THE WORLD IS INSANE
FATE 2
" REUNITED, WITH FEARS AND TRAUMA "
Sejak kemarin malam, hujan terus mengguyur daerah mereka, mereka menganggap hujan ini merupakan penghambat dalam melanjutkan misi mereka, tapi dampak positif yang dapat diambil, zombie yang terus mencoba menggerebek mereka langsung meninggalkan area.
"Mereka sudah pergi, Ta-Taichi?" sejak malam, Yui tidak bisa tidur melihat para zombie terus mengitari rumahnya, bahkan semua orang terus berjaga dari malam.
"Hoam~~ aku tidak bisa tidur nyenyak gara – gara mereka" Inaba yang baru saja bangun meregangkan kedua tangannya.
"Tapi ini keuntungan kita, kalau hujan sudah berhenti, kita bisa keluar dari sini dengan aman"
"Sekarang jam berapa?" tanya Aoki lalu Inaba membuka Hpnya.
"Masih jam 3 pagi"
"Kalau begitu aku mau tidur dulu.. ah Yui, lebih baik kau tidur saja.. kantung matamu sudah mulai kelihatan tau" tanpa membalas perkataannya, Yui hanya memalingkan wajahnya dengan memasang raut wajah kesal.
"Itu benar.. jika hujan sudah berhenti, kita akan mulai sibuk Yui"
"Baik, Inaba" Inaba pun mengelus rambutnya dengan lembut.
"Tenang saja, tidak ada yang akan meninggalkanmu.. sampai waktu kita akan pergi, tidurlah dengan tenang" Yui tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Akhirnya dia tidur juga, padahal dia tidak ada tugas menjaga.. tapi dia ikut – ikutan terjaga seperti kita"
"Kau ini tidak seperti kenal Yui saja.. dia ini kan orangnya khawatiran" ujar Inaba sambil mengelus – elus rambut Yui.
"Omong – omong.. kau sudah tidak apa – apa kan?" Tanya Inaba, sepertinya dia bertanya mengenai kondisi mentalnya.
"Seperti yang kau lihat, aku menyembunyikannya.. perasaanku, semuanya.. akhirnya aku berusaha untuk membuang semua kenangan yang menyakitkan bagiku, bahkan.. aku lupa bagaimana kesan – kesan terakhirku bersama Rina, aku ini kejam.. aku ingin menolong diriku sendiri seperti yang pernah kau katakan.. tapi, apakah semua ini benar?"
"Ah.. jika ini semua demi kebaikanmu, itu semua hal yang benar"
"Kau.. tidak akan kemana – mana kan, Inaba?"
"A-aku akan berusaha untuk bertahan hidup bersama denganmu sampai akhir.."
"Jawab dengan jelas Inaba.. iya atau tidak..?" Inaba seakan mengerti maksud dibalik pertanyaannya.
"Kau tidak benar.. aku ini kejam, aku rela melupakan semuanya demi kebaikanku sendiri.. dengan gampangnya aku melupakan kesan terakhir dengan Rina! Dan, bagaimana.. dan bagaimana kalau kau menjadi posisi Rina, apa aku juga dengan gampangnya akan melupakan kau!?"
"Ma-maksudku Taichi.."
"Kau hanya ingin aku kembali tersenyum, tapi aku tidak bisa mengontrol perasaanku ini! Aku sudah membunuh semuanya! Semua yang berharga di mata kalian! Ibu dan adik Kiriyama.. Ibu dan Rina! Aku sudah membunuh semuanya! Aku tidak bisa kembali menjadi manusia normal lainnya! Dan… jika hal tersebut juga menimpamu Inaba, aku tidak mungkin bisa hidup di dunia ini lagi.. aku lebih baik musnah-" Inaba tidak bisa menahannya lagi, dia pun menamparnya sekuat tenaga.
"Aku tidak akan mati, aku tidak akan mati.. aku tidak akan mati!" air matanya turun dengan derasnya, Inaba pun takut dengan kematian.. tapi dia tidak bisa mengelaknya, siapa saja bisa mati kapan saja.
"Kau sudah berjanji padaku Inaba, kau tidak akan mati!" dia memaksanya, iya.. inilah salah satunya cara untuk menyemangatinya untuk terus melindungi wanita di depannya. Setelah mendengarnya, Inaba tidak bisa berhenti untuk menangis kencang.. apa daya, Inaba hanyalah wanita yang tidak bisa apa – apa.. tapi dia berusaha untuk terus bangkit dan bangkit dari keterpurukannya.
"Aku berjanji.. aku berjanji untuk terus menemanimu sampai akhir" Taichi menciumnya dengan lembut, merasakan aroma tubuhnya.. memeluknya dengan erat dan mendalamkan bibirnya, Inaba tak henti mengeluarkan air matanya.. setelah ini, mereka akan menuju dunia luar, akan lebih banyak kematian dan apakah Inaba akan termasuk di dalamnya? Inaba tidak mau berpikir seperti itu.
"Inaba.." Taichi dan Inaba langsung melepaskan dekapan dan melihat ke arah Yui yang terbangun dari tidurnya, sepertinya suara mereka terlalu berisik.
"Yui? kau baru saja tidur, lebih baik kau istirahat lagi saja" Yui melihatnya dengan ekspresi khawatir, apa dia mendengar semuanya?
"Aku tidak bisa tidur pulas.. melihat keadaan kita sekarang, apalagi tidak lama lagi kita akan pergi dari sini, itu sudah membuatku takut.." Inaba terkejut, itu benar.. dia pun tidak mau mati di dunia ini.. jika dia mati.. apa dia akan mengalami kasus yang serupa dengan Rina? Inaba menggigit bibirnya, tidak.. dia tidak mau memikirkan hal yang menakutkan seperti itu, dan sepertinya Yui merasakan hal yang sama..
"Kau takut mati Yui?" Yui membulatkan matanya, apa yang Inaba tanyakan kepada orang yang baru bangun ini?
"Tentu saja aku takut! Di dunia ini, aku tidak mau mati sengsara! selama hidup aku tidak pernah merasakan kebahagiaan, aku tidak bisa mengingat masa kecilku! Ji-jika aku tidak-"
"Hentikan Yui!"
"Hentikan sampai situ, aku tidak mau kau menambah masalah baru yang membuat kita terlambat pergi" Inaba tau apa yang ingin dikatakan Yui, trauma.. phobia yang dimilikinya..
"Sudah aku bilang kau itu kurang tidur.. kau sampai ngelindur yang macam – macam.. tidurlah Yui" dengan tampang pucatnya Yui menganggukkan kepalanya dan kembali menutupi mukanya dengan selimut.
"Inaba?" panggilnya.
"Hem?"
"Kau juga.. jangan terlalu memaksakan diri, aku tau kau juga takut sepertiku.." seakan membaca pikirannya, Inaba hanya memejamkan matanya.
"Tidur, Yui.." dengan nada sedikit mengancam, Yui akhirnya menutup matanya.
"Apa maksud perkataannya?" tanya Taichi.
"Aku.. tidak tau" dadanya terasa sakit sekali, dia ingin meluapkan semuanya tapi dia tidak mungkin melakukannya di depan Taichi dan yang lain.
"Aku mau ke teras sebentar.. kau juga jangan disini, kau ke tempat Aoki saja sana.."
"Kau mau apa? Di luar kan hujan, jangan lakukan hal yang aneh Inaba" Inaba tersenyum dengan senangnya, akhirnya.. Taichi kembali ke Taichi yang biasanya, Inaba pun mencium pipinya.
"Sudahlah kau juga tidur sana" Taichi mengembungkan pipinya dengan kesal.
"Baiklah.." lalu Taichi berdiri dan berjalan ke lantai dua bergabung dengan Aoki.
"Hah…" Rasanya sudah lama sekali aku tidak sendirian seperti ini, ditemani oleh terangnya bulan yang sedikit tertutupi oleh awan gelap.
"Badanku sudah sembuh total, seperti keajaiban saja.. heh, aku yakin ini semua sudah menjadi rencana dia.. tapi sampai kapan kita harus seperti ini?" Aku terus melihat ke atas, dengan tatapan kosong aku merasa dihempaskan ke dunia lain, melupakan semuanya.
"Kau mau keabadian? Atau mati secara abnormal?"
"Hah!? Tadi itu apa? Ta-tanganku tidak bisa berhenti bergetar? Ke-kenapa?" Tiba – tiba sesosok tangan melingkari leherku.
"Kyaa!" Tanpa sadar aku langsung mengangkat pedang yang tergeletak di sampingku.
"Woah!? Hahaha, kau teriak seperti perempuan Inaba! Aku tidak menyangka kau bisa teriak seperti itu! jadi.. bisa kau turunkan pedangnya? Kau hampir memenggalku" Ma-malunya.. tadi itu refleks.. aku pun juga tidak menyangkanya.. bukan itu masalahnya!
"Ke-kenapa kau bisa disini!? Bukannya sudah kubilang untuk tidur kan!?"
"Aku penasaran.. setelah kulihat sekali lagi, ternyata kau sedang merenung, apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada.. hanya melihat ke langit saja, terlalu hening jadi aku merasa sendiri" gemetar tadi apa maksudnya? Seperti ada yang berbisik di telingaku tadi, entah apa tapi suaranya sangat kecil sekali..
"Hah.." mungkin ngina yang menerpa membuatku sedikit merinding, itu arti dari gemetar tadi.
"Hujannya sudah berhenti yah? Sepertinya pagi ini, kita akan langsung berangkat"
Ruangan yang sangat gelap, tidak ada penerangan dimanapun.. akan tetapi langkah kaki yang menimbulkan suara bising terus memenuhi ruangan tersebut.. bukan satu ruangan, melainkan satu gedung berhasil membuat bulu kuduk merinding, tapi dari semua ruangan, masih ada 1 nyala api yang berasal dari ruangan di lantai paling atas, apa yang sedang dilakukannya? Hanya berdiam diri duduk dan diselimuti oleh selimut tipis yang tidak menutupi semua anggota badannya.
"Sepi.." terdengar suara rauangan dan dorongan keras ke satu – satunya pintu yang menghubungkan ruangan itu. Takut? Tidak.. dia tidak takut sama sekali, gertakan seperti ini hanya ngina lewat, dan juga.. ini hanya fenomenanya, salah satunya jalan adalah mengikuti perintahnya dan segera menyelesaikan semua ini.
"Semuanya ada di sekolah, tapi aku masih tidak bisa menemukan mereka di antara mayat – mayat itu, apa mereka masih hidup? Kalau masih, akan menjadi lebih sulit.. aku tidak tahan lagi dengan dorongan nafsu ini!" gebrakan pintunya lama makin lama menjadi keras dan beberapa kardus banyak yang berjatuhan, dan disaat itu pula pintu itu terbuka memperlihatkan sosok, tidak.. beberapa bayangan.. mereka mulai mendekatinya perlahan – lahan, gadis itu sudah tidak tahan lagi.. dia mengambil pedang kayunya.
"Sudah kubilang.. jangan ganggu aku!
"HAH…" Inaba terbangun dengan dadanya yang terasa sakit, detukannya tidak mau berhenti, memberikannya sebuah firasat buruk,, dia terus meremasnya, ditambah lagi, perasaan takut apa ini?
"Tidak.. kenapa ini? Aku merasa akan ada hal buruk lagi" dia langsung mengecek Hpnya dan melihat catatannya.
"Tidak ada yang aneh dan berbahaya, kenapa yah?"
"Kenapa Inaba? Aku lihat kau seperti kesakitan.." Taichi yang baru bangun merasa heran dengan gelagat tingkahnya.
"Taichi.. tidak, hanya mimpi buruk saja" walaupun itu sama sekali bukan mimpi.. akhir – akhir ini, banyak sekali firasat buruk yang terlintas di pikirannya.
"Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, kau bisa cerita padaku, tidak.. kau harus cerita"
"Sudah kubilang tidak ada apa – apa" Inaba pun bangun dan melihat ke luar jendela.
"Segera siapkan semuanya, kita akan berangkat"
"Etto.. makanan, pakaian, obat – obatan, lalu apa ini? Kita tidak membutuhkan barang seperti ini kan?" tanya Inaba sambil melihat tumpukan kayu yang sudah diikat oleh tali.
"Yah, untuk perjalanan menuju sekolah dengan berjalan kaki akan makan waktu banyak jadi menurutku kita membutuhkannya sewaktu – waktu kalau kita harus tidur di luar" ujar Aoki, lalu dengan kesalnya, Inaba langsung melempar kayu – kayu tersebut ke mukanya.
"Kenapa!?" serunya tidak percaya.
"Kita ini tidak sedang wisata! Kalau kau ingin tidur dikelilingi zombie silahkan saja, tapi jangan ajak – ajak kita bertiga!"
"Eh!? Ah, kalau dibilang, emang benar.."
"Kita akan mencari tempat untuk tidur, baik itu rumah atau gedung apapun.. asalkan tidak di luar"
"Tapi.. bukannya itu bisa membuat kita bertemu dengan orang – orang selain kita kan? aku tidak mau berhubungan dengan orang lain lagi.. aku tidak mau merasakan itu lagi.. tidak.. aku tidak mau.." Taichi merasa ingatannya mulai menghampirinya lagi.
"Aku tidak mau mengatakannya tapi ketika akan menginjakkan kaki ke luar, kita pasti akan menemukan hal seperti itu lagi, kumohon jangan takut Taichi"
"Aku tidak bilang kalau aku ini takut, hanya saja.. pikiranku akan kembali kosong, dan mungkin aku bisa.. membunuh lagi.."
"Hentikan ocehanmu itu! kalau kau masih punya akal sehat, apa kau mau dibunuh!? Kau pasti tidak mau mati! Kalau begitu salah satu caranya adalah membunuh sebelum dibunuh, hanya itu salah satu cara!" Inaba tidak kuat lagi dengan Taichi yang selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah Inaba, aku yakin Taichi selalu membawa bebannya sendirian.. dia sudah banyak menanggung semua dosa yang harusnya ditanggung oleh kita, aku tidak mau salah satu di antara kita terus menerus seperti itu" ucap Yui yang menggenggam pergelangan tangan Inaba.
"Hah.. aku tau itu, akhirnya aku juga yang menghambat perjalanan ini.. aku tidak peduli apa yang akan terjadi di depan kita.. kita hanya harus terus melewatinya" semuanya mengangguk kecuali Taichi, Inaba tidak mempedulikannya dan akhirnya pemberangkatan mereka berempat dimulai..
"HAAKKH!" baru saja berjalan selama 10 menit mereka sudah dihadapi dengan situasi seperti ini.
"Sekarang kau sudah yakin mau tidur di luar, Aoki!?" sebelumnya Inaba tidak pernah memegang pedang, tentu saja tangannya lebih cepat lelah jika harus dihadapi dengan banyaknya zombie yang menghampiri secara beruntun.
"Aku berubah pikiran! Haa! Tapi sepertinya aku punya ide lain!" di tengah – tengah keributan, Aoki langsung berlari melewati zombie tersebut dan mengambil kayu yang tidak sengaja dibawa untuk situasi genting.
"Aoki, apa yang ingin dia lakukan!?" seru Taichi berusaha menghindar dari zombie tersebut.
"Yui! apa di catatanku tertulis sesuatu!?" di saat seperti ini.. Yui hanya diam dan terus mengecek catatan takdir Hp Inaba, dia tidak akan berani melawan zombie – zombie itu, walaupun dia sudah diberi kekuatan karatenya, tapi secara mental tidak akan mungkin bisa.
"Aoki.. ingin mencoba membakar kayu tadi!" Inaba mulai sadar, dia akhirnya tau apa ide yang dimaksud Aoki tadi.
"Kau ingin membakar dengan apa bodoh!? Kita tidak punya sumber untuk membakar api tersebut!"
"Aku akan mencoba mencari minyak atau apapun dari rumah – rumah di sekitar sini yang bisa membuat semua kayu ini terbakar! Jika berhasil semua monster ini akan mati!"
"Bodoh! Kalau kau sendiri, kita tidak akan tau apa yang akan terjadi!" Yui meremas Hp Inaba, tanda – tanda apa ini? Dia tidak mau kehilangan siapapun lagi!
"Aku ikut dengannya..!"
"Hah..!?"
"Aku bilang aku ikut dengannya..! jangan pedulikan aku, kita akan membagi tugas, Taichi dan Inaba terus berusaha mengalihkan perhatian mereka dan menunggu kita berdua kembali dengan semua peralatan! Dan tolong sampai kita kembali, jangan berada dalam keadaan sekarat!" Inaba tidak percaya, Yui menawarkan dirinya.. tapi, apa ini kemauan dari hatinya yang paling dalam?
"Baiklah! Kau juga jaga mental dan perasaanmu Yui, jangan memperlambat Aoki.." Inaba terlalu terang – terangan, tapi itu membuat Yui semakin yakin bahwa dia tidak akan menghambat mereka.
"Baik!" Yui memberikan Hpnya dan berlari menghampiri Aoki.
"Yui!? kenapa?" Gawat.. aku tidak mau membuka mataku, tidak.. tidak! Buka mata tapi tidak menatap, baik..
"Aku ikut denganmu.. selama Inaba dan Taichi sibuk dengan mereka, kita berdua harus cepat mencari minyak untuk membakar kayu – kayu ini"
"Yui.. kau sudah bicara dengan normal denganku? kau sudah sembuh!"
"Belum.. aku bilang belum! Tapi kita harus cepat!" Aku masih belum sembuh, ingatan itu tidak akan pernah aku lupakan, semua pria sama saja! Aku takut dengan mereka! Sampai kapanpun..
"Baiklah.. tapi kau harus berjalan di depanku, agar aku bisa mengawasimu" Aku hanya menganggukkan kepala, itu lebih baik.. daripada terus melihat badannya dari belakang.
"Yosh.. kita cari dari rumah yang terdekat! Ayo Yui!"
"Mereka sudah pergi, sekarang kita bagaimana Taichi?" Inaba tidak bisa menahan beban dari pedangnya,tangannya bagaikan bisa lumpuh kapan saja.
"Kau masih kuat Inaba!?" hanya dibekali oleh tongkat baseball dari rumahnya Yui, dia hanya bisa menahan serundukan dari zombie – zombie itu.
"Tentu saja, aku masih bisa menahan mereka.. tapi mungkin tidak akan sampai mereka berdua kembali, aku ini ada batasnya juga"
"Berarti kita hanya bisa bergantung dengan mereka berdua.. semoga mereka berdua berhasil.."
"Ini rumah yang pertama, jangan terlalu cepat yah Yui.. jangan sampai aku kehilanganmu, tempat ini gelap.." Aoki melihatku dengan intens, tapi rumah ini sepertinya tidak berpenghuni.. apa lampunya masih bisa?
"Woah!"
"Hyaa! Kenapa!?"
"Seharusnya kau bilang kalau lampunya masih nyala, aku hampir saja jantungan tau.." dekat.. dekat.. terlalu dekat!
"Ah! Maaf.. aku, tidak sengaja.." rasanya ingin menangis.. memang benar aku tidak bisa kembali menjadi-
"Lebih baik kita segera cepat mencari minyak atau bensin yang bisa membuat para zombie itu mati sekejap mata" Aoki berjalan di depanku.. lebih baik aku percepat langkahku agar tidak kehilangannya..
"Ah.."
"Itte.." hah!?
"Hyaa!" suaranya keluar dengan sendirinya, kenapa Aoki berhenti? Padahal aku sudah berusaha tidak menjauh darinya.
"Jangan lihat Yui!" dengan cepat Aoki menutup kedua mataku.. saking takutnya, aku tidak bisa berdiri dengan benar, akhirnya aku pun jatuh dan berusaha melepaskan diri.
"Kumohon, untuk kali ini biarkan aku seperti ini.. lebih baik kita segera keluar dari sini.." kenapa dia begitu keras kepala!? Kenapa kita harus keluar? Inaba dan Taichi sedang menunggu kita.. kenapa?
"Hah..?" terlihat sekilas.. tapi.. aku bisa melihat darah dan pisau yang tergeletak disana, aku seperti melihat sesuatu..
"Hmmm!"
"Sudah kubilang kita harus keluar dari sini sekarang juga!" tidak bisa dipercaya.. kenapa? Siapa? yang tega? Melakukan hal mengerikan seperti itu, kepada seluruh anggota keluarga ini, mereka semua mati dengan keadaan seperti itu, rasanya tidak adil..
"Sepertinya mereka habis dibunuh.." ujarnya seusai menginjakkan kaki ke luar gerbang.
"Kenapa?"
"Tidak tau kenapa.. tapi aku akan kembali dan melihat apa ada sesuatu yang masih bisa digunakan di dalam sana.. kau tunggu disini, aku akan kembali sekitar 5 menit"
"Tu-tunggu, Ao-" tidak.. tidak ada satupun yang tertinggal disini.. aku yakin orang yang melakukan hal tersebut salah satunya adalah..
"Taichi.."
'Tanganku ini sudah membunuh orang! Dan dengan tidak sadar aku menghancurkan seluruh badannya, mengeluarkan semua isinya! Aku seperti dirasuki sesuatu, aku ingin membunuhnya! Aku ingin dia merasakan sakitnya juga! Aku juga dapat melihat mayat yang ingin kutolong menatapku dalam, memintaku untuk membalaskan rasa sakitnya! Aku juga tidak tahan melihat wanita itu dibunuh dengan cara seperti itu, aku melihatnya! Aku menangis kencang! Aku sama sekali tidak sadar! Hey Inaba! Apa aku ini sudah gila!? Kau pasti membenciku sekarang kan!?' mungkin rumah ini menjadi awal dari tangisan hati Taichi..
Setelah menunggu selama 5 menit lebih, akhirnya Aoki kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Aku dapat minyak dari dapurnya, segini sudah cukup untuk membakarnya"
"Bu-bukannya kita membutuhkan sumber api yang cukup besar untuk membakar minyak itu, kita tidak mungkin langsung menyalakannya dengan korek api kan?"
"Karena itu kita pakai kayu ini.. sudahlah.. tidak ada waktu lagi, Taichi dan Inaba-chan pasti sudah kewalahan dengan mereka, lebih baik kita kembali dan menyelamatkan mereka!" perkataannya benar sekali, aku hanya perlu mengikutinya dan melihat apa yang akan terjadi.
"Hah! Aoki dan Yui akan datang 1 menit lagi!"
"Benarkah!? Ach! Ah!" tidak sengaja, tongkat pemukulnya terlempar jauh dari jangkauannya, Taichi mendesis kesal.. kenapa zombie ini keras kepala sekali!?
"Taichi! Tidak perlu khawatirkan aku, aku masih harus memeriksa catatan ini!"
"Sudah kubilang aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan terus bersamamu! Walaupun harus menahan puluhan zombie ini, aku akan berusaha melindungimu! Itu sudah menjadi janjiku!" Biasanya Inaba selalu menganggapnya terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu masalah, tapi Taichi.. kau terlalu..
"Bodoh.."
"HAAAAKH!" terdengar suara siraman dari arah belakang, Inaba tersenyum lega.
"Yui! apa kayunya sudah siap!?"
"Si-siap!" Aoki mengambilnya dan mengerang kesakitan dari tangannya, panas dari bara apinya sampai menjalar ke tangannya.
"Aku akan membakar kalian semua hidup – hidup!" dengan cepat dan sigap Aoki memukul kepala zombie tersebut satu persatu, satu sentuhan dapat membuat api dari minyak tersebut menyala dan menjalar ke seluruh badan mereka.. setelah selang beberapa detik zombie tersebut akhirnya jatuh dan tidak bergerak lagi.
"Hahaha.. rasakan.."
"Inaba.. kau tidak apa – apa..?" Tanya Yui dengan khawatir.. Inaba pun mengelus rambutnya dengan lembut.
"Aku tidak apa – apa.. kau? Apa sudah terbiasa bersama dengan Aoki?" Yui menggeleng – gelengkan kepalanya, Inaba langsung tertawa melihatnya.
"Hebat sekali kau bisa mendapatkan minyak ini, darimana kau mendapatkannya?" gawat.. Yui punya firasat buruk tentang ini.
"Hah.. tidak jauh dari sini kok.. kau lihat rumah dengan cat merah itu.. aku mengambilnya disana.. kalau ditanya penghuninya.. mereka semua sudah.. hem, Taichi?" Taichi membulatkan matanya.. rumah itu, tidak salah lagi.. orang pertama yang sudah dibunuhnya dengan kejam.. Taichi mulai teringat lagi, suara isakan tangis anak kecil, wanita, suara tusukan pisau, isi badan yang keluar.. semuanya kembali ke ingatannya.. dia tidak bisa bernafas, rasanya..
"Hoekk! Urkkkk!" Taichi memuntahkan semua isi perutnya, tidak ada yang tau apa penyebabnya, Aoki hanya dengan cepat mengelus punggungnya dan bertanya apa yang terjadi, Inaba hanya melihatnya dengan shock sedangkan Yui tidak berani untuk angkat bicara.
"Taichi sama sekali tidak berhenti muntah, apa kau tau sesuatu Inaba?" tanya Aoki.
