.
.
"Haah.."
Seorang pria menghisap sebatang rokok di tangannya—entah kenapa ia tidak terlihat takut karena nyatanya ia tengah berada di bandara saat ini.
"Maaf, Tuan. Tapi disini dilarang merokok."
"Siapa yang melarang, hah? Suruh dia kemari dan melawanku!" bentak pria itu—yang membuat petugas bandara yang tadi menegurnya sontak ketakutan dan secepatnya menjauh.
"Cih, dasar petugas cerewet." Pria itu mencibir, menghisap lagi rokoknya.
"Dimana Hyerin sekarang ini ya?" pria itu bergumam pelan, "Apa dia sudah melahirkan anakku?"
Pria itu terdiam sesaat, membuka ponselnya yang memperlihatkan wajah seorang wanita muda yang tengah tersenyum lebar.
"Hyerin-ah, aku kembali untuk menjemputmu dan anak kita.."
.
.
My Beloved Brothers
Genre: family, romance
Cast: EXO Members, other need soon
Warn: boys love! Brothership/complex, official pair dengan sedikit bumbu crack
.
.
Kyungsoo memandangi kertas yang dipegangnya sambil meringis—dia tidak kesakitan, itu jelas—tapi, ia ingin sejenak saja merutuk.
"Kenapa kita harus sekamar bertiga? Dengan sunbae pula. Kai tadi tidak begitu." tanya Sehun yang berdiri disebelah Kyungsoo.
"Aku juga tidak tahu, Sehun." Sahut Kyungsoo, membuka pelan pintu yang memiliki tulisan kecil disampingnya.
"Byun Baekhyun, Wu Kyungsoo, Hasegawa Sehun." Sehun dengan kurang kerjaannya membaca nama-nama penghuni kamar itu, "Sunbae kita namanya Baekhyun ya?"
"Mungkin saja." Kyungsoo memasuki kamar asrama itu terlebih dulu, "Tapi terserah lah, toh nanti aku juga tidak akan menginap disini kecuali terpaksa."
"Kenapa seperti itu?" Sehun masuk setelahnya, melempar ranselnya sembarangan ke ranjang yang kelihatannya masih kosong.
"Luhan-gege memintaku untuk menemaninya di rumah, rumah kami selalu sepi karena semuanya sibuk." Jelas Kyungsoo, duduk di ranjang jatahnya di kamar itu.
"Oh ya? Kau punya berapa saudara?" tanya Sehun datar—tapi sebenarnya antusias—memang gaya bicaranya saja yang begitu. Terdengar malas.
"Aku punya empat kakak." Kyungsoo menyahut lagi, "Kenapa kau tiba-tiba bertanya? Kupikir kau itu lebih pendiam dari saudaramu, ternyata kalian sama saja." Kyungsoo memandangi Sehun dengan mata yang melebar lucu.
"Kau saja yang tidak tahu, Kai sejujurnya lebih pendiam dariku." Sahut Sehun. "Ah, bicara tentang kakakmu, Luhan kakakmu yang keberapa?"
"Hah?!" Kyungsoo melotot. "K-kau meanggilnya hanya dengan Luhan?"
"Loh, memang kenapa?" Sehun bertanya balik.
Kyungsoo seketika terdiam, "A-ah, anni... hanya saja, Luhan-ge itu kakak tertuaku. Usianya tiga puluh lima tahun ini.."
Mata Sehun melotot lebar, "Uso! Ah, kau pasti bohong! Setidaknya meski dia kakak pertamamu, usianya tidak sebanyak itu!"
"...Sebenarnya yang adiknya itu siapa? Aku atau kau?" Kyungsoo menatap Sehun tajam.
"Aku tetap tidak percaya.." Sehun beberapa kali menggeleng.
Kyungsoo mencibir tanpa suara, 'Awalnya aku juga tidak percaya..'
Ketika Sehun dan Kyungsoo sama-sama terdiam, seseorang masuk ke dalam kamar asrama, keduanya sontak menoleh dan menemukan seorang pemuda bermata sipit dengan eyeliner yang lumayan tebal.
"Eh, jadi kalian murid kelas satu yang jadi roomate-ku?" tanya pemuda itu.
Kyungsoo dan Sehun saling berpandangan.
"Ah, Baekhyun-sunbae?" akhirnya Kyungsoo bertanya lebih dulu—membuat pemuda yang berdiri di depannya dan Sehun tersenyum lebar.
"Ah iya, Baekhyun itu aku. Salam kenal ya.." Baekhyun tersenyum manis sekali lagi.
