Masih sedikit emo, tapi kadarnya sudah berkurang –halah- Makasih banget buat yang sudah mereview chapter 1 & 2; evey charen, ifkiwi, uci-chan, TheIceBlossom, Dilaaaaa, Dilia-chan, Rie_teuk dan Alegre541. –bowed- Reviewnya benar-benar penyemangat, deh. ^^

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto; Silently © Harlem Yu

Warning : AU, timeskip, boring, gak jelas.. =_='

.

.

Lucu, kalau aku ingat-ingat lagi sekarang; seorang—mantan—murid SMP bertengkar dengan seorang anak SD di tengah jalan. Aku masih ingat bagaimana ia meneriakiku dan aku membalasnya dengan makian yang kalau bisa ingin kulupakan saja. Dia menyebutku tolol, pengecut dan segala macam yang membuatku semakin marah, dan aku ingat nyaris memukulnya saat itu juga. Berbeda dengan kebanyakan anak perempuan seusianya yang pasti langsung kabur kalau berhadapan denganku yang hilang kendali seperti itu, dia sangat berani.

Pertemuan kami tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Entah bagaimana kami selalu bertemu secara kebetulan di saat-saat tidak tepat—setidaknya itu menurutku saat itu. Aku melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali setelah di jembatan itu, dan gadis kecil itu selalu menemukan dan menghentikanku di saat terakhir. Aku sangat ingin membencinya karena alasan itu. Sungguh. Tapi entah mengapa… aku tak bisa membencinya.

"Kenapa kamu melakukan itu?" tuntutku suatu hari. "Kenapa kamu mau campuri urusanku, padahal kamu enggak kenal aku?"

"Karena aku enggak suka orang pengecut," sahutnya sederhana. "Okaachan bilang padaku, bunuh diri itu enggak baik. Kamu kan sudah besar, lebih besar dari aku, masa' enggak tahu yang begitu?"

Aku mendengus. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Oniisan, satu-satunya keluargaku sudah meninggal."

Saat itu dia terdiam. Hanya menatapku dengan matanya yang biru bulat. "Otouchan dan Okaachanku juga sudah enggak ada," ujarnya kemudian. Itulah kali pertama aku mendengar suaranya yang cempreng itu berubah lirih. Mata birunya beralih, menerawang. "Otouchan meninggal waktu aku masih bayi dan Okaachan juga meninggal beberapa minggu yang lalu karena kecelakaan sehabis mengantarku ke sekolah. Sepedanya ditabrak mobil. Aku juga enggak punya siapa-siapa sekarang. Sama kaya' kamu…"

Aku begitu terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat.

"Tapi Okaachan pernah bilang padaku, kalau orang yang kita sayangi, walaupun sudah meninggal, mereka enggak benar-benar pergi. Mereka tetap ada di dekat kita untuk perhatiin kita. Mereka ada di sini." Dia mengulurkan sebelah tangannya yang kecil padaku dan menyentuh dadaku, sementara yang sebelah lagi diletakkannya di atas dadanya. "Otouchan dan Okaachan… Oniisan kamu juga pasti begitu. Dia terus perhatiin kamu. Tapi kalau dia lihat kamu begitu, dia bisa sedih."

Mengherankan betapa kata-katanya yang begitu polos merasuk dengan mudahnya ke kepalaku saat itu, dan aku langsung menyadari bahwa yang dikatakannya mungkin benar. Meskipun tentu saja, aku tidak ingin mengakuinya di depan gadis kecil itu.

"Yang benar saja. Mana ada yang seperti itu!"

Aku berlari pergi –dan kemudian mendapati diriku terus memikirkan kata-katanya.

Oniisan… Kalau kau memang sedang memperhatikanku, beritahu aku, apa yang harus kulakukan sekarang? Kesepian ini terasa amat sangat menyiksaku…

Tapi gadis kecil itu juga pasti sangat kesepian. Dia lebih muda dariku dan sudah tidak punya siapa-siapa. Tapi mengapa dia selalu bisa terlihat begitu penuh semangat? Aku selalu bertanya-tanya dalam hati.—Dan sejak saat itu, aku mengikutinya.

Kedengarannya gila, eh? Yah, anggap saja masa itu aku masih bocah yang agak kurang waras yang berusaha mendapatkan kembali kewarasanku.

