Limit?

By : cronos01

Cast: Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon

Zhang Yixing/ Wu Yixing

Wu Yifan/ Kris

Huang Zitao

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jongdae/ Byun Jongdae

Kim Minseok/ Byun Minseok

Genre : Romance, Angst, Friendship

Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D

Warning : Yaoi, sorry for Typo's. NO Bash! No copy. Don't Like, Don't Read. Simple!

So, Enjoy it!

Chapter 2

Previously…

Kris menghapus air mata Lay sementara Suho pergi begitu saja meninggalkan istri dan anaknya. Melihat kepergian sang ayah, Kris berkata, "Gomawo, abeoji." Dengan wajah yang sudah babak belur dan pucat Kris masih bisa tersenyum kepada sang ayah.

Suho, jika saja ia bisa jujur dan mengungkapkan. Ia tidak ingin kehilangan anaknya itu. Sejujurnya.

~LIMIT~

Lay berdiri diepan kamar Kris, menatap sang anak yang sedang membereskan barang-barangnya. Air mata Lay masih terus menetes, sejak mendengar Suho menyuruh sang anak pergi dari rumah. Lay membungkap mulutnya dengan tangannya, meredam isakan piluh. Lay berpikir apa dosa yang ia dan Suho miliki sehingga anaknya mendapat hukuman yang kejam dan berat seperti sekarang. Kris yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya mendengar sebuah isakan dari depan pintu, disana sang ibu hanya berdiri menatapnya sambil menangis. Kris langkahkan kakinya menuju Lay, ia memeluk ibu kandungnya itu dan mengelus lembut punggung namja yang lebih pendek darinya.

"Gwaenchana, eomma. Uljima, kalau eomma menangis terus seperti ini, Kris tidak sanggup meninggalkan rumah." Bisiknya.

Lay tidak bisa berkata apa-apa, ia malah semakin menangis dan semakin kencang. Kris terus mengelus punggung sang ibu hingga sampai akhirnya Lay bisa tenang dan tak disadari tertidur, Kris langsung menggedong ibunya itu dan membawakan ke kamar. Ia meletakan sang ibu pada posisi yang seenak dan senyaman mungkin, lalu ia tutupi setengah badan Lay dengan selimut. Kris menghapus bekas air mata diwajah Lay dan mencium Lay.

"Kris pergi, Eomma." Ucapnya.

Dibalik pintu kamarnya yang masih setengah terbuka, Suho berdiri. Bergulat dengan hati dan pikirannya sendiri.

~LIMIT~

Luhan turun dari lantai atas cafenya, ia menatap dengan ceria setiap sudut café. Beginilah suasana café yang ia bangun bersama Sehun, selalu ramai pengunjung. Café ini memiliki hidangan minuman yang berbeda dengan café-café lainnya dan juga hiburan yang selalu berbeda tiap malamnya. Seorang namja bermata besar masuk kedalam café tersebut. Luhan mengambil daftar menu dan berjalan sedikit lebih cepat menuju pelanggannya yang baru datang.

"Silahkan." Ucap Luhan.

Selama namja itu memilih minuman, Luhan menatap namja bermata besar yang ada didepannya. Ia merasa seperti pernah bertemu sebelumnya dengan namja ini tapi, dimana? Hingga suara namja itu menyadarkannya dari lamunannya.

"saya pesan coffee chocolate dan cheese cake strawberrry." Ujar namja itu.

Luhan langsung menulisnya pada sebuah note kecil. "Itu saja?" tanya Luhan.

Namja itu mengangguk dan tersenyum pada Luhan. Setelah selesai melayani namja tersebut, Luhan kembali ke dapur café dan melihat daftar pesanan namja tadi.

"Dimana aku pernah melihat namja itu ya? Dan lagi menu yang ia pesan sangat persis dengan Kai sewaktu sering berkunjung kesini. Hanya ada satu pelanggan yang selalu memesan coffee dengan pasangan cheese cake strawberry, Ya Kai." Lirih Luhan sambil melihat namja bermata besar itu dari jauh.

"Ah, mungkin kebetulan ada seseorang yang mempunyai selera sama dengan Kai." Tukas Luhan dan langsung menuju ke mesin coffeenya.