"Kalau aku tau.. pasti daritadi aku sudah melakukannya.." sedari tadi Inaba tidak berhenti menggigit bibirnya, pasti ini membuatnya shock untuk melihat Taichi kembali stress seperti itu.. Yui tidak bisa mengelaknya, dia akan mengatakannya kepada Inaba.
"Inaba.. mungkin rumah itu awal dari… maksudku itu.. itu.. Taichi.." dia tidak bisa mencari kalimat yang tepat.
"Kau ingin bilang kalau orang yang dibunuh oleh Taichi tinggal di rumah itu?" bisik Inaba, Yui mengangguk kecil.
"Jika dari utaran Taichi saat itu, dia bilang anak kecil mengatakan terimakasih padanya kan.. ketika aku lihat ke dalam aku sedikit melihat sosok mayat anak kecil yang sudah.."
"Tidak usah dilanjutkan Yui, aku sudah tau.." Inaba berterimakasih padanya dengan raut wajah sedihnya, jangan.. jangan perlihatkan aku dengan tatapan sedih seperti itu Inaba.. pikir Yui.
"Aku ingin melihat kondisinya.. mungkin aku bisa menenangkan Taichi jika melihat mereka" Yui langsung menarik lengannya.
"Untuk apa melihatnya? Sudahlah.. mereka sudah tidak utuh! Mereka hanya membuatmu muak dan ingin muntah disana! Walaupun aku tidak begitu melihat mereka tapi aku bisa merasakan kegelisahan di hatiku.. kau juga merasakannya kan Inaba!?"
"Aku.. tidak merasakannya.."
"Hah?"
"Bagiku… semua orang selain kalian tidak begitu penting bagiku.. itu yang sudah kupercayai di dunia ini.. tunggulah disini bersama mereka berdua"
"Tunggu! Kau ingin sendirian kesana!?"
"Tentu saja.. siapa yang mengantarku kalau kalian semua sibuk.. biarkan aku memeriksanya.. Aoki, kau jaga Taichi dengan baik yah?"
"Baik"
Kematian tidak ada satupun yang bisa tau kapan dan dimana serta bagaimana kita akan mati.. dan aku percaya suatu saat aku pun akan mengalami hal yang sama.. bisa dibilang firasat, selama beberapa hari ini.. aku terus merasakannya.. takut.. gelisah.. rasanya diriku sendiri yang mengancam, tapi tidak ada yang bisa kuandalkan di antara mereka.. ini masalahku, dan hanya aku yang bisa menyelesaikannya.
"Abadi atau abnormal?"
"HAH!?" Lagi… suara apa itu? suara yang tidak pernah kukenal, sekali mendengarnya membuatku merinding, bagaikan aku sedang diikat, tapi apa maksud pertanyaan tadi, lalu siapa? apa Heartseed!? Tapi aku tidak pernah mendengar suaranya, apa hanya ngina? Tidak.. kebetulan seperti ini tidak mungkin terjadi 2 kali.. sial! kepalaku terasa pusing!
"Sial! Apa maumu!?"
"Inaba.."
"Hah? Tai..chi? Kau sudah sedikit baikan?"
"Ah.. kau sendiri.. kenapa kau malah kesini? Apa yang kau inginkan Inaba? Kau tadi berteriak kan?" Bertubi – tubi pertanyaan yang mengganggu saja..
"Seperti yang kau lihat, aku ingin memeriksa mayat – mayat ini.. apa mereka semua..ulahmu Taichi?"
"Aku sudah pernah bilang kan? kalau aku membunuh ketika mendengar suara tolong dari anak kecil yang disana.. badanku bergerak dengan sendirinya dan aku tidak sadar kalau aku sudah seperti itu… sama seperti kasus ibunya Yui.. aku tidak sengaja menembaknya dan berpura – pura bahwa itu hal yang benar.. yang kenyataannya aku sangat takut…" Akhirnya aku dapat mengetahui semua pengalaman yang dimilikinya, sangat tragis.. aku tau.. hanya aku yang bisa menyelamatkannya, bukan orang lain.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini.. kita sudah membuang – buang waktu untuk hal macam ini" Suara tadi.. lebih baik aku rahasiakan dari mereka dulu..
"Oh.. kalian sudah kembali? Bagaimana Inaba? Kau sudah memeriksanya?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.. mereka hanya korban pembunuhan lewat saja.. dilihat dari kondisinya, mereka sudah mati sejak fenomena ini dimulai"
"Souka.."
"Inaba?" Yui mendekati Inaba sembari memberikan simbol kepadanya.. Inaba menjawabnya dengan mengangguk.
"Tidak kusangka perjalanan menuju sekolah bisa seberat ini.." ujar Aoki.
"Seberapa jauh kita berjalan tetap saja.. zombie – zombie itu akan menerjang kita.."
"Karena itu, kita harus cepat berjalan dan sampai ke sekolah secepat mungkin!" Seru Inaba.
"Hei Inaba-chan.. kau tau hal seperti ini, akan membuat kita mati sia – sia kan?" Inaba membulatkan matanya, apa maksud dari pertanyaan Aoki? Taichi hanya melihatnya dengan kesal, sedangkan Inaba memejamkan matanya lalu menggeleng – gelengkan kepalanya.
"Aku sudah memberitahu kalian kan? di sekolah masih ada yang harus kita selamatkan.. Iori, Shino dan Chihiro"
"Apa kau yakin mereka mau mendengarkan kita!? Apa maksudnya kita harus menyelamatkan mereka!? Ini seperti kau berusaha untuk menyatukan kita semua.. lalu mengungkapkan semuanya.."
"Apa maksudmu Aoki? aku tidak mengetahui apa – apa.. itu hanya naluri manusiaku untuk menyelamatkan mereka.. karena, mereka semua temanku.. karena itu.. aku berhak menyelamatkannya" Tidak bisa ditebak ekspresi dari Inaba, datar.. Aoki tidak dapat melakukannya, dia hanya bisa menghela nafas panjang.
"Hah... sudah kuduga kau susah sekali ditebak Inaba-chan, dari dulu sampai sekarang.. kau tidak pernah berubah.. haha"
"Apa yang lucu?"
"Jika dibilang tidak pernah berubah.. berarti dia pun punya pemikiran yang sama kan? seperti waktu itu.. apa jangan – jangan.. kau menerima sesuatu darinya?" Inaba terlihat sedikit membulatkan matanya lalu seketika Taichi langsung menarik kerah bajunya dan menatapnya dengan kesal.
"Apa maksud dari perkataanmu Aoki? Apa kau berniat untuk menyalahkan Inaba bahwa dia yang sudah membuat kehancuran ini? Kau bilang dia sedang merahasiakan sesuatu dari kita? Jadi kau juga ingin bilang kalau Inaba bersengkongkol dengan Heartseed katamu!?"
"Aku tidak bilang seperti itu.. tapi mungkin.. itu ada benarnya juga"
"Hentikan kalian berdua!" Taichi dan Aoki melirik ke arah teriakan.
"Inaba tidak tau apa – apa! Walaupun jika dia tau, dia tidak mungkin menangis atas kepergian semua orang! Inaba selalu menangis sepanjang waktu! Setiap dia sendiri! Jadi, jangan salahkan dia.." Inaba hanya menunduk tanpa berbicara.. lalu menggigit bibirnya seakan sedang menahan sesuatu.
"Jangan lupa tujuan kita sekarang.. keutamaan kita semua adalah bertemu dengan Iori, Shino dan Chihiro dan kembali bersama" Ujar Inaba kembali tegar seperti biasa.
"Tch.. sifatmu itu selalu membuatku jengkel.. walaupun aku terus menahannya, tetap saja.. kau itu selalu saja menyimpan rahasia dari kami semua, karena itu tidak ada seorang pun yang bisa membantu masalahmu.." Inaba menjadi diam, suasana menjadi hening seketika.. apa mereka sedang menunggu tanggapan Inaba? Apa balasan Aoki bisa membuatnya gertak?
"Hentikan semua ini, sudah kubilang aku tidak merahasiakan apa – apa!" Inaba menaikkan volume suaranya, terlihat kesal sekali.. Taichi hanya melihatnya dengan shock, apa Inaba benar.. tidak, siapapun pasti akan kesal jika ada yang menyalahkannya terus, itu pasti perasaan Inaba saat ini, pikirnya.
"Inaba..?" Yui terlihat khawatir sekali, dia tidak bermaksud untuk ikut campur masalahnya, bukan karena tidak peduli.. tapi ini demi kebaikannya.
"Lupakan teriakanku tadi.. suatu saat kalian pasti akan mengetahuinya, cepat atau lambat.. bukan kehendakku untuk memberitahu semua itu, jadi.. jika kalian menganggapku sebagai pengkhianat, aku bersedia pergi dari hadapan kalian.."
"Heartseed yah? Mungkin maksud dari katamu untuk menyatukan kita semua, apa jangan – jangan Heartseed akan datang dan memberitahu semuanya?" Tanya Aoki.
"Tidak.. aku yang akan memberitahu kalian semuanya, tentang semua ini" Ternyata memang benar jika Inaba ada hubungan dengan Heartseed, tapi apa yang dirahasiakannya? Itu seperti Inaba mengetahui semuanya, jika begitu.. kenapa, dia seperti tidak mengetahui apa – apa tentang fenomenanya? Apa itu hanya sandiwaranya saja?
"Memang benar bahwa aku sedang merahasiakan semuanya dari kalian.."
"Benar kan.."
"Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang! Aku akan mengungkapkan semuanya di hadapan kalian dan biarkan aku yang menanggung semuanya"
"Menanggung semuanya..?"
"…" Bagian terakhir kalimatnya membuat semuanya merasa penasaran, akan tetapi Inaba tetap diam dan tidak bergeming dari tempatnya..
"Hah.. kalian sudah puas kan? kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan kita.." Inaba berjalan melewati mereka bertiga.. tanpa mengucapkan sepatah katapun, Inaba terus berjalan menghiraukan mereka yang terus memandangnya dengan gelisah.
Sudah berapa lama mereka berjalan? Badan mereka sudah tidak bisa berkomitmen lagi, nafas mereka sudah tersengal – sengal, keringat pun sampai mengucur dari dahi, berkenaan dengan barang bawaan mereka yang terbilang banyak, tidak bisa dipungkiri, mereka memang lelah.. jika dilihat dari letak matahari yang tepat di atas kepala mereka, sudah dipastikan sedang tengah hari, jadi mereka berjalan selama itu.. tanpa istirahat sama sekali. Lingkungan sekitar terlihat asri tanpa ada suara mobil atau motor apapun, jika dunia ini masih normal.. mereka pasti masih bisa menikmatinya. Akan tetapi, walaupun dibilang asri.. tidak mungkin ada banyak darah dari setiap jalan yang mereka lewati, tidak tau darah siapa, tapi salah satunya pasti mayat korban dari zombie tersebut.. apa mereka dimakan habis oleh mereka? Membayangkannya saja sudah menakutkan.
"Nee Inaba, apa kita bisa istirahat sebentar? Aku tau secepatnya kita harus sampai ke sekolah sekarang juga, tapi melihat kondisi badan kita yang tidak maksimal, setiap saat pasti salah satu dari kita akan rubuh.. apa kau mendengarku Inaba?" Inaba masih saja diam, Taichi merasa kesal lalu mendekatinya dan menarik bahunya untuk menyuruhnya berhenti.
"Seharusnya aku tidak menerimanya.. kenapa harus aku? Kenapa tidak di antara kalian? Aku tidak sanggup menanggapi semua ini, dadaku sakit Taichi.." Ada apa dengan Inaba? Dia tiba – tiba terlihat pucat sekali.
"Inaba-chan sepertinya kelelahan, lebih baik kita cari tempat untuk istirahat" Tidak terlalu mengenal daerah ini.. apa mereka asal pilih tempat saja? Tapi..
"Kalian cari tempat.. biarkan aku dan Inaba disini, kalian cepatlah"
"Yui..?" Aoki merasa heran dengan Yui yang mempunyai Androphobia tapi bisa selancar itu dalam berbicara, apa traumanya semakin lama semakin membaik? Sudah diduga.. itu pasti benar!
"Baiklah.. kalian berdua lebih baik memojok di antara pohon, agar tidak terlihat oleh orang atau zombie" Mereka berdua mengangguk.
"Kau sudah sembuh yah, Yui?" Inaba melihat Yui yang diam di sampingnya.
"Apa terlihat seperti itu?" Inaba menganggukkan kepalanya.
"Apa kau..?"
"Itu benar.. aku masih takut.. aku menggunakan cara paling efektif yaitu tidak melihat mukanya, dan ternyata cara itu berhasil, tapi aku tidak tau harus sampai kapan seperti ini.."
"Rasanya aneh.. aku sudah melupakan kejadian yang lampau itu, tapi aku merasa selalu diikuti, hatiku terus saja merasa panas jika berusaha melupakannya, apa traumaku ini memang tidak bisa disembuhkan Inaba? Tapi tetap saja aneh, apa karena aku memang sudah-"
"Jika kau terus menganggap seperti itu, sampai kapanpun itu tidak akan pernah hilang.."
"Tapi Inaba.."
"Mungkin karena pertama kalinya kau melakukan hal itu, dan mungkin itu sangat membuatmu bergejolak, aku tau itu susah, tapi kau yakin saja pada dirimu sendiri bahwa kau bisa melakukannya, itu yang selalu aku lakukan"
"Yang selalu kau lakukan..? maksudmu.." Inaba terdiam dengan sendirinya, dengan cepat menutup mulutnya, matanya tidak berhenti melotot, apa ada sesuatu yang salah dengan yang dikatakannya?
"Tidak.. maksudku.. cara itulah yang selalu kebanyakan orang lakukan kan? yaitu optimis pada dirimu sendiri" pertanyaan sebelumnya seperti tepat mengenai Inaba, tapi apa yang aneh dengan pertanyaannya? Matanya sampai tidak memejam sama sekali, seperti pernyataan Inaba sendiri malah menyerang langsung dirinya.
"Maafkan aku Yui.."
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Ini semua adalah salahku.."
"Apa maksudmu?"
"Semuanya.. adalah salahku, kau, Taichi, Aoki, semuanya.. adalah kecerobohanku, aku ini egois, aku ingin menyelamatkan Iori, Chihiro, dan Shino, tapi aku tidak memikirkan kalian, hingga terjadi hal seperti ini, bahkan kita tidak bisa sempat sampai ke sekolah jika harus terus berdiam diri dan bersembunyi tiada henti.. alangkah lebih baik kalau kita terus saja berdiam diri di dalam rumahmu Yui"
"Sekali lagi kau bicara aku akan marah Inaba.."
"Yui..?"
"Sejak awal kau sudah berkata kan? bahwa kau akan menyatukan kita kembali dan memberitahu semuanya kan? apa sekarang itu tidak penting? Aku pun, sangat penasaran dengan rahasiamu itu Inaba, aku juga ingin berteriak seperti Aoki.. tapi kau hanya diam, dan sekarang kau bilang kalau kau salah.. dari awal sebenarnya tujuanmu itu apa? Bertahan hidup saja? Jika seperti itu, lebih baik kalau aku mati saja.. bertahan hidup di dunia ini.. aku tidak sanggup, tapi kau telah membuka pintu harapan, kau sedang menyimpan rahasia penting kan? dari Heartseed kah? Pasti tentang cara menghentikan fenomena ini.. apa aku benar?" Inaba merunduk, poninya menutupi matanya sehingga Yui tidak bisa mengetahui ekspresi apa yang sedang Inaba pasang.. dia hanya diam.. setelah kemudian dia mencengkram lengannya, dan terlihat dia menggertak giginya, Yui sepertinya telah membuatnya marah. Tidak, dari awal seharusnya Yui tidak bertujuan membuat Inaba marah.. dia hanya ingin Inaba mengetahui semua yang sudah terjadi, mereka tidak bisa mengulanginya atau mereplaynya, kembali dimana mereka menentukan langkah selanjutnya.. itu tidak bisa, karena itu sekarang dimana Inaba meratapi kesalahannya, Yui mencoba untuk menolongnya, tapi sepertinya Yui menggunakan cara yang salah..
"Ha..haha..hahaha..hahhahaha" Yui menatapnya dengan khawatir, ada apa dengannya?
"I-Inaba..?" Dia tidak berhenti untuk tertawa, dia tersenyum dengan lebarnya, Yui tidak mengerti..
"Yui.." Dia mengangkat kepalanya, matanya mengecil dan menatap dengan tajamnya lurus ke dalam bola mata Yui.
"Ada apa?"
"Dari semua orang yang kutemui.." Yui menelan ludah, ada apa dengan perasaan gundah ini? Inaba melihatnya dengan tajam, keringatnya sudah mulai bercucuran dimana – mana.
"Kau orang yang sangat berbahaya.."
"Dengan matamu, masa depan bisa terlihat dengan sempurna.. kalau saja aku bisa mempunyai kekuatanmu, pasti akan aku gunakan lebih efektif tidak sepertimu.." Inaba mengatakannya, dia merendahkannya.. apa dia rela dicemoohkan seperti ini? Tidak.. dengan semua masalah ini, semua orang tidak bisa berpikir lurus.. bahkan Inaba, tidak.. Inaba hanya manusia biasa, dia masih punya perasaan rakus akan kekuatan, Yui tidak ingin Inaba seperti manusia lain.
"Maaf.."
"Maaf? Dari sekian banyaknya kalimat yang terlontar dari mulutmu itu, kau hanya ingin bilang maaf?" Apa maksud sebenarnya? Apa perkataanku sebelumnya benar – benar menyakiti perasaannya? Tapi apa sampai dia harus bilang kalau aku ini orang yang sangat berbahaya? Apa aku ini memang seorang.. monster?
"Hei! Kita sudah mendapatkan tempat untuk tidur!" Aoki berteriak dari kejauhan, memanggilnya dengan raut muka yang sangat girang sekali, ada apa dengannya? Dia masih saja memasang senyum lebarnya itu.. apalagi perkataan Inaba tadi.. sangat membuatku merasa penasaran..
"Maaf jika salah satu dari kalimatku yang menyakiti perasaanmu, tapi Inaba.. walaupun kau terus memendam rahasia itu, pasti Taichi akan menemukannya, tidak.. kami semua" Inaba membalikkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada Yui.
"Aku tau itu.. tapi akan aku pastikan kalian akan mengetahuinya nanti di sekolah, sampai saat itulah.. tolong bertahanlah bersamaku sampai waktunya, lalu kau tidak akan ketakutan lagi.. dan dengan matamu itu, aku percayakan padamu.."
"Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud perkataanmu Inaba.. kenapa kau bilang bertahan bersamamu? Kita akan terus bersama kan Inaba? Kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkanku.. kau sudah berjanji" Inaba tersenyum pada Yui, tapi kali ini dengan perasaan tulus.
"Terima kasih Yui, tapi tetap saja.. orang sepertiku tidak akan pernah diizinkan hidup baik oleh manusia atau dengan tuhan sekalipun"
"Kau sudah diselamatkan! Dan sekarang kau masih hidup! Bersama kita, dan terus sampai kita bertujuh bisa berkumpul kembali!"
"Yui.."
"Aku….! Hkkkkhhhh!" Dadaku terasa sakit sekali, kembali lagi! perasaan apa ini, ini seperti ketika aku melihat Aoki untuk pertama kalinya, sama.. aku akan mendengar suaranya lagi! tidak.. tidak.. aku tidak mau..
"Ada apa dengan Yui, Inaba!?" Aoki dan Taichi langsung berlari menghampiri mereka berdua dengan penasarannya, Aoki pun menjongkokkan dirinya menyamakan tingginya dengan Yui.
"Kau.. Yui?"
"Ada apa dengan pertanyaan aneh itu?" Tanya Taichi.. Inaba melihatnya dengan datar, tapi tiba – tiba dia menggerakkan bibirnya, Taichi tidak bisa mendengar suaranya.. apa yang Inaba gumamkan?
"Apa kau tau apa yang terjadi dengannya Inaba?" Inaba masih melihatnya dengan datar, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Walaupun aku tau.. aku tidak akan mengatakannya" perkataannya berhasil membuat mereka tidak berkutik, mencerna seluruh perkataannya.
"Jadi, semua yang terjadi dengan Yui, kau tau apa penyebabnya!? Dan jangan – jangan, semua pengalaman yang pernah kita alami, sudah ditentukan!? Kalau kau sampai bilang iya.. aku akan meninggalkan kelompok ini sekarang juga! Tentu saja bersama Yui!" Inaba membulatkan matanya tapi dengan tatapan sadis, Aoki membalasnya dengan tatapan yang sama.
"Akkhh.." Yui masih mengerang kesakitan dan sedikit meraba apa yang sedang mereka bicaraka, pandangannya terlihat samar.. walaupun dia tidak merasa ingin pingsan, dia tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan dengan jelas, bahkan pendengarannya juga.. sial, apa yang mereka sedang ributkan!?
"Lakukan saja.. tapi aku yakin Yui tidak akan mau mengikutimu.." Aoki mendesis kesal, dia tau itu..
"Hentikan kalian berdua.. kita sedang dalam perjalanan, apa kita harus berpecah belah seperti ini? Dan Aoki.. aku tau bagaimana perasaanmu jika melihat Kiriyama kesakitan seperti ini.. tapi kau tidak perlu menyalahkan Inaba atas ini kan?"
"Dia yang memulainya! Dan jika ini semua karena ulahnya.. aku tidak akan pernah memaafkannya!"
"Jadi kau sudah berpikir kalau aku ini tidak normal.." Inaba mulai angkat bicara, dia sudah tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya untuk membuat situasi ini menjadi tenang.. mungkin memang seharusnya mereka berpisah?
"Aku tidak ada urusan dengan masalah takdir kalian.. aku tidak tau menahu tentang masalah Aoki dan Yui.. bahkan aku baru mengetahuinya.. Yui, aku sangat menyesal dengan pengakuanmu itu, ini semua sudah takdir.." Aoki langsung menarik kerah bajunya, matanya saling berhadapan satu sama lain.. dengan tiada belas kasih, Aoki merasa ingin memukulnya.
"HAAA!"
"Hentikan Aoki!" Taichi langsung menariknya dan memukulnya sampai terjatuh.
"Ini sudah menjadi takdir dimana Yui diperkosa dan membunuh pelaku tersebut.." Walaupun samar, Yui bisa mendengar kalimat per kalimat yang dilontarkannya, dia bercanda kan? dia membeberkannya?
"I-Inaba.. kenapa.. kau memberitahu mereka..?"
"Apa katamu?" Aoki pun tidak mengedipkan matanya sama sekali, saking tercengang dengan perkataan Inaba.
"Sekarang dia sedang dalam kegelapan yang terus mengikutinya, aku tidak bisa menengahi ataupun membantu masalahnya.." Yui membulatkan matanya, semuanya menjadi tau, padahal Inaba sudah berjanji untuk tidak memberitahunya? Kenapa!? Tanpa sadar.. rasa sakitnya sudah menghilang
"Fenomena ini.. kita juga diberi kemampuan khusus dibandingkan orang lain yang kebetulan menjadi pemain di dunia ini, untuk digunakan sebagai bahan cerita bagi kita" Mereka semua saling memikirkan hal yang merumitkan itu, tapi secara logika, bisa saja kalau..
"Fenomena game ini berlaku untuk semua orang.. tapi untuk fenomena khusus untuk kita bertujuh masih belum bisa dipastikan" Aoki bangun dengan tertatih dengan nafasnya yang berat, dia menggigit bibirnya dan mengepal kedua tangannya.
"Fenomena untuk kita masih belum dimunculkan katamu..?" tanya Taichi sambil meremas kain celananya.
"Sudah.." semua terkejut.. fenomena apa? Bahkan mereka tidak merasakan hal aneh sepanjang game ini berlangsung.
"Hal itu sudah dimulai tepat game ini dimulai.."
"Lalu apa fenomenanya?" Yui yang sudah baikan mulai bertanya kepadanya, apa tentang matanya? Dia masih bertanya – tanya tentang dimana Inaba bilang padanya bahwa dia sangat ingin memiliki mata masa depanku ini.
"Yui.." ketika Inaba memanggilnya, Yui sedikit memundurkan badannya.. dia masih takut dengan perkataannya tadi..
"Apa kau merasakan sesuatu yang menyakitkan lalu suara yang sangat kau benci atau kau takuti? Kau bisa jujur padaku" kenapa Inaba bisa tau apa yang dia rasakan selama ini? Apa Inaba tau apa asal usul rasa sakit yang selalu dia rasakan!? Suara..? suara? Suara yang dibenci, dan juga menakutkan.. suara..
'Kenapa kau masih saja hidup!?"
"HAH!?" aku mendengar suaranya lagi! aku langsung menutup kedua telingaku, aku tidak mau mendengarnya lagi! aku ingin menghilangkannya!
'Akhirnya kau mulai menerimaku yah! Aku sangat senang! kyahahhaha!'
"Aku tidak mengenalmu! Siapa.. kau..? kenapa kau selalu saja berbisik hal yang menakutkan itu padaku!?" semuanya melihat ke arahku, kenapa mereka melihatku dengan tatapan seperti itu? apa mereka tidak mendengar suaranya juga?
'Kau tanya kenapa mereka tidak mendengar suaranya? Tentu saja! Mereka tidak akan mendengar apa yang kau dengar! Kau tanya siapa aku!? Jangan bilang kalau kau tidak mengenalku! Kita sudah saling menyatukan badan kita kan!?'