Aku kerap menyambangi sekolahnya, sebuah sekolah dasar yang ternyata tidak jauh dari tempatku tinggal. Biasanya dia akan membelalak kaget setiap kali melihatku, tapi tidak berkata apa-apa dan langsung masuk ke dalam kelasnya.

"Kamu ngapain ngikutin aku?" Aku tahu dia akan mengajukan pertanyaan itu suatu saat. Kami sedang berjalan bersama sepulang dia dari sekolahnya. "Teman-teman sekelasku mengira aku pacaran sama anak gede." Gadis itu memajukan bibirnya, tapi pipinya yang penuh itu merona kemerahan.

Aku mengabaikannya. "Kamu bilang, kamu sudah enggak punya siapa-siapa lagi. Tapi kenapa kamu enggak kelihatan sedih?"

Kedua alisnya yang pirang itu terangkat tinggi. Saat berikutnya dia mulai tertawa. "Aku memang enggak punya orangtua, tapi aku punya tetangga. Mereka teman baik orangtuaku dan mereka mengambilku jadi anak mereka."

"Oh…"

"Kalau Oniichan—" sejak kapan dia memanggilku 'Oniichan'? "—pasti juga punya tetangga, bukan? Masa Oniichan tinggalnya di hutan yang enggak ada siapa-siapa." Dia mulai terkekeh-kekeh lagi.

Aku merengut. Tentu saja aku juga punya, tapi aku tidak begitu kenal mereka. Hanya mendiang Oniisan yang akrab dengan mereka. Kalau aku… sejujurnya aku tidak begitu peduli.

"Meskipun cuma tetangga dan enggak ada hubungan saudara, tapi mereka peduli dan sayang sama aku. Mereka ngerawat aku dan kasih aku makan. Dan aku juga punya Oneechan baru. Orangnya cerewet bangeeet…"

Dia mulai berceloteh tentang keluarga barunya sementara pikiranku kembali melayang. Mereka –tetanggaku, seorang nenek dan cucunya yang sudah bekerja—juga peduli padaku, aku menyadari. Mereka berusaha menghiburku, mengantarkan makanan untukku sehingga aku tidak perlu kelaparan di rumah. Tapi aku tidak pernah peduli pada mereka… Semakin memikirkannya, semakin aku menyadari bahwa aku mungkin agak… keterlaluan.

Setelah ini aku harus minta maaf pada Chiyo-baasan dan Sasori-niisan, tekadku saat itu. Pokoknya aku harus bersikap lebih baik pada mereka! Juga tetanggaku yang lain…

Chiyo-baasan terkaget-kaget saat melihatku muncul di depan pintunya sore harinya, tapi dia terlihat sangat senang menerimaku. Kami menikmati kue mochi khas Suna buatannya sembari menunggu Sasori-niisan pulang –dan dia juga sama kagetnya dengan neneknya melihatku ada di rumahnya.

Aneh. Selama ini aku bukanlah orang yang pandai bergaul dengan orang lain. Sekarang aku terkejut sendiri menyadari betapa banyak perubahan yang kurasakan semenjak aku mulai mendekatkan diriku dengan orang-orang di sekitarku. Perasaan tertekan, kesepian dan rasa sakit karena kehilangan satu-satunya ikatan yang amat berharga itu seakan menguap begitu saja saat aku bercengkerama dengan mereka. Kehidupanku keseluruhan juga perlahan membaik. Sasori-niisan membantuku masuk sekolah lagi, dan mendukung sepenuhnya hobiku menggambar dengan menghadiahiku seperangkat alat lukis. Omong-omong, dia sendiri adalah seorang seniman yang sangat terampil membuat boneka tali –aku kerap memanggilnya 'Paman Gepeto' kadang-kadang. "Dan kau Pinokio-nya," balasnya.

Dan Chiyo-baasan sepertinya tidak pernah membiarkanku sendirian sejak saat itu. Dengan berlinang air mata, dia pernah berkata padaku bahwa dia seperti melihat mendiang kakakku, pemuda favoritnya, pada diriku. Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih.

"Baasan, jangan bicara seperti itu," kata Sasori-niisan saat itu, "Lihat. Baasan membuat Sai kebingungan. Dan kenapa Shin-kun jadi favoritmu? Bagaimana dengan cucumu ini, Baasan?" Dia berpura-pura sakit hati.