"A-ah, bangapseumnida juga, sunbae.." Kyungsoo buru-buru berdiri dan membungkuk, sementara Sehun memilih untuk tetap duduk santai di atas ranjang miliknya.
Baekhyun menatap Sehun dengan pandangan tidak suka, "Kudengar ada anak Jepang yang sekamar denganku tahun ini, dan kupikir orang Jepang itu sangat menghormati orang yang lebih tua, jadi... apakah ada yang salah denganmu Tuan—" Baekhyun melihat name-tag di seragam Sehun—yang marganya ditulis dengan huruf hiragana, "—Hasegawa."
"Halo, Byun-senpai." Sapa Sehun, "Namamu terdengar mesum sekali."
Baekhyun melotot—terlihat begitu marah saat Sehun mengejek marganya. "Kau! Bocah kurang ajar!"
Sehun hanya menyeringai ketika Baekhyun yang mulai kalap dan terlihat ingin memakannya, sedetik kemudian keduanya terlibat adu lari—kejar-kejaran.
Kyungsoo merutuk lagi—teman sekamarnya kelihatannya tidak akan pernah bisa membuatnya tenang.
.
.
Ting Tong~
Chanyeol yang tengah menonton tv sambil memakan camilan di ruang tengah menoleh kearah ruang tamu, "Lu-ge~ ada tamu~" panggilnya pada Luhan yang tengah mengetik di kamarnya.
Sementara Luhan sendiri tengah mendesah lelah di kamarnya, "Astaga! Apa editor sudah datang menagih?" ucapnya frustasi. Luhan akhirnya memutuskan meninggalkan pekerjaannya sejenak ke lantai bawah untuk membukakan pintu. Ketika melewati ruang tengah, ia melihat Chanyeol sedang bersantai di sofa sambil menonton Spongebob series.
Luhan sempat menepuk dahinya, 'Berapa usiamu, Chan?' batinnya.
Luhan membukakan pintu rumah dan tercengang begitu mengetahui siapa yang tengah bertamu ke rumahnya sekarang.
Mengingat sosoknya saja Luhan merasa rahangnya mengeras—tapi, orang tersebut dengan jelas berdiri di hadapannya.
"Kau—" Luhan menatap sengit orang itu, "—ternyata kau kembali, huh?"
Orang itu tersenyum tipis, "Hai, Luhan, apa Hyerin ada?"
Grit..
Luhan menggertakkan giginya. Setelah semuanya yang terjadi, orang di depannya ini dengan mudahnya menanyakan dimana Hyerin? Setelah orang di depannya menghancurkan hidup Hyerin—dengan mudahnya bertanya begitu?
"Pergi.." ucap Luhan lirih.
"Hei, Lu.. aku tidak akan membawa Hyerin pergi. Aku hanya mau bertemu dengannya." Ujar pria itu lagi.
"PERGI AKU BILANG! APA KAU TULI, HAH?!"
Luhan berteriak kencang hingga urat-uratnya terlihat. Pria di depannya sampai mundur beberapa langkah. Luhan masih mengatur nafasnya saat Chanyeol datang ke ruang depan.
"Ada apa ge—" ucapan Chanyeol terhenti ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya. Matanya yang biasanya bersinar ramah berubah menjadi sinis begitu menatap orang itu.
"Ada apa kau kemari?" tanya Chanyeol.
"Ah, Yeol! Kita ini dulu teman satu sekolah dulu, kau tahu? Ramahlah sedikit pada teman lamamu ini." Orang itu tersenyum tulus, tapi Chanyeol berdecih—lalu menatap Luhan.
Luhan mendesah lelah, "Usir dia pergi, Chan.." sebelum memasuki rumah terlebih dulu.
Orang itu membelalakkan matanya, "Hei, Lu! Aku kemari dengan tujuan baik-baik! Dimana Hyerin?! Dimana an—" ucapan orang itu terputus saat Chanyeol mencengkeram kerah kemejanya dan mencekiknya agak kuat—membuat orang itu melenguh sesak.
"Pergi. Dari. Sini." Chanyeol berucap penuh penekanan, "Atau kau mau aku menghabisimu, teman lama?"
Pria itu menarik nafas kuat-kuat saat Chanyeol sedikit menghempaskan tubuhnya, "Chanyeol—"
Brakk!
Pria itu terkesiap saat hembusan angin dari pintu yang ditutup—atau tepatnya dihempas paksa—oleh Chanyeol. Ia menghela nafas begitu berat, sebelum memutuskan meninggalkan kediaman keluarga Wu.