Namja bermata besar itu, mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan dihalaman pertama buku itu terdapat sebuah foto dirinya dan sang kekasih yang kini sudah tiada. Ia mengelus foto tersebut, air mata kembali jatuh jika ia mengingat sosok yang ia cintai dulu.

Namja itu berlirih, "Bogoshipo, Kai"

~LIMIT~

Kris berlari masuk kedalam toilet kampus membuat orang-orang yang berada dikoridor melihat Kris dengan tatapan yang aneh. Bagaimana tidak, Kris berlari dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Namja tinggi itu batuk-batuk dan mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Biarpun tangan Kris menutup mulutnya, cairan berwarna merah itu terlihat dari sela-sela jari kurus itu. Kris masuk kedalam bilik dan bersimpuh pada closet toilet tersebut. Tangannya yang bertumpu pada sisi closet membuat sisi closet tersebut terkena darah Kris sementara tangan kanannya bertumpu, tangan kirinya terus ia gunakan untuk mencengkram dadanya yang terasa sesak dan sakit. Kejadian ini terus berlangsung hingga beberapa menit. Kris mulai terlihat lelah, ia bersandar pada dinding bilik. Tangannya terkulai begitu saja di lantai toilet itu, Kris memejamkan mata mencoba mengembalikan kembali tenaganya. Ia membersihkan bekas darah yang berbekas disetiap sudut.

Kris keluar dari bilik tersebut, membersihkan darah yang berbekas di tangannya dengan mencuci tangan di wastafel toilet. Berkaca sambil memandang wajahnya yang sangat pucat dan membersihkan darah yang berbekas di sudut bibir. Setelah selesai, Kris keluar dari dalam sana, orang-orang yang ada dikoridor kampus sudah tidak lagi menatap kepadanya namun, percakapan segerombol mahasiswa mengambil perhatiannya dan membuat langkahnya terhenti.

"Hei, sepupunya Baekhyun itu manis tapi sayangnya ia lumpuh." Ucap seorang mahasiswa berbaju hitam.

Disampingnya temannya juga berkata, "Iya, apalah artinya memiliki kekasih yang lumpuh. Manis saja bukan jaminan kan?"

Seorang yeoja di gerombolan itu tak mau kalah beragumen. "Tapi tidakah kalian liat, dia sungguh memliki hati yang lembut sedangkan, baekhyun dia selalu berteriak dan memaki orang-orang. Tao, sepupunya itu tidak pernah bertindak kasar."

Yeoja disamping pun mengangguk setuju, "Iya, dia pun tidak pernah minder saat beberapa mahasiswa menertawakan keadaannya."

Kris melangkahkan kembali kakinya meninggalkan gerombolan orang yang membicarakan Tao. Tepat saat Kris ingin mendatangi tempat yang biasa menjadi tempatnya untuk duduk membaca buku, seorang namja bersuari emas yang dibicarakan segerombolan mahasiswa tadi berada disana, duduk di kursi rodanya. Kris melangkahkan kakinya dengan mantap mendekati namja tersebut.

"Zitao?" panggil Kris.

Membuat namja bernama Tao itu langsung menolehkan kepalanya kebelakang, kedua matanya terbelalak. Kris orang 2 hari ia temui dan sempat membuatnya menangis berdiri tepat didepannya. Tao memutar balik kursi rodanya dan menunduk, takut untuk menatap Kris.

"Kris Ge? mianhae, kau ingin duduk disini ya? Ah, maafkan aku mungkin jika aku ada disini kau akan merasa terganggu. Permisi, Ge." ucap Tao masih dengan wajah yang menunduk.

Saat Tao ingin mengayuh kursi roda menjauh dari Kris, namja yang tadi memanggilnya itu memegang tangannya yang berada di roda dan menatap Tao dengan tatapan yang tidak bisa Tao mengerti.

"Kajima. Temani aku sebentar." Itu yang Tao dengar dari bibir namja bernama Kris itu.

Sempat terkejut namun, tak lama Tao memberikan senyuman manis dan hangat untuk menjawab permintaan Kris.

~LIMIT~

"Tampaknya kau sudah mengetahui namaku." Singkat Kris tanpa menatap orang yang ada disampingnya.

