A GENIUS IN LOVE
Bagian 3
Summary: Seorang jenius dan penulis lagu terkenal, Min Yoongi, mendapati dirinya berada di dalam cinta segitiga yang aneh. Masalahnya adalah, ia harus bersaing dengan bossnya sendiri untuk mendapatkan cinta dari selingkuhan bossnya!
Warning: Yaoi, OOC, adegan seks, mpreg, AU (AOB Universe), slow-paced storyline, karakter boyband lainnya
Pairings: YoonMin, MinJoon, NamJin, KookV
24 Oktober 20xx, Seoul
10.20 a.m
Jimin membuka pintu ruang latihan, berekspektasi bahwa ruangan tersebut akan kosong (staff selain kru kamera biasanya datang jam 11 di hari biasa)—Taehyung dan Jungkook masih tidur jam 10 tadi, sementara Hoseok mengiriminya pesan untuk Jimin agar membantu melatih kedua orang tadi sampai jam 1 karena ada urusan mendadak—jika Jimin ternyata malah datang lebih pagi (karena ia memang selalu datang tepat waktu! Bahkan jika mentornya sendiri ingin dirinya datang siang—ia akan tetap datang lebih awal). Namja manis itu tidak mengeluh sama sekali hari itu karena ia menanti-nantikan ajakan Yoongi sore ini.
Jimin mendengus karena entah mengapa, dalam waktu singkat ia mulai akrab dengan namja pucat itu. Dan kini dalam waktu hanya 3 hari, ia dan Yoongi akan melakukan kencan sebanyak dua kali!
Padahal dulu butuh waktu lebih dari 2 bulan untuknya dan Chanyeol memulai kencan pertama mereka dan 3 bulan untuk Namjoon mengajaknya tidur untuk pertama kali.
Ia menoleh saat melihat Namjoon ternyata datang awal seperti dirinya. CEO muda itu menyadari keberadaan Jimin di ruangan latihan dan tidak mengulur waktunya untuk menghampiri namja cantik itu. Jimin berusaha bersikap seperti biasanya, menyadari bahwa ada kru kamera sedang berusaha memperbaiki lensa kamera. Namjoon juga bersikap sama sepertinya, hanya saja wajahnya datar—senyuman yang biasanya menampilkan lesung pipit kini hanya berupa ekspresi tidak peduli.
"Namjoon-sajangnim?"
"Jimin-ah, bisa kita berbicara sebentar?"
Jimin hanya mengangguk dan mengikuti Namjoon keluar ruang studio tari, berdiri di pojok ruangan dekat gudang. Alpha tersebut kemudian menghela napas dalam-dalam dan berkata, "Kurasa, sampai dengan minggu depan, aku tidak akan bisa bertemu denganmu seperti biasanya."
"Huh? Wae yo?"
"Seokjin, semalam—tiba-tiba saja ia pulang dan bilang bahwa dia ingin kami untuk memiliki anak."
Namjoon melihat perubahan ekspresi di wajah Jimin.
"Jadi? Kau sendiri ingin punya anak?"
Namjoon hanya mendengus dan sedikit tergelak seolah-olah ucapan Jimin terdengar lucu baginya, "Tentu saja, aku sudah lama menginginkan seorang anak. Sudah lama aku ingin keluarga kami terlengkapi dengan adanya seorang anak."
"Lalu, setelah kau punya anak, apa kau akan meninggalkanku, Sajang-nim?" tanya Jimin, wajahnya terlihat sedikit marah. "Selama ini kau bilang bahwa istrimu tidak dapat memberikan anak, lalu tiba-tiba kau bilang bahwa kalian ingin punya anak?!"
Namjoon menutup mulut Jimin, "Chimchim," panggilnya lembut, kepalanya menengok ke sekitarnya—berharap tidak ada yang mendengar percakapan mereka, "Mengertilah, sudah bertahun-tahun aku dan istriku menginginkan anak. Jadi, aku hanya ingin minta pengertianmu karena minggu depan Seokjin akan mengalami heat, dan itu kesempatan kami untuk mencoba anak yang sudah lama kami nantikan."
"Lalu bagaimana denganku? Setelah kau punya anak, apa kau akan meninggalkanku?" mata Jimin mulai berkaca-kaca.
"Chim, aku hanya minta waktu untuk minggu depan oke?"
Wajah Jimin masih merenggut marah, air matanya berkumpul di pelupuk mata. Namjoon hanya mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Omega mungil itu, yang kemudian ditepis oleh Jimin dengan rasa tidak suka.
"Kalau begitu, aku juga tidak akan mau bertemu denganmu dalam seminggu berikutnya."
Omega itu pergi meninggalkan Namjoon yang berdiri mematung. Menghela napas panjang, Namjoon menurunkan topi yang dari tadi ia kenakan, berusaha mengontrol perasaannya yang bercampur aduk.
Jika ia diizinkan, ia ingin pergi ke masa 4 tahun yang lalu, atau jika bisa, 2 tahun lalu—di mana ia memutuskan untuk memilih Jimin menjadi anggota boyband rintisannya.
24 Oktober 20xx, Seoul
3.12 p.m
Yoongi hendak mengambil jatah kopi di lantai 2 saat ia melihat di ruang studio menari, Hoseok beberapa kali mengulang koreografi yang diajarkannya pada anggota BTS. Penasaran, ia menghampiri dinding kaca yang membatasi koridor lorong dengan ruang studio. Anggota kru kameramen yang sepertinya dari tadi sibuk mendokumentasikan kegiatan mereka, hanya duduk-duduk sementara tripod dan kamera mereka digeletakkan begitu saja di atas lantai dan meja.
Jungkook tampak berjongkok, sementara Taehyung melipat tubuhnya ke arah lutut; kedua-duanya memperhatikan Hoseok sedang mengarahkan Jimin tentang sesuatu. Beberapa detik memperhatikan mereka, Yoongi menyadari bahwa Jimin lah yang membuat latihan mereka sedikit terganggu. Omega tersebut tampak beberapa kali mengerut kesal dan memprotes ucapan Hoseok, sementara Beta berambut hitam tersebut terlihat tidak senang dengan alasan-alasan yang dibuat oleh Jimin.