Chiyo-baasan tertawa lucu, lalu mencium pipi cucunya itu penuh sayang. "Tentu saja kau adalah favoritku yang nomor satu, Sasori…"

Melihat pemandangan itu, membuat perasaanku menghangat. Tiba-tiba saja aku ingin sekali memiliki keluargaku sendiri. Seperti halnya mereka berdua. Diam-diam aku berharap ada seseorang di luar sana yang mau mengadopsiku suatu hari, seperti gadis kecil itu. Tapi mana ada yang mau mengadopsi anak sebesar aku? Pikirku.

Maka kupendam saja keinginan konyol itu dalam hati dan berusaha tidak mengingatnya lagi. Dari pada membuatku kecewa. Benar, kan?

"Arigatou…" ucapku saat aku bertemu dengan gadis kecilku lagi saat pulang sekolah. Yah, kali itu bukan hanya dia yang pulang sekolah, tapi aku juga. Dan kami berjalan di bawah naungan pohon maple yang daunnya memerah di musim gugur saat itu.

"Nande?" mata birunya menatapku bertanya. Jemari kecilnya menyelipkan poni pirangnya yang tertiup angin ke belakang telinganya.

Aku menelan ludah dengan susah payah dan tiba-tiba saja aku merasa gugup. Saat itu aku baru menyadari betapa cantiknya dia.

"Aa.. tidak ada apa-apa," sahutku sambil memalingkan wajah. Aku tidak mau dia melihat wajahku yang merona. Itu memalukan!

"Ah, lihat, Oniichan!" Kurasakan tangannya menarik-narik lengan kemejaku. Aku menoleh dan melihatnya sedang menunjuk sebuah gerobak penjual es krim di ujung jalan. "Untuk merayakan Oniichan yang masuk sekolah lagi, gimana kalau aku mentraktirmu makan es krim? Aku punya…" dia merogoh-rogoh saku rok lipitnya, mengeluarkan beberapa keping uang receh dan menghitungnya. Senyumnya sedikit memudar karena kecewa setelahnya, lalu dia memandangku. "Oniichan enggak keberatan kan kalau cuma es loli lemon?"

Refleks aku menggeleng. Dia tersenyum, kemudian berbalik berlari menuju gerobak itu. Namun belum sampai dia di sana, kakinya terantuk batu di tanah dan dia tersungkur jatuh.

"Tidak apa-apa, Oniichan!" serunya padaku seraya melompat bangun lagi sebelum aku sempat bereaksi apa-apa. Dia tersenyum lebar dan bergegas menghampiri gerobak itu untuk membeli dua batang es loli lemon yang murah untuk kami berdua.

"Seharusnya aku yang mentraktirmu," ujarku seraya menerima es loli yang diulurkannya padaku dan menggigit ujungnya. "Arigatou. Ini sangat enak."

Dia hanya meringis, lalu menggigit esnya sendiri. Mendadak wajahnya mengernyit seperti menahan sakit. Rupanya kakinya terluka. Darah mengalir dari luka di lututnya ke kaus kakinya, membuat bagian atas kain putih itu menjadi merah gelap.

"Kamu luka!" seruku terkejut. Aku mendorongnya duduk di bangku taman terdekat yang bisa kami temukan. Dia pasrah saja ketika aku mulai membersihkan lukanya dengan sapu tanganku dan membebatnya untuk menghentikan perdarahannya.

Saat aku mendongak, aku mendapatinya sedang tersenyum padaku. Senyumnya manis. Manis… sekali. Seperti rasa es loli yang sejak tadi kukulum di mulut sementara kedua tanganku sibuk membebat kakinya.

"Arigatou, Oniichan…" ucapnya lembut. Gadis kecilku tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya, menyeka lelehan es di daguku. Dan aku hanya bisa terpaku di tempatku seperti orang bodoh.

Oniisan… Apakah dia adalah malaikat yang kau kirimkan untuk menyelamatkanku dari kegelapan? Kurasa aku telah menemukan ikatan lain yang berharga dalam diri gadis kecil ini, Shin-niisan. Tidak apa, kan?

.

.

What's hidden in the air?
There's a hint of romantic feeling
I'm looking at you secretly
You're also secretly looking at me

.

.

THE DISTANCE

Bab 3 : Déjà vu

.

.

"Bukankah katamu kau sedang tidak enak badan? Kenapa pakai acara berenang di danau segala, sih? Mendokuse!" Shikamaru terus saja mengoceh, menatapku tak senang.

