Warning : Slash! OOC, Creature fic, Typo
Disclaimer : J.K ROWLING
Bittersweet Heartbeat
Malfoy menggunakan tongkatnya yang bercahaya untuk mengamati lebih jelas bunga lily tersebut. Kelopaknya memang berwarna emas mengkilap dan kaku seperti sebuah lapisan tipis besi baja. Di tengah bunga tersebut terdapat sebuah putik dan 3 tangkai kepala serbuk sari yang di dalamnya mengeluarkan debu berwarna emas. Debu inilah yang dapat digunakan sebagai bahan ramuan. Tangkainya seperti tangkai bunga mawar dengan duri yang besar-besar. Bila Draco tidak hati-hati memegangnya, tangannya bisa terluka akibat duri tersebut.
Sesaat setelah Draco mengambil beberapa tangkai bunga dan memotong habis duri-duri tersebut, hawa dingin tiba-tiba saja datang menyelimutinya. Perasaan tidak enak mulai merajuk di dalam diri Malfoy. Gelisah dan takut. Bahkan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya dan membuat kakinya lemas sehingga ia berjongkok di dekat tebing tersebut. Malfoy ingin sekali segera pergi dari tempat itu tapi kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan.
'Tenangkan dirimu, Draco Malfoy...' batin Draco berusaha mengatur pernapasannya. 'Tapi... perasaan apa ini..?' lanjutnya sambil mengerutkan keningnya lalu akhirnya bisa bangkit berdiri.
"MALFOY!" Telinga Draco menangkap suara Harry dari belakang. Segera ia menoleh dan mendapati Harry berlari ke arahnya dengan sedikit terseok-seok lalu terjatuh di samping sebuah pohon hawthorn. "PERGI DARI SINI!" teriak Harry lagi membuat Draco bingung sampai akhirnya, ia melihat kegelapan datang menyergapnya.
Draco jatuh tengkurap di tanah mengakibatkan tongkatnya jatuh dan cahaya lumos tersebut padam. Kegelapan benar-benar menyelimutinya kali ini. Hawa dingin dari para dementor mulai dapat ia rasakan menusuk masuk setiap otot-otot hingga tulang-tulangnya. Ia tak bisa berkeringat, keringatnya sudah kering atau bahkan memebeku. Jantungnya seakan berhenti di tempat seiring hembusan napasnya ditarik keluar dari dalam tubuhnya. Seakan terpaku, ia tak bisa menggerakkan badannya walau apapun yang ia usahakan. Saat ini, Ia dikelilingi 3 dementor yang siap mencabut nyawanya.
Melihat hal tersebut, Harry berusaha bangun. Udara di Hutan Hawthorn ini membuat napasnya sesak dan dadanya sakit. Sebagai seorang vampire, udara hutan ini bagaikan racun dan siap membunuhnya kapan saja. Kuku tangannya mencakar kuat pohon hawthorn tersebut hingga kulit kayunya mengelupas. Harry berhasil berdiri dengan kedua kakinya dan berlari untuk mencapai Draco di sana sebelum seorang dementor mendorongnya ke tanah dan mulai menghisap kehidupan dari Harry.
Harry meronta hebat apalagi ketika ia dikeroyok 5 dementor sekaligus yang silih berganti mengambil napas kehidupanya. Dementor bukanlah mahluk yang pandang bulu apalagi dengan mayat hidup seperti vampire sekalipun. Asalkan ada hawa kehidupan sekecil apapun, dementor akan datang dan memakannya hinga habis.
"MALFOYYY!" teriak Harry kencang dan berhasil mencapai telinga Draco. Matanya kini sudah terbiasa di dalam kegelapan lalu menggapai tongkatnya. Dengan sisa konsentrasi dan tenaga yang ada, Draco merapalkan mantra.
"Expecto Patronum!" Sulur-sulur putih keluar dari tongkat Draco membentuk sebuah cahaya yang langsung mengusir para dementor yang mengelilinginya. Sulur-sulur itu berubah menjadi ular cobra dan mengarah langsung ke Harry kemudian mengusir dementor-dementor yang mengeroyoknya. Para dementor itu terbang pergi dari tempat mereka lalu menghilang di antara bayang-bayang hutan dan langit malam.