"Sudah kubilang siapa kau!?"
"Yui.." Aoki melihat dengan khawatirnya, akan tetapi dia dihalangi oleh Inaba yang masih memasang muka datarnya, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan? Aku terlalu fokus dengan suara di kepalaku.
'Akan kuberitahu kau satu hal.. aku terjebak di dalam tubuhmu.. aku ingin bebas darimu! Tapi, di lain sisi aku senang melihatmu menderita! Rasanya sangat senang kau menyerang pria dengan tanganmu sendiri'
"Kau bisa melihat semua kegiatanku!?"
'Tentu saja! Kau tau kalau aku ini bukan roh yang suka berdiam diri saja! Aku ini adalah mantan yang suka memperkosa seluruh wanita yang pernah kutemui, dan termasuk kau juga, ojou-chan!'
"Aku tidak bisa melihatnya terus seperti itu! lepaskan aku Inaba-chan, jika kau tau hal ini.. aku-"
"Ah.. kau bisa membenciku atau apapun.. tapi biarkan Yui mengetahui sesuatu yang harus dia ketahui, demi kebaikannya ke depannya.."
"Kalian semua.. cepat pergi, kalian duluan saja ke tempat yang kalian temukan.. biarkan aku yang menemani Yui disini.. cepat!" Inaba sepertinya sengaja melakukannya.. aku tidak mau suaraku terdengar langsung oleh mereka semua, aku ingin merahasiakannya dari mereka.
'Kau sudah tau semuanya kan, aku adalah orang yang sudah kau bunuh! Dan cara yang bisa membuatku bebas adalah..'
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan!?"
'Tentu saja dengan membunuh dirimu sendiri'
"Hah!?" Membunuh diriku sendiri!? Cara gila macam apa itu? aku.. tidak.. mungkin..bisa..
"Yui.." Aku melihat Inaba, mukanya terlalu dekat denganku, nafasku mulai terasa tidak stabil.. aku tidak tau kalau hal ini bisa terjadi, aku tidak pernah mau hal ini terjadi, tapi kenapa? Pilihan macam apa itu!? aku..
"Inaba.. kau pasti tau semua ini kan? hah..ha.. aku tidak a uterus tersiksa seperti ini.." Inaba melihatku tanpa merasa kasihan, dia tetap diam.. kenapa Inaba!? Kau seperti sengaja melakukan semua ini!
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya.. penderitaanmu itu hanya 1 dari 100 orang Yang hanya merasa tersiksa dengan hal sepele.. kau tidak tau bagaimana kondisi mental orang di sekitarmu, mereka lebih menderita daripadamu!" Apa maksudnya!? Aku tidak bisa berpikir lurus, walaupun suara tersebut sudah menghilang aku masih terpikir dengan cara menghilangkannya! Sudah.. aku tidak kuat lagi, mataku terasa berat.. kedua kakiku terasa kaku dan merasa tidak bisa menopang badanku lagi, dengan tanpa bantuan apapun aku terjatuh ke tanah dan menutup kedua mataku, aku merasa ngantuk..
"Apa kau sudah mendengarnya?" Inaba memandangku datar, kubuka mataku perlahan dan menscan ke sekeliling ruangan.
"Dimana ini?"
"Di rumah tidak jauh dari tempat kau pingsan.. kau kelelahan dan aku membawamu untuk istirahat disini" Aku? Lalu Taichi dan Aoki..?
"Jadi.. kalian sudah berbaikan?"
"Kenapa kau bicara seperti itu Yui? tentu saja Aoki membenciku sekarang" Dan itu semua gara – garaku..
"Maaf.. aku tidak bisa membantu kalian, aku hampir saja ingin membuat memecah belah kelompok ini.. aku tidak mau ada yang terluka di antara kita"
"Maaf.. saat itu sepertinya aku juga kelelahan.. jadi, tch!" Inaba terlihat seperti menahan sesuatu, dan mukanya terlihat pucat.. apa semua ini karena salahku?
"Ini semua bukan salah kalian, memang benar aku yang memprovokasi Aoki, dia bahkan tidak mau berbicara denganku, tidak seperti Aoki yang kukenal yang dengan gampangnya memaafkan seseorang tapi karena fenomena ini yang membuatnya berubah dan.. ini semua karena demi kau, Yui.. dia sangat ingin melindungimu"
"Sepertinya diajak ngomong pun kau tidak bisa menangkap dengan baik.. lebih baik kau istirahat lagi, kalau sudah mendingan temui aku di lantai atas.. aku ingin bicara denganmu.." Tentang suara yah? Sejak awal Inaba selalu membiarkanku mendengar semua ocehan tidak jelas di otakku, tapi Inaba tetap diam, dia seperti sedang mengujiku.. tapi kalimat terakhirnya itu membuatku penasaran.. 1 dari 100 orang? Apa maksudnya?
Hari ini aku merasa cape sekali, lebih baik aku turuti saja perkataan Inaba, dengan lelahnya aku kembali memejamkan mataku.
"Sial.." Gigiku tidak berhenti gemetar, aku menyenderkan diri di pojok dinding kamar agar tidak terlalu mencolok dan mencari perhatian lainnya.. aku meremas rambutku dan mengutuk diriku sendiri, sebenarnya waktu itu kenapa aku terlalu frontal!?
"Hampir saja.." Jendela yang terbuka membawa ngina luar yang dinginnya sampai membuat badanku terasa merinding, tiba – tiba terdapat sosok bayangan hitam di depanku, aku membuka mataku dan memandangnya dengan penuh rasa menyesal.
"Maaf"
"Erhmmm~~" Aku mengusap mataku, dan melihat sekeliling, Taichi sedang duduk dengan matanya yang tertutup, sepertinya dia sedang tidur.. tapi kenapa sambil memegang pistolnya? Lalu Aoki..
"Kau sudah bangun Yui?" Aku menunduk dengan refleks tanpa melihat sang pria yang duduk bersebrangan dengan Taichi.
"Hem.."
"Kau ada perlu dengan Inaba-chan kan? lebih baik kau segera ke atas" Tanpa basa – basi yah, sepertinya Aoki sedang tidak dalam moodnya yah..
"Inaba-chan sepertinya terganggu dengan pernyataanku sebelumnya, dia bahkan tidak angkat bicara kan? dan terlihat sepertinya sedikit berhasil menunjukkan rahasianya dan ternyata tidak berhasil sempurna.. hah, seharusnya aku juga sabar dalam menghadapinya, dia itu Inaba-chan.. akan susah dibandingkan diriku yang bodoh ini" Jadi tujuannya hanya ingin di antara kita tidak saling menyimpan rahasia yah, dia memang masih Aoki yang lama..
"Inaba juga menutupinya karena ada alasan tertentu, aku tau itu.." Aku hanya diam mendengar ocehannya.
"Aku ini seperti bicara dengan tembok, sedikitnya jawablah curhatanku ini Yui!" Memang.. apa yang harus aku jawab?
"Yah.. yang penting kau mendengarnya, kau tau.. bisa bercanda denganmu itu sudah membuatku bahagia, kau masih ingat dengan kenangan kita kan? aku tidak akan melupakannya" Aku tidak mau membahasnya! Aku lebih baik segera ke atas saja menemui Inaba! Aku berlari melewatinya tanpa menjawab pertanyaannya.
"Jangan lupa perkataanku tadi mengenai Inaba-chan, kau tau apa yang harus kau lakukan kan? kau juga tidak mau misterimu itu tidak terpecahkan kan? dan sepertinya Inaba-chan mengetahui sesuatu.." diamlah!
"Hah.. sepertinya dia sudah tidak ingin mengingat masa lalu yah, aku tidak akan menghentikannya, jika itu yang terbaik baginya.."
"Kau sudah terlihat dewasa sekali, Aoki.." Taichi yang terus diam membuka matanya dan tersenyum padanya.
"Kau terjaga daritadi? Kau sengaja melakukannya!?"
"Tentu saja tidak.. tadinya aku ingin tidur dan tiba – tiba kudengar kau membahas sesuatu yang berkaitan dengan Inaba yang langsung membuatku terjaga.." Aoki menelan ludahnya, sial.. tentu saja Taichi berpihak dengan Inaba apapun yang terjadi.
"Kalau kau tau dengan kegelapan sisi Inaba, kau pasti akan berpihak denganku kan Taichi?" Dengan cepat ditariknya kerah baju Aoki, lalu dengan tatapan mematikan berhasil membuat Aoki diam.
"Siapa yang membuatmu mengatakan hal buruk tentang Inaba?"
"Siapa yang bisa membuatku mengatakan hal itu? tidak ada.. tentu saja dariku sendiri.." Makin kencang cengkeraman tangannya, Aoki sangat kesal dengannya yang susah sekali menerima kenyataan.
"Kau sendiri bagaimana? Tadi kau bisa lihat bagaimana Inaba-chan bereaksi denganku, bahkan dia hampir saja keceplosan, pasti ada rahasia yang sangat penting yang pasti melibatkan kita semua"
"Dan tadi yang dia bicarakan adalah fenomena dari Heartseed.. apa kau tidak merasa kalau Inaba-chan sepertinya bersekongkol dengannya?"
"Sekali lagi kalau kau bicara.."
"Ketika dia mengungkapkan pikirannya tentang fenomenanya, dia langsung menuju Yui yang sedang sekarat, apanya yang pikiran? Dia langsung ke pelaku yang merasakannya.. berarti dari awal dia sudah mengetahui fenomena yang kita miliki kan? lalu tentang suara yang Yui dengar.. darimana Inaba-chan mengetahui hal itu?" Taichi tidak bisa mengelaknya.. cengkeramannya sedikit meregang, sepertinya Taichi sudah sadar dengan semua itu..
"Aku tidak mau memikirkannya, Inaba sudah berbuat banyak untukku, aku tidak mau berpikir tentangnya.." Inilah ketika seseorang terlalu jauh mencintai seseorang, dia bahkan tidak akan rela meninggalkannya..
"Walaupun dia bekhianat di belakangmu?"
"Inaba tidak akan melakukan hal seperti itu" Dilepaskan cengkeramannya lalu Aoki melihatnya, tampangnya yang sudah putus asa..
"Baiklah.. aku tidak akan terlalu banyak berbicara tentang Inaba-chan, tapi aku pun tidak akan membiarkan Inaba-chan terlalu berkuasa di antara kita.. dia bisa membawa kita ke jurang perangkapnya.." Taichi menggigit bibirnya, tapi dia tidak bisa membalasnya, itu perlakuan yang benar.
Apa tidak apa – apa aku meninggalkan mereka berdua di bawah? Sejak fenomena ini dimulai emosi semuanya tidak stabil, mereka lebih cepat marah dibandingkan dulu, mereka bisa membunuh dengan tidak sadar.. uuhh.. aku khawatir dengan mereka, tapi.. ada aku pun tidak akan ada bedanya, lebih baik aku segera ke Inaba dan.. dan.. lalu apa? Sebenarnya yang ingin dibicarakannya apa? Tentangku? Tapi aku tidak pernah membicarakannya tentang suara ini pada Inaba sebelumnya, lalu kenapa dia bisa tau tentang suara ini? Baik.. itu yang harus kupertanyakan!
"Inaba?" Seisi ruangan terasa hening, apa.. Inaba ada di dalam? Ruangannya terlalu besar, dan masih rapi.. apa yang tinggal disini, sebelum ini terjadi, mereka sedang tidak berada di dalam rumah?
"Maaf.." Inaba? Ternyata dia disini, entah apa yang dia gumamkan.. aku sudah terbiasa dengan sifatnya itu, mungkin dia selalu memikirkan kita untuk ke depannya, aku tidak akan menyalahkannya jika dia seperti itu.
"Maafkan aku.. aku akan berusaha semampuku.. hanya aku yang bisa menghentikan semua ini.. hanya aku.." Yui mendekatinya dengan perlahan, Inaba yang masih diam merasa akan keberadaan seseorang langsung menoleh kepadanya.
"Inaba?" Ekspresi yang ditampilkannya itu membuat Yui mundur seketika, mata yang memunculkan amarah yang menggunung – gunung.. apa kedatangannya membawa pertanda buruk padanya?
"Yui.. kau mendengarnya..?"
"Mendengar apa? Aku baru saja masuk.." Perlahan – lahan raut mukanya menjadi tenang, Inaba kembali menjadi dirinya yang biasa.
"Souka.. hah.." Inaba langsung melemparkan dirinya ke atas kasur, lalu melihat Yui yang menunggunya untuk berbicara.
"Kalau tidak salah ada yang ingin kubicarakan yah..?" Inaba melupakannya..? Tidak seperti biasanya.
"Apa yah..?" Apa Inaba berusaha untuk mengakhiri pembicaraan ini? Lalu untuk apa dia menyuruhnya untuk datang dan ingin bicara? dia tidak sengaja kan!? banyak sekali yang kuingin tanyakan!
"Jika ada yang ingin kau tanyakan.. dengan senang hati aku akan menjawabnya.."
"Tentang kejadian tadi siang.. kau tau apa yang aku alami kan? apa kau tau sesuatu dariku?"
"Pertanyaan banyak sekali.. tapi kalau untuk dijawab, aku hanya butuh iya dan tidak.." Yui menunggunya.. entah kenapa Inaba membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya.
"Iya.." Tidak membalasnya, Yui hanya membulatkan matanya.
"Lalu, apa lagi..?" Ada apa dengannya!? Jika dia tau apa yang sedang terjadi, kenapa dia bisa sesantai itu menjawabnya dan meminta lebih tapi tidak menjelaskan keseluruhannya, apa semua itu tidak penting!?
"Kau tau.. aku sangat lelah, kau bisa bertanya lagi besok.. rasanya aku ingin tidur semalaman ini.." Tidak mungkin Yui tinggal diam saja meninggalkan misteri tentangnya!
"Beritahu aku Inaba, sebenarnya apa yang kau rahasiakan!?" Ruangan menjadi hening.. tiba – tiba pintu terbuka memperlihatkan Aoki dan Taichi yang masuk dengan tampang khawatir.
"Ada apa dengan teriakan itu Yui!?" Yui tetap di posisi menatap tajam pada Inaba, akan tetapi sesaat Yui menjadi tidak percaya diri dengan semua yang dia pertanyakan.. air mata yang turun itu membuatnya putus asa, kenapa harus menangis!? Kenapa Inaba!? Sesulit itukah..?
"Apa yang sudah kau lakukan Yui?" Aoki melihat Inaba yang sudah tidak berdaya lagi, tangisan itu membuat mereka tidak bisa bertanya banyak.
"Kumohon.. tinggalkan aku sendiri, kumohon! Aku sangat lelah, sangat lelah.. jika terus seperti ini, aku tidak tau harus bertahan seperti apa lagi.." Isakan tangisnya memperlihatkan derita Inaba yang tidak terlihat oleh mereka, tanpa diketahui Inaba menyimpan semua rahasia, tapi itu juga membuat Inaba harus merasa tersakiti. Mereka tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Biarkan Inaba istirahat Kiriyama.. aku akan menemaninya, kau keluarlah.. aku tau kau juga banyak pertanyaan padanya, tapi tolong tahanlah sampai saatnya tiba.." Yui melihat Inaba sekali lagi, masih terlihat terisak – isak.. Yui menghela nafas lalu berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Taichi dan Inaba di dalam.
"Yui.. apa yang sudah kau lakukan sampai Inaba-chan menangis seperti itu? itu merupakan rekor baru, dan menjadi orang kedua setelah Iori-chan.. lalu, apa yang sudah kau tanyakan?" dia ini mencari masalah saja.. aku tidak perlu menjawabnya.. aku segera pergi saja darinya.
"Kau menanyakan tentang rahasia mengenai dirimu kan?" Kakiku berhenti dengan sendirinya, lalu menolehkan kepala ke samping tanpa melihatnya.
"Aku penasaran dengan itu juga, tapi sampai kapanpun kau tidak akan mendapatkan jawaban darinya, kau harus mencari tau dengan kemampuanmu sendiri.."
"Aku akan terus bertanya padanya.."
"Walaupun akhirnya dia akan menangis lagi seperti itu, lupakan saja" Lama kelamaan aku menjadi tidak suka dengan reaksinya yang menyebalkan itu.
"Apa yang kau tau tentang diriku!? Jangan seenaknya menyuruhku untuk menunggu!" Aku berhasil mengatakan hal itu padanya! Biasanya aku yang selalu diam.. menjadi kembali seperti biasa, ini hal yang aneh, padahal aku belum sembuh sama sekali.. apa karena sekarang aku tau kalau suara itu hanyalah fenomena dari Heartseed? Mungkin itu alasan kenapa aku tidak bisa maju, semua adalah dalang darinya.
Taichi menutup pintu seraya melihat kepergian Yui dan Aoki dari lantai ini, dan juga sambil melihat Inaba yang sudah tidak ada kekuatan untuk membuka matanya.
"Sudah kuduga.. ternyata memang kau yang menyimpan segalanya kan, aku mendengar jawaban dari pertanyaan yang Kiriyama lontarkan, kami sengaja menguping pembicaraan kalian karena aku yakin pasti ada sesuatu yang penting dari percakapan kalian tapi tidak kusangka Kiriyama kehilangan kesabarannya"
"Lalu kau ingin apa dariku?" Inaba membuka matanya yang sudah sembab dengan air matanya, lalu Taichi tersenyum padanya.
"Tidak ada.. dari awal aku sudah curiga dengan semua ini.. pasti di antara kita ada yang diberitahu tentang semua ini, dan dari ketujuh kita yang sudah pasti bisa menjaga rahasia dengan baik tidak lain adalah antara kau atau Chihiro. Aku tidak akan memaksa kau membongkar semuanya, jika ini dari Heartseed pasti ada alasan lain kenapa kau tidak mau" Inaba menenggelamkan wajahnya di dada bidang Taichi kemudian dia melingkarkan kedua tangannya di punggungnya, Taichi hanya melihatnya dengan intens..
"Apa kau masih ingin bersamaku sampai kapanpun?" Dalam hati Taichi berpikir, walaupun Inaba mengatakan hal seperti itu.. dia tetap tidak akan membeberkan segalanya.. tidak ada cara lain, hanya tersenyum dan terus mendukungnya adalah cara terbaik untuk sekarang ini.
"Kenapa kau tidak menjawabnya? Kenapa kau selalu saja tersenyum? Padahal kau sudah mengalami banyak hal yang menyedihkan, bisa saja semua yang berkaitan denganmu.. semuanya adalah salahku"
"Dengarlah Inaba, kematian ibuku dan Rina bukanlah salahmu.. semuanya sudah menjadi takdir mereka seperti yang kau katakan, dan bukannya semua sudah tertulis di dalam catatan takdirmu?"
"Kau entah kenapa sedikit berubah.. bukankah sebelumnya kau sedang trauma dengan semua pembunuhanmu?" Kali ini Taichi yang mencengkeram badannya.
"Jangan pernah kau mengingatkanku tentang itu semua.. aku berusaha untuk melupakannya"
"Melupakannya?"
"Ah.. aku mengikuti sesuai yang kau katakan, hanya melupakannya aku bisa bertahan hidup disini.. dan apapun yang terjadi aku tidak akan mati di dunia ini, aku bertekad penuh, aku harus bisa kembali ke duniaku semula, bersama kalian semua" Inaba hanya bisa tersenyum.. memang cara itulah yang bisa membuat Taichi bisa terus bersemangat, tidak selalu murung dan emosi. Taichi mengelus rambutnya dengan lembut, Inaba mengangkat mukanya dan melihat Taichi yang seketika terlihat pucat dengan terus melihatnya dengan sedih, Inaba membulatkan matanya seraya memegang pipinya yang terasa dingin.
"Maafkan aku.. tapi bertahanlah sampai waktunya.. aku tidak akan membuatmu terus merasa penasaran dengan semua gelagatku" Taichi memegang telapak tangannya yang sedang bersandar di pipinya kemudian dia menganggukkan kepalanya.
"Emm.. sampai saat itu, jangan mati.. Inaba"
"Itu takkan terjadi.. aku berjanji"
Malam itu mereka habiskan dalam keheningan, Inaba tertidur pulas di dalam dekapan Taichi yang terus saja menatapnya dengan penuh kesedihan.. sampai kapan semua penderitaanmu ini berakhir Inaba? Taichi hanya bisa mencium keningnya dan ikut tertidur dengannya.
"Oh ya.. sejak kita menetap di tempat ini.. aku sama sekali tidak merasakan keberadaan orang yang menghuni tempat ini, apa mereka sudah mati di luar sana?" Aoki yang sedari tadi berjaga, tidak bisa diam memikirkan semua kejanggalan yang terjadi di dalam rumah ini.
"Apa aku terlalu memikirkannya? Lebih baik kita jangan berlama – lama disini dan dengan cepat segera ke sekolah.." tiba – tiba Aoki teringat sesuatu.
"Oh.. aku sudah lama tidak melihat Hpku, sudah berapa banyak catatan yang sudah tertulis di dalam yah? Tapi catatanku hanya mengatakan sesuatu yang harus aku lakukan agar harapanku tercapai kan? yah.. kita tidak tau kalau tidak mencobanya kan?" tanpa pikir panjang, Aoki langsung melihat pesan yang paling baru, dan tertulis 15 menit ke depan.
"Lari menyelamatkan Yui di lantai atas dan membangunkan Inaba-chan dan Taichi? Hah!? Tu-tunggu, apa maksud dari pesan ini!? 15 menit lagi.. sebenarnya apa yang akan terjadi?" Masih diselimuti kegelisahan, Aoki langsung melirik ke sekeliling ruangan, kanan.. kiri.. depan..! hah, belakang! tidak ada sesuatu yang aneh! sial, sial, sial, sial! keringatnya mulai bercucuran dari dahinya, dia tidak tau harus berbuat apa! 15 menit lagi dia akan menyelamatkan Yui dan membangunkan Inaba dan Taichi.. kenapa lama sekali rentang waktu yang akan terjadi? selama waktu itu apa yang sedang dia lakukan!?
"Hah!? Jangan – jangan!?"
BUAGGHHHH
"AKHHHHH!" Dia tidak tau apa yang terjadi!? dia merasakan pukulan dan dorongan yang sangat keras.. kepalanya terasa sakit sekali sampai dia ingin sekali kehilangan kesadarannya.. ada sesuatu yang menetes dari atas dahinya.. merah..
"Masih belum pingsan juga!?" Seseorang ada yang bicara..?
"GHAAAAKKH!" Tanpa tau apa yang orang tidak dikenal itu lakukan padanya.. dia sadar dia bukan berasal dari rumah ini.. dia orang asing yang menyelinap masuk kesini!? Giginya sudah banyak mengeluarkan darah, orang ini tidak akan berhenti memukulnya kalau dia belum pingsan.. lebih baik dia berusaha menahan nafasnya dan tidak menggerakkan badannya..
"Woy hentikanlah! Dia sudah mati!" Ada 2 orang?
"Sepertinya ada banyak yang ada di rumah ini.. lebih baik kau simpan tenagamu untuk menghabisi semuanya" A-!? apa yang dia katakan!? Semua yang tertulis di dalam catatan benar adanya, dalam waktu kurang dari 15 menit ini, dia harus bisa menyelamatkan semuanyaa, jika tidak.. maka bendera kematian sudah terpampang di depan matanya!
"Ayo!"
"Ermmmm… suara bising apa itu? bising? Hah!?" Ada orang lain yang sedang naik ke atas! dia mengambil pedangnya untuk jaga – jaga dan memutar knop pintu dengan perlahan.
"Siapa yang berani.." Seketika dia membuka pintu, ada sesuatu yang berkilau di depannya dari ruangannya yang sudah gelap dengan lampu yang mati.
"Pisau..? Tch…!" Dia langsung menebas pisau di depannya dengan pedang, terdengar suara cengkringan dan pasti pisau itu sudah jatuh jauh dari jangkauannya, dia langsung mengangkat kepalanya dan melihat dengan samar siapa yang melakukannya!
"Sial wanita ini!" Sial.. dia tidak bisa melihat dengan jelas! Orang itu langsung membekamnya dengan tangan besarnya dan mendorongnya menabrak dinding dengan keras, dia merasakan sakit di punggungnya.
"Mmmmmrhhh….!"
"Sial! kalau wanita ini berteriak, pasti kita yang sudah mati! Hei kau ambil pisau yang jatuh tadi, aku akan membuatnya diam!" Ada 2 orang! Dan postur tubuh mereka sudah jelas kalau mereka pria yang sudah berumur, dia tidak akan kuat menahan kekuatan seperti ini, tadi mereka bilang pisau.. apa yang ingin dia lakukan!?
"Hehehe aku akan membuatmu diam! Haaaahh!" Sial!
"Suara apa itu!? asalnya dari sebelah, apa yang terjadi!?" Aku langsung menyalakan lampu duduk di sampingnya dan memperlihatkan keadaan kamar yang masih normal, karena merasa khawatir aku langsung turun dari kasur dan mencoba keluar dari sini.
"Kau yakin sudah membunuh wanita itu kan!?"
