini ayahnya. Well, mantan ayahnya sih.

"Mira, ayo pergi." Ucap Konan. Aku tahu ia ingin menolongku. Aku sontak saja mengangguk.

"Hey, kalian mau kemana?" tanya Obito.

"Obito. Jangan minta aku jadi pacarmu lagi. Aku tak mau itu. Cari saja cewek lain." Desisku tajam padanya.

Konan menarik tanganku dan berniat pergi menjauh.

"Apa nomormu masih tetap sama, Ayah?" tanyanya pelan namun aku dan Konan bisa mendengarnya.

Aku berhenti sebentar lalu menoleh ke arahnya. Lagipula dia anakku, aku tak bisa begitu saja menolaknya. Aku tersenyum tipis.

"Iya." Jawabku. Dia tersenyum.

"Ayo." Ucap Konan menyadarkanku.

Aku lalu mengikutinya pergi meninggalkan Obito. Kurasa tidak buruk.

Kulihat wajah Konan. Ok. Dia cocok menjadi bodyguardku.

"Jadi itu anakmu?" tanya Konan. Aku mengangguk pelan.

"Apa kau mau langsung pulang?" tanyanya tak nyaman saat melihat ekspresiku.

"Ya.. eh jangan. Antarkan aku ke toko baju." Perintahku ingat sesuatu.

"Bukankah kau sudah diberi baju dari rumah sakit?" tanyanya bingung.

"Tidak ada celana sama sekali." Lanjutku membuat Konan tertawa.

"Masuk akal." Ucapnya lagi mengejekku.

Aku mendelik ke arahnya dan menjewer kupingnya kebawah sampai ia tertarik ke bawah.

"Aw. Aw. Aw. Sakit." Rintihnya.

Aku melepaskan tanganku dan melipatnya di dada.

"Makanya jangan mengejekku."

Konan masih memegangi telinganya yang memerah.

"Iya, iya." Yes aku menang.

Saat tiba diparkiran, langsung saja kami pergi ke salah satu toko baju di dekat sini.

Kami masuk berdua dan kami langsung memerah melihat pemandangan di dalam toko ini. Celana dalam berbagai merk dan model. Tapi aku kembali murung mengingat aku yang akan memakainya.

Aku langsung berjalan ke arah salah satu pegawai di sana.

"Mbak, aku ingin membeli celana. Aku minta saran darimu." Pintaku.

Pegawai perempuan itu tersenyum.

"Ayo ikut saya." Ujarnya.

Lalu saat aku sadar Konan juga mengikuti kami, aku kembali mendelik ke arahnya.

"Tunggu di sini. Jangan berniat mengintip." Ucapku ketus. Aku tak rela ia melihat benda hebat lainnya.

Konan gugup dan menggaruk kepalanya.

"B-baik." Ucapnya.

Lalu berbagai jenis celana di tunjukkan pegawai itu. Aku pada akhirnya memilih 4 buah hotpants, terpaksa karena kalau cuaca panas aku bisa memakainya. Lalu aku juga memilih beberapa jeans. Jeans perempuan benar-benar ketat. Aku juga membeli beberapa celana training dan celana longgar. Kebanyakan sih ketat di bokong. Dia juga menunjukkanku legging dan celana ketat lain. Namun aku menolaknya. Setelah itu aku membayarnya lalu bergegas ke tempat Konan.

Aku melihat dia melihat-lihat perempuan di sekelilingnya dengan tatapan mesum. Aku langsung saja menjitak kepalannya.

"Aw. Apa lagi?" tanyanya kesal.

"Ayo pulang." Aku langsung melengos keluar.

"Dasar." Aku mendengarnya menggerutu.

Dan ia pun mengantarku pulang. Aku menciumnya di pipi sebelum masuk ke apartemenku. Aku sempat melihat barangnya tegang. Satu lagi cowok terjebak. Setidaknya yang ini bisa menjadi bodyguardku. Gratis pula.

Ternyata menjadi perempuan tidak buruk juga.

End of This Chapter.

Butuh inspirasi lain.