DISCLAIMER : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSaku slight SaiIno & SasuKarin. Rated : M (for lime, scene, language, etc). Genre : Romance & Drama. Warning : OOC. AU. Typos. Boring. Mainstream theme. Don't like don't read.
Story by Hikari Cherry Blossom24
One Night Stand [Chapter 3]
.
.
.
x X x
Ia menghembuskan hawa dingin dari mulut ke kaca bilik kamar mandi, menciptakan embun yang melekat disana. Bibir mungilnya mengulum senyum, menyertai rona yang menghiasi pipi.
Telunjuk lentiknya nenyetuh kaca berembun tersebut. Ia mulai menggarisi setiap sisi, memulai lukisan dari lingkaran lonjong.
Selesai dengan bentuk wajah, Sakura menambah alis kemudian mata, hidung dan yang terakhir tiga garis kumis unik di pipi. Ia tinggal menambah rambut, dan hasilnya luar biasa lucu.
"Oh."
Satu yang terlupakan olehnya, dengan segera Sakura menggaris bagian bibir. Ia membentuknya seperti karakter ^ namun terbalik. Kini gambarnya telah jadi, memperlihatkan potongan kepala seorang lelaki dengan kumis rubah di kedua pipi.
Sakura mencodongkan kepala untuk mengecup bibir dilukisan tersebut. Ia melakukannya lagi, ketika sedang mandi melukis wajah seseorang.
"Aku rindu..."
Rindu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sakura ingin melihat lelaki itu lagi setelah kebersamaan mereka kemarin, sialnya ketika hendak mndatangi Diskotik ia mendapat larangan keras.
Tes.
Liquidnya menetes dari sudut mata lalu mendarat di lantai, menderaikan butiran tersebut. Sakura menyeka sudut mata kala sadar telah meneteskan air mata.
"A-apa ini!?" Ia sendiri tak mengerti hal apa yang membuatnya menangis. Sakura memejamkan mata untuk mengetahui perasaan yang sesungguhnya. Jantungnya berdebar, ia bahkan bisa menghitung setiap debarannya.
Deg deg deg...
Perasaan hangat mengaliri nadi, mengiringi degup jantung Sakura. Dalam bayangan sosok Naruto hadir menemaninya dikegelapan. Itu dia wajah yang ia rindukan, bibir eksotis yang lembab, tatapan penuh keseksian dan senyum menggoda. Si pirang itu memang menawan.
Sakura tersenyum lebar. Ia masih ingat semua tentang laki-laki pirang itu, bahkan tak sedikitpun ada yang terlupakan. Sakura rindu dan ingin memeluk badan tinggi tersebut, mengulang perbuatan mereka lalu terlelap bersama dalam depakan.
Kapan mereka akan bertemu lagi? Sakura harap secepatnya.
"Sakura!"
Perempuan itu tersentak. "Eh! A-ada apa Ino?" Ia gelagapan. Panggilan Ino mengagetkan dirinya yang sedang berimajinasi. Menganggu saja.
"Mau sampai kapan kau di dalam, cepat keluar!" Di luar sana Ino tengah berdiri sambil bercacak pinggang. Lebih dari setengah jam Sakura mengurung diri di dalam kamar mandi, ia takut bila tak di tegur sewaktu melihat keadaan Sakura sudah dalam keadaan beku.
Mengerikan.
Dengan tergesa Sakura mengguyurkan tubuh di bawah shower. "Lima menit lagi..." Sahutnya atas panggilan Ino. Lagi-lagi mendapat terguran, ini sudah beberapa kali terjadi. Ia sendiri tak pernah sadar terlalu lama berada di kamar mandi.
Setiap kali mandi birahi Sakura bergejolak, alasan yang menahan dirinya tetap betah di dalam dengan waktu lama.
Ino menghela nafas. "Ya sudah, nanti langsung saja ke dapur." Ada yang ingin ia tanyakan, sebaiknya Sakura tidak tahu sebelum mereka berkumpul di dapur. "Makan malam sudah siap."