Harry takjub dengan kekuatan yang dimiliki oleh wizard ini sampai ia lupa bahwa posisinya masih tertidur di atas tanah. Matanya tidak pernah berhenti memperhatikan Draco yang mulai mengambil tas berisikan lily emas tersebut lalu berlari menuju Harry dan membantunya bangun.
"Tadi itu..." Harry kembali speechless.
"Tak kusangka aku bisa merapal mantra sedemikian kuatnya selama aku berlatih... sudahlah... kau baik-baik saja?" kata Draco.
"Justru itu yang mau kutanyakan! Kau baik-baik saja!?" teriak Harry di depan wajah Draco tapi kemudian tubuhnya melorot lalu jatuh ke tanah. Kepalanya pusing sekali dan ia seakan kehabisan tenaga sehingga tidak bisa berdiri.
"Vampire keras kepala..." gerutu Draco yang membantu Harry berdiri dan berjalan keluar dari hutan tersebut. Ini adalah untuk terakhir kalinya Harry mau menginjakkan kaki ke dalam hutan ini lagi. Sungguh malang seluruh nasibnya bila berada di dalam atau paling tidak di pintu masuk Hutan Hawthorn.
"Kau harus membayar dengan darahmu setelah ini wizard!" ucap Harry masih setengah pusing setelah mereka melewati batas hutan itu. Draco tidak banyak bicara lalu membaringkan Harry di atas tanah agar Harry bisa beristirahat sebentar. Belum sampai semenit kemudian, Ron datang menghampiri mereka dengan wajahnya yang panik super pucat.
"Harry! Kau tak apa! Aku melihat para dementor menuju ke arah baumu di Hutan Hawthron! Bagaimana kau bisa ke sana!" teriak Ron sambil menarik kerah baju Harry yang tak bisa menjawab pertanyaan atau bentakan dari Ron.
"Tenang, Ron. Aku baik-baik saja. Lihat! Tidak, aku tidak terluka," kata Harry. "Walaupun sedikit pusing sih..." lanjut Harry sambil memegang kepalanya. Draco hanya terdiam dan tidak mau mengusik mereka. Sebenarnya ia mau diam-diam pergi dari sana. Masih ada keraguan di hatinya untuk menyerahkan darahnya kepada vampire yang ada di depannya. Bukankah Draco sudah menyelamatkan nyawa Harry sebagai balas budi ia diantarkan ke tempat lily emas? Yeah... itulah yang dipikirkannya saat ini.
"Hei... Malfoy..." panggil Harry membuat bulu kuduk Draco berdiri. Oh! Inilah saat mimpi buruknya datang. "Kau sudah berjanji akan memberikan darahmu padaku 'kan?" kata Harry menatap tajam Draco menuntut janji yang diutarakan oleh Draco sebelum mereka masuk ke dalam hutan maut super mengerikan dan pembawa sial menurut Harry.
"Cih... terserah!" gerutu Draco mendekati Harry yang kini sudah bisa berdiri lalu menggulung lengan pakaiannya agar Harry bisa minum darahnya dari situ. "Kau jangan berani untuk menghisap semua darah dalam tubuhku atau aku akan memantraimu!" ancam Draco yang hanya mendapat lirikan dari Harry sebelum ia kembali memutar bola matanya.
"Pada saat itu, kupastikan kau sudah mati kehabisan darah!" Mendengar jawaban Harry, Draco kembali akan menarik tangannya tapi di tahan oleh Harry yang mencengkram tangan kiri Draco dengan kuat. "Selamat makan!" Harry segera menancapkan taringnya menembus kulit pucat Draco. Rasa sakit mulai menjalar dari sana dan Draco meringis mendapati rasa sakit tersebut semakin lama semakin menyakitkan.
