Bab ketiga ini kubuat setelah mendapat inspirasi dari episode season 1. Padahal udah mikir panjang-panjang,huhuhu…

Terima kasih untuk semua review ya, kuterima dengan senang hati. =)

== == ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ == ==

Mamori datang ekstra pagi hari itu karena ia mau mengecek ulang persiapan yang sudah dilakukan kemarin. Ia membuka pintu klub, lalu masuk, menyalakan lampu, dan terkejut akan apa yang ia lihat.

"A-apa yang terjadi di sini?" Mamori berkata sambil terjatuh lemas di atas lututnya.

Tanpa berpikir panjang lagi ia segera mencari Kurita yang tidak seperti biasanya baru tiba di depan gerbang sekolah.

"Kurita! Kau harus cepat-cepat ke klub!"

"Hah, kenapa?"

"Lihat saja sendiri, aku perlu menenangkan diri." Mamori berkata lirih.

Kurita melakukan apa yang dikatakan Mamori, dan juga terkejut sepertinya.

Di dalam ruangan itu memang tidak kotor sama sekali, bahkan lebih bersih daripada sebelumnya. Terlalu bersih. Semua dekorasi, hadiah, dan makanan sudah tidak ada, dan tidak ada tanda kekerasan dalam melakukannya.

"Si-siapa yang tega melakukan ini?"

"APA YANG TERJADI DI SINI? BINGUNG-MAX!" Monta menyeruduk masuk ke dalam, Sena di belakangnya.

Tak lama kemudian Musashi, Komusubi, Yukimitsu, Ishimaru (walau tidak ada yang memperhatikan), dan juga Huh-huh bersaudara sudah ada di dalam beserta Mamori yang mulai tenang.

"Ada yang melihat sesuatu semalam?" Musashi bertanya, walaupun tahu jawabannya.

Sunyi lagi, tidak ada yang mengetahui apa-apa.

"Jadi, semuanya sia-sia?" Juumonji akhirnya memecah keheningan.

"Mungkin." Toganou menjawab.

"Yah, mungkin saja." Kuroki menimpali.

"Sepertinya aku tahu siapa, namun ini kurang menyenangkan untuk dikatakan." Musashi mengangkat dagunya, berpikir tentang cara lain agar bisa memberitahu mereka.

"Jangan-jangan…" Mamori seakan tahu apa yang dipikirkannya.

Tiba-tiba dari arah lain, muncul Suzuna. Wajahnya tampak sedikit cemas. Ia bernapas sejenak, lalu menyampaikan pesan penting untuk mereka semua.

"You-nii tadi meneleponku. Aku tidak tau untuk apa, tapi dia menyuruh kita semua ke Tokyo Tower."

"HAAHH!!!???"

~ * * * ~

Semua segera menuruni mobil. Di hadapan mereka Tokyo Tower menjulang dengan tinggi, membuat setiap orang yang melihat ke atas akan merasa silau.

"Kekekeke… jadi kalian mendapat pesan sialanku. Sekarang, bersiaplah untuk neraka! YA-HA!"

Hiruma muncul dengan semua senjatanya dan mulai menembaki mereka. Semua, kecuali Musashi, segara berlari ke tempat yang aman. Hiruma masih menembaki mereka, namun tak lama kemudian suara peluru berhenti.

"Apa sudah aman?" Monta bertanya pada Sena.

"Mana kutau? Kak Hiruma tak bisa ditebak."

"Keluar kalian, pecundang sialan! Aku punya kejutan sialan yang istimewa untuk kalian semua."

Sebelum disuruh lagi, semua keluar dari persembunyian mereka dan menemukan setumpuk plastik serta sebuah cooler, hamper sebesar sebuah mobil!

"Jangan bilang kalau…" Sena menggigit bibirnya, takut mereka akan melakukan…

"Tokyo Tower. Apa ini membangkitkan kenangan sialan bagi kalian semua? Karena kita akan melakukannya lagi, dan kali ini akan lebih brutal daripada sebelumnya! YA-HA!!!"

"TIIIIDAAAAKK!!!"

~ * * * ~

Hiruma membagikan kantong plastik, lalu mulai menjelaskan prosedur "Tokyo Tower of Hell 2.0"nya itu.

"Semua peraturannya sama, tapi kali ini akan ada tugas sialan untuk setiap posisi."

"Aku belum tau peraturannya, Hiruma." Musashi berkomentar dengan tenang.

"Jangan memotong, orang tua sialan. Tanya yang lain, dan kau harus menendang es itu ke atas. Line akan mendapat porsi ekstra, dan mendorongnya bersamaan, lalu anak lemah sialan harus menendang dua kantong seperti saat Death March. Jenggot sialan boleh memilih line atau running back, dan anak monyet sialan harus menangkap kantong es yang akan ku lempar ke arahnya. Yang lain tidak mendapat tugas tambahan."

"Tunggu dulu, Hiruma. Yang lain itu maksudnya apa?"

"Botak sialan, pemandu sorak sialan, dan kau, manajer sialan. Nah, ku lihat orang tua sialan sudah mendapat penjelasan dari botak sialan. Jadi, masih ada pertanyaan lagi?"

"Tidak." Kurita menjawab setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.

"Kalau begitu, sekarang bisa dimulai, kekekeke…"

Spontan semua segera menutup telinga mereka saat Hiruma mengeluarkan kembang api berbentuk roket yang besar.

"MULAI! YA-HA!!!"

Dan dengan ledakan yang sangat, sangat besar, semua orang segera memasukkan es itu dan menaiki anak tangga.

"Aku tak percaya You-nii tega menyuruh kita juga, padahal kan naik tangga lebih susah daripada jalan lurus buat aku!" Suzuna mengeluh pada Mamori, yang hanya bisa menghiburnya.

"Tak apa-apa, paling tidak kita ga harus main di pertandingan yang asli, kan?" Mamori berkata sambil mencoba tersenyum, walau dia pun sebenarnya marah pada Hiruma.

Sementara itu, Yukimitsu sedikit bersemangat, mengingat kalau ia sudah pernah berhasil melakukannya. Musashi pun mengalami sedikit kesulitan, namun ia tampak tenang. Sepertinya mereka semua akan baik-baik saja, asalkan setan pemimpin mereka tak punya kejutan spesial yang lain.

== == ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ == ==

Jadi, bagaimana chapter yang ini? Akan ada kejutan di bab berikutnya, semoga bukan bab yang terakhir.

Kalau masih ada typo/kekurangan, kasih tau yaw..

Review please!!!