Sakura tersenyum. Ino memang type sahabat yang sempurna. "Baiklah Kaa-chan."
Ino bergidik geli mendengar sahutan tersebut. "Dasar."
x X x
Shion menyentuh punggung tangan Naruto. Lebar dan hangat. "Aku merindukanmu." Si pria terdiam dengan tatapan biasa saja. Ia terkekeh. "Maaf untuk kelakuanku terhadapmu." Mereka putus karena Naruto yang tak kuat mengimbangi sifat over Shion. Dia kelewat mengekang dirinya.
"Lupakan kejadian dimasa lalu." Naruto menggenggam tangan Shion, membuat empunya tersenyum dengan wajah memerah. Seperti mendapat harapan. "Jalani kehidupan kita masing-masing." Tetapi harapan palsu.
Seperti mendapat tamparan keras secara tidak langsung. Shion sadar Naruto sudah jera menjalin hubungan dengannya lagi. "Kau benar." Sebaiknya ia sadar diri daripada mengharapkan hal yang tak pasti.
"Aku ingin mencapai kesuksesan."
Shion tahu yang Naruto katakan hanyalah alasan semata untuk menolaknya. Mau suskses bagaimana lagi, bukankah sekarang dia lebih daripada sukses. Dia seorang milyader muda.
"Tamak." Naruto tertawa mendengar ejekan tersebut, sama halnya dengan Shion. "Bagimana kabar Paman dan Nenek?" Naruto tidak punya Ibu, dia juga anak tunggal.
Kushina Namikaze meninggal dunia setelah melahirkan Naruto, sampai kini Minato masih menduda. Tak terbesit keinginan untuk menikah lagi, cintanya kepada Kushina kekal abadi yang membuatnya rela hidup dalam kesendirian.
Minato tak sendiri, masih ada Tsunade dan Naruto yang menemaninya, bahkan Kushina walau hanya terkadang hadir dalam mimpi.
"Semuanya baik, aku harap kau juga begitu."
Shion meringis dalam diam. Naruto benar-benar menunjukan perubahan sikapnya, tidak ada lagi cinta di mata indah tersebut ketika menatapnya. Caranya bicara juga kelewat ketus.
"Naruto..."
"Ya, kenapa Shion?"
Shion menundukan kepala. Ini tidak adil. Ia ingin menyesali semua perbuatannya dulu namun untuk apa bila menyesalkan sesuatu yang tidak berarti apa-apa lagi. Naruto tak mengharapkan dirinya.
"Aku ingin kita kembali seperti dulu." Pintanya sponstan dengan memberanikan diri. Setidaknya ia jujur mengenai perasaan.
Naruto terpaku. "..." Ia sadar hal yang membuat Shion rajin mengunjunginya akhir-akhir ini. "Shion." Dia ingin menjalin hubungan seperti dulu, namun tidak bisa Naruto lakukan.
"Maaf."
Shion sudah menduga akan mendapat penolakan. Apapun resikonya ia terima asal beban dipundaknya terlepas. "Aku mengerti." Ia tersenyum getir, menyimpan berjuta luka yang menoreh hati. Naruto yang paling terluka.
Naruto memejamkan mata. Ia sangat tak menyukai keadaan ini dan berharap ada yang memecah ketidak nyaman antara mereka. Toh, yang membuat hubungan mereka berakhir Shion sendiri. Seharusnya dia mengerti, tak perlu menggunakan keegoisan.
Itu bukan cinta melainkan obsesi.
Keberuntungan berpihak kepada Naruto. Baru beberapa saat meminta dan kedatangan Sasuke sangat membantunya. "Eemm..." Sasuke linglung setelah menyelonong masuk. Ia tak tahu kalau Shion ada disini.