Tao hanya berdehem menjawab pembicaraan singkat dari Kris. Keadaan yang sangat dekat ini membuat Tao gugup, ia dari tadi hanya meremas kedua tangannya dan menatap pemandangan gedung-gedung kota Seoul dari kaca kampus yang megah ini.

"Kau, dari China?" suara Kris kembali terdengar.

"Hm," jawab Tao masih dengan deheman.

Kris sadar, Tao merasa takut dekat dengannya. Dalam pikiran Kris, mungkin namja manis ini takut Kris abaikan lagi, Kris juga tidak ingin terlalu dekat mengenal dengan namja yang ada disampingnya, cukup begini saja hubungan mereka. Itu mungkin hanya sekedar ucapan karena terbukti saat ini Kris merasa nyaman dekat dengan namja yang ada disampingnya, wangi strawberry yang menguar dari tubuh Tao seolah menjadi magnet untuk Kris.

"Mian." Lirih Kris.

Kali ini lirihan itu sangup membuat Tao bangkit, ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia tundukan. Tao menatap Kris tapi tiba-tiba Kris pun balik menatap Tao sontak, Tao langsung mengalihkan pandangannya gugup dari Kris. Kris tertawa, walau hanya sebuah tawa kecil mungkin itu tawa pertama dari bibir Kris sejak ia mengidap AIDS.

"Gomawo, Zitao. Kau sudah menolongku kemarin." Ujar Kris.

Tao dengan takut-takut mengangkat kepalanya dan memandang Kris.

"Cheonmaneyo, Ge." jawab Tao.

Suara Tao yang sangat lembut itu membuat Kris tersenyum. Ya, ia merasa bodoh. Suara ini, bukan pertama kalinya ia mendegar suara ini. Suara yang 2 hari yang lalu mengkhawatirkannya dan meminta untuk tetap istirahat, bodohnya ia mengacuhkan begitu saja setiap kata yang keluar dari hati namja manis tersebut.

Hening.

"Apa—gege sudah baik-baik saja?" tanya Tao.

Kris mengangguk dan tertawa lalu berkata, "Hm, keliatannya begitu."

Kris kembali berbohong namun, Tao bukanlah seseorang yang dengan mudahnya percaya. Ia memandang Kris dan entah mengapa tangannya bergerak begitu saja menyentuh wajah Kris. Sementara Kris, ia sendiri hanya diam terpaku, tubuhnya seperti lumpuh secara tiba-tiba, ia tidak bisa menghindar dan menolak dari sentuhan yang Tao berikan.

"Wajahmu keliatan pucat, Ge."

Mendengar ucapan Tao, Kris melepaskan dengan lembut tangan Tao yang menyentuh wajahnya dan berkata, "nan gwaenchana. Kulit ku memang seperti ini."

Tao mengangguk mengerti.

"Gege, berada di jurusan apa?" tanya Tao, tampaknya namja panda itu mulai merasa nyaman disamping Kris.

"Aku di seni. Lebih ke seni lukis tepatnya, kau?" jawab Kris dan balik bertanya.

Tao memperlihatkan buku yang ia baca, dari sana Kris bisa menebak di jurusan mana Tao berada.

"Sastra?" tanya Kris.

Tao mengangguk senang.

"kenapa sastra?" tanya Kris lagi.

Tao melihat langit yang tampak cerah diluar sana dan menjawab, "Menurutku sastra itu sebuah media untuk mengungkapkan perasaan setiap manusia. Orang yang tidak bisa melukis, ia bisa menulis. Orang yang tidak bisa bernyanyi, ia bisa menulis liriknya. Jadi sastra itu merupakan pondasi utama seseorang bisa menguasai segala hal." Ujar Tao menjelaskan.

Kris mengangguk mengerti dan Tao balik bertanya. "Gege, kenapa memilih seni lukis?"

"Itu hobi ku dan kegemaran ku." Jawab Kris cepat.

Sebuah ide terlintas di pikiran Tao. "Kalau gitu kapan-kapan aku ingin dilukis oleh, gege." Ujar Tao.

Kris kaget tapi ia langsung memberikan senyumnya pada Tao dan mengusap surai Tao lembut. "Hm, kapan-kapan." Ujarnya.

Tiba-tiba seseorang menarik kursi roda Tao. Baekhyun, orang itu. Melirik Kris dengan tidak suka.

