Gomenasai, Sakura

»«

.

.

.

»«

Summary: Mungkin inilah saatnya kau melepas Sasuke, Sakura. Berbahagialah dengan Itachi. Itu yang Sasuke inginkan darimu. You know it so well/Kau harus bahagia/Aku akan bahagia di sampingmu/Tidak denganku./Apa yang kau bicarakan, Baka?!/.../Kau tahu aku mencintaimu/Aniki... dia mencintaimu/Apa?/Uchiha Itachi mencintaimu, HarUchiha Sakura.

»«

.

.

.

»«

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Story © Uchiha Raikatuji

Rate: T

Genre: Romance, Hurt

Pairing: ItaSaku, SasuSaku.

Warning: Miss typo(s), GJ, abal, Sakura sentric, semi canon, alur terlalu cepat (banget), etc. Di sini ceritanya Sasuke nggak ngebunuh Itachi.

Words: 2.077

Sequel The Last Time request by Cherry480.

»«

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

.

»«

Peristiwa berdarah itu terjadi lagi. Keluarga Uchiha yang sedang berusaha bangkit dengan tertatih itu hancur. Kabar burung mengatakan klan Uchiha merupakan klan terkutuk. Beberapa mengatakan bahwa klan mereka sedang diambang batas kehancuran.

"Nii-san…" bisik seorang lelaki dengan iris semerah darah.

Darah mengalir pelan mendekati kakinya. Pria yang dipanggil sebagai kakak itu melangkah mundur menjauhi aliran darah yang menetes dari pakaian adiknya sekaligus menghindari sosok yang terlihat membencinya itu.

"Tidak. Kau tidak akan berani ikut campur."

Dengan iris merahnya, ia menatap pria itu dengan megerikan kemudian menyeringai seakan puas dengan ketakutan sang kakak.

"Benarkah begitu?"

Dengan samurai yang lelaki itu bawa, ia mulai megangkat pedang itu yang semula diseretnya. Seringainya semakin jelas.

"Jaa, ne."

Dia mengayunkan samurai itu dan

Itachi membuka matanya kaget. Peluh mengalir di pelipisnya. Napasnya memburu. Sakura di sampingnya menggeliat pelan karena sedikit pergerakan Itachi. Ia menghela napas panjang mengetahui itu semua hanya mimpi.

Uchiha sulung itu mengecup bibir Sakura sekilas sebelum memeluknya erat.

Sakura tengah mengandung anaknya yang kini sudah berumur tiga bulan. Perutnya belum begitu membuncit, tapi postur tubuhnya menjadi lebih berisi. Itachi melihat jam digital di samping kasur mereka berdua.

Pukul 3.00 am.

Besok ada sebuah misi yang harus dijalaninya mungkin untuk tiga hari ke depan. Justru yang dikhawatirkannya adalah Sakura akan berdua dengan adiknya saja selama itu juga. Mungkin egois menginginkan Sakura bersamanya karena ia sedang hamil.

Bertepatan dengan kepulangan Sasuke dari misinya, ia akan meninggalkan Sakura. Hal-hal yang dibayangkannya membuat ia cemburu sekali.

Sakura menggeliat pelan dalam pelukan suaminya. Pelukannya terlalu erat. Uchiha pink itu tersenyum. Masih dengan mata terpejam.

"Ada apa, Anata? Ini masih pagi." bisik Sakura pelan. Suaranya sedikit serak.

"Tidak ada. Hanya mimpi buruk. Tidurlah lagi." jemari Itachi menelisik surai merah jambu milik Sakura. Membelainya lembut.

"Baiklah…" kedua emerald itu sama sekali tidak terbuka. Tidak menatap sepasang onyx yang terlihat sangat khawatir itu. "Kau juga harus tidur."

Senyum hangat terukir di bibir Itachi. "Tentu."

"Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Sakura.

"Sedikit. Kau bisa tidur duluan." Uchiha sulung itu mencium lembut keningnya.

"Apa yang kau pikirkan?" kini ia membuka metanya. Menuntut suaminya menjawab. Menangkap jelas ekspresi Itachi. "Kau tahu kau bisa berbagi denganku."