Aku hanya bisa meringis menatap Shikamaru yang duduk di sisi ranjang. "Gomen…" gumamku.

Saat itu adalah malam harinya setelah aksi heroik –atau aksi bodoh?—yang kulakukan di danau. Tentu saja aku tidak menceritakan pada Shikamaru maupun Chouji kejadian yang sebenarnya, bahwa aku telah menyelamatkan seorang gadis yang nyaris tenggelam. Gadis yang sebelumnya telah –ehm- kuintip. Bisa-bisa mereka berpikir yang tidak-tidak. Tapi aku tidak menyesal melakukannya. Maksudku, dengan menyelamatkan gadis itu, aku jadi tahu ada gadis cantik yang tinggal di desa. Ha ha…

Meskipun itu harus dibayar dengan kondisi tubuhku yang mendadak drop. Suhu tubuhku meninggi sejak sore dan sekarang aku terkapar tak berdaya di atas ranjang. Sendi-sendi di kakiku terasanya nyeri luar biasa sehingga membuatku nyaris tak bisa jalan. Ah, gejala penyakitku ini memang sangat merepotkan –meminjam istilah Shikamaru- kalau sudah kambuh seperti ini.

"Dadamu sakit?" Shikamaru bertanya kemudian. Kuperhatikan matanya menelusuri bagian dadaku, tempat di mana kaus yang kukenakan bergerak-gerak akibat debaran keras jantungku yang sudah mengalami pembengkakan parahini. Dahinya berkerut.

Aku menggelengkan kepala seraya melempar senyum –yang menurut orang-orang, senyum tanpa ekspresi- seraya menaikkan selimutku lebih tinggi supaya dia berhenti memandangi dadaku. "Tidak."

"Che! Kalau Naruto atau orangtua angkatmu sampai tahu kau begini, mereka bisa memarahi kami dan menyeretmu kembali ke kota. Dikiranya kami tidak becus menjagamu," katanya lagi.

Aku tertawa hambar. "Kalian di sini bukan untuk menjagaku seperti anak kecil, Shika. Jangan terlalu membesar-besarkan begitu. Beberapa hari lagi aku pasti sehat lagi. Seperti biasa."

Pintu kamarku bergeser membuka dan Chouji muncul membawa nampan berisi makanan. "Makan dulu, Sai," katanya. "Kami sudah belikan bubur enak di desa untukmu." Ditaruhnya nampan berisi mangkuk bubur dan segelas air itu di atas meja di samping ranjang.

Demi menghargai jerih payah teman-temanku, aku memaksakan diri makan, meskipun sebenarnya aku sangat tidak berselera. Rasanya pusing dan mual, tapi aku menahan diriku sekuat tenaga untuk makan dan tidak memuntahkan kembali makanan yang sudah kutelan. Shikamaru dan Chouji tetap di kamar selagi aku makan, memastikan aku menghabiskan buburku dan meminum obatku setelahnya.

"Lebih baik kau ke rumah sakit besok, Sai," usul Chouji setelah aku menelan obatku yang banyak itu.

"Tidak perlu," kataku seraya mengembalikan gelas airku ke meja, "Yang seperti ini sih sudah biasa. Nanti juga sembuh sendiri."

"Semakin lama penyakitmu itu sudah semakin sering kambuh, tahu," Shikamaru berkata, "Seharusnya kau tidak bersikeras pindah kemari."

"Kalau aku tidak pindah kemari, kalian mungkin belum mendapatkan tempat untuk tinggal," balasku datar sambil berbaring miring, memunggungi teman-temanku. Sebisa mungkin aku menghindari pembicaraan tentang penyakitku. Mengalaminya saja sudah cukup melelahkan, tidak perlu ditambahi dengan membahasnya terus menerus. "Terimakasih makanannya, Shika, Chouji," gumamku.

Dari belakangku, aku bisa mendengar Shikamaru menghela napas. "Ya sudah. Kau istirahat saja, Sai."

Terdengar suara sandal yang beradu dengan lantai kayu bergerak menjauh, lalu diikuti pintu yang digeser menutup.

.

.