Percobaan pertama gagal—batinnya.
Sementara di dalam rumah, Chanyeol masih berusaha menenangkan Luhan yang tampak masih sangat emosi.
"Sudahlah, ge. Aku sudah mengusir orang itu pergi." Chanyeol mengusap punggung Luhan. "Jangan terlalu dipikirkan, nanti kau stress." Chanyeol berucap lagi, menatap kakak tertuanya prihatin. Ia tahu Luhan benar-benar sangat tertekan akhir-akhir ini karena masalah naskah yang deadline-nya tinggal dua hari lagi—membuat Luhan benar-benar harus menguras otak untuk menulis. Dan kedatangan 'tamu tak diundang' tadi sama sekali tidak membuat keadaan membaik.
Luhan menghela nafas, mengusap dahinya pelan. "Kenapa orang itu bisa kembali? Aku pikir dia akan pergi dari keluarga kita selama-lamanya."
Chanyeol mengangkat bahu, "Molla."
Luhan tersentak, "Apa dia mau mengambil Kyungsoo?"
Chanyeol terdiam sebentar, "Jika itu terjadi... kita harus apa?"
"Dia sudah membuang Kyungsoo dan Hyerin-nuna saat dia pergi saat itu! Aku tidak akan membiarkan orang itu mengambil Kyungsoo dari kita!" Luhan nyaris berteriak pada Chanyeol—wajah Luhan benar-benar merah. Luhan terhuyung sesaat kemudian sambil memegangi kepalanya—beruntung saja Chanyeol cepat menangkap tubuh Luhan sebelum kakaknya itu terjatuh.
"Astaga, ge! Lihatlah, kau terlalu lelah!" Chanyeol membopong Luhan menuju kamar kakaknya, "Istirahatlah, nanti anemia-mu bisa kambuh lebih parah."
Luhan mendengus, "Baiklah, nanti telepon Kris dan Junmyeon untuk segera pulang, Chanyeol. Kita harus membicarakan kedatangan orang itu."
Chanyeol mendengus, "Dia punya nama, ge."
Luhan memutar bola matanya, medesis benci sebelum mengucapakan sebuah nama.
"Baiklah, baiklah.. Do Seungsoo..."
"Kau mengucapkannya penuh kebencian." Chanyeol membukakan pintu kamar Luhan dan membawa kakaknya masuk.
"Aku memang membencinya, Chanyeol."
Chanyeol mendesah, "Apa kau masih menyimpan perasaan itu, ge?"
Luhan hanya terdiam, meremas rambutnya kasar.
"Aku.. aku tidak tahu, Yeol!"
.
.
Kyungsoo menatap si kembar Hasegawa yang tengah bermain game bersama-sama dengan pandangan malas.
"Kyungsoo, kau tidak jadi pulang hari ini? Bukannya katamu kau tidak mau menginap di asrama?" tanya Sehun.
Kyungsoo mendengus, "Luhan-ge melarangku pulang hari ini. Tidak biasanya sekali. Saat bicara di telepon tadi, suaranya juga terdengar aneh."
Kai ikut nyeletuk, "Pasti ada yang sedang disembunyikan kakakmu."
"Sok tahu." Desis Kyungsoo.
Kai berdecih, "Itu kelihatan sekali, Kyungsoo. Aku selalu menangkap gelagat seperti itu saat Sehun dulu sering membawa pacarnya saat SMP untuk datang ke rumah kami."
Sehun menyenggol tubuh Kai keras dengan badannya sendiri—membuat badan Kai sedikit oleng. Sebagai balasan, Kai memukul-mukulkan stik PS miliknya ke kepala Sehun.
Kyungsoo berpikir sejenak. Memang, tidak menutup kemungkinan bahwa yang dikatakan Kai adalah kebenaran. Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Tidak, ia percaya pada Luhan. Mungkin hanya perasaannya saja yang kurang bagus sekarang.
"Kai, segeralah kembali ke asramamu. Sepertinya sebentar lagi Baekhyun-sunbae akan kembali." Sehun berujar—sebenarnya hanya semata-mata mengusir kembarannya dari kamar asramanya.
Kai tergelak, "Sejak kapan kau mau memanggil kakak kelas dengan sebutan senior seperti itu?" cibirnya.
Sehun hanya cemberut sambil membereskan PS, kalau petugas pemeriksa asrama tahu, bisa habis dia.