"Tentu saja! Kau tidak melihat darahnya yang keluar dari mulutnya kan!? dan dari arah tusukanku, 1 kali bisa membuatnya mati dalam sekejap mata!" ada suara selain mereka bertiga! Dan mereka sedang dalam perjalanan ke arah sini..! aku harus mencoba bersembunyi dimana saja! Karena merasa panik.. aku langsung memilih bersembunyi di bawah kolong kasur.
"Hei ada lampu yang menyala dari kamar sebelah!"
"Pasti ada yang sedang tertidur dan lupa mematikan lampunya, dasar ceroboh! Ayo, kita harus membunuhnya juga! Kau tidak tau, semakin kita menghabisi semua manusia di dunia ini, kita akan mendapatkan hadiah apapun yang kita minta!" Sial.. aku lupa mematikan lampunya! Aku tidak mungkin keluar lagi!
"Kau jaga di luar dan tunggu aku!"
"Baiklah.." Mereka akan masuk! Aku mencoba untuk tidak mengeluarkan suara, tapi aku tidak bisa menghentikan rintihan ketakutan ini!
"Tidak ada seorang pun.."
"Coba cari.. aku yakin mereka sedang bersembunyi di suatu tempat!"
"Etto.. tempat yang suka dipakai untuk bersembunyi adalah bawah kasur kan!?" deg! Dia akan menemukanku, dia akan menemukanku. Dia akan menemukanku!
"Hei ada seseorang yang mencoba ke arah sini!"
"Hah!?"
"Dia!"
DORRR
"Tembakan!?"
"Taichi..?" Tidak salah lagi! yang menggunakan pistol pasti Taichi! Dia akan menyelamatkanku!
"Tenang saja! Dia tidak mengenaiku, dia masih jauh dari kita dan masih berjalan ke arah sini!" Deg! Taichi tidak mengenainya!? Gawat.. Taichi dalam bahaya!
"Huh! Dalam kondisi gelap merupakan keuntungan untuk kita, kau urus orang yang menggunakan pistol dan bunuh dia, aku akan mengurus gadis kecil ini hehehe" Aku tidak sengaja keceplosan menyebut nama Taichi.. dia menemukanku..
"Cepat keluar!"
"KYAAAAA!" Dia menarik rambutku keluar dari bawah kasur itu dan melemparku menabrak dinding, aku tersedak menahan rasa sakit, tanpa tiada rasa kasihan di matanya, dia mencekikku dan mengangkatku, kejadian ini terulang lagi! padahal sebentar lagi, tidak.. sedikit lagi aku akan melihat teman – temanku lagi! Iori, Shino, Chihiro, Yukina, semuanya! Aku tidak mau mati lagi!
"Kau berjanji tidak akan menyepelekan nyawamu sendiri, bahkan aku berjuang sampai disini menahan rasa sakit akan kematian.. aku pun sama sepertimu, ingin mati dan meninggalkan dunia kejam ini! Tapi kita harus bertahan! Karena itu sama saja kita mengalah dari permainannya" Itu benar, aku tidak akan mati, menyerahkan semuanya kepada Heartseed dan membiarkan dunia ini berjalan dengan tidak semestinya, aku harus bisa mengalahkannya!
"Oh, ternyata kau kuat juga yah!" Jika tidak ada yang akan menyelamatkanku! Aku akan mengalahkannya disini!
"Hahahahahahaakkkkhhhhhhhh!" Dia melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkanku, aku langsung tersedak merasa lega dia melepaskan cekikannya, siapa yang-
"Yui.. syukurlah" Tiba – tiba dia langsung terjatuh ke bahuku dan langsung tidak sadarkan diri.. aku bisa merasakan hangat badannya dan ada sesuatu yang tidak wajar darinya.. ketika dia menempelkan wajahnya ada sesuatu yang lengket mengenai pipiku, aku masih merasa kaget dengan situasi ini dan tidak berani untuk melihatnya. Karena tidak mau melihatnya, aku memegang rambutnya dan meraba – rabanya dan ketika kulihat sekali lagi, aku tidak bisa menghentikan kekhawatiranku ini.
"Ao..ki..?" tidak… tidak… Aoki… kau penuh dengan darah! apa yang terjadi denganmu!? Apa yang mereka lakukan padamu!?
"Uhuk! Uhuk!" Tidak.. ini tidak mungkin terjadi! walaupun aku tidak mau melihatmu, tapi aku tidak bisa menghentikan air mataku ini!
"Hahaha aku bisa menyentuhmu Yui, sudah lama sekali rasanya, tidak kusangka aku akan mendapatkan kesempatan seperti ini dalam sekian lamanya.. haha.. hah…ha" Kenapa kau masih bisa tertawa dalam keadaan seperti itu!?
"Aku bisa menyelamatkanmu, sekarang giliran Inaba-chan dan Taichi.. akhh.." Dia melepaskan pelukannya dan bangun dengan sekuat tenaganya, apa barusan hanya kesempatan dia untuk memelukku? Tapi Aoki..
"Kau tidak apa – apa? Kau terluka parah dan terimakasih sudah menyelamatkanku.."
"Tidak perlu sungkan, itu sudah tugasku untuk melindungimu.. selanjutnya.. Yui.. kalau kau masih ada tenaga ikut aku, kita akan menyelamatkan Taichi dan Inaba-chan" Suara terdengar parau sekali, rasanya tidak tega melihatnya terus seperti itu.
"Ah..emm!"
"Tadi aku seperti mendengar suara tembakan dari arah sini, dan dengan cepat aku langsung bangun dan segera kesini, tapi aku tidak melihat siapapun dan akhirnya menemukanmu dengan pria brengsek itu!" Jadi Aoki tidak melihat Taichi yang berusaha menyelamatkanku.
"Masih ada 1 orang lagi yang masih ada disini.."
"Aku tau itu, karena tadi aku sehabis dipukuli oleh mereka berdua" Sehabis dipukuli!? Karena itu dia terluka di bagian kepalanya.. tapi apa tidak terasa sakit..?
"Hah..? ada seseorang!" Aku dan Aoki langsung berlari ke arah orang tersebut! Dan menemukan Taichi yang terlihat bingung sambil memegang pistolnya.
"Taichi! Kau tidak apa – apa!?"
"Aoki! kau terluka! Apa yang sedang terjadi!?" Aku melihat ke bawah dan menemukan pria mati dengan keadaan lehernya yang seperti tertusuk pisau atau benda tajam. Tunggu, bukankah seharusnya.. apa memang orang ini sudah mati, berarti masalah mereka akhirnya selesai juga, Yui menghela nafas lega.
"Apa kau yang melakukannya?" Aku tidak habis pikir kenapa Taichi bisa setenang itu ketika dia membunuh seseorang, apa jangan – jangan bukan dia..
"Ini bukan aku yang melakukannya.." Sudah kuduga..
"Lalu.. siapa yang melakukannya?"
"Aku tidak tau.. ah, kalau dibilang aku tidak melihat Inaba sama sekali.. dimana dia!?"
"Aku pun baru saja menyelamatkan Yui, jadi aku tidak melihat Inaba-chan sama sekali.. apa dia yang sudah membunuh orang ini?"
"Siapapun itu aku tidak peduli..! Inaba! Hei Inaba! Dimana kau!?" Inaba yang melakukannya? Tunggu.. ketika aku masih bersembunyi aku seperti merasa mendengar suara ocehan mereka membicarakan sesuatu.
'Tentu saja! Kau tidak melihat darahnya yang keluar dari mulutnya kan!? dan dari arah tusukanku, 1 kali bisa membuatnya mati dalam sekejap mata!' siapa yang mereka bicarakan..? Inaba…? Tidak mungkin.. lalu kalau bukan Taichi yang membunuh orang ini lalu siapa lagi kalau bukan Inaba, tapi mereka bilang membuatnya mati.. lalu siapa yang mati? Apa ada orang kelima di antara kita? Itu tidak mungkin kan?
"Inaba!?" Taichi menemukannya!? Aku langsung menghampirinya dengan rasa penasaran!
"He-hei tunggu Yui!"
"Kau diam disitu, pulihkan lukamu itu!"
Tachi dan Yui langsung melewati ruang tamu dan menemukan Inaba yang duduk bersenderan dengan dinding sambil menutup matanya.
"Inaba!" merasa mendengar suara yang dikenalnya, Inaba membuka matanya dan tersenyum pada mereka.
"Ah.. kalian baik – baik saja, syukurlah"
"Kau sendiri tidak apa – apa, dan.. hah!?" mereka terkejut melihat mayat dengan kondisi yang sama seperti mayat yang bersama Taichi.
"Oh ini.. penjahat yang tadi mengejarku, kau baik – baik saja Yui? untung saja Aoki tepat waktu menyelamatkanmu" Yui hanya menganggukkan kepalanya dan masih merasa penasaran, apa yang dibicarakan 2 pria tadi mayat yang di atas? Eh tunggu..
"Kata Aoki hanya ada 2 orang saja.. kenapa bisa ada 3 orang yang disini?"
"Mungkin Aoki yang salah hitung, dia terluka kan? mungkin penglihatannya samar" Tapi ketika Yui hampir ditemukan, dia hanya mendengar 2 suara yang saling berbicara, tidak ada orang ketiga yang Yui rasakan.
"Tapi aku yakin hanya 2 orang yang ingin mencariku"
"Apa yang kau maksud itu mayat yang di atas? Sebelum aku ke kamarmu, mayat itu sudah ada di samping pintu kamar, karena khawatir aku langsung mengambil pistol Taichi dan pedangku" Hah.. ternyata seperti itu.
"Tapi kau tidak apa – apa kan? kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri..?" Taichi kembali melihat mayat tersebut dengan seksama.. Inaba yang sudah melakukan semua ini dan dengan ekspresi tenangnya membuatnya takut.
"Ah.. itu benar sekali, dia hampir membunuhku, tidak ada jalan lain selain membunuhnya" Walaupun Inaba bilang seperti itu, aku yakin aku hanya melihat 2 pasang kaki.. lalu siapa yang di atas itu?
"Jangan bercanda..!"
"Aoki!? bodoh, kau bisa kehilangan banyak darah jika terus bergerak!" Taichi langsung membantunya berdiri.
"Aku melihatnya! Hanya ada 2 orang yang menyelinap masuk kesini, dan bukan 3 orang! Orang yang mati di atas bukan teman orang – orang ini!"
"Lalu apa kau bisa menjelaskan siapa yang di atas itu?" Aoki tersentak kaget, Inaba tidak menunjukkan wajah takutnya sama sekali. Aku percaya dengan Aoki! tapi aku tidak bisa membuka mulutku untuk menjelaskan semuanya!
"Yui..!" Aoki memanggilku dengan merintih kesakitan.
"Kau pasti bisa menjelaskannya, kau juga melihat mereka! Kau mendengar mereka berbicara, kau pasti tau ada berapa orang kan!?" Aku menelan ludah, Inaba melihatku dengan sedikit membulatkan matanya, kenapa dia melihatku dengan tatapan seperti itu? seperti.. dia ketakutan dengan yang akan kukatakan.. takut?
"Mayat yang di atas itu, korban yang sehabis dibunuh oleh kedua orang ini.. aku mendengar obrolan mereka sebelum masuk ke kamar.. aku tidak tau siapa dia.." Ini tidak sepertiku yang biasanya.. sehabis melihat Inaba yang terlihat terkejut dan kembali diam, aku teringat dengan tatapannya, Inaba pasti tau sesuatu.
"Inaba pasti tau sesuatu.. karena kau yang pertama kali melihat mayat tersebut.." Inaba menghela nafasnya, apa maksudnya? Aku tidak bisa membuatnya gentar..
"Setelah melihatnya aku langsung bergegas ke kamarmu, itu saja" itu tidak menjelaskan apa – apa! Aku sangat penasaran dengan mayat tidak dikenal itu!
"Yui benar.. sejak pertama datang kesini.. tidak ada seorang pun yang tinggal, kenapa bisa ada satu orang dan tepat mati di samping kamarmu, pasti ada alasan lain!"
"Hentikan Aoki! aku yakin kau hanya ingin menyalahkan Inaba saja, pikirkan perasaannya! Apa kau kira dia yang mengetahui segalanya bisa melakukan hal sekejam itu!?" Aoki langsung menarik kerah bajunya dan menatapnya penuh amarah.
"Sekejam itu!? apa kau tidak lihat!? Dia sudah membunuh orang ini dengan kedua tangannya sendiri dan dengan tampang tak bersalahnya! Apa kau masih membuatku percaya kalau dia ini tidak kejam!?"
"Aku yakin ini semua adalah fenomena dari Heartseed, dia memberi kita kekuatan yang melebihi manusia biasa yang membuat kejadian seperti ini terjadi!" Dengan luka seperti itu, Aoki masih bisa berbicara dengan lancar walaupun terdengar seperti bisikan, apa ini salah satu fenomenanya? Kalau begitu Aoki sekarang sudah..
"Hah?" Ketika sedang memikirkan Aoki, aku melihat seperti ada yang bernoda kerah baju Inaba.
"Inaba!? Kau terluka!? Apa yang orang ini lakukan padamu!?"
"Ini hanya semburan darah dari orang ini, aku menusuknya di leher, kau tau apa yang akan terjadi kan?" Apa benar? Aku sama sekali tidak bisa menebak dari wajahnya.
"Itu tidak benar.. aku yakin.." Aoki sama sekali tidak mempercayai Inaba, aku pun sama.. tapi..
"lebih baik tidak usah dipikirkan, melihat kau dan Inaba selamat saja sudah membuatku senang, lebih baik kita segera mengobati lukamu Aoki.." Aoki terlihat diam, sepertinya tidak ada jalan lain..
Baru saja mereka berjalan lebih dari setengah hari tapi akhirnya harus kembali berdiam diri di dalam rumah kosong tersebut.. dan juga masalah yang dihadapi waktu tadi juga hanya dianggap hanya sebagai angin lewat. Yui melihat semuanya yang sibuk dengan tugasnya masing – masing..
'Mereka kuat sekali yah menghadapi hal seperti ini.. sedangkan aku..' Hanya bisa melihat dan tidak melakukan apa – apa, dia bahkan tidak bisa melakukan apa – apa ketika melihat Aoki yang sudah terluka parah.
"Kau sedang apa disitu, Kiriyama?" Taichi yang sedang mengitari sekeliling rumah menemukan Yui sedang ada di pojokan dapur.
"Ti-tidak ada.."
"Jika tidak ada yang bisa kau lakukan, lebih baik kau menemui Aoki di kamar.. dia sedang diobati oleh Inaba, kau bisa melihatnya" Dia tau Aoki ada disana, tapi tetap saja dia tidak berani untuk menatap mukanya.
"Jika kau merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Aoki, itu bukan salahmu.. tidak ada salahnya menemuinya walau hanya sebatas ingin tau saja kan? tanpa hal itu pun Aoki melihatmu saja sudah senang" Taichi tersenyum padanya walau tanpa bertatap muka, dia berhasil memprovokasi Yui sampai segitu jauhnya.
"Hanya melihatnya saja tidak apa – apa?"
"Ah.. lagian tidak ada yang melarangmu kok untuk menemuinya" Yui langsung menaiki 1 anak tangga per tangga dengan cepatnya meninggalkan Taichi dibawah sendirian.
"Memang benar sifat tidak jujurnya masih saja ada yah.." Taichi membuka lemari dan mengambil semua isinya keluar dan menatanya di meja dan melihatnya satu persatu.
"Pisau ini, lebih baik membawanya untuk keadaan terburuk" Kalau tidak salah ini pisau yang ditemukannya tepat di samping mayat yang mati di sebelah kamarnya, dia jadi teringat dengan Inaba.
"Inaba.. kau terlalu jauh melampauiku.. bahkan terlalu jauh sampai aku tidak bisa menggapaimu.. sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu?" Suaranya bergetar dengan kuatnya, dia merasa takut.. Inaba akan pergi jauh darinya..
"Itta! Apa yang kau lakukan Inaba-chan!?" Kali ini.. Inaba dan Aoki sedang berdua di salah satu kamar di lantai dua.. Inaba mengobati Aoki tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan terus melanjutkan memperban kepalanya, sedangkan Aoki terus merintih kesakitan diobati oleh dokter amatiran tersebut.
"Apa kau segitu bencinya padaku.. mengobatiku tanpa bicara sepatah kata pun? Heh.. ternyata memang kalimatku sedikit mujarab mengenai hatimu.."
"Diamlah Ahoki.."
"Kalimat pertamamu itu.. sial, bisakah kau sedikit lebih lembut padaku? Kau ingin mengobatiku atau membunuhku sih!?"
"Sekali lagi kau bicara akan kubunuh kau.." Aoki tidak gertak sedikitpun.. melainkan, dia sedikit mengerti dengan respon yang akan ditanggapi Inaba jika dia bicara mengenai sesuatu yang merisihkannya.
"Nee Inaba-chan?" Aoki langsung mengambil gunting yang dia pegang dan mengarahkannya ke lehernya, Inaba merespon lambat.. ketika dia sudah di ujung tanduk, Inaba baru sadar apa yang akan dilakukan si pria rambut kuning itu.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Kau tau apa yang ingin kulakukan kan? aku ingin informasi darimu.. informasi yang lebih akurat.. aku masih tidak percaya dengan mayat di atas tadi, dia seperti boneka yang sudah kau siapkan untuk kejadian tidak diduga seperti ini.. katakan padaku.. apa yang sudah kau perbuat?" Inaba tidak bergeming sama sekali, Aoki menahan amarahnya sambil menekan keras gunting yang dipegangnya.
"Aku tidak melakukan apapun.."
"Lalu siapa yang mati di atas tadi!? Jangan bilang kau juga tidak tau tentang itu pula!?" Inaba mencengkram lengannya, lalu melihatnya dengan tajamnya sambil memelototinya, Aoki langsung tersentak kaget.
"Lepaskan tanganmu, aku tidak akan segan – segan mematahkan tanganmu Aoki.." Mematahkan tangannya!? Sekuat apa dia sampai bisa melakukan hal itu!?
"Sudah kuduga kau menerima sesuatu darinya kan!? kau menerima kekuatan darinya kan!? kau pasti sudah memanipulasi otak kami dengan kekuatanmu! Kau membuatku pusing, tidak bisa berpikir lurus, aku yakin biang keladinya adalah kau Inaba!" Aoki berganti pikiran, dia langsung menggunakan tangan kirinya untuk mencekik leher Inaba.
"Hentikan.. Aoki.. aku melakukan semua ini demi kalian.."
"Kau mengatakannya! Kami ini bukan budakmu! Aku tidak perlu diperhatikan olehmu! Aku tidak mau ingatanku di otak – atik oleh orang sepertimu!" Sepertinya kepala Aoki sudah tidak bisa berpikir dengan lurus, mungkin karena rasa sakit yang dirasakannya.. dia mencekiknya dengan kuat, Inaba tidak kuat untuk menggenggam lengannya, lalu dia berusaha mengatakan sesuatu yang membuat Aoki membulatkan matanya.
"Tadi kau bilang apa Inaba-chan?" Inaba memaksakan dirinya untuk tersenyum, dan sekali lagi membuka mulutnya.
"Kau.. sudah dirusaki.. oleh dunia ini.."
"Yang tadi..! apa maksudmu dari balik perkataanmu itu!?"
"Sesuai yang kau dengar.. kau terlalu keras kepala sekali, sebagai Aoki aku sudah meremehkanmu.." Apa yang sudah didengarnya membuatnya shock berat, dia tidak percaya masih ada rahasia di balik rahasia yang Inaba pendam sekarang.
"Kau sudah puas sekarang? Lepaskan tanganmu, diskusi ini berakhir.. kau tidak perlu penasaran dengan hal ini semua.. semua sudah direncakan olehnya.. dan kita.. sebagai bonekanya, harus mempuasinya dengan hal seperti ini.." Sebagai bonekanya? Memang benar! Sejak awal dunia ini dibuat hanya semata – semata hanya untuk memenuhi nafsunya dengan kita.. berarti dunia ini hanya rancangan dia saja, pasti ada jalan keluar dari sini.
"Kalau kau berpikir untuk keluar dari game ini dan kembali ke kehidupanmu sebelumnya, itu tidak akan pernah bisa.." Dia membaca pikirannya!?
"Sesuai dengan peraturannya, kalah berarti mati.. tapi kita tidak tau apa kita kembali atau tidak ke dunia kita semula, mungkin saja ketika kita mati.. kita sudah berada di dunia lain.." Berarti.. kemungkinan tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri darinya.
"Apa kau sudah tenang, Aoki?" Aoki melepaskan tangannya sekaligus melihat tangannya yang gemetar dengan kencangnya.
"Sial.. setelah mendengar penjelasanmu tadi sedikit membuatku tenang.. tapi tetap saja! Itu tetap tidak menjelaskan alasan kejadian tadi, aku tidak menerima alasan karena dia sudah menetapkannya dari awal! Pasti ada alasan lain!"
"Aku akan menjelaskannya ketika kita sudah bertemu dengan Iori, Shino dan Chihiro.. kau akan melihatnya.. semua rahasia yang sudah aku tutup – tutupi sampai sekarang.. itu tidak akan lama.. sampai saat itu, aku harap kau masih menganggapku sebagai Inaba yang selalu mengejekmu setiap saat.." Inaba tersenyum padanya, senyuman yang penuh dengan leganya, seketika hatinya mulai tenang hanya melihatnya.. kemudian Aoki menganggukkan kepalanya.
Clek!
"Siapa?" Aoki mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang ingin terbuka, dia menelan ludah, tepat sekali setelah dia melepaskan tangannya dari Inaba..
"Inaba.." Yui masuk dengan tampang biasanya.. hah.. tidak mungkin Yui bisa seperti itu jika mendengar sebelumnya, pikir Aoki bernafas lega.
"Ada apa kesini?" Tanya Inaba, Aoki melihatnya dengan tampang aneh, tentu saja dia ingin melihat keadaannya kan, termasuk dirinya.
"Apa kalian sudah tidak bertengkar lagi?" Benar juga.. dia takut dia dan Inaba tidak akan bisa akur seperti biasa lagi, apa yang harus dia lakukan untuk membutnya lega?
"Akhh!" tanpa sepengetahuannya, Inaba memukul kepala belakangnya, pukulannya pelan tapi rasanya seperti kesetrum! Aoki terus memegang kepalanya dengan sedikit mengeluarkan air matanya.
"Lihat.. kami berdua sudah baikan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Bagaimana dengan keadaan Taichi?" Seketika langsung mengganti topik, dan dia lupa untuk meminta maaf atas kelakuannya.
"Dia baik – baik saja.. dia yang menyuruhku untuk melihat kalian berdua" Hem..? pipi Yui terlihat memerah.
"Ano.. bagaimana keadaan Aoki?"
"Dilihat darimana pun, dia sudah sehat sedia kala.. lihat~!" Apa maksudnya sehat sedia kala!?
"Sudah kubilang jangan mengacak – acak rambutku! Kepalaku masih sakit bekas tadi!" Hah!? Kepalaku terasa lebih ringan daripada sejak Inaba memukul kepalaku, apa ini?
"Sepertinya kita diberi kekuatan untuk menyembuhkan diri dengan cepat, lihat saja bagaimana kondisi Aoki sekarang.. dan kukira itu juga berlaku pada diriku saat ditembak oleh Taichi"
"Benar juga.. padahal baru beberapa waktu yang lalu, kepalaku sudah terasa ringan dan tidak terlalu pusing lagi.."
"Tunggu, kenapa kau memberitahu kita tentang ini? Bukankah kau tidak akan memberitahu apapun?"
"Itu karena aku juga tidak tau soal ini, dengarlah.. ini seperti yang sudah kukatakan tadi, semakin kau jauh mencari tau, kau akan menemukan banyaknya kegelapan dari dunia ini" tidak ada cara lain selain mencari tau kan..? semua perkataan Inaba merupakan petunjuk untuknya.
"Haha.. kau kira Heartseed akan menaruh satu fenomena untuk seluruh makhluk yang akan dia uji di dunia ini? Jangan bercanda.. dia akan memberikan banyak fenomena yang bermacam – macam untuk satu orang.. kau bisa melihatnya salah satunya" Salah satunya.. yang dia maksud pasti Yui.. dia diberikan fenomena untuk melihat masa depan dari matanya, apa dirinya juga punya fenomena dari Heartseed? Kekuatan yang bisa melindungi semuanya, termasuk Yui.
"Hah.. tugasku sudah selesai disini, kau lebih baik istirahat Aoki, nanti pagi kita mulai berangkat lagi" Inaba berjalan keluar dan terlihat sekilas dia menepuk bahu Yui.. nanti pagi? Aoki membuka Hpnya.
"Sudah jam 2 pagi.. tidak mungkin aku bisa istirahat secepat itu, aku yakin Inaba-chan akan membangunkanku jam 4 pagi" Ditutupnya Hpnya dan kembali melihat orang yang di depannya, dan terkejut masih melihat Yui diam disana.
"Ka-kau masih disini Yui? kukira kau mengikuti Inaba-chan" Yui tetap diam, apa hanya perasaannya? Matanya seperti berkaca – kaca.
"Maafkan aku.." Air mata keluar lagi dari pelupuk matanya, Yui terjatuh duduk sambil menutup matanya dan terus menangis terisak – isak.
