Teruslah Mencurigaiku
Karena waktu luang yang terbatas, saya cuma bisa menulis bab-bab pendek saja. Saat ini saya sibuk sekali dengan ujian. Setelah ujian tibanya waktu bekerja paruh waktu saat liburan musim panas. Kalau semua berjalan lancar saya bisa pulang ke Indonesia sebentar!
Bagi yang juga ikut ujian, semangat ya! Kerja keras selalu ada imbalannya!
Disclaimer: Sasuke, Sakura, dan Sai milik Masashi Kishimoto.
Selamat memambaca bab ini.
Normal POV.
Sasuke menancap gas, menyalip dan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Beberapa mobil membunyikan klakson mereka dengan marah, tetapi Sasuke tidak mempedulikan hal-hal itu. Ia masih bisa merasakan darahnya mendidih, sebuah suara di dalam pikirannya mengamuk tak karuan. Ia menggenggam setirnya sampai tangannya berwarna pucat. Gambar Sakura yang berlutut di depan Sai yang – ngapain juga dia ada disana? – hanya memakai celana, tidak mau lepas dari kepalanya. Mana istrinya hanya memakai sehelai baju lagi, baju tidurnya!
Sasuke menggeram dan menancap gas lebih banyak lagi. Ia hampir menabrak seorang kakek tua dengan hidung besar yang bermaksud menyeberang zebra cross, ditemani oleh seorang cewek berambut hitam pendek dan seorang lelaki gendut berbadan tinggi. Ia mengabaikan teriakan marah kakek-kakek itu yang kemudian memegang pinggulnya yang kesakitan.
Di jalan raya depan Sasuke ada kemacetan kecil, sehingga ia terpaksa mengerem mendadak. Ia melihat banyak orang berpaling ke arahnya. Tetapi Sasuke tidak memperhatikan hal itu. Ia hanya bisa melihat satu hal, yaitu kejadian tadi yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Ponsel Sasuke berbunyi, Sasuke dengan cepat mengambilnya, berharap itu adalah Sakura yang ingin meminta maaf. Ya, ia ingin Sakura meminta maaf karena telah melukai perasaannya, kalau perlu, ia ingin Sakura memohon ampun. Dan tentang Sai ia akan pikirkan nanti. Ia masih bingung antara mengirim Sai ke rumah sakit untuk setahun, atau membuat wajah tampannya Sai babak belur untuk enam bulan. Hm mungkin tujuh bulan saja.
Tetapi yang menelponnya adalah Karin. Sasuke dengan jengkel menjawab panggilannya.
"Ada apa?"
"Ketus sekali," Karin terdengar heran.
"Cepat bilang!" ujar Sasuke tidak sabar.
"Duh kamu kenapa sih? Ada yang menggambar graffiti pada mobilmu atau tuan Orochimaru bilang kamu bekerja tidak becus?"
"Jauh lebih buruk!" Sasuke melemparkan pandangan bahaya kepada orang yang duduk di dalam mobil di sampingnya, memperhatikannya dengan saksama.
"Apa yang mungkin bisa jadi lebih buruk daripada sesuatu yang terjadi kepada pekerjaanmu atau mobilmu? Yah lupakan saja, tuan Orochimaru lagi nanya kapan kamu pulang, walaupun meeting ditunda, kamu nggak boleh keluyuran katanya," Karin tertawa terkekeh.
"Bilang sama tuan Orochimaru, aku akan tiba lima belas menit lagi. Aku lagi terjebak macet. Dan bilang padanya, kantor bukanlah tempatku pulang!"
"Lho, dulu-dulu kamu nggak pernah protes," Karin menutup telponnya.
Sasuke mendengus kesal. Ia seorang Uchiha, jadi ia bisa bicara semaunya. Tetapi ia tertegun sedikit oleh perkataan Karin tadi. Dulu-dulu kamu nggak pernah protes…
Itu benar, ia merasa sangat nyaman di kantor dulu. Kantor adalah medan pertempurannya. Ia mengejar kesuksesan sedikit demi sedikit. Setiap penghasilan, setiap kontrak yang disetujui, membuatnya merasa menjadi yang terbaik. Dan seorang Uchiha selalu menjadi yang terbaik. Tidak adanya kelas bawah. Dan tidak pernah ada yang namanya pecundang. Ayahnya mengajarinya, bahwa orang yang mengikuti emosinya adalah orang lemah yang akan berakhir sebagai pecundang. Dan para pecundang akan selalu diinjak-injak oleh mereka yang lebih bisa.