"Mau apa lagi kau, Kris?" tanya baekhyun kasar.

Kris berdiri dari duduknya. "Aku hanya mengobrol dengan Tao." jawabnya enteng.

Baekhyun tertawa sinis, "Cih, kemarin saja kau mengacuhkannya. Sekarang kau dekati dia, tidak usah sok kegantengan Kris, kau ingin membuat sepupuku sama seperti dengan para fans mu itu?!" teriak Baekhyun.

Tao langsung menolehkan kepalanya kebelakang dan mengelus tangan Baekhyun. "Hyung, sudahlah. Kris Ge tidak bermaksud seperti itu. Dia bahkan sudah meminta maaf, Hyung." ujar Tao.

Baekhyun menatap Tao kesal, "Kau membelanya?" tukas Baekhyun.

Tao menghela nafas, tampaknya sepupunya benar-benar kesal.

"Terserah, kalau kau memang bersikeras dekat dengannya. Jangan pernah menangis dan menunjukan air matamu padaku. Kau hanya belum tau dia yang sebenarnya, Tao" ujar Baekhyun lalu pergi begitu saja, meninggalkan Tao dan Kris.

Mendengar perkataan yang Baekhyun katakan, Kris tercengang. Benar, entah sekarang atau nanti jika Tao semakin dekat dengannya, Kris hanya akan membuat Tao menangis. Waktu, waktunya hanya sebentar lagi dan ia tidak mungkin bisa mendekati Tao dan meninggalkan Tao begitu saja kan? Kris merasa menjadi orang yang sangat jahat tapi, sekali ini saja, biarkan ia egois. Tao adalah sosok yang mampu membuat separuh jiwanya kembali, separuh jiwa yang sudah lama hilang.

~LIMIT~

"Mwoya? Keluarga Kim sudah pindah?" ujar Sehun kepada orang yang sedang ia telpon.

"Nde."

"Sejak kapan? Bukankah hanya anak keluarga Kim saja yang pergi?" tanya Sehun lagi.

"Tidak, Tuan. Mereka semua 6 bulan yang lalu pindah dari Korea."

Kedua kening Sehun betaut mendengar laporan orang suruhannya.

"Yasudah, terima kasih infonya." Jawab Sehun lalu mneuttup telpon tersebut.

Sehun membnating begitu saja handphonenya dan meletakan kedua tangannya di dahi, menetralisir pusing yang mendera kepalanya. Sang kekasih, Luhan datang dan meletakan bubble yang tadi Sehun pesan. Ia melihat sang kekasih yang tampaknya sedang pusing.

"Wae geurae, hun?"

Sehun menghela nafas dan meminum bubble lalu menatap sang kekasih. "Kai, kau ingat?"

Luhan terlihat berpikir lalu tak lama ia mengangguk.

"Dia dan semua keluarganya pindah dari Korea. bagaimana mungkin ia pindah tapi tidak memberi kabar." Ujar Sehun.

Luhan meminum bubblenya dan berkata, "Bukankah dia memang pindah ke Vancouver?" tanyanya.

"Iya benar tapi waktu hari kita bertemu malam itu, esoknya dia seharusnya pergi ke Vancouver tapi dia tidak mengabari kami sampai sekarang." Jelas Sehun.

Luhan mengelus tangan Sehun, berusaha menenangkan kekasihnya itu.

"Yasudah, nanti kalau kita punya waktu libur yang panjang, kita ke Vancouver mencari dia. Memangnya ada masalah apa sih kau sampai panik begini?"

Sehun menatap Luhan intens.

"Aku mendapat kabar, Kai menggunakan obat-obat terlarang, han." Seru Sehun.

Ucapan Sehun membuat Luhan kaget dan mendekati Sehun.

"narkoba maksudmu?" tanya Luhan.

Dan sebuah anggukan diterima Luhan dari Sehun.

~LIMIT~

Jung uisa yang merawat kaki Tao sejak ia lumpuh, kini tengah memeriksa kaki Tao. Uisa itu tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya. Di depan meja dokter tersebut, Baekhyun menunggu laporan keadaan tao dengan cemas.

Dokter tersebut duduk dikursinya dan menulis sesuatu di rekam medis milik Tao. Setelah selesai dokter tersebut menatap Baekhyun.

