"Dobe!" Sasuke membuka suara saat Naruto semakin gelisah. Sasuke tersenyum tipis, dan hal itu sukses membuat Naruto merona. "Aku tak mempermasalahkan hal itu, lagipula aku memang melamun." Ucapnya, membuat Naruto tersenyum lebar.
"Kalau begitu, cepat ceritakan Temeeee..." rajuk Naruto. Sasuke menghela napas.
"Baiklah." Jawabnya.
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto
Pairing: NaruSasu
Genre: Romance, Drama, and maybe sebenernya sedikit Hurt juga?
Rating: T
Warning: BL, GJ, Typo(s), Alur lambat (maybe), dan segala kekurangan lain yang mungkin akan membuat mata kalian sepet! So?
Don't Like? Don't Read! And go away from here!
.
.
I Warn You!
.
.
Suasana hening melanda kedua pemuda yang duduk di depan televisi yang tidak menyala, semakin menambah keheningan. Kedua pemuda itu memilih tetap berada di posisinya walaupun tidak ada yang berniat membuka suara setelah beberapa menit lalu Sasuke menceritakan kejadian yang membuatnya harus tinggal bersama sang kekasih kepada si blode sendiri.
Naruto hanya diam, membuka tutup mulutnya, tak bisa berkomentar. Pemuda itu pastilah bingung harus berbuat apa ketika fakta dan keinginan bertolak belakang. Hal itu sudah diduga dengan sangat baik oleh Sasuke. Mendapati reaksi si blonde yang seperti ini.
Sasuke menghela nafas. "Aku sudah memilih Naruto. Aku, ingin bersamamu." Menatap Naruto dari sudut matanya, Sasuke melihat bahwa pemuda itu tengah berpikir keras denga tangan yang mengerat.
Bingung. Naruto sangat bingung dengan situasi saat ini. Sungguh, ia merasa senang saat Sasuke mau bersamanya, mau memilihnya. Sangat, ia sangat senang. Tapi, bukankah egois jika apa yang ia iginkan membuat si raven harus bertengkar dan meninggalkan keluarganya. Ia tidak bodoh hingga tak melihat betapa sayangnya Sasuke pada keluarganya, terutama pada sang ibu. Apa ia tega membiarkan Sasuke hidup tanpa kasih sayang keluarga seperti dirinya?
"Sasuke, sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu. Aku tidak ingin kau menyesal."
Sasuke tahu, ia sudah menduga. Hanya itu yang akan pemuda pirang itu katakan saat pikirannya tak menemukan jalan keluar. Naruto pasti ingin Sasuke bahagia, dan pemuda itu menganggap keluarga adalah satu-satunya hal yang membuat Sasuke bahagia. Bukan, bukan keluarga yang membuat Sasuke bahagia, tapi pemuda itu. Sasuke tak ingin Naruto mengambil keputusan yang salah, menganggap Sasuke akan bahagia dengan keluarganya hanya karena Naruto sendirilah yang menginginkan kehadiran keluarga yang tentunya akan membuat pemuda itu senang.
"Kau salah jika menganggapku demikian. Keputusanku sudah bulat. Dan aku tidak akan menyesal." Ucap Sasuke sedikit menggeram, menghentikan langkah sang kekasih yang berajak dari tempatnya duduk.
Naruto tetap bergeming. "Sasuke—"
"Bisa kita bicara baik-baik Naruto?" mohonnya menyela ucapan Naruto.
Menghela nafas. Naruto akhirnya meurut. Ia berbalik dan mendudukkan dirinya kembali di samping Sasuke.
"Sasuke, dengar. Kau mungkin saja akan menderita bila hidup denganku." Naruto menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. Menatap sang kekasih yang hanya diam, memperhatikan. "Keluargamu, kau tahu? Kau pasti akan lebih bahagia bersama mereka. Mereka menyayangimu Sasuke."
Sasuke menatap lurus ke arah biru jernih di depannya. "Jika kau tahu aku akan menderita bila hidup bersamamu, kenapa kau memita demikian padaku tempo hari. Jika kau bilang aku akan bahagia bersama keluargaku karena mereka menyeyangingu, kenapa aku aka menderita bila aku hidup denga orang yang aku cintai dan mencintaiku? Apa kau tidak pernah mencintaiku?"
Telak. Perkataan Sasuke membuat Naruto tak bisa menyanggah apapun lagi. Tapi, bukan begitu yang ia maksud.
"Sasuke, bukan begitu! Aku—"
"Aku apa Naruto? Tolong, jangan berpikir hal itu akan membuatku bahagia karena kau, karena anggapanmu memiliki sebuah keluarga membuatmu bahagia!"