Lelaki itu tersenyum dan mendekap Sakura semakin erat. Menghirup aroma shampoo Sakura. "Besok aku akan pergi menjalani misi selama tiga hari atau mungkin lebih." Ia berusaha menransfer rasa gundah di hatinya. Lelaki itu melepas pelukannya. Menatap kedua matanya dalam. Mengaitkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya ke belakang telinga. "Aku akan meninggalkanmu berdua di rumah ini dengan Sasuke."

Ujung bibir Sakura berkedut menyadari apa yang Itachi sedang berusaha untuk katakan.

"Cemburu itu wajar, Itachi -kun." Sakura tersenyum lembut. "Aishiteru mo."

Meski Itachi jauh lebih tua dari dirinya, dia tetap saja belum terbiasa akan rasa cemburu yang ia rasakan pada adiknya tersebut. Dia takut akan banyaknya kemungkinan dan juga kesempatan.

"Maafkan aku, Sakura." bisik Itachi tepat di telinga wanitanya.

"Maaf? Utuk apa?" Sakura tenggelam dalam iris onyx itu. Entah kenapa sepasang onyx klan Uchiha selalu saja berhasil membuatnya bertekuk lutut.

"Untuk merebut kebahagiaanmu dari Sasuke."

Senyuman Sakura perlahan luntur. Kedua alisnya betautan.

"Sudah tidak ada lagi, Anata. Rasa itu sudah hilang." berusaha meyakinkan suaminya, ia menatap lurus ke dalam iris kelam itu.

Itachi tersenyum lega mendengar itu. Mencium hidung Sakura lembut.

"Mungkin kau merasa cemburu karena takut Sasuke akan kembali merebutku? Atau mungkin juga karena dia bisa saja menyakitiku?" tebaknya lembut. "Tidak mungkin. Dia adikmu. Kau hanya terlalu khawatir."

Sakura menghela napas lembut.

"Sebenarnya aku tersentuh dengan hubungan kalian berdua sebagai adik kakak." jujurnya. "Aku terlahir sebagai anak tunggal. Aku merasa cemburu."

"Kalian berkorban satu sama lain. Kalian saling menunjukkan perhatian meskipun tidak secara langsung."

Sakura tersenyum padanya. "Tidurlah." Dengan cepat ia mengecup bibir suaminya. Dengan kedua tangannya memeluk Itachi, ia kembali tertidur.

»«

.

.

.

»«

Itachi tersenyum lembut dan mengelus puncak kepalaku. Mencium keningku lembut.

"Jaga rumah." Pesannya. Aku tersenyum geli mendengar itu. "Jangan nakal."

"Tentu, Ita-koi." Aku mencium pipinya. "Hati-hati di jalan. Jangan lirik-lirik."

Itachi terkekeh.

"Aishiteru." Aku melambaikan tangan.

Setelah bayangan Itachi hilang di persimpangan, aku berlalu masuk ke dalam rumah. Aku harus bersih-bersih. Mungkin ini kesempatan untuk membiarkan rumah bersih sementara walau pun mungkin saja Sasuke akan segera pulang.

Dua orang penggila misi itu selalu berselisih dalam mengambil misi. Aku heran. Saat Sasuke datang, Itachi pergi. Justru saat Itachi datang, Sasuke pergi. Semua orang akan tahu jelas dua orang itu penggila misi.

Aku mengambil penyedot debu dan mulai membersihkan ruang tamu. Beberapa partikel debu lain melayang di udara. Memaksaku memakai masker mau tak mau.

Tok.. tok.. tok…

Seseorang terdengar mengetuk pintu. Ah, siapa ya?

Tidak mungkin Sasuke karena kalau itu Sasuke, dia pasti akan langsung masuk seperti biasa jika ia baru pulang dari misi. Lagipula, Sasuke punya kebiasaan melapor dulu pada Naruto sebelum ia pulang ke rumah.

Aku membuka pintu dan terkejut. Kedua bola mataku terbelalak. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan.

"Kami-sama! Apa yang terjadi?" tanyaku khawatir pada dua ninja yang membopong Sasuke.

"Dia terluka parah."

"Lalu kenapa kalian bawa ia ke sini?!" bentakku. "Kita ke rumah sakit sekarang."