"Keadaan kakinya sudah kembali normal, saya rasa Tao sudah mampu menjalani terapi." Jelasnya.

Baekhyun tersenyum dan menghela nafas syukur ia menatap Tao yang masih berada di atas ranjang pemeriksaan.

"Kapan terapinya bisa dilakukan, uisa?" tanya Tao.

"Besok. besok bisa langsung kita jalankan." Jawab Jung uisa.

"Jinjjayo, uisa?" tanya Tao.

Jung uisa mengangguk dan tersenyum pada pasiennya.

Tao tersenyum riang mendengar penuturan sang dokter. Akhirnya, mimpi buruknya telah pergi, ia bisa berjalan lagi. Tao berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha agar ia bisa kembali menompangkan tubuhnya, tidak lagi menggunakan kursi roda.

~LIMIT~

Malamnya Sehun berkunjung ke rumah Kris, ia membunyikan klakson mobilnya agar penjaga pagar rumah itu membukakan pagar untuknya. Mobil sport Sehun yang berwarna hitam itu pun langsung memasuki perkarangan rumah keluarga Wu. Sehun memencet bel rumah tersebut, tak lama seseorang datang membuka pintu.

"Sehun?" sapa Lay, ibunya Kris.

Sehun menunduk dan memberikan senyum kepada namja paruh baya itu.

"Annyeong haseyo, eomonie. Kris hyung sudah pulang?" sapa Sehun sekaligus bertanya.

Mendengar Sehun menanyakan keberadaan Kris, air muka Lay berubah sendu. Lay menatap kosong wajah Sehun, merasa ada hal ada hal yang aneh dengan orang tua sahabatnya ini, Sehun menyentuh lembut bahu Lay.

"Eomonie, wae geurae? Kris belum pulang, nde?"

Lay sontak bangkit dari lamunanya, ia memandang Sehun nanar.

"Tampaknya kris belum menceritakan padamu, ya?"

Salah satu kening Sehun bertaut, "Cerita? Cerita apa, eomonie?"

Lay diam sesaat dan kembali berkata, "Kris diusir appanya dari rumah."

"Mwo? Wae—wae, eomonie. Apa mereka bertengkar?" tanya Sehun heran.

Lay mengangguk sedih. "Hm, sebuah masalah tapi sepertinya Kris tidak memberitahumu juga ya?"

Sehun tertawa malu, "Yak, ada berapa rahasia yang Kris hyung sembunyikan, eomonie. Aku merasa berdosa." Ujarnya.

Lay mendengarnya miris. Ternyata anaknya sama sekali belum menceritakan apapun kepada orang lain, Kris sama sekali tidak membagi beban-bebannya kepada orang lain.

"Dia hanya tidak ingin membuat sahabat-sahabatnya khawatir, hun." Ucap Lay.

Sehun mengangguk setuju tapi setidaknya mereka perlu tau kan?

"Jadi dimana Kris hyung tinggal sekarang, eomonie?" tanya Sehun.

"Di apartemen keluarga. Kau tau kan?"

Sehun mengangguk, ia pernah diajak Kris untuk berkunjung kesana sebelumnya, sewaktu mereka SMA. Setelah berbincang-bincang sebentar, Sehun pergi dari rumah Kris dan mengendarai mobilnya menuju apartemen Keluarga Wu.

~LIMIT~

Malam ini dan malam seterusnya menjadi malam yang berbeda untuk Kris. Ia akan tiggal sendiri disebuah apartemen yang cukup mewah dan besar. Kris sangat berterima kasih kepada ayahnya, sang ayah emang mengusirnya dari rumah tapi untungnya sang ayah tidak melepas semua asset yang diberikan kepadanya. Kris mengeluarkan beberapa barang yang masih ada didalam tas. Kris bukanlah sosok namja yang berantakan, ia sangat telaten dalam membereskan apapun yang ada disekitarnya jadi, bukanlah masalah buat Kris untuk tinggal sendiri dan mengurus dirinya sendiri hanya saja jujur, ia merasa kesepian.

Tiba-tiba sebuah bunyi bel terdengar. Kris meninggalkan pekerjaannya dan menuju pintu apartemen. Sehun berdiri didepan pintu sambil membawa seplastik belanjaan dan tersenyum aneh.