Darah merah kental mulai masuk ke dalam kerongkongan Harry. Rasanya sangat manis dan menyegarkan. Layaknya sirup yang dicampur dengan berbagai bahan lainnya yang dapat membuat siapapun candu akan hal tersebut. Setiap tetesan, setiap rasa yang menyapu lidah. Hanya kenikmatan yang tertinggal dan terus tergiang di kepala Harry. Setiap sel syarafnya menyerukan untuk tak berhenti menghisap tetesan cairan merah kental tersebut.
"Harry!" panggil Ron yang mendapat sorotan tak suka dari bola mata merah Harry. Panggilan tersebut telah membuyarkan fantasinya dan menghentikan aksi makannya pada saat itu juga. "Lihat!" Ron menujuk ke arah langit yang kini warnanya sudah mulai cerah. Fajar akan menyingsing tak lama lagi. Harry cukup terkejut dan segera melepaskan tangan Draco.
"Well... sepertinya aku harus segera pergi dari sini. Sampai bertemu lagi... Draco Malfoy," pamit Harry masih menjilat bibirnya membuat Draco bergidik ngeri. Setidaknya nyawanya selamat berkat matahari pagi tersebut. Betapa ia tak bersyukur akan hari esok yang cerah saat itu juga.
Harry dan Ron segera masuk ke dalam hutan dengan cepat dan meninggalkan Draco yang masih terdiam di sana. Tangan kanannya memegang luka bekas gigitan Harry yang tepat berada di nadi kirinya dan masih mengeluarkan darah. Ia harus cepat pulang untuk mengobati lukanya tersebut. Draco segera mengeluarkan sapu tangannya dan mengikatnya di luka tersebut untuk memperlambat proses keluarnya darah.
"Dasar mahluk aneh..." gerutu Draco setelah ia merasakan hangat sinar matahari menerpa kulitnya. Sejenak, ia melihat ke arah langit yang kini mulai berubah warna menjadi biru muda yang sangat terang. Draco menutup matanya kemudian ber-apparate kembali ke tempat seharusnya ia berada.
Ke rumahnya yang abadi, Malfoy Manor...
XXXX
Draco kini ada di ruang tamu manornya yang besar. Dobby, peri rumah-nya sudah siap sedia di sana untuk menyambut kepulangan Draco atau untuk menanyakan keperluan Draco yang lain setelah pulang dari hutan yang kini menjadi hal yang tidak ingin dibahas oleh Draco. Draco tidak meminta apa-apa dari Dobby dan melangkah masuk menuju kamar tidurnya untuk beristirahat sebelum ia membuat ramuan penambah darah.
Dihempaskan begitu saja tubuhnya di atas ranjang yang empuk masih dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya dari tadi. Ia tidak peduli bila pakaiannya dapat mengotori seprai mahal yang menutpi pada kasur tersebut. Toh, pasti akan bersih kembali dengan sihir pembersih atau ia bisa menyuruh Dobby untuk membersihkannya.
Tapi, sebuah suara ketukan pintu yang cukup keras membuat mata Draco yang mulai terpejam terbuka lagi. Ia mengambil posisi duduk di atas ranjangnya, mengamati dengan mata yang melotot ke arah pintu kamar, memastikan bahwa ketukan pintu itu asli bukan hasil perbuatan otaknya. Tapi, suara itu ada lagi dan menandakan bahwa itu nyata.
"Siapa di sana?" kata Draco. 'Mungkinkah itu Dobby? Kalau mom atau dad pasti tidak akan mengetuk pintu..' batin Draco.
"Ini aku... Snape!" jawab orang yang mengetuk pintunya. Mendengar itu, Draco langsung menghela napas berat sambil mengusap wajah hingga rambutnya. "Cepat buka pintunya, Draco!" sergah Snape dari luar. Mau tak mau, Draco bangkit dan berjalan untuk membuka pintu kamarnya yang terbuat dari kayu yang dicat putih dan diukir.
'Padahal aku capek sekali...! Dasar sial!' umpat Draco dalam hatinya ketika tangannya kini memegang handel pintu. Dengan sedikit kasar, ia membuka pintu tersebut lalu menatap Snape yang tepat berada di depannya.