Aku bergegas dan pergi ke rumah sakit setelah mengunci pintu rumah.

Tanganku bergetar hebat. Kenapa? Tidak mungkin Sasuke begitu terkulai lemas. Ia bilang ini bukan misi sulit. Lalu kenapa ia bisa terluka parah? Dia pasti berbohong.

"Ada seorang penyusup di tim kami." kata seorang ninja di sebelah kanan Sasuke memberi tahu.

"Ia bukan ninja biasa. Ia kuat. Nyaris sekuat Hokage-sama."

Jantungku berdetak hebat mendengarnya. Pantas saja.

Sasuke kehilangan tangan kirinya terakhir kali ia dan Naruto bertarung. Nyaris sekuat Naruto? Aku tidak bisa membayangkan kenapa dua ninja ini jauh lebih baik-baik saja daripada Sasuke.

"Sasuke menghalau ninja itu sendirian sampai berhasil dibekuk." Satu ninja lainnya kini memberitahuku.

Astaga. Pria ini selalu berhasil membuatku khawatir. Akan kupastikan ia mendapat perawatan maksimal di rumah sakit.

Setelah selesai mengantarkan Sasuke ke rumah sakit, aku berterima kasih keada dua ninja itu dan menunggui Sasuke hingga seorang wanita keluar dari ruangan itu setelah selesai mengobati Sasuke.

"Sakura-san, ia baik-baik saja, tapi masih butuh perawatan intensif. Ia baru saja sadar. Kau boleh masuk." jelasnya lalu berlalu setelah aku mengangguk berterima kasih.

Aku tersenyum pada kunoici itu. Sepertinya aku mengenalnya. Entahlah. Dia mengetahui namaku tanpa bertanya terlebih dahulu.

"Hai, Sasuke-kun." Panggilku sambil tersenyum. "Kau terlalu memaksakan diri."

"Hn."

Aku merasa seperti déjà vu dengan kejadian ini. Mengingat kembali saat dulu kami masih di tim 7. Saat aku mengupaskan apel untuknya. Rasanya ingatan masa kecil yang menyenangkan.

"Kau seharusnya membiarkan yang lain membantumu." bisikku lembt. Mencoba menasihati. "Kalau sudah begini kan, aku khawatir. Dari dulu kau dan ci Ceroboh itu selalu saja keras kepala."

Aku tahu tak ada gunanya memberi tahu Uchiha. Mereka semua terkadang seakan tidak memiliki akal sehat lagi. Otak mereka berisi penuh dengan ambisi.

"Aku ingin pulang."

"Hah? Pulang?" tanyaku kaget. "Kau baru saja sampai. Setidaknya kau boleh pulang besok sampai diizinkan."

Sasuke terlihat kesal dan menggeram pelan. Aku tahu dia benci rumah sakit. Bebauan yang tidak mengenakan selalu menguar di sini. Hanya saja, dia kini sedang sakit. Aku harus memaksanya tinggal setidaknya hingga besok.

"Hn."

Aku tersenyum lembut karena tidak mendapat respon negatif darinya.

»«

.

»«

Ini hari kedua Itachi pergi. Sedangkan luka di tubuh Sasuke sepertinya jauh lebih baik meskipun bukan berarti ia tidak terlihat buruk. Masih banyak luka yang belum mengering di tubuhnya. Sekali pun Sasuke sudah diperbolehkan pulang ke rumah, tapi keadaannya menurutku masih kurang baik. Aku harus rutin mengobatinya.

Aku berjalan ke kamar Sasuke untuk mengontrol lukanya dan memberi dia obat. Ia masih terbaring di kasur.

"Bagaimana? Sudah baikan?" tanyaku berusaha memulai percakapan.

"Ya." Jawab Sasuke pendek.

Andai saja ia tidak meminta untuk pulang, mungkin pihak rumah sakit tidak akan memulangkannya hari ini. Ya, pria ini memang keras kepala sejak lahir. Untung saja mereka tahu aku ini mantan kunoici. Aku bisa merawat lukanya selama Sasuke di rumah.