Kai segera keluar dari kamar asrama Sehun dan Kyungsoo. Sebelumnya, Kai sempat mengelus kepala Kyungsoo—yang sedang melamun—dengan pelan. Kyungsoo memperhatikan pemuda dengan kulit gelap itu dengan pandangan tanya.
Kai tersenyum, "Kau tidak perlu memikirkannya terlalu keras, Kyungsoo."
Begitu Kai keluar, Kyungsoo lantas menatap Sehun yang menatapnya lekat. Pandangan Sehun seperti menelanjangi Kyungsoo saking intensnya—membuat Kyungsoo sedikit jengah.
"Tumben sekali dia peduli pada orang lain." Sehun berucap pelan—entah pada siapa, karena saat mengatakannya Sehun tidak menatap Kyungsoo. "Aku tahu dia ramah dan sok kenal, tapi, dia jarang peduli."
Sok kenal—Kyungsoo setuju akan hal itu.
"Memang kenapa Luhan bisa melarangmu pulang ke rumah?" Sehun bertanya lagi, menaiki ranjangnya dan duduk menghadap Kyungsoo yang berada di seberang tempat tidurnya.
Kyungsoo menggaruk tengkuk, "Entahlah, Luhan-ge tidak mengatakan alasannya."
Sehun mengangkat bahu.
Namun, sepanjang malam itu, Kyungsoo sama sekali tidak bisa tidur—hari pertamanya di asrama sekolah membuatnya risau.
'Kenapa dengan Luhan-ge?'
.
.
"Apa?!" Kris langsung bertanya dengan nada tinggi saat Chanyeol memberitahu alasan Luhan menyuruh mereka berkumpul malam ini. "Maksudku.. oh astaga!"
Junmyeon menghela nafas, "Ini.. terlalu rumit."
Luhan menatap semua adiknya dengan pandangan lelah, "Maaf, aku membuat kalian jadi ikut masuk dalam masalah ini."
"Itu buka salahmu, ge." Chanyeol mengucapkan kata penghiburan, namun, tidak tampak berhasil.
"Tetap saja, Yeol."
"Tidak, ini masalah kita semua—sejak Ayah menikahi Oh Hyerin. Kita memegang mesalah ini bersama, ge." Junmyeon berujar bijak, "Kita akan menyelesaikannya bersama."
"Dengan Kyungsoo yang ada sekarang? Kupikir itu akan sulit, Junmyeon."
Semuanya terdiam. Keheningan terpecah saat Luhan mendesis setengah terisak.
"Aku... aku merasa sangat berdosa. Pada Ayah, pada Hyerin-nuna... pada Kyungsoo.." Luhan meracau, "Aku tidak bisa mempertahankan hubunganku dengan Hyerin-nuna waktu itu. Ketika ia memberitahu kehamilannya karena orang itu sambil menangis kepadaku, aku malah memberinya tatapan benci. Dan saat ia sudah menikah dengan Ayah yang bersedia menutup aibnya, dengan lancangnya aku berkata bahwa aku masih mencintainya sebagai kekasih hingga ia pergi dari rumah kita dengan membawa serta Kyungsoo."
Racauan itu selanjutnya berubah menjadi sebuah isakan. "Aku tahu, kalian tidak terlalu menyetujui keinginanku untuk membawa Kyungsoo bersama kita waktu itu—terutama kau Kris. Tapi, aku tetap memaksa. Kupikir dengan hal ini aku bisa mengurangi dosa yang sudah aku perbuat." Luhan bicara lagi sambil menahan senggukannya.
Kris yang paling pertama berdiri, merangkul kakak tertuanya—diikuti oleh Junmyeon dan Chanyeol.
"Kita cepat atau lambat harus memberi tahu Kyungsoo hal ini, sebelum ia tahu sendiri. Seungsoo orang yang punya banyak koneksi di Korea, tidak menutup kemungkinan ia akan mencari Kyungsoo langsung, tanpa sepengetahuan kita."
Kris menepuk kepala Luhan pelan—tidak peduli fakta bahwa Luhan dua tahun lebih tua darinya, "Masalahnya, apa kita siap dengan respon Kyungsoo—jika mengetahui kita yang sudah mengaku sebagai saudaranya selama dua tahun ini sama sekali tidak memiliki ikatan darah dengannya?"
Semuanya kembali terdiam dengan wajah yang terlihat bingung. Bahkan Junmyeon yang biasanya tenang pun terlihat tegang. Keempat saudara itu memikirkan hal yang sama.