"Sasuke..." Naruto langsung merangkul si raven. "Kemarilah, ada yang ingin aku katakan kepadamu." Ia dipaksa duduk, ketika hendak menolak langsung mendapat cubitan di leher belakang. Sasuke tahu saat ini Naruto sedang membutuhkan bantuannya.
Shion beranjak karena kedatangan Sasuke. Ia tak ingin mengganggu kedua sahabat baik tersebut. "Naruto, aku permisi pulang."
Dalam hati Naruto mengaminkan kepulangan Shion. "Kenapa terburu-buru?" Diluar bersikap sok ramah, kenyatannya ia sama sekali tak menginginkan kehadiran perempuan itu.
Shion tersenyum agak kaku. "Gomene, aku sebenarnya mampir karena selajuran dengan Studio." Dia merupakan seorang model, alasan yang membuat Naruto mengincarnya dulu. Itu dulu.
Naruto tahu seorang model pasti seksi, putih dan mulus. Wanita idaman sekali, tapi tak pernah ia tahu bahwa model sama saja dengan para wanita pada umumnya. Mereka sama-sama kaum yang menyebalkan, paling sulit melepaskan diri jika sudah sangat mereka mencintai.
Wanita terlalu serius dalam menjalani hubungan, sementara Naruto bepacaran hanya untuk bersenang-senang semata. Ia tak ingin terikat dalam hubungan suci tanpa cinta.
"Hati-hati." Sekedar basa-basi, Naruto tidak ingin terlihat begitu sombong. Shion menanggapi dengan senyum terpaksa, dan Naruto menyadari keterpaksaan tersebut.
Memang apa pedulinya?
Setelah kepergian Shion pintu langsung tertutup. Naruto menghela nafas lega setelah mengalami sesak selama bersama Shion. Kini ia bebas, kebetulan ada Sasuke disini.
"Licik!" Sasuke meneguk jus dalam botol yang ia ambil dari dapur.
Naruto menghempas bokong disofa. "Persetan." Balasnya dengan malas. Ia tak menginginkan Shion lagi, sebaiknya wanita seksi itu sadar diri. "Aku sedang mencari seseorang." Ia tak berdusta mengenai pembicaraan penting dengan Sasuke.
"Siapa?"
Si pirang mengangkat bahu. "Aku tidak tahu namanya." Botol kosong terbang menuju ke arahnya, beruntung disambut dengan gesit hingga menggagalkan mengenai kepala.
"Bodoh!" Maki lelaki emo tersebut. "Tunjukan picturenya padaku."
Naruto meringis. "Aku tidak punya." Selanjutnya bantal petak yang melayang, dan kali ini benar-benar sukses mencium wajah Naruto.
"Bagaimana kau bisa menemukan orang itu kalau tidak ada petunjuk..." Sasuke menatap kesal Naruto. Siapa yang dia cari?
"Beberapa hari yang lalu aku bersama orang itu." Jujur saja, Naruto ingin bertemu lagi dengan Sakura. Sangat ingin, seperti sedang merindukan perempuan asing itu. "Kami bertemu di Diskotik."
Sasuke berbaring disofa dengan meluruskan tubuh. Ia lelah. "Lalu?"
"Berpisah tanpa tahu nama." Naruto mengutuk diri. Ia memang bodoh dengan melepaskan perempuan itu tanpa mengetahui namanya, kalau seperti ini mereka tak kan mungkin bisa bertemu lagi. "Sial, dia bukan asli orang Tokyo pula."
Sasuke memejamkan mata. "Lupakan dia."
"Sudah kucoba tapi tidak bisa." Mata Sasuke terbuka lalu melirik Naruto. "Setelah beberapa hari berlalu perasaan ingin bertemu ini mengusik hidupku." Ia tersiksa dengan perasaan yang dinamakan RINDU.
"Aku bisa membantumu." Sasuke beranjak lalu merangkul Naruto, mengajak si pirang berdiri dari tempat duduknya. "Ayo kita pergi ke tempat kalian bertemu." Naruto sedang tidak sibuk seperti kemarin-kemarin, mungkin mereka bisa ke Diskotik lagi sekalian untuk bersenang-senang. Sasuke ingin mengajak Karin juga.