'Kenapa kau menangis? Tidak ada yang perlu ditangisi kan?'
"Yui.. kau tidak ada salah apapu-"
"Tentu saja aku salah!" Yui membentaknya!? Ada apa dengannya?
"Aku tidak bisa melihatmu! Aku tidak bisa berbicara dengan normal denganmu! Aku tidak bisa menyentuhmu! aku tidak bisa memelukmu! Rasanya sangat kesal sekali…"
"Lalu kenapa kau tidak saja-"
"Aku mengatakan ini karena aku tidak bisa melakukan semua itu!"
"Kenapa!? Apa karena traumamu!? Lihat kau berhasil bicara denganku selancar ini, jika kau coba pasti bisa" Aoki membangunkan dirinya tidak bisa membiarkan Yui terkapar menangis dan menuduh dirinya sendiri.
"Jangan dekati aku!"
"Aku tidak bisa melakukannya.." Lalu apa yang harus dilakukannya!? Membiarkannya menangis menyesali dirinya sendiri tanpa membujuknya? Aoki tidak bisa melakukannya dan berjalan terus mendekatinya.. dan akhirnya, berhenti tepat di depannya, dia terus melihat rambut chestnut yang poninya menutupi matanya.
"Yui.." Dia ingin memegang pipinya! Lalu diangkat tangannya dan berhasil menempel di helaian rambutnya.
"Jangan…"
"Aku tidak berhak untuk disentuh seperti itu.." Apa karena kejadian yang menimpanya? Aoki memberanikan dirinya untuk menempelkan dahinya ke rambutnya akan tetapi..
"Aku sudah ternoda.. aku tidak pantas untuk disentuh oleh orang baik sepertimu.." Aoki membulatkan matanya dan berhenti di tengah – tengah, apa maksudnya ternoda? Jangan – jangan kasus Yui itu benar kenyataannya.. tidak, itu bukan masalahnya.. dia tetap menempelkan dahinya di dahi Yui dan memeluknya badan kecilnya dan mendekapnya dengan erat.
"Hentikan.." Dia bisa disentuh seperti ini, memang benar trauma dan ketakutan akan dirinya bercampur aduk menjadi satu.
"Aku tidak peduli kau sudah diperkosa atau tidak.. tapi ini sudah menjadi tanggung jawabku untuk melindungimu, dan aku gagal untuk melaksanakannya, ini sudah menjadi timbal balik untukku.. aku sudah menerimamu apa adanya Yui" badan Yui berhenti bergetar, tapi tetap tidak menatap Aoki secara langsung.
"Walaupun aku sudah menjadi wanita kotor? Aku tidak bisa.. kau masih suci.. sedangkan aku.. sebelum fenomena ini dimulai, tanganku.. tanganku.. tanganku sudah banyak bersimbah darah! Aoki.. lepaskan aku.. lepaskan aku.."
"Tidak mau.." Yui menarik kain bajunya, dia menggertakkan giginya, air matanya semakin banyak yang mengalir.. dia memohon dengan sangat, sangat.. tolonglah Aoki.. kumohon.. aku tidak mau banyak melibatkanmu..
"AKU SUDAH MEMBUNUH SESEORANG, TOLONG LEPASKAN AKU!" Aoki tetap diam dan terus memeluknya. Di luar, Inaba dan Taichi hanya diam mendengarkan semua luapan isi hatinya.
"Tidak pantas untuk menyentuhnya? Jika aku menjadi dia.. apa yang akan kulakukan?" Taichi tidak bisa berpikir apa – apa, sepasang tangan bersender di telapak tangannya, Taichi mengangkat kepalanya dan melihat Inaba yang sudah berkaca – kaca, dia terlihat ingin menangis pula.
"Kumohon jangan berpikir seperti itu Taichi.. aku juga sudah membunuh banyak orang, orang penting bagimu, semuanya.. aku hanya ingin bisa bersamamu terus sampai akhir" Taichi menatapnya penuh rasa sedih, dia meraih kepalanya dan menariknya untuk bersender di bahunya.
"Kita sudah melalui banyak hal.." Inaba terus meratapi semua kesalahannya dari awal sampai sekarang, apa penyesalan akan datang padanya suatu saat nanti? Apakah dia berhak untuk terus disampingnya? Banyak sekali kebohongan darinya, dan apakah semua ini akan terus berjalan sesuai yang diinginkannya?
"Nee Yui.." Yui terus menarik – narik kain bajuku, aku merasa ini semua adalah memang tugasku untuk.. tidak.. ini bukan tugas melainkan aku bertekad untuk terus melindunginya apapun yang terjadi! aku sudah kehilangannya waktu itu, aku tidak akan mengulanginya lagi!
"Waktu itu kita pernah mengikatkan sebuah janji kan?"
"Itu bukan waktu yang lama, kau pasti masih mengingatnya kan?"
"Jika aku hendak melakukan sesuatu yang berbahaya.. kumohon, hentikanlah aku.."Yui menundukkan kepalanya memohon dengan seriusnya, aku merasa itu bukanlah cara yang tepat.
"Mungkin bukan seperti itulah cara meminta yang seharusnya kan?"Yui melihatku dengan heran, aku tersenyum dengan lembut dan mulai merangkai kata.
"Mintalah seperti ini.." Pipi Yui seketika memerah ketika kukatakan hal tersebut.
"Kumohon.. lindungi aku?" aku langsung membuat pose bagaikan pangeran dan kembali menatapnya dengan tatapan se-cool yang sekubisa.
"Dengan senang hati" Yui terlihat terkejut, tapi perasaanku tersampaikan padanya.. dengan pipinya yang memerah dia tersenyum padaku.
"Kau sudah mengingatnya? Aku sudah berjanji untuk melindungi apapun yang terjadi.. waktu itu bukan sebatas hanya ketika fenomena unleased desire saja melainkan aku benar – benar ingin melindungi Yui, kau harus tau itu Yui"
"Karena sejak awal.. aku sudah mencintaimu apa adanya" Tidak.. tidak.. bukan ini yang kuinginkan.. dunia ini tidak membutuhkanku.. apalagi harus bersamamu.. tidak.. aku tidak mau ini.
"Walaupun kau menolakku.. aku akan terus melindungi walaupun dari kejauhan, tidak ada yang bisa kulakukan selain ini, tolong biarkan aku melakukannya" Badannya bergetar, aku tidak suka.. kau terlalu baik seperti yang lain, tidak.. aku benar – benar tidak ingin kau mati sia – sia hanya karena ingin melindungi semata, aku ingin kau hidup bahagia.
"Di dunia ini, hanya ini yang bisa kulakukan.. aku tidak mau kehilangan kau untuk yang kedua kalinya.."
"Melindungi hanya akan membawa penderitaan bagimu, aku tidak mau melihat kau menderita"
"Kan ada kau.. melihat Yui senang saja sudah membuatku bahagia" Tiba – tiba Aoki mendekapku dengan erat.
"Hahaha.. sudah kuduga, kau hanya tidak ingin terluka karena itu kau berusaha menjauh"
"Aku masih takut dengan pria-"
"Bohong.. kau bisa dipeluk olehku" Orang ini.. waktu aku diperkosa oleh pria itu, aku memang tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, bahkan keluargaku merasa jijik dengan keberadaanku.. kenapa? Aku tidak punya salah apapun, pria itu yang memaksaku, memukulku.. kenapa aku yang harus memikul beban berat seperti ini? Aoki tidak menghampiriku.. semuanya meninggalkanku.. tidak ada seseorang yang menemani untuk kulampiaskan rasa sakit ini, karena itu aku.. aku.. berusaha untuk menjalani kehidupanku ini sendirian, sampai Inaba datang menghampiriku.
"Yui.. kau masih mengenalku kan? aku Inaba Himeko" Tentu saja kenal.. siapa yang tidak mengenal kau, lalu ada apa gerangan dia datang padaku setelah selama ini dia tidak memunculkan mukanya di depanku? Selama aku di kamar tidak ada yang datang untuk menjengukku!
"Siapa?" Aku tau ini cara terbaik, aku tidak mau merepotkan yang lain, selama dia masih perempuan aku masih bisa berbicara seperti biasa, tapi aku tidak mau bergaul dengan mereka lagi.
"Maafkan aku karena tidak menjengukmu ketika kau sedang menderita.. bahkan sekarang kau dijauhi oleh seluruh murid, aku tidak bisa melakukan apa – apa"
"Aku sudah melakukan segala cara, aku ingin kau kembali seperti Yui yang dulu" Untuk apa? Agar aku diperlakukan tidak layak lagi? sudah cukup aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi! mengucilkan diri dari sosialisasi bertujuan agar aku tidak dilecehkan lagi, aku tidak mau..
"Aku yakin waktu itu kau sangat membutuhkan teman di sisimu.. aku tau kau sudah tidak mempercayai siapapun lagi.. aku gagal.. aku gagal untuk menyelamatkan temanku sendiri, aku minta maaf…" Sudahlah.. pergi dari hadapanku..
"Pergi…"
"Aku akan meminta yang lain untuk melihatmu lagi, dan.. CRC akan selalu menerimamu kapanpun.. datanglah.."
"PERGI!" Aku tidak mau ini, aku tidak mau.. aku tidak mau berhubungan dengan mereka, ini membuat hatiku terasa sakit sekali, tidak mau.. aku tidak mau merasakannya lagi..!
"Padahal aku sudah berbuat sejauh ini, gara – gara fenomena ini.. aku harus merasakan hal ini lagi, sebenarnya apa maunya Heartseed itu!? aku tidak mau… merepotkan apalagi harus menyiksa kalian"
"Hah!? Kau bilang kau merepotkan!? Apa yang kau katakan!? Yang ada sikapmu itu malah membuat kita terus memikirkanmu, yang ada kau malah membuat kita.. kita.." Seketika Inaba masuk dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Kau salah besar! Apa maksudmu tidak mau merepotkan!? Kau yang tidak mau berhubungan dengan kita malah membuat tambah merepotkan, bisa – bisanya kau mencoba melakukan hal seperti itu, memang kau ini siapa hah!? Kau tidak apa – apanya jika tidak ada kami! Jika kau memang menginginkan itu, bilang saja! Dengan itu aku tidak akan mendekatimu dan masalah selesai! Tidak seperti ini, diam – diam dan dari dalam hati kau ingin sekali ada seseorang yang ingin mengejarmu! Kau ini sama – sama egoisnya sepertiku! Hah…"
"Kau sudah selesai Inaba?" Taichi yang sedari tadi diam hanya memperhatikannya mulai unjuk bicara.
"Apa yang dikatakan Inaba-chan itu benar, Yui?" Dasar.. itu kenapa aku tidak mau berurusan dengannya, dia dengan gampang bisa membaca isi pikiranku! Inaba sudah mengetahui ini dari awal karena itu dia tidak bisa meninggalkanku sejak itu.. hontou.. benar – benar perempuan yang merepotkan.
"Itu benar.. setelah kejadian itu semua orang mulai menjauhiku, keluargaku juga tidak pernah mengkhawatirkanku sejak itu pula, dan semua orang melihatku dengan tatapan menjijikan! Dan.. jika aku berdekatan dengan kalian maka kalian akan bernasib sama denganku, aku tidak mau itu.. sudah cukup hidupku seperti ini!"
"Jadi trauma itu hanya pengalihanmu saja?" Taichi mendekatiku dan mencoba untuk memegang bahuku, seketika badanku refleks menepis tangannya.
"Hyaa!"
"Apa yang kau lakukan Taichi!?" Teriak Aoki di sebelahku.
"A-aku hanya mengetesnya saja, ternyata traumanya itu asli, eh tapi.. kau bisa bersentuhan dengan Aoki, aneh.."
"Kalau dipikir – pikir itu benar juga.."
"Hehe mungkin karena aku itu orang istimewa baginya" Dia terlalu percaya diri.. mungkin karena pria bodoh ini yang selalu saja menolongku, aku tidak takut berada di dekatnya.. perasaan ini tidak pernah hilang, tapi..
"Apa aku benar – benar layak denganmu? Tubuhku ini sudah kotor di tangan pria lain, apa kau tetap ingin bersamaku?"
"Jadi kau memang sudah-"
"Jika dilihat darimana pun! Aku ini terlihat seperti wanita murahan, seperti kataku tadi.. aku tidak bisa bersamamu"
"Yui, aku-"
"Pria sejati tidak memikirkan hal seperti itu!" Tiba – tiba Taichi memukul pintu di sebelahnya.
"Ada apa Taichi?"
"Seorang pria sejati tidak akan melihat perempuan dari segi itu, dia akan terus menyayangimu apapun yang terjadi, dia pasti akan menerimamu apapun kesalahan atapun kekuranganmu!"
"Seperti yang dikatakan Taichi.. aku tidak peduli mau kau sudah dipermalukan atau tidak, sebenci – benci dunia kepadamu.. aku tetap ingin mendukungmu dan bersamamu terus.." Semuanya bodoh.. aku tidak percaya aku bisa berteman dengan mereka, mereka susah sekali untuk ditinggalkan.. karena itu aku selalu saja merasakan sakit di dadaku.
"Bisakah…?" Aku ingin mengulanginya lagi, aku ingin mengulanginya bersama kalian.
"Bisakah.. aku berteman dengan kalian lagi? aku ingin memulainya lagi dari nol bersama kalian" Inaba memelukku dengan erat.
"Tentu saja" Aku membalas pelukannya, aku ingin kembali seperti Yui yang dulu.. aku sangat ingin..! aku ingin sekali..
"Suara pria yang memerkosamu?" Inaba sedang membereskan barang – barangnya dimasukkan ke dalam tas gendong, isinya tidak terlalu memperlihatkan semua kebutuhannya.. yang ada hanya makanan dan juga sedikit obat – obatan.
"Hem.. aku yakin itu juga merupakan fenomena yang diberikan Heartseed padaku.. tapi aku tidak tau apa gunanya? Apa kau juga memiliki fenomena yang sama denganku Inaba?"
"Tentu saja tidak.. kita mendapatkan fenomena yang berbeda satu sama lain, kalau aku mendapatkan fenomena yang sama denganmu, mungkin aku sudah gila sekarang"
"Hah?"
"Kau sudah membunuh orang tersebut kan? dan sekarang dia terus mengiang – ngiang isi kepalamu jika kau sedang stress ataupun sedang bingung, kalau aku punya hal seperti itu, aku benar – benar bisa gila, sudah berapa banyak orang yang sudah kubunuh? Tidak terhitung rasanya" Benar juga katanya.. 1 orang saja sudah membuatnya hampir pingsan apalagi dengan Inaba yang sudah membunuh banyak orang, pasti isi kepalanya penuh dengan teriakan penderitaan dan kesenangan batin.
"Tidak ada yang ditanya lagi kan? sudah kubilang aku tidak akan membeberkan banyak rahasia sampai bertemu semuanya kan? jadi jangan bertanya macam – macam yang berhubungan dengannya.."
"Baik.." Yui terus memperhatikan Inaba sampai Aoki masuk dan gabung dengan pembicaraan tadi.
"Ada yang perlu kubantu Inaba-chan, aku harus berterima kasih atas pengobatanmu tadi"
"Tidak ada.. kau hampir membunuhku tadi, jadi anggap saja sudah seimbang.." Yui langsung mengganti pandangannya kepada Aoki, membunuhnya? Aoki serius melakukannya!?
"Tenang saja! Aku tidak akan serius akan melakukannya kan, lagian aku belum pernah membunuh satu orang pun jadi bakalan repot kalau orang pertamanya adalah kau haha.. eh tunggu, aku sudah pernah membunuh!" apa itu lelucon konyolnya? Sama sekali tidak lucu.
"Sepertinya Taichi sudah merasa baikan, apa yang sudah kau lakukan padanya Inaba-chan? Ini baru menjelang 2 hari sejak kematian adiknya tapi kakanya malah terlihat sudah baik – baik saja, tidak sesuai dengan julukan sisconnya, iya kan Inaba-chan? Hah!?" Tiba – tiba Inaba menjatuhkan beberapa perban dan memeluk dirinya sendiri, apa yang Inaba takutkan? Apa yang terjadi dengannya!?
"A-ada apa denganmu, Inaba?" Yui langsung sigap meraih bahunya dan menggenggam tangannya.
"A-aku tidak apa – apa.. hanya ketakutan dengan sesuatu"
"Ketakutan Taichi dengan gampang melupakanmu jika kau mati..?" Inaba membulatkan matanya, pernyataannya tepat.
"Kau pasti melakukan sesuatu padanya yah? Membuatnya melupakan adiknya dengan gampangnya? Sebenarnya apa maumu?"
"Aku melakukannya karena aku tidak ingin Taichi terus merasa terluka dengan perbuatannya! Dia yang membunuh Rina, pasti dia ingin melupakannya!"
"Tapi melupakan semua perbuatannya itu juga merupakan kesalahan besar"
"Dari awal itu memang keinginan egoismu saja, siapa yang mau melupakan hal tersebut? Ingat, adiknya? Kau ingin membuatnya lupa dengan adiknya? Jika aku menjadi dia aku tidak akan gampang melupakannya, itu merupakan dosa terparah selama hidupnya.. jika dia melupakannya.. dia sudah menjadi orang jahat yang tidak jauh berbeda dengan psikopat di luar sana"
"Lalu apa yang harus kulakukan!? Diam saja melihat dia terus emosi seperti itu!?"
"Itu balasan yang sepadan baginya"
"Kau….! Apa kau tidak ingat apa yang harus kita lakukan waktu itu!? kita harus memilih siapa yang harus membunuhnya, ingat!? Apa itu harus dikatakan sebagai dosa!?"
"Tentu saja, membunuh merupakan perbuatan dosa"
"Kau! Jangan sok suci!"
"Hentikan kalian berdua! Bagaimana kalau Taichi mendengar perkataan kalian!?" Mereka berdua langsung diam mendengar teriakan Yui, itu teriakan pertamanya yang berusaha untuk melerai mereka.
"Maaf.. aku terbawa suasana lagi, sepertinya aku menjadi terlalu sering mencari masalah.. maafkan aku Inaba-chan" Inaba tidak menjawab permintaan maafnya, Aoki sedikit merasa bersalah.
"Seperti kataku tadi! Apa ada yang bisa kubantu? Aku benar – benar sangat bosan!" Sepertinya dia sedang mencari cara agar suasananya menjadi sedia kala, mereka sungguh sudah terhisap jauh ke dalam permainannya, seriuskah? Mereka terlalu menganggap ini semua serius.. apakah tidak ada cara lain!?
"Tidak ada yang perlu kau bantu.. aku bisa melakukannya sendiri" Aoki menghela nafas malas lalu menoleh ke Yui.
"Kau hanya sendiri Yui? Mau ke bawah bersamaku?"
"Apa kau bodoh? Akan tambah membosankan jika bersamamu.." Aoki melongo.. mulutnya tidak menutup, Yui hanya melihatnya bingung.
"A-apa?" Melihatnya terus membuatnya tidak nyaman.
"Ti-tidak! Ini pertama kalinya kau melihat mukaku, ah~ rasanya rindu sekali.. dan kalimatmu itu, sudah lama sekali aku tidak mendengarnya! Bisa katakan sekali lagi~?" mukanya memerah, itu memang benar kalau Yui sudah memulainya dari awal.. tapi apa Aoki mencoba untuk mengejeknya? Padahal Yui seperti ini belum lama.
"Kau tau aku masih punya trauma.. hentikan, kau membuatku tidak nyaman"
"Hem.. aku tau itu.. kalau begitu aku ke bawah yah.. Inaba-chan, jika sudah selesai, kita siap untuk berangkat setelah ini" oh ya, ke sekolah yah..
"Jangan lupa siapkan semua senjata yang ada dari rumah ini, mungkin Yui sudah bisa untuk bertarung"
"Hem.. aku akan berusaha sebisaku"
"Baiklah, aku akan menyiapkannya bersama Taichi, jaa!" Yui melihatnya turun melalui tangga, walaupun sudah hilang dari pandangan dia tetap terus menatap ke luar.
"Kalau kau segitu ingin bicara dengannya, lakukan saja.. anggap saja aku tidak ada tadi"
"Apa yang kau katakan!?" "pftt" A-apa yang lucu darinya!?
"Aku ingin mencoba kembali seperti dulu, membawa lelucon yang hanya berpengaruh padanya saja, rasanya sangat kangen sekali" Hemm..? Inaba tidak membalas perkataannya?
"Benar juga.. seperti dulu.. aku harap hal seperti itu bisa kembali" Inaba sangat ingin kembali seperti waktu itu, dimana kita ber-tujuh bisa bersenda gurau seperti sedia kala… ada kalanya kami ingin bisa seperti itu lagi, tidak.. harus menjalankan kehidupan yang dikelilingi dengan kematian.
"Apa dunia ini hanya ilusi saja bagi kita?" Inaba langsung menoleh ke Yui.
"Apa dunia yang sudah hancur ini bisa kembali semula dimana tidak ada seseorang pun yang menyadari semua ini, dimana semua orang yang mati bisa hidup kembali? Aku.. ingin mengulangi semuanya"
"Aku tidak tau.. mungkin Heartseed bisa menjelaskan semuanya"
"Dimana kita bisa bertemu dengannya?"
"Itu pun aku juga tidak tau" Setelah menutup resleting tasnya, Inaba menopangnya di bahunya dan kepalanya menunduk menatap lantai.
"Kita sudah terlalu banyak membuang – buang waktu, kita harus segera pergi dari sini lalu lanjut menuju sekolah" Ada kalanya kita harus menerima segalanya yang terjadi di antara kita.. harus bertahan hidup, aku harus bisa bertahan hidup..! untuk melindungi semuanya!
DEG!
'Oh ternyata kau bisa kembali semangat lagi.. sayang sekali padahal aku ingin terus melihat muka ketakutanmu itu..' Suaranya datang lagi, tapi kali ini aku mulai mengerti bahwa ini salah satu fenomena Heartseed dimana aku bisa berkomunikasi dengan roh orang yang sudah kubunuh.
"Aku ingin bertanya sesuatu"
'Oohh.. kau sudah mulai paham dengan kondisi badanmu yah.. hehe, apa yang ingin kau tanyakan?'
"Aku tau kau adalah orang yang sudah memperkosaku dan aku yang sudah membunuhmu tapi bisa kau jelaskan kenapa kau bisa ada di dalam badanku?"
'Hemm.. Mungkin lebih tepatnya di hatimu'
"Hati?"
'Jika kau masih ingin bertanya kenapa aku bisa ada di dalam badanmu itu tidak bisa kujelaskan, tiba – tiba saja aku sudah berada disini.. kau tau, daripada menjadi roh gentayangan aku lebih suka seperti ini'
"Jadi ini memang benar fenomena yang disengaja Heartseed yah.. seenaknya dia memasukkan roh ke dalam badanku.."
'Sudah tidak ada yang ditanyakan? Sial! padahal aku ini sangat senang jika mendengar suara teriakanmu, telingaku sudah tidak sabar mendengar teriakan terror darimu hahaha!'
"Apa ada cara agar kau bisa lepas dariku?"
'Aku juga ingin tau itu, hey kau ingin aku pergi darimu!? Itu tidak bisa aku ingin tetap disini!' Roh yang keras kepala, tentu saja.. aku tidak mau roh ini tetap bersamaku, karena dia yang sudah membuatku sengsara selama ini.
"Sudah.. aku tidak mau berbicara denganmu, menghilanglah"
'Asal kau tau, aku akan tetap disini seumur hidupmu!' Tunggu masih ada yang ingin aku tanyakan..
"Tunggu.. aku bertanya sekali lagi, siapa namamu?"
'Hehehe kalau itu aku tidak bisa menjawabmu! Aku masih ingin berada disini!' hah apa maksudnya?
"Kenapa!? Aku berhak mengetahuinya kan!? hei! Kau dengar aku, hei.. hah.. sial, dia melarikan diri yah, tetap saja dia masih di dalam tubuhku.. kenapa hanya dia yang bisa muncul dengan sendirinya!? kalau saja aku bisa memanggilnya!"
"Yui..?
"Hah..!? ah.. Aoki.." Kenapa dia tiba – tiba ada disini!? Jangan – jangan dia mendengarku dari awal!?
"Ah.. aku tidak sengaja mendengarmu, Inaba-chan memintaku untuk menyuruhmu secepatnya turun ke bawah" Kalau begitu dia mendengarnya kan? aku terlihat seperti orang gila, berbicara dan berteriak sendiri!
"Aku sudah tau dengan kondisimu.. tenanglah, aku tidak akan bertanya apa – apa"
"Tapi aku akan bilang sesuatu.. terkadang fenomena yang diberikan Heartseed selalu berakhir tragis, selalu waspadalah Yui, karena aku tidak bisa berbuat apa – apa dengan orang yang di dalam tubuhmu" Aku mengerti, karena itulah aku ingin mencari cara untuk mengeluarkan roh ini.
"Baik.. terima kasih Aoki.." Pipinya merah?
"Hahaha.. aku senang kau bisa kembali seperti semula.." Ingat.. traumaku masih ada, aku tidak akan menyentuhnya.. aku yakin, jika aku bisa mengusir roh ini, aku merasa aku akan pulih seutuhnya.