Akhir minggu kulewatkan sendirian saja di rumah. Agak membosankan memang, tapi apa boleh buat. Kiba menunda kepulangannya karena dihadang urusan mendadak dengan pihak editor yang menerbitkan komik yang dia tulis. Yeah, selain pelukis, Kiba juga seorang mangaka. Lumayan untuk tambah-tambah pendapatan, itu yang dikatakannya padaku. Sementara Shikamaru dan Chouji harus ke luar kota untuk urusan pekerjaan dan baru akan kembali besok.

Ah, kalau saja waktu itu sakitku tidak kambuh, barangkali aku bisa berjalan-jalan sedikit dan melihat-lihat desa. Aku sangat tertarik dengan ajakan Lee-san yang meneleponku beberapa waktu yang lalu, dia mengajakku hiking. Tapi aku baru saja sembuh, dan aku tidak mau ambil resiko kondisi tubuhku menurun lagi –lagipula hiking tidak bisa dibilang kegiatan ringan dan pasti akan membuatku kolaps kalau aku nekat ikut. Jadi apa boleh buat. Dengan berat hati aku menolaknya dengan alasan banyak pekerjaan. Lee-san sepertinya agak kecewa.

Lagipula, Naruto, adikku, pernah berkata dia akan datang akhir pekan ini. Dan aku tidak mau dia menemukan rumah dalam keadaan kosong saat dia datang nanti. Maka, untuk membunuh waktu, aku memutuskan untuk memancing di danau. Aku tidak tahu apakah di sana ada ikannya atau tidak, tapi aku tidak akan tahu sebelum aku mencobanya sendiri, kan?

"Kau tidak akan dapat ikan kalau kau memancing di situ," ujar suara seseorang setelah hampir setengah jam aku duduk di dermaga, dengan tangan memegang tongkat pancing.

Serta merta aku menoleh, agak terkejut melihat siapa yang berdiri di belakangku. Sosok semampai seorang wanita muda –atau sebaiknya, kusebut dengan 'gadis' saja—dengan rambut pirang pucat yang disatukan dalam kucir tinggi di belakang kepalanya. Poni miringnya dibiarkan terjatuh menutupi sebelah mata biru aqua-nya. Dia memakai cardigan ungu tua dan dipadu dengan jeans pudar selutut.

"Kau… yang waktu itu?" tanyaku.

Dia meringis, kemudian melakukan gerakan melambai dengan tangannya. Rona kemerahan muncul di kedua pipinya yang putih. "Halo…"

Mau tak mau, aku tersenyum. "Aa.."

"Um… soal yang waktu itu, aku benar-benar minta maaf," ujarnya kemudian. "Aku terlalu kaget dan malu, jadinya langsung kabur begitu saja deh." Dia mengeluarkan tawa gugup, lalu menambahkan, "Dan terimakasih sudah menolongku. Tidak biasanya kakiku kram seperti itu."

"Hn. Tidak apa-apa," sahutku.

Kami terdiam beberapa saat, tidak tahu apa yang harus dikatakan.

"Kau tinggal di rumah putih itu?" tanyanya memecah keheningan yang canggung itu. Kepalanya menoleh ke arah rumahku di belakangnya sekilas sebelum kembali memandangku.

"Ya. Belum lama ini pindah."

Dia mengangguk. "Oh, ya. Kita belum berkenalan. Namaku Yamanaka Ino," ujarnya sambil mengulurkan tangannya, tersenyum.

Kusambut uluran tangannya. "Sai. Namikaze Sai."

"Salam kenal, Namikaze-san!"

"Panggil Sai saja."

"Oke. Sai-kun!"

"Salam kenal untukmu juga, Ino."

Kami bertukar senyum. Pada saat itu, entah mengapa aku seperti pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Senyumnya begitu familier. Dan mata itu… Apa mungkin…?

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku penasaran.

"Eh?" Dia mengangkat alisnya tinggi. Kurasa dia agak bingung.

Aku mendenguskan tawa kecil. Mendadak aku merasa bodoh. Tentu saja itu tidak mungkin. "Tidak apa. Hanya saja kupikir kau mirip dengan seseorang yang kukenal."

"Oh…" dia ikut tertawa. "Apa wajahku begitu pasaran?" guraunya. "Omong-omong, kalau kau mau dapat ikan, sebaiknya kau ke tengah danau dengan perahu. Di sana banyak sekali ikannya. Kalau di sini, sampai mati pun tidak akan dapat."

