Hajimemashite, Minna…
Watashiwa ~ Ruki ~ desu
Disclaimer : Tite Kubo
Warning : Typo ,OOC, AU
Pairing : IchiRuki
Rate : T
Trim'z ama semua yang udah nge'r'viu
Riztichimaru
ruki4062jo
Yuki-ssme
MeoNg
Astrella Kurosaki
So-Chand 'Luph pLend'
Girlinlightblue
edogawa Luffy
Arlheaa
Jee-ya Zettyra
Sorayuki Nichan
Aine Higurashi
bl3achtou4ro
Azalea Yukiko
Zheone Quin
aRaRaNcHa
Yurisa-Shirany Kurosaki
ichirukiluna gituloh
sarsaraway20
JuLie-Chii IchiRuki ChuBbY
SecRet aRs
^_^ Kilas balik chap 2
Ada apa dengan Rukia? Rukia mengalami sakit yang luar biasa dalam dirinya… Dan Iblis Ichigo mengatakan sangat rindu pada langit, ia ingin kembali…
~Prince Of The Hell Or Heaven~
== Ruki ==
Chapter 3
Lelaki yang berhasil menangkap Rukia tadi hanya bisa mengerutkan alisnya,
"Apa yang terjadi dengan gadis ini?" kata lelaki itu menatap wajah menahan sakit Rukia.
Lelaki berbadan tinggi itu segera menggendong Rukia dan membawanya menuju ke ujung lorong sekolah, tepatnya menuju UKS.
*(n_n)*
"Aku merasa hangat, siapa yang menolongku?" kata Rukia dalam hati.
Perlahan Rukia membuka kedua matanya, betapa terkejutnya pemilik mata violet itu. Dilihatnya saat ini wajah pangeran dambaannya tengah menggendong dirinya dengan wajah cemas menatap ke arah depan.
Rukia mulai senyum-senyum sendiri,
"Khu… khu… khu… kesempatan!" kata Rukia dalam hati yang kini menutup kembali kedua matanya.
Dengan gerak lambat Rukia kembali memasang wajah menahan sakit, dan dengan perlahan juga Rukia mulai melingkarkan kedua tangan miliknya ke pinggang Byakuya.
"Sa… sakit…" kata Rukia dengan nada miris yang dibuat-buat.
Awalnya Byakuya terkejut, tapi setelah melihat ekspresi wajah Rukia yang menyedihkan, Byakuya memilih untuk diam dan semakin mempercepat langkahnya.
"Wah… hangatnya… ternyata sakit membawa berkah juga, hohoho…" kata Rukia dalam hati masih mencuri senyum datar dari wajah melasnya.
Byakuya semakin mengeratkan gendongannya saat ia merasa tubuh Rukia semakin panas, ia mulai panik sekarang.
Di lain pihak Rukia kini tersenyum kecut, memang tadinya hanya ber-acting tapi sekarang sakit itu jauh lebih sakit dari sebelumnya, ia mulai sesak untuk bernafas.
"Wah, bisa bahaya kalau aku sampai di UKS, Byakuya-sama akan tahu…" kata Rukia dalam hati yang kini sebelah tangannya telah berpindah memegangi dadanya yang sakit.
"Ber-hen-ti!" kata Rukia lumayan tercekat.
Rukia menarik keras baju Byakuya di bagian lengan kanannya. Byakuya langsung berhenti dan menatap Rukia.
"Tu-turun-kan a-ku…" kata Rukia menatap sepasang mata abu-abu milik lelaki pujaannya.
"Tapi kau sak…" kata Byakuya lembut namun segera terpotong.
"A-ku bisa jalan sen-diri," kata Rukia kemudian.
Dengan sangat terpaksa Byakuya menurunkan Rukia tepat di depannya. Rukia segera membenarkan seragam sekolahnya yang kusut, dia masih agak pusing, namun itu sudah biasa untuknya.
"Terima kas…" kata Rukia dengan senyum manis namun terpotong oleh suatu teriakan yang sangat keras.
"BYAKUYA-SAMA…!"
Rukia hanya bisa melengos mengetahui sesuatu yang semakin mendekat itu. Dengan gerak cepat Hisana menubruk bahu adiknya, dengan maksud menyingkirkan sang adik dari depan Byakuya. Alhasil Rukia yang memang masih lemah terdorong ke samping hingga tubuhnya bertabrakan dengan dinding.
"Aw!" jerit Rukia agak tertahan.