"Kau tidak megerti Sasuke!"
"TIDAK MENGERTI APA? KAU YANG TIDAK MENGERTI NARUTO!"
Sasuke berteriak. Membuat Naruto diam.
"Kau yang tidak mengerti. Aku memilihmu, karena aku akan lebih bahagia bila bersamamu! Aku.. aku.."
Grep!
"Shhhh.. sudahlah. Jangan menangis." Naruto memeluk Sasuke erat saat pemuda itu mulai mengeluarkan air mata. Mengusap bahu sang kekasih yang bergetar, mendekapnya lebih erat lagi.
"Kau egois Naruto! Kau egois!"Sasuke masih mengeluarkan tangisannya. Mencengkeram erat kaos bagian dada milik Naruto.
"Sshhhhh.."
"Kau tidak pernah memikirkan perasaanku.. kau pikir aku akan bahagia bila melihatmu menderita? Dobe.."
Naruto kembali megeratkan dekapannya.
"Maaf, Sasuke."
.
oOoOoOo
.
Brak! Tut..tut..
Tanpa menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Neji menutup sambungan telepon tersebut. Dengan cara sedikit kasar, ia membanting telepon itu. Sepertinya, dugaannya salah jika mengangkat telepon akan membuatnya merasa lebih baik. Karena pada kenyataannya malah sebaliknya.
.
.
Sementara sang sang objek yang membuat kemarahan Neji muncul, tersenyum senang melihat wanita yang menghubungi Neji ketakutan setelah menghubungi pemuda berambut panjang itu. Terbukti dengan omongan wanita itu yang tergagap. Sepertinya ia akan berhasil.
.
.
Seperti sebelumnya, café adalah tempat yang dipilih oleh dua orang yang berpengaruh di perusahaan masing-masing untuk membahas hal khusus.
Uchiha Fugaku yang telah mengajak 'partner'nya untuk datang ke tempat tersebut menyeringai penuh kemenangan saat pemuda yang ia anggap 'partner' tak bisa berkutik lagi. Ia menyruput kembali kopinya dengan mata yang tak beralih menatap Neji yang masih sangat jelas terlihat begitu marah.
"Jika kau ingin membahas masalah itu lagi, saya hanya akan mengatakan kalau saya baru akan memulainya! Jadi, anda jangan mengharapkan lebih. Dan, jika tak ada urusan lain, saya permisi!" Neji berdiri dari duduknya—merasa kesal, dan hendak pergi dari tempat itu karena sejak tadi orang di depannya sama sekali tak membuka suara, hanya menatapnya—sinis.
"Mudah terpancing emosi itu tidak baik anak muda." Fugaku mulai membuka suara. Ia kembali tersenyu sinis saat Neji membatalkan niatnya untuk pergi. "Lebih baik kau duduk. Dan kita bicarakan ini baik-baik."
Menurut, Neji kembali mendudukkan dirinya. "Sebenarnya, apa maumu?!" ia sudah tak tahan lagi ingin memukul wajah yang sangat mirip dengan sahabatnya itu.
"Ekhm, begini—" berdehem sebentar, Fugaku kembali melanjutkan ucapannya. "Ada rencana baru."
"Ck, apa maksudmu?! Apa lagi yang kau inginkan Uchiha-san?! Aku muak padamu!" Neji berseru lantang tanpa memikirkan kesopanan, membuat pandangan beberapa orang langsung tertuju padanya. Tak cukup repot, Neji memberikan deathglare terbaiknya kepada orang-orang yang mulai berbisik itu, hingga mereka pura-pura acuh akan urusannya.
Fugaku tersenyum miring. "Sebaiknya kau jaga bicaramu jika tak ingin menjadi tontonan gratis." Ia mengalihkan perhatiannya pada seorang pelayan wanita. Mengisyaratkan agar pelayan tersebut mendekat.
Pelayan tersebut menurut, ia berjalan takut-takut ke arah meja yang berisi dua orang pria berjas itu. Melirik takut ke arah Neji saat tiba di meja itu, kemudian ia pergi setelah mencatat apa yang Fugaku pesan.
"Jangan banyak bicara, katakan saja semua secepatnya!" Neji kembali berbicara. Iris lavender miliknya melihat sang pelayan wanita yang menaruh segelas jus jeruk dan cake di mejanya. Delikan tajam ia berikan saat pelayan tersebut meliriknya takut-takut.
"Aku setuju denganmu, tapi sebelum itu minum dan makanlah apa yang ada di depanmu." Fugaku mempersilahkan pelayan itu untuk pergi.
Sudah cukup, Neji tak ingin berdebat lagi dengan pria di hadapannya. Pria itu selalu sukses membuatnya merasakan amarah yang luar biasa! Ia harus bisa menahan dirinya jika berhadapan dengan pria dihadapannanya itu.