"Tadi aku melihat nama jalan di plang luar gerbang.. tidak salah lagi kita tinggal selangkah lagi dari sekolah, mungkin jika dihitung dengan berjalan kaki Cuma menghabiskan waktu sekitar 15 menit" Tentu saja.. lagipula rumahku hanya berjarak beberapa kilometer, tidak mungkin akan menghabiskan waktu banyak untuk ke sekolah, mungkin yang melambatkan kita hanya zombie waktu itu.
"Yosh.. kita mulai lagi perjalanan lagi, ingat ini bukan rekreasi.. bisa saja dalam perjalanan kita akan ketemu lagi orang yang berbahaya lagi, jadi waspadalah semuanya!" Seru Inaba.
"Sebentar lagi.." Ujar Aoki.
Saat ini, kita sudah berjalan selama 5 menit dengan membawa semua perlengkapan di dalam tas, makanan, obat – obatan, semuanya yang menurut kami penting.
"Tidak ada yang aneh di Hpku.." Ujar Aoki yang melihat ke layar Hpnya, saat ini yang mempunyai catatan takdir hanya Inaba dan Aoki, mereka selama ini terus melihat ke Hpnya, mungkin untuk mewaspadai lingkungan di sekitar kita.
"Ingat Aoki, catatanmu itu yang menunjukkan perintah yang akan kau lakukan nanti, berbeda denganku yang hanya berisi kejadian yang akan menimpa kita selanjutnya.. punyamu lebih menguntungkan jadi lihat baik – baik"
"Baik, Baik.." Ucap Aoki malas.
"Bukannya Kiriyama juga punya kekuatan untuk melihat masa depan.. bagaimana kalau kau coba sekali lagi?"
"Hem.. masalahnya aku tidak tau bagaimana cara kerjanya, lagian aku juga takut dengan kelanjutannya, entah kenapa masa depan di mataku hanya berisi kematian saja.." Tidak juga sih, kadang – kadang aku melihat kejadian dimana aku yang menjadi peran utama di dalam masa depan.. aku tidak bisa mengatakannya kepada mereka, bisa – bisa Inaba akan menyuruhku untuk bisa terus melihatnya.. aku jadi teringat dengan kejadian kemarin siang, entah kenapa aku merasa Inaba sangat serius waktu itu.
"Dari semua orang yang kutemui.. kau orang yang sangat berbahaya.. dengan matamu, masa depan bisa terlihat dengan sempurna.. kalau saja aku bisa mempunyai kekuatan seperti itu, pasti akan aku gunakan lebih efektif tidak sepertimu.."
Terdengar seperti ancaman, apa Inaba hanya mengigau? Apa dia benar – benar ingin mempunyai kekuatanku? Dia tidak pernah membahasnya lagi? apa itu hanya leluconnya?
"Mata yang bisa melihat kematian yah, tidak buruk.." Inaba tersenyum lebar, aku langsung tersentak kaget dan diam di tempat, jangan – jangan Inaba serius ingin..!?
"Inaba-chan..! kau ingin membuat Yui takut hah!?" Seru Aoki dengan kesal sambil menunjukku.
"A-aku hanya bercanda! Jangan anggap serius, kau tau aku selalu seperti ini kan!?" Aku menghela nafas lega, ternyata hanya bercanda.
"Bercandamu itu selalu terdengar serius! Lain kali gunakan kalimat yang benar!"
"Wakatta, wakatta.." Akhirnya kami mulai berjalan seperti biasa, aku berada di antara mereka bertiga, di belakangku ada Taichi yang selalu waspada di belakangnya, dan Inaba dan Aoki di depan yang bertugas jika suatu saat terjadi sesuatu.. lagi gunaku itu apa?
"Sudah berapa lama kita berjalan..? aku sama sekali tidak melihat tangga menuju sekolah" Tanya Taichi.
"Bersabarlah, sebentar lagi mungkin.. bukankah kalian berdua yang selalu berjalan kaki setiap sekolah, kenapa malah kau yang mengeluh?" Aku tidak mengeluh.. kita baru berjalan selama 10 menit, dan di belokan kiri pertigaan sana ada tangga, dan itu yang mengarah ke sekolah, berarti tinggal sebentar lagi.
"Tunggu.." Tiba – tiba Inaba menghentikan kami.
"Ada apa Inaba? Tangganya ada disana.."
"Kalian serius ingin lewat sana? Apa ada kemungkin seseorang akan mencegat kita?"
"Kau terlalu khawatir Inaba-chan.. siapa yang mau menjaga tangga di saat seperti ini, dan aku tanya sekali lagi.. apa ada orang waras yang masih ingin kembali ke sekolah setelah mengetahui semua yang sudah terjadi" Perkataanmu terlalu tajam Aoki!
"Benar juga.. tapi jangan lupa jangan lepas waspada, kita akan melakukan yang terbaik untuk sampai ke atas sana.." Mereka menganggukkan kepala mereka, lalu mulai berjalan pelan – pelan dan sekaligus memandangi pergerakan pegangan besi, jika ada yang bergerak pasti pegangannya akan bergetar.
"Bagaimana dengan catatanmu Inaba-chan?"
"Tidak ada yang masuk ke dalam pesanku.. apa aman?"
"Bagaimana jika salah satu dari kita yang melihat? jika kondisi terburuk, kita akan lewat pagar di atas kita ini.." Tanya Taichi.
"Tentu saja aku yang akan melihatnya. Aku tidak akan melibatkan wanita di saat seperti ini, dan yang mempunyai catatan yang paling penting adalah Aoki.. dia yang akan memberitahuku apa yang harus aku lakukan"
"Lakukan.. Taichi" ujar Inaba.
"Hem.. tunggu aku yah.."
Aku mulai meninggalkan Inaba dan lainnya di belakang dan berjalan secara perlahan, aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada disana, sial jika ada sesuatu yang bersuara seperti suara gesekan tanah atau apapun pasti aku bisa mengetahuinya, salah satu caranya adalah dengan mendekatinya.
"Ini.. tidak mungkin kan?" Aku yakin penglihatanku ini tidak salah! Ini jasnya Yamaboshi Highschool kan!? kalau begitu mereka semua ini zombie!? Tidak mungkin!? Kalau begitu bukan polisi saja yang dia rubah!? Kalau begitu.. sekolah saat ini mungkin sudah menjadi sarang zombie, lalu siapa yang membunuh mereka semua? Orang luar? Pikirkan nanti saja, sekarang sudah dipastikan bahwa jalan ini aman, aku harus kembali dan memberitahu Inaba dan yang lainnya.
"Bagaimana Taichi?" Tanya Inaba.
"Jalannya aman, tapi aku harus bilang apa yah.. mungkin kalian akan mengerti jika melihatnya secara langsung..." Mereka bertiga memasang wajah heran, tapi mereka menghiraukannya dan langsung beranjak cepat ke pertigaan jalan tersebut.
"Ini.. tidak mungkin" Aoki melihat Inaba dengan intens, sepertinya Inaba tidak tau menahu soal ini, wajahnya sama pucatnya dengan mereka bertiga. Semua mayat tersebut mereka periksa, untunglah tidak ada seorang pun yang mereka kenal.
"Tidak ada mayat yang kita kenal, mungkin Heartseed membuat semua yang tidak berhubungan dengan kita dilenyapkan dengan begitu cepatnya"
"Jadi.."
"Jangan terlalu banyak berharap Yui, ini baru depan tempat tujuan kita, mungkin akan lebih banyak dari ini" Inaba melihat kea rah tanjakan, dia mempersiapkan pedangnya di sampingnya untuk berjaga – jaga.
"Kuharap semua baik – baik saja" Tiba – tiba keluat kalimat tersebut dari mulut Taichi.
"Aku malah berharap mereka semua sudah mati" Sekejap langkah kaki mereka terhenti ketika mendengar ucapan Inaba.
"Jangan berbicara seperti itu, tidak lama yang lalu kau baru saja mengobrol dengan mereka, kau terlalu kejam Inaba-chan"
"Benarkah? Lambat laun kalian akan mengerti kalau kebaikan bisa saja membawa penderitaan" Taichi mengepalkan kedua telapak tangannya, sudah lama dia tidak mendengar kalimat tersebut dari mulut Inaba.. benar, kalimat itu cocok dipasangkan padanya.. seorang "Selfless Freak" yang tidak bisa apa – apa selain berharap.
"Tch.." Dia ingin sekali melupakan kenangan itu.
Akhirnya kami sampai di depan gerbang, aku menelan ludah.. aku merasa ngeri untuk menginjakkan kaki disini.. dan juga, takut akan bad ending, ini bukan game novel visual yang sering kumainkan, ini nyata dan lebih buruknya.. mungkin ini akan menjadi tempat terakhir game fenomenanya, semua mungkin akan berakhir jika kami bisa bergabung seperti dulu, tapi.. apakah akan semua berjalan dengan lancar?
"Rasanya asing sekali" Angin yang bertiup ke arah mereka dan menerpa badan membuat rasa merinding makin menjadi, daun – daun yang berterbangan bersimpangan dengan mukaku secara satu persatu memperlihatkan kondisi gelap tempat ini, bukan karena sekarang sudah jam malam, bukan karena sekarang sedang mendung, memang sejak awal semua gedung di tempat ini bagaikan ditelan oleh kegelapan, lampu – lampu sudah tidak ada yang menyala, suasana yang senyap, bahkan aku bisa mendengar suara nafasku saking sepinya.
"Tidak ada tanda – tanda kehidupan disini.. apa kau yakin Iori-chan, Shino-chan dan Chihiro ada disini Inaba-chan?"
"Jangan tanya aku.. bahkan aku tidak tau mereka masih hidup atau tidak, tapi tidak ada salahnya jika kita tidak mencobanya" Aku yakin dia pasti berbohong.. orang gila mana yang mau berdiam diri di tempat mengerikan dan kurang adanya persediaan makanan dan obat, Inaba-chan pasti mengetahui sesuatu.
Inaba menaikkan tuas kunci gerbang dan menariknya perlahan ke samping, suaranya membuat bising telinga, apa tidak akan menarik perhatian zombie?
"Tidak ada siapa – siapa disini.." Ucap Taichi.
"Aneh.." Mereka tidak merasakan bahaya yang mengincar kemudian mereka melanjutkan berjalan lebih ke dalam.
"Hah..!?"
"Sudah kuduga, masih ada yang bertahan disini" Puluhan zombie ditumpuk membentuk gunungan mayat, mereka merasa lega tapi di lain sisi mereka menjadi lebih berwaspada, orang yang melakukan semua ini pasti ada di gedung ini.
"Bagaimana kalau kita berpencar untuk memeriksa beberapa tempat?" Tawar Inaba, tidak.. Aoki tidak akan melepaskan Inaba begitu saja.
"Aku tidak setuju.. memang banyak sekali ruangan disini tapi bahaya yang mengancam pasti ada, aku tidak mau ada nyawa yang melayang di antara kita"
"Jadi kau ingin tetap bersama hah Aoki?" Inaba membalas dengan cengiran, urat nadi Aoki mulai bermunculan, jangan harap kau bisa bercanda di situasi sekarang!
"Tenanglah Aoki, Inaba hanya bercanda" Jangan kau juga Taichi!
"Kita disini untuk mencari yang lain kan? hentikan pertengkaran percuma ini.." Kenapa mereka mudah sekali bertengkar? Padahal mereka tidak pernah seperti ini.
Tap Tap
"Suara langkah kaki!?" Sial, secepat ini kita akan berinteraksi lagi dengan seseorang!? Dipastikan yang berjalan adalah manusia bukan zombie, apa dia yang sudah membunuh semua zombie ini?
"Ja-jangan – jangan.."
Wushhh!
"Apa itu!? Aahh!" Taichi berhasil menghindari sesuatu yang terbang ke arahnya, seusai menghindar terdengar suara ledakan atau bisa dibilang letusan, mereka melirik ke belakang dan menemukan pecahan balon yang mengalirkan darah.
"Da..rah?" Mereka mengisi balon itu dengan darah!? semua orang yang berubah menjadi zombie, mereka tidak bersalah, mereka hanya menderita karena sudah berubah menjadi seperti itu, mereka tidak.. hentikan Taichi! Mereka monster, tidak perlu mengasihani mereka.. siapa yang sudah melemparnya?
"Selanjutnya mungkin bukanlah darah.. melainkan senjata, tapi aku tidak akan melakukan sekejam itu kepada kalian, bisa dibilang kalau kalian adalah kunci utama dalam dunia ini" Suaranya tenang.. berjalan dengan santai ke arah mereka.
"Kenapa kau masih hidup?" Kenapa Inaba berbicara seperti itu? dia seperti tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
"Mungkin kau akan mengira orang lemah sepertiku akan mudah mati, tapi aku masih punya otak dan akal untuk bisa melampaui semua ini, tidak sepertimu Inaba-san.. ada apa? Kau takut?" Inaba terlihat ketakutan, dia bahkan tidak menyadari ekspresinya sekarang, ada apa denganmu Inaba? Kenapa kau ketakutan melihat dia?
"Katori Jouji, kenapa kau ada disini?" Tidak berlama – lama Aoki langsung memulai pembicaraan, meskipun Jouji punya otak, dia pasti tidak mungkin berniat untuk terus berada disini, apa tujuannya?
"Semua anggota Osis sebagian sudah mati ketika dimulainya fenomena ini, beberapa dari mereka berubah menjadi zombie dan ada yang dimakan oleh mereka.. aku yang berhasil bersembunyi sampai suasana menjadi aman, kembali memikirkan keseluruhan cerita ini" Cerita?
"Hentikan.. kau bisa hidup saja itu sudah menjadi keajaiban, Jouji" Inaba kembali bersuara, Jouji hanya bertampang datar dan kembali menatap ke muka Aoki.
"Keajaiban? Di dunia ini tidak ada keajaiban Inaba-san.. seluruhnya sudah dikendalikan, kau pasti mencoba untuk mengelabuiku"
"Hah!?" Inaba kembali bergetar, sebelum game ini dimulai, kehidupan sekolah Inaba dan Jouji terbilang sangat jauh, mereka selalu berdebat tiada henti, Inaba selalu kalah telak jika sudah berargumen dengannya, tapi tidak disangka Inaba bisa sampai ketakutan seperti ini.
"Aku ingin bertanya, kenapa kalian kembali kesini? Sedangkan kalian lebih aman jika di luar sana kan? kenapa Yamaboshi Highschool menjadi prioritas utama kalian? Bisa saja kalian masih bisa hidup normal jika terus bersembunyi" Jouji benar.. dia bisa membaca seluruh rencana mereka, dan bisa memojokkan Inaba, Jouji sepertinya sudah menyadari sesuatu tentang fenomena ini.
"Urusi urusanmu sendiri Jouji.." Kalimat per kalimat terlontar dari mulut Inaba, dan semakin pula kita menjadi tau apa rasa takut yang menimpa Inaba saat ini, dia takut.. Jouji mengetahui semuanya.
"Apa tidak ada kalimat lain selain itu? biasanya kau selalu kritis Inaba-san, apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?"
"Biar kujawab pertanyaanmu Katori"
"Aku bertanya pada Inaba-san, Yaegashi"
"Kami kesini karena berpikir kalau Iori-chan, dan 2 adik kelas kami ada disini, itu tujuan kami.." Aoki langsung to the point, dan menatap langsung kedua mata Jouji.. tidak mungkin dia akan melepaskan mereka begitu saja, dia pasti punya banyak pertanyaan.
"Aoki.."
"Kiriyama-san? Rupanya kau disini juga, aku tidak menyadarimu.. banyak sekali orang yang mencarimu loh.." Siapa? Yui melangkah mundur menuju punggung Aoki dan bersembunyi.
"Mencari Yui?"
"Terutama orang yang tersakiti olehnya.."
"Sebelum game ini terjadi banyak sekali murid yang datang ke ruangku dan complain mengenai Kiriyama-san, mereka menyuruhku untuk mengeluarkannya dari sekolah, tapi aku tidak punya hak untuk melakukannya.. maka dari itu.. aku bilang pada mereka, kenapa.. kalian.. tidak membalas perbuatannya?" Maksudnya.. dia bilang pada orang – orang itu untuk melukai Yui!?
"Mungkin mereka masih di sekitar sini" Aoki merasakan tarikan bajunya, Yui ketakutan, dia tau.. Yui tidak salah, yang salah adalah traumanya! Dia tidak akan membiarkan siapapun melukainya!
"Kenapa kau mengatakan hal itu? kau tau perkataanmu bisa membuat Yui terancam bahaya!"
"Aku tidak bisa mengeluarkannya.. jadi mungkin caranya adalah menyingkirkannya merupakan pilihan yang terbaik.." Suara langkah kaki? Dan sekarang lebih cepat!? Dan menuju ke arah mereka!
"MATI!" Dia datang entah darimana! Sepertinya Jouji sengaja membuat mereka disini untuk mencari kesempatan ini! Sialan!
"Yui!" Inaba mendorong Yui dan alhasil.. Inaba terkena tebasan kaca ke punggungnya dan jatuh terkapar dengan mengeluarkan banyak darah dari punggungnya.
"Kkhhhhh,,,!"
"INABA!" Teriak Taichi dan Yui bersamaan, emosi Taichi kembali menguap, dan tidak pikir panjang dia mengambil paksa kaca yang dipegang pria tersebut dan menusuk dadanya, matanya tidak menunjukkan belas kasihan, yang di pikirannya saat ini adalah Inaba.. Inaba.. Inaba..
"Sial!"
Jleb
"Akhhh…? Sesuatu ada yang menusukku?" Seketika Aoki tidak bisa mengontrol keseimbangan tubuhnya dan ikut jatuh mengenai kepala duluan, sebelum matanya menutup, dia melihat ke arah orang yang sudah membuatnya seperti ini, sepertinya dia memberikannya obat bius! Sial.. dia tidak bisa menahan kantuknya! Siapa? siapa yang?
"Sia…pa?" Aoki tidak bisa melihatnya dengan jelas.. tapi dia merasa bahwa yang melakukannya adalah perempuan, jangan – jangan.. dia.. sial.. tidak kuat lagi..
"Aoki! Akhhhh!" Masih ada lagi!? salah satunya telah menghantam kepala Yui dengan bongkahan kayu dan membuatnya pingsan di tempat, kenapa..? kita disini tidak ada niat untuk membunuh kalian! Tapi kenapa!?
'Aku bilang pada mereka, kenapa.. kalian.. tidak membalas perbuatannya'
Sudah jelas.. Yuilah, yang sudah membuat semuanya terluka.. ini semuanya adalah salahnya.. kalau saja aku tidak ikut mereka, ini semua tidak akan terjadi.
"Lepaskan! Lepaskan! Inaba! Inaba!" Dipukulnya pipi Taichi, bekas merah mulai menempel di pinggiran bibirnya, dia tidak mempedulikannya, Inaba.. Inaba..! dia harus menyelematkannya!
"Kau berubah Yaegashi.. kau menjadi lebih agresif.. aku tidak menakutimu, kau tidak ada bedanya dengan para zombie itu, yang hanya memikirkan ego dirinya sendiri.."
"Kau tau apa tentangku!? Di mataku yang sekarang kau yang mirip dengan mereka.. asal kau tau! Aku akan menyelamatkan semuanya! Aku akan menghilangkan semua hal konyol ini, semuanya!"
"Hemm.. kau menjadi menakutkan sekali Yaegashi, matamu seperti tidak memberikan belas kasihan, sepertinya kau ini sudah gila yah? Ada apa? Apa sekarang yang di pikiranmu yang sekarang hanya terpampang Inaba-san saja? Tidak ada rasa peduli pada Aoki atau Kiriyama-san? Otakmu itu sudah dicuci olehnya Yaegashi.. karena itu, aku akan memberikanmu kepadanya dan membuatmu menyadari semuanya"
"Ekhhhhh…" Taichi merasakan ganjalan di punggung dan merasakan suntikan, sesuatu ada yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Hem, kau jangan berlagak dulu Yaegashi-kun" Dia tau suara itu.. dia tidak akan bisa lari darinya.. semuanya.. semuanya.. kecuali Inaba…
"Fujishima….!"
"Kalian tidak akan bisa lari dariku.. aku akan menghacurkan kalian..! sampai berkeping – keping!" Jouji menggeleng – gelengkan kepalanya, air saliva mulutnya mulai menetes dari bibirnya, sial.. rasanya ingin muntah.. Inaba.. bagaimana dengan Inaba..!?
"I..naba.." Suaranya serak, dia tidak mau meninggalkannya sendiri.. Inaba sedang terluka, Taichi tidak akan membiarkannya tertinggal disini..!
"Ahhh!" Taichi mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Fujishima dan mencoba berlari ke arah Inaba, akan tetapi kakinya berasa kaku, sekali melangkah dia akan jatuh, sebelum itu terjadi, Jouji menangkapnya dan memukul perutnya.
"Tenanglah Yaegashi.." Kenapa.. ini semua bisa terjadi?
'Aku tidak mengerti..'
"Sekarang kita harus apakan mereka, Katori-kun?" Tanya Fujishima sambil mencolek pipi Inaba.
"Pertama, kita pisahkan mereka.. 3 dari mereka menginginkan mereka, bawa mereka dan bawa Inaba-san ke ruanganku, banyak yang ingin aku tanyakan padanya.." Jouji berjongkok dan mengangkat kepala Inaba dan melihat mukanya dengan sinis, dia meraba – raba mukanya sambil menyengir, Fujishima hanya melihatnya dengan tampang datar.
"Aku sudah lama ingin melihatmu lagi.. wahai.. ratuku.."
Apa yang sudah terjadi? aku tidak mengingatnya dengan jelas.. Inaba mendorongku dan tertebas sedangkan aku.. apa yang terjadi denganku? bagaimana dengan Taichi? Aoki?
"Aoki!"
"Hah!?" Aku membuka mataku lebar – lebar dan mencoba membangunkan badanku.
"Aaahh!" Suara dentuman keras meja dan aku mengenai kepalaku lagi, sa..sakit.. aku baru ingat, aku dipukul di bagian kepala dengan kayu dan tidak sadarkan diri, lalu.. sekarang ada dimana? Apa kita..
"Jangan – jangan.. kita dipisahkan?" Kedua tanganku diikat di belakang, aku tidak mengenal tempat ini? Tapi.. aku yakin mereka tidak akan membawaku jauh – jauh dari tempat tadi.. apa tujuan mereka memisahkan kami? Padahal kami tinggal selangkah lagi bisa bertemu dengan yang lain..
"Inaba.. dia tidak apa – apa kan? pasti tidak apa – apa kan?" Ini semua salahku, Inaba terluka parah.. aku khawatir padanya.
"Sudah lama aku tidak mendengar ocehanmu itu Kiriyama-san, biasanya yang bisa kau lakukan hanya berteriak dan melarikan diri kan?" Siapa? suara laki – laki.. gawat.. aku tidak mungkin bisa melewati ini.
"Kau ingat aku kan? Dan aku yakin kalian semua kesini karena ingin berjumpa dengan kami" Kami? Berjumpa? Suara laki – laki? Pa-pasti.. orang itu..
"Chihiro…" Aku senang bertemu dengannya, tapi entah kenapa.. aku takut untuk menatap mukanya.
"Aku akan bilang satu hal padamu, Kiriyama-san.." Chihiro masuk ke balik gorden dan terdengar suara kran air menyala, kran? Berarti dia sekarang sedang tidak ada di dalam kelas.. berarti sekarang aku ada di UKS?
"Siapa orang yang menyarankan kalian untuk ke sekolah?" Apa aku jawab saja?
"Kuberi waktu 5 detik, 1..2…3…"
"Inaba.." Sial.. aku langsung panik jika diancam seperti itu, Chihiro tau kelemahanku.
"Pasti.. aku tau kalau Inaba-san yang menjadi dalang semua ini.. di antara kalian berempat, yang sangat diandalkan adalah Inaba-san.. tapi dengarlah Kiriyama-san.. satu hal yang ingin aku katakan padamu.. ini menyangkut kepentinganmu juga.." Chihiro muncul dari balik gorden sambil membawa pisau di tangannya.
"Jangan percaya pada Inaba-san"
"Ini ditambah ini, lalu ini.." Ughh.. mataku terasa berat sekali, tanganku.. tanganku diikat? Tch.. kita ditangkap yah, inilah kenapa aku tidak menyetujui rencana Inaba-chan, salah satunya ini... ngomong – ngomong ini dimana? Sekolah? Di ruangan mana? Aku seperti mencium bau kurang mengenakkan... bau? Aroma? Dan kumpulan kabut ini.. apa yang terjadi?
"Dan jadilah.." Siapa yang bicara? Kepalaku masih pusing dan badanku masih terasa kaku.
"Si..apa?" Suaraku juga serak!?
"Senpai.. sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa lukamu baik – baik saja?" Senpai? Lalu postur gadis ini dan juga bentuk rambut ini, aku pernah melihatnya..
"!" Aku ingat sekarang, gadis yang menusukku dengan obat bius itu adalah..
"Kenapa kau melakukan ini Shino-chan, apa kau mengikuti perintah Katori?" Suaraku tidak keluar dengan sempurna, Shino-chan hanya melihatku dengan bingung.