Akhirnya mereka tampak membuat kesepakatan untuk mengulang koreografi yang sama. Selama beberapa menit latihan dimulai, Jimin sudah membuat kesalahan. Kali ini Hoseok seperti kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk latihan dihentikan sementara. Jimin yang tampaknya menyesali keadaannya hari ini, langsung keluar dari ruangan studio dengan wajah mengerut sedih dan kesal. Ia tidak menyadari Yoongi dari tadi mengamatinya di balik dinding kaca, sampai akhirnya bahunya menyentuh bahu Alpha tersebut.
"Kau baik-baik saja hari ini Jimin-ah?"
Jimin benar-benar kaget sampai ia memekik pelan, "HYUNG! Kau mengagetkanku!"
"Latihanmu tadi," kata Yoongi antara berbasa-basi dan blak-blakan dengan Jimin, "Sepertinya kau membuat lebih banyak kesalahan daripada yang lain. Ada apa?"
Jimin memperhatikan Yoongi sejenak dan langsung berjalan melewati Alpha tersebut tanpa menjawab. Yoongi menarik tangannya.
"Jimin—"
"Hyung," kata Jimin, "Bisakah untuk hari ini, kita batalkan kencannya? Aku sedang tidak mood untuk pergi hari ini."
"Hah?"
Yoongi tidak menahan Jimin saat Omega itu menarik tangannya dan pergi. Tetapi wajahnya mengerut penasaran melihat kepergian Jimin.
Pasti ada sesuatu.
24 Oktober 20xx, Seoul
3.18 p.m
"Kau dan Jimin, sepertinya ada sesuatu di antara kalian, ya?"
Yoongi hampir menjatuhkan kopi yang dari tadi ia pegang di tangan kanannya.
"Apa maksudmu, Hyung?"
Zhoumi terkekeh, "Jangan pura-pura begitu, dong. Tadi aku melihat kalian di lantai dua, sepertinya membicarakan sesuatu yang intim ya?"
Kuping Yoongi memanas, "Kami baru kenalan dua hari yang lalu, bagaimana mungkin—"
"Sudah berapa kali kau pernah menjalin hubungan dengan Omega?"
"Hyung..."
"Tapi tidak masalah, sih, kalau kau tidak mau mengakui. Aku berharap kau mungkin sebaiknya melupakan Jimin jika kau benar-benar tertarik padanya," potong Zhoumi cepat, "Banyak Alpha yang mengincar Jimin, tapi kau tahu 'kan kalau boyband di negara kita ini bagaimana? Jika ada anggotanya yang ketahuan menjalin hubungan, bisa mengamuk fans mereka nantinya."
"Memangnya aku bilang aku tertarik padanya?"
"Nah, Jimin itu kan belum memulai debutnya, siapa tahu kalau kalian bersama nantinya," Zhoumi masih melanjutkan perkataannya, "Justru ranking BTS malah kurang baik saat debut nanti."
Yoongi hanya membalikkan badannya dan berpura-pura tidak memedulikan Beta tersebut. Tetapi hatinya memikirkan ucapan Zhoumi, ucapannya ada benarnya—dan ia tidak bisa marah dengan ucapan Beta itu.
Lalu bagaimana dengan Namjoon-nim dan Jimin?
24 Oktober 20xx, Seoul
7.39 p.m
"Jimin-Hyung, kami duluan!"
"Ya, duluan saja."
Jimin tidak membalikkan tubuhnya saat Jungkook dan Taehyung pamitan dengan Hoseok. Ia tidak berani untuk menatap wajah Hoseok saat ini; perasaan bersalah melingkupi dirinya, karena pikirannya kalut dengan ucapan Namjoon tadi pagi (kalau seandainya ia dan istrinya sudah memiliki anak nanti, akan dikemanakan Jimin?).
Hoseok yang sepertinya tahu bahwa Jimin sedang tidak dalam kondisi primanya. Maka seperti kemarin, ia menghampiri Jimin dan berkata, "Jimin-ah, kau serius tidak apa-apa? Padahal kemarin kau latihan sangat baik melebihi ekspetasiku, tapi kenapa tiba-tiba hari ini kau lebih banyak melakukan kesalahan dibanding Taehyung dan Jungkook?"
"Hyung, maafkan aku, sepertinya aku sedang banyak pikiran hari ini. Aku harap besok-besok aku akan lebih memperhatikan lagi," Jimin membungkukkan tubuhnya karena merasa bersalah.
Beta tersebut hanya menepuk bahu Jimin—menghiburnya sedikit, "Tapi kurasa kalau kau banyak melakukan hanya untuk hari ini, aku bisa memaafkanmu dengan mudah. Ingat, kalian punya waktu persiapan kurang dari 3 minggu sebelum kalian memulai debut."
"Aku mengerti, Hyung!"
Hoseok memasang beanie ke kepalanya dan pamit pulang pada Jimin. Ia memperhatikan Yoongi sedang berdiri di depan pintu studio, dan melihat Alpha tersebut dengan canggungnya membungkukkan tubuh ke arahnya. Ia hanya balas membungkuk dan sekilas memperhatikan Yoongi dengan tatapan bingung dan rasa penasaran. Dari tadi dia berdiri di sana?
Setelah Hoseok menghilang di hadapannya, Yoongi langsung menghampiri Jimin—tidak mempedulikan beberapa staff yang menyalaminya sambil berlalu. Jimin yang sedang melakukan peregangan, nyaris terjatuh dari susuran kayu di dinding yang dari tadi menahan berat tubuhnya saat melakukan pendinginan. Yoongi memegangi lengannya dengan sigap.
"Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau—"
"Malam ini kita makan bersama, oke? Aku akan mentraktirmu gogi-gui."
Jimin menggigit bibirnya dan berjalan melewati Yoongi untuk mengambil mantel musim dinginnya, "Tapi aku tidak tanggung kalau kau harus kehabisan lebih dari seratus ribu won hari ini."
Yoongi hanya membuat cengiran gummy grin khasnya—yang jarang sekali ia tunjukkan ke orang-orang di sekitarnya, "Aku tidak akan pernah bisa makan sebanyak dirimu, sepertinya."
24 Oktober 20xx, Seoul
8.11 p.m
Omega berambut blonde tersebut hampir tidak berkata sepatah katapun kecuali saat memesan menu minuman—sampai akhirnya Yoongi memutuskan untuk bertanya langsung padanya, "Moodmu hari ini benar-benar tidak baik ya?"
Jimin hanya melipat kedua tangannya dan bibir bagian bawahnya menyembul (Yoongi bersyukur ia bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir montok milik Omega tersebut), "Memangnya kau tidak bisa lihat apa, bagaimana hasil latihanku tadi? Dan kalau memang moodku buruk, memangnya aku mau menceritakannya semua padamu?"