"Apa yang kau lakukan? Menganggu saja." Tukas Kris.

Mendengar sapaan dari sang pemilik apartemen, tubuh Sehun lesu. Dalam hati berkata, "Damn! Dia sedang dalam mood yang buruk"

Tapi, karena Sehun memang berbaik hati dan berniat baik, ia tidak memperdulikan ocehan tajam yang Kris keluarkan, ia justru langsung masuk kedalam apartemen tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh sang penghuni. Kris pun hanya diam saja dan memasang wajah datar. Kalaupun ia mengusir Sehun, toh anak kecil itu tidak akan keluarkan? Jadi lebih baik ia diam. Sehun menaruh kantung belanjaannya diatas meja makan dan berlari melepar tubuhnya pada king sofa apartemen tersebut.

"Yak! Oh Sehun! Sofa itu bukan milik ku kalau rusak kau mau ganti? Seenaknya saja." Tukas Kris.

Sehun langsung bangkit dari posisinya dan memandang Kris sebelah mata.

"Aish! Hyung, kau itu selalu saja berkata kasar, tidak pantas dengan wajahmu yang tampan rupawan itu, hyung. malam ini aku akan menginap disini." Ujar namja besurai putih itu.

Kris kedua matanya langsung terbelalak.

"Yak! Apa-apaan kau, seenaknya saja. Tidak, apartemen ini hanya memiliki satu kamar, kau lupa?!" bentak Kris.

"Hyung, dulu juga waktu SMA kita sering tidur bersama kan? Apa masalahnya?" tanya Sehun.

Kris menyerah, ia lelah menghadapi orang yang ada didepannya ini. Kris masuk kedalam kamarnya dan balik membawa sebuah bantal dan selimut, ia melemparkannya ke sofa tempat Sehun berada.

"Kau tidur disini. Jangan banyak berkomentar, ini demi kebaikanmu juga." Kata Kris.

Sehun menghela nafas, tak masalah baginya tidur di sofa, seenggaknya ia bisa menemani namja yang menurut Sehun rapuh.

"Hm, gomawo hyung."

Kris pun hendak pergi ke kamarnya tapi suara Sehun membuat langkahnya berhenti.

"Hyung, ada masalah apa kau dengan abeoji?" itulah pertanyaan Sehun.

Kris tanpa berbalik ia menjawab, "Hanya masalah kecil, tidak perlu dipikirkan."

Sehun kembali menghela nafas lelah, orang yang berada jauh darinya itu sudah sekali mengungkapkan apa yang ia rasakan.

"Sebenarnya ada berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dari kami, hyung? apa kami tidak bisa menjadi tempat mu untuk meluapkan semuanya?" tanya Sehun lirih.

Kris memandang kosong lantai apartemen sambil menjawab, "Aku hanya tidak ingin membuat kalian repot dengan urusanku. Aku bisa menahannya, sendiri." Jawaban Kris terakhir kalinya sebelum ia masuk kedalam kamar.

Sehun memandang nanar kepergian Kris, ia kembali berkata dengan sangat lirih. "Aku hanya tidak ingin kau akan berakhir seperti Kai, hyung."

Didalam kamar Kris bersandar pada pintu kamarnya dan berkata dengan lirih juga. "Aku tidak bisa menahan ini semua. Sesungguhnya."

~LIMIT~

Hari kembali berganti, pagi ini Tao dan Baekhyun menjalankan rutinitas mereka, berkuliah. Tao memasukan beberapa makanan yang pagi ini juga menjadi menu sarapannya. Degan senyuman yang ceria menata dengan rapi makanan tersebut didalam sebuah kotak bekal. Baekhyun berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding menuju dapur, ia melipat kedua tangannya di dada.

"Kau membawa bekal Tao?" cicitnya.

Tao sedikit kaget saat tiba-tiba suara Baekhyun menyapanya. Tao menggeleng menjawab pertanyaan Baekhyun.

"Lalu itu buat siapa?" tanya Baekhyun penasaran.

"Kris Ge. Dia keliatan sangat kurus, hyung. lagipula tidak masalah kan aku membawa makanan ini? Kau tidak setuju hyung?" ujar Tao.