Tidak, ia tidak akan pernah menjadi seorang pecundang, walaupun ia harus membunuh emosi yang nyaris membuatnya kehilangan akal sehat. Ia tidak akan bersikap seperti seorang lelaki muda yang merasa cemburu untuk pertama kalinya. Ia akan bersikap dewasa dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sasuke menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Ia yakin ini adalah keputusan terbaik. Lagipula Sakura tidak akan mungkin mau mengkhianatinya. Dari dulu Sakura-lah yang mengejarnya. Ia, Sasuke, walaupun ia juga amat sangat mencintai Sakura, membiarkan gadis itu mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun. Seorang Uchiha selalu bisa mendapatkan segalanya dengan mudah, jadi kenapa ia harus bersusah payah mengejar Sakura balik?
Sakura tidak akan pernah menghkianatinya, tidak akan. Sai tidak selevel dengan diriku, pikir Sasuke.
Sasuke tersenyum sambil menuju gedung pencakar langit yang ada di depannya. Tapi tidak segampang itu ia biarkan Sai lolos dari ini. Ia akan ajari Sai apa artinya menaruh perhatian pada harta karun milik seorang Uchiha.
Sakura POV.
Aku terbangun di bawah gumpalan selimut-selimut. Banyak tisu terpakai yang berserakan di sekelilingku. Melihat itu semua, membuatku teringat kembali akan apa yang terjadi tadi siang.
Telpon – Sasuke – Sai – hujan – baju – Sasuke.
Aku kembali menangis terisak-isak, tetapi tenggorokkanku telah mencapai batasnya. Dengan langkah lemah aku menuju dapur, mengambil air untuk diminum. Hujan masih terdengar di luar, tetapi sebentar lagi matahari akan terbenam. Sebentar lagi Sasuke akan pulang. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Kalau dilihat dari kenyataannya, tidak terjadi apa-apa di antara aku dan Sai. Tetapi aku juga tidak bisa dibilang sepenuhnya tidak bersalah. Walau dengan maksud membantu aku telah berduaan dengan seorang lelaki saat suamiku tidak ada.
Selagi membuat teh aku memikirkan keadaanku. Aku tidak bisa lagi pungkiri bahwa aku sangatlah kesepian. Aku membutuhkan Sasuke, aku menginginkannya bersamaku. Tetapi berhakkah aku meminta hal itu? Jika keinginan egois ini menghalangi impiannya apa aku boleh egois? Tapi bersama dengannya sama artinya dengan kesepian seumur hidup. Dan sebesar apapun rasa cintaku pada Sasuke, aku tidak bisa sepenuhnya mengorbankan diriku untuknya. Hidup kesepian selamanya bukanlah pilihanku.
Jadi daripada melakukan nekat, perceraian adalah jalan keluarnya…?
Aku kembali menangis. Memikirkan kalau harus berpisah dengan Sasuke membuat hatiku seperti disayat. Kalau teringat betapa aku bahagia saat pernikahan kami setahun yang lalu, tak akan kupercaya bahwa aku akan punya pikiran untuk bercerai dengan suamiku.
Tapi apa ada jalan lain…?
Ya ada, dan itu adalah bicara dengan Sasuke. Aku mungkin gagal waktu mencobanya dulu, tetapi aku harus mencoba lagi. Walaupun Sasuke akan mengataiku tidak menghargai dirinya…
Aku mendengar bunyi kunci yang dimasukkan ke lubang kunci. Cepat-cepat aku menghapus air mataku. Untungnya tadi di kamar tidur aku membuang semua tisu-tisu yang terpakai, aku tidak ingin Sasuke tahu bahwa aku menangis sepanjang hari.
Di luar dugaanku, Sasuke terdengar agak ceria.
"Aku pulang!"
Normal POV.
Sasuke meletakkan kunci di atas meja kecil di depan pintu, melepaskan sepatu dan dasinya. Ia mendapati Sakura memandangnya dari balik ambang pintu. Seperti tidak yakin apakah aman untuk berbicara atau mendekat.
Sasuke merintih di dalam hati. Jelas sekali Sakura telah menangis sepanjang hari. Rambut pinknya acak-acakkan. Kedua matanya bengkak dan merah. Ia terlihat pucat dan lebih kurus dalam gaun tidurnya. Sakura yang ia kenal kuat dan ceria, sekarang terlihat sedih dan rapuh.