Dengan gerak cepat Hisana tersenyum penuh arti ke arah adiknya tersebut, kemudian dengan segera ia menatap Byakuya yang sekarang ada di depannya.
"Eemm… Byakuya-sama, Ada yang ingin aku bicarakan, ini mengenai acara tahunan OSIS…" kata Hisana mulai mengalihkan perhatian Byakuya.
Byakuya yang memang tidak mengerti apa-apa hanya mengikuti Hisana, ia memang seorang ketua OSIS dan kebetulan Hisana adalah seketaris umum.
Dengan perlahan Hisana menarik tangan Byakuya mengikuti langkahnya, dan berhasil, Byakuya benar-benar melupakan kehadiran Rukia. Hisana berbalik melihat adiknya yang masih bersandar di tembok, Hisana menjulurkan sedikit lidahnya dan bibirnya bergerak-gerak membentuk kata tanpa suara,
"Dia milikku."
"Dasar curang!" kata Rukia membalas kakaknya lirih.
"Seandainya aku sehat, dengan cepat kujitak perempuan itu, Huh!" lanjut Rukia mulai menjauhi tembok tersebut.
Namun baru satu langkah Rukia menginjakkan kaki, kepalanya pusing berat, dan ia kembali bersandar di tembok berpose seksi di dinding, tepatnya berpose menahan sakit dengan sebelah tangan terangkat di atas kepala.
"Sial… Sakit sekali…" kata Rukia dengan nada seksi.
"Nona Rukia, anda tidak apa-apa?" tanya malaikat cinta yang baru saja datang.
"Apa dia bilang? Tidak apa-apa? Yang ada ya terjadi apa-apa." kata Rukia dalam hati mulai kesal.
"Nona Rukia? Halo… Nona Rukia? Halo… " kata Malaikat Kaien menanggapi kediaman Rukia dengan terus terbang mengelilingi gadis tersebut.
Tangan Rukia yang mulanya memijat lembut kepalanya kini tergenggam erat. Di suasana hatinya yang buruk, tingkah laku sang malaikat semakin membuatnya emosi.
"Pergi kau, Pengganggu!"
Dengan satu teriakan keras, Rukia menghantamkan kepalan tangannya tepat di pipi sang malaikat, dan hasilnya malaikat langsung jatuh tersungkur di lantai tak berdaya.
"Dasar, Bodoh!" kata Rukia mulai meninggalkan seonggok makhluk tak berguna tersebut.
Dengan masih berpegangan pada dinding-dinding, Rukia berjalan menuju ke kelasnya dengan sangat lemah.
"Hai, Manis!" kata seseorang tepat di belakang Rukia.
Dengan gerak lambat Rukia membalikkan badan ke belakang dan…
"Hwaaa…!" Rukia berteriak dan jatuh pingsan di tempat.
Ichigo terkejut, kenapa Rukia keget? Padahal ia tidak melakukan suatu kesalahan, hanya saja saat Rukia berbalik, hidung mereka tidak disengaja bersentuhan, karena Ichigo berdiri tepat di belakang Rukia, untuk menggodanya pasti. Ichigo menyeringai puas.
"Hwaaa…!"
Terengar satu teriakan lagi dari belakang dan ternyata ia adalah salah satu siswi yang melihat wujud Ichigo dalam bentuk Iblis berseragam sekolah dengan sayap hitam.
Bukannya lari ketakutan, siswi tersebut malah melambai-lambaikan tangannya dengan semangat '45 ke arah samping, dan dalam waktu kurang dari satu detik puluhan siswi lain mendatangi gadis tersebut dan memandang Ichigo dengan sorot mata terpesona.
Ichigo yang dilihat seperti itu hanya bisa berekspresi cengo di tempat, dalam waktu sekejap semua siswi di tempat itu menggerubungi Ichigo dan menarik-narik bulu-bulu dari sayap hitam Ichigo hingga beberapa diantaranya rontok.
"Hentikan! Hei!" kata Ichigo tak berdaya.
"Wah, sayapnya seperti sungguhan ya?"
"Iya, keren sekali!"
Rukia yang mendengar suara berisik di depannya, kini bangun dari keterkaparannya. Ia menatap segerombolan orang di depannya. Ia berusaha bangun dan…
"Hwahahaha… terus… hajar iblis itu… hahaha…" Rukia malah tertawa sangat lantang.
"Sial!" Ichigo hanya bisa berkata seperti itu.