"Aku tidak suka manis," Neji kembali memperlihatkan wajah datarnya.
"Begitu, padahal makanan manis bisa meredakan emosi seseorang. Sayang sekali."
Neji tak menyahut. Ia sudah memutuskan akan membiarkan Fugaku berbicara sepuasnya hingga pria itu membahas topik awal tujuannya kemari, ia baru akan menanggapinya.
Fugaku kembali memasang wajah datarnya. "Sepertinya hanya melihat makanan manis, membuat emosimu mereda yah? Baguslah kalau begitu." Ucapnya datar.
'Sangat tidak Uchiha sekali,' pikir Neji. Ia baru sadar kalau sejak tadi Uchiha di depannya ini sangat berbeda jauh dari yang 'dinamakan' Uchiha!
Lama suasana menjadi hening saat—mungkin—Fugaku telah menyadari kebodohannya sebagai seorang Uchiha. Tapi bukankah tak ada pada kamus sejarah Uchiha, orang bodoh yang mempermalukan dirinya sendiri. Tentu saja tidak! Mana ada kamus yang mencatat sejarah coba! Walau menurut Fugaku tentulah ada, dan Sasuke adalah orangnya.
Jadi kesimpulannya, apakah semua Uchiha itu bodoh? Hingga tak bisa membedakan kamus dan buku sejarah? Lupakan!
"Perubahan rencana!" Ucap Fugaku tiba-tiba.
.
.
Flashback…
"Tapi, dengan syarat— " Ah, lagi-lagi dugaannya benar, ia hanya dimanfaatkan! Pemuda itu merasakan firasat buruk yang akan terjadi—menimpanya, berdo'a agar orang yang ia sayangi baik-baik saja adalah pilihan terakhir yang dapat ia lakukan sekarang. Namun, harapan itu terkabul, sepertinya—mustahil.
"Kau harus mau menghacurkan seseorang. Orang yang pasti kau kenal." Fugaku menyeringai iblis. "Namikaze Naruto."
"Apa maksudmu?! Itu tidak ada kaitanya dengan perusahaan!" Neji berdiri spontan, tidak terima.
"Jadi, kau ingin menolak? Sayang sekali jika seorang Hyuuga menjilat ludahnya sendiri!" Neji meggera marah.
"Brengsek!" umpatnya lirih kemudia medudukka tubuhya kembali.
"Bagus." Fugaku tersenyum sinis. "Baiklah, tidak usah basa-basi. Aku igin kau menghancurkan pemuda itu bagaimana pun caranya. Buat dia melupakan Sasuke dan tidak punya waktu dengan anak kurang ajar itu. Buat Sasuke merasa kalau dirinya di campakkan. Lalu, masuklah kedalam kehidupan Sasuke saat dia hancur. Buat Sasuke mencintaimu! Sadarkan anak kurang ajar itu, bahwa pemuda pirang itu sama sekali tidak baik utuknya! Lalu, hancurkan Namikaze Naruto!" ucap Fugaku dega mata berkilat tajam.
Neji hanya bisa menggeram dalam diam. Ia pasti akan melakukan sesuatu!
.
Flashback off…
TBC
Bales review
Ivy Bluebell : Hoho, makasih review nya… iya, emang we penggemar SN juga author disitu bukan mantan XD tapi we juga suka NS kok. Emang yah, Naruto lebay, we juga ngrasa gitu, dia kayak uke.. #pundung# soalnya di animenya dia kek gitu sih #mengkambinggulingkan /plak/ ok, tuggu aja kelajutanya, dan kutunggu review mu.^^
EthanXel : Thanks reviewnya.. kamu bingung mau reviw? Aku jadi bingung mau jawab apa. /plak/ iya, Naruto emang kayak uke #pundung again# eh tapi betul juga dia seke! Disini dia kan uke buat Neji! #woy#
Guest (Aicinta) : Ok, makasih reviw nya.. Naru kurang macho? Kaya uke gitu #pundung lagi# udah kejawabkah siapa yang di café? Moga gag bosen yah ama cerita ini? Tenang aja, buat Sasuke, masih banyak yang lain kok. Hehe.. Gak Cuma cemburu, Naruto bakal menderita..muehehehe.. tapi gak janji #TetTot
CA Moccachino : makasih reviw ya ^^.. udah banyak kah?.. o.O
sivanya anggarada : haha.. oke oke.. makasih review nya..
NamiMirushi : Makasih XDD… udah cepatkah? Ato malah udah lupa? /plak/ thank review nya..
himekaruLI : wkwk.. makasih reviewnya ^^ XD