Sasuke ingin sekali memelukknya. Ingin sekali, tetapi ia tidak bisa membiarkan emosinya mengambil kendali.
"Halo," sapa Sasuke.
"Halo," sapa Sakura balik dengan suara lemah.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sasuke. Ia merasa sedang bersikap seperti orang asing saja.
"Lumayan. Gimana meetingnya hari ini?" Sakura mendekat sedikit.
"Meetingnya ditunda. Tuan Hanzo tidak bisa hadir karena hujan deras membuat jalanan macet total. Kalau begini terus kota bisa sedikit banjir," Sasuke menaruh tas koper kantornya.
Sakura menunduk sedikit, seperti tidak tahu harus bilang apa. Sasuke memperhatikannya dengan saksama tanpa diketahui oleh Sakura yang mengelus lengannya yang kurus, tidak tahu haurs berkata apa.
Banyak emosi yang tiba-tiba membanjiri hati Sasuke. Melihat istrinya lemah dan rapuh, membuatnya ingin mendekap Sakura dekat-dekat. Ingin ia memberi Sakura kekuatan, membuatnya merasa lebih baik. Ini istrinya, sudah jadi tugasnya sebagai suami untuk memberi Sakura rasa cinta dan rasa aman. Tetapi membayangkan dirinya mendekap Sakura, kemudian mencium wajahnya, keningnya, lehernya, membuatnya merasakan sesuatu yang lain. Wajah Sasuke merona merah sedikit. Ini sama sekali bukan saatnya untuk hal-hal seperti itu.
Sakura mengangkat wajahnya.
"Sasuke? Kamu nggak apa-apa?" ia mengangkat tanganya untuk menyentuh kening Sasuke, tetapi tangannya ditepis keras.
"Aku nggak apa-apa. Hanya pusing sedikit. Aku mau mandi, kamu nggak keberatan untuk menghangatkan sesuatu buatku? Mie instan juga boleh," Sasuke beranjak pergi.
"Ya…" jawab Sakura.
"Oh ya," Sasuke berbalik. „Soal tadi siang aku nggak marah. Aku tahu kamu tidak berbuat apa-apa. Jadi nggak usah dipikiran ya?"
Sakura memandangnya dengan heran, tetapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. Sasuke tersenyum sedikit lalu menuju ke kamar mandi atas.
Sakura bingung, tidak tahu apakah ia harus senang atau muram soal ini. Di satu pihak ia senang Sasuke tidak benci kepadanya dan percaya bahwa ia tidak berbuat apa-apa. Di lain pihak ia muram, memikirkan kalau Sasuke bersikap tidak peduli jika Sakura bersama lelaki lain. Ia mengangkat bahu, kemudian memanaskan makan malam buat Sasuke. Nasi dengan ikan goreng. Setelah selesai memasak dan menyiapkan jus tomat, ia mendengar Sasuke keluar dari kamar mandi. Cepat-cepat Sakura menuju ruang tamu, mengambil telpon.
Setelah menekan beberapa nomer, ia menunggu suara Sai yang menjawab panggilannya.
"Halo?"
"Halo? Sai? Ini aku, Sakura."
"Oh Sakura, aku sudah menunggu. Kamu sudah merasa baikkan?"
"Ya," ujar Sakura dengan nada monoton. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu apakah ia sudah merasa baikkan atau tidak.
„Bagus kalau begitu, aku sudah cemas kalau Sasuke berpikiran yang tidak-tidak. Dia pastinya ingin membuat aku babak belur setelah apa yang terjadi, tapi aku tidak akan mebiarkan dia berbuat salah terhadapmu. Apakah dia masih marah?"
"Uhm anu Sai, soal itu. Dia tidak marah sama sekali."
"Tidak marah..? Hm menarik," nada Sai tiba-tiba terdengar jengkel sekali. Sakura tambah bingung.
"Ya Sai, aku menelpon cuma untuk memberitahumu kalau semuanya baik-baik saja. Sasuke bilang ia tidak marah lagi, dan ia sudah tidak memikirkannya. Jadi nggak perlu cemas Sai."
"Lelaki itu benar-benar nggak bisa mengejutkan aku lebih lagi," ujar Sai.