Naruto menunduk lesu. "Aku harap kali ini kami bertemu lagi." Ia telah mencoba datang ke Diskotik, namun tak dapat menemukan targetnya. "Kemarin aku datang kesana untuk mencarinya, tapi tidak kuteman."
Sasuke menepuk leher Naruto. "Kita coba lagi." Tidak ada kata menyerah dalam hidup mereka selagi mampu. "Ayo." Sasuke menyeret Naruto dalam rangkulan, mengajaknya keluar dengan penampilan biasa. Terlalu lama untuk berdandan, seperti ini saja mereka sudah menawan.
x X x
"Apa ini?" Ino menunjukan botol obat yang ia temukan di kamar Sakura. "Untuk apa kau menggunakan obat penunda kehamilan? Aku menyadari perubahanmu selama beberapa hari ini, semua terjadi setelah malam itu. Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu waktu itu?" Bertubi-tubi pertanyaan menyerang Sakura. Sudah seperti interogasi.
"Emm... a-ano." Sakura gugup. Ia harus mengatakan apa kepada Ino? "Itu bukan punyaku." Lagi-lagi menghindarkan diri dari kesalahan. Ino memutar mata malas, tahu dengan kebohongan yang Sakura utarakan.
"Jangan bohong!"
Tubuh Sakura terdorong kebelakang karena mendapat kejutan ketika Ino menggebrak meja tepat dihadapan. Ia nyaris terjungkal bersama kursi yang di duduki. "A-aku tidak memaksamu untuk percaya."
Ino menyipitkan mata. "Kenapa kau menggunakan obat itu?" Aquamarine tersebut menajam.
Sakura mengibias-ngibaskan tangan. "Bukan aku yang menggunakan obat itu." Ia ingin keluar untuk jalan-jalan setelah makan malam, namun interogasi ini menggagalkan acaranya. Sakura ingin datang ke Diskotik itu lagi dengan harapan bertemu laki-laki pirang kemarin. Sudah lama setelah malam itu.
"Kalau bukan kau lalu siapa? Kenapa bisa ada di kamarmu?"
Bila cocok menjadi anggota kepolisan lalu kenapa Ino menerapkan diri sebagai perawat? Sakura bertanya-tanya dalam keherenan. Ino lebih pantas menjabat sebagai Polisi.
"I-itu punya Pasienku..." Ino mendalami tatapan di mata Sakura. "Dia ingin menunda kehamilan berdasarkan Ekonomi." Kebohongan yang bagus, dan sialnya Sakura sendiri tak menyangka lidahnya bisa begitu lancar menuai kata-kata penuh kepalsuan. Ia merasa bersalah kepada Ino.
"Sungguh?"
Diam-diam Sakura menghela nafas lega. "Aku bisa menghubungi Pasienku kalau kau mau." Lagi-lagi salah mengambil tindakan.
"Lakukan." Tantang si pemilik aquamarine tersebut.
Sakura gelagapan. "Bodoh."
"Okay." Sakura menyalakan ponsel. Ia tak tahu lagi cara menyelesaikan masalah ini setelah dipikir memang tidak ada Pasien yang mengomsumi obat penunda kehamilan. Dirinya sendiri yang menggunakan obat tersebut untuk berjaga-jaga.
Mereka melakukan hubungan intim dalam kesadaraan penuh, dan Sakura tak bisa menolak ketika laki-laki asing itu menanamkan seluruh benih ke dalam rahimnya. Ia sendiri yang menginginkan benih tersebut menyemprot di dalam, yang dihasilkan adalah kenikmatan.
Wajah Sakura bersemu ketika membayangkan sebagaimana hangatnya sperma kental ketika memenuhi rahimnya. Untunglah ia dalam keadaan menunduk sekarang, tak memberi celah kepada Ino untuk melihat semburat di pipinya.