"Kau harus minum obat, ya. Aku juga harus mengontrol cakramu. Apa kau banyak pikiran? Aliran cakramu kacau sekali."

"Kau beruntung ada aku di sini. Kunoici terhebat di Konoha." Aku tertawa kecil berusaha menghiburnya.

Tanganku mendekat ke dadanya. Menyembuhkan beberapa luka di area vitalnya.

"Sakura." Sasuke tiba-tiba saja menggenggam pergelangan tanganku. Menghentikan pendaran cahaya hijau di sekitar tubuhnya. "Apa kau bahagia?"

Aku terkejut dan sedikit megernyit. "Maksudmu?"

"Dengan Itachi-nii…" bisik Sasuke pelan. "… apa kau bahagia?"

Kedua iris kami terus beradu. Kernyitan di dahiku perlahan memudar. Tatapan serius diberikan penuh oleh onyx kelam Sasuke. Pipiku merona tanpa bisa ditahan.

"Ya, t-tentu." Aku gelagapan menanggapi pertanyaannya. "Dia pria yang baik dan lembut."

"Yokatta…" Uchiha bungsu itu menghela napas pelan seolah lega mendengar penuturanku. "Jangan buat pengorbananku sia-sia."

Sasuke mengalihkan pandangannya ke jendela luar.

Untuk pertama kali dalam hidupku, aku bersumpah melihat sekilas seyum Sasuke yang tulus di sana. Senyuman yang benar-benar tanpa beban. Ringan dan menyenangkan.

"Aku tahu ini mungkin sulit bagimu, Sasuke-kun." ucapku tersenyum lembut. "Itachi pasti sudah berhasil menghapus semua dendam yang tersisa itu, ya?" aku tertawa kecil. Tanganku kembali mengalirkan cakra ke tubuh Sasuke saat genggaman tangannya terlepas. Aku menunduk. "Kau mengorbankan dirimu sendiri agar Itachi bahagia denganku."

"Kau tidak tahu…"

"Aku tahu!" potongku sambil kembali melakukan kontak mata dengannya. Wajahku memerah menahan emosi yang berusaha menguap, menguasaiku. "Aku tahu apa itu arti pengorbanan."

Napasku mulai tak beraturan karena emosi yang tak terkontrol.

"Aku tahu, Sasuke-kun." Bisikku lemah. "Aku tahu rasanya melepaskan apa yang begitu kita inginkan selama bertahun-tahun."

Kicauan burung di luar jendela terdengar. Seakan turut berkomentar akan perbincangan kami berdua.

Perlahan genangan air mata mulai menumpuk di pelupuk. Satu kedipan saja dapat menghancurkan segala pertahananku.

"Sepertinya kau butuh istirahat." kata Sasuke terdengar khawatir.

Aku menghela napas dan menghapus genangan air mata dengan punggung tangan. Memberi Sasuke sebuah senyum meyakinkan.

"Tidak. Aku sama sekali tidak butuh istirahat, kok." Aku berusaha tersenyum dan berkata dengan ceria. "Aku harus meluruskan semuanya."

Mantan teman satu timku dulu itu terlihat berusaha menyimak apa yang akan kuucapkan.

"Kau tahu? Dulu saat kulit kita bersentuhan, ada sebuah tegangan listrik yang kurasakan, namun terasa menyenangkan. Aku menyukai itu. jantungku berdetak tak karuan. Ingin rasanya kedua emerald-ku terus terpaku padamu seakan tidak ingin kehilangan satu detik pun." Jelasku. Berusaha membuat pria itu mengerti. "Tapi semuanya lenyap."

Entah kenapa, ada ekspresi kelegaan di wajah Sasuke. Ia seakan telah melepas beban berat di pundaknya. Aku tersenyum melihat Sasukeku sudah jauh lebih dewasa sekarang. Ia bukan lagi Sasuke yang mudah tersulut dendam. Bukan lagi Sasuke yang berambisi membunuh kakaknya.

"Rasanya semua ini hambar saat kulitku menyentuhmu. Jantungku berdetak normal seakan tak ada apa pun yang terjadi. Bahkan aku tidak merasa kehilangan sesuatu yang penting saat aku memutuskan kontak mata denganmu." aku tersenyum pada Sasuke. "Berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan dengan Itachi setelah setahun kami menikah. Aku merasa nyaman berada di sampingnya. Seakan-akan dia bisa melindungiku dari apa saja."