Dengan terpaksa Ichigo menerobos gerombolan itu dengan cara menubrukkan dirinya dengan liar. Alhasil siswi yang di tubruk olehnya terlempar jauh dan mati di tempat.
"Apa yang kau…" kata Rukia cengo melihat tingkah Ichigo.
Dengan cepat Ichigo menarik dan mengangkat Rukia ke bahunya. Dengan kecepatan kilat Ichigo membawa dirinya serta gadis dalam gendongannya menjauh. Rukia hanya bisa meronta memukuli punggung Ichigo.
"Lepas, Bodoh!" bentak Rukia menjambak, memukul, menendang semua yang ada pada diri Ichigo.
"Diamlah, kau sakit kan?" kata Ichigo dengan keras.
Rukia terdiam, 'Kenapa dia bisa tahu kalau aku sakit?' Rukia memilih patuh sekarang.
Koridor depan
Dengan hati-hati Ichigo menurunkan Rukia dari bahunya, Ichigo masih berdiri lesu menopang tubuhnya pada tembok di sampingnya. Keringat mulai menetes dari wajah tampannya, napasnya memburu dan Rukia cuma bisa diam melihat itu semua.
"Kau tidak apa-apa kan, Ichigo?" kata Rukia sedikit khawatir.
Ichigo menghentikan usahanya menghirup napas dalam-dalam, ia melirik Rukia dengan tatapan ganjil, kemudian dengan gerak lambat tiba-tiba Ichigo memeluk Rukia.
"Kau menghawatirkanku? Terima kasih, Rukia-hime…" kata Ichigo dengan senyum penuh arti.
Blush!
Wajah Rukia langsung memerah, kenapa Ichigo selalu membuatnya berdebar? Dasar!
"Lepaskan aku, Mesum!" kata Rukia yang telah sadar dari ketersipuannya dan dengan keras menginjak kaki Ichigo.
"Aw! Sakit!" kata Ichigo yang kini berjongkok mengelus-elus kakinya.
Sedangkan Rukia hanya tersenyum puas dan meletakkan sebelah tangannya di pinggang, menatap angkuh sang iblis.
"Cih! Rasakan itu! Dasar penggoda!" kata Rukia dengan nada meremehkan.
"Apa kau bilang? Penggoda?" kata Ichigo dengan seringai tajam.
"Ya, kau penggoda, Maniak! Dasar aneh!" bentak Rukia judes.
Ichigo terdiam sejenak, dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya. Seringai tajam mulai nampak di ujung bibirnya. Dengan satu jentikan tangan sayap hitam di bahunya menghilang. Ichigo mendekat ke arah Rukia, semakin dekat dan dekat, Rukia terpojok.
"Kau belum tahu siapa diriku, Nona?" kata Ichigo dengan nada menggoda.
"Kau ma-mau me-lakukan a-pa?" tanya Rukia terutus-putus.
Ichigo tidak menjawabnya, ia tatap dalam-dalam violet indah itu dan Ichigo tersenyum sangat manis. Rukia yang melihat senyum itu hanya bisa tersipu dan jantungnya kini telah berdetak 2 kali lebih cepat sehingga kaki yang ia gunakan untuk berpijak di bumi semakin lemas.
Ichigo mendekatkan wajahnya menuju wajah Rukia, awalnya ia menatap tajam kedua mata violet itu, namun semakin lama tatapan itu melembut. Dan begiu dekat dengan wajah manis Rukia, kedua mata musim gugur itu terpejam.
Rukia tidak bisa bergerak, pergelangan tangan kiri Rukia di genggam erat oleh iblis tersebut. Rukia dapat menebak apa yang sebentar lagi terjadi, tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukan apa pun, tubuhnya kaku. Dan saat kedua bibir itu hampir bertemu,
"Apa yang kau lakukan, Ichigo?" tanya sebuah suara dingin di samping mereka.
Ichigo langsung menjauhkan diri dari Rukia dan menatap tajam lelaki yang baru saja datang tersebut.
"Dia sedang sakit, kau tidak mengerti?" lanjut suara dingin tersebut.
Ichigo tidak menjawab pertanyaan itu, lelaki yang baru saja datang itu langsung menarik tangan kanan Rukia, membawanya pergi. Tapi sayang Ichigo masih menggenggam pergelangan tangan Rukia sebelah kiri. Alhasil terjadilah fenomena tarik-menarik antara Ichigo dan lelaki ber-aura dingin tersebut.
