Disclaimer: Naruto punya Masashi Kishimoto

Warning!: very-very OOC

_Hello Hinata_


"DHUAAR!!!"

-

Naruto's POV

Aku sangat terkejut. Ternyata Hinata berteriak karena ketakutan. Tapi mengapa wajahku sakit?? Aku masih hidup kan?? Tentu saja. Karena aku baru saja mendengar Hinata yang berteriak 'DHUAAR!!!'.. Dan barusan kudengar seorang anak kecil lagi tertawa. Perlahan, kubuka mataku dan terlihat jelas 11 kepala badut jelek dan aneh dengan mata juling dan mulut menganga lebar selebar-lebarnya. Ternyata isi kotak itu adalah badut mainan dengan per dibawahnya.

Wajahku memanas karena marah dan malu. Apa-apaan ayah memberikan kotak berisi makhluk aneh ini?? "AARGH!! Apa-apaan ayah ini??" Kataku marah.

Kemudian kulihat Hinata tertawa kecil. "Minato iseng deh. Jadi makin sayang," katanya.

Entah mengapa hatiku terasa aga sakit. Kutarik napasku dan membuangnya kembali dengan teratur. Setelah tenang, aku hendak membuang badut jelek ini. Tapi mataku menangkap kotak yang jauh lebih kecil dari kotak luar. Bentuknya seperti kotak rokok. Dengan sangat hati-hati, dan dengan sangat diperhatikan Hinata, akupun membuka kotak itu perlahan. Mataku melotot kaget melihat isi kotak itu.

Itu.. Sebuah.. Kartu ATM Konoha. Hinata sama sekali tak mengerti. Sepertinya. "Sekarang aku mengerti maksud dari petunjuk itu. sangat mudah!!" teriakku membuat Hinata yang ada disebelahku kaget.

-

"Ahh.. Menyamar tak semudah yang kukira. Nih, kunci kamar kamu. Jangan ilang. Kita jalan-jalan dulu." Kataku pada Hinata yang sekarang sudah memakai gaun manis dan masih bengong dari tadi sampai sekarang. Langsung saja kugandeng tangannya untuk jalan keluar. Karena bingung mau kemana, akupun nyegat taksi.

"Kemana pak?" tanya pak supir ini kepadaku.

"Apa bapak tau tempat makan yang bagus? Kami tak mengerti daerah sini." Jawabku.

Tanpa aba-aba lagi supir mencurigakan yang menutupi mukanya dengan masker ini tancap gas dan membuat aku dan Hinata terkejut. Kira-kira kurang dari 1 menit, Taksi ini berhenti. 'Lampu merah?' pikirku.

"Sudah sampai Pak, Bu," kata supir itu.

"APAA?? Su-sudah sampai?" Tanya Hinata yang ternyata terkejut seprti aku.

"Tentu saja. Kalian pikir apa?" Tanya pak supir err.. Kakuzu?

Setelah kulihat namanya yang terpampang jelas dibawah foto-nya yang ternyata memakai masker juga, aku punya perasaan tak enak. Entahlah apa itu. Lalu aku mengeluarkan dompetku untuk mengambil uang bayar ongkos. 50.000 saja sudah cukup. Toh tak sampai 1 menit kan?

"Apa ini?" Tanya supir itu sambil memegang ujung uang biru itu.

"Itu? Uang tentu saja" kataku mantap.

Supir itu mendengus. Lalu, "Ini tak cukup, pak," katanya. "Ongkos jalan mungkin tak sampai 50.000.. tapi ongkos ngebut, informasi restoran enak dan mengantarkannya dengan selamat itu mahal loh, Pak, Bu."

"Jadi berapa?" kali ini Hinata yang angkat bicara.

Pak supir itu tampak menghitung sebentar. "Tambah 200ribu saja cukup kok."

Hinata melotot. Tentu saja aku juga melotot. Lalu dengan ragu aku mengeluarkan empat lembar uang biru lagi, dan memberikannya dengan enggan kepada supir matre itu.