Sakura bingung harus menggunakan cara apalagi untuk melanjutkan kebohongan ini. Ia salah kata yang melibatkan dirinya dalam masalah besar. Apa yang akan Ino lakukan kepadanya kalau tahu kejadian yang sebenarnya? Tamatlah riwayat Sakura Haruno.
"Sudahlah."
Perempuan merah muda itu tertegun.
Ino membebaskan tahanan. "Aku percaya kepadamu." Ia meninggalkan Sakura untuk mengambil minum, merasa haus setelah berjam-jam menuding Sakura dengan ribuan pertanyaan yang sama. Dia sulit sekali membuka mulut tadi.
Sakura tersenyum senang lalu menaikan pandangan seperti semula. "Ne, apa sekarang aku boleh keluar?" Tanyanya dengan wajah berseri, tak sadar telah membangunkan Singa betina dari tidur panjangnya.
Sudah cukup Ino bersabar. "Tidak!" Ia tak kan mengizinkan Sakura meninggalkan sarang setelah kejadian yang membuat hidupnya tidak tenang. "Kau tetap di rumah sebelum menyembuhkan traumaku." Sakura menggembungkan pipi. "Tidur sana!" Ino seperti memberi perintah kepada seorang anak.
Dengan malasnya Sakura beranjak. "Iya iya, aku tidur."Jawabnya patuh sebelum benar-benar meninggalkan dapur. Sakura kesal tidak bisa keluar karena mendapat kekangan. Ia tak bisa membantah perintah Ino, lagipula yang dilakukan olehnya bukanlah hal buruk.
Ino menghela nafas lalu memijit pelipis. "Ini melelahkan." Ia tak bisa melepaskan amatan dari Sakura walau sedikit saja. Ia masih trauma dengan kejadian yang sudah berlalu. Berbahaya jika sampai terulang lagi, dan ia tak ingin mengambil resiko.
Ino telah berjanji kepada Kizashi dan Mebuki untuk menjaga Sakura. Janji adalah hutang.
x X x
Ini menyebalkan, dimana ia tak bisa ikut bersenang-senang bersama para wanita. Lihatlah Sasuke, dia terlihat menikmati pesta ini bersama kekasih barunya yang bernama Karin.
Naruto mengutuk diri. Bagaiman bisa ia kalah pintar dari Sasuke dalam mendapatkan wanita? "Sial!" Harusnya ia tak melepaskan wanita bubble gum itu sebelum tahu namanya. "Bagaimana mau bertanya nama, saat bangun pagi saja aku tidak melihat siapa-siapa selain bantal guling." Naruto kesal saat mengingatnya.
Pukul berapa dia bangun? Ketika membuka mata Naruto tak lagi mendapati si wanita. Entah ia terlalu lambat bangun atau si wanita yang bangun pagi-pagi sekali. Sangat membingungkan.
Plekk
"King!" Kiba menyeringai. Pandangan Naruto teralihkan ketika mendengar suara gaplekan antara kartu dan meja. Ia mendesah, tak ada keinginan bermain judi. Ia main judi tergantung mood.
"Brengsek!" Kankuro mengumpat setelah dikalahkan secara telak.
Kiba tak beruntung bila melawan Naruto. "Ya ya, kelemahanku memang Naruto." Paparnya ditengah memungut tumpukan uang atas kemenangan yang diraih.
Kankuro terlihat kesal dengan kekalahan yang didapat.
Tatapan Naruto beralih, kini melihat betapa senangnya Sasuke berdansa bersama Karin. "Bikin iri saja." Ia juga ingin melakukan hal yang sama dengan Sasuke. Mendapatkan wanita idaman dan bersenang-senang bersama.
Sasuke menukar posisi, menggantikan Karin pada tempat yang berhadapan dengan Naruto, pas sekali pria disana tengah menatap ke arah mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia mengangkat alis, cara mengolok si pirang disana.