"Sepertinya dosis yang kuberikan sangat tinggi, efeknya terlihat buruk sekali, apa yang salah yah?" Sudah kuduga, bau yang kucium ini adalah bau dari bahan kimia, sekarang aku ada di dalam laboratorium kimia, kenapa dia tidak terlihat terganggu dengan bau menyengat dan memusingkan kepala?
"Indra penciumanku tidak berfungsi lagi Aoki-senpai.. kau pasti baru menyadarinya, ini bayaran setimpal untuk kekuatan yang kuinginkan.. kau pasti bertanya – tanya kan?" Tidak berfungsi? Dia tidak bisa mencium apapun, lalu darimana dia bisa bernafas? Apa maksudnya?
"O-oi Shino-chan, jangan bilang padaku.. kau sudah"
"Aku ini sebenarnya sudah mati Aoki-senpai, tepat dimulainya fenomena ini" aku membulatkan mataku, apa aku tidak salah dengar?
"Hah?" Tidak.. itu tidak mungkin, dia sekarang tepat di depanku! Kecuali.. dia bernasib sama seperti Rina, dia masih tidak mau mati di dunia ini.. dia masih punya tujuan dan harapan, tapi apa yang dia inginkan?
"Membunuh orang yang sudah membunuhku, aku harus membalasnya karena sudah membuat keadaanku seperti ini!" Di depanku saat inibukanlah Shino-chan yang kukenal, dia.. dia.. di bayanganku sekarang.. dia sangat menakutkan, bagaikan.. zombie yang sudah bernafsu untuk melahapku..!
"Lepaskan aku! Sial! Inaba..!" Mereka merantai tangan dan kakiku! Sekarang aku dimana!? Dimana yang lain!? Dimana Inaba, Aoki, dan Kiriyama!? SIAL!
"AKHHHH! KELUARKAN AKU!"
BRAKK BRAKK BRAAAKKK
"Mereka juga disini!?" Mereka menjadikan umpan makanan untuk zombie – zombie itu!
"Jika aku bertemu dengan dia dan juga Fujishima itu, aku tidak akan segan – segan untuk membunuh mereka.."
"Aku baru ingat.. Inaba terluka! Aku benar – benar harus keluar dari tempat ini, aku harus segera membuka segel rantai ini, sial! tidak mungkin aku harus berdiam di dalam sini selamanya!"
"Taichi.." Aku mendengar suara, aku sama sekali tidak menyadari keberadaannya, apa.. dia yang bertugas mengawasiku, tch..
"Kau sudah berubah yah Taichi.." Aku hanya melihat kakinya yang melangkah maju ke arahku, tanpa melihat mukanya, aku sudah bisa mengetahui siapa suara wanita yang berada di hadapanku ini.
"Syukurlah kau baik – baik saja.. Nagase" Suara polosnya, wajahnya yang bersinar menatap ke dalam bola mataku, dia terlihat sangat bahagia bisa bertemu denganku saat ini.
"Aku tidak menyangka kau benar – benar menetap disini, Nagase"
"Ketika semua orang berubah menjadi zombie, aku tidak bisa kemana – mana selain di dalam ruang klub.."
"Souka.. bagaimana dengan Nakayama, Kurihara dan juga Watase.. mereka masih hidup kan?" Bodoh.. kenapa aku membawa – bawa masalah itu ke dalam suasana sekarang?
"Mereka.. aku tidak tau" Selama ini, dia selalu disini.. berarti aku sedang berada di dalam ruang klub CRC, aku sama sekali tidak menyadarinya, bagaikan aku sudah lama tidak ke dalam ruangan ini dalam waktu yang lama.
"Selain itu Taichi.."
"Kau pasti bersama dengan Inaban dan yang lain kan?"
"Souka Inaba!" Akhh.. aku benar – benar lupa soal rantai ini.. kenapa mereka menaruhku di dalam ruang klub? Apa mereka punya tujuan tertentu? Aku harus memikirkan cara untuk melepaskan diri dari rantai ini dan menemukan Inaba.
"Nagase! Aku harus segera menyelamatkan Inaba! Dia sedang terluka dan perlu diberi pertolongan pertama! Kumohon bantu aku melepaskan ini!" Seketika muka Nagase berubah menjadi suram, ada apa? Apa tujuan tertentu itu adalah ini..?
"Eggh! Nagase?" Tiba – tiba Nagase mendekapku dengan erat sekali, dia melingkari tangannya di leherku dan mendekatkan pipinya menempel di telingaku, dia seperti tidak mau melepaskanku.
"Jika aku tidak berdiam diri dan segera menolong Yui, menolong semuanya.. semua hal ini tidak akan terjadi.." Kenapa dia berbicara seperti itu? menolong semuanya...
"Aku hanya bisa diam.. seperti sikap dinginku.. aku tidak punya cara apapun untuk menyelamatkan kalian, aku hanya bisa diam disini menunggu kalian datang.. aku ini ketua yang tidak berguna, bahkan aku membiarkannya bertindak sejauh ini demi kalian.." Dia? Siapa yang dia maksud?
"Tenang saja.. akan kupastikan, aku akan menyelamatkan semuanya" Entah kenapa, kalimat yang kulontarkan itu.. aku ingin menenangkannya, dengan kalimat Selfless Freak-ku.
"Dan sekarang aku akan menyelamatkan Inaba, sekarang dia sedang terluka parah, aku ingin kita berdua.. hei, Nagase.. apa kau yang meminta mereka untuk membawaku kesini? Jika tidak.. tidak mungkin aku akan dipisahkan dari Kiriyama dan Aoki bahkan Inaba pula.. apa beberapa dari kalian mempunyai keinginan pribadi dari kami..?" Nagase tersentak.. sudah kuduga, semua perkiraanku benar.
"Apa yang membuat kalian, tidak aku bertanya secara pribadi ke kau Nagase.. apa yang kau inginkan dariku?" Seketika aura menjadi dingin, aku hanya bisa mendengar suara zombie dari balik pintu, mereka tidak akan menerobos masuk kan?
"Aku hanya ingin bertemu denganmu.."
"Itu tidak benar, aku yakin kau ada maksud tertentu dariku.. dan kau pasti bekerja sama dengan Katori.. dia berusaha memisahkan kami dengan kekerasan, bahkan Kiriyama dibuat pingsan oleh mereka dan Aoki dibius oleh seseorang dan yang lebih parah lagi Inaba ditebas oleh serpihan kaca, aku tidak bisa tinggal diam seperti ini..! aku ingin menyelamatkan mereka!"
"Jangan bilang kalau kau menceritakan semuanya tentang Heartseed kepada mereka!? Kalau benar, mereka pasti akan mencari segala cara untuk menghentikan fenomena ini!"
"Bukan!"
"Kalau bukan lalu apa?"
"Kau tidak tau… kalau ada iblis yang berusaha menusuk kalian dari belakang"
"Jangan katakan kalau Inaba iblisnya" Nagase membulatkan matanya, sudah kuduga.
"Aku tidak peduli bagaimana kalian memandang Inaba, tapi aku akan terus mempercayainya"
"Kalau begitu kau pasti akan berhenti mempercayainya jika mendengar ceritaku" Kenapa mereka semua tidak mempercayai Inaba, bahkan Aoki pun tidak percaya.. yang masih bisa mendukungnya dari belakang hanya aku dan Kiriyama.. Inaba sudah berbuat banyak hal, dia sudah merasakan penderitaan lebih banyak dariku.
"Aku akan menceritakan semua rahasia yang dia tutupi selama ini" Rahasia yang selama ini.. Nagase mengetahuinya!? Aku.. aku.. Inaba selalu menutup – nutupinya, apa dia takut kalau aku akan membencinya? Tidak.. aku tidak mau..
"Aku tidak mau mendengarnya.. kalau kau berusaha untuk membuatku membenci Inaba, aku tidak perlu mendengarnya! Aku tidak akan mengkhianatinya sejengkal jari pun"
"Kenapa kau sangat percaya dengannya? Bahkan, dalam seumur hidupku.. aku baru kali ini sangat, sangat! Membenci seseorang sampai aku ingin sekali membunuhnya!" Nafasnya terdengar tersengal – sengal.. ini bukan Nagase Iori yang kukenal.
"Memang benar.. sepanjang Fenomena ini berlangsung, pasti banyak sifat dan karakter seseorang yang berubah drastis, aku bisa melihatnya langsung ke dalam dirimu Nagase"
"Dulu kau menganggap Inaba sebagai teman yang bisa mengetahui dan menerima segala kekuranganmu, lalu sekarang.. kau berusaha untuk membunuhnya..? aku tidak percaya, walaupun dia banyak sekali kekurangan, kau tidak mungkin mempunyai hasrat untuk membunuhnya"
"Karena aku tidak sanggup untuk hidup seperti ini! Aku ingin segera mengakhiri ini semua!" Itulah jawaban semua orang yang tidak bisa terus bertahan hidup seperti ini. Nagase terus menangis di pojokan ruangan, jadi.. dia yang meminta Katori untuk membawaku kesini, sial.. aku tidak bisa membuka kuncinya.
"Zombie – zombie itu, apa mereka tidak lelah terus mendorong pintu itu, kalau mereka masuk habislah riwayatku.. aku harus segera melepaskan diri" Aku benar – benar sangat khawatir dengan Inaba..seharusnya Nagase pasti memegang kunci rantai ini.. tapi dia terlalu jauh.. aku harus bagaimana..? Inaba, sampai aku datang menolongmu, tolong bertahanlah..
"Akhh…hhhkkk…ahh…ahhh" Kepalaku terasa berat.. tanganku seperti diikat ke atas, pandanganku samar – samar, punggungku terasa nyeri sekali.. apa aku terluka? Yui.. oh ya, sepertinya aku terluka karena menolong Yui dan akhirnya aku terkena imbasnya..
"Hhh…Yui…" Aku bisa merasakan darahku yang terus mengalir dari punggungku, anehnya.. aku ini tidak mati.
"Sang ratu sudah bangun"
"Dengarkan aku.. kau pasti sudah tau kenapa aku mengikatmu seperti ini, terkesan seperti perbudakan yah? Aku tidak akan menolak pernyataan itu, memang sebentar lagi kau akan mendapatkan perlakuan seperti itu" Maksudnya aku akan terus disiksa? Sampai aku apa? Mati?
"Aku ingin memastikan sesuatu darimu, apa kabar angin itu benar atau tidak.." Katori mendekati mulutnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu.
"Hah!?"
"Kau mengerti kan? Jadi.. mohon kerja samanya"
"Sial..! Kau tidak akan mendapatkan apa – apa dariku! Siapa yang memberikan informasi seperti itu padamu!?"
"Nagase"
"Hah!? Iori…?" Dia memberitahu semuanya dan dia melampiaskan kebohongannya padaku, dan dari segala orang.. dia memberi tahu Katori, aku tidak percaya.. aku dikhianati oleh teman terdekatku, kenapa.. semua ini bisa terjadi? kenapa.. kenapa.. Iori? Aku yakin, aku bisa mempercayai semuanya padamu, kenapa?
"Dia sepertinya shock sekali.. kau ambil peralatanku Fujishima.. selagi dia masih meratapi penyesalannya, mungkin rasa sakitnya bisa bertambah, hem.."
"Baik.." Tidak mungkin.. Iori.. jadi ini rasanya, dikhianati oleh teman terdekatku, aku sudah mempercayakan semua yang disini padamu, tapi.. kau melalaikannya.. apa ada sesuatu yang membuat dia menjadi luluh?
Rasa sakit seakan menghilang termakan bayangan Iori yang terus mengiang isi kepalaku, kau mengkhianatiku Iori.. kau sudah berusaha memberikan segala cara untuk membuatku bisa menerima ini semua, tapi kau menusukku dari belakang, apa karena aku meninggalkanmu? Itu tidak mungkin..
"Aku sudah membawanya, ini yang kau inginkan Katori-kun?" Fujishima? Dia masih hidup dan sekarang dia bersekongkol dengannya, sudah kuduga..
"Lalu apa yang ingin kau lakukan dengan itu? Fujishima, apa karena kau sudah tidak ada tujuan hidup, kau akhirnya bersama si pria tengik ini?"
"Perkataanmu kejam sekali, Inaba-san.. kita berdua memang tidak ditakdirkan untuk bisa saling memahami.. tapi, kau ini juga tidak ditakdirkan untuk bisa mempercayai seseorang, termasuk temanmu sendiri Nagase"
"Diam!" Itu tidak benar, itu tidak benar, semua ini tidak benar, Iori pasti punya alasannya sendiri!
"Wah haha berat juga, sepertinya ini akan terasa sakit sekali, hei ratu" Apa dia berniat untuk memukuli sampai mati? Dia benar – benar keras kepala sekali!
"Sejak awal aku ini sudah tidak mengerti denganmu, kau sampai percaya dengan rumor angin, dan sampai memanggilku dengan sebutan ratu.. aku ini tidak jauh berbeda dengan perempuan lain"
"Jadi kau ingin bilang kalau perkataan Nagase itu tidak benar?" Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
"Haaaakhhh!"
"Ukhhh!" Aku benar – benar bodoh, aku salah bicara.. orang ini tidak mau kalau siapapun membicarakan hal jelek mengenai Iori, dan sekarang dia malah kebablasan memukulku, sakit sekali, kepalaku rasanya bisa retak kapan saja dia memukulku.
"Hah… hah…cara untuk membuktikannya hanya dengan ini, itu benar kan Inaba-san!? Hah.. jika kau jujur saja, kau tidak akan merasakan ini, bisa saja aku akan melepaskanmu" Jangan percaya Inaba, dia hanya ingin mencoba untuk mengelabuiku, aku bisa mengetahuinya..
"Kau tidak percaya denganku? baiklah, kalau begitu aku akan terus melakukannya! Aahhh!" Berpikir! Berpikir! Berpikir Inaba! Bagaimana cara.. untuk bisa melepaskan diri darinya!? Melepaskan diri dari ikatan tali ini, pandanganku semakin lama menjadi tertutup dengan semua darah yang mengalir ini, ahh.. aku tidak bisa berpikir apa – apa lagi, apa aku akan mati? Apa lebih baik aku tutup saja kedua mataku? apa semua akan baik – baik saja kalau aku mati? Yui, Aoki, dan Taichi.. Taichi, pasti dia sedang berada di tempat Iori.. aku harus menyelamatkannya, di tempat Iori? Jika pemikiranku ini benar, pasti mereka berdua ada di ruang klub.. aku ingin bertemu dengan Iori, aku ingin bertemu dengannya, aku juga ingin bertemu dengan Chihiro dan Shino.. aku tidak ingin mati, aku tidak ingin mati!
"Abadi atau abnormal?"
"Sial! kalau wanita ini berteriak, pasti kita yang sudah mati! Hei kau ambil pisau yang jatuh tadi, aku akan membuatnya diam!"Ada 2 orang! Dan postur tubuh mereka sudah jelas kalau mereka pria yang sudah berumur, dia tidak akan kuat menahan kekuatan seperti ini, tadi mereka bilang pisau.. apa yang ingin dia lakukan!?
"Hehehe aku akan membuatmu diam! Haaaahh!" sial!
Croottt
"Akhhh…ahhhh…hhhh…hhhhh….hhhhhhh…"
"Ayo kita pergi" Tu-tunggu.. mereka menuju ke arah kamar Yui, takkan kubiarkan! Tidak ada yang akan mati, aku pasti akan menyelamatkan semuanya, mereka tidak akan mati!
"Hh..!" Aku tidak berdaya, suaraku bahkan tidak bisa keluar lagi, sudah.. aku tidak bisa, siapa saja..! Taichi, Aoki, siapapun! Selamatkan Yui! aku.. tidak mau mati!
"Abadi atau abnormal?:
Lagi, pertanyaan aneh itu lagi, apa kepalaku ini memang sudah rusak?aku sampai melihat bayangan diriku sendiri, berdiri dengan tampang pucatnya, dengan memegang pisau di tangannya. Aku wanita yang penuh dengan dosa, aku akan mati dengan cara seperti ini? Tidak mau..
"Hhhh….." Jika aku mati, setidaknya aku ingin mati di atas pangkuannya.
"Kau tidak perlu menutupinya, aku mengizinkanmu"
"Keluarkan semuanya"
Gelap, gelap sekali.. aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, bahkan aku tidak tau, aku sedang membuka mataku atau tidak, aku ingin mengoreksi kembali, sebenarnya apa tujuanku? Apa aku sudah menyelesaikannya? Dan lalu.. kenapa harus aku?
"Abadi atau abnormal?"
Aku sudah sering mendengarnya! Aku sudah mati sekali dan itu sama sekali tidak menyenangkan! Heartseed, jika kau bersikeras memberikanku pilihan, jika kau ingin menikmati sebuah pemandangan yang menarik.. kau tidak akan membiarkanku mati, karena itu sudah terlihat jelas jawabanku, berikan padaku kesempatan untuk hidup sekali lagi! Heartseed!
"Hah!?" Jadi selama ini aku tertidur?dan bertelepati dengan Heartseed?
"Benar – benar bodoh" Suaraku sudah kembali dan leherku terdapat bekas darah, jadi ini bukan mimpi.. kalau begitu, ini sama saja bagaikan aku ini pion Heartseed, aku dibangkitkan hidup kembali, aku sudah tidak akan bisa menjadi manusia biasa lagi.
"Kkhhhh… sial…."Aku melupakan semuanya, ingatan masa lalu terlihat samar, apa aku melakukan sesuatu di masa lalu? Dan kenapa aku yang dipilih? Bukankah bisa memilih Taichi atau siapa saja?
"Hei kau cepatlah!" Suara kedua brengsek itu, aku harus segera menyelamatkan Yui.
"Hmm?" Ada yang mengganjal di kakiku..
"Hah!?" Bohong, bohong, bohong… siapa? siapa? siapa? kepalaku terasa pusing, bayangan.. ada bayangan yang menyelimuti pandanganku, membuatku kepala terasa berputar – putar.. sial..
"Hoekk!" Kenapa aku muntah? Tidak mau berhenti! Apa ini? Apa ini? Apa ini!?
"MATI!"
"Seseorang memintaku untuk mati.. mati.. mati.. siapa? siapa? siapa? sebenarnya apa yang sudah kulupakan!?" Inikah yang membuatmu tertarik? Kau memanipulasi ingatanku! Bahkan aku melupakan hal – hal sebelum fenomena ini dimulai, apa yang kulakukan? Apa yang aku pelajari? Aku melupakan semuanya, aku tidak ingat apapun! Salah satu yang bisa kuingat, satukan semuanya bersama.
"Hei apa kau mendengar suara?"
"Mungkin cuma imajinasimu"
"Yui.."Masih ada yang harus aku lakukan, aku akan menyelamatkan Yui.
"tidak ada gunanya memikirkan hal yang hanya bisa dijawab olehnya" Aku hanya perlu melenyapkan segala ancaman di depanku.
"Dia tidak bernafas Katori-kun, denyut nadinya juga sudah tidak ada"
"Tch.. seharusnya aku tidak memukulnya dengan keras.. ini tidak sesuai dengan perkataan Nagase" aku kembali merasakan permukaan lantai, indraku sudah kembali normal, nafasku lebih stabil.. kalau begitu, aku benar – benar sudah dihidupkan kembali.
"Lalu apa yang harus aku lakukan padanya?"
"Taichi tidak akan segan untuk membunuhku jika melihat Inaba dalam keadaan seperti ini, mungkin.. menyingkirkannya lebih baik sehingga tidak ada yang tau siapa yang melakukan perbuatan ini" Menyingkirkanku? Dia berusaha untuk menutupi kesalahannya, aku tidak akan menyalahkannya.. dia berusaha untuk mengembalikan keadaan menjadi semula, dan informasi yang dia ketahui hanya bahwa aku sosok dalang dari kejadian mengerikan ini, dan itu semua berasal dari Iori, wanita idamannya..
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, maafkan aku Inaba-san.. deminya aku rela melakukan semuanya" Deminya? Apa yang dia gumamkan? Dan dia tidak menyadari bahwa aku sudah bernafas sejak mereka mulai berbicara.
"Jika semua yang dikatakan Nagase-san benar adanya, pasti sekarang aku dan dia sudah bersama kembali, dan ternyata tidak sepenuhnya benar" Kenapa? Kenapa? Kenapa dari banyak orang harus kau yang memberitahu semua ini? Kau tidak kuat? kau tidak mampu menghadapi semua ini dan ingin mengakhiri segalanya? Memang benar, aku sudah dihidupkan olehnya tapi itu bukan berarti..
"Aku.. tidak ingin pisah dengan oni-chan.. aku masih ingin bersama kau! Aku.. aku tidak mau mati! Tidak mau!"
Aku minta maaf, aku minta maaf.. tetap saja aku ini bukan orang baik di depanmu Rina, aku membiarkanmu mati sedangkan aku.. diberikan kesempatan hidup, bukan melainkan diberikan kehidupan baru darinya, ini tidak adil.
'Kalau dipikir, aku ini lebih parah dari Iori, buat apa aku dilahirkan ke dunia ini? Jika aku harus menanggung beban berat seperti ini' Aku hanya membawa kematian, semuanya mati, mati.. mati?
"Kau.. monster! Lebih baik kau mati saja!"
Ingatan apalagi itu? Sampai kapan ingatanku harus terus berantakan!? Aku ingin ingatanku kembali! Walaupun ingatan itu hanya berisi kebencian dan ketakutan, aku hanya ingin ingatanku kembali!
"Kau yakin ingin seperti ini"?
Apakah aku ini pembawa bencana? Apakah aku ini mirip sekali dengan Heartseed? Hanya aku.. yang bisa berkomunikasi dengannya.. bukankah ini sama saja..
"Kau pasti sudah memanipulasi otak kami dengan kekuatanmu!"
"Kau mengatakannya! Kami ini bukan budakmu!"
"Bagaikan pengganti Heartseed"
"Aku merasa kasihan padamu, Inaba-san.. tapi kau memang layak mendapatkan ini"
"HAH!?"
"Kenapa?"
"Matanya terbuka... dia kembali hidup"
"Sudah kuduga, perkataan Nagase selalu benar.. Inaba itu memang abadi.." Berisik.. berisik..
"Dan juga, berita itu memang benar.. kau tau apa yang kumaksud kan Inaba?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan Katori, saat ini aku ingin kau melepaskanku!" Katori menatapnya dengan tajam, apa yang sedang dia pikirkan?
"Lepaskan dia Fujishima"
"Tapi Katori-kun-"
"Aku sudah mengetahui semuanya, dan Inaba juga tidak akan bicara sampai kita melepaskannya" Dilepaskannya ikatan tali di tangannya, selanjutnya kakinya. Setelah bebas dari jeratan tali, Inaba langsung jatuh terkapar.
'Aku tidak bisa menggerakkan badanku, kenapa!?'
"Aku yakin dengan pulihnya nyawamu, jadi aku sudah menyuntikkan pelumpuh, badanmu tidak akan bisa bergerak untuk beberapa saat"
"Sialan kau..!" Fujishima mengangkatnya dan memikulnya ke sofa dan menidurinya.
"Fujishima.. kau tau yang sedang terjadi saat ini kan?"
"Semua ini salahmu, itu saja yang ingin kukatakan"
"Salahku? Sepertinya kalian semua sudah salah sangka, memang yang kalian lihat itu memang nyata, tapi bukan aku yang memulai bencana ini"
"Apa kami bisa mempercayai semua perkataanmu? Itu tidak akan bisa, Nagase-san sudah memberitahu semuanya " Iori lagi..
"Dengarkan aku bodoh.. aku tau kau mempunyai obsesi terhadap Iori, tapi kau tidak tau apapun! Kau tidak merasakannya, mengalaminya! Kau hanya segelintir orang yang beruntung diberikan kehidupan di tempat rongsokan ini, jika kau tidak mengenal kami, kau pasti sudah menjadi mayat berjalan di luar sana!"
"Hentikan ocehanmu, aku tidak butuh informasi seperti itu"
"Kau hanya ingin melarikan diri saja kan?"
"Diam.."
"Kau tau apa memang?"
"Kalau begitu, jika kutunjukkan ini pasti kau akan berpikir sebaliknya kan?" Dia mengambil beberapa kertas di atas meja dan merapikannya lalu membawanya dan memperlihatkannya padaku.
"Ada apa dengan koran lama itu?"
"Nagase memberitahuku jika kau terlibat dengan kasus yang tercantum disini, pembunuhan berantai orang – orang secara random.. kau tau apa yang kumaksud disini? Dan tidak diketahui sebabnya para polisi bahkan tidak bisa mencari jejak dari senjata yang digunakan untuk membunuh korban, lalu kasus hanya bisa dibiarkan karena tidak ada yang bisa memecahkannya.. dan terus berlanjut sampai dimulainya bencana ini" Tidak mungkin Iori.. kau...
"Nagase memberitahu semuanya! Semua yang kau beritahu padanya! Kau tidak mungkin bisa lari dariku lagi, Inaba Himeko!"
"Tch.."