"Trimakasih Bapak dan Ibu dermawan… Kapan-kapan naik Taksi ini lagi yah~" katanya dari dalam mobil sambil melambai-lambaikan tisu.

'Tak akan pernah~' pikirku. Dan ku yakin Hinata jug berpikiran sama.

Hinata kemudian noel-noel lengan Naruto. Dan, "Err.. Naruto, apa maksud dari petunjuk aneh tadi? Sampai sekarang Hinata belum mengerti." Tanya Hinata.

"Kamu tau 007-nya James Bond 'kan? Nah, 7 dikali 111 hasilnya 777. tambahkan 00 di depannya. Jadinya, 00777. itu kode PIN. Jadi, ATM itu bisa dibuka dengan kode itu, Hinata. Udah ngerti?" Jawabku dengan panjang lebar dan sabar.

Hinata lalu mengangguk. kamipun masuk ke dalam restoran yang nampak mewah dan mahal. Dengan agak ragu, kami melangkahkan kaki kami di lantai mewah itu. kami memandang sekeliling yang tampak mewah dan romantis. Aku berjalan sambil memegang tangan Hinata menuju meja nomor 7 di dekat panggung orchestra.

"Selamat malam pak, bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan restoran. Kemudian kamipun memesan makanan dan minuman kesukaan kami masing-masing. Terus, setelah makanan diantar, kami makan diiringi alunan musik merdu yang lembut. Kulihat sepasang kekasih, yang perempuan berambut pink, dan yang laki-lakinya berambut hitam legam dan senyum mencurigakan menghiasi wajahnya, menuju lantai dansa dan mereka berdansa dengan indah.

Langkah demi langkah, gerakan tangan, gerakan badan dan lehernya sangat menawan. Kami memperhatikan semuanya. Tak tahan, dengan wajah yang mungkin memerah, akupun mengajak Hinata. "Hi-Hinata, dansa yuk," ajakku. Aku tak bisa berbahasa sangat formal apalagi dalam keadaan gugup. Tunggu! Untuk apa aku gugup? Entahlah. Yang pasti sekarang dadaku terasa berdegup kencang.

"Ta-tapi, Hinata sama sekali tak bisa berdansa Naruto, bagaimana kalau aku terjatuh?" Hinata menjawab dengan muka yang memerah.

"Sebenarnya aku juga tak begitu mahir. Tapi, aku bisa mengajarkanmu cara dansa sederhana." Jawabku cepat. Hinatapun mengangguk. Lalu kami berjalan menuju lantai dansa dan bergabung bersama pasangan-pasangan lainnya.

Aku dan Hinata berdansa agak pelan karena kami belum mahir. "hinata, setelah ini kakinya ke kanan, dan ulangi gerakannya dari awal" kataku pelan sambil mengajari Hinata. Sebenarnya, sudah beberapa kali aku menginjak kaki Hinata dan begitu juga Hinata sering menginjak kakiku karena langkah yang salah.

"Naruto, lebih baik sudah saja. Kakiku sakit kau injak terus. Bisa-bisa, kakiku besok bengkak karena kakimu menginjak kakiku." Kata Hinata.

"Ulangi satu kali saja yah." Pintaku. Dan kamudian Hinata mengangguk lemah.

Dengan pelan, dan masih dengan ajaranku, kami mulai berdansa lagi.

Normal POV

Lagi-lagi Hinata salah melangkahkan kakinya sehingga kaki Hinata mendarat sukses di kaki Naruto yang sepertinya sudah merah karena terinjak berkali-kali. Tapi, Naruto menahannya karena tidak mau dianggap lemah oleh Hinata. eh? Kenapa?

"ADUUH!!" tiba-tiba Hinata menjerit keras. Narutopun segera sadar kakinya menginjak Kaki Hinata. kamudian, mereka melihat sekeliling. Sepertinya mereka sudah dilihat puluhan atau mungkin ratusan pasang mata. Karena begitu malu, Naruto pun menginjak kakinya sendiri sehingga Naruto jatuh dan mendarat dengan sukses mencium lantai.