"Kalau begitu aku harus menunggu sampai mati," aku membalas gurauannya sambil tertawa. "Aku tidak punya perahu." Aku mulai menggulung tali pancingku. "Bagaimana kalau kita ke dalam? Kau mau secangkir teh?" tawarku, yang langsung disambut dengan anggukan kepalanya.

Gadis itu berseru takjub begitu kami melangkahkan masuk ke dalam rumahku. "Selama ini aku hanya melihatnya dari luar saja. Tidak menyangka dalamnya akan secantik ini… dan sangat rapi," ia menambahkan sambil tersenyum padaku.

"Arigatou," ucapku membalas senyumnya. Aku kemudian membawanya ke beranda yang menghadap ke danau, spot nyaman favoritku untuk berkumpul dengan teman-temanku. Di sanalah dia menunggu sementara aku membuatkan teh untuknya.

Beberapa menit berikutnya, kami berdua sudah terlibat dalam obrolan seru. Yah, sebenarnya dialah yang lebih banyak bicara sementara aku hanya mendengarkannya sambil sesekali menanggapi dengan "Benarkah?" atau "Hn," atau "Aa…" lalu tawa ringan memecah di antara kami, seakan kejadian hari sebelumnya yang bisa dibilang sangat memalukan, tidak pernah terjadi. Padahal kami baru saja saling kenal, tapi aku merasa kami sudah seperti teman lama yang bertemu kembali setelah bertahun-tahun, dan kurasa dia juga merasakan hal yang sama denganku, mengingat bagaimana cablaknya dia saat bercerita tentang dirinya.

Dia sudah tinggal di desa ini sejak sepuluh tahun yang lalu bersama ibu dan kakak perempuannya. Mereka membuka usaha toko bunga untuk menyambung hidup, selain mengelola warisan dari kakeknya –ayah dari ibunya- berupa sepetak ladang lavender di pinggir desa. Dia sangat suka berenang dan kerap melakukan hobinya itu di danau saat rumahku masih kosong –kurasa dia akan memikirkan kembali kebiasaan itu setelah kuberitahu bahwa selain aku, ada tiga pria lain yang tinggal di rumah ini—Dia juga senang merangkai bunga dan melukis. Ino ternyata juga adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di universitas tempatku mengajar dan sedang menyelesaikan tugas akhirnya di bawah bimbingan seorang dosen jenius yang galak tapi tampan. Wajahnya bersemu saat menyebutkan itu.

"…dia sangat galak kadang-kadang, dan selalu menuntut segalanya serbasempurna." Dia mengerucutkan bibirnya sedikit, dan aku bisa melihatnya sedikit tertekan. Tapi kemudian seulas senyuman manis segera menggantikan ekspresi cemberut itu. "Tapi dia melakukan itu supaya hasil akhirnya baik, jadi aku tidak bisa protes."

"Kau benar. Tapi orang juga butuh sedikit lebih santai, supaya tidak terlalu stress," kataku.

Dia hanya tertawa menanggapiku dan berkata bahwa dia sepenuhnya tidak keberatan dengan metode dosennya itu. Aku jadi bertanya-tanya sendiri seperti apa gerangan sang dosen yang dibicarakannya, karena sepertinya Ino sangat menyukai orang itu.

"Saat kau berbicara tentang dosenmu itu, kelihatannya dia pria yang benar-benar istimewa," komentarku sambil melempar senyum ringan. Tanpa diduga gadis di depanku itu mendadak tersipu-sipu, membuatku –entah mengapa—merasakan kekecewaan samar yang tak bisa kujelaskan. –Demi Tuhan! Kami baru saja saling kenal. Tidak mungkin kan kalau aku… cemburu?

"Dia memang istimewa," desahnya. Rona samar muncul di wajahnya. Dia berusaha menutupinya dengan menyesap lagi teh chamomile-nya yang tinggal separuh.

Sejenak aku menatap wajahnya dan perasaan familier itu kembali hinggap. Aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya karena aku memang hampir selalu begitu setiap kali berhadapan dengan gadis dengan rambut pirang dan bermata biru. Seperti gadis kecil-ku. Aku tidak ingin dikecewakan lagi untuk kali ini –lagipula aku sudah lama melepas harapan untuk bertemu kembali dengan gadisku dari masa lalu itu. Semenjak aku mengetahui kondisi diriku.

Sayangnya, percakapan kami harus berakhir. Sebuah jeep baru saja memasuki halaman rumah.

Jeep Naruto.