Sakura tidak tahu apa maksud Sai, jadi ia pamit.
"Tunggu sebentar Sakura. Maukah kamu menemuiku besok?"
"Besok?" tanya Sakura heran.
"Ya, begini, ada yang harus aku katakan padamu. Sesuatu yang penting. Kamu mau datang ´kan?"
"Hmm," Sakura berpikir. „Boleh sih, tapi dimana?"
"Gimana kalau di jembatan sungai dekat taman kota?"
Mereka sepakati waktu pertemuannya. Lalu Sai bertanya,"Sasuke lagi dimana?"
"Di kamar atas."
"Ah jadi kamu sedang menelpon di ruang tamu?"
Sakura mengiyakan,"habis aku takut ia akan marah kalau tahu aku sedang menelpon denganmu."
"Ponselmu juga di atas?"
Sakura tambah bingung,"iya tentu saja."
"Kalau begitu selamat malam Sakura," ujar Sai. „Sampai ketemu besok."
"Sampai besok," Sakura menutup telpon sambil bertanya-tanya ada apa dengan semua lelaki hari ini.
Sasuke POV.
Mandi dingin itu berhasil membuat pikiranku reda. Tadi hampir saja aku kehilangan kendali. Hampir saja. Aku mengeringkan rambut hitamku dengan handuk. Kalau aku menghindari Sakura malam ini, aku pasti tidak akan kehilangan kendali. Mungkin aku bisa pura-pura sakit kepala dan bilang aku mau tidur lebih awal-
Ponsel Sakura berbunyi sebentar, pertanda ada SMS yang masuk. Tanpa mencegahi diriku dulu, aku sudah menyambar ponsel pink itu.
SMS dari Sai. Aku menggenggam ponsel itu erat-erat seperti ingin meremukkannya menjadi seratus kepingan tidak berfungsi. Lalu aku mebuka SMS itu.
Aku tidak sabar menemuimu besok siang bunga cantikku. Sulit kubayangkan harus melewati malam ini tanpamu. Sampai besok, dan mimpi indah sakura kecilku.
Aku melototi SMS itu dengan tidak percaya. Seandainya aku punya mata yang bisa berbuat hal-hal mustahil seperti mengeluarkan api yang membakar habis benda-benda yang ingin kuhancurkan sampai berubah menjadi abu, atau mengeluarkan monster besar yang bisa aku kirim untuk mencincang bajing** itu, sudah aku lakukan detik ini juga.
Tetapi aku teringat motoku yang paling penting, yaitu jangan terbawa oleh emosi. Pertama aku harus tenang, lalu aku harus pikirkan solusinya.
Aku menaruh ponsel Sakura di atas selimut sambil kembali mengeringkan rambutku. Hm, jadi benar ada sesuatu di antara mereka. Berani-beraninya Sakura berbuat begitu terhadapku saat aku kerja keras buat kami. Apakah hal itu nggak cukup buatnya? Lagipula Sai punya apa yang aku tidak punya? Dibanding denganku, Sai itu nggak ada apa-apanya. Di hanyalah cacing lemah yang bisa aku injak kapan saja. Tapi tidak secepat itu. Pertama-tama aku harus menangkap basah mereka berdua. Kalau hanya SMS begini, belum cukup untuk membuat mereka terkejut. Harus aku dapati mereka di saat yang tak terduga.
Aku mengambil ponsel Sakura, lalu menghapus SMS itu. Kemudian kutelpon Karin, memberitahu Karin bahwa ada sesuatu yang harus aku lakukan besok, jadi aku akan datang agak belakangan. Sebagai imbalannya aku berjanji akan lembur. Aku tahu alasan sakit tidak akan mempan karena aku pergi kerja walaupun terkena deman sekalipun. Karin terdengar sangat heran dan ingin tahu, tetapi ia berjanji akan menyampaikannya kepada Orochimaru.
Aku tersenyum setelah menutup ponselnya. Lihat saja Sai, Sakura.
Duh Sai maunya apa sih? Kasihan Sakura, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan kedua lelaki itu.
Bagi yang bisa review, reviewlah. Saya nggak tahu apa sebaiknya saya lebih sering menulis fanfic-fanfic romantis begini. Atau apa fanfic ini terlalu banyak dramanya. Saya sedang berlatih menulis novel romance saya sendiri. Saran dan kritik kalian akan sangat membantu. Sekian dulu, sampai nanti!