"Hei, lepaskan aku, Bodoh!" kata Rukia membentak pada Ichigo.
"Byakuya-sama, tolong lepaskan aku, ya?" kata Rukia sangat manis pada Byakuya.
Keduanya tidak menggubris permohonan Rukia, Rukia mulai lelah terdorong ke kanan dan ke kiri tak jelas. Dan yang bisa ia lakukan hanya diam.
"Baiklah, dia untukmu," kata Ichigo melepas tarikan tangan kiri Rukia kemudian langsung berbalik dan meninggalkan Byakuya dan Rukia di tempat.
Rukia melihat kepergian punggung kokoh itu, entah kenapa ada rasa yang berbeda saat melihat sosok itu pergi, namun lamunannya segera berlalu saat Byakuya menegurnya,
"Kau tidak apa-apa kan, Rukia?" tanya Byakuya lembut.
"Oh, aku baik-baik saja, Byakuya-sama," kata Rukia dengan senyum lebar.
Sebenarnya apa tujuan iblis itu? Apakah benar ia hanya bermaksud untuk membantu Rukia mendapatkan Byakuya? Tapi entah kenapa Rukia sedikit kecewa dengan pernyataan tersebut. Ia ingin lebih dari itu sekarang.
*(n_n)*
Kamar Rukia
Saat ini Rukia tengah tertidur pulas di atas ranjangnya, ia tengah bermimpi indah tentang pujaan hatinya, maka dari itu di setiap hembusan napasnya ia selalu tersenyum. Dan seseorang yang sedari tadi melihatnya hanya bisa cengo di tempat.
"Apa yang sedang dia impikan?" kata sang iblis yang baru saja masuk ke dalam kamar Rukia melewati jendela kamar yang masih terbuka.
"Emm… Ich…" gumam Rukia dalam tidur.
"Apa? Dia menyebut namaku?" kata sang iblis girang.
Ichigo yang mulai PD karena namanya di sebut, kini mengambil tempat di samping Rukia dan tiduran sama seperti gadis itu. Ia mengelus-elus rambut Rukia dengan lembut.
"Manis sekali tuanku ini ya?" kata Ichigo kemudian, memulai aksi menggodanya.
Rukia yang masih dalam keadaan tidur, malah tambah asik di elus-elus seperti itu. Dengan gerak lambat Rukia memeluk seseorang yang ada di sampingnya, Rukia merasa hangat dan nyaman.
Ichigo menatap dalam-dalam gadis yang kini tepat di depannya, jantung sang iblis berdetak sangat cepat, baru kali ini sang iblis merasakannya, padahal di langit sana sang iblislah yang selalu membuat pasangannya berdebar, tapi kenapa sekarang dirinya yang berdebar?
Tanpa Ichigo sadari wajahnya semakin mendekat dan mendekat pada sosok gadis yang kini merangkulnya, dan saat hampir merapat…
"Eemm… " gumam Rukia yang kini berusaha membuka matanya dan…
"Hwaaa…!" teriak Rukia begitu mendapati Ichigo yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menciumnya.
Dengan cepat Rukia mendorong wajah yang sudah monyong itu menjauh dan Rukia langsung bangun dan berdiri bersandar di tembok. Ichigo terkejut, apa yang ia lakukan?
Ichigo bangun perlahan dari kasur Rukia kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal,
"Hahaha, maafkan aku…" kata sang iblis dengan tawa garingnya.
Rukia cengo di tempat, sejak kapan iblis mesum itu meminta maaf untuk perbuatan mesumnya? Rukia menjadi heran sendiri di buatnya.
Ichigo mulai berdiri dan mensejajarkan tubuh tingginya di depan Rukia, ia menatap lembut gadis itu,
"Entah apa yang kurasakan padamu, aku…" kata iblis itu lirih.
"…" Rukia masih terdiam jantungnya berdebar hebat menunggu lanjutan kata itu.
"Aku me…"
Wusshh…
Tiba-tiba angin kencang masuk ke dalam jendela kamar Rukia, Ichigo yang merasa ada sesuatu yang akan datang segera bersiaga di depan Rukia.
"Waah… Pangeran!" terdengar teriakan dari balik jendela tersebut.
"K-kau…" kata Ichigo tercengang.
T`B`C`
Ok! Maaph ea, Ruki telat Update! Males mode oN...
Arigatou and Mata Ashita "^_^"
R P
E L
V E
I A
E S
W E