"AH?? Kyahahahaha…" Hinatapun tertawa melihat cara jatuh dan posisi Naruto sekarang. Dan tanpa sadar diapun tersandung kakinya Naruto. Lalu, Hinata juga terjatuh. Kali ini gantian Naruto yang tertawa. Tetapi melihat tatapan pasangan lainnya, Naruto terdiam dan segera bangun lalu mengajak Hinata untuk segera keluar. Setelah membayar makanan mereka tentunya.

"Haaahh!! Memalukan sekali. Apa kata ayah kalau dia melihatnya?? Pasti aku diejeknya habis-habisan." Naruto menggerutu sendiri.

"Naruto, aku tau apa yang akan dilakukan Minato.. Pasti dia menertawaimu. Karena kau tadi lucu sekali!! Kyahaha… kau terlihat aneh. Kau terlalu mesra dengan lantai tadi." Hinata tertawa kecil.

Narutopun mendengus. "Huh!! Kau sama saja dengan ayah. Sukanya mengejek orang. Ahh!! kalau begitu kita kembali ke hotel saja." Kata Naruto yang sudah terlihat capek.

"Iya.. Hinata capek. Pengen tidur aja. Ngomong-ngomong kita naik apa ke hotel tadi?" tanya Hinata.

Narutopun tersadar kalau jalan sepiiiiiiii banget. Naruto lalu jalan diikuti dengan Hinata. "Mungkin ketemu mobil atau taksi yang mau numpangin kita kalau kita jalan sedikit." Kata Naruto kemudian.

Tak beberapa lama jalan, "Naruto, kaki Hinata sakit. Gak kuat jalan lagi." Kata Hinata.

"Hhhh… Apa boleh buat? Sini aku gendong." Kata Naruto sambil menggendong Hinata dipunggungnya.

'Ahh.. Hinata digendong Naruto? Kok Hinata jadi deg-degan gini ya??' tanya Hinata dalam hati. Lalu, Hinatapun tertidur dengan lelap di punggung Naruto.

-

"Hinata.. Hinaaataaaa!? Sudah.. Sampaai.. hosh.." Kata Naruto sambil ngos-ngosan. Gimana nggak?? Jalan sejauh kulon jalan kaki? Ditambah gendong anak orang lagi. Kasihan benar Naruto.

"???" Hinata mulai terbangun dan segera turun dari punggung Naruto. Seketika itu juga Naruto ambruk. Hinata yang tak tau apa-apa mengmbil kunci kamar hotel di tas kecilnya dan menyeret Naruto ke lift dan Hinata memencet angka 7. Setelah sampai, Hinata membuka kamarnya yang bernomor 713. Lalu kemudian mencari kunci kamar Naruto di jas yang dipakai Naruto. '715? Berarti kamar Naruto di depan kamar Hinata?' pikir Hinata. kemudian Hinata dengan bersusah-payah lagi menyeret tubuh Naruto masuk ke dalam kamarnya, dan meletakkannya di tempat tidur dengan cara memanggil mas-mas yang ada di hotel itu. kemudian, dia kembali ke kamarnya dan tidur dengan nyenyak.

-

Keesokan harinya

"Bagaimana? Kau mau pulang atau masih mau menjelajah kota ini?" Tanya Naruto pada Hinata.

"Aku masih ingin menjelajah!!! Hinata ingin lagi ke DuFan. Hinata pengen naik arung jeram. Kemaren tak bisa karena Minato hilang. Sekarang bisa kan?" tanya Hinata.

Naruto tersenyum dan mengangguk. 'Apa sih ini?? Kok aku jadi senang?' tanya Naruto pada dirinya sendiri dalam hati. Naruto masuk ke kamarnya lagi sementara Hinata menunggu di lantai 1.

Tiba-tiba, "HINATA!!!???"

TuBerCulosis To Be Continue

Wakh?? Makin pendek! Tidaaak!! Kalau ada mistypo bilang!! Ni ngetiknya dengan kecepatan super..

Ngomong-ngomong, siapa yang manggil Hinata??

Vi lagi pengen REVIEW. Ada yang mau bagi??

Vi-chan ^^v