Baekhyun menghela nafas kesal. "Kalaupun aku tidak setuju, kau bersikeras untuk membawanya bukan? Jadi lebih baik. Kubiarkan saja."

Tao tertawa membuat wajahnya benar-benar mirip dengan seekor anak panda.

Siangnya, setelah Tao selesai dengan mata kuliahnya hari ini. Ia mengayuhkan kursi rodanya ke tempat kemarin ia dan Kris mengobrol. Dari kejauhan ia melihat Kris tengah duduk sambil membaca sebuah buku Tao dengan sangat bersemangat mengayuh dengan cepat kursi rodanya. kris yang sedang berkonsentrasi membaca buku, sedikit kaget saat dari belakang sebuah kotak bekal tergeletak di kursi samping ia duduk. Kris menoleh kebelakang dan ternyata Tao, namja itu yang menaruh kotak bekal tersebut.

"Makan siang untukmu, Ge." ujdar tao ceria.

Kedua kening Kris bertaut, ia meraih kotak bekal tersebut dan membukanya. Sebuah nasi putih dengan berbagai macam lauk-pauk disana, tidak buruk, Kris menyukai makanan sederhana seperti ini. Saat Kris ingin mencoba makanan tersebut tangan Tao menyentuhnya.

"Wae?" tanya Kris.

Tao mengambil makanan tersebut dan menyodorkan sendok tersebut di depan mulut Kris, Tao menyuapinya. Kris tertawa melihat kelkauan Tao yang ungguh lucu itu tapi Kris tidak perlu, ia senang dan ia bahagia. Kris membuka mulutnya menyambut makanan yang Tao suapkan. Satu suap hingga suapan ke terakhir, Kris tersedak. Ia terbatuk-batuk, membuat Tao panik, Kris membuka tas ranselnya dan mengambil botol air mineral. Tak lama batuk Kris berhenti, Kris tertawa memandang Tao.

"Sepertinya aku tersedak." Ujar Kris.

Tao mengelus punggung Kris membuat namja itu lebih tenang.

"Ge, lain kali hati-hati. Kau mengagetkan ku, aku panik melihatmu seperti itu." Ujar Tao.

Kris tertawa dan mengacak surai Tao. "Hm, mianhae."

Dibalik tawa dan senyumnya, hati Kris berujar, "Apakah sudah separah ini? Kenapa terasa sulit sekali saat menelannya."

ToBeContinue…..

Haaaaaiiiii, author kembali…. Maafkan author ya, chapt kemarin masih banyak banget typo, author pastikan chap ini gak ada deh.. berharap readers puas dan kembali teraduk-aduk perasaannya membaca ff ini.. whahahah *ketawajahat.

Thank you for all, viewers, likers, followers, readers and silent readers. Tetap beri komentar dan saran kalian karena author akan selalu memberikan yang terbaik untuk kalian semua. Yeorobeun, Saranghae….. J

Big thanks and Reply for review :

aldif.63: Udah next yaaa, Gomawo reviewnya^^

annisakimexo: Udah lanjut yaa… Gomawo reviewnya^^

Aiko Michishige: udah lanjut yaa… Gomawo reviewnya^^

Tanda centang: Itulah yang author inginkan, whahahah *ketawajahat. Gomawo, author gak tega Kris menderita sebenarnya, wkwkwk. Gomawo reviewnya^^

BabyZi: hahahah, Suho juga susah kok buat tetep jahat, dia masih anggap Kris anak kesayangan. Terma kasih pujiannya BabyZi. Iya mianhae, author berusaha di chapt ini gak ada typo deh, klo pun ada sedikit palingan. Gomawo reviewnya^^

Chankai Love: Udah lanjut nihhh, Gomawo reviewnya^^

GingerBeep: maafkan kekejaman author, udah lanjut ya… Gomawo reviewnya^^

Celindazifan: untuk itu author masih bingung, Celin. Soalnya memang Aids itu gak ada obatnya kan? Gomawo reviewnya^^

Ammi Gummy: Gak, disni udah ada kode Kai gak bakal balik. Mianhae. Gomawo reviewnya^^

Permenkaret: Suho lebih mentingin keeksisannya di dunia bisni sih, ckckckck. Gomawo reviewnya^^