"Pasti ada hubungannya dengan Namjoon-nim."
Yoongi tidak menyangka bahwa tebakannya yang jitu itu membungkam Jimin—namja cantik itu hanya menatap wajah Alpha di hadapannya dengan mata terbelalak lebar. Menyadari bahwa reaksinya justru menyingkap masalahnya hari ini, Jimin buru-buru menjawab, "Namjoon-sajangnim—bahkan aku belum melihatnya hari ini!"
"Ya, pasti ada sesuatu di antara kalian—atau mungkin kau hanya marah karena dia tidak datang untuk menemuimu hari ini. Pfft, menggelikan," Yoongi menundukkan wajahnya untuk menahan gelak tawanya.
Frustasi dengan Yoongi, Jimin menjatuhkan kepalanya ke atas meja dan menggerutu, "Kenapa, sih, kau ini tidak bisa berhenti selama satu jam untuk tidak membuatku kesal, Hyung?! Ne, kau benar, ada masalah antara aku dan Namjoon-sajangnim! Tapi tebakanmu salah! Namjoon-sajangnim—"
"Kenapa dengan Namjoon-nim?"
"—dia bilang dia ingin punya anak—"
Nada suara Yoongi meninggi, "Denganmu?!"
"Tentu tidak, babo! Dengan istri Omeganya!"
"Lalu apa masalahnya denganmu?" tanya Yoongi masih belum menangkap maksud Jimin.
"Apa masalahnya denganku?" dengus Jimin—tidak percaya Yoongi masih belum menangkap maksud ucapannya, "Tentu saja—bagaimana jika dia meninggalkanku? Itu artinya ada satu orang lain lagi yang harus cintai selain aku kan?"
"Bukankah itu sudah haknya untuk lebih memilih keluarganya dibanding dirimu? Lagipula dari awal hubungan kalian bukanlah ikatan yang pasti," Yoongi menanggapi dengan dingin. Omega di hadapannya ini masih kekanak-kanakan, masih belum berpikir matang dengan segala yang ia pikirkan. Betul saja, begitu Yoongi berucap demikian, Jimin terlihat bertambah kesal.
"Aku mengerti perasaanmu, Jimin-ah," kata Yoongi lagi dengan pelan—berharap agar orang di sekitarnya tidak mendengar ucapannya, "Tapi mengertilah bahwa posisimu dari awal hanyalah selingkuhan Namjoon-nim. Dan sudah sepantasnya, sebagai pemegang perusahaan dunia hiburan, ia tidak menjalin hubungan dengan rookie dengan anggota boyband yang menjadi tanggung jawabnya."
Seorang pelayan Beta wanita mengantarkan pesanan mereka, membawa sepiring penuh berisi jumulleok, galbi, samgyeopsal, deungsim dan masih banyak lagi. Yoongi memandangi pesanan mereka sesaat sebelum akhirnya menoleh ke arah Jimin dan menyadari bahwa Omega tersebut menitikkan airmatanya, "H-huh? Wae geu rae? Kenapa kau tiba-tiba menangis?"
"Tapi aku mencintai Namjoon-sajangnim—" ia mengusap air matanya dengan lengan bajunya yang kebesaran dan menutupi hampir seluruh tangan mungilnya, "—kalau dia tidak mencintaiku lagi—pokoknya aku tidak mau dia sampai melupakanku..." kali ini ia benar-benar menangis dan suara tangisnya menarik perhatian pengunjung di sekitar mereka.
Yoongi hanya membungkukkan kepalanya ke pengunjung lainnya—meminta maaf, "Kau ini anak-anak atau apa, hah? Kenapa kau bisa-bisanya menangis di tempat seperti ini?"
"Tapi kau yang mulai duluan, Hyung! Kau yang membuatku—me-menangis," suara Jimin kembali pecah.
"Baik, ini semua salahku. Sekarang berhentilah menangis atau kau akan mempermalukan kita berdua!" Yoongi menepuk-nepuk kepala Jimin. Astaga, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan anak kecil seperti ini?
Alpha itu sibuk membolak balikkan daging di atas panggangan sementara Jimin berusaha menenangkan dirinya. Wajah Omega tersebut memerah sehabis ia menangis, mata dan pipinya seperti membengkak dibandingkan dengan sebelumnya. Yoongi harus mengakui bahwa Jimin benar-benar terlihat manis—seperti peri sesuai ucapan Namjoon—bahkan saat ia menangis. Setelah Jimin benar-benar tenang, barulah Alpha itu menawarkan daging yang sudah dipanggang.
Mereka makan dalam sunyi, sampai jam menunjukkan pukul 9 malam.
Yoongi yang sudah menegak satu setengah bir, merasakan pipinya mulai memanas akibat pengaruh alkohol, tapi ia masih sepenuhnya bisa mengontrol dirinya. Restoran yang kini sudah semakin ramai, membuatnya memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan dengan Jimin.
"Begini Jimin-ah," kata Yoongi memulai, "Aku mungkin memang tidak mengerti soal perasaan Omega seperti kalian, tapi aku berkata yang sejujur-jujurnya dari sudut pandangku. Aku tidak menyetujui hubunganmu dengan Namjoon-nim karena pertama, ia sudah menikah dan kau hanya orang luar yang berselingkuh dengannya. Jadi kurasa cepat atau lambat, jika ada orang lain yang mengetahui hubungan kalian dan memilki niat jahat, maka bukan hanya kau gagal untuk memulai debut, tapi reputasi Namjoon-nim juga akan hancur."
Jimin hanya menundukkan kepalanya sambil mencomoti daging-daging yang masih tersisa.
"Jadi kau mau bilang bahwa aku lebih baik menjalin hubungan denganmu?"
"Jika kau memang tertarik untuk menjalin hubungan denganku, tentu lebih aman dibandingkan jika kau ketahuan berhubungan dengan Namjoon-nim."
Omega itu memutar bola matanya dengan kesal, "Lalu reputasimu juga akan terancam, Hyung."
"Reputasiku masih mudah dibangun, apalagi namaku baru terdengar karena nominasi penghargaan yang lalu."
Jimin benar-benar ingin menonjok wajah Alpha di hadapannya ini—tetapi ia menahannya karena Yoongi sudah berbaik hati untuk mentraktirnya makan.
"Hari Minggu ini, bagaimana kalau kita pergi ke Seoul Raendeu?"