Naruto berdesis geram. "Teme!" Umpatnya terhadap si emo tersebut. Ia jenuh berada disini sendirian, sialnya ketika dihampiri seorang wanita seksi ia malah menolak dengan memasang wajah malas.
Naruto hanya menginginkan Sakura seorang, tapi dimana perempuan manis itu sekarang? Lagi-lagi ia tak menemukan dia.
"Hachih!" Sakura mengusap hidung sehabis bersin. Karena dingin ia pun menarik selimut dan digunakan untuk membalut tubuh. "Aku ingin ke Diskotik itu lagi." Racaunya dalam keadaan sadar.
BRAKK!
Naruto terlonjak ketika mendengar gebrakan meja dari tempat Kiba bermain poker. Terjadi kegaduhan disana.
"BRENGSEK!" Kankuro memaki Kiba karena tidak terima kekalahan. Semua uang yang dimiliki olehnya ludes, ia bahkan rela berhutang demi melanjutkan permainan, tetapi Kiba menolak.
Lelaki penuh tato di wajah itu mencekal baju Kiba. "Payah." Dia mengejeknya dalam kekalahan. Kankuro tak bisa menerima pelecehan ini. Mulut lancang.
BAM!
Pukulan telak mengenai wajah Kiba yang juga bertato. Ia bangkit setelah sempat terbaring lalu duduk sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Shino menyentuh bahunya, membantu sang teman dalam keadaan sulit.
"Jangan sok jagoan disini." Telunjuk Kankuro mengarah pada Kiba. "Cih!" Ia meludah. "Ini masih belum selesai, ingat itu!" Kiba tertawa, sama sekali tidak takut dengan ancaman tersebut.
"Banyak omong!"
Para wanita menjerit histeris kala Kiba berlari menerjang Kankuro. Mnumbangkan lelaki tersebut ketika membalakanginya hendak meminggalkan Diskotik.
BAM!
Bahkan yang tengah asyik menikmati pesta terpaksa berhenti, sebagian berlarian keluar karena tak ingin terlibat dalam masalah.
"Pergilah!" Karin terlihat menolak perintah Sasuke. "KELUAR!" Teriaknya kesal lantaran si wanita enggan mendengarkan. Ia melakukan ini demi kebaikan sesama, bahaya untuk wanita tetap berada di tempat ini.
Bahkan sebelum pergi Karin sempat memeluk Sasuke. "Jaga dirimu."
Sasuke terpaku selama beberapa detik karena mendapat perlakuan tadi. "Hn, ada-ada saja." Gumamnya lalu Naruto tiba di dekatnya. "Kiba dalam masalah." Naruto membenarkan.
"BRENGSEK!"
Kankuro meneriaki Kiba. Berkali-kali pukulan melayang di wajahnya, tak memberi ia pilihan untuk membebaskan diri dalam keadaan ini. Akan ada yang mati salah satu diantara mereka untuk menghentikan kericuhan.
"Kiba cukup!" Kiba menyentak lengannya yang dipegang, Naruto menggeram. Keras kepala. "HENTIKAN!" Naruto berteriak. Seketika Kiba berhenti memukuli Kankuro, dan terdiam diatas perut Kankuro yang menjadi tempat duduk.
Pisau kecil berada dalam genggaman Kankuro, lalu ia hunuskan ke samping perut Kiba. Semua melihat sebagai saksi mata.
Kiba ambruk, disanggah oleh Naruto. "Kiba!"
Sasuke mencekal baju Kankurou. "Pengecut!" Satu pukulan keras mematahkan dua gigi Kankurou, pembalasan yang telah dia lakukan kepada Kiba.
"Cepat hubungi Ambulance!"
Shino mengerluarkan ponsel lalu mengetik nomor Ambulance dengan tergesa. Siapa yang bisa menebak akan seperti ini kejadian perkara kalah bermain judi. Mereka sekumpulan orang-orang egois yang tak bisa menerima kekalahan, Kiba telah salah memilih lawan main.