Naruto melompat keluar dari mobil. Dan rupanya dia tidak sendirian. Seorang wanita sangat cantik berambut merah panjang baru saja turun dari sisi sebelahnya. Kushina Namikaze, ibu angkatku.

"Okaasan!" sambutku sambil beranjak, menuruni undakan, menghampiri mereka.

"Sai-kun…" Okaasan memelukku erat-erat. "Astaga… Kenapa kau begitu kurus, Nak?" ujarnya setelah akhirnya melepaskan pelukannya. Sekarang ia memandangku dengan tatapan cemas sementara tangannya meraba lenganku. "Lihat ini. Aduuuh… Kau harus banyak makan!"

Di sebelahnya, Naruto tertawa. "Perasaan dari dulu dia segitu-segitu saja deh, Okaachan. Sai-nii kan tidak bisa gemuk—ittai!" Dia meringis kesakitan saat ibunya mencubitnya di pinggang. "Okaachan! Kenapa senang sekali mencubit pinggangku? Sensitif nih…" protesnya.

Aku dan okaasan tertawa.

"Eeeh… siapa itu?" ibu angkatku bertanya seraya menoleh ke arah undakan samping.

Ino baru saja turun dari undakan dan menghampiri kami, tersenyum manis, menunggu aku memperkenalkannya.

"Ah, Basan, ini Yamanaka Ino. Ino, ini Namikaze Kushina, ibu angkatku dan Namikaze Naruto," ujarku memperkenalkan mereka.

Ino membungkuk sopan. Naruto dan okaasan juga balas membungkuk.

"Um… sebaiknya saya pulang sekarang," kata Ino.

"Lho? Kenapa buru-buru? Jangan pergi gara-gara kami…" kata okaasan.

Ino tersenyum pada ibu angkatku. "Tidak, kok, Obasan. Kebetulan aku ada keperluan lain. Aku permisi dulu." Dengan anggukan sopan terakhir, dia pamit pergi.

"Heee… gadis yang cantik," komentar ibu angkatku sambil menatap punggung gadis itu yang kemudian menghilang di belokan. "Dia pacar barumu, Sai-kun?"

"Ap—A-tidak. Bukan," sahutku sambil tertawa garing. "Dia hanya tetangga yang kebetulan berkunjung."

"Ah, tetangga apa tetangga?" Naruto yang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggodaku langsung menyambar, "Rambutnya juga pirang tuh. Tipemu banget, Sai!"

"Naruto… jangan goda kakakmu terus. Lihat, mukanya sampai merah begitu…"

Ah, okaasan malah ikut-ikutan menggodaku. Benar-benar ibu dan anak yang kompak. Dua lawan satu, tentu saja aku kalah telak. Tidak peduli bagaimana pun aku mengatakan pada mereka bahwa Ino bukan pacarku, tetap saja mereka berhasil membuatku tersudut. Namun aku sudah terbiasa dengan ini, jadi aku hanya tertawa saja.

"Apa pun kata kalian, deh…"

.

.

Aku dan Ino kembali bertemu di kampus beberapa hari kemudian. Tidak bisa dibilang pertemuan yang menyenangkan sebetulnya. Suasana hatinya tampaknya tidak begitu baik saat aku melihatnya di halaman kampus, duduk seorang diri di bangku taman di bawah naungan pohon maple yang rindang. Wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat.

"Ino?" aku menegurnya.

Dia mengangkat wajahnya. "Sai-kun!" balasnya tanpa bisa menutupi keterkejutannya melihatku. "Sedang apa di sini?"

Aku tersenyum sekilas, lalu duduk di sebelahnya. "Ada sedikit urusan," jawabku sekenanya, "Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan sendirian di sini, Ino?"

Ino tidak langsung menjawabku. Gadis itu menghela napas berat seraya menyandarkan punggungnya di sandaran bangku kayu itu. Rupanya dia baru saja selesai berkonsultasi lagi dengan dosennya tentang tugas akhir dan sepertinya tidak berjalan begitu lancar. Benar saja.

"…Sensei memarahiku lagi," dia mulai berkeluh kesah. "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkannya…"

"Bukankah kau pernah mengatakan yang diinginkannya adalah supaya kau mendapatkan hasil terbaik untuk tugas akhirmu?"