Snape hanya berdiri tegap sambil menatap Draco datar di sana membuat Draco merasa tidak nyaman. Kelihatan sekali dari kepala Snape yang naik turun, ia sedang memperhatikan penampilan Draco yang sangat tidak pantas ditunjukan untuk tamu. Terutama guru ramuannya ketika ia masih bersekolah di Hogwarts yang kini bekerja sama dengan dia membuat ramuan untuk sekolah sihir tersebut.
"Sudah selesai memperhatikanku?" tanya Draco dengan nada mengejek. Snape tidak menjawab pertanyaan Draco malah balik menatap mata Draco tajam.
"Mana bunga lily yang aku pesan?" kata Snape to the point. Draco memberi sinyal dengan matanya bahwa bunga tersebut ada di kantung hitam yang tergeletak di atas meja. Ia mempersilahkan Snape untuk masuk dan mengambilnya sendiri.
"Kau sudah bertemu dengan orang tua-ku? Bukankah tidak sopan bila tamu tidak menyapa tuan rumah?" kata Draco memperhatikan Snape yang membuka isi kantung lily tersebut dan menghitung jumlah yang Draco dapatkan.
"Sudah. Karena itu aku langsung ke kamarmu. Apa kau yakin hanya ini yang bisa kau dapatkan?" kata Snape.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri bila kau diserang oleh warewolf dan dementor kemudian bertemu dengan vampire dan – "
"Kau di serang apa!?" potong Snape setengah berteriak dengan nada suaranya yang meninggi. Draco terdiam sejenak karena kaget dengan ucapan Snape yang mendadak itu. Draco mengusap kepalanya menggunakan tangan kiri sehingga tanpa sadar, menunjukan luka bekas gigitan Harry yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Bukan Snape namanya bila matanya tidak cepat menangkap sapu tangan yang kini ternoda darah yang masih melingkar di pergelangan tangan Draco dan sedikit melorot.
"Ada apa dengan tanganmu itu?" kata Snape berjalan cepat ke arah Draco.
"Tangan? Oh.. ini.. aku tadi terkena duri bunga itu," bohong Draco. Snape tidak percaya langsung menarik lengan Draco dan membuka sapu tangan tersebut. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati nadi Draco kini terdapat luka dua buah lingkaran cukup besar dan dalam yang pasti bukan dari mahluk biasa.
"Katakan padaku setiap kejadian yang kau alami ketika berada di hutan tersebut!" perintah Snape.
"Sebelum itu, aku minta tolong dibuatkan ramuan penambah darah... dia menghisap darahku cukup banyak tadi," kata Draco. Snape terdiam sejenak. Ia sepertinya dapat menebak ke mana arah pembicaraan ini.
"Dan bahan-bahannya?"
"Minta saja Dobby," jelas Draco kemudian memanggil Dobby yang langsung muncul di tengah-tengah mereka. "Antarkan Mr. Severus Snape ke ruang gudang bahan ramuan. Bantu dia mengambil barang-barang yang ia perlukan," perintah Draco.
"Baik Sir. Lewat sini Mister Severus Snape," kata Dobby dengan sopan. Snape mengikuti Dobby keluar dari kamar Draco. Setelah merasa bahwa Snape sudah agak jauh, Draco langsung kembali membaringkan dirinya di atas kasur. Matanya kini terpejam erat dan ia mulai memasuki alam mimpi. Namun entah kenapa, sosok vampire Harry Potter sama sekali tidak bisa hilang dari bayangannya.
Sampai bertemu lagi... Draco Malfoy
XXXX
"Kau belum tidur?" tanya James ketika ia memasuki kamar putranya. Harry sedang duduk di depan sebuah meja kerja. Ia sedang mencelupkan pena bulu ke dalam tinta hitam dan kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas yang mulai menguning itu. Matahari tidak bisa masuk ke dalam ruangan kamar Harry yang kini cukup gelap karena tirai jendelanya berwarna hitam. "Matahari sudah sangat tinggi begini dan kau masih belum tidur. Kau sedang apa?" tanya James lagi.
"Menulis surat... aku tidak terlalu ingin tidur. Rasanya segar sekali setelah meminum darah seorang wizard. Apalagi, seorang wizard berdarah murni," jawab Harry menyelesaikan tulisannya dengan menatap ke arah James.
"Oh ya... masalah tadi kau masuk ke dalam Hutan Hawthorn benar-benar di luar dugaan... Sebenarnya, apa yang kau pikirkan ketika akan menolong wizard tersebut?" kata James kini ia duduk di atas sebuah kasur yang cukup besar bahkan untuk 2 orang.
"Aku tidak tahu, tubuhku bergerak sendiri. Oh! Ayolah, dad... bukan kali ini saja aku masuk ke dalam sana. Iya, aku tidak akan mengulanginya lagi. Tadi itu suatu keadaan darurat! Kau harus mencicipi darah wizard tersebut!" kata Harry. "Sampai saat ini aku masih ingin merasakan darahnya!"
"Jangan bilang kalau kau sekarang kecanduan darah wizard itu. Harry... putraku... sadarkah di mana posisimu sekarang? Sudah bagus bahwa kita mengetahui bahwa wizard tersebut bukanlah seorang pemburu vampire dan warewolf. Bagaimana nasibmu selanjutnya!" kata James dengan nada frustasi.
"Aku sudah berumur 117 tahun, dad... Aku bisa menjaga diri. Lagi pula ada Cedric. Bila terjadi sesuatu padaku, dia pasti menolongku. Walaupun aku tidak mau membebaninya," jelas Harry melipat kertas surat tersebut dan memasukannya ke dalam amplop. "Oh ya... di mana Ron? Ketika aku masuk ke dalam kamar, dia masih ada bersamamu 'kan?"
"Kembali ke dunia muggle. Menemui pacarnya," jawab James. "Hah... aku berpikir, kapan ia akan menikahi pacarnya itu," kata James melirik ke arah Harry. "Ini sudah siang, kau harus tidur." Dengan begitu, James bangun dan mulai keluar dari kamar Harry.
Sebelum ia tidur, Harry membuka kandang burung hantunya dan memberikan surat tersebut kepada Hedwig. Salah satu burung hantu pengantar surat yang paling lama bertahan dari sergapan taring Harry.
"Kau jelas tahu... ke mana harus membawa surat ini. Jangan lupa berhenti di persinggahan burung hantu Hedwig. Aku tak mau kau sakit," kata Harry. Hedwig ber-uhu pelan lalu keluar dari kamar tersebut melalui sebuah lubang yang ada di atas jendela Harry sehingga Harry tak perlu membukakan jendela dan mandi matahari.
Beginilah isi surat Harry...
Dear Cedric,
Kapan kau akan pulang? Aku tak sabar menantimu pulang. Aku bertemu dengan seorang wizard yang diserang oleh Remus hari ini. Dan kau tahu, ia adalah wizard darah murni. Namanya Draco Malfoy. Seorang bangsawan. Ceritanya sangat panjang dan aku terlalu bersemangat hingga tak sanggup menuliskan seluruh kronologinya. Akan aku ceritakan ketika kau sampai di sini.
Oh, Cedric... aku ingin kau bisa bertemu dengan dia. Kita bisa menikmati darahnya bersama-sama. Darahnya benar-benar manis sekali! Kutunggu kepulanganmu dari Italia.
PS : Jangan lupa bawakan aku darah orang Italia
Your dear husband,
Harry Diggory Potter
To Be Continued
Hallo readers, saya kembali setelah ujian nasional berakhir! Dan puji Tuhan ujian bisa berjalan dengan lancar :D
A/N :
- Ini bukan Harco (walau sepertinya menjurus) ini Drarry sedikit Hedric (see the letter)
- Mohon maaf atas keterlambatan Update
- Ucapan terima kasih bagi yang sudah Follow dan Favorite :D, Thank you very much
RnR please! Setiap kritik dan saran diterima