"Aku mau ke gereja hari Minggu ini," sahut Jimin.
"Apa kau benar-benar rutin ke gereja?"
"Oke, oke! Minggu jam 10 pagi!"
Yoongi tersenyum, "Jam 10. Kalau begitu aku akan menjemputmu jam 9 lewat 30, oke?"
Mereka pulang setelah Yoongi membayar makanan mereka dengan kartu kreditnya (Jimin tidak berbohong kalau ia akan menghabiskan seratus ribu won, pikirnya sedih sambil melihat ke struk pembayaran senilai hampir tiga ratus ribu won). Saat mereka keluar, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Buru-buru Yoongi menarik tangan Jimin menuju mobil Hyundai miliknya.
"Untung kita sudah di mobil saat hujannya belum besar!"
"Ya, untung saja. Aku tidak membawa payung sama sekali," sahut Jimin sambil mengeratkan sabuk pengamannya.
Yoongi menyetel playlist musik kesukaannya, dan berusaha agar tidak tersenyum saat melihat kepala Jimin mulai bergerak-gerak mengikuti dentuman musik. Padahal baru saja beberapa saat lalu Jimin menangis saat menceritakan permasalahannya dengan Namjoon, dan kini Omega itu terlihat mendalami musik yang diputar di mobil Yoongi.
"Kau unik sekali, Jimin-ah."
"Mwo?"
"Padahal beberapa saat lalu kau bilang moodmu sedang tidak baik dan menangis, dan sekarang lihat dirimu! Kau benar-benar tidak apa-apa?"
Jimin langsung menghentikan gerakan kepalanya dan wajahnya memerah saat ia memperhatikan Yoongi tersenyum kecil padanya, "B-bukannya malah bagus kalau aku tidak menangis, huh? Memang apa urusannya denganmu? Apa aku harus sedih setiap saat?!" ia menepuk lengan Yoongi dengan geram.
"Aku tidak melarangmu untuk senang, babo! Justru aku bertanya kenapa tiba-tiba moodmu membaik? Padahal beberapa saat lalu kau menangis membicarakan soal dirimu dan Namjoon-nim!"
"Kupikir—," Jimin menjilat lidahnya dengan wajah menunduk malu, "Kupikir ucapanmu tadi ada benarnya. Jadi entah kenapa aku jadi sedikit lega setelah kau—umm—mengajakku untuk berkencan lagi."
"Kenapa kau malah merasa lega?"
"Apa perlu aku menjelaskan kenapa?!" balas Jimin sengit, wajahnya mengerut kesal.
Yoongi hanya tertawa, "Terserah kau saja."
Tidak sampai 15 menit kemudian, mereka tiba di depan apartemen Jimin. Yoongi menyuruh pada Jimin untuk tidak keluar sampai ia memberikan perintah untuk turun. Wajah Jimin hanya mengerut bingung, dan ia terkejut saat menyadari bahwa Yoongi membukakan pintu dan memayunginya dengan mantel.
"Hyung, mantel dinginmu—"
"Tidak masalah, hanya kena sedikit air hujan berkat kanopi apartemen, kok," sahut Alpha tersebut dengan entengnya. "Kalau begitu aku pamit dulu. Semoga hari ini cukup menyenangkan bagimu."
Ia pergi menaiki mobilnya dan pergi menghilang di kejauhan.
Jimin mengangkat tangannya dengan ragu—merasa percuma karena sudah terlambat untuk melambaikan tangannya pada Yoongi. Tetapi kemudian pandangannya teralihkan pada benda mengkilat yang tergeletak di antara taman kecil yang terlindung dari hujan. Ia berjalan menuju benda tersebut dan mengambil sesuatu dari sana.
Kunci apartemen Yoongi yang ia lempar dua hari lalu.
Ia menggenggam kunci tersebut dan memasukannya ke dalam kantung mantelnya.
Jimin mempercepat langkahnya ke dalam resepsionis apartemen, tidak sabaran menunggu kencan ketiganya dengan Yoongi dalam empat hari mendatang.
26 Oktober 20xx, Seoul
8.18 a.m
Namjoon membawa masuk kedua anjing peliharaannya bersama Seokjin ke dalam rumah mereka setelah dari subuh tadi mengajak anjing-anjingnya jalan-jalan pagi. Dua hari terakhir ini, ia memutuskan untuk tidak datang ke kantornya dan menyerahkan segala urusan pada wakilnya, seorang Beta bertubuh kekar bernama Jackson—yang juga adalah sahabatnya semenjak ia masih di bangku kuliah. Sebenarnya ia merasa agak berat hati untuk meninggalkan pekerjaan di tangan orang lain—dan juga meninggalkan Jimin tanpa ada perasaan damai di hatinya.
Ia memikirkan perkataan Jimin semalaman—sampai-sampai ia tidak bisa membaca laporan yang dikirim oleh Jackson tadi malam.
Alasannya untuk meliburkan diri selama seminggu dari pekerjaan kantor adalah untuk menemani Seokjin di kala heatnya muncul tiba-tiba. Selama beberapa tahun ini setelah kematian anak mereka yang tidak pernah ada kesempatan untuk hidup, Seokjin meminum pil penunda kehamilan dan penunda heat. Hubungan seks yang mereka lakukan pun terbatas sebulan hanya satu kali. Karena itulah Namjoon melepaskan naluri alaminya pada Jimin. Namun tidak ia sangka hatinya jadi sedikit terikat dengan Omega tersebut.
Dan kini untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Namjoon akan menemani Seokjin menghabiskan heatnya.
Saat memasuki rumah dan melepas kedua anjingnya bermain di ruang tengah, Namjoon bisa mencium aroma manis di sekitarnya dan langsung menangkap bahwa Seokjin sudah memasuki hari pertama heatnya. Buru-buru ia berjalan ke kamarnya dan menemukan Seokjin—dengan tubuh setengah telanjang dan wajah memerah—mendesah panjang di atas ranjang mereka tidur. Keringat membasahi sebagian tubuhnya, dan Namjoon merasakan sesuatu dalam dirinya terbangun. Tanpa pikir panjang ia menghampiri Seokjin dan menyentuh lengan Omeganya.
"Seokjin—jagiya—"
"Namjoon-ah, Alpha—," Seokjin melemparkan dirinya ke tubuh Namjoon, "Aku tidak bisa menahannya lagi... tubuhku—seluruh tubuhku terasa terbakar—"
Namjoon mengecup bibir Seokjin dan mengulumnya dengan nikmat. Sudah lama ia tidak merasakan sensasi seperti ini di dalam tubuhnya. Ia mendorong tubuh Seokjin dan menjatuhkan tubuhnya di atas Omeganya, tangannya sibuk berusaha melepaskan baju yang masih merekat di tubuh istrinya itu.