Gadis itu menghela napas. "Iya sih… Tapi…"

"Kalau begitu jangan putus asa," ujarku sambil menyunggingkan senyum penghiburan. Kusentuh pundaknya yang ditutupi kemeja oranye cerah. "Kadangkala, jalan menuju sesuatu yang baik itu tidak selalu mulus, Ino. Kau harus melewati berbagai rintangan terlebih dahulu, besar maupun kecil, sampai akhirnya mendapatkan yang kau inginkan. Dulu juga aku sering dimarahi dosenku saat mengerjakan tugas akhir. Anggap saja omelan-omelan itu seperti rintangan kecil, atau… anggap saja dia sedang bernyanyi untukmu dengan melodi yang benar-benar kacau."

Bibirnya tertarik ke atas dan dia mulai mengeluarkan tawa kecil.

"Jangan sampai itu membuatmu kehilangan semangat, Ino. Ganbatte na!"

Dia tersenyum. "Arigatou, Sai-kun…"

Tepat saat itu, seorang penjual es krim keliling bersama gerobaknya lewat di dekat kami.

"Kau mau es krim?" tawarku. "Aku yang traktir. Kata orang, es krim obat paling mujarab untuk membangkitkan bersemangat."

Ino tertawa lagi. "Aku belum pernah dengar yang seperti itu. Tapi aku ingin mencobanya."

Kami beranjak dari bangku tempat kami duduk dan menghampiri gerobak es krim itu.

"Mau yang rasa apa?" Paman penjual es krim itu bertanya pada kami.

"Loli lemon," sahutku dan Ino pada saat yang bersamaan. Aku tersentak, serta merta memandang gadis di sebelahku itu. Dia juga tengah menatapku sama herannya.

"Baiklah," kekeh paman penjual es krim, "Dua loli untuk sepasang kekasih yang kompak."

Kata-katanya kontan saja membuat perhatian kami teralih. Kami berdua langsung ribut membantah, dan hanya ditimpali dengan tawa dari si tukang es krim. Beberapa saat berselang, kami sudah memegang loli lemon kami masing-masing, menikmatinya sambil duduk-duduk di bangku yang kami tempati sebelumnya.

"Lolinya enak sekali. Terimakasih," ucap Ino.

"Sama-sama," sahutku. "Tidak menyangka kau juga suka loli lemon."

Dia tersenyum tipis. "Banyak kenangannya, kurasa," ujarnya sambil menerawang. "Orang yang kusukai dulu juga suka sekali loli lemon. Sekarang pun sepertinya dia masih menyukainya, karena aku pernah melihatnya duduk di sini, membaca buku sambil makan ini." Dia mengangkat lolinya padaku. "Yah, selain tomat dan onigiri, kurasa." Dia tertawa, lalu menggigit lolinya lagi.

"Kenangan, ya? Kedengarannya sangat romantis," komentarku, mengigit loliku dan mengulumnya perlahan, membiarkannya mencair di mulutku.

"Kalau kau? Apa kau juga punya kenangan dengan loli lemon?" Sekarang dia memandangku penasaran.

Aku tidak langsung menjawabnya. Wajah gadis kecilku melintas lagi di kepala ketika aku mengenang kembali saat-saat dulu. Masa yang terlalu berharga untuk dibagi dengan orang lain. Aku mendengus kecil. "Tidak," ujarku kemudian. "Aku hanya… suka saja."

"Oh…"

Aku tersenyum melihat reaksinya. Kurasa dia mengharapkan akan mendengar sesuatu yang lebih romantis. Gadis-gadis muda biasanya kan begitu.

"Baiklah. Aku harus pergi sekarang," kataku kemudian setelah menghabiskan es loli-ku dan membuang tangkai serta bungkusnya ke tempat sampah terdekat. Aku mencangklengkan tas notebook-ku ke bahu dan beranjak. "Sampai kete—"

"Eh, tunggu sebentar," sela Ino tiba-tiba.

Alisku terangkat. "Ada apa?"

Gadis itu nyengir, menunjuk sudut bibirnya. "Ada sesuatu… sebentar…" Tangannya merogoh tas sampirnya dan mengeluarkan selembar kertas tissue dari sana. Dia maju mendekatiku, lalu dengan lembut menyeka bagian itu yang ternyata bernoda cairan dari es loli yang mencair.

Aku hanya bisa terpaku di tempatku seperti orang tolol. Rasanya seperti pernah mengalami ini sebelumnya.

Déjà vu.

.

.

Bersambung

.

.