Wu Kyungsoo itu. Bukan adik kandung mereka.
.
.
Seorang pria di sebuah kafe tampak mengangkat teleponnya yang berdering.
'Tuan Do Seungsoo, kami sudah berhasil mengumpulkan data dari Oh Hyerin.'
Pria itu—Seungsoo—tersenyum senang, "Ceritakan padaku." Ujarnya.
'Oh Hyerin sudah meninggal tiga tahun lalu akibat kecelakaan, Tuan. Sampai kematiannya, ia hidup bersama ibunya di Gyeonggi-do.'
Seungsoo agak tersentak mendengar Hyerin meninggal, "K-kau yakin Hyerin sudah meninggal?"
'Sangat yakin, Tuan.'
Seungsoo menatap sekeliling, merasa tidak ada yang memperhatikannya, ia kembali bicara, "Ada lagi yang kau dapat?"
'Begini Tuan. Oh Hyerin memiliki seorang putra bernama Wu Kyungsoo. Saat ini ia sedang menempuh pendidikannya di Aufard High School. Kemungkinan ia tinggal di asrama sekolah itu—karena menurut Anda, tidak ada tanda keberadaan seorang remaja di kediaman keluarga Wu. Sejak dua tahun lalu, Wu Kyungsoo tinggal di sana bersama kakak-kakaknya.'
Oh! Seungsoo tersenyum lebar. Ia mendapatkan sebuah pemikiran bagus.
"Baiklah, terima kasih atas bantuanmu, Kibum. Aku akan mengirimkan uang ke rekeningmu nanti malam."
'Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Do.'
Seungsoo menutup teleponnya, memutar ponselnya diatas meja kafe.
"Setidaknya, aku bisa membawa putraku bersamaku. Lihat saja, Luhan."
.
.
Kai memandangi jam wekernya dengan pandangan memelas.
Beberapa saat lalu ia terbangun karena suara berisik keterlaluan yang berasal dari nakas di sebelahnya. Tanpa membuka mata, ia meraih sesuatu itu dan melemparnya agar berhenti berbunyi. Dan ketika ia benar-benar membuka matanya, ia melihat jam wekernya terkapar dengan kondisi rusak—pecah berkeping-keping. Sekarang Kai mengerti, mengapa ibunya tidak pernah mengijinkan ia dan Sehun untuk memiliki jam weker—dan memilih untuk selalu membangunkan mereka tiap pagi meskipun merepotkan.
"Ah, kau sudah bangun, Kai?"
Kai menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka. Itu teman sekamarnya—Kim Moonkyu—sepertinya baru selesai mandi.
Kai mendengus, "Ya, begitulah."
Kai akhirnya memutuskan untuk segera mandi—hari ini pengumuman pembagian kelas. Sehun sudah menyuruhnya cepat menuju gedung sekolah mereka—dengan harapan apabila mereka satu kelas, mereka bisa mencari tempat duduk yang berdekatan.
Yah, bro-complex Sehun masih ada melekat rupanya.
Tapi, yang membuat Kai kesal, ia malah tidak bertemu Sehun di gedung utama—melainkan Kyungsoo yang turut berdesakan dengan banyak murid lain untuk melihat di kels mana ia ditempatkan.
Kyungsoo setengah berteriak saat ia merasa ada orang yang menarik kerah seragamnya sampai pemuda mungil itu mundur ke arah belakang.
"Nanti saja juga bisa melihatnya."
Kyungsoo menoleh dan menemukan Kai berdiri di belakangnya—dengan tangan Kai yang masih tersangkut di kerah seragam Kyungsoo. Rupanya Kai yang menarik kerah seragamnya.
"Argh! Apa yang kau lakukan!? Bajuku jadi kusut!" Kyungsoo bersungut kesal.
Kai tertawa remeh, "Kau seperti wanita saja, cemas hanya karena masalah itu."
Kyungsoo mendengus kesal. Memilih tidak membalas kalimat menyebalkan dari Kai.
"Dimana Sehun? Kenapa ia tidak bersamamu?" tanya Kai kemudian.
"Dia masih memakai seragam saat aku berangkat." Kyungsoo menjawab malas.
Kai menganggukkan kepalanya, "Anak itu memang selalu lambat."
Kai mendorong Kyungsoo untuk maju ke arah papan pengumuman di depannya—bersama dengannya—untuk melihat pembagian kelas mereka ketika kerumunan di depan sudah mulai membubarkan diri.
"Ah! Kyungsoo, kita sekelas!" Kai tertawa mengetahui fakta itu.
"Ya, tapi tidak dengan Sehun." Timpal Kyungsoo saat melihat nama Sehun terlempar jauh di kelas 1-VI, sementara ia dan Kai ada di kelas 1-I.
"Apa?" Kai turut melihat daftar murid kelas 1-VI yang ditunjuk Kyungsoo, dan nama saudara kembarnya memang ada di deretan itu.
"Oh, semoga saja dia tidak mengamuk." Kai berucap cuek. Berjalan meninggalkan Kyungsoo menuju kelas mereka.
"Loh, Kai!" Kyungsoo setengah berlari menyamai langkah Kai, "Tidak menunggu Sehun?"
"Anni, dia menyuruhku menunggunya untuk melihat apakah kami berada di kelas yang sama. Dan, kami tidak sekelas, jadi, untuk apa aku menunggunya lagi?" Kai menyeringai, mencolek dagu Kyungsoo dengan usil sebelum berlari—ketika pemuda mungil yang diusilinya berteriak protes dan mengejarnya.
Entah karena terlalu sering menoleh—atau terlalu fokus menertawakan Kyungsoo di belakangnya, Kai tidak menyadari keberadaan seorang pria di depannya. Dan—tidak perlu ditanya lagi, Kai menabrak telak pria di depannya—yang ternyata kebetulan juga memakai kacamata hitam.
Kai meringis, mengusap bokongnya yang baru saja mencim lantai koridor sekolah dengan sepenuh hati—telak terbantingnya. Kai baru saja ingin mengatai pria di depannya 'tidak bisa melihat' ketika ia mendapati pria itu memakai kacamata hitam—membuatnya mengurungkan niat. Siapa tahu pria di depannya benaran tidak bisa melihat. -/\-
Kyungsoo menyusul tidak lama kemudian, agak kaget melihat Kai yang terkapar sambil mengusap bokongnya.
"Ya, gwenchanha?" tanya Kyungsoo sambil membantu Kai berdiri. Pemuda yang lebih tinggi mengeluh saat Kyungsoo menarik lengannya untuk membantu tubuhnya tegak.
"Hm, aku baik saja—sepertinya." Kai menatap pria di depannya yang ternyata sudah melepas sunglass yang sejak tadi dipakai.
"Hei, bocah. Kau punya mata atau tidak, hah?" tanya orang itu sinis.
Kai melotot. Baru saja pemuda itu ingin protes, Kyungsoo menyeretnya menjauh. Tidak lupa, Kyungsoo membungkuk kearah pria itu.
"Jweosonghamnida, kami tadi tidak sengaja. Permisi." Ujarnya. Menarik lengan Kai yang masih ingin protes.
"Aish! Kyungsoo, lepaskan aku!"
Pria yang tadi ditabrak Kai agak terkejut saat mendengar nama 'Kyungsoo', baru saja ia ingin meminta dua pemuda itu kembali. Namun, ada seseorang yang menepuk bahunya.
Pria itu menoleh, mendapati seorang petugas sekolah yang menanyakan identitas dan izinnya untuk masuk ke area siswa—seperti yang dilakukannya saat ini. Sepertinya, petugas ini baru saja mengejarnya sedari tadi.
"Anda harus punya izin untuk memasuki kawasan ini. Atau Anda akan dikenakan denda, Tuan."
Pria itu menyeringai, membisiki sesuatu yang membuat petugas itu terkejut. Pada akhirnya, petugas hanya menanyai perihal nama pria itu.
"Namaku Do Seungsoo." Ujarnya kemudian.
.
.
-to be continued-
-balesan review-
yoo araa: hihi, perbedaan usia dalam sebuah hubungan bukan masalah kan? :3 makasih reviewnya ne :D
OhSooYeol: nah itu serahkan pada luhan saja meski saya suka pedo juga sih benernya /slapped/ , hehe. iyaa, ini kaisoo kok, kalaupun ada pair lain, itu cuma slight C:. makasih reviewnya ya :D
Kang Hyun Yoo: itu menunjukkan bahwa kai saudara yang baik, wks. maklum lah kalau chan nangis, dia kan masih SD. Makasih reviewnya ne :D
.
.
oh iya, saya lupa kasih tahu, disini juga ada OC karangan saya, seperti Oh Hyerin ataupun Do Seungsoo. meski setelah diingat, Oh Hyerin itu ternyata nama asli Raina After School -.-v tapi, terserah ya, mau nganggep Hyerin itu siapa. '-'v
last, mind to rnr?