"Ughh!" Kiba menyerngit. Perutnya perih.
"Bodoh, kau akan baik-baik saja." Naruto menepuk-nepuk pipi Kiba. "Jangan pejamkan matamu!" Sang teman menaikan kening untuk menahan kelopak agar tak terkatup. Naruto cemas melihat keadaan Kiba. Dengan keadaan Kiba saat ini membuatnya jera bermain poker bersama orang amatiran.
Ambulance tiba bersama suara serinai disepanjang jalan. Naruto dan Sasuke merangkul Kiba, membatunya naik ke tandu.
"Tahan dia!" Sasuke memberi perintah kepada penjaga pintu Diskotik. Kankuro berhak mendapat hukuman berat, yang dia lakukan itu tindakan kriminal, bisa saja nyawa Kiba melayang jika Ambulance tidak tiba dengan cepat.
"Cih!" Kankuro membuang ludah. Ia tak merasa bersalah, sudah sepantasnya Kiba mendapat hukuman atas ketamakan. "Semoga kau mati." Sumpahnya untuk Kiba.
x X x
Drrtt drrtt..
Ino menjawab panggilan tersebut. "Sai!?"
"Ino, aku ada di bawah."
Pernyataan Sai mengejutkan Ino. "Baka, apa yang kau lakukan disitu?" Ia menjenguk keluar jendela, dan benar saja disana memang ada Sai. Lelaki itu melambaikan tangan ke atas.
"Aku rindu padamu."
Semburat merah menjadi penghias di pipi Ino. "Bohong."
Di bawah sana Sai sedang terkekeh. "Turunlah."
"Kau mau apa?"
Gadis bawel. "Memelukmu."
Dada Ino bergerumuh. "Dasar."
"Aku menunggumu."
Ino terkikik. "Apa kau memaksaku?"
"Semacam itulah."
"Tunggu disana." Ino memutuskan panggilan setelah mendapat sahutan setuju. Ia berlari ke arah cermin, sempat memoles lipstik di bibir dan bedak lapis di kulit wajah.
Cukup dengan dandan sederhana untuk menemui Sai.
Sebelum keluar Ino menghampiri kamar Sakura lebih dulu. Ia mengintip keadaan di dalam, hanya ada punggung berbalut selimut tengah membelakangi pintu. Ino tersenyum.
"Syukurlah." Ino pikir Sakura sudah tidur, namun mana ia tahu bahwa dirinya baru saja tertipu.
"Ughh." Sakura menggigit bibir. Lagi-lagi perasaan ini. Ia tak berdaya dengan keadaan saat ini, dimana dirinya lemah karena menginginkan sentuhan dari lelaki yang sama.
Sakura tak pernah tahu tubuhnya akan terbiasa dengan sentuhan, seperti kecanduan. Ia tak bisa menemukan laki-laki itu lagi untuk menjalin hubungan lebih erat, dan semua gara-gara Ino yang mengurung dirinya di Apartement. Ia tak bisa pergi kemana-mana selain Rumah Sakit.
"Tidak!"
Sakura menolak untuk melakukannya sendiri. Sangat memalukan.
Bagaimana rasanya? Sakura ingat, karena ingatan itu pula yang membuatnya tersiksa dalam menginginkan Naruto. Laki-laki sialan.
Sakura memaksa untuk tidur, sialnya ketika menutup mata justru kenangan indah itu tayang seperti film di layar lebar. Ia menggeliat tak nyaman dan merapatkan kaki, sedikit membantu.
"S-sial!"
Wanita itu frustasi lalu menggulung tubuh dalam selimut, menganggapnya seperti sentuhan. Memang ringan, tapi bagaimana dengan bibirnya yang berkedut ingin melumat dan di lumat. Anggota tubuhnya memberontak.
"Tubuh nakal." Sakura merengek putus asa.
TO BE CONTINUE...
Always love NaruSaku, ane butuh teman untuk berbagi karya abal-abal :')