"Kau tidak tau siapa yang telah kau bunuh karena kau bahkan tidak mengenal nama atau pun wajahnya, lalu bagaimana.. jika salah satu korbanmu merupakan orang yang sangat dekat dengan orang yang kau kenal!?" Aku tidak begitu mengerti maksud dari berbelit kalimat yang dia lontarkan tapi aku tau dari kalimat terakhirnya, jangan – jangan..
"Kau membunuh seluruh anggota keluargaku! Inaba Himeko!"
'Aku bahkan tidak mengenalnya'
'Dari awal aku sudah membawa bencana, aku sudah..'
'Apa ini yang ingin kau buktikan padaku, Iori?'
"Kau sudah membunuh orang – orang terdekatmu, karena itu akan banyak yang akan memburumu, seperti layaknya diriku ini!" Aku mengingatnya, ini salah satu keinginan darinya.
"Jika kau ingin menghilangkannya, kau harus rela mengorbankan semuanya"
"Dan apa kau sanggup merasakannya?"
"Akan ada banyak kesedihan yang menimpa dirimu suatu saat dan apa kau yakin ingin mendapatkan ini? Kau rela melakukannya demi dirinya?"
"Sial!" Aku sudah menetralisir pelumpuhnya dan menendang pipi Katori hingga badannya terlempar ke samping, dan langsung pingsan.. sepertinya dia membentur sesuatu.
"Ukhh…" Aku masih merasa pusing.
"Kau ingin kemana Inaba-san? Perintah tidak membiarkanmu untuk pergi darisini"
"Apa aku juga melakukan sesuatu padamu Fujishima?"
"Itu benar.. contohnya ayahku!" Aku menghindar dari pukulan kayunya, ayahnya? Kalau tidak salah ayahnya itu polisi..
"Kalau begitu itu bukan salahku, polisi memang didasarkan untuk dirubah menjadi zombie demi menyeimbangkan dunia ini, karena itu bukan aku yang harus kau salahkan" Fujishima tetap diam, aku ingin dia mencerna setiap kalimat yang kuucapkan, kau bukan tipe orang seperti ini Fujishima.
"…."
"….Nagase"
"Khhh…." Sepertinya aku pingsan lagi.. talinya masih belum dilepas.
"Inaba-san yang memulai semuanya, dunia ini, fenomena ini, dialah yang memulai semuanya, bahkan zombie – zombie tersebut dia yang melakukannya"
"Hentikan salahkan Inaba atas semua ini, Chihiro"
"Tapi memang itu kebenarannya"
"Bahkan pemerkosaanmu itu sudah diatur olehnya, traumamu.." Tidak, semua itu salahku.. jika aku tetap diam di rumah dan tidak keluar hal itu tidak akan terjadi.. itu bukan salah Inaba.
"Dan karenanya lah.."
"Traumamu itu tidak akan sembuh untuk selamanya.."
"Aku sudah melewati masa – masa itu, aku tidak tau takut pada siapa pun.." Chihiro mendekatiku, mendekatiku dan menjepit jarinya di kedua pipiku, ekspresinya terlihat kesal sekali.
"Apa itu benar? Kau mungkin akan ketakutan jika aku melakukan ini kan?" Apa yang?
"Hah!? Henti.. hentikan" Chihiro membuka bajunya sampai telanjang dada, kenapa? Aku yakin Chihiro bukan pria seperti itu, tapi, kenapa!?
"Kau pasti bisa membungkamku jika kau tidak ketakutan.. akan kubuktikan semuanya padamu Kiriyama-san"
"Hentikan.. akhh!" Aku tidak bisa berdiri, dan tanganku juga diikat.. aku tidak mau.. tidak dengannya!
"Kiriyama-san!" Dia mencengkram kedua bahuku, apa yang bisa kulakukan!? Chihiro pemain karate, aku tidak bisa melawannya jika aku diikat kencang seperti ini.
'Oo-ohh~~ kau ingin melakukannya lagi!? kau ini memang perempuan murahan yah! Hahahhaha!' Suaranya datang lagi, dia membuatku mengingatnya lagi, tidak.. aku tidak takut… tidak takut… Aoki… selamatkan aku…
"Mmmmhhhhhmm…" Tidak.. kau tidak mungkin melakukan ini Chihiro, aku sudah lama mengenalmu, kumohon.. aku tau kau pria yang baik. Dia menciumku dengan paksa, lidahnya tidak bisa kulawan, dia terus menjelajahi isi mulutku.
"Mmmhhhhh!" Tanpa sadar tubuhku sudah diraba olehnya, aku takut.. aku takut… kenapa hal ini selalu terjadi olehku? Kenapa? Kenapa!?
"Aku yakin kau sedang meminta tolong dari lubuk hatimu, tapi tidak akan ada yang menolongmu saat ini, mereka semua sedang disiksa secara mental sama seperti dirimu saat ini.." Siksa mental? Seperti aku?
"Aku ingin menolong mereka.. seperti mereka yang selalu menolongku!"
"Kau ingin menolongnya!? Dengan keadaan seperti itu!? HAHAHA"
"KHH!" Dia mendorong bahuku lagi, apa yang ingin dia lakukan?
"Hentikan, kumohon.." Sudah cukup aku disetubuhi dengan cara seperti ini, tidak..
"Akan kuberitahu bagaimana rasanya jika ingin menolong seseorang!"
"Lepaskan dia… UWA CHIHIRO!"
"Tidak mungkin..!" Dia menyikut pipinya hingga berdarah, tidak berhenti, dia terus memukulnya, memukulnya hingga Chihiro tidak bergeming dari tempatnya dan langsung ditinju mukanya hingga Chihiro terpental dan membentur kepalanya dengan wastafel.
"Seharusnya… kau bersama Enjouji… ahh" Chihiro langsung kehilangan kesadaran.
"Hah..hah..hah...hah..hah..hah" Aku yakin dia pasti datang, aku tidak bisa menghentikan air mataku. Dia menolehkan kepalanya menatap mukaku kemudian dia langsung tersenyum lega.
"Maafkan aku karena tidak berhasil menyelamatkanmu tepat pada waktunya" Tapi kau menyelamatkanku, tidak seperti waktu itu.. aku.. aku…
"Terima kasih..hik..hik… Aoki!" Dia menempelkan dahiku dengan dahinya dan dia berbisik padaku.
"Apapun yang terjadi aku pasti akan menyelamatkanmu"
"Tadi itu.. suara teriakan?" Tapi bukan berasal dari gedung ini, suaranya keras sekali sampai aku bisa mendengarnya.
"Lepaskan aku Nagase" Dia terus memelukku sejak sehabis menangis, sebenarnya apa yang terjadi dengannya selama ini? Apa dia stress karena harus merasakan ketakutan yang terus mengelilinginya seperti yang saat ini terjadi?
"Kumohon lupakanlah semua ini, kembali padaku.. kembali ke sisiku.." Dia terus bergumam seperti itu, tapi saat ini yang harus kumanfaatkan, aku harus mendapatkan kunci borgol ini, dan Nagase pasti memegangnya.
"Aku tidak memegangnya.."
"Hah!?"
"Aku tidak memegang kunci apapun.. aku ingin kau tetap disini bersamaku"
"Jangan bercanda! Aku harus pergi darisini, Inaba sedang-" Dia mencengkram pelukannya, sial aku tidak bisa bernafas dengan baik!
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya, karena dia itu monster"
"Dia bukan monster! Dia pacarku!"
"Lepaskan aku!" Aku tidak kuat dan membenturkan dahiku dengannya saking kerasnya, aku langsung merasa pusing.
"Uuuu…uuuu" Darah.. aku terlalu keras membenturnya, tapi ini salah satunya cara.
"Jika tidak ada kunci.." Aku bergegas ke arah pintu, sambil mendengar rauman para zombie yang mendorong pintu, apa ini semua juga rencana Nagase?
"Hentikan! Kau tidak akan bisa keluar ke rumunan zombie, aku sudah menaruh sesuatu yang disukai oleh mereka di luar sana dan mereka tidak akan pernah pergi dari sana" Sesuatu yang disukai oleh mereka? Apa jangan – jangan kau.. Nagase!?
"Apa yang kau lakukan!? siapa yang kau taruh di depan sana!? Hei! Jawab aku! Tidak mungkin.. ini tidak mungkin.." Katori bersama dengan Fujishima, kemungkinan Chihiro juga bersama Enjouji, lalu bagaimana dengan Nagase? Tidak mungkin dia melewati hari – hari selama ini sendirian! Pasti ada yang bersama dengannya sampai saat ini!
"Nagase kumohon jawab aku!"
BRAKK CRATT DUGG
"Siapa?" Sabitan pedang!? Jangan – jangan..!
Cklik cklik
"Taichi..?" Inaba.. dia baik – baik saja!
"Kau baik – baik saja!? Bukannya kau sudah ditebas oleh brengsek itu!?"
"Itu tidak penting.. apa Iori ada di dalam?" Dia langsung menanya Nagase. Nagase… dia.. terlihat ketakutan sekali, ketakutannya melebihi diriku, apa yang dia takutkan?
"Iya dia ada di dalam, pintunya terkunci dan Nagase tidak mempunyai kuncinya dan tanganku diborgol"
"Souka.. tenang saja, aku sudah membawa semua kunci dari Katori, dan aku yakin salah satunya ada untuk pintu dan untuk borgolmu"
"Dan di depanku sekarang, terdapat mayat perempuan yang sudah menjadi bangkai, kelihatannya sudah berhari – hari dia disimpan dan ini bekas gigitan zombie" Mayat perempuan!? Nagase belum menjawabnya, aku kembali menatapnya dengan pucat.
"Bagaimana ciri – cirinya Inaba?"
"Ciri – cirinya... kepang dua" Aku membulatkan kedua mataku dengan tidak percaya.
"Jawab aku Nagase.. kau yang sudah melakukannya? Apa yang kau.. apa yang sudah kau lakukan pada Nakayama Mariko!?" Pintu terbuka dan Nagase langsung melesat melewatiku dan menghunuskan pedangnya ke arah Inaba.
Crang!
"Ini ucapan selamat datang darimu?" Inaba melempar sesuatu padaku.
"Kunci" Aku langsung mencari kunci yang tepat untuk membuka borgolnya.
"Inaba, lukamu?"
"Sudah kubilang itu tidak penting, Taichi.. bisa kau kunci lagi pintunya.. bisa – bisa zombie di luar tertarik dengan suara disini"
"Tunggu, suara!? Apa yang ingin kalian lakukan!? aku tidak mengerti"
"Lakukan saja!" Aku melakukan sesuai dengan yang disuruhnya, aku menguncinya lalu apa?
"Kumohon diam dan dengarkan semua yang kukatakan, Iori.."
"Tidak ada yang ingin kudengar darimu, monster!"
"Hah?" Sudah kuduga, Inaba juga tidak mengerti dengan perkataannya, lebih baik aku tarik Nagase saja dari Inaba.
"Kau sudah membunuh seseorang yang sangat dekat denganku, aku tidak bisa melihatnya lagi, tertawa dengannya lagi, bahkan aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya..!"
"Siapa yang-"
"Ibuku!" Aku tidak sabar lagi dan langsung menarik Nagase dari Inaba.
"Ekhhh! Lepaskan, lepaskan!" Bahaya, bahaya! Dia mengayunkan pedangnya tanpa pikir!
"Hyaaa!" Inaba langsung menangkis pedangnya dan terlempar ke sembarang tempat, Nagase langsung diam di tempat.
"Iori, aku-"
"Tidak ada yang ingin aku dengar darimu monster!"
"Setidaknya dengarkan aku bicara bodoh!"
"Aku sudah menceritakan semuanya kan!? lalu, kenapa? Aku sudah mempercayaimu, tapi kau membocorkan semuanya!"
"Itu balasan untukmu!" Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan? Tapi, aku tau Inaba di hadapanku sekarang ini terlihat hatinya hancur berkeping-keping. Dan maksud dari perkataan Nagase barusan, apa maksudnya Inaba sudah membunuh ibunya? Terlihat jelas sekali Inaba juga bingung dengan perkataannya.
"….Taichi"
"A-apa?" Badannya bergetar, ada apa Inaba?
"Aku…aku….." Apa yang ingin kau katakan? Kenapa kau terlihat ketakutan sekali terhadapku? apa ada sesuatu rahasia yang tidak ingin aku ketahui darimu?
"Inaba…..akhkhhhhhh!" Sial dia menggigit tanganku!
"Taichi!"
"Hentikan Nagase! Nagase!" Sialan, tidak mau berhenti! Gigitannya membuat kulit tanganku melupas, hentikan!
"Lepaskan dia Taichi!" Lalu apa!? Dia bisa menyerangmu lagi!
"Khhh!" "Gawat!" Dia melepaskan diri dariku! Inaba..!
"Akhh! Iori..!?" Iori mengangkat tangan kanannya lalu mengepalnya dan.. henti-
BUAGH BUAGH BUAGH
"HENTIKAN! Jika kalian hanya bertengkar tanpa aku mengetahui apa sebabnya, aku tidak akan mengerti dengan kalian!" Nagase menghentikan pukulannya lalu menatapku.
"Kau ingin mengetahuinya, Taichi?" Hentikan tatapan datarmu, tangannya… penuh dengan darah!?
"Inaba!"
"Kau sangat ingin mengetahuinya!? Aku akan memperlihatkannya padamu!" Nagase melingkarkan telapak tangannya di leher Inaba dan mencekiknya, hentikan!
"Hentikan! Jika kau melakukan itu, aku tidak akan memaafkanmu!"
"Kau dengar katanya Iori, lepaskan aku bodoh…" Nagase semakin memperkencang jeratan tangannya, Inaba semakin terlihat kesakitan, apa yang kau tunggu bodoh!? Aku harus segera menyelamatkannya!
"Untuk apa aku melakukannya!? Lagipula dari awal kau itu tidak akan pernah mati!" Aku membulatkan mataku begitu pula dengan Inaba.. hah? Tidak pernah mati? Kenapa? Apa maksudnya?
"Kau dengar tentang kasus pembunuhan berantai secara acak kan?"
"Ah iya aku menontonnya di televisi! Baru pertama kali ini polisi Jepang tidak bisa melacak pelaku tersebut, padahal aku pikir itu hal yang gampang.."Selalu saja yang dibicarakan anak-anak tentang itu, apa tidak ada topik lain?
"Pernah ada seseorang yang melihat sekilas orang yang melintas di depan korban"
"Benarkah!? Bagaimana ciri-cirinya!"
"Yang kubaca sih badannya kurus dan posturnya kalau perumpaannya hampir seperti gadis"
"Yang benar? Seorang gadis menjadi pelaku pembunuhan berantai!? Pasti orang itu sedang mabuk!" Itu benar.. tidak mungkin ada orang yang bisa menghapus jejak beberapa menit sebelum polisi datang ke kejadian perkara, itu tidak mungkin, apalagi dilakukan oleh seorang gadis?
"Taichi, kau melamun"
"Hah!?"
"I-Inaba yah? Jangan mengagetkanku dong" Dia langsung tertawa dengan lepasnya, dengan melihatnya aku sampai melupakan topik yang sedang dibicarakan kedua orang tersebut, tapi ada kalanya..
"Mereka.. meninggal..?" 2 orang yang aku lihat kemarin sudah tidak ada, kenapa? Padahal mereka masih berbicara dengan asyiknya, kenapa?
"Menurut polisi, mereka berdua dibunuh, dan persangkaan mereka bahwa yang membunuh mereka merupakan pembunuh massal yang sedang dibicarakan di berita sekarang"Watase mengatakan hal tersebut dengan tampang shocknya, kedua orang itu merupakan anggota klub sepak bolanya, kehilangan orang yang sangat dekat pasti sangat sakit sekali.
"Sebenarnya apa yang diinginkan pembunuh itu? dia membunuh semua orang tanpa melihat situasi! Kenapa.. kenapa harus mereka? Ini tidak adil" Aku mengepal kedua tanganku, walaupun aku tidak mengenal mereka dengan pasti tapi aku bisa ikut merasakan apa yang sedang dirasakan Watase saat ini.
"Taichi…" Aku melirik ke belakang dan mendapati Inaba tepat sedang melempar senyum padaku.
"Kau sedang apa ke kelasku?" Apa yang kutanyakan? Tentu saja dia ingin meliahatku.
"Kau baik-baik saja, karena ada aku disini bersamamu"
"Kau baik-baik saja, karena ada aku disini bersamamu"
Perkataannya saat itu apa maksudnya? Ada aku disini? Inaba mengatakannya dengan penuh percaya diri, tanpa ada rasa takut di dalamnya, seperti… sejak awal aku memang akan ditetapkan baik-baik saja dengannya?
"tidak bisa mati? Apa maksudmu Nagase?" Aku tidak ingin mempercayainya, tidak ingin percaya semua perkataannya, aku ingin hanya mempercayai semua perkataan Inaba, tapi rasanya banyak sekali kejanggalan, kenapa? Aku membiarkan Inaba tercekik seperti itu, tanpa ada rasa amukan kembali, kenapa?
"JAWAB AKU NAGASE!" Aku sudah membunuh semuanya, keluargaku, ibunya Kiriyama, bahkan orang yang tidak kukenal menjadi imbasku, aku tidak ingin tidak mengetahui semua rahasia di dunia ini sedangkan aku sudah mengorbankan jiwaku demi sampai disini! Membunuh satu orang lagi pun tidak akan ada masalah, itu benar kan?
"Taichi…." Aku melihat Inaba yang sudah sengsara dengan rasa sakit yang dia rasakan, dia melihatku dengan tatapan sedihnya.
"Jangan… bunuh…. Iori….." Kenapa? Kenapa kau masih merasa iba dengan orang di depanmu!?
"Itu benar! Kau tidak akan bisa membunuhku, Inaba! Karena kau masih menganggapku sahabatmu kan?"
"Itu benar.. jadi.. karena itulah… aku tidak ingin… kau mati"
"KHHHHH!" Aku mendengar suara retakan tulang, tidak.. tidak.. tidak.. tidak mungkin..
Tangan Inaba yang terus berpengangan erat dengan tangan Iori melonggar dan akhirnya terjatuh. Mata Inaba yang bersinar semakin lama semakin memudar, prasangka apa ini?
"Inaba.. Inaba.. Inaba.. Inaba" Taichi terus memanggil namanya berkali-kali tetapi tidak ada respon darinya, dia tidak ingin mempercayainya dengan yang sudah dia lihat, Inaba tidak mungkin!
"INABAAAAAAAAAAAAAAAA!" Taichi berteriak dengan histerisnya, tidak sadar air matanya sudah turun dengan derasnya.
"Inaban…. Mati?"
Ahhh… mati lagi? apa kau tidak merasa bosan Inaba-san? Ingatanmu akan terus terombang-ambing jika terus seperti ini.. kau sudah mengetahuinya dengan benar kan? walaupun kau masih mempunyai banyak nyawa yang tersisa tapi aku tidak bisa mengetahui dengan pasti kekuatan dari mentalmu sendiri.. kau bisa saja gila jika harus merasakan antara hidup dan mati, kau juga mengetahuinya kan?
'Suara itu.. Heartseed?' Apa yang kulakukan disini? Gelap sekali, aku tidak bisa melihat tanganku yang sedang kuangkat, perasaan ini.. pernah kurasakan sebelumnya, apa? Apa yang?
"AKHHHH…KHHHH" Sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit! Jangan-jangan aku sudah…. mati? Aku mencengkram kepalaku dan menggaruknya dengan kencang, apa yang terjadi? aku tidak bisa mengingatnya! Siapa saja, tolong aku…
"Taichi….."
DEG
Bayangan mulai kembali lagi secara perlahan-lahan, sedikit demi sedikit..
"INABAAAAAA!" Ini antara pilihan cinta atau benci, jika aku kembali hidup.. aku harus bersiap menerima apa adanya dari Taichi dan aku harus siap dibunuh lagi oleh Iori. Aku mengambil nafasku pelan-pelan, meskipun aku tidak siap harus dibenci oleh Taichi, Yui, Aoki, Chihiro, Shino, bahkan Iori. Sejak awal aku sudah siap melakukannya demi mereka!
"AGHHHHH!" Inaba menendang Iori tepat di bagian perutnya sampai terlempar menjauh dari tubuhnya. Inaba menghapus air liur di bibirnya.
"Aku memang tidak akan mati, sampai kapan pun.. walaupun kau membunuhku ratusan kali, aku akan kembali hidup" bola mata Inaba bergerak ke arah Taichi yang terus membulatkan matanya dengan tidak percaya. Inaba sudah tau kalau reaksinya akan seperti itu, apapun yang terjadi-
"Hah?" Taichi langsung memeluknya dari belakang, dekapannya erat tapi tidak membuatnya sesak.. entah kenapa air mata langsung keluar dengan sendiri dari pelupuk matanya, dia tidak berharap lebih untuk mendapatkan respon seperti ini, tapi dipeluk setelah mengetahui semua kebenaran gelap darinya rasanya bahagia sekali.
"Aku tidak peduli dengan siapa pun selain kau Inaba.. karena itu, bisa melihatmu hidup saja aku sudah bahagia! Aku tidak peduli dengan pembunuhan random tersebut, dari awal aku memang sudah tau kalau ada sebuah kejanggalan dari kasus tersebut, ini semua sudah direncanakan oleh Heartseed, aku yakin itu! siapa yang bisa menghilangkan jejak hanya berselang beberapa menit tidak ada selain dia.. yang mengenal dia hanya kita bertujuh dan kau yang selalu disiksa seperti ini, aku ingin melindungimu!" Aku tidak bisa menahannya lagi, hanya Taichi yang bisa mengerti perasaanku, hanya dia..
"Taichi… Taichi… Taichi"
"Apa yang salah denganmu Taichi!? Dia sudah membunuh banyak orang, tapi kau masih mau melindunginya!?" Itu benar, Taichi..
"Tidak ada yang salah. Aku juga.. sudah membunuh banyak orang" Iori terlihat sangat kaget sekali, apa Taichi serius akan mengatakannya?
"Aku sudah membunuh pria tua, ibunya Kiriyama, ibuku bahkan adikku Rina.. sekarang siapa yang harus kau lebih benci!? Aku atau Inaba!?" Taichi memancing Iori, dia benar-benar sudah berubah.. dan ini semua salahku..
"Tidak kusangka.. aku sudah menunggumu dengan sabar.. aku yakin kau pasti akan melindungiku jika tau apa yang sudah dilakukan Inaba selama ini? Inaba benar-benar sudah mencuci otakmu" Itu tidak benar Iori, aku tidak ada kehendak untuk melakukan hal tersebut, aku hanya.. aku tidak ada hak untuk mengatakan kalimat tersebut.
"HENTIKAN!" Aku terkejut dengan teriakannya begitu pula dengan Iori, Taichi terlihat sangat marah, apa yang harus aku katakan padanya setelah semua ini berakhir?
"Aku tidak akan membiarkan kau mengatakan semua hal omong kosong mengenai Inaba dengan usaha mencuci otakku.. aku menjadi seperti ini karena keinginanku sendiri tidak ada dorongan dari mana pun. Inaba yang sudah berusaha membuatku melupakan semua kegelapan hatiku, karena itu Inaba tidak salah apa pun"
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya, tidak percaya! Tidak percaya!" Iori memukul pintu belakangnya dengan keras. Suara hentakan kaki semakin lama menjadi semakin jelas, mereka tidak mau mempercayainya.
"Kau mendengarnya Taichi?"
"Iya, sepertinya mereka datang serombongan" Dan mereka sepertinya memukul-mukul tepat di balik pintu sehabis dipukul oleh Iori.
"Mereka sudah datang? Cepat sekali" Iori yang mengundang mereka!?
"Aku.. sudah tidak percaya lagi dengan siapa pun, ini semua salahmu Inaban, ini semua salahmu!"
"Akan kuperlihatkan sebuah neraka untukmu" Iori punya kunci cadangan!? Dia berniat untuk membuka pintu!?
"Hentikan Nagase, kau tidak mungkin melakukan ini, kau sudah gila" "aku memang sudah gila, sejak berada di ruangan ini.. rasanya kenangan selama di ruangan ini berasa sudah lenyap sepenuhnya, aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi, terutama kau" Kau berhak membenciku Iori, kau berhak.. aku memang sudah membunuh ibumu, aku mengingatnya.. mukanya yang ketakutan menatap mukaku dengan histerisnya masih bisa kuingat.
"Selamat tinggal… Inaba Himeko" Aku siap menerima semua kebecianmu!
"GRAAAWAAAAAAAAAAAAWWWWWWGHHHHHHHHHHHHHHHHH!"
NEXT
" GOOD BYE.. MY SOUL WILL BE YOURS, LIVE... "
Preview
"Banyak sekali aturan dalam dunia ini, begitu pun dengan fenomenanya"
"Mereka berdua sudah tidak waras"
"Konnichiwa, namaku"
"Berikan padaku"
"Tidak.."
"Yui, aku sangat mencintaimu, sangat.. karena itu tolonglah…. Diriku ini"
"Ini sudah tidak ada hubungannya dengan masa depan yang kulihat!"
"Kau melakukannya pada Yui?"
"Dengarkan aku, Yaegashi-kun"
"Apa kau ingin menyelamatkan dunia ini, karena itu bertarunglah"
"Sudah kuduga.. dunia ini memang harus dimusnahkan"