Hari ini, ia yakin sekali, bahwa anak yang terbuahi olehnya hari ini atau hari-hari selanjutnya dalam seminggu ini, akan menjadi anak pertamanya yang berhasil hidup.
28 Oktober 20xx, Seoul
9.16 a.m
Jimin sibuk mengobrak-abrik lemari pakaiannya, terlalu panik memilih pakaian mana yang akan ia kenakan untuk kencan dengan Yoongi hari ini. Seumur hidupnya, ini adalah kencan pertamanya ke taman bermain. Dulu saat ia menjalin hubungan dengan Chanyeol, ia hanya diajak untuk makan bersama ataupun pergi menemani Chanyeol mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Sementara saat ia bersama Namjoon, hampir seluruh waktu mereka dihabiskan di hotel atau di ruangan pribadi Namjoon di kantor. Karena ini adalah kencan layak yang pertama ia rasakan, Jimin tidak mau menyia-nyiakan penampilannya.
Taehyung yang dari tadi melihatnya hanya mondar-mandir di sekitaran ruang laundry dan walk in closet, akhirnya memutuskan untuk bertanya, "Memangnya kau mau kemana hari ini, Jiminnie?"
"Mau pergi."
"Dengan siapa? Ke mana?"
"Rahasia," jawab Jimin pendek.
Taehyung mengangkat alisnya, "Kau tidak mungkin punya pacar, kan?"
"Tidak, aku tidak punya pacar untuk saat ini," kata Jimin. Ia mengambil dua pasang baju dan menunjukkannya pada Taehyung, "Menurutmu lebih baik aku mengenakan yang mana?"
Taehyung menunjuk pakaian yang ada di tangan kanan Jimin, "Atau mungkin ada yang mendekatimu saat ini? Beta? Alpha?"
"Kenapa tiba-tiba kau jadi penasaran dengan kehidupanku, huh?"
"Soalnya kita ini teman satu asrama! Dan kenapa kau harus menyembunyikan segala soal kehidupanmu padaku?" tanya Taehyung frustasi.
Jimin hanya mendorong temannya itu keluar kamarnya dan menutup pintu kamarnya—menghiraukan Taehyung yang merasa terkhianati oleh Jimin.
Beberapa menit kemudian Taehyung menggedor-gedor pintu kamarnya dengan tidak sabaran.
"Jiminnie, buka pintunya!"
"Kau ini kenapa, sih?! Aku sedang ganti baju!"
"Ada Yoongi-sunbaenim di depan apartemen, dia bawa mobil dan terlihat sedang menunggu di depan," kata Taehyung, wajahnya terlihat bingung—membuat Jimin mendengus menahan tawanya. "Jangan bilang teman kencanmu ini dia?"
Jimin hanya mengendikkan bahu, "Sudah ya, aku masih belum selesai ganti baju."
Taehyung memekik frutasi di balik pintu.
"Kookie! Kau ajak aku juga berkencan! Sekarang!"
28 Oktober 20xx, Seoul
9.30 a.m
Yoongi datang tepat pukul setengah sepuluh. Sesampainya ia di tempat parkir, ia mengirimi pesan pada Jimin—menyatakan bahwa dirinya sudah berada di depan apartemennya.
Semalaman ia tidak bisa tidur karena sibuk mengomposisikan lagu ketiganya untuk BTS di apartemennya. Ia juga harus seharian asistensi dan berdiskusi dengan Zhoumi dan Namjoon (untuk atasannya ini ia harus menggunakan aplikasi Skype karena Alpha tersebut sudah mengumumkan bahwa ia tidak akan masuk selama delapan hari ke depan dari hari Kamis lalu). Tetapi ia patut berbangga diri karena setelah tidur hanya 3 jam lamanya, ia dihadiahi ingatan bahwa hari ini ia akan berkencan dengan Jimin. Yoongi menyematkan kedua tangannya ke saku jaket dan memejamkan matanya, menyempatkan diri untuk tidur sambil berdiri sampai Jimin selesai mempersiapkan diri.
"Hyung, kau tidur?"
Tubuh Yoongi nyaris jatuh dengan posisi setengah miring ke depan. Ia buru-buru menoleh ke asal suara itu dan melihat Jimin memandanginya dengan wajah geli, "Oh, sudah siap?"
"Kalau aku tidak siap, apa kita tidak perlu jalan hari ini?"
Yoongi tahu bahwa ia menanyakan pertanyaan yang bodoh—karena ia terpana melihat penampilan Jimin hari ini. Rambut blonde keritingnya ia biarkan mengembang, kedua pipinya merah karena udara dingin. Omega itu mengenakan sweater berwarna putih yang besar, dengan lengan panjang yang menutupi kedua tangan mungilnya, dan di atas sweater ia mengenakan lagi ponco berwarna krem. Kakinya dibungkus dengan celana jins bolong dan chelsea boots berwarna coklat tua.
Entah berapa kali Jimin sudah membuatnya meleleh seperti lilin.
"Kau cantik. Seperti peri."
Jimin memerah, "Aku ini malaikat! Bukan peri!" Yoongi mendengus menahan gelak tawanya melihat reaksi Jimin yang berusaha menahan dirinya agar tidak terlihat tersipu-sipu dengan ucapan blak-blakan Alpha tersebut.
Ia langsung membukakan pintu untuk Jimin layaknya seorang Alpha yang perhatian, dan mereka pergi ke Seoul Raendeu tanpa perasaan canggung seperti pada awal pertemuan mereka.
28 Oktober 20xx, Seoul
10.32 a.m
Seoul Raendeu penuh dengan manusia-manusia—Alpha, Beta, Omega—dari anak-anak hingga orang tua pada hari itu. Tetapi Yoongi dan Jimin berhasil menjadi orang-orang beruntung untuk tidak perlu mengantri karena mereka menjadi pengunjung ke satu juta (secara teknisnya hanya Yoongi, tapi kemudian ia membeli tiket VIP untuk Jimin).
Mereka mencoba beberapa wahana, dimulai dari wahana yang menurut mereka paling ringan untuk dicoba. Sesekali Jimin mengeluh—menyatakan bahwa dirinya takut untuk mencoba wahana yang lebih ekstrem. Omega itu merengkuh tangan Yoongi setiap kali mereka mengantri wahana-wahana ekstrem (Yoongi tidak memprotes saat Jimin menggenggam tangannya terlalu kuat—justru ia menikmati saat-saat itu). Tetapi setiap kali mereka mencoba wahana-wahana tersebut, justru Jimin terlihat yang paling menikmati di antara keduanya. Bahkan ia tidak bisa berhenti mengoceh bahwa ia ingin mengendarai lagi wahana Double Loop Coaster, yang langsung Yoongi hentikan dengan membawanya ke wahana selanjutnya. Alpha tersebut tidak menyesali keputusannya mengajak Jimin ke tempat ini—menyukai reaksi Jimin setiap kali mereka mencoba wahana-wahana di Seoul Land.
Kencan ketiga, sukses.
Jam 2 siang, mereka memutuskan untuk pergi mencari makan. Yoongi mentraktir Jimin makan di sebuah restoran masakan Korea, dan mereka mengobrol dengan santai.
Jimin menceritakan keluarganya yang tinggal di Daegu, adik laki-lakinya yang mengidolakan Chanyeol—Alpha Jimin sebelumnya yang pergi meninggalkannya tanpa kabar untuk debut di Seoul—dan pengalamannya mengambil les balet dari ia SMP sampai kelas 2 SMA (Pantas gerakannya terlalu bagus untuk seorang rookie, batin Yoongi). Yoongi hanya diam mengamati selama Jimin bercerita, hanya beberapa kali membuka mulut untuk menanggapi cerita Jimin dan sesekali hanya samar-samar bercerita tentang ayahnya yang menentang keputusannya pergi ke Seoul untuk memulai karir sebagai rapper dan produser musik.
"Keluargamu sama sekali tidak menyetujuimu cita-citamu?" tanya Jimin agak kaget mendengar penjelasan mengenai kehidupannya langsung dari dirinya.
Yoongi mengangkat bahunya, "Appaku berpikir, bahwa menjadi rapper dan produser musik tidak akan menjamin keberlangsungan hidupku. Ia juga berharap bahwa aku akan seperti Hyungku, menjadi pegawai kantoran dan hidup membosankan."
"Jeong mal yo? Daebak!" Jimin menatap Yoongi dengan takjub, "Maksudku, pasti keluargamu saat ini bangga setelah melihatmu di TV—menerima penghargaan sebulan yang lalu!"
"Sejujurnya aku berusaha menghubungi mereka beberapa saat lalu," aku Yoongi, "Tapi sepertinya mereka masih belum mau memaafkanku. Hanya Hyung yang beberapa kali menelepon balik dan memberitahuku keadaan Appa dan Eomma di rumah."
Jimin menjilat bibirnya, terlihat ingin menanggapi cerita Yoongi, tapi terlalu ragu untuk melakukannya. Yoongi mengapresiasi hal itu dan hanya mencubit pipi Jimin dengan gemas, "Kau tidak perlu khawatir. Cepat atau lambat Appaku akan mengerti. Dia hanya keras kepala untuk kebahagiaan putranya sebagai seorang Alpha."
Setelah Yoongi membayar tagihan makanan mereka, keduanya melanjutkan ke wahana yang lebih ringan—agar tidak mengocok perut mereka yang baru diisi makanan. Tetapi Jimin—namja manis itu tidak tahan melihat penjual es krim di dekat antrian wahana yang ingin mereka coba. Ia langsung menghampiri gerobak es krim tersebut dan memesan dua scoop es krim strawberry dan coklat. Karena terlalu malas untuk memesan, Yoongi tanpa izin langsung mencuri satu gigitan dari es krim Jimin—menuai protes dari Omega yang wajahnya memerah itu.
"Wae yo? Kenapa kau marah-marah? Aku hanya minta satu gigitan!"
"Setidaknya kau bisa izin!"
Yoongi hanya menjawab dengan tawanya. Ia segera menarik tangan Jimin untuk mengantri di wahana selanjutnya—sampai ia merasakan Jimin tetap bertahan di posisinya. Yoongi menoleh untuk melihat sesuatu yang membuat Jimin menahan tubuhnya agar tidak tertarik olehnya. Dahinya mengerut melihat sosok tinggi berkacamata hitam dan mengenakan bucket hat berwarna abu-abu tua. Ia mencium aroma nilam yang kuat dari sosok tinggi tersebut.
Alpha.
"Jimin-ah?"
"Yeollie?"
Yoongi langsung mengira bahwa sosok di depannya ini tidaklah asing—dan Jimin mengenalnya begitu dekat. Saat sosok Alpha tersebut menurunkan kacamata hitamnya, ia langsung menyadari bahwa sosok di depannya ini adalah Park Chanyeol, anggota boyband nomor 1 di Korea Selatan, EXO.
"Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini..." kata Chanyeol memperhatikan Jimin dengan seksama, matanya tidak beralih dari wajah Omega tersebut, "Kau—kau terlihat berbeda. Bagaimana kabarmu?"
Jimin menjawab dengan canggung, "Baik, kurasa."
"Chanyeollie!" sebuah suara memecah dari dekat mereka. Seorang Omega—dari aromanya yang seperti lavender—menghampiri Chanyeol dan menarik lengannya dengan lembut. "Kau mau ke mana? Aku mencari—oh."
Jimin membungkukkan tubuhnya ke arah Omega itu, "Baekhyun-Sunbaenim."
"Oh, aku tahu kau! Kau 'kan idol yang akan debut November nanti, kan?" ia melihat ke arah Chanyeol, "Kalian saling mengenal?"
"Ya, sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu," jawab Chanyeol sambil tersenyum ke arah Jimin. "Kalau begitu, sampai nanti, Jimin-ah." Ia memakai kacamatanya kembali dan tersenyum penuh arti pada Yoongi—membuat Alpha yang bertubuh lebih mungil itu nyaris mengejar dan menendang bokong Chanyeol karena geram. Tetapi Chanyeol sudah pergi menghilang di antara keramaian dengan tangannya merangkul mesra pinggul Baekhyun—sesama anggotanya yang seorang Omega.
"Alpha itu—" Yoongi menahan napasnya dengan kesal, "Wajahnya benar-benar minta aku hajar."
Jimin menarik lengan Yoongi, "Jangan. Jika kau benar-benar memukulnya, nanti akan ada berita yang bisa menyudutkanmu."
"Aku tidak peduli! Wajahnya itu sungguh menyebalkan! Kau tidak lihat bagaimana dia melihatku? Dan bagaimana caranya melihatmu?!"
Jimin hanya tergelak mendengar Yoongi yang entah mengapa untuk pertama kalinya, meledak di hadapannya, "Hyung! Dia sudah punya pasangan! Kau tidak bisa lihat dia bersama Baekhyun-Sunbaenim tadi?"
"Bagaimana kalau dia tergoda untuk menyelingkuhi Omeganya dengan Omega sepertimu? Kau akan membuat rekor berselingkuh dengan dua orang Alpha terkenal di Korea Selatan!"
Jimin menendang kaki Yoongi dengan gemas, "Diamlah! Aku kira kau tidak mau membahas soal Namjoon-sajangnim lagi! Sekarang aku ingin kita mencari suvenir saja! Moodku jadi turun setelah bertemu dengannya tadi." Ia mendorong tubuh Yoongi ke arah area penjualan suvenir.
Yoongi hanya bisa mengikuti keinginan Jimin dengan rasa kesal masih melekat bertemu dengan Alpha tadi. Ia yakin sekali Chanyeol terpikat dengan Jimin—dan jelas-jelas ekspresi wajahnya seperti hendak main mata dengan Jimin! Yoongi tiba-tiba berpikir seandainya saja ia lebih tinggi dari Alpha tersebut—bisa menunjukkan bahwa dirinya memang lebih dominan daripada Chanyeol.
Matanya kemudian memperhatikan bahwa ia sudah berada di dalam toko suvenir. Jimin menariknya untuk mengikutinya ke gang-gang kecil yang dibentuk oleh rak-rak berisi berbagai macam barang. Mata Jimin mencari-cari barang yang dapat menarik perhatiannya. Omega itu mengambil sebuah boneka berukuran hampir setengah ukuran tubuhnya—boneka yang Yoongi kenali sebagai karakter dari salah satu tokoh di anime One Piece.
"Aku tidak menyangka kalau di sini akan ada yang menjual karakter Chopper," katanya setengah bergumam.
"Kau mau membelinya?" tanya Yoongi mengamati boneka tersebut. "Ah, jika dipikir-pikir aku tidak pernah tahu tanggal ulang tahunmu, ya?"
"Tanggal ulangtahunku sudah lewat, sayangnya, jika kau ingin membelikanku hadiah."
"Aku bahkan tidak terpikir untuk memberimu hadiah saat ulang tahun," balas Yoongi mengangkat alisnya. "Memangnya kapan kau ulang tahun? Juli? Agustus?"
"13 Oktober."
"Tiga be—," Yoongi nyaris menabrak lemari di belakangnya dengan siku, "Lima belas hari yang lalu?"
"Ne. Memangnya kau sendiri berulang tahun kapan?"
Yoongi seperti tidak mendengar pertanyaan Jimin dan berkata, "Menurutmu, benda ini bagaimana?"
Jimin mengangkat alisnya, "Eo? Hmm, mungkin cocok untuk kutaruh sebagai hiasan tempat tidur."
"Kau mau barang ini?"
"Hmm—sepertinya ya, tapi kurasa—"
Yoongi langsung merebut boneka tersebut dari tangan Jimin dan membawanya ke kasir. Jimin langsung mengikutinya dengan sikap panik.
"HYUNG! Kau tidak perlu—"
Terdengar suara mesin kasir. Yoongi terkekeh penuh kemenangan pada Jimin, "Aku sudah membelikannya untukmu. Sembilan Maret," kata Yoongi puas sambil menyerahkan kantung belanjaan pada Omega itu, "Kau tidak boleh lupa untuk membelikanku hadiah."
Wajah Jimin memerah dan ia menepuk punggung Yoongi, "Memangnya siapa sih yang setuju kalau kita bertukaran hadiah?"
"Percuma saja untuk kau tidak setuju. Kau harus membelikanku hadiah, atau tidak kau bisa memberikan boneka ini padaku."
Jimin memeluk kantung belanjaan berisi boneka Chopper dengan erat, "Tidak mau!" gumamnya malu-malu, "Kalau begitu—sembilan Maret. Baiklah..."
Kasir yang daritadi mengamati mereka, memandang dengan wajah agak canggung dan berkata, "Sillyehamnida," katanya canggung, "Ada pengunjung lain yang ingin membayar di belakang kalian."
Jimin dengan malu dan sikap canggung yang sama langsung menghindar dari pengunjung Beta wanita yang dari tadi menunggu di belakangnya. Dengan cepat ia mengikuti Yoongi yang sudah berjalan keluar toko.
Alpha berambut hitam itu mengamati jam tangannya, pukul empat lewat sepuluh. Sebelum Alpha tersebut mengakhiri acara kencan mereka hari ini, ia membawa Jimin naik Ferris Wheel, mengajaknya untuk melihat taman hiburan dari atas. Satu kali Jimin memintanya untuk mengambil fotonya di Ferris Wheel, dan satu kali lagi untuk Yoongi meminta Jimin foto selca berdua dengannya. Omega tersebut awalnya mati-matian menolak, tapi kemudian ia mengalah saat Yoongi merangkul pinggangnya dengan hangat.
Sebelum kapsul yang membawa mereka mulai menjatuhkan diri ke bawah, Jimin berkata dengan sikap agak canggung dan malu-malu, "Kencan yang keempat—" katanya sambil melirik ke luar jendela, "Kurasa aku yang tentukan di mana ya?"
"Kencan keempat—" Yoongi menarik napas.
"Ya. Atau ini jadi kencan terakhir kita?"
"Eo? Kenapa tahu-tahu kau—ah! Ya, kau yang tentukan, oke?" Alpha itu kini tersenyum lebar dan berusaha menahan dirinya agar tidak melompat kegirangan.
"Ngomong-ngomong, tanggal 3 November nanti akan ada pesta Halloween di kantor. Kau berniat ikut?"
"Aigoo—! Aku berencana untuk cuti dan tidur seharian di apartemen sepertinya..."
"Hyung!"
"Yeah, yeah, aku ikut."
Jimin hendak menarik lengan Alpha tersebut tetapi kemudian mengurungkannya. Dilihatnya Yoongi masih memasang wajah bahagianya—dan Jimin merasakan wajahnya juga ikut tersenyum.
Jika saja aku bertemu dengannya sejak dulu... Sebelum bertemu Namjoon-sajangnim, dan sebelum bertemu Yeollie...
28 Oktober 20xx, Seoul
5.31 p.m
Namjoon melangkah keluar dari shower; lalu mengeringkan tubuh dan kepalanya sambil memperhatikan bagian belakang punggungnya. Ada bekas cakaran berwarna merah di sekitaran punggungnya—bekas yang ditinggalkan Seokjin saat sore tadi mereka berhubungan seks. Omega itu kini duduk di dekat kepala tempat tidur mereka, wajah dan tubuhnya masih memerah setelah mereka melakukan seks sebanyak dua kali hari ini.
Begitu ia menangkap Namjoon sedang memperhatikannya, Seokjin tersenyum—membuat jantung Namjoon nyaris melompat dari mulutnya. Sudah lama sekali ia tidak melihat Omeganya secantik ini—lebih cantik dari Omega manapun yang pernah ia lihat termasuk Jimin. Ia berjalan mendekati Seokjin dan memberinya kecupan di hidung.
"Kau mau mandi?"
"Ya, sebentar lagi," sahut Seokjin. Tangannya menyentuh perutnya, "Jika kita benar-benar berhasil membuat anak, aku tidak akan mengizinkannya mendengarkan lagumu yang berjudul Expensive Omega, oke?"
Kaki Namjoon terantuk permukaan parquet. Ia mengerang kesakitan memegangi kakinya, sementara Seokjin dengan khawatir menyentuh punggungnya yang penuh bekas cakaran. "Aku juga tidak pernah berharap kau menemukanku pernah membuat lagu seperti itu."
Seokjin tertawa dan memeluk tubuh Namjoon, "Saranghaeng—Alpha. Aku berharap kau bisa menjadi Appa yang baik bagi anak kita nanti."
Namjoon membalas pelukan istrinya, "Sudah pasti."
Seokjin melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ruang shower, meninggalkan Namjoon terduduk di atas permukaan lantai. Setelah yakin Seokjin telah masuk ke sana, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dilihatnya pesan dari Jackson dan beberapa bawahannya, serta satu buah pesan dari Yoongi. Ia membalas pesan tersebut satu persatu dan terhenti saat melihat gambar profil Yoongi.
Fotonya berdua dengan Jimin.
Namjoon butuh beberapa menit untuk mengumpulkan pikirannya kembali dan membalas pesan Yoongi dengan singkat.
Sesaat ia merasa lega.
Dan sesaat kemudian ia merasa marah.
Min Yoongi.
28 Oktober 20xx, Seoul
5.52 p.m
Kali ini bukan hanya Taehyung yang menungguinya dengan rasa penasaran, tapi juga Jungkook. Keduanya sudah berdiri di depan begitu Jimin membuka pintu apartemen—dengan tampang menghakimi dan rasa menuntut ingin tahu.
"Bagaimana kencanmu dengan Yoongi-sunbaenim, Hyung?" tanya Jungkook dengan senyuman kelinci khasnya—yang justru saat ini bukannya terlihat lucu bagi Jimin, tapi malah kelihatan iseng dan menyebalkan. Entah sampai kapan, Jungkook akan benar-benar terlihat sebagai Alpha yang dewasa di matanya.
"Kalian menungguiku hanya untuk menanyakan tentang itu?" Jimin berjalan menuju kamarnya melewati kedua orang yang lebih muda darinya itu.
"Jadi benar kau kencan dengan Yoongi-sunbaenim?"
Taehyung menarik tas belanjaan Jimin dan melihat di dalamnya, "Wah, lihat ini! Daebak! Ini 'kan boneka Chopper dari One Piece! Kenapa kau tidak membelikan yang versi Brook untukku?"
"Mana mungkin aku membelikannya untukmu jika aku sendiri dibelikan oleh orang lain?" sahut Jimin kesal sambil mengambil paksa tas belanjaannya.
"Tapi kesepakatan kita bersama dengan Kim Namjoon-sajangnim kan—"
"Memangnya hubunganmu dengan Jungkook-ah diperbolehkan oleh NJE-C?"
"Mwoya?! Kami tidak—"
"Kalian cepat tidur, jika tidak aku akan membunuh kalian semua kalau kesiangan besok!"
Jimin menendang kedua temannya itu satu persatu dan langsung berlindung di balik kamarnya. Ia tidak peduli jika Taehyung dan Jungkook mengetahui hubungannya dengan Yoongi. Bukankah lebih baik jika orang-orang justru tahu hubungannya dengan Yoongi daripada jika ia ketahuan menjadi selingkuhan Namjoon selama 2 tahun? Dan lagi, ini adalah hubungan pertamanya yang ia lewatkan tanpa melakukan seks di hari ketiga ia mengenal pasangannya. Yah, bukan berarti ia sudah resmi menjalin hubungan dengan Yoongi sih, tapi...
Jimin membuka tas belanjaannya dan mengeluarkan boneka Chopper dari sana. Ia memeluk boneka tersebut erat-erat sebelum akhirnya melemparkan diri ke atas tempat tidur. Kepalanya terbenam ke boneka. Setelah kencan keempat yang mendatang, mungkin mereka akan pergi ke kencan yang kelima, keenam, dan seterusnya. Lebih banyak daripada saat ia bersama Chanyeol atau bahkan Namjoon.
Mata namja Omega itu melirik ke botol berisikan pil-pil penunda heat—yang sebulan lalu ia lupa minum—dan hampir saja ia berhubungan dengan Namjoon saat ia sedang heat bulan itu. Jika tidak, kemungkinan besar ia akan hamil.
Setidaknya dia sedang membuat anak saat ini dengan istrinya, kan?
Dengan mood agak turun, Jimin beranjak ke arah kalendar dan melihat tanda merah bulat di depannya. Tanggal 3 November—tepat hari perayaan Halloween di kantor, bersamaan juga dengan waktu heatnya. Jimin meraih botol bening berisi pil-pil di atas meja dan mengambil satu, dan menegaknya dengan air botol minum yang sengaja ia tinggalkan di dalam kamar.
Masih terlalu cepat untuknya mengalami heat bersama dengan Yoongi.
Eh? Kenapa malah ia memikirkan Yoongi lagi?
Dan kenapa ia malah memikirkan untuk melewatkan heat bersama Yoongi?
TBC
Catatan penulis: Chapter 3 done! Dan akhirnya Jimin ketemu lagi dengan api lamanya, mwahaha!
Terimakasih bagi yang sudah mengikuti cerita ini! Sampai jumpa di chapter 4!