Sasuke memeri senyuman itu lagi padaku mungkin untuk terakhir kalinya.

"Dulu aku merasa kalau kisah cintaku ini mungkin salah. Kenapa semua terlihat begitu menyedihkan? Kenapa semua terasa.. begitu menyakitkan?" bisikku nyaris putus asa. "Sekarang aku tahu pasti jawabannya. Semua pasti akan indah di akhir kisah."

Aku megerti apa yang Sasuke rasakan. Setelah semua ini, aku mengerti. Rasa lega yang dia rasakan… aku juga merasa lega dan ringan. Lebih bebas.

"Kalau kau mungkin penasaran, rasa itu sama sekali belum hilang."

Tanganku menjauh darinya. Sudah selesai.

Perasaan memang tak mudah berubah, Sasuke. Aku bahkan butuh waktu lama untuk bisa sepenuhnya melepaskanmu. Namun… sepertinya kau bahkan butuh waktu lebih dari 'lama' itu sendiri. Aku menunduk dalam.

"Tapi aku tidak akan menuntut apa pun selain satu hal ini."

Aku mendongak. Sasuke memberikanku sebuah ekspresi yang tidak bisa aku definisikan. Dia seakan memelas dan memohon namun memaksa dalam waktu yang bersamaan. Bahkan juga ada ekspresi amarah di matanya meskipun samar.

"Aku hanya ingin kau membahagiakannya sekali pun kau tidak bahagia."

Rasanya bibirku kini kaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku ungkapkan padanya. Sasuke terlihat sedih dan lega.

"Berjanjilah untuk terus di sampingnya apa pun yang terjadi." Sasuke menatap mataku tajam.

"Tentu saja." kataku sambil tersenyum. "Aku ini istrinya. Aku mencintai Itachi. Aku pasti akan terus di sisinya. Itu janji yang sudah kuucapkan bahkan sebelum kami menikah."

Hening.

Tak ada lagi kata yang diucapkan Sasuke padaku. Ia hanya terdiam menatap ke arah jendela di sebelah kirinya seakan menghindari bertatapan denganku.

»«

.

.

.

»«

Sakura pergi dari kamarku setelah mengingatkan untuk meminum obat. Aku hanya bergumam pelan menanggapi perintahnya.

Decitan pintu terdengar ngilu saat ia menutup pintu.

Sebentar lagi aku akan menjadi jii-san bagi anak Sakura dan Itachi -nii.

Rasa sesak memenuhi rongga dadaku. Pada akhirnya, merelakan seseorang yang disayangi memang tidak semudah itu. Kebahagiaan orang yang kita sayang juga tidak selalu membuat kita bahagia. Apalagi saat kau tahu ia juga menyayangimu, menunggumu bertahun-tahun hanya agar kita kembali. Namun satu hal yang kutahu, keegoisan terkadang memang harus disingkirkan untuk menghindari ketamakan.

Aku tersenyum lembut menatap sebuah foto lama tim 7 di atas nakas kayu.

Tak akan kubiarkan rasa sesal memenuhi hatiku lagi. Aku akan membiarkan mereka berdua bahagia. Membiarkan mereka saling menyayangi sekali pun rasanya menyakitkan.

»«

.

.

.

»«

To Be Continued

»«

.

.

.

»«

Author's Note:

Haaaaiiiiii…. *lambai tangan ke kamera*

Miss me? XD Miss you too….. :-* ({}) Ini satu lagi chap GJ untuk aku cekokin ke otak kalian. Semoga masuk walau terpaksa. Cerna, ya. XD Xixixi… aku ga banyak komen sama fic ini. Ga bagus, ga buruk. _. *yakin banget ga buruk?*

Yeah, akhirnya diketahui bahwa…. jengjengjengjeng… Sasu-pyon korban gagal move on. Tapi gapapa, tenang aja, hati aku siap menampungmu, Cintaku. XD XD

Hehehehe…. *GJ*

Keep reviewing, Reviewer